Purwonugroho, Daniel Pesah
Pascasarjana Sekolah Tinggi Teologi Baptis Semarang

Published : 52 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Keadilan Ekonomi dalam Perspektif Teologi Kristen: Mengkritisi Kebijakan Pemerintah Terkait Kelangkaan Minyak Goreng dan Gas Purwonugroho, Daniel Pesah
Teokristi: Jurnal Teologi Kontekstual dan Pelayanan Kristiani Vol 5 No 1 (2025): Mei 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/tjt.v5i1.923

Abstract

This paper is written to criticize government policies related to scarcity of cooking oil and gas. The criticism is based on economic justice in the perspective of Christian theology. Christian theology provides a perspective on social justice perspective that favors the poor. Christian ethics also highlights the correct and responsible distribution of resources. With the practice of this, the distribution of cooking oil and gas should be enjoyed by the Indonesian people, especially the poor. Fair and responsible distribution is the key to achieving social justice. Through a descriptive qualitative approach descriptive qualitative approach, the author tries to unravel economic justice in a Christian perspective. Christian perspective. The description will be useful to provide criticism for government policies related to the scarcity of cooking oil and gas.
Menyenangkan Tuhan sebagai Motivasi Transendental: Sebuah Pendekatan Teologi dan Psikologi Susanti, Ruth Natalia; Purwonugroho, Daniel Pesah
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 10, No 1 (2025): Oktober 2025 (In Progress)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v10i1.1761

Abstract

Abstract. This paper was aimed to explore the meaning of pleasing God as a form of transcendental motivation through an integrative approach combining Christian theology, transpersonal psychology, and biopsychology. This study used a library research method. Findings showed that this motivation is linked to spiritual direction, the heart as the center of moral discernment, and surrender as a response to grace. In transpersonal psychology, it aligns with self-transcendence and meaning-centered motivation. Biopsychologically, the prefrontal cortex supports moral decision-making, the dopaminergic system enhances spiritual joy, and the limbic system stores spiritual memory. These insights affirm that spirituality is not only an inner experience but also a biological process, showing that pleasing God involves a holistic formation of the person—spiritually, psychologically, and biologically.Abstrak. Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi makna menyenangkan Tuhan sebagai motivasi transendental melalui pendekatan integratif antara teologi Kristen, psikologi transpersonal, dan biopsikologi. Penelitian dilakukan dengan metode studi pustaka. Hasil kajian menunjukkan bahwa motivasi ini terkait dengan arah hidup spiritual, pembentukan hati sebagai pusat pertimbangan moral, dan penyerahan diri sebagai respons terhadap anugerah. Dalam psikologi transpersonal, motivasi ini mencerminkan self-transcendence dan meaning-centered motivation. Dari sudut biopsikologi, prefrontal cortex berperan dalam pengambilan keputusan moral, sistem dopaminergik memperkuat sukacita rohani, dan sistem limbik menyimpan memori spiritual. Temuan ini menegaskan bahwa spiritualitas melibatkan pengalaman batin sekaligus proses biologis yang mendukung pertumbuhan iman secara utuh.
Penebusan dalam Kristus sebagai Puncak Teologi Kovenan : Telaah Eksegetis dan Teologis Efesus 1:7 Adi, Didit Yuliantono; Purwonugroho, Daniel Pesah
Jurnal Lentera Nusantara Vol 4, No 2 (2025): Lentera Nusantara: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/jln.v4i2.389

