Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

INDUSTRI TELEVISI DAN WAJAH BURAM POLITIK INDONESIA Azwar - Azwar
KOMUNIKA : Jurnal Komunikasi, Media dan Informatika Vol 6, No 2 (2017): KOMUNIKA
Publisher : BPSDMP KOMINFO Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.85 KB) | DOI: 10.31504/komunika.v6i2.1109

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh terjadinya komersialisasi penyiaran publik di Indonesia, khususnya dalam industri televisi. Industri televisi yang hanya mementingkan kepentingan komersil berdampak pada menurunnya nilai-nilai demokarasi (degradasi) dan juga akan berdampak terjadinya pluktokrasi politik. Hal tersebut akhirnya berdampak buruk pada kehidupan berbangsa dan bernegara. Penelitian ini mengungkap persoalan tersebut dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dimana data sekunder penelitian ini ada teks-teks yang sudah berhasil dikumpulkan dari pustaka. Penelitian ini merujuk pada pendapat Edward S Herman tentang eksternalitas komersialisasi penyiaran publik. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa komersialisasi televisi berdampak negatif terhadap penyiaran publik di Indonesia. Bentuk komersialisasi televisi itu juga telah merasuk ke panggung politik, sehingga menurunkan kualitas demokrasi di Indonesia. Dampak eksternalitas ini juga dapat dilihat dari tampilnya orang-orang kaya di panggung politik. 
STRATEGI KOMUNIKASI HUMAS BIRO PEMBERITAAN DPR RI DALAM MENJAGA CITRA POSITIF ORGANISASI Veranus Sidharta; Anisti Anisti; Wenny Maya Arlena; Azwar Azwar
EKSPRESI DAN PERSEPSI : JURNAL ILMU KOMUNIKASI Vol 4, No 1 (2021): Januari
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33822/jep.v4i1.2337

Abstract

Artikel ini merupakan kajian atas strategi komunikasi humas Biro Pemberitaan DPR RI dalam menjaga reputasi dan citra positif organisasi. Hal penting yang mendasari penelitian ini adalah tidak kunjung baiknya citra DPR RI sebagai lembaga negara di mata masyarakat Indonesia. Selain kinerja DPR RI yang harus ditingatkan, tentu saja humas sebagai halaman depan lembaga, berperan besar dalam mengubah citra negatif ini menjadi citra positif. Penelitian ini akan melihat bagaimana peran Humas DPR RI dalam menjaga reputasi organisasi. Pelitian ini menggunakan metode kualitatif dimana peneliti melakukan kajian kepustakaan, observasi, dan wawancara mendalam terkait topik yang diteliti. Peneliti melakukan analisis PEST (Politik, Ekonomi, Sosial dan Teknologi) untuk melihat strategi komunikasi Humas Biro Pemberitaan DPR RI. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa intrumen politik legalitas DPR RI memuat wewenang dan fungsi sebagai lembaga penyelenggara negara dalam perencanaan program pembentukan dan perubahan Undang-Undang disusun secara terencana, terpadu, dan sistematis. Intrumen Ekonomi dan Sosial meliputi anggaran dan kebijakan ekonomi, dimana DPR RI membahas dan memberikan sebuah persetujuan atau tidak memberikan persetujuan terhadap sebuah rancangan undang-undang tentang APBN yang diajukan oleh presiden, serta faktor sosial mencakup aspek-aspek yang terkait dengan pemanfaatan media dalam penyebaran informasi kebijakan, layanan masyarakat dan progam berbagai event serta hubungan dengan media. Sedangkan faktor teknologi mencakup aspek-aspek teknologi informasi dan komunikasi berupa akses ketersediaan data dan informasi tentang program pemerintah tersediannya  sistem dan jaringannya.Kata Kunci: strategi komunikasi, citra lembaga, analisis PEST
PERUBAHAN PARADIGMA PENELITIAN ILMU KOMUNIKASI (DARI PARADIGMA KLASIK MARXISME - HEGELIAN MENUJU PARADIGMA KRITIS MAZHAB FRANKFURT) Azwar Azwar
EKSPRESI DAN PERSEPSI : JURNAL ILMU KOMUNIKASI Vol 5, No 2 (2022): Juli
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33822/jep.v5i2.4493

