Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Metafora Bahasa Arsitektur dalam Narasi Novel Hello Karya Tere Liye Nisfi Arba` Indah; Sri Yanuarsih; I Wayan Letreng
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2291

Abstract

Analisis ini berjudul “Metafora Bahasa Arsitektur dalam Narasi Novel Hello Karya Tere Liye” bertujuan menganalisis makna serta fungsi metafora bahasa arsitektur dalam membangun narasi serta pengalaman estetik pembaca. Kajian ini berlandaskan teori metafora konseptual dari George Lakoff dan Mark Johnson (1980), memandang metafora sebagai sistem konseptual yang menghubungkan hal konkret dengan konsep abstrak. Metode penelitian yang digunakan yakni deskriptif kualitatif dengan teknik baca-catat terhadap novel Hello karya Tere Liye untuk menemukan kutipan yang mengandung metafora arsitektur, kemudian dianalisis berdasarkan kategori metafora ontologis, orientasional, dan struktural. Hasil analisis menunjukkan enam belas data metafora bahasa arsitektur, meliputi delapan metafora ontologis, dua metafora orientasional, serta enam metafora struktural. Metafora ontologis menjadi bentuk paling dominan karena menggambarkan elemen bangunan—seperti rumah, jendela, dan ruang—sebagai simbol kenangan, identitas, juga emosi tokoh. Metafora orientasional berfungsi menegaskan konsep ruang dan arah (tinggi–rendah, keteraturan) untuk menggambarkan relasi sosial dan keseimbangan batin. Sementara itu, metafora struktural memperlihatkan hubungan antara konsep arsitektur (pondasi, tiang, renovasi) dengan perjalanan hidup serta pemulihan diri tokoh.
Humor Sarkasme Sebagai Kritik Sosial Dalam Acara Lapor Pak! Trans7 Manda Aprilia; Sri Yanuarsih; I Wayan Letreng
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2316

Abstract

Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi bagaimana sarkasme dimanfaatkan sebagai sarana dalam menyampaikan pesan kritis terhadap berbagai isu sosial dan pemerintahan di Indonesia melalui acara komedi Lapor Pak! yang ditayangkan di Trans7. Humor sarkasme dipandang sebagai gaya komunikasi yang menyampaikan sindiran dengan cara lucu, ironis, dan mengandung makna tersembunyi di balik kelucuannya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis isi (content analysis), di mana data berupa tuturan, dialog, serta konteks komunikasi dari beberapa episode Lapor Pak! yang diunggah di kanal YouTube resmi Trans7 dianalisis untuk mengungkap bentuk dan fungsi sarkasme yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa humor sarkastik dalam acara tersebut tidak hanya berfungsi sebagai hiburan semata, tetapi juga sebagai media penyampai kritik sosial terhadap berbagai persoalan masyarakat Indonesia, seperti ketidakadilan hukum, birokrasi yang tidak efisien, penyalahgunaan kekuasaan, hingga perilaku pejabat publik yang tidak profesional. Melalui permainan bahasa, ironi, dan dialog yang cerdas, para pemain berhasil menyampaikan pesan reflektif yang mendorong penonton untuk berpikir lebih kritis terhadap realitas kehidupan sosial dan politik. Selain berperan sebagai tontonan komedi, Lapor Pak! juga memiliki nilai edukatif dan reflektif karena mampu menumbuhkan kesadaran sosial di tengah masyarakat. Penggunaan sarkasme dalam acara ini membuat kritik terasa lebih ringan, menghibur, namun tetap mengena, sehingga Lapor Pak! dapat dipandang sebagai contoh nyata pemanfaatan bahasa dan humor secara kreatif untuk menyampaikan kritik sosial yang konstruktif dan bermakna di media massa modern
Satire Kepada Pejabat Pada Progam Tv Lapor Pak Trans 7 Amanda Zahrotul Azaria; Sri Yanuarsih; I Wayan Letreng
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2380

Abstract

Satire merupakan gaya bahasa atau genre sastra yang menggunakan humor, ironi, atau ejekan untuk mengkritik kebodohan atau kejahatan seseorang atau masyarakat. Penelitian ini menganalisis penggunaan satire kepada pejabat dalam program TV Lapor Pak TRANS 7 melalui pendekatan pragmatik. Penelitian menggunakan teori satire Horatian, Juvenalian, dan Menippean untuk memahami pemanfaatan humor sebagai media kritik sosial. Data dikumpulkan melalui observasi dan teknik simak-catat pada tayangan program bulan November 2022. Teknik analisis konten dan pragmatik diterapkan untuk mengidentifikasi, mengklasifikasi, dan menginterpretasi jenis-jenis satire. Hasil penelitian menunjukkan satire Juvenalian paling dominan dengan 9 kemunculan, diikuti satire Horatian (4 kali) dan Menippean (2 kali). Satire Juvenalian digunakan untuk menyampaikan kritik tajam terhadap isu sosial dan kebijakan pemerintah. Sebaliknya, satire Horatian menonjolkan sindiran ringan dan menghibur. Satire Menippean, meskipun jarang, memberikan kritik filosofis terhadap norma sosial tertentu. Keseluruhan temuan menegaskan bahwa satire dalam media televisi tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan refleksi sosial.
Perempuan dalam Bayangan Kolonialisme: Analisis Feminisme Poskolonial dalam Novel Cantik Itu Luka Amanda Zahrotul Azaria; Sri Yanuarsih; I Wayan Letreng
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2613

