Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Potential of Waste as Raw Silk Worm Biodegradable Surfactant Ery Fatarina P; Mega Kasmiyatun; MF. Sri Mulyaningsih; T. Da Silva
Jurnal ILMU DASAR Vol 17 No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.91 KB) | DOI: 10.19184/jid.v17i1.2671

Abstract

Silkworm pupa is byproducts of silkworm farms are not fully utilized. This study aims to assess the potential silkworm waste as a raw material surfactant "biodegradable". Silk pupa oil has 43.70% triglyceride. The characterisation by the spectra FTIR showed the degradation results in wavelength 1050-1300 cm-1 and 1690-1760 cm-1 indicated the consecutive C‒O and C=O group of alcohol/ether/carboxylic acids/esters, and the wave number 2500-2700 cm-1 indicated the presence of O‒H groups of the carboxylic acid with hydrogen bonds. GC-MS analysis showed the components of palmitic acid β-monogliseride, α-monopalmitin, palmitic chloride acid, oleic acid, linoleic acid chloride. FTIR spectra degradation products Mono-diglyceride provide distinctive peaks that appear at wavelength 1041.56 cm-1 and 3659.61 cm-1 that showed group C-OH and OH, respectively. The performance test results of surfactant to the benzene-water system showed no effect of surfactant that is as an emulsifier. Silk pupa oil contains components that can be converted into a biodegradable surfactant. Keywords: silkworm pupa, surfactant, glycerolysis, monoglyceride 
Pengaruh Penambahan Carboxymethyl Cellulose (CMC) dan Gelatin sebagai Bahan Pengikat pada Pembuatan Tablet Kulit Manggis (Garcinia Mangostana L) Ahmad Shobib; MF. Sri Mulyaningsih; Ery Fatarina
Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia "Kejuangan" 2017: PROSIDING SNTKK
Publisher : Seminar Nasional Teknik Kimia Kejuangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mangosteenis one of thefavorite fruits are favored by the people of Indonesia.Mangosteen is a plant that has a high economic value because in addition to consume fruit, mangosteen peel can also beused in traditional medicine, namely to treat upset stomach, diarrhea, dysentery, and wound infections.The main content of the compounds contained in the skin ofthe mangosteen is axanthone has anti microbial properties, antiinflammatory, antioxidant, and can inhibit the growth of colon cancercells. Mangosteen rind discarded, it can be developed as drug candidates. Tablets in solid dosage forms containing drug with or with out filler.Binder affects the quality ofthe physical tablet. This study usedthe CMC(Carboxymethyl celulose) and gelatin as a binderin the manufacture of tablets mangosteen skin.Research is descriptive research. The object under study is mangosteen skin tablet. This study covers the water contentand physical characteristics of skin mangosteen tablets. The result showed mangosteen skin moisture content of 67.11% and 32.89% mangosteen skin powder. And the results of the study of physical characteristics of tablets obtained the optimum results from the binder used is a tablet with the addition of CMC mangosteen peel 15 grams. Achieved average weight uniformity(CV) was4.18%. Tablet hardness was 5.93kg. Fragility tablet is 0.46%. Tablet disintegration time was 8.89minutes.
PENGAMBILAN PEKTIN DARI KULIT BAGIAN DALAM (ALBEDO) SEMANGKA DENGAN PROSES EKSTRAKSI Nur Hidayah; Mega Kasmiyatun; Ery Fatarina Purwaningtyas
CHEMTAG Journal of Chemical Engineering Vol 1, No 2 (2020): CHEMTAG Journal of Chemical Engineering
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.758 KB) | DOI: 10.56444/cjce.v1i2.1771

