Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

REALITAS SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT JAWA DALAM NOVEL GADIS PANTAI KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER Sri Yanuarsih; I Wayan Letreng; Andre Kurniawan
PIKTORIAL : Journal of Humanities Vol 4, No 1 (2022): Piktorial l Journal of Humanities
Publisher : PIKTORIAL : Journal of Humanities

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/piktorial.v4i1.20374

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan realitas sosial budaya pada aspek bahasa, sistem religi, mata pencaharian atau ekonomi, adat-istiadat dalam novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer, yang merupakan penelitian deskriptif bersifat kualitatif. Subjeknya adalah novel Gadis Pantai  karya  Pramoedya  Ananta  Toer.  Metode  yang  digunakan  adalah  deskriptif.  Data  yang diperoleh  yaitu  berupa  fakta-fakta  yang  ada  pada  subjek  penelitian  yang  kemudian  dianalisis. Pendekatan  yang  digunakan  ialah  pendekatan  Sosiologi  Sastra.  Teknik  pengumpulan  data  yaitu teknik  simak  catat  atau  membaca  cermat.  Teknik  analisis  data  meliputi  tahap:  persiapan, pengumpulan  teori,  pengumpulan  data,  penyeleksian  data,  analisis  data,  teknik  penarikan kesimpulan, dan penyusunan laporan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa realitas sosial budaya masyarakat Jawa dalam novel Gadis Pantai pada aspek (1) Bahasa cenderung menunjukan bahasa dalam fungsi sebagai simbol untuk menunjukan kelas atau kasta dalam hubungan sosial masyarakat. (2) Sistem Religi menunjukan sistem religi agama islam. (3) Sistem Ekonomi atau mata pencaharian hidup hanya menggambarkan mata pencaharian dari sisi masyarakat kampung nelayan yaitu  menangkap  ikan  atau  bisa  disebut  sebagai  nelayan,  dan  (4)  Adat  Istiadat  yang  lebih mengutamakan kehormatan golongan kasta tinggi atau kaum bangsawan.Kata kunci: Realitas Sosial Budaya, Masyarakat Jawa, Novel Gadis Pantai
ANALISIS KESANTUNAN IMPERATIF BERBAHASA DI KALANGANSANTRI PONDOK PESANTREN MANBAUL ULUM KECAMATAN PLUMPANG: KAJIAN PRAGMATIK I Wayan Letreng; Sri Yanuarsih
PIKTORIAL : Journal of Humanities Vol 4, No 1 (2022): Piktorial l Journal of Humanities
Publisher : PIKTORIAL : Journal of Humanities

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/piktorial.v4i1.20369

Abstract

Kesantunan adalah etika dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa sebagai media tuturan, yang mengatur tata cara berbahasa secara santun. Sedangkan imperatif merupakan tuturan bermaksud memerintah lawan tutur melakukan apa yang diinginkan penutur. Penelitian ini dilakukan lingkup pondok pesantren, karena tuturan santri memiliki entitas berbeda, terdapat norma yang menjadi pedomannya. Tujuan penelitian ini yakni mendeskripsikan tuturan santri Pondok Pesantren Manbaul Ulum yang mengandung makna imperatif. Subjek penelitian adalah tuturan santri Pondok Pesantren berjumlah sebilan puluh satu orang. Objek penelitiannya yakni tuturan imperatif, meliputi kesantunan imperatif dan wujud imperatifnya. Teori yang  digunakan  untuk  menganalisis  kesantunan  imperatif  adalah  teori  dari  Geoffrey  Leech,  sedangkan  kesantunan  imperatif  digunakan  teori  Kunjana  Rahardi.  Penelitian  ini  dengan  metode dekriptif melalui pendekatan pragmatik. Teknik pengumpulan data, menggunakan metode dengar dengan teknik sadap, teknik catat, teknik transkripsi,  dan  teknik  terjemahan.  Data  dianalisis  dengan  teknik  analisis  padan  pragmatik.Kesantunan imperatif yang terdapat pada tuturan santri meliputi: kesantunan berdasarkan prinsip Leech  yang  paling  banyak  ditemukan  adalah  maksim  kemufakatan.  Kesantunan  imperatif berdasarkan konstruksi tuturan yang paling banyak ditemukan yaitu tuturan imperatif dengan bentuk konstruksi deklaratif. Kriteria kesantunan imperatif ditemukan lima kategori kesantun, yaitu sangat santun, santun, cukup santun, kurang santun, dan tidak santun. Kategori yang dominan terbanyak ditemukan adalah kategori cukup santun.Kata kunci: Kesantunan, Imperatif, Santri
Sentimen Negatif atas Kebijakan Prabowo Subianto dalam Komentar pada Akun Instagram Folkative Khoirun Nisa; Sri Yanuarsih; I Wayan Letreng
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i3.2102

