Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search
Journal : JURNAL AGRILAND

penyadapan yang sesuai pada tanaman karet klon slow starter dilihat dari fisiologi dan produksi leteks Yogi Lubis; Indra Gunawan; Yayuk Purwaningrum
AGRILAND Jurnal Ilmu Pertanian Vol 8, No 2 (2020): Agriland: Jurnal Ilmu Pertanian
Publisher : Universitas Islam sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/agr.v8i2.3084

Abstract

Karet merupakan tanaman perkebunan dengan nilai ekonomis yang tinggi, umurnya dapat mencapai 20 sampai 30 tahun. Klon-klon quick starter adalah klon dengan metabolisme tinggi. Sedangkan klon slow starter adalah klon dengan metabolisme rendah sampai sedang. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh panjang dan arah sadap atas terhadap fisiologi dan produksi tanaman Karet (Hevea brasiliensis) klon RRIM 921. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial dengan tiga ulangan dan Frekuensi arah sadap atas dan panjang galur sadap sebagai perlakuan. Frekuensi sadap sebagai perlakuan. Frekuensi pemberian penyadapan (S) terdiri dari 3 taraf, yaitu: S1 = S/2 U d3 yaitu sadapan setengah spiral kearah atas yang dilakukan 3 harisatu kali. S2 = S/4 U d3 yaitusadapan seperempat spiral kearah atas yang dilakukan 3 hari satu kali. S3 = S/8 U d3 yaitu sadapan seperdelapan spiral kearah atas yang dilakukan 3 hari satu kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan panjang dan arah sadap atas pada perlakuan S1 berpengaruh nyata terhadap semua parameter pengamatan.
Beberapa teknologi remediasi logam berat dalam air minum dan sistem pengolahan air limbah: Sebuah Telaah Pustaka Yayuk Purwaningrum; Dedi Kusbiantoro
AGRILAND Jurnal Ilmu Pertanian Vol 9, No 3 (2021): Agriland: Jurnal Ilmu Pertanian
Publisher : Universitas Islam sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/agr.v9i3.5035

Abstract

Logam berat umumnya paling sering dikaitkan dengan keracunan manusia adalah timbal, merkuri, arsen dan kadmium. Logam berat beracun menyebabkan kerusakan DNA dan efek karsinogenik pada hewan dan manusia. Logam berat lain, termasuk tembaga, seng dan kromium sebenarnya dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah kecil, tetapi juga dapat menjadi racun dalam dosis yang lebih besar. Oleh sebab itu Pemerintah memberlakukan peraturan perundang-undangan air serta beberapa pedoman seluruh dunia ditambah dengan kebutuhan   untuk kelestarian lingkungan telah mengharuskan perlunya peraturan ketat beberapa pasokan air minum dan debit air limbah. Untuk mencapai distribusi air minum tercemar dan debit air limbah, beberapa teknologi dan proses untuk remediasi logam berat saat ini telah digunakan. Ulasan ini bertujuan untuk mengetahui teknologi yang tersedia utama untuk logam berat remediasi dalam air, dengan penekanan pada proses dan aplikasi. Saat ini, tidak ada salah satu teknologi untuk remediasi logam berat (kimia pemulihan, fitoremediasi atau mikroba remediasi) adalah tanpa bentuk keuntungan dan kerugian. Oleh karena itu ada kebutuhan yang diusulkan untuk pemanfaatan pendekatan multiple / terpadu yang aman dan ekonomis untuk remediasi logam berat. Aplikasi ini mungkin menawarkan manfaat sangat besar untuk kesehatan masyarakat, manfaat lingkungan dan biaya
POTENSI TERJADINYA EROSI TANAH SETELAH KEBAKARAN HUTAN DI YUNANI DAN CARA MEREHABILITASINYA Yayuk Purwaningrum
AGRILAND Jurnal Ilmu Pertanian Vol 6, No 2 (2017): Agriland Vol. 6 No. 2 Jan-Jun 2017
Publisher : Universitas Islam sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (694.051 KB) | DOI: 10.30743/agriland.v6i2.1227