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menelaah secara eksegetis dan teologis Efesus 1:7 dalam perspektif penebusan sebagai puncak teologi kovenan. Penebusan merupakan rencana keselamatan yang telah Allah rancang semenjak kekekalan bagi umat manusia. Penebusan ini dikerjakan secara sempurna melalui Yesus Kristus. Di satu sisi, teologi kovenan menggambarkan peran Yesus Kristus dalam ketaatanNya dan pengorbananNya untuk menyelamatkan umat manusia. Efesus 1:7 merupakan teks kunci dalam menegaskan puncak karya redemptif Allah di dalam Yesus Kristus. Melalui penebusan Yesus Kristus, dosa manusia diampuni dan hubungan manusia kembali harmonis dengan Allah. Penebusan Yesus Kristus juga memberikan keselamatan yang kekal bagi umat manusia. Selain itu, penebusan Yesus Kristus memberikan sebuah kuasa transformatif dalam kehidupan etis orang percaya. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, penulis akan melakukan telaah eksegetis dan teologis Efesus 1:7 dalam hubungannya dengan teologi kovenan. Penulis menyatakan bahwa telaah eksegetis dan teologis Efesus 1:7 menegaskan penebusan Kristus sebagai puncak dari teologi kovenan. Tulisan ini menawarkan Efesus 1:7 sebagai titik kulminasi naratif dan teologis dari struktur kovenan Alkitab. Tulisan ini juga menawarkan sebuah dasar bahwa teologi kovenan tidak dapat dipisahkan dari Kristologi dimana penebusan dalam Kristus merupakan realisasi absolut dari janji kovenantal.
Meningkatkan Kecerdasan Digital dalam Dinamika Pendidikan Kristiani di era Pascakebenaran: Sebuah Perspektif Kolose 4:5 Leiwakabessy, Tabita; Purwonugroho, Daniel Pesah
SIKIP: Jurnal Pendidikan Agama Kristen Vol 5, No 2: Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52220/sikip.v5i2.265

Abstract

This article explores the dynamics of Christian religious education in the post-truth era and its relationship with the enhancement of digital intelligence from the perspective of Colossians 4:5. Christian religious education embodies the truth of God's Word. Such education is essential for students in this post-truth era. The post-truth era introduces a distortion of reality in society, degrading the value of truth by reducing it to personal taste without verifiable and accountable affirmation. Students are expected to possess digital intelligence in this post-truth era. Digital intelligence is cultivated through Christian religious education within the framework of Colossians 4:5. Utilizing a descriptive qualitative approach; this study investigates the enhancement of digital intelligence from the perspective of Colossians 4:5 through Christian education in the post-truth era. Colossians 4:5 provides an appropriate perspective to develop students' digital intelligence through Christian education to face the challenges of the post-truth era.  AbstrakArtikel ini dibuat untuk menelusuri dinamika pendidikan agama Kristen di era pascakebenaran dan hubungannya dengan peningkatan kecerdasan digital dalam perspektif Kolose 4:5. Pendidikan agama Kristen merupakan pendidikan dengan nilai kebenaran Firman Tuhan. Pendidikan kristiani diperlukan oleh peserta didik di era pascakebenaran ini. Era pascakebenaran memberikan sebuah distorsi kebenaran dalam kehidupan masyarakat. Era pascakebenaran mendegradasi nilai kebenaran karena kebenaran hanyalah perkara selera perspektif personal tanpa adanya verifikasi dan affirmasi yang dapat dipertanggung jawabkan. Peserta didik diharapkan memiliki kecerdasan digital dalam era pascakebenaran ini. Kecerdasan digital dibangun melalui pendidikan agama Kristen dalam perspektif Kolose 4:5. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini akan menelusuri peningkatan kecerdasan digital dalam perspektif Kolose 4:5 melalui pendidikan kristiani di era pascakebenaran ini. Kolose 4:5 merupakan perspektif yang tepat untuk membangun kecerdasan digital peserta didik melalui pendidikan kristiani untuk menghadapi era pascakebenaran ini.  
Esther’s Stand Against Injustice: Theology for Women’s Political Participation in Indonesia Halawa, Iman Kristina; Purwonugroho, Daniel Pesah; Adi, Didit Yuliantono
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 9 No 2 (2025): September
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson Ungaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46445/ejti.v9i2.954

