Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Peran Modal Sosial Disabilitas sebagai Dasar Peer Counseling pada Masyarakat Difabel Desa Inklusi Kabupaten Tegal Sesya Dias Mumpuni; Ike Desi Florina; Sri Adi Nurhayati; Laelia Nurpratiwiningsih; Hijrah Eko Putro
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 8 No. 01 (2023): Desember 2023, G Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/gcouns.v8i01.5493

Abstract

Penelitian ini didasari urgensi penanganan diskriminasi dan stigma disabilitas di Kabupaten Tegal. Anggota Forum Desa Inklusi adalah warga difabel yang suka rela secara aktif pada kegiatan di desa inklusi. Adanya Forum Desa Inklusi agar disabilitas dapat kembali percaya diri, mau untuk bertumbuh dan bergerak untuk kehidupannya. Para relawan ini menjadi modal sosial di desa untuk menggandeng para disabilitas lain di desa. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui apa saja yang dimiliki difabel dalam penguatan modal sosial melalui peer counseling. Responden penelitian ini 40 relawan disabilitas anggota Forum Desa Inklusi berusia 15 – 55 tahun. Penelitian ini kuantitatif experimental design rancangan pre-test post-test control group design. Hasil penelitian ini responden memiliki modal sosial yaitu bergaul dengan teman dan keluarga dengan sangat baik, memulai persahabatan dengan sangat baik, memahami orang lain menggunakan bahasa dengan sangat baik. Kesimpulan penelitian ini tidak ada masalah pada indikator pengukuran pre-test responden sebagai dasar konselor sebaya. Kata kunci: difabel, konseling, komunikasi, konseling sebaya, relawan
Hierarchy Of Effects : Peran Influencer Marketing dalam Memperkuat Brand Awareness dan Purchase pada UMKM Lokal Tegal Ike Desi Florina; Inas Sany Muyassaroh; Fika Febri Eristiani; Dini Septiana Candra
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.4529

Abstract

Penelitian ini membahas peran influencer marketing dalam memperkuat brand awareness dan mendorong repurchase konsumen pada UMKM lokal di Kota Tegal melalui model Hierarchy of Effects (HOE). Permasalahan utama yang diangkat adalah bagaimana strategi influencer berpengaruh pada setiap tahapan HOE—mulai dari awareness, knowledge, liking, preference, conviction, hingga purchase/repurchase. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan proses pengaruh tersebut serta bagaimana strategi digital mampu menciptakan loyalitas konsumen. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara mendalam, observasi media sosial, dan dokumentasi. Informan terdiri dari lima pelaku UMKM, lima influencer lokal, dan lima puluh konsumen aktif. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman dengan triangulasi sumber dan teknik untuk menjaga validitas temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa influencer marketing berpengaruh signifikan pada seluruh tahapan HOE. Konten yang autentik, komunikatif, dan sesuai dengan budaya lokal membangun kesadaran, pemahaman, dan kepercayaan konsumen, yang kemudian mendorong tindakan pembelian serta pembelian ulang. Simpulan dari penelitian ini adalah influencer marketing terbukti efektif tidak hanya untuk menciptakan brand awareness, tetapi juga dalam membangun loyalitas jangka panjang, sehingga menjadi strategi penting bagi UMKM dalam memperkuat daya saing di era pemasaran digital.
"Humor Gelap sebagai Strategi Komunikasi Kritik terhadap Krisis Empati Pejabat dalam Situasi Bencana di Aceh pada Akun Instagram @darketive" Galuh Setyawan Putra Herlambang; Ike Desi Florina; Khafidhu Robi
ARKANA: Jurnal Komunikasi dan Media Vol. 5 No. 01 (2026): Media dan Komunikasi Indonesia
Publisher : Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam Universitas Sains Al-Qur'an Jawa Tengah di Wonosobo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62022/4rtyez35