Abstract

Pada tanggal 21 Agustus 2006 terjadi kebakaran besar hutan pinus, yaitu seperlima  dari  Semanjung Di Utara Yunani habis  terbakar.  Untuk menilai seberapa besar potensi erosi tanah akibat kebakaran hutan serta cara rehabilitasi yang sesuai untuk penangananya digunakan penilaian kuantitatif. Setelah terjadi kebakaran untuk melindungi tanah terhadap erosi menerapkan metode kontur -log pada lereng bukit yaitu bekas pohon-pohon yang terbakar serta cabangnya ditumpuk dilereng bukit untuk menahan erosi. Menurut informasi Geografis potensi erosi tanah sebelum kebakaran ditemukan 2,8 t/h/tahun setelah kebakaran hutan 29,5 ton/h/tahun setelah direhabilitasi erosi tanah 21,3 t/h/tahun. Model USLE berhasil digunakan dalam perencanaan rehabilitasi tetapi tidak dapat  digunakan dalam pengukuran secara  kuantitatif kerugian erosi tanah setelah terjadi kebakaran.
Pemanfataan kandungan metabolit sekunder yanag dihasilkan tanaman pada cekaman biotik Yusfachri Perangin-Angin; Yayuk Purwaningrum; Yenni Asbur; Murni Sari Rahayu; Nurhayati Nurhayati
AGRILAND Jurnal Ilmu Pertanian Vol 7, No 1 (2019): Agriland Volume 7 No. 1 Januari-Juni 2019
Publisher : Universitas Islam sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/agr.v7i1.3471

Abstract

Tumbuhan berevolusi dengan berbagai cara untuk bertahan dari berbagai tekanan, salah satunya dengan menghasilkan metabolit sekunder yang bersifat toksik. Senyawa metabolit sekunder pada tumbuhan memiliki beberapa fungsi antara lain sebagai atraktan (menarik serangga penyerbuk), melindungi dari stres lingkungan, perlindungan dari hama dan penyakit (phytoalexin), perlindungan dari sinar ultraviolet, sebagai pengatur tumbuh, bersaing dengan tanaman lain (alelopati), dan merupakan senyawa yang mampu menginduksi pembentukan senyawa tertentu sebagai respon pertahanan tanaman. Diantarnya adalah metabolit sekunder elicitor yang dihasilkan oleh beberapa jenis tanaman dapat memicu respons fisiologis, morfologis, dan akumulasi phytoalexin.
karakteristik fisiologi dan produksi tanaman karet klon GT1 dengan perlakuan stimulan gas M Rizki Satria Utomo; Yayuk Purwaningrum; Indra Gunawan
AGRILAND Jurnal Ilmu Pertanian Vol 8, No 2 (2020): Agriland: Jurnal Ilmu Pertanian
Publisher : Universitas Islam sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/agr.v8i2.3087

Abstract

Karakter fisiologi lateks merupakan gambaran dari kemampuan tanaman karet dalam mensintesis asimilat menjadi bahan pembentuk lateks, diantara karaker fisiologi lateks yang penting adalah, sukrosa, fosfat anorganik, dan thiol. Penelitian ini di lakasanakan di Provinsi Sumatera Utara, Kabupaten Langkat, Kecamatan Besitang, Desa Halaban, Dusun sidorejo. Dengan ketinggian tempat 500-700 Mdpl dengan topografi berbukit. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan bulan Juni 2019. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Non Faktorial dengan 3 ulangan yang terdiri dari 2 taraf, yaitu E1 (ET/15d): stimulan cair (etefon) diberikan 15 hari sekali dan E2 (ETG/27d): stimulan gas diberikan 27 hari sekali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi lateks yang lebih tinggi di hasilkan oleh perlakuan E2 (ETG/27d): stimulan gas diberikan 27 hari sekali. Begitu pula pada karakter fisiologi lateks, penggunaan perlakuan E2 (ETG/27d): stimulan gas diberikan 27 hari sekali juga lebih baik.
Pengaruh Sistem Eksploitasi Terhadap Produksi Karet Pada Klon PB 260 Adri Airil Nasution; Yayuk Purwaningrum; Yenni Asbur; Murni Sari Rahayu; Nurhayati Nurhayati
AGRILAND Jurnal Ilmu Pertanian Vol 7, No 1 (2019): Agriland Volume 7 No. 1 Januari-Juni 2019
Publisher : Universitas Islam sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/agr.v7i1.3473