Abstract

This article is designed with the aim of tracing Esther's example in suing for justice in the face of power. Queen Esther's courage in the Book of Esther, especially her action against King Ahasuerus without an invitation, is a representation of courage against potential injustice. Queen Esther's courage was not blind courage but courage with wise strategy. This study looks at how Esther's actions have affected modern leadership and how courage and wisdom can serve as examples for Christian communities and leaders today. This study can inspire modern leadership to dare to declare an injustice lawsuit against the rulers. The research uses the method of religious research to respond to the injustice in the face of power that threatened the Jewish nation under the rule of King Ahasuerus. The results of this study show that fighting injustice must be accompanied by a wise strategy and trust in God's providence for the Jewish nation by returning to moral principles and values. This research contributes in the form of a theological reflection for Christian women to emulate Esther in facing injustice in Indonesia.
Merangkul Kelemahan dan Kekuatan dalam Kuasa Allah: Refleksi Teologis 2 Korintus 12:9 Purwonugroho, Daniel Pesah
KHAMISYIM: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 3, No 1 (2025): OKTOBER
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Batu, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71415/jkmy.v3i1.45

Abstract

This paper aims to provide a theological reflection on 2 Corinthians 12:9 regarding weakness and strength in the power of God. Weakness and strength is a common paradox in the Christian perspective. Paul uses this paradox in 2 Corinthians 12:9 to embody the paradoxical concept of weakness and strength. Paul explained that he was experiencing weakness in his ministry. However, through his weakness, Paul experienced the power of God. Through a descriptive qualitative approach, the author will conduct a theological reflection on the verse 2 Corinthians 12:9. This theological reflection provides a deep understanding of weakness and strength in the life of a believer. The author states that the concept of weakness and strength of God that is raised in the theological reflection of 2 Corinthians 12:9 brings every believer to experience significant spiritual growth. This paper provides a reflective academic contribution on weakness and strength and their relationship with God's grace and its dynamics in the lives of believers. AbstrakTulisan ini bertujuan untuk memberikan sebuah refleksi teologis dari 2 Korintus 12:9 mengenai kelemahan dan kekuatan dalam kuasa Allah. Kelemahan dan kekuatan adalah sebuah paradoks yang umum dijumpai di dalam perspektif Kristen seperti di dalam perjalanan kehidupan rohani orang percaya.  Paulus menggunakan paradoks ini di dalam 2 Korintus 12:9 untuk mengejawantahkan konsep paradoks mengenai kelemahan dan kekuatan. Paulus menjelaskan bahwa dirinya tengah mengalami kelemahan di dalam pelayanannya. Namun, melalui kelemahan yang Paulus alami membuat Paulus mengalami kuasa Allah. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, penulis akan melakukan refleksi teologis ayat 2 Korintus 12:9. Refleksi teologis ini memberikan pemahaman yang mendalam mengenai kelemahan dan kekuatan di dalam kehidupan orang percaya. Penulis menyatakan bahwa konsep kelemahan dan kekuatan Allah yang dimunculkan dalam refleksi teologis 2 Korintus 12:9 ini membawa setiap orang percaya mengalami pertumbuhan rohani yang signifikan. Tulisan ini memberikan kontribusi akademik yaitu refleksi teologis mengenai kelemahan dan kekuatan di dalam kehidupan orang percaya. Tulisan ini juga memberikan bentangan pemahaman tentang kelemahan dan kekuatan serta relasinya dengan anugerah Allah dan dinamikanya dalam kehidupan orang percaya.Kata kunci: Kekuatan, Kuasa Allah, Refleksi Teologis, 2 Korintus 12:9
Sanggahan The Hiddenness of God melalui Inkarnasi: Kajian Historisitas dan Interpretasi Teologis Yohanes 1:14 Purwonugroho, Daniel Pesah
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 5, No 2 (2025): Ritornera: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia - Agustus 2025
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54403/rjtpi.v5i2.139

Abstract

Divine Hiddenness is an argument that asserts the hiddenness of God. God is hidden in His mysterious place so that He cannot be found by those who seek Him. This hiddenness of God logically implies that God does not exist. However, Christian faith provides a comprehensive answer regarding God's existence. The incarnation stated in John 1:14 provides a historical and theological answer about God. God incarnated in Jesus Christ to build a relationship with His people and be involved in the history of human life. This paper aims to refute the argument of divine hiddenness through incarnation in a historical study and interpretation of John 1:14. Using a descriptive qualitative approach, the author argues that God revealed Himself through the incarnation of Jesus Christ as stated in John 1:14. Thus, John 1:14 provides a final refutation of the hiddenness of God. This paper offers a new integrative approach to responding to the claim of divine hiddenness through a historical theological exploration of John 1:14. In addition, this paper affirms that the incarnation is the definitive answer to the accusation of God's absence in history and human existence.AbstrakDivine Hiddenness merupakan argumentasi yang menyatakan ketersembunyian Allah. Allah bersembunyi di tempatNya yang misterius sehingga tidak dapat ditemukan oleh para pencariNya. Ketersembunyian Allah tersebut memberikan implikasi logis bahwa Allah itu tidak ada. Namun, iman Kristen memberikan jawaban komprehensif mengenai keberadaan Allah tersebut. Inkarnasi yang dinyatakan di dalam Yohanes 1:14 memberikan jawaban historis dan teologis tentang Allah. Allah berinkarnasi di dalam Yesus Kristus untuk membangun relasi dengan umatNya dan terlibat di dalam sejarah kehidupan manusia. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan sanggahan argumentasi divine hiddenness melalui inkarnasi dalam kajian historisitas dan intepretasi Yohanes 1:14. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penulis menyatakan bahwa Allah menyatakan diriNya melalui inkarnas Yesus Kristus sebagaimana yang dinyatakan di dalam Yohanes 1:14. Dengan demikian, Yohanes 1:14 memberikan sanggahan final mengenai ketersembunyian Allah. Tulisan ini memberikan kebaruan yaitu adanya pendekatan integratif untuk merespon klaim divine hiddenness melalui eksplorasi teologis historis Yohanes 1:14. Selain itu, tulisan ini memberikan penegasan bahwa inkarnasi merupakan jawaban definitif atas tuduhan ketidakhadiran Allah dalam sejarah dan eksistensi manusia.
Efesus 1:13 dalam Terang Teologi Kovenan: Roh Kudus sebagai Materai Janji Allah Purwonugroho, Daniel Pesah
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 3 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v3i2.55

Abstract

Abstract: This paper aims to expose Ephesians 1:13 regarding the Holy Spirit as the seal of God's promise through the light of covenant theology. The sealing of the Holy Spirit is a metaphor that has deep theological and spiritual meaning. The sealing of the Holy Spirit signifies God's ownership of His people. It enables God's people to receive the divine inheritance. The sealing also guarantees a covenant between God and His people, where the sealing of the Holy Spirit is a guarantee of the divine inheritance that God promises. Through a descriptive qualitative approach, the author tries to unravel Ephesians 1:13 in the light of covenant theology regarding the sealing of the Holy Spirit in God's promise. The author states that the sealing of the Holy Spirit in Ephesians 1:13 can be understood through the perspective of covenant theology. This understanding has a significant impact on the lives of believers. This paper provides a theological contribution that states Ephesians 1:13 in a covenantal perspective and highlights the role of the Holy Spirit in the dynamics of God's covenant. Abstrak: Tulisan ini bertujuan untuk mengekspos Efesus 1:13 mengenai Roh Kudus sebagai meterai janji Allah melalui terang teologi kovenan. Pemeteraian Roh Kudus merupakan metafora yang memiliki makna teologis dan spiritual yang mendalam. Pemeteraian Roh Kudus menandakan kepemilikan Allah dengan umatNya. Hal tersebut membawa umat Allah dapat menerima warisan ilahi. Pemeteraian tersebut juga menjamin sebuah kovenan antara Allah dengan umatNya dimana meteriao Roh Kudus merupakan jaminan atas warisan ilahi yang Allah janjikan. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, penulis mencoba mengurai Efesus 1:13 melalui terang teologi kovenan mengenai pemeteraian Roh Kudus dalam janji Allah. Penulis menyatakan bahwa pemeteraian Roh Kudus dalam Efesus 1:13 dapat dipahami melalui perspektif teologi kovenan. Pemahaman tersebut berdampak signifikan bagi kehidupan orang percaya. Tulisan ini memberikan sebuah sumbangsih teologis yang menyatakan Efesus 1:13 dalam pespektif kovenantal dan menyoroti peran Roh Kudus dalam dinamika Kovenan Allah.
Meningkatkan Nilai IQ melalui Penerapan Story-telling dalam Pengajaran Kristen: Kajian Berbasis Daniel 1:8-20 Leiwakabessy, Tabita; Purwonugroho, Daniel Pesah; Suseno, Aji
Jurnal Lentera Nusantara Vol 3, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Kristen (Juni 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/jls.v3i2.277