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki fenomena humor gelap sebagai strategi komunikasi kritis sebagai respons terhadap krisis empati pejabat publik selama situasi bencana di Aceh, sebagaimana digambarkan pada akun Instagram @darketive. Dalam lanskap media baru, humor gelap tidak lagi dipandang sekadar sebagai komedi marjinal, melainkan telah bertransformasi menjadi instrumen wacana politik nonkonvensional yang digunakan oleh netizen untuk menanggapi anomali sosial. Dengan memanfaatkan paradigma kualitatif bersama Analisis Wacana Kritis (CDA), khususnya model yang dikembangkan oleh Norman Fairclough, penelitian ini mengkaji bagaimana elemen visual dan tekstual diintegrasikan untuk membangun narasi satir mengenai ketidakpekaan pihak berwenang di tengah krisis. Temuan menunjukkan bahwa @darketive memanfaatkan humor gelap sebagai mekanisme katarsis digital untuk meredakan ketegangan psikososial yang disebabkan oleh kekecewaan terhadap birokrasi. Dari sudut pandang komunikasi, penggunaan sarkasme dan metafora seperti “jalur langit” terbukti efektif dalam menciptakan rasa kedekatan dan memperkuat solidaritas organik di dunia maya sebagai bentuk kontrol sosial horizontal. Penelitian ini berkontribusi pada pengayaan literatur mengenai etika komunikasi digital dan dinamika partisipasi publik di era disrupsi, khususnya dalam konteks komunikasi krisis regional.
Pengaruh Gaya Komunikasi Storytelling Nadia Omara Terhadap Minat Menonton Kisah Horor Wawak Dian Septiani; Didi Permadi; Ike Desi Florina
Avant Garde Vol 14, No 1 (2026): Avant Garde
Publisher : Fakultas Komunikasi & Desain Kreatif - Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/ag.v14i1.4564

Abstract

Nadia Omara adalah konten kreator yang dikenal dengan teknik storytelling horor yang unik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis pengaruh gaya komunikasi storytelling Nadia Omara terhadap minat menonton audiens pada konten Kisah Horor Wawak di YouTube. Penelitian ini menggunakan Narrative Paradigm Theory dari Walter Fisher (1987) yang menekankan bahwa kekuatan narasi yang koheren dan bermakna mampu membentuk keterlibatan, kepercayaan, serta respons audiens terhadap suatu pesan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif eksplanatif untuk menjelaskan hubungan antarvariabel secara terukur. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner berbasis skala Likert kepada 100 responden. Data penelitian dianalisis menggunakan uji validitas, uji reliabilitas, uji linearitas, analisis regresi linear sederhana, uji ANOVA, dan uji t dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh instrumen penelitian dinyatakan valid dan reliabel serta hubungan antara variabel gaya komunikasi storytelling dan minat menonton bersifat linear. Secara empiris, gaya komunikasi storytelling Nadia Omara terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat menonton audiens. Pengaruh tersebut tercermin melalui peningkatan frekuensi dan intensitas menonton, partisipasi aktif dalam kolom komentar, serta kecenderungan audiens untuk merekomendasikan konten kepada orang lain. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa gaya komunikasi storytelling memiliki peran penting dalam membangun keterlibatan antara konten kreator dan audiens di era media digital. Narasi yang terstruktur, logis, dan mampu menggugah emosi terbukti dapat meningkatkan minat menonton audiens terhadap konten YouTube.
Pengaruh Konten Tari di TikTok terhadap Kesadaran Pelestarian Tari Tradisional pada Generasi Z Maulina Azahra; Sarwo Edy; Ike Desi Florina
Avant Garde Vol 14, No 1 (2026): Avant Garde
Publisher : Fakultas Komunikasi & Desain Kreatif - Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/ag.v14i1.4531

Abstract

Fenomena tari tradisional yang semakin terancam punah, menjadi pendorong utama dalam penelitian ini. Menurunnya minat generasi muda terhadap tari tradisional disebabkan oleh ketertarikan yang lebih besar pada tari modern yang dianggap lebih mengikuti tren saat ini. Namun, seiring dengan kemajuan teknologi digital, khususnya platform media sosial seperti TikTok dapat dipergunakan untuk menyebarkan konten budaya termasuk tari tradisional secara cepat dan luas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana konten tari di media sosial TikTok dapat memengaruhi sikap generasi Z supaya sadar akan pelestarian tari tradisional. Penelitian ini dilandaskan pada Teori Uses and Effects dan menggunakan pendekatan kuantitatif eksplanatif dengan teknik survei. Terdapat 100 responden generasi Z yang tinggal di Kabupaten Tegal diberikan kuesioner untuk diisi guna mengumpulkan data penelitian ini. Aplikasi SPSS versi 27 kemudian dipergunakan untuk menganalisis data yang telah terkumpul. Hasil dari penelitian ini yaitu terdapat pengaruh yang signifikan dan hubungan yang searah antara konten tari di TikTok terhadap kesadaran generasi Z di Kabupaten Tegal tentang pelestarian tari tradisional. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa media sosial khususnya TikTok memiliki potensi sebagai sarana yang efektif dalam mendukung upaya pelestarian budaya salah satunya tari tradisional. Penelitian ini memberikan implikasi bahwa pendidik, konten kreator, seniman, serta lembaga kebudayaan dapat memanfaatkan TikTok sebagai edukasi dan promosi budaya khususnya tari tradisional dengan cara lebih menarik serta sesuai dengan karakteristik generasi Z. Namun, upaya tersebut akan lebih optimal jika didukung oleh faktor eksternal yang relevan, seperti pendidikan seni budaya, pengaruh dari lingkungan sosial, serta pengalaman budaya melalui kegiatan ekstrakurikuler maupun komunitas sanggar seni.
Persepsi Generasi Z Terhadap Beauty Privilege Media Sosial Tiktok Dalam Pembelian Produk Kecantikan Izatul Amalia; Sarwo Edy; Ike Desi Florina
Finance : Journal of Accounting and Finance Vol. 4 No. 1 (2026): Volume 4 Nomor 1, Mei 2026
Publisher : universitas Islam Zainul Hasan Genggong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55210/ybv7r428