Abstract

Konstruksi kehidupan perempuan yang hidup dalam bayangan kolonialisme pada novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan, didasarkan pada pentingnya sastra pascakolonial sebagai medium dekonstruksi sejarah dari sudut pandang subaltern. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif berpendekatan Feminisme Poskolonial, data berupa dialog dan narasi dianalisis untuk mengidentifikasi persilangan opresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa opresi terhadap perempuan hadir secara berlapis sebagai hasil dari interseksionalitas kekuasaan kolonial dan patriarki, yang menjadikan tubuh Dewi Ayu sebagai objek eksploitasi dan warisan kekerasan struktural. Kendati demikian, kesimpulan utama menegaskan bahwa subjek perempuan memanifestasikan berbagai bentuk agensi dan perlawanan (misalnya agensi negatif dan dekolonisasi estetika) untuk merebut kembali otonomi dan mendefinisikan realitas mereka sendiri dari narasi dominan yang opresif.
Perubahan Kosakata Gen-Z dalam Konten Tiktok sebagai Bentuk Kreativitas Berbahasa di Era Digital Amella Anandita; Sri Yanuarsih; I Wayan Letreng
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2705

Abstract

Penelitian ini membahas fenomena perubahan kosakata yang digunakan oleh Generasi Z dalam konten TikTok sebagai wujud kreativitas berbahasa di era digital. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis bentuk perubahan kosakata serta memahami fungsi sosial dan konteks penggunaannya dalam interaksi digital. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan data primer berupa kosakata dari video, caption, dan komentar TikTok, serta data sekunder dari literatur berbagai literatur yang mendukung analisis penelitian, seperti jurnal ilmiah, buku, artikel, dan penelitian terdahulu yang membahas perubahan bahasa dan kreativitas berbahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gen Z menciptakan dan memodifikasi kosakata melalui proses pemendekan, akronim, penyerapan bahasa asing, serta plesetan, seperti stecu, yapping, asbun, clingy, kalcer, cringe, flexing, dan fomo, yang berfungsi sebagai alat komunikasi sekaligus sarana ekspresi identitas, humor, kritik sosial, dan pembentukan kedekatan kelompok. Temuan ini menegaskan bahwa kreativitas berbahasa Gen Z merupakan respons terhadap kebutuhan komunikasi cepat, dinamis, dan kontekstual di era digital, serta mencerminkan keterkaitan erat antara bahasa, budaya populer, dan teknologi.
Penggunaan Basa Slang dalam Film Pendek Geger Geden Eps133 di Kanal Youtube Woko Chanel Ellisa Eka Nur Septia; Sri Yanuarsih; I Wayan Letreng
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2708

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk dan fungsi penggunaan bahasa slang dalam film pendek Geger Geden episode 133 di kanal YouTube Woko Channel. Kajian ini menggunakan teori slang Allan & Burridge (2006) yang menjelaskan bahwa slang merupakan ragam bahasa nonformal yang bersifat kreatif, ekspresif, serta digunakan untuk membangun solidaritas dan kedekatan sosial. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik simak dan catat melalui pengamatan langsung pada dialog para tokoh dalam film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk slang yang muncul meliputi kata, ungkapan, serta bahasa khas Jawa yang digunakan secara spontan dan nonformal. Fungsi slang dalam film ini yakni untuk menciptakan keakraban antar tokoh, mengekspresikan emosi seperti heran, kesal, dan humor, serta memperkuat karakter dan suasana komedi yang menjadi ciri khas Woko Channel. Bahasa slang dalam dialog juga menggambarkan identitas budaya masyarakat Jawa yang akrab, santai, dan mengikuti era media digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan slang tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi strategi untuk membangun kedekatan sosial dan menyampaikan humor secara efektif. Penelitian ini diharapkan dapat berpartisipasi pada pengembangan studi bahasa gaul dalam media digital dan pemahaman dinamika kebahasaan masyarakat masa kini.
Kesantunan Berbahasa dalam Film “Miracle In Cell No 7” Karya Hanung Bramantyo: Kajian Pragmatik Siti Mahmudah; Sri Yanuarsih; I Wayan Letreng
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2714