Abstract

Pada penelitian ini dilakukan ekstraksi pektin dengan pelarut HCl yang bertujuan untuk mengetahui variabel yang paling berpengaruh dan kondisi optimum pengambilan pektin dari albedo semangka dengan proses ekstraksi. Pektin yang dihasilkan diharapkan sesuai dengan standar mutu IPPA (International Pectin Producers Association). Percobaan dilakukan dengan mengeringkan albedo semangka dan diekstraksi dengan pelarut HCl. Larutan hasil ekstraksi disaring untuk memisahkan ampas dengan filtrat. Filtrat kemudian ditambah aceton. Setelah tercampur merata, filtrat didiamkan hingga terbentuk endapan, kemudian disaring dan dikeringkan dalam oven. Pektin kering ditimbang beratnya dan dianalisis kadar metoksil dan galakturonat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel yang paling berpengaruh adalah variabel waktu dengan kondisi optimum pada waktu 80 menit, suhu 90oC dan pelarut HCl 0,05 N menghasilkan rendemen pektin 46,72%. Pektin yang dihasilkan memiliki kadar metoksil 4,65% dan kadar galakturonat 40,7% sehingga pektin sesuai dengan standar mutu IPPA
PENGARUH PROSES AERASI TERHADAP PENURUNAN KADAR COD PADA LIMBAH CAIR KARET Wenny Julita Dyah Setyowati; Retno Ambarwati Sigit Lestari; Ery Fatarina Purwaningtyas
CHEMTAG Journal of Chemical Engineering Vol 3, No 1 (2022): CHEMTAG Journal of Chemical Engineering
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.531 KB) | DOI: 10.56444/cjce.v3i1.3031

Abstract

Limbah cair industri karet yang tidak diolah secara optimal dapat menjadi salah satu penyebab dari kerusakan lingkungan. Mahalnya biaya yang harus dikeluarkan untuk pembuatan maupun perawatan alat pengolahan limbah karet serta keberadaan lahan yang besar kadang membuat para pengelola pabrik karet tidak mengolah limbah yang ada, sehingga air yang dibuang ke lingkungan melebihi baku mutu limbah cair industri karet menurut Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 5 tahun 2012. Oleh karena itu, diperlukan suatu metode pengolahan limbah yang relatif murah dan cukup efisien, yaitu dengan menggunakan metode aerasi. Pengolahan yang dilakukan adalah untuk menurunkan kandungan COD (Chemical Oxygen Demand) yang ada pada limbah cair karet. Pada penelitian ini menggunakan metode penelitian experimental design model factorial design two level dengan batas bawah dan batas atas. Parameter yang dianalisis adalah COD dan pH dengan menggunakan variabel berubah yaitu waktu pengoperasian, tinggi kolom dan berat soda ash. Berdasarkan hasil penelitian variabel yang paling berpengaruh adalah berat soda ash dengan konsentrasi COD sebelum pengolahan sebesar 2600 mg/l, sedangkan setelah diolah konsentrasinya turun menjadi 200 mg/l pada percobaan ke-8. Hasil ini menunjukkan bahwa metode aerasi mampu menyisihkan konsentrasi COD limbah cair industri karet. Kata Kunci : Limbah Cair Karet, COD, pH, Aerasi
Physicochemical Characteristics of White Tea Product of PT. Perkebunan Nusantara IX (Kaligua Gardens) Pandansari Village, Paguyangan District, Brebes Regency Ery Fatarina Purwaningtyas; Ahmad Shobib
Advance Sustainable Science, Engineering and Technology (ASSET) Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/asset.v4i1.11854

Abstract

White tea is a type of tea that still sounds foreign, the high price makes white tea sometimes used as a symbol of one's social status. Due to the high price, not many people consume it, so it is less popular. PT. Perkebunan Nusantara IX  (PTPN-IX) which is located at the west foot of Mount Slamet, precisely in Pandansari Paguyangan Village, Brebes Regency, Central Java, with an altitude of 1,500-2,050 meters above sea level and a temperature between 8-280 Celsius. One type of tea product PTPN-IX that has not been studied physically, chemically and its characteristics is white tea. This study aims to examine the characteristics of white tea produced by PTPN-IX in Brebes. This research was carried out at the request of the PTPN-IX, the methodology used was to test some of the core components contained in white tea, some tests were carried out 3 times and the average value was taken. The components tested included: ash content, crude fiber, Pb/Cu/Zn/Hg content, total plate count, coliform, water content, carbohydrates, protein, pectin, tannins and caffeine. The results showed that white tea produced by PTPN-IX were: ash content of 5.70%; Crude fiber 13.40% ; Pb 2.35 mg/Kg ; Cu 12.94 mg/Kg ; Zn 22.30 mg/Kg ; Hg ( negative ) ; Total plate number 1.3 x 103 efu/g ; Coliform (negative). For chemical components, the results are: water 5.65%; carbohydrates 3.9% ; 18% protein; pectin 5.85% ; tannins 5.25% ; caffeine 2.4 – 4.5
PEMBUATAN BRIKET KULIT DURIAN DENGAN PROSES KARBONISASI Ahmad Shobib; Retno Ambarwati SL; Ery Fatarina P; Farah Marda Y.P
CENDEKIA EKSAKTA Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.3194/ce.v3i2.2471