Abstract

Media sosial TikTok telah menjadi salah satu sumber utama informasi produk kecantikan bagi Generasi Z sekaligus ruang yang mereproduksi standar kecantikan melalui konten visual dan interaksi digital. Kondisi tersebut memunculkan fenomena beauty privilege, yaitu kecenderungan individu dengan penampilan yang sesuai standar kecantikan memperoleh perhatian, kepercayaan, dan perlakuan yang lebih positif. Penelitian ini bertujuan menganalisis persepsi Generasi Z terhadap beauty privilege di media sosial TikTok serta hubungannya dengan keputusan pembelian produk kecantikan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap delapan informan Generasi Z berusia 18-25 tahun yang aktif menggunakan TikTok dan memiliki pengalaman membeli produk kecantikan dalam enam bulan terakhir. Data dianalisis menggunakan analisis tematik melalui tahapan pengodean, pengelompokan tema, interpretasi, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Generasi Z memaknai beauty privilege sebagai keuntungan sosial yang diperoleh individu karena memiliki penampilan menarik. Persepsi tersebut terbentuk melalui pengalaman menggunakan TikTok, interaksi sosial, serta pengamatan terhadap respons audiens terhadap kreator konten. Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa beauty privilege memengaruhi keputusan pembelian melalui meningkatnya kepercayaan terhadap reviewer yang berpenampilan menarik, meskipun sebagian informan tetap melakukan evaluasi berdasarkan kecocokan produk, pengalaman pribadi, dan ulasan dari berbagai sumber. Penelitian ini menyimpulkan bahwa beauty privilege berperan dalam membentuk persepsi terhadap kredibilitas kreator dan memengaruhi keputusan pembelian produk kecantikan, namun Generasi Z tetap menunjukkan kemampuan kritis dalam mengevaluasi informasi sebelum melakukan pembelian.
Representasi Heroisme Sosok Ayah dalam Film Maharaja: Analisis Semiotika Roland Barthes atas Makna Perlindungan Rendy Setya Nugroho; Didi Permadi; Ike Desi Florina
PERSPEKTIF Vol. 15 No. 3 (2026): PERSPEKTIF Juli
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/perspektif.v15i3.17895

Abstract

This study aims to analyze the representation of fatherly heroism in the film Maharaja using Roland Barthes’ semiotic approach. This research applies a descriptive qualitative method, with selected scenes depicting Maharaja’s relationship with his child as the object of analysis. Primary data were obtained through observation and documentation of scenes, dialogues, expressions, gestures, settings, and visual symbols in the film, while secondary data were collected from literature related to representation, heroism, fatherhood, film, and semiotics. The analysis was conducted through Barthes’ three levels of meaning: denotation, connotation, and myth. The findings show that fatherly heroism in Maharaja is represented through affection, protection, emotional presence, responsibility, defense of the child’s dignity, and the pursuit of justice. At the mythical level, the father is constructed as a family hero with a moral obligation to protect his child. However, this representation remains ambiguous because it intersects with violence, revenge, and protective masculinity.
Framing Pemberitaan Kebijakan dan Pernyataan Menkeu Purbaya Terhadap IHSG di Media Kontan.co.id Dan CNBC Indonesia Laelatul Najma Maharani Azzahra; Diryo Suparto; Ike Desi Florina
PERSPEKTIF Vol. 15 No. 3 (2026): PERSPEKTIF Juli
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/perspektif.v15i3.17961