Abstract

Untuk produksi tanaman karet di Provinsi Sumatera Utara tahun 2012 yaitu 501.484 ton dengan luas lahan 470.202 ha, dan tahun 2013 meningkat menjadi 513.783 ton dengan luas lahan 475.724 ha dari produksi perkebunan rakyat 250.800 ton. dengan luas tanah 300.947 ha, perkebunan negara 102.710 ton, luas lahan 71.945 ha dan hanya terjadi di perkebunan karet rakyat, tetapi juga di perkebunan besar milik swasta dan pemerintah. Pengaplikasian stimulan membutuhkan pengawasan yang lebih intensif, karena risiko pengaplikasian yang tidak tepat adalah mengeringnya jalur sadap. Untuk alasan ini, disarankan untuk selalu mengamati apa yang disebut Brown Bast. Sistem eksploitasi dapat memberikan tekanan fisiologis pada tanaman karet, sehingga perlu dilakukan pengamatan parameter fisiologis melalui diagnosis lateks yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh sistem eksploitasi terhadap kondisi kesehatan tanaman. Hasil pada Tabel 1 menunjukkan bahwa sistem eksploitasi berpengaruh signifikan terhadap produksi (g p-1s-1), produksi tertinggi (g p-1s-1) diperoleh pada perlakuan S / 2 U d3 ETG / 27d dan produksi (g p-1s). -1) terendah pada perlakuan S / 4 d3 ET / 30 hari.
Aplikasi pupuk organik cair kulit pisang dan pupuk kandang ayam pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman mentimun (Cucumis Sativus L.) Mahyuddin Mahyuddin; Yayuk Purwaningrum
AGRILAND Jurnal Ilmu Pertanian Vol 7, No 1 (2019): Agriland Volume 7 No. 1 Januari-Juni 2019
Publisher : Universitas Islam sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.057 KB) | DOI: 10.30743/agriland.v7i1.1236

Abstract

Kandungan enzim xylase kulit pisang mengandung unsur kimia seperti magnesium, sodium, fosfor, sulfur sehingga kulit pisang memiliki potensi yang baik untuk dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh pemberian pupuk organik cair kulit pisang dan pupuk kandang ayam, serta mengetahui dosis yang paling optimal terahadap pertumbuhan dan produksi tanaman mentimun. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK)  dengan dua faktor yaitu faktor dosis pupuk organik cair dan pupuk kandang. Dosis pupuk cair organik kulit pisang yang digunakan yaitu P0 (0 mL/tanaman), P1 (20 mLtanaman), P2 (40 mL/tanaman), dan P3 (60 mL/tanaman). Dosis pupuk kandang ayam yang digunakan yaitu A0 (0 kg plot), A1 (2 kg/plot), A2 (4 kg/plot) dan A3 (6 kg/plot). Hasil penelitian menunjukan pupuk organik cair kulit pisang berpengaruh terhadap jumlah cabang produktif, pemberian pupuk kandang ayam berpengaruh terhadap jumlah cabang produktif tetapi tidak berpengatuh terhadap berat buah per sampel dan berat buah per plot. Dosis yang paling optimal untuk pupuk cair organik kulit pisang yaitu P2 (40 mL/tanaman) dan dosis yang paling optimal untuk pupuk kandang ayam yaitu A3 (6 kg/plot).
Aplikasi Bokashi Jerami dan Pupuk SP36 Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Kacang Hijau (Vigna radiata L) pada Tanah Andisol Mindalisma Mindalisma; Chairani Siregar; Yenni Asbur; Yayuk Purwaningrum
AGRILAND Jurnal Ilmu Pertanian Vol 10, No 3 (2022): Agriland: Jurnal Ilmu Pertanian
Publisher : Universitas Islam sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/agr.v10i3.6327

Abstract

Kacang hijau merupakan salah satu komoditas pertanian yang memiliki prospek sangat baik dikembangkan di Indonesia. Namun produktivitas yang masih rendah dan lahan budidaya yang terbatas. menyebabkan perlu dilakukan tekhnik budidaya yang tepat diantaranya dengan pemberian pupuk bokashi dan SP36. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui respon pertumbuhan dan produksi kacang hijau dengan pemberian bokashi jerami padi dan pupuk SP36 pada tanah Andisol Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian UISU, Jl. Karya Wisata, Gedung Johor, Medan, Sumatera Utara dengan ketinggian Tempat ±25 m dpl,  dengan topografi datar dari Desember 2021 sampai Maret 2022. Penelitian menggunakan model Rancangan Acak Kelompok Faktorial yang diulang sebanyak tiga kali dengan dosis bokashi jerami padi dan pupuk SP36 sebagai faktor perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian bokashi dan pupuk SP36 mampu meningkatkan pertumbuhan dan produksi kacang hijau terbaik dibandingkan perlakuan lainnya. Interaksi perlakuan terbaik yang menghasilkan pertumbuhan dan produksi kacang hijau tertinggi adalah Interaksi perlakuan J3P3, yaitu pemberian 75 g bokashi/polybag dan 1.5 g SP36/polybag.
PENGARUH PERUBAHAN IKLIM TERHADAP PRODUKTIVITAS TANAMAN PADI GOGO (Oryza sativa L.) Purwaningrum, Yayuk; Asbur, Yenni; Nasution, Surya Atmaja; Nuh, Muhammad
AGRILAND Jurnal Ilmu Pertanian Vol 13, No 1 (2025): Agriland: Jurnal Ilmu Pertanian
Publisher : Universitas Islam sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/agr.v13i1.11659

Abstract

Perubahan iklim global, khususnya kenaikan suhu dan cuaca ekstrem, mengancam produktivitas padi gogo (Oryza sativa L.) di lahan kering, terutama melalui gangguan fisiologis pada fase reproduksi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh peningkatan suhu, pemberian kompos daun karet, dan kerapatan tanam terhadap produktivitas padi gogo melalui systematic literature review. Data dikumpulkan dari jurnal ilmiah, laporan penelitian, dan publikasi terkait, kemudian disintesis untuk memperoleh temuan komprehensif. Hasil analisis menunjukkan bahwa suhu >35°C selama fase berbunga mengurangi pembentukan malai dan pengisian gabah. Di sisi lain, kompos daun karet meningkatkan ketersediaan hara, retensi air tanah, dan aktivitas mikroba, sehingga memperkuat ketahanan tanaman terhadap stres suhu. Kerapatan tanam optimal (20–30 tanaman/m²) dapat memaksimalkan penyerapan cahaya dan efisiensi penggunaan sumber daya tanpa kompetisi berlebihan. Interaksi ketiga faktor ini menentukan respons fisiologis dan agronomis tanaman. Simpulan studi mengindikasikan bahwa strategi adaptasi terintegrasi meliputi ameliorasi tanah berbahan organik, penyesuaian kerapatan tanam, dan penggunaan varietas toleran panas diperlukan untuk memitigasi dampak perubahan iklim sekaligus mempertahankan produktivitas padi gogo. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengevaluasi sinergi antar-faktor pada kondisi lapangan yang spesifik.
RESPON PERTUMBUHAN TANAMAN JAGUNG TERHADAP CEKAMAN KEKERINGAN Asbur, Yenni; Purwaningrum, Yayuk; Sitorus, Syafriani; Nuh, Muhammad
AGRILAND Jurnal Ilmu Pertanian Vol 13, No 1 (2025): Agriland: Jurnal Ilmu Pertanian
Publisher : Universitas Islam sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/agr.v13i1.11658

Abstract

Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan yang penting di dunia, terutama di negara-negara berkembang. Tanaman jagung memiliki nilai ekonomi tinggi baik untuk konsumsi manusia, pakan ternak, maupun bahan baku industri. Namun, tanaman jagung sangat rentan terhadap cekaman lingkungan, salah satunya adalah cekaman kekeringan. Kekeringan memengaruhi berbagai proses fisiologis utama tanaman jagung, termasuk fotosintesis, transpirasi, dan transportasi air dan nutrisi. Salah satu efek langsungnya adalah penutupan stomata untuk mengurangi kehilangan air, yang juga mengurangi kemampuan tanaman menyerap karbon dioksida (CO₂), sehingga menurunkan efisiensi fotosintesis. Akibatnya, proses metabolisme terganggu, dan produksi energi untuk pertumbuhan tanaman menurun drastis. Pada tahap perkecambahan, cekaman kekeringan dapat menghambat proses perkecambahan benih jagung. Benih yang kekurangan air akan sulit memulai proses perkecambahan, yang berpotensi mengurangi jumlah bibit yang tumbuh. Selain itu, kekeringan pada fase awal pertumbuhan dapat menyebabkan akar dan daun menjadi lebih pendek. Adaptasi tanaman jagung terhadap kekeringan meliputi adaptasi morfologi, fisiologi, genetik, dan perilaku tanaman meliputi menggulung daun untuk mengurangi penguapan, memperdalam dan memperbanyak akar untuk mencari air, serta perubahan fisiologis dan biokimiawi dalam sel tanaman