Abstract

Abstrak. Tulisan ini mengungkapkan bagaimana pergeseran paradigma penelitian ilmu komunikasi dari paradigma klasik/positivisme kepada paradigma alternatif (konstruktivisme dan kritis). Membahas pergeseran paradigma klasik menuju paradigma alternatif mau tidak mau membahas perkembangan intelektual Marxisme – Hegelian yang menganut paradigma klasik dan perkembangan intelektual Mazhab Frankfurt yang kritis. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan metode kualitatif, yaitu metode yang bertujuan untuk menggali fenomena sosial secara khusus. Berdasarkan tempatnya, penelitian ini merupakan studi kepustakaan dimana penelitian untuk menulis artikel ini dilakukan dengan menggunakan dokumentasi atau studi literatur (kepustakaan) dari penelitian sebelumnya atau dari dokumen terkait lainnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada dasarnya paradigma kritis dalam ilmu sosial termasuk ilmu komunikasi berakar dari paradigma klasik. Khusus dalam penelitian ilmu komunikasi paradigma kritis tidak menginginkan komunikasi hanya sebagai sebuah metode kerja untuk menundukkan manusia saja, akan tetapi dalam paradigma kritis, komunikasi diharapkan menjadi jalan pembebasan.
TINDAKAN KOMUNIKATIF KOMUNITAS VIRTUAL UNTUK MENGURANGI DISINFORMASI PEMBERITAAN POLITIK DI MEDIA SOSIAL Azwar Azwar
JWP (Jurnal Wacana Politik) Vol 7, No 2 (2022): JWP (Jurnal Wacana Politik) October
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jwp.v7i2.40336

Abstract

AbstractThis paper is part of the research results that reveal the communicative action by the virtual community Forum Anti Fitnah Hasut dan Hoax (FAFHH) on Facebook to reduce disinformation on social media as a new public sphere. This paper is viewed from the perspective of the Theory of Communicative Action initiated by Jurgen Habermas. Habermas's idea is very important for this paper because it offers a broader framework for understanding social media as a public sphere. It is also to understand how individuals or communities seek to achieve common understanding within groups to promote cooperation, not just to achieve personal goals. This paper uses a critical, qualitative paradigm with a virtual ethnographic method. Data collection was carried out by observing participants in virtual communities FAFHH on Facebook. In addition to observations, the author also conducted in-depth interviews with virtual community managers (admins and moderators). The results of this study indicate that the FAFHH virtual community has fulfilled the requirements as a public sphere. In addition, the FAFHH virtual community has also fulfilled the validity claim in communicative actions.Keywords: disinformation, virtual community, social media, communicative action, public sphere.
Glass Ceiling Sebagai Hambatan Dalam Mewujudkan Keadilan dan Kesetaraan Gender Bagi Perempuan Pekerja Azwar Azwar
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i Vol 10, No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sjsbs.v10i1.26067