Abstract

Sentimen negatif merupakan pandangan, emosi, atau sikap yang kurang baik terhadap suatu topik, produk, maupun layanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ketidaksantunan berbahasa dalam komentar warganet pada akun Instagram Folkative terkait kebijakan Prabowo Subianto, dengan menggunakan teori ketidaksantunan berbahasa yang dikemukakan oleh Culpeper (1996) yaitu (1) ketidaksantunan secara langsung, (2) ketidaksantunan positif, (3) ketidaksantunan negatif, (4) sarkasme atau kesantunan semu, (5) menahan kesantunan. Fokus penelitian adalah untuk memahami pola ketidaksantunan tersebut dalam konteks interaksi digital, khususnya pada unggahan tentang kebijakan pemerintah di Instagram. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik observasi digital. Data berupa komentar yang mencerminkan ketidaksantunan berbahasa yang diambil dari unggahan populer Folkative mengenai kebijakan Prabowo Subianto pada periode November 2024 yang membahas tiga kebijakan utama, yaitu Investasi Luar Negeri, Kenaikan Gaji Guru, dan Program Makan Bergizi Gratis. Data dianalisis melalui pendekatan tematik untuk menemukan pola utama ketidaksantunan serta pendekatan pragmatik untuk memahami konteks dan makna komunikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk ketidaksantunan berbahasa yang paling dominan adalah ketidaksantunan negatif, diikuti dengan sarkasme dan ketidaksantunan langsung. Komentar warganet banyak berisi kritik frontal, ejekan, serta sindiran sinis terhadap kebijakan pemerintah. Faktor yang melatarbelakangi fenomena tersebut meliputi skeptisisme terhadap transparansi kebijakan, ketidakpercayaan pada janji politik, serta kebebasan berekspresi di media sosial yang memungkinkan masyarakat menyampaikan kritik tanpa batasan etika. Peneliti menyimpulkan bahwa ketidaksantunan berbahasa di media sosial mencerminkan ketidakpuasan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah. Fenomena ini menyoroti pentingnya meningkatkan kesadaran etika komunikasi di ruang digital guna menciptakan interaksi yang lebih sehat dan konstruktif. Penelitian ini memberikan wawasan tentang dinamika komunikasi digital yang relevan dalam memahami hubungan antara masyarakat dan kebijakan pemerintah, sekaligus mendorong perlunya penguatan literasi digital untuk meminimalisasi ketidaksantunan dalam komunikasi daring, sehingga tercipta ruang diskusi yang lebih positif dan produktif.
Humor Observasional pada Akun Instagram @raditya_dika Nabila Tasya Aulia; Sri Yanuarsih; I Wayan Letreng
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i3.2149

Abstract

Observasional merupakan jenis humor yang menceritakan kejadian atau situasi sehari-hari dengan sudut pandang lucu. Berupa pengamatan tentang kejadian sekitar, bahkan keanehan dalam hal biasa terjadi. Penelitian bertujuan menganalisis dan memperoleh gambar objektif penggunaan bahasa humor pada akun Instagram @raditya_dika, khususnya bagaimanakah humor observasional menggabungkan pengalaman sehari-hari dengan elemen jenaka relevan. Dengan teori Incongruity, humor tercipta melalui ketidaksesuaian antara ekspektasi audiens dan realita yang disampaikan secara mengejutkan namun logis. Metode yang digunakan deskriptif kualitatif dengan teknik observasi digital dan pendekatan analisis tematik, menganalisis unggahan Instagram selama enam bulan , termasuk teks, caption, elemen visual, dan respons audiens. Analisis data mengidentifikasi pola bahasa humor, konteks situasional, dan pesan yang terkandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Raditya Dika mengandalkan humor observasional yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, menggunakan kombinasi absurditas dan logika untuk menciptakan elemen kejutan mengundang tawa. Bahasa yang digunakan sederhana, lugas, cerdas, sehingga mudah dipahami dan diterima berbagai kalangan. Selain itu, humor sering disisipkan dengan pesan serius dikemas secara santai, membuat audiens menerima pesan tanpa merasa tertekan. Humor observasional terbukti efektif sebagai alat komunikasi di media sosial karena mampu membangun kedekatan emosional, menciptakan keterhubungan personal, serta meningkatkan interaksi melalui komentar dan respons. Temuan ini relevan untuk memahami strategi komunikasi kreatif di media sosial, terutama dalam membangun engagement menyampaikan pesan secara efektif.
Tindak Tutur Ilokusi dengan Pendekatan Pragmatik dalam Studi Kasus Unggahan Video Akun Instagram @aguskurdiono Nisfi Arba` Indah; Sri Yanuarsih; I Wayan Letreng
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i3.2154

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk menganalisis tindak tutur ilokusi dengan pendekatan pragmatik dalam unggahan video akun instagram @aguskurdiono dengan diketahuinya jenis tindak tutur tersebut. Tindak tutur ilokusi merupakan apa yang dicapai dengan menyampaikan maksud untuk mencapai sesuatu atau “melakukan suatu tindakan dengan mengatakan sesuatu”. Subjek analisis penelitian ini adalah penggunaan tindak tutur ilokusi dalam unggahan video akun Instagram @aguskurdiono. Jenis penelitian yang digunakan kualitatif dengan metodologi deskriptif dan pendekatan pragmatik sebagai pendekatan teoretis. Sumber data berupa beberapa unggahan video di akun Instagram @aguskurdiono pada bulan April hingga Juni 2024. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini yaitu teknik observasi digital, dan teknik simak catat. Hasil telaah menunjukkan bahwa tindak tutur ilokusi sering digunakan pada tuturan dalam unggahan video akun Instagram @aguskurdiono. Hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat tiga puluh satu tindak tutur ilokusi dan dapat dikelompokkan ke dalam bentuk-bentuk tindak tutur ilokusi yang memiliki lima bentuk, tindak tutur asertif dapat ditemukan dalam dua puluh dua video seperti menyatakan dan menunjukkan. Sedangkan tindak tutur direktif muncul dalam enam video sebagai saran, perintah, juga ajakan. Lalu tindak tutur ekspresif dapat didapati dalam sepuluh video misalnya sindiran, respon, ungkapan terimakasih, serta kritikan. Kemudian tindak tutur komisif dapat ditemukan dalam dua video berupa janji, dan tindak tutur deklarasi tidak ditemukan dalam unggahan video tersebut.
Campur Kode pada Akun Youtube Najwa Shihab dalam Podcast Catatan Najwa Bersama Agnes Monica Siti Khasanah; Sri Yanuarsih; I Wayan Letreng
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2177

Abstract

Campur kode merupakan penggunaan dua bahasa bahkan lebih alam satu tuturan. Penelitian ini menganalisis campur kode dalam podcast Catatan Najwa Shihab bersama Agnes Monica dalam kanal YouTube Najwa Shihab. Campur kode dalam percakapan sehari-hari sering terjadi, terutama podcast Najwa Shihab bersama Agnes Monica. Seorang penutur memakai dialek bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam berkomunikasi. Tujuan penelitian berfokus menemukan bentuk campur kode dan leksikon campur kode podcast tersebut. Metode menggunakan deskriptif kualitatif. Pengumpulan data teknik simak dan catat. Teknik analisis data menggunakan analisis konten tematik. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa campur kode banyak digunakan dalam bentuk kata, frasa, dan klausa, termasuk kosakata dan frasa seperti literally, male, female, strong minded women, women entrepreneur, excellent bold, they have potential, feminist, empowering women, equality women, action, speak up, my character, progressive, you look beautiful, society, take a risk, dan multitasking. Leksikon campur kode yang ditemukan mencakup kosakata bahasa Inggris yang disisipkan dalam kalimat bahasa Indonesia. Faktor utama yang melatarbelakangi penggunaan campur kode meliputi keringkasan, ketiadaan padanan yang sesuai dalam bahasa Indonesia, serta kebutuhan untuk memberikan penekanan makna. Dengan demikian, penggunaan campur kode tidak hanya berfungsi sebagai strategi komunikasi, sekaligus mencerminkan gaya bahasa modern yang relevan dengan wacana global.
Pelanggaran Maksim Kesepakatan atas Eksistensi Polisi pada Kolom Komentar Unggahan Akun Instagram @bangsamahardika Afthoniya Nurin Nadhifa; Sri Yanuarsih; I Wayan Letreng
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2210

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk ketidaksantunan berbahasa pada kolom komentar unggahan akun instagram Bangsamahardika, khususnya pelanggaran maksim kesepakatan berdasarkan teori kesantunan Leech. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi digital terhadap komentar pada lima unggahan instagram Bangsamahardika dalam periode 1-10 Desember 2024. Data yang terkumpul dicatat dan dianalisis menggunakan teori pragmatik untuk memahami konteks dan makna komentar tidak santun yang muncul. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama pelanggaran maksim kesepakatan, yaitu terkait identitas, fungsi, dan tindakan polisi. Pertama, identitas polisi yang berseragam cokelat sering menjadi objek kritik dan satire, seperti penyebutan “partai cokelat”, yang mencerminkan keraguan masyarakat terhadap netralitas institusi. Kedua, fungsi polisi sebagai pelindung, pengayom, dan penegak hukum dipertanyakan melalui komentar yang mengindikasikan penyalahgunaan wewenang dan pelanggaran etika. Ketiga, tindakan polisi yang dianggap represif atau menggunakan kekerasan berlebihan menimbulkan komentar negatif yang merusak citra institusi kepolisian. Pelanggaran ini mencerminkan kesenjangan antara peran ideal polisi dan eksprektasi masyarakat, yang diperburuk oleh kurangnya komunikasi efektif, budaya kerja yang belum mendukung integritas, serta ketidakpercayaan publik terhadap institusi kepolisian. Penelitian ini menyoroti pentingnya pemahaman tentang maksim kesepakatan dalam menjaga komunikasi yang sopan di media sosial. Sebagai rekomendasi, institusi kepolisian perlu meningkatkan pendidikan etika dan profesionalisme, sementara masyarakat dapat memberikan kritik yang lebih konstruktif. Media sosial juga dapat dimanfaatkan untuk membangun transparansi dan citra positif melalui keterlibatan aktif polisi dengan masyarakat. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan kepercayaan publik terhadap polisi dapat dipulihkan dan kualitas diskusi di media sosial meningkat.
Bahasa Gaul Konten Youtube Jessica Jane Firdausi Nunzula; Sri Yanuarsih; I Wayan Letreng
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2224

Abstract

Penelitian ini menyoroti penggunaan bahasa gaul dalam konten YouTube Jessica Jane yang diunggah pada periode September hingga Desember 2024. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk bahasa gaul yang muncul serta faktor-faktor yang memengaruhi pemilihannya. Metode yang digunakan ialah simak dan catat, yaitu dengan mengamati setiap video dan mencatat secara cermat berbagai bentuk bahasa gaul yang ditemukan guna memperoleh data yang akurat dan mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jessica Jane memanfaatkan tiga bentuk utama bahasa gaul, yaitu abreviasi, slang, dan serapan bahasa asing. Bentuk abreviasi seperti BTW, KO, dan vid digunakan untuk menyampaikan pesan secara singkat, padat, dan efisien, sehingga dapat mempermudah pemahaman audiens terhadap isi komunikasi yang disampaikan. Selain itu, serapan dari bahasa Inggris, Jepang, dan Melayu seperti style, jom, update, dan itadakimasu memberikan kesan modern, kreatif, menarik, serta memperlihatkan pengaruh budaya global pada gaya komunikasi. Adapun penggunaan slang seperti gue, lu, gila, muantep, menghadirkan nuansa akrab, santai, ekspresif, dan menghibur bagi penonton yang sebagian besar berasal dari kalangan muda. Variasi pemakaian bahasa ini mencerminkan pola komunikasi generasi muda yang dipengaruhi oleh faktor usia, lingkungan, kebiasaan digital, tren media sosial, dan interaksi lintas budaya. Temuan penelitian menegaskan bahwa media sosial, khususnya YouTube, menjadi ruang percampuran bahasa lokal dan global yang terus berkembang mengikuti arus budaya populer, gaya hidup anak muda masa kini, serta dinamika kreativitas berbahasa di era digital.
Gaya bahasa personifikasi dalam lirik lagu ”Mahameru” karya Dewa 19 Syadeka Nisa Hanifah; Sri Yanuarsih; I Wayan Letreng
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2246

Abstract

Penelitian ini membahas penerapan gaya bahasa personifikasi dalam lirik lagu Mahameru yang dipopulerkan oleh grup musik Dewa 19, dengan tujuan memahami bagaimana elemen kebahasaan tersebut membentuk nuansa puitis dan memperkuat penyampaian makna dalam lagu. Personifikasi sebagai perangkat stilistika memungkinkan objek-objek nonmanusia digambarkan seolah memiliki perilaku, emosi, atau kemampuan layaknya manusia. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini berfokus pada analisis mendalam terhadap struktur lirik yang mengandung penggambaran simbolik alam dan unsur tak hidup lainnya. Data dikumpulkan melalui teknik simak dan catat, di mana setiap bait dianalisis untuk menemukan ekspresi personifikasi dan interpretasi maknanya. Teori personifikasi digunakan sebagai landasan untuk memahami bagaimana lirik menghidupkan suasana alam dan mengarahkan pendengar pada perenungan emosional. Hasil kajian menunjukkan bahwa personifikasi dalam lagu ini tidak sekadar memperindah bahasa, tetapi juga memperkaya makna tematik lagu yang berkaitan dengan keteguhan, spiritualitas, dan hubungan manusia dengan alam. Personifikasi berperan sebagai jembatan antara ekspresi personal dan kekayaan imajinasi yang ditawarkan melalui teks lagu. Kepekaan terhadap penggunaan gaya bahasa ini juga membuka ruang bagi apresiasi yang lebih mendalam terhadap karya musik sebagai bentuk sastra populer. Dengan demikian, lirik lagu Mahameru menunjukkan bahwa penggunaan gaya bahasa personifikasi memiliki peran penting dalam membentuk kekuatan ekspresif dan estetika dalam karya musik populer.
Kesantunan Berbahasa Leech dalam Film Sekawan Limo Karya Bayu Skak Khoirun Nisa; Sri Yanuarsih; I Wayan Letreng
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2281

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis prinsip-prinsip kesantunan berbahasa dalam film Sekawan Limo karya Bayu Skak berdasarkan teori kesantunan Geoffrey Leech (1983). Film ini dipilih karena merepresentasikan penggunaan bahasa Jawa yang kental serta nilai-nilai budaya lokal, sehingga berpotensi menjadi media pelestarian norma sosial dan strategi kesantunan dalam komunikasi. Teori Leech mencakup enam maksim kesantunan, yaitu maksim kebijaksanaan, kedermawanan, pujian, kesederhanaan, kesepakatan, dan simpati. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan kerangka analisis pragmatik. Data dikumpulkan melalui teknik simak dan catat terhadap tuturan para tokoh dalam film, kemudian dianalisis berdasarkan makna kontekstual dan fungsi pragmatik dari setiap ujaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh maksim kesantunan muncul dalam dialog para tokoh, dengan maksim pujian dan simpati sebagai maksim yang paling dominan. Temuan ini menunjukkan bahwa strategi kesantunan digunakan untuk memperkuat ikatan sosial, mengekspresikan empati, dan menjaga keharmonisan interaksi antar tokoh. Bahasa yang digunakan secara santun dan kontekstual turut memperkuat pesan moral serta penggambaran karakter dalam film. Penelitian ini menyimpulkan bahwa film Sekawan Limo tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai sarana efektif untuk menyampaikan nilai-nilai budaya dan kesantunan berbahasa. Temuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam kajian pragmatik serta mendorong pemanfaatan film sebagai media pembelajaran nilai-nilai sosial dan linguistik.