Abstract

Kesantunan berbahasa sebagai latarbelakang penelitian merupakan ketertarikan peneliti dengan fenomena kebahasaan, dengan memiliki tujuan menyelidiki bagaimana prinsip kesantunan Geoffrey Leech diterapkan dalam tuturan dialog film "Miracle in Cell No 7" karya Hanung Bramantyo. Peneliti menggunakan metode pragmatik dan deskriptif kualitatif. Analisis berfokus pada tiga maksim Leech: (1) Maksim Simpati, (2) Maksim Kedermawanan, dan (3) Maksim Penghargaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para tokoh secara konsisten mengikuti Prinsip Kesantunan Leech, melalui ucapan yang bermakna, penuh kasih sayang, dan pengorbanan. Dengan menciptakan ikatan emosional, kekompakan menjadi bukti nyata, seperti ditunjukkan oleh upaya kolektif para narapidana, empati tulus Kepala Penjara terhadap Dodo untuk membantunya mengurangi penderitaan yang alami. Selain itu, melalui pujian dan sanjungan ganda, Maksim Penghargaan digunakan untuk menegaskan dan mempertahankan citra Dodo sebagai ayah yang baik. Puncak kesantunan adalah Maksim Kedermawanan, ditunjukkan melalui tindakan pengorbanan yang berisiko tinggi, seperti berbagi makanan dan merencanakan pelarian, di mana secara tidak sadar mengorbankan dirinya sendiri untuk kepentingan orang lain. Menunjukkan bahwa film mengangkat nilai moral tertinggi, yaitu altruisme murni. Secara keseluruhan, penelitian menemukan bahwa kesantunan berbahasa dalam film dengan jelas menyampaikan pesan moral kemanusiaan tentang betapa pentingnya empati, pengorbanan, dan penggunaan bahasa yang baik untuk membangun dan mempertahankan hubungan interpersonal yang kuat dan penting di masyarakat.
DISFEMIA DALAM KOLOM KOMENTAR AKUN INSTAGRAM LUCINTA LUNA Imarotul Khoiriyah; Sri Yanuarsih; I Wayan Letreng
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 10 No. 4 (2025): JURNAL BASTRA EDISI OKTOBER 2025
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v10i4.1922

Abstract

The social media comment column is an indirect interaction between netizens and public figures who are active on social media. Everyone is free to express their opinion in the comments column they write, but there are some comments that contain elements of dysphemia. The aim of this research is to find out the language policies in Indonesian netizens' social media and to analyze the presence of elements of dysphemia in the comments written by these netizens. Dysphemia is an attempt to change a good meaning into a bad, rude and mocking meaning. This aims to bring down the victim and is an expression of someone's hatred, annoyance and dislike. Dysphemia is closely related to language politeness in terms of aspects of social media policy. There are 3 forms of dysphemia that will be analyzed in this article, namely, 1) Dysphemia in the form of physical insults, 2) Dysphemia in the form of gender insults, 3) Dysphemia in the form of praising to put down. Research data was taken over a certain period of time directly from the comments column of Lucinta Luna's Instagram account using quantitative descriptive methods with advanced note-taking techniques.
TINDAK TUTUR ESKPRESIF DALAM FILM SEKAWAN LIMO KARYA BAYU SKAK (KAJIAN PRAGMATIK) Dista Melanise; I Wayan Letreng; Sri Yanuarsih
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 10 No. 4 (2025): JURNAL BASTRA EDISI OKTOBER 2025
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v10i4.1927

Abstract

Speech acts are part of the study of pragmatics, which discusses how utterances not only convey information but also act as social actions. One such form is expressive speech acts, which are utterances used to express the speaker’s feelings or attitudes toward a situation. Film, as a communication medium that combines visual and verbal elements, is a relevant tool for analyzing language use in real life contexts. This study examines the forms of expressive speech acts in Bayu Skak’s film Sekawan Limo, which tells the story of five friends Bagas, Lenni, Juna, Dicky, and Andrew as they experience a terrifying experience while climbing Mount Madyopuro and debunking local myths. The method used is descriptive qualitative, with data collection techniques including documentation, literature review, reading, and recording techniques. The primary data consists of dialogues between characters containing three types of expressive speech acts: sarcasm, mockery, and complaint. The results show that these six forms appear in various conversational contexts, reflecting the emotional expressions and social relationships between characters, which are communicatively represented in the film.
PENERAPAN MODE LINGUISTIK DALAM VIDEO KANAL YOUTUBE KINDERFLIX: KAJIAN SEMIOTIKA Indriana Sulistyo Rini; I Wayan Letreng; Sri Yanuarsih
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 10 No. 4 (2025): JURNAL BASTRA EDISI OKTOBER 2025
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v10i4.1928

Abstract

This study aims to examine the application of the linguistic mode in educational videos on the Kinderflix YouTube channel using a social semiotic approach. The linguistic mode refers to the use of spoken language as a primary tool for delivering messages, building interaction, and shaping meaning. In the context of educational videos, the linguistic mode is applied through narration, invitations, questions, and verbal praise delivered by the narrator. This research employs a descriptive qualitative method with observation and note-taking techniques to collect data from two Kinderflix videos. The data were analyzed using Kress and van Leeuwen’s theory of multimodality and Halliday’s systemic functional linguistics. The findings show that the linguistic mode in Kinderflix videos not only conveys information explicitly but also functions as a visual guide, a cognitive stimulus, and a medium for fostering social interaction with child audiences. Verbal language works integratively with other modes such as visual, auditory, and gestural to create an interactive and educational multimodal communication experience.