Abstract

This paper discusses the phenomena of the glass ceiling, which affects women's chances of obtaining professional jobs, as well as its connection to issues of equality and equity in regards to gender. A literature review of several scientific studies that address the glass ceiling is used as the method of writing for this method. The findings of this literature review indicate that the "glass ceiling" phenomenon is still a barrier for women to overcome in order to advance to particular levels within their respective workplaces. The sexist attitude toward women was one of the contributing factors to this result. This article demonstrates that equality and equity in terms of gender have not yet been achieved in the field of professional labor.Keyword: Glass Ceiling, Equity, Equality.  AbstrakTulisan ini membahas tentang fenomena glass ceiling yang mempengaruhi peluang perempuan memperoleh pekerjaan profesional, serta kaitannya dengan isu kesetaraan dan kesetaraan gender. Tinjauan pustaka dari beberapa kajian ilmiah yang membahas mengenai glass ceiling digunakan sebagai metode penulisan untuk metode ini. Temuan kajian literatur ini menunjukkan bahwa fenomena “glass ceiling” masih menjadi kendala yang harus dihadapi perempuan untuk naik ke level tertentu di tempat kerjanya masing-masing. Sikap seksis terhadap perempuan menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap hasil ini. Pasal ini menunjukkan bahwa kesetaraan dan pemerataan gender belum tercapai di bidang ketenagakerjaan profesional.Kata kunci: Glass Ceiling, Kesetaraan Gender, Keadilan Gender
INTERPRETASI SLOGAN IKLAN ROKOK GUDANG GARAM “PRIA PUNYA SELERA” PADA KALANGAN REMAJA Azwar Azwar; Denny Wahyudhi; Muhamad Gibraltar; Girindra Adyapradana
Global Komunika : Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Vol 1 No 1 (2017): Global Komunika
Publisher : FISIP UPNVJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tingginya angka konsumsi rokok di kalangan remaja Indonesia menimbulkan kekhawatiran bagi banyak pihak. Namun yang mengherankan, justru iklan-iklan rokok di Indonesia masih bisa ditemukan di berbagai media. Salah satunya adalah slogan dalam iklan rokok yang berbunyi “Pria Punya Selera”. Penelitian ini mengungkap bagaimana pengaruh iklan tersebut terhadap remaja di Indonesia. Selain itu penelitian ini melihat bentuk komunikasi yang menjelaskan pemaknaan remaja terhadap slogan iklan rokok di kalangan remaja. Penelitian ini menggunakan pendekatan (paradigma)  kritis dengan metodologi kualitatif. Peneliti melakukan penggalian data kepustakaan, observasi di lapangan dan wawancara mendalam dengan informan. Penelitian ini menggunakan teori interaksionisme simbolik dari George Herbert Mead. Mead menyatakan konsep ‘mind’ ‘self’, dan ‘society’ untuk mengungkap makna dalam sebuah iklan. Penelitian ini menunjukkan bahwa berbagai macam jenis society yang muncul dari para informan, yang mentransformasikan diri informan menjadi seorang perokok aktif. Sementara itu kebiasaan merokok di kalangan remaja merupakan preferensi dari rasa, serta tanggapan terhadap significant symbol seperti kemasan rokok. Sedangkan Me dapat berwujud anjuran orang tua untuk tidak merokok, dan tawaran dari teman. Dalam konsep Mind, dapat ditafsirkan berbagai variasi pandangan yang muncul terhadap seorang perokok. Tayangan iklan rokok mempengaruhi dan meningkatkan persepsi diri dalam informan, bahwa merokok adalah keren atau maco. 
TELEVISI DAN NASIONALISME DI DAERAH TERTINGGAL Azwar Azwar; Ahmad Zakki Abdullah
Global Komunika : Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Vol 2 No 1 (2019): Global Komunika
Publisher : FISIP UPNVJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji bagaimana fenomena siaran televisi di ruang publik daerah tertinggal, khususnya di Kabupaten Lebak dan Pandegelang, Provinsi Banten. Sejalan dengan itu, penelitian ini juga akan melihat bagaimana siaran televisi berdampak terhadap sikap nasionalisme masyarakat di daerah tersebut. Daerah yang menjadi objek penelitian ini adalah Kecamatan Gunung Kencana, Kabupaten Lebak dan Kecamatan Cimanggu, Pandegelang,  Provinsi Banten. Daerah tersebut menjadi pilihan sebagai objek penelitian karena Kab. Lebak adalah salah satu daerah tertinggal di Indonesia, walaupun posisinya tidak jauh dari Ibu Kota Negara.  Sebagai daerah yang tidak jauh dari Ibu Kota, Kab. Lebak dan Pandegelang berpeluang menjadi daerah penyangga Ibu Kota dalam memperkokoh rasa nasionalisme. Sementara itu persoalan budaya bermedia dan secara spesifik persoalan televisi jarang diangkat sebagai permasalahan dalam kajian yang sudah ada. Persoalan dalam penelitian ini akan dianalisis menggunakan Teori Ekologi Media dari Marshal McLuhan. Sementara itu metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan teknik penelitian telaah pustaka, observasi, dan wawancara mendalam dengan masyarakat di Kecamatan Gunung Kencana, Kabupaten Lebak dan Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandegelang, Provinsi Banten. Kata Kunci: daerah tertinggal, televisi, nasionalisme. 
Representation of Gender Equality in the “Barbie” Film: Semiotic Analysis of Roland Barthes Dewayani, Ardya; Azwar
JURNAL LENSA MUTIARA KOMUNIKASI Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Lensa Mutiara Komunikasi
Publisher : UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/jlmk.v8i1.4952

