Claim Missing Document
Check
Articles

KUAT LENTUR BALOK BETON TULANGAN BAMBU PETUNG VERTIKAL Suci Indah Suryani; Agus Setiya Budi; Sunarmasto Sunarmasto
Matriks Teknik Sipil Vol 4, No 4 (2016): Desember 2016
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v4i4.37059

Abstract

Beton bertulang merupakan struktur komposit yang berasal dari penggabungan dua bahan yaitu beton (agregat halus + agregat kasar + PC) dan baja sebagai tulangan. Penggunaan beton bertulang yang semakin meningkat menyebabkan penggunaan baja meningkat dan menimbulkan kekhawatiran semakin menipisnya ketersediaan bahan baku pembuatan baja. Para ahli struktur telah meneliti adanya kemungkinan penggunaan material lain dengan menggunakan bambu sebagai tulangan beton. Bambu merupakan sumber daya alam yang mudah didapat, murah, mudah ditanam, dan memiliki kuat tarik cukup tinggi yang mampu bersaing dengan baja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kuat lentur pada balok beton tulangan bambu petung vertikal ukuran 10x5 mm. Benda uji berjumlah 14 buah terdiri dari 8 buah tulangan bambu dan 6 buah tulangan baja D 8 mm. Dimensi balok yang digunakan adalah panjang 1700 mm, lebar 110 mm dan tinggi 150 mm sedangkan dimensi bambu yang digunakan adalah panjang 1650 mm, lebar 10 mm dan tebal 5 mm. Mutu beton minimal yang direncanakan adalah fc'=17 MPa. Uji lentur dilakukan pada umur 28 hari dengan metode two point loading. Nilai kuat lentur analisis hasil pengujian laboratorium adalah 3,98 N/mm2 untuk balok bertulangan bambu dan 12,3693 N/mm2 untuk balok bertulangan baja.
ANALISIS KAPASITAS LENTUR BALOK BETON BERTULANG BAMBU PETUNG TAKIKAN TIPE U JARAK 15 CM, PADA LEBAR TAKIKAN 2 CM TERHADAP TULANGAN BAJA Agus Setiya Budi; Reidha Arif Dianata; Slamet Prayitno
Matriks Teknik Sipil Vol 3, No 4 (2015): Desember 2015
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v3i4.37241

Abstract

Penggunaan beton bertulang dalam pembangunan membutuhkan biaya yang tinggi. Pembangunan dengan biaya yang lebih terjangkau dan tidak mengurangi kekuatan bangunan menimbulkan fenomena yang cukup menarik untuk diteliti. Bahan-bahan yang unggul menjadi prioritas utama dalam penggunaanya sebagai bahan bangunan sehingga mengakibatkan ketersediaannya yang terbatas dan mahal. Tulangan baja merupakan salah satu material yang didapat dari hasil tambang dan suatu saat ada kemungkinan material tersebut akan sulit didapat. Selain itu dengan berkembangnya jaman, harga tulangan baja selalu meningkat. Beberapa ahli struktur dunia telah meneliti adanya penggunaan bahan lain, salah satu material yang digunakan yaitu material bambu digunakan sebagai tulangan beton pengaanti besi baja.HH Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan total benda uji 15 buah. Benda uji yang digunakan adalah balok beton berukuran 110 x 150 x 1700 mm. Lima buah menggunakan tulangan baja, 10 buah menggunakan tulangan bambu petung dengan dimensi 1650 x 20 x 5,2 mm menggunakan takikan tipe "U" dengan jarak takikan 15 cm pada lebar takikan 1 cm dan 2 cm. Uji lentur dilakukan pada umur 28 hari dengan metode three point loading. Ditinjau dari kapasitas lenturnya, momen hasil pengujian balok bertulangan bambu petung takikan tipe U dengan jarak takikan 10 cm lebar 10 mm setara 48,55% sedangkan balok bertulangan bambu petung takikan tipe U dengan jarak takikan 15 cm lebar 20 mm pun setara 39,95% terhadap balok dengan tulangan baja polos diameter 8 mm. Pola keruntuhan pada balok beton dengan tulangan baja maupun pada balok beton dengan tulangan bambu petung tipe "u" dengan jarak takikan 15 cm pada lebar takikan 1 cm dan 2 cm terletak antara 1/3 bentang tengah. Keruntuhan yang demikian termasuk dalam keruntuhan lentur.
PENGARUH KADAR FLY ASH TERHADAP KUAT TEKAN PADAHIGH VOLUME FLY ASH-SELFCOMPACTING CONCRETE (HVFA-SCC) BENDA UJI D 15 CM X 30 CM USIA 28 HARI. Isnadia Nurul Fatimah; Agus Setiya Budi; Senot Sangadji
Matriks Teknik Sipil Vol 6, No 3 (2018): September 2018
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v6i3.36559