Abstract

Media coverage of economic policy not only disseminates information but also constructs social reality that shapes public understanding of government policies. Differences in the editorial characteristics of economic news media may produce distinct framing of the same issue. This study aims to analyze and compare the framing of news coverage on the policies and statements of Minister of Finance Purbaya Yudhi Sadewa concerning the capital market in Kontan.co.id and CNBC Indonesia. The study employed a descriptive qualitative approach using Zhongdang Pan and Gerald M. Kosicki’s framing analysis model, which examines four analytical structures: syntactic, script, thematic, and rhetorical. The data consisted of four news articles purposively selected from 24 relevant articles published between September 8 and November 8, 2025. The findings indicate that Kontan.co.id framed the issue through an institutional-procedural perspective by emphasizing policy mechanisms, inter-institutional relations, and capital market governance. In contrast, CNBC Indonesia highlighted government action, market responses, and the protection of retail investors through more direct and accessible language. The study concludes that differences in the editorial characteristics of the two media influence the construction of economic reality, demonstrating that economic news media function not only as information providers but also as actors shaping public interpretations of government policy signals in the capital market.
Komunikasi Humor dalam Film Si Paling Aktor: Analisis Semiotika Roland Barthes Andre Aditriyanto; Didi Permadi; Ike Desi Florina
PERSPEKTIF Vol. 15 No. 3 (2026): PERSPEKTIF Juli
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/perspektif.v15i3.18008

Abstract

Film functions not only as a medium of entertainment but also as a communication medium that represents various social messages through humor. Although studies on humor in Indonesian films have continued to develop, research specifically examining humor communication in Si Paling Aktor using Roland Barthes' semiotic approach remains limited. This study aims to analyze humor communication in Si Paling Aktor by interpreting the levels of denotation, connotation, and myth. The research employed a descriptive qualitative approach using Roland Barthes' semiotic analysis. Data were collected through observation of humorous scenes and analyzed based on denotative, connotative, and mythical meanings, supported by Arthur Asa Berger's humor theory. The findings reveal that humor communication in the film is constructed through six forms of humor: irony, satire, verbal humor, hyperbole, situational irony, and slapstick. At the denotative level, humor is expressed through dialogue, actions, facial expressions, and situations that generate comedic effects. At the connotative level, humor represents ambition, professionalism, the pursuit of social recognition, and everyday social dynamics, while at the mythical level it reproduces and critiques social constructions concerning social status, meritocracy, masculinity, validation culture, and standards of self-perfection. The findings demonstrate that humor in Si Paling Aktor functions not only as entertainment but also as an effective communication strategy for conveying social criticism, representing life values, and constructing cultural meanings.
Strategi Komunikasi Digital Berbasis Bahasa Ngapak dalam Membangun Keterlibatan Audiens pada Konten TikTok Yulia Faramudita; Didi Permadi; Ike Desi Florina
PERSPEKTIF Vol. 15 No. 3 (2026): PERSPEKTIF Juli
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/perspektif.v15i3.18032

Abstract

The rapid development of digital media has encouraged content creators to utilize regional languages as communication strategies to strengthen audience engagement while reinforcing cultural identity. Although previous studies have examined the use of local languages on social media, research specifically explaining how the Ngapak language functions as a digital communication strategy for building audience engagement through the perspective of symbolic interactionism remains limited. This study aims to analyze the Ngapak language-based digital communication strategy employed by the TikTok accounts @RofiqKompak and @Mamichula in fostering audience engagement. A qualitative approach was employed using Herbert Blumer's Symbolic Interactionism framework, emphasizing the concepts of meaning, language, and thought. Data were collected through content observation, documentation, and analysis of audience interactions in the comment sections. The findings reveal that the Ngapak language functions not only as a communication tool but also as a symbol of cultural identity that creates meaning, emotional closeness, and social relationships between creators and audiences. The @RofiqKompak account utilizes Ngapak as a personal branding strategy by combining local identity with experiences of working in South Korea, whereas @Mamichula employs Ngapak to reinforce communication authenticity despite visual characteristics that initially lead audiences to perceive the creator as a foreigner. The findings further demonstrate that the use of the Ngapak language encourages audience participation through comments, likes, and shares while strengthening creator identity and fostering digital community formation on TikTok. This study contributes to the development of digital communication literature by highlighting the strategic role of local cultural identity within symbolic interactionism and offers practical implications for content creators in designing authentic, contextual, and engagement-oriented digital communication strategies.