Abstract

This research focuses on the representation of gender equality in the live-action film "Barbie" produced by Warner Bros. which was released in 2023 and directed by Greta Gerwig. This film illustrates how the characters Barbie and Ken face differences in the social construction of gender between the utopian world they live in and the real world. Gender equality itself is the assumption that men and women have the same position. Through nurture theory, we can assume that gender is a characteristic inherent in men and women through social construction, not due to biological factors. This research uses qualitative methods by collecting data through documentary, observational, and literature methods. The data was then analyzed using Roland Barthes' semiotics. In this film, we see how female characters have positions of power in government against stereotypes, dare to defend themselves when they are ridiculed as a form of resistance to objectification, women who then dare to express their opinions against marginalization, and male characters who dare to be vulnerable in their actions. express their feelings so that there is no more emotional suppression. These four phenomena are indicators that serve as an assessment of the analysis of gender equality in this research. Thus, through the film "Barbie" it is known that there are four research units that represent stereotypes, objectification, marginalization, and emotional oppression.
The Representasi Rekayasa Sosial dalam Film Unlocked (Analisis Semiotika Roland Barthes) Azwar, Azwar; Auliana, Irvanti
EKSPRESI DAN PERSEPSI : JURNAL ILMU KOMUNIKASI Vol 7 No 1 (2024): January
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33822/jep.v7i1.7186

Abstract

This research is about the representation of social engineering in the film "Unlocked" using Roland Barthes' semiotics. This study aims to understand how social engineering is represented in the film "Unlocked." The research employs a descriptive qualitative method. The researcher collected data by analyzing film scenes that exhibit signs of social engineering. Data analysis was conducted using Roland Barthes' semiotic approach, complemented by Stuart Hall's representation theory. The results were drawn through triangulation techniques. The findings of this research indicate that "Unlocked" represents social engineering in the following forms: the denotative meaning of "Unlocked" represents social engineering as a criminal act carried out without a specific motive. The connotative meaning of "Unlocked" represents social engineering as this criminal act is executed through a series of staged patterns, starting from gathering victim information, developing relationships with the victim, exploiting the victim's information, launching an attack on the victim, and requiring professional assistance to complete the process. Victims of this crime are more vulnerable if they have low digital literacy. The mythic meaning in the film "Unlocked" represents social engineering as something that requires a work ethic such as discipline, consistency, and a refusal to back down in achieving its goals.    
Analisis Resepsi Kelompok Pemilih Pemula Pemilu 2024 terhadap Iklan Politik Audiovisual Partai Amanat Nasional (PAN) Haris, Faisal; Azwar, Azwar
Jurnal Riset Komunikasi (JURKOM) Vol. 7 No. 1 (2024): Februari 2024
Publisher : Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komuniasi (ASPIKOM) Wilayah Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38194/jurkom.v7i1.957

Abstract

This research examines the audiovisual political advertisements of the National Mandate Party (PAN), specifically the jingle versions broadcasted through television and online platforms such as YouTube, in facing the Indonesia electoral contest 2024. The author focuses on the political message content and gimmicks that PAN, as the message producer, presents to the audience as message consumers in these advertisements. The aim of this study is to elucidate how the audience, particularly first-time voters in the 2024 elections, perceive the content of PAN's political advertisements. The author employs a qualitative approach and utilizes Stuart Hall's encoding-decoding model of reception analysis to comprehend how the informants receive and interpret these advertisements. The research results yield three main interpretations of informants regarding the PAN's audiovisual political advertisement; as something unique, as a political advertisement full of gimmicks lacking ideas, and as a pragmatic political display. Additionally, the research found that several informants were distributed among three audience positions; dominant hegemonic, negotiation, and opposition. The differences in these positions are influenced by their backgrounds in knowledge, education, and life experiences.