Abstract

Dalam upaya mengurangi efek global warming akibat limbah CO2 hasil pembakaran semen ditelitilah fly ash sebagai bahan subtitusi semen. Kandungan senyawa silika ditambah alumina akan mengikat senyawa sisa hasil hidrasi semen (kalsium hidroksida,Ca(OH)2) yang tidak mempunyai kemampuan mengikat, menjadi senyawa baru yang mempunyai sifat cementitious (mengikat) sehingga meningkatkan kekuatan beton yang dihasilkan. Fly ash juga memiliki sifat ball bearing effect yang meningkatkan workability. Pada penelitian  ini akan dianalisis pengaruh kadar fly ash terhadap kuat tekan yang dihasilkan masing masing kadar High Volume Fly Ash Self Compacting Concrete (HVFA-SCC) Fly Ash sebagai subtitusi semen pada High Volume Fly Ash Self Compacting Concrete (HVFA SCC) memiliki kadar mulai dari 50%. Pengujian beton dilakukan dengan sample diameter 15 cm x 30 cm pada 28 hari. Pada penelitian ini dibandingkan 3 variasi kadar fly ash yaitu 50%, 60%, 70% dan beton normal. Hasil penelitian menunjukkan kuat tekan HVFA-SCC semakin besar kadar fly ash semakin rendah kuat tekan yang dihasilkan. Kuat tekan yang dihasilkan untuk kadar fly ash 50%, 60%, 70% dan beton normal adalah 60.58 MPa, 45.86 MPa, 38.21 MPa, 62.47 MPa.
PENGARUH KADAR AKTIVATOR 0,54 DAN RASIO SS/SH (2,0-3,0) PADA BETON GEOPOLIMER DENGAN BAHAN DASAR FLY ASH TERHADAP KUAT TEKAN Agus Setiya Budi; Priya Pamungkas, Rafli; Wibowo
Jurnal Teknik Sipil : Rancang Bangun Vol. 10 No. 2 (2024): Oktober 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/rb.v10i2.3570

Abstract

Beton geopolimer merupakan beton yang menggantikan 100% semen dengan bahan ramah lingkungan. Beton geopo-limer mempunyai reaksi pengikatan yang berbeda dengan beton konvensional yakni reaksi polimerisasi. Bahan ramah lingkungan yang digunakan pada beton geopolimer yaitu hasil samping pembakaran batu bara yang bernama fly ash. Fly ash membutuhkan bahan kimia aktivator untuk mengaktifkan reaksi polimerisasi yang dapat membentuk beton geopolimer. Reaksi antara fly ash dan bahan kimia aktivator dapat membentuk ma-terial yang memiliki sifat seperti semen. Bahan-bahan kimia yang dapat digunakan sebagai aktivator pada reaksi polimerisasi dalam fly ash adalah menggunakan kombinasi alkali silikat dengan alkali hidroksida atau biasa disebut Sodium Silikat (SS) dan Sodium Hidroksida (SH). Penelitian beton geopolimer ini dilakukan di laboratorium dengan metode eksperimen. Benda uji yang digunakan berbentuk silinder dengan tinggi dan diameter sebesar 30 cm dan 15 cm. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan besarnya kuat tekan beton geopolimer dengan variasi kadar aktivator 0,54 dan rasio sodium silikat dan sodium hidroksida sebesar 2,0; 2,5; dan 3,0 pada beton berumur 28 hari dan curing suhu ruang. Hasil pengujian kuat tekan diperoleh bahwa variasi rasio SS/SH 2,0; 2,5; 3,0 masing-masing sebesar 36,13 MPa, 45,63 MPa, dan 42,17 MPa. Berdasarkan hasil kuat tekan didapatkan hasil maksimum pada rasio SS/SH 2,5 sebesar 45,63 MPa.
Pengaruh Kadar Aktivator 0,53 dan Rasio SS/SH (0,5-1,5) pada Beton Geopolimer dengan Bahan Dasar Fly Ash Terhadap Kuat Tekan dan Toughness Agus Setiya Budi; Dwi Hermawan, Ivan; Wibowo
Jurnal Teknik Sipil : Rancang Bangun Vol. 10 No. 2 (2024): Oktober 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/rb.v10i2.3593

Abstract

Beton geopolimer merupakan varian beton yang reaksi pengikatannya tidak seperti beton konvensional yang menggunakan reaksi hidrasi melainkan reaksi polimerisasi. Beton ini mengaplikasikan fly ash (abu terbang) sebagai bahan pengikatnya dan menggunakan aktivator untuk meningkatkan reaksi polimerisasi yang terjadi serta membantu dalam pencampuran fly ash, pasir, dan kerikil. Aktivator yang dipakai pada penilitian ini adalah menggunakan cairan NaOH atau sodium hidroksida (SH) dan cairan Na2SiO3 atau sodium silikat (SS). Bahan-bahan kimia ini bertujuan untuk memingkatkan kekuatan dari beton, meningkatkan ketahanan lingkungan, dan pengurangan emisi karbon. Kajian ini menerapkan metode eksperimen kuantitatif yang dilakukan di laboratorium, dengan sampel uji berbentuk silinder dengan dimensi 15 cm x 15 cm x 30 cm. Rasio alkali aktivator yang digunakan adalah 0,53 dengan variasi SS/SH sebesar 0,5; 1,0; dan 1,5. Sampel-sampel ini akan diuji setelah benda uji berusia 28 hari. Pengujian dilakukan untuk menentukan nilai kuat tekan pada sampel beton dengan variasi rasio SS/SH dari 0,5 hingga 1,5. Hasil pengujian setelah 28 hari menunjukkan kuat tekan dengan variasi SS/SH 0,5; 1,0; dan 1,5 berturut-turut sebesar 30,48 MPa, 32,06 MPa, dan 35,90 MPa. Berdasarkan pengujian kuat tekan ditemukan bahwa rasio SS/SH yang memberikan hasil terbaik adalah 1,5, dengan kuat tekan 35,90 MPa.
PENGARUH KADAR AKTIVATOR 0,33 DAN RASIO SS/SH (2,0-3,0) PADA BETON GEOPOLIMER DENGAN BAHAN DASAR FLY ASH TERHADAP KUAT TEKAN Dahlilliyanto, Rafilla Hafnan; Agus Setiya Budi; Endah Safitri
Jurnal Teknik Sipil : Rancang Bangun Vol. 11 No. 01 (2025): April 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/rb.v11i01.3615

Abstract

Beton geopolimer merupakan beton yang mempunyai reaksi pengikatan yang berbeda dengan beton konvensional. Reaksi yang terdapat pada beton geopolimer adalah reaksi polimerisasi. Beton geopolimer menggunakan limbah hasil pembakaran batu bara yang bernama fly ash (abu terbang). Bahan-bahan kimia yang dapat digunakan untuk mengaktifkan reaksi polimerisasi dalam fly ash adalah menggunakan kombinasi alkali hidroksida dengan alkali silika. Sodium hidroksida (SH) serta sodium silikat (SS) adalah jenis alkali yang digunakan pada beton geopolimer. Sampel beton yang diterapkan pada penelitian ini adalah silinder dengan dimensi 15 cm x 15 cm x 30 cm dengan kadar aktivator 0,33 serta variasi sodium silikat dan sodium hidroksida sebesar 2,0; 2,5; dan 3,0 yang nantinya akan diuji setelah beton berumur 28 hari. Pengujian yang diterapkan adalah untuk mengetahui nilai kuat tekan pada beton geopolimer dengan rasio variasi SS/SH sebesar 2,0-3,0. Dari hasil pengujian kuat tekan didapatkan bahwa rasio variasi SS/SH 2,0; 2,5; 3,0 masing-masing sebesar 41,06 MPa, 41,33 MPa, dan 45,56 MPa. Berdasarkan hasil kuat tekan didapatkan hasil maksimal dengan menggunakan rasio SS/SH sebesar 3,0 dengan kuat tekan sebesar 45,56 MPa.
PENGARUH KADAR AKTIVATOR 0,33 DAN RASIO SODIUM SILIKAT DENGAN SODIUM HIDROKSIDA (0,5-1,5) PADA BETON GEOPOLIMER DENGAN BAHAN DASAR FLY ASH TERHADAP KUAT TEKAN Tampubolon, Jerricho; Agus Setiya Budi; Endah Safitri
Jurnal Teknik Sipil : Rancang Bangun Vol. 11 No. 01 (2025): April 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/rb.v11i01.3622

Abstract

Beton geopolimer merupakan beton yang memiliki reaksi berbeda dengan beton konvensional yaitu reaksi polimerisasi. Beton ini menggunakan limbah dari hasil pembakaran batu bara yang bernama fly ash  yang membutuhkan aktivator untuk mengikat campuran dari fly ash  dengan pasir dan kerikil untuk menjadi sebuah beton inovasi pengganti beton konvensional. Bahan kimia yang dapat digunakan untuk mengaktifkan reaksi polimerisasi pada fly ash  adalah dengan menggunakan alkali hidroksida dengan alkali silika atau disebut dengan sodium silikat dan sodium hidroksida (SS/SH). Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah eksperimen kuantitatif dan dilakukan pada laboratorium struktur dan bahan dengan benda uji silinder dengan tinggi 30 cm dan diameter 15 cm dengan rasio 0,33 untuk perbandingan alkali dengan fly ash  dan variasi SS/SH sebesar 0,5 ; 1,0 ; dan 1,5.. Pengujian yang dilakukan adalah untuk mendapatkan nilai kuat tekan pada beton geopolimer dengan rasio variasi SS/SH sebesar 0,5-1,5. Berdasarkan hasil pengujian slump dan kuat tekan yang sudah dilakukan didapatkan bahwa rasio variasi SS/SH yang memberikan hasil maksimal adalah dengan menggunakan rasio SS/SH sebesar 1,5 dengan kuat tekan sebesar 41,16 MPa dan nilai workability terkecil.
Effect of Activator Level 0.43 and SS/SH Ratio (0.5-1.5) on Compressive Strength of Fly Ash-Based Geopolymer Concrete Muhammad Hayyu 'Alam; Agus Setiya Budi; Setiono
Jurnal Teknik Sipil : Rancang Bangun Vol. 11 No. 01 (2025): April 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/rb.v10i2.3712

Abstract

Beton merupakan bahan utama yang umum dipakai dalam proyek-proyek infrastruktur. Peningkatan pembangunan infrastruktur berbanding lurus dengan meningkatnya kebutuhan akan semen sebagai bahan pengikat. Sayangnya, produksi semen menjadi salah satu kontributor utama emisi CO2.  Beton geopolimer mengadopsi abu terbang (fly ash), hasil samping dari pembakaran batu bara, sebagai alternatif bahan pengikat semen dalam matriks betonnya. Fly ash berperan sebagai prekursor pada reaksi kimia dalam beton geopolimer. Oleh karena itu, dibutuhkan aktivator untuk mereaksikan silika dan alumina pada fly ash agar mampu membentuk material dengan kemampuan merekatkan yang kuat. Aktivator yang digunakan adalah sodium silikat (SS) dan sodium hidroksida (SH). Pada penelitian ini diselidiki kuat tekan beton geopolimer pada sejumlah benda uji berbentuk silinder 15 cm x 30 cm dengan variasi perbandingan Na2SiO3 (sodium silikat) terhadap NaOH (sodium hidroksida) 0,5; 1,0; dan 1,5 pada suhu ruang dengan umur 28 hari. Hasil studi menunjukkan kuat tekan optimum diperoleh beton geopolimer dengan rasio sodium silikat terhadap sodium hidroksida 1,5 sebesar 41,13 MPa. Sedangkan pada rasio sodium silikat terhadap sodium hidroksida 0,5 dan 1,0 didapatkan hasil kuat tekan berturut-turut 33,61 MPa dan 34,33 MPa. Dengan demikian, peningkatan rasio sodium silikat terhadap sodium hidroksida berpengaruh terhadap nilai kuat tekan beton geopolimer.