Abstract

Biomassa dari limbah kulit durian selama ini belum banyak dimanfaatkan secara maksimal sehingga perlu adanya alternatif pengolahan agar menjadi bahan yang lebih bermanfaat, salah satunya sebagai bahan bakar alternatif briket. Tujuan dari penelitian ini adalah membuat briket dari kulit durian dengan proses karbonisasi, mengetahui pengaruh briket terhadap ukuran bahan, suhu, dan waktu karbonisasi, serta mengetahui spesifikasi briket dari kulit durian. Metode penelitian dilakukan dengan melakukan proses karbonisasi selama 4 dan 7 jam dan melakukan analisa proksimat pada briket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kalor kulit durian sebasar 4.569,54 kcal/kg, kadar air 12%, kadar abu 15%. Kata kunci: briket, nilai kalor, kulit durian, karbonisasi
PENGARUH PENAMBAHAN CARBOXYMETHYL CELLULOSE (CMC) DAN GELATIN SEBAGAI BAHAN PENGIKAT PADA PEMBUATAN TABLET KULIT MANGGIS (GARCINIA MANGOSTANA L) Ahmad Shobib; MF. Sri Mulyaningsih; Ery Fatarina
CENDEKIA EKSAKTA Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.3194/ce.v2i2.2085

Abstract

Manggis merupakan salah satu buah favorit yang digemari oleh masyarakat Indonesia. Manggis merupakan tanaman yang mempunyai nilai ekonomi tinggi karena selain dikonsumsi buahnya, kulit manggis juga dapat digunakan dalam pengobatan tradisional, yaitu mengobati sakit perut, diare, disentri, dan infeksi luka. Kandungan utama senyawa yang terdapat dalam kulit manggis adalah xanthone yang mempunyai sifat antimikroba, antiinflamasi, antioksidan, dan dapat menghambat pertumbuhan sel kanker usus. Kulit buah manggis yang dibuang, ternyata dapat dikembangkan sebagai kandidat obat.Tablet adalah obat dalam bentuk sediaan padat yang mengandung obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Bahan pengikat sangat berpengaruh terhadap kualitas fisik tablet. Dalam penelitian ini digunakan CMC (Carboxymethyl Celulosa) dan gelatin sebagai bahan pengikat dalam pembuatan tablet kulit manggis. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif. Obyek yang diteliti adalah tablet kulit manggis. Penelitian ini meliputi kadar air dan karakteristik fisik tablet kulit manggis. Dari hasil penelitian diperoleh kadar air kulit manggis 67,11 % dan kadar serbuk kulit manggis 32,89 %. Dan hasil penelitian karakteristik fisik tablet didapatkan hasil yang paling optimal dari bahan pengikat yang digunakan yaitu tablet kulit manggis dengan penambahan CMC 15 gram. Didapatkan rerata keseragaman bobot (CV) adalah 4,18 %. Kekerasan tablet adalah 5,93 kg. Kerapuhan tablet  adalah 0,46 %. Waktu hancur tablet adalah 8,89 menit. Kata kunci :  tablet kulit manggis, cmc, gelatin, karakteristik fisik table
UJI KETAHANAN LUNTUR WARNA PADA KAIN DENGAN PEWARNA DARI EKSTRAK UBI UNGU Ery Fatarina Purwaningtyas; Ahmad Shobib; Noormi Handayani
JURