Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Analisis Sinonim Kata “Kanji”, “Kibun”, dan “Kimochi” dalam Novel Kicchin karya Yoshimoto Banana Noviana, Nana; Nurhayati, Silvia; Wardhana, Chevy Kusumah
Chi'e: Journal of Japanese Learning and Teaching Vol 6 No 2 (2018): CHI'E Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang (Journal of Japanese Learning and Teaching)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/chie.v6i2.22598

Abstract

In Japanese language, synonym is ruigigo. There is ruigigo in many kinds of word class, one of them is noun (meishi), such as: kanji, kibun, and kimochi. If these vocabulary are meant to Indonesian language, they have the same meaning with “feeling”. The words kanji, kibun, and kimochi have been studied by students of Japanese Education Program in Unnes, but in the implementation, they still do not understand yet about the similarity and differences of the words. Because of the reason, it is necessary to analyse words kanji, kibun, and kimochi so that this study result can be useful for the learners of japanese language who are still confused about the similarity and differences of the three words. This research explains about the analysis of a novel Kicchin written by Yoshimoto Banana, because there are many words of kanji, kibun, and kimochi in this novel, thus it is possible find out the similarity and differences of these words. The objective of the research is to describe the similarity and differences of kanji, kibun, and kimochi in the Yoshimoto Banana’s novel Kicchin. This study used equal related technique as the data analysis technique to find out the similarity and differences of kanji, kibun, and kimochi. The result of this research about the similarity are : both of kanji and kimochi can be used to indicate feeling of something, the words kanji and kibun can show surrounding atmosphere as a whole, the words of kibun and kimochi can indicate abstract condition, and heart feeling. The differences of kanji, kibun, and kimochi are : kanji has the meaning of impression to someone or something and can be used as intransitive verb named kanjiru, whereas the meanings kimochi are concrete thought, feeling for someone, and nature feeling. Sinonim dalam Bahasa Jepang disebut ruigigo. Ruigigo terdapat dalam berbagai kelas kata, salah satunya kelas kata benda (meishi) yaitu kanji, kibun, dan kimochi. Ketiga kosakata tersebut apabila diartikan ke dalam Bahasa Indonesia sama-sama memiliki arti “perasaan”. Kata kanji, kibun, dan kimochi sudah dipelajari oleh mahasiswa prodi pendidikan Bahasa Jepang Unnes, tetapi dalam pelaksanaannya mereka masih belum memahami persamaan dan perbedaan ketiga kosakata tersebut. Oleh sebab itu, perlu dilakukan analisis kata kanji, kibun, dan kimochi agar hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi pembelajar Bahasa Jepang yang belum memahami persamaan dan perbedaan ketiga kosakata tersebut. Analisis dilakukan dalam novel Kicchin karya Yoshimoto Banana, karena novel ini terdapat banyak kosakata kanji, kibun, dan kimochi sehingga memungkinkan untuk dapat mengetahui persamaan dan perbedaan ketiga kosakata tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan persamaan dan perbedaan kata kanji, kibun, dan kimochi dalam novel Kicchin karya Yoshimoto Banana. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik hubung banding untuk mengetahui persamaan dan perbedaan kata kanji, kibun, dan kimochi. Hasil penelitian ini, persamaan kata kanji, kibun, dan kimochi dalam novel Kicchin yaitu, kata kanji dan kimochi sama-sama digunakan untuk menunjukkan perasaan terhadap suatu hal. Kata kanji dan kibun sama-sama dapat menunjukkan suasana sekitar secara keseluruhan. Kata kibun dan kimochi sama-sama menunjukkan keadaan abstrak dan kondisi hati. Perbedaan kata kanji, kibun, dan kimochiyaitu kata kanji mempunyai makna kesan yang muncul terhadap seseorang atau suatu hal dan dapat berfungsi sebagai kata kerja intransitif menjadi “kanjiru”. Kata kimochimempunyai makna pemikiran secara konkrit, perasaan terhadap seseorang, dan pembawaan perasaan.
ANALISIS KESALAHAN PEMILIHAN KATA PADA KARANGAN MAHASISWA SEMESTER IV PRODI PENDIDIKAN BAHASA JEPANG UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG Indrasari, Yayuk; Supriatnaningsih, Rina; Nurhayati, Silvia
Chi'e: Journal of Japanese Learning and Teaching Vol 6 No 2 (2018): CHI'E Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang (Journal of Japanese Learning and Teaching)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/chie.v6i2.22600

Abstract

From the results of preliminary studies, the students have difficulty selecting words in composition course. The difficulty causes errors of selecting vocabulary. This research is qualitative descriptive research which aims to describe the error of selecting words on students’ composition of Unnes Japanese Education. Data source in this research is taken from the composition of 50 students in semester IV in 2015 academic year Semarang University. Data collection technique in this research is the monitoring technique and writing notetechnique. Monitoring done by reading student’s compotitions, who is the source of data in this research. As noted technique used notes errors fragment. Basedon the analysis of data, there are 288 sentences error in diction selection: 51 dooshi selection errors, 46 meishi selection errors, 2 keiyooshi selection errors, 8 rentaishi selection errors, 4 fukushi selection errors, 2 setsuzokushi selection errors, 92 jooshi selection errors, and 23 jodooshi errors selection. Dari hasil studi pendahuluan, mahasiswa mengalami kesulitan dalam memilih kata ketika menulis karangan. Kesulitan tersebut menyebabkan kesalahan- kesalahan dalam penggunaan kosakata. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan utuk mendeskripsikan kesalahan pemilihan kata pada karangan mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Jepang Unnes. Data yang digunakan adalah kesalahan pemilihan kata pada karangan (sakubun). Sumber data dalam penelitian ini berupa hasil karangan mahasiswa semester IV angkatan 2015 Prodi Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Negeri Semarang berjumlah 50 orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik simak dan teknik catat. Teknik simak dilakukan dengan membaca karangan mahasiswa yang merupakan sumber penelitian. Teknik catat digunakan untuk mencatat potongan kalimat yang terdapat kesalahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat kesalahan dalam pemilihan kata sebanyak 228 kesalahan, meliputi 51 kesalahan pemilihan dooshi, 46 kesalahan pemilihan meishi, 2 kesalahan pemilihan keiyooshi, 8 kesalahan pemilihan rentaishi, 4 kesalahan pemilihan fukushi, 2 kesalahan pemilihan setsuzokushi, 92 kesalahan pemilihan jooshi, dan 23 kesalahan pemilihan jodooshi.
Interlanguage Pragmatics Failure among Javanese Learners of Japanese Rina Supriatnaningsih; Tatang Hariri; Djodjok Soepardjo; Lisda Nurjaleka; Silvia Nurhayati
Humaniora Vol 33, No 3 (2021)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jh.67978

Abstract

In the Japanese language, Keigo refers to the politeness in language that one must adhere to during interactions with native speakers. Japanese language students are obliged to pay attention to this principle and behave politely in spoken communication. In the Javanese language, the manner in which speech is delivered, undha usuk, comprises a variety of registers applied to different social contexts, such as krama (High or formal Javanese) and ngoko (Low or vernacular Javanese). Still, other politeness principles are to be taken into account. This study, driven by such a concern, was devoted to examining politeness violations in communications between 108 university students, most of whom were native Javanese speakers. The politeness principle was employed to unravel the issue. Data were collected by recording conversations between participants and native Japanese speakers. A follow-up interview with each subject was also conducted. The results revealed that most students failed to build intercultural communication in Japanese conversation, due to their lack of socio-pragmatic knowledge. Based on the interview results, in daily communication, the students rarely used the Javanese speech act level of krama, instead using basa ngoko or Indonesian. These findings emphasize the socio-pragmatic concept, and more precisely the politeness principles other than the Keigo style, to students. This should minimize the violation of politeness maxims in the Japanese language.
Analisis Penggunaan Strategi Ungkapan Terimakasih Oleh Penutur Asli Bahasa Jepang Dyah Retno Arianti; Silvia Nurhayati
IZUMI Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.806 KB) | DOI: 10.14710/izumi.8.2.125-136

Abstract

(Title: Analysis Of Gratitude Expresion Strategy By Japanese Native Speakers). People who learn about Japanese language generally know that gratitude expressions sayings such as "Thankyou", "I appreciate it", However, Japanese native speakers convey gratitude not only using gratitude expressions but also using other expressions. The main goal of this article is to describe strategy used by Japanese people to gratitude to other people. This research uses a quantitative descriptive approach with a questionnaire as the data source. The questionnaire write in open questionnaire type was distributed to 65 Japanese native speakers to get natural answers. The questionnaire was distributed using the random sampling method. Based on the result of questionnaire, conclude that when Japanese native speakers are gratitude to other people, Japanese native speaker mostly use the combination of two thankful strategies. When Japanese native speakers are gratitude to other people, the most used strategy is the strategy is shinteki taidou no hyoumei or expressions of psychological actions.
ANALISIS PENGGUNAAN AIZUCHI MAHASISWA BAHASA JEPANG DALAM KOMUNIKASI BERBAHASA JEPANG meta gesti rahayu; Rina Supriatnaningsih; silvia nurhayati
Chi'e: Journal of Japanese Learning and Teaching Vol 4 No 1 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/chie.v4i1.8426

Abstract

Aizuchi merupakan suatu isyarat balik secara verbal maupun non verbal dalam bahasa Jepang yang seringkali diucapkan dan dilakukan oleh lawan bicara dalam komunikasi berbahasa Jepang. Kemunculan aizuchi juga seringkali digunakan sebagai indikator bahwa seseorang sedang mendengarkan pembicara dengan baik, terutama respon verbal, misalnya respon berupa ucapan “ はい“ atau “hai” yang berarti “ya”. Sementara, orang Indonesia memiliki cara respon berbeda dalam berkomunikasi. Pada penelitian ini, peneliti meneliti tentang penggunaan aizuchi dan kesalahan-kesalahan penggunaannya. Penelitian ini menggunakan teknik deskriptif kualitatif untuk mengetahui penggunaan aizuchi dan kesalahan-kesalahan penggunaannya. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah video rekaman pemaparan mata kuliah interview dalam rangkaian kegiatan Teacher Training di Japanese Language Institute, Japan Foundation, Kansai, Osaka, pada 2014. Penelitian ini menggunakan teknik rekam, simak dan catat untuk pengumpulan data dan teknik unsur pilah penenetu untuk analisis dan pengolahan data. Hasil analisis data menunjukkan bahwa dari 100% aizuchi yang dilakukan, 21% diantaranya adalah aizuchi verbal dan 79% sisanya adalah aizuchi non verbal, dan dalam 100% aizuchi verbal yang diucapkan, 11% diantaranya merupakan penggunaan aizuchi verbal yang salah. Aizuchi is verbal or non verbal backchannel in Japanese that is said very often by the partner of the speaker in a conversation in Japanese. The existence of aizuchi also being the indicator if thr listener is listening attentively and understand so far, especially verbal response like “ はい“ or “hai” which represent the meaning of “yes”. However, Indonesian has the different way to response the speaker in communication. In this research, the researcher analyze about the usage of aizuchi and the mistakes of it. This research using cualitative descriptive technique to know about the usage of aizuchi ang the mistakes of it. The source of data that are used in this research is some recorded videos of Presentation activity in Interview class of Teacher Training Programme that is held in Japanese Language Institute, Japan Foundation, Kansai, Osaka, in 2014. This research using record, watch and notes technique to collect the datas and determinant element selection technique to analyze the datas. The result of the analysis shows that in 100% of aizuchi done by Japanese students, 21% of it was verbal aizuchi, and the 79% is non verbal aizuchi, and in 100% of verbal aizuchi, 11% of it was mistaken aizuchi.
ANALISIS KESULITAN MAHASISWA PBJ UNNES DALAM MENGERJAKAN SOAL CHOUKAI N3 Wulan Nusanita Primawida; Setiani Wardhaningtyas; Silvia Nurhayati
Chi'e: Journal of Japanese Learning and Teaching Vol 4 No 1 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/chie.v4i1.8440

