Rafli, Achmad
Department Of Child Health, Faculty Of Medicine, Universitas Indonesia, Cipto Mangunkusumo National Hospital, Jakarta, Indonesia.

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

The Auditory brainstem response latencies in children with global developmental delay at Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital Muhammad Ade Rahman; Tri Juda Airlangga; Fikry Hamdan Yasin; Rini Sekartini; Achmad Rafli; Ferdi Afian
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol. 56 No. 1 (2026): VOLUME 56, NO. 1 JANUARY - JUNE 2026
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32637/orli.v56i1.790

Abstract

Background: Global developmental delay (GDD) affects multiple developmental domains and remains a major concern in early childhood. The auditory system plays a key role in language development, and the Auditory Brainstem Response (ABR) test provides an objective measure of auditory pathway maturation. However, data on ABR wave latencies among children with GDD who have normal predicted hearing thresholds are limited. Purpose: To describe absolute and interwave latencies of ABR waves I, III, and V, and to compare latencies of ABR waves across demographic and perinatal clinical characteristics in children with GDD. Method: A cross-sectional analytical study was conducted using medical record data from 70 children aged 6 months to 5 years with GDD at Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital between January 2021 and May 2025. All subjects had normal predicted hearing thresholds (≤30dB) in ABR result and passed Distortion Product Otoacoustic Emission (DPOAE) screening. Comparations between risk factors (age, gender, gestational age, birth weight, NICU admission, asphyxia, and hyperbilirubinemia) and ABR latencies were analyzed using t-test or Mann–Whitney test. Result: Most subjects were male (71.4%) with a median age of 25 months. The language domain was most frequently affected (92.9%). Male subjects had a significantly longer absolute latency of wave V in the left ear compared to females (6.10±0.31 ms; p < 0.05). Conclusion: Male gender with normal predicted hearing threshold had significant difference in the left-ear wave V latency compared to female. ABR is a valuable tool for early detection of auditory pathway maturation delay in at-risk children.
Perbandingan Efektivitas Melatonin dan Kloral Hidrat untuk Sedasi pada Anak yang Menjalani Pemeriksaan Elektroensefalografi Achmad Rafli; Silvana Saputri; Selvi Puspa Sari; Ummu Aiman
Sari Pediatri Vol 28, No 2 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp28.2.2026.145-54

Abstract

Latar belakang. Pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) pada anak seringkali memerlukan kondisi tidur untuk meningkatkan kualitas rekaman dan hasil diagnostik. Namun, ketidakkooperatifan pasien anak menjadi kendala utama sehingga diperlukan sedasi. Kloral hidrat merupakan agen yang sering digunakan, tetapi memiliki potensi efek samping dan waktu pemulihan yang lebih lama. Melatonin muncul sebagai alternatif dengan profil keamanan yang lebih baik. Tujuan. Menilai efektivitas dan keamanan melatonin dibandingkan kloral hidrat sebagai agen sedasi pada pemeriksaan EEG pada anak. Metode. Studi kasus berbasis bukti ini menggunakan penelusuran literatur melalui PubMed, Cochrane, dan Scopus dengan kata kunci “melatonin”, “chloral hydrate”, “electroencephalography”, dan “children” pada publikasi 5 tahun terakhir. Artikel yang memenuhi kriteria inklusi berupa uji klinis acak dan tinjauan sistematis dianalisis secara kritis berdasarkan prinsip evidence-based medicine. Hasil. Empat studi yang relevan (dua uji klinis acak dan dua tinjauan sistematis) menunjukkan bahwa melatonin memiliki efektivitas yang sebanding dengan kloral hidrat dalam keberhasilan induksi tidur dan penyelesaian pemeriksaan EEG (RR 0,97; 95% CI 0,89–1,05). Tidak terdapat perbedaan bermakna pada onset dan durasi sedasi. Namun, melatonin menunjukkan profil keamanan yang lebih baik dengan efek samping minimal serta waktu pemulihan yang lebih singkat. Sebaliknya, kloral hidrat memiliki keunggulan dalam mencapai fase tidur yang lebih dalam dan mengurangi artefak EEG, tetapi dengan risiko efek samping yang lebih tinggi.Kesimpulan. Melatonin merupakan alternatif yang efektif dan lebih aman dibandingkan kloral hidrat sebagai agen sedasi pada pemeriksaan EEG anak. Melatonin dapat direkomendasikan sebagai pilihan lini pertama, terutama pada pasien dengan risiko respirasi atau ketika pemulihan cepat menjadi prioritas klinis.