Abstract

Intellectual intelligence is essential for the development of learners. Success in problem-solving, analysis, reasoning, and application demonstrates the competence of learners in enhancing aspects of IQ intelligence. IQ is highly dependent on the learning materials. The interaction in communicating learning materials varies greatly depending on the teacher's ability to choose appropriate teaching methods to achieve optimal learning outcomes. Storytelling is chosen as a teaching method to stimulate the IQ values of learners. The teaching materials in storytelling are also designed to bring benefits to learners. From a Christian perspective, the story of Daniel can lead learners to experience intellectual intelligence. Daniel's obedience to God gives him high intelligence because of God's grace. Through storytelling based on the story of Daniel, learners can emulate Daniel's obedience to God. With a descriptive qualitative approach, it can be concluded that storytelling of the Daniel 1:8-20 story can enhance the IQ scores of learners.AbstrakKecerdasan intelektual dibutuhkan untuk mengembangkan diri peserta didik. Keberhasilan memecahkan masalah, menganalisa, menalar dan mengaplikasikan membuktikan kompetensi peserta didik mampu meningkatkan aspek kecerdasan IQ. IQ sangat bergantung dengan mater pembelajaran. Interaksi dalam mengkomunikasikan materi pembelajaran sangat bervariasi tergantung kemampuan guru dalam memilih metode mengajar yang sesuai agar dapat meraih hasil belajar yang maksimal. Story-telling dipilih sebagai metode mengajar untuk merangsang nilai IQ peserta didik. Bahan ajar dalam story-telling juga di desain agar dapat membawa manfaat kepada peserta didik. Dalam perspektif Kristen, kisah tentang Daniel dapat membawa peserta didik mengalami kecerdasan intelektual. Ketaatan Daniel kepada Allah membuat Daniel memiliki kemampuan intelegensi yang tinggi karena anugerah Allah. Dengan story-telling berbasis kisah Daniel, maka peserta didik dapat meneladani ketaatan Daniel kepada Allah. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, dapat disimpulkan bahwa story-telling kisah Daniel 1:8-20 dapat meningkatkan nilai IQ peserta didik.
Kombinasi Model Pembelajaran Joyce – Weil & Model Pembelajaran Alkitabiah Yesus dalam Kehidupan Rohani Jemaat Purwonugroho, Daniel Pesah; Budiyana, Hardi
Jurnal Lentera Nusantara Vol 3, No 1 (2023): Pendidikan Kristen dan Teologi - Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/jls.v3i1.250

Abstract

Penelitian ini dibuat untuk mengkombinasikan model pembelajaran Joyce-Weil model pembelajaran Alkitbiah Yesus dalam kehidupan rohani jemaat. Model pembelajaran adalah seluruh spektrum penyajian materi pendidikan. Model pembelajaran mencakup semua elemen sebelum pembelajaran, selama proses pembelajaran, dan sesudah pembelajaran serta semua fasilitas yang terkait yang digunakan oleh guru secara langsung atau tidak langsung selama proses belajar. Joyce-Weil mendeskripsikan 4 rumpun model pembelajaran. Yesus sebagai guru agung memiliki model pembelajaran yang tercatat di dalam 4 Injil. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, kombinasi antara model pembelajaran Joyce-Weil dan model pembelajaran Alkitabiah Yesus sangat berguna bagi kehidupan rohani jemaat. Kombinasi ini membawa kebaharuan bagi pengkotbah demi tercapainya pertumbuhan rohani jemaat