Abstract

UniversitasNegeri Semarang memiliki program studi Pendidikan Bahasa Jepang dan menyediakanmata kuliah menyimak, salah satunya yaitu choukai.Salah satu target yang diharapkan dapat dicapai dari mata kuliah ini adalahdapat lulus ujian kemampuan bahasa Jepang (NihongoNouryokushiken). Untuk dapat mencapai kelulusan pada Nihongo Nouryokushiken tersebut, materi yang  disampaikan di kelas disediakan berjenjangsesuai dengan tingkatan mahasiswa. Untuk angkatan 2012 yaitu mahasiswa semester6, latihan soal yang diberikan di kelas setara dengan soal-soal dalam NihongoNouryokushiken N3 maupun N2.Karenapenelitian ini menitikberatkan kesulitan NihongoNouryokushiken pada choukai, makasebelumnya peneliti melakukan 3 studi pendahuluan untuk menguatkan penelitianperlu dilakukan. Dari studi pendahuluan yang peneliti lakukan, sebagian besarresponden yaitu 58 mahasiswa PBJ UNNES angkatan 2012 yang mengikuti N3 diJogjakarta pada tanggal 7 Desember 2014 merasa kesulitan pada materi dokkai. Meskipun begitu setelah dilihatdari hasil tes keseluruhan responden diketahui hampir setengahnya memperolehskor choukai dibawah 30. Dan dari latihan soal choukai N3 diketahui masih adaresponden yang skornya dibawah 50%. Hal ini dapat dijadikan indikasi bahwamahasiswa masih mengalami kesulitan ketika mengerjakan soal choukai N3.Pendekatanyang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Dalampenelitian ini sampel yang diteliti adalah mahasiswa PBJ UNNES angkatan 2012yang mengikuti N3 di Jogjakarta pada tanggal 7 Desember 2014. Teknikpengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket. Teknik analisis datadalam penelitian ini menggunakan deskriptif persentase.Berdasarkanpembahasan dan interpretasi data diketahui faktor-faktor yang mempengaruhikegiatan menyimak yang pertama yaitu faktor psikologis, pengalaman, motivasi,lingkungan fisik. Sedangkan kesulitan mahasiswa PBJ UNNES angkatan 2012 dalammengerjakan choukai N3 dari kelima jenis soal choukai Nihongo Nouryokushiken, kesulitan yang paling banyakdialami responden adalah jenis soal kadairikai(課題理解), dan gaiyou rikai(概要理解).
EFEKTIFITAS MODELPEMBELAJARAN TIME TOKEN ARENDS UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA BAHASA JEPANG TINGKAT DASAR SISWA SMAN 1 TENGARAN Disti Ayu Mahardianti; Silvia Nurhayati; Chevy Kususmah Wardhana
Chi'e: Journal of Japanese Learning and Teaching Vol 4 No 1 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/chie.v4i1.8461

Abstract

Guru dansiswa merupakan faktor penting dalam suatu kegiatan pembelajaran untuk mencapaitujuan pembelajaran. Selain itu, model pembelajaran juga mempunyai perananpenting dalam kegiatan belajar dan mengajar, karena penggunaan modelpembelajaran yang tepat dapat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.  Dalam pembelajaran bahasa asing khususnyabahasa Jepang berbicara merupakan tujuan utama yang harus bisa dicapai olehpembelajar, namun kemampuan berbicara siswa di SMA N 1 Tengaran masih kurangketika kegiatan berbicara berlangsung. Untuk meningkatkan kemampuan berbicarabahasa Jepang diantaranya menggunakan model pembelajaran Time Token Arends.Oleh karena itu, peneliti memilih model pembelajaran Time Token Arends untukmeningkatkan kemampuan berbicara bahasa karena model pembelajaran tersebut dapat melibatkan seluruh siswa yangaktif maupun pasif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas TimeToken Arends untuk meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Jepang. Penelitianini merupakan penelitian eksperimen yaitu menguji efektifitas modelpembelajaran Time Token Arends pada kemampuan berbicara siswa menggunakanbahasa Jepang. Pengambilan sampel dalam populasi menggunakan teknik purposif.Metode tes digunakan dengan memberikan tes sebelum memberikan perlakuan ataupre test dan sesudah pemberian perlakuan atau post-tes. Tes tersebut digunakanuntuk memperoleh data nilai siswa. Berdasarkan hasil perhitungan menggunakanrumus T-tes diperoleh                         adalah 3,27 > dari l 2,12 untuk signifikansi 5% maka dapat disimpulkan bahwapembelajaran bahasa Jepang menggunakan model pembelajaranTime TokenArendsefektifuntuk meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Jepang.
ANALISIS KESALAHAN PENGGUNAAN FUTSUKEI DALAM KLAUSA PENJELAS MEISHI SHUUSHOKU PADA SAKUBUN MAHASISWA SEMESTER IV PRODI PENDIDIKAN BAHASA JEPANG UNNES Septyani Tri Wahyuni; Silvia Nurhayati; Ai Sumirah Setiawati
Chi'e: Journal of Japanese Learning and Teaching Vol 4 No 1 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/chie.v4i1.8463

Abstract

Kesalahan yang terjadi dalam sakubun dapat disebabkan oleh adanyaperbedaan antara bahasa ibu pembelajar dan bahasa Jepang sehingga menyebabkankurang memadainya kemampuan tata bahasa, penguasaan kosa kata dan sebagainya.Perbedaan tersebut salah satunya adalah kata kerja, kata sifat, dan kata kerjabantu dalam bahasa Jepang yang dapat mengalami perubahan bentuk. Dari hasilstudi pendahuluan, mahasiswa mengalami kesulitan dalam menggunakan bentuk futsukei. Bentuk futsukei memiliki beberapa fungsi. Berdasarkan hasil pengamatan,kesalahan yang sering muncul adalah penggunaan futsukei pada klausa penjelas meishishuushoku. Oleh karena itu, perlu penelitian tentang kesalahan penggunaan futsukei pada klausa penjelas meishi shuushoku agar kesalahan tersebutnantinya tidak terjadi lagi.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang menggunakan pendekatankualitatif. Penelitian ini menggambarkan secara rinci mengenai kesalahan yangterjadi dan penyebab terjadinya kesalahan. Data yang digunakan adalah kesalahanpenggunaan futsukei pada klausapenjelas meishi shuushoku di sakubun. Sumber data pada penelitian iniadalah 48 buah karangan atau sakubun mahasiswa UNNES semester IV dengantema “anke-to” (angket). Teknik pengumpulan data yangdigunakan pada penelitian ini adalah teknik simak dan teknik catat. Tekniksimak digunakan karena data penelitian ini adalah data tertulis berupa karanganatau sakubun. Penyimakan dilakukandengan membaca sakubun mahasiswa yangmerupakan sumber data pada penelitian ini. Adapun teknik catat digunakan  untuk mencatat potongan kalimat yangmengalami kesalahan.Berdasarkan hasilanalisis data, didapatkan kesalahan penggunaan futsukei bentuk lampau pada klausa penjelas meishi shuushoku sebanyak 66 kalimat dan  kesalahan penggunaan futsukei bentuk nonlampau pada klausa penjelas meishi shuushoku sebanyak 14 kalimat. Kesalahan terjadi dikarenakanmahasiswa kurang memahami konsep penggunaan kala baik pada tingkat kalimatmaupun pada klausa penjelas meishishuushoku (penggunaan kala pada tingkat klausa). Selain itu, mahasiswa tidakpaham apa yang dijelaskan grafik dan kurang memahami tentang struktur meishi shuushoku serta kurang hati-hati dalammenggunakan kata keterangan amaripada klausa penjelas meishi shuushokudan modalitas yang menyatakan keinginan pada orang ketiga.Errorsthat occur in sakubun can be caused by the differences between languagelearners and a Japanese mother, causing the insufficient ability of grammar,vocabulary mastery etc. The oneof the difference is verb, adjective, andverb in Japanese aids that can change shape. From the results of preliminarystudies, the students have difficulty in using futsukeiform (casual or called basic form in Japanese Grammar).  Futsukei form hasseveral functions. Based on observations, errors that often arises is the using futsukei on meishishuushoku explanatory clause. Therefore, theneed to research on the use futsukeierror on meishishuushoku explanatory clause that suchmistakes will not happen again.Thisresearch use a descriptive study witha qualitative approach. This study describes  details of  the errors that occurred and the cause of theerror. The used data are the errorsof  futsukeion meishi shuushoku explanatory clausesin sakubun. Source of data in this study were 48 pieces of student essays orsakubun UNNES with theme "anke-to"(questionnaire). Thestudents are second grade of UNNES Japanese Education Program. Data collectiontechniques in this research is the monitoring technique and writing notetechnique. Monitoring technique used for this research data because the datawritten in the form of essay or sakubun.Monitoring done by reading student’s sakubun, who is the source of the data in this research. As noted technique used torecord an error fragment.Basedon the analysis of data, there are 66 sentensces error in using past tense futsukei on meishi shuushoku explanatory clauses and there are 14 sentences error in usingnon-past form futsukei on meishi shuushoku explanatory clauses. The error occurs because the students do not understandthe concept of using tense in Japanase, especially tenses in meishi shuushoku’s clause (clause leveltenses). In addition, students can not looking the describing graph clearly andless-understanding of the structure of meishishuushoku, less-cautious in using adverbs ‘amari’ on meishi shuushokuclause and modalities expressed a desire in the third person (there aredeffirences both of Indonesian and Japanese to express that expression).
PENGENALAN MUKASHI BANASHI MELALUI METODE STORYTELLING TERHADAP PENINGKATAN LITERASI SISWA KELAS 5 SD NEGERI BALOK KENDAL DENGAN MEDIA INTERAKTIF POWERPOINT Respati Nugrahadi, Danial; Nurhayati, Silvia; Supriatnaningsih, Rina
Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang Undiksha Vol. 9 No. 3 (2023): Pendidikan dan Budaya Jepang
Publisher : Undiksha Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbj.v9i3.62041

Abstract

Kondisi kemampuan literasi membaca siswa Indonesia masih jauh di bawah harapan pemerintah dan literasi belum menjadi kebiasaan serta budaya bangsa Indonesia. Pendidikan dasar dalam pembelajarannya belum sama sekali mengenal bahasa asing seperti bahasa Jepang. Padahal banyak contoh penerapan bahasa/kebudayaan yang dapat dipelajari dari negara Jepang, salah satunya karya sastra berupa mukashi banashi atau disebut dongeng cerita rakyat. Penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran masih menggunakan hal yang sederhana. Padahal seiring waktu, penggunaan media jauh lebih menarik seperti penggunan media PowerPoint. Begitupun dengan penggunaan media yang masih sederhana cara pengajaran menjadi siswa lebih cepat bosan. Perlunya penunjang metode dan media pembelajaran harus diberikan secara menarik agar siswa dapat memahami dan meningkatkan literasi siswa. Dalam konteks ini, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penggunaan metode storytelling dengan menggunakan cerita dongeng Jepang (mukashi banashi) melalui media interaktif PowerPoint sebagai upaya untuk meningkatkan literasi siswa kelas 5 SD Negeri Balok Kendal. Metode pendekatan deskriptif kualitatif digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan data primer yang diperoleh melalui wawancara dengan guru wali kelas 5 dan data sekunder berupa cerita dongeng Bahasa Jepang yang diambil dari website hukumusume.com. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengenalan mukashi banashi melalui metode storytelling dengan media interaktif PowerPoint mendapatkan respon positif dari guru dan siswa serta dapat meningkatkan minat membaca siswa.
Analisis Ragam Bahasa Jepang Berdasarkan Konsep Uchi-soto dalam Drama Hanzawa Naoki Fitriana, Melinia Nur; Wardhana, Chevy Kusumah; Setiawati, Ai Sumirah; Diner, Lispridona; Nurhayati, Silvia
J-Litera: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra dan Budaya Jepang Vol 6 No 2 (2024): November 2024
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jltera.2024.6.2.5485

Abstract

Japanese people in interacting tend to place themselves in social groups (uchi-soto). This study discusses the variety of Japanese speech based on the concept of uchi-soto in the Hanzawa Naoki drama. The main setting of the drama which is the work environment makes the concept of uchi-soto greatly affect the characters in communicating. The importance of learning the concept of uchi-soto will arise when there are misunderstandings due to lack of understanding when interacting with Japanese people. The results of this study are expected to be used by students as a reference for the variety of Japanese language with the uchi-soto concept so that they can apply it in real life according to the situation so as not to cause misunderstandings when communicating between speakers and interlocutors. This study aims to determine the variety of Japanese speech based on the concept of uchi-soto in Hanzawa Naoki's drama and to find out the factors behind the use of speech variety based on the concept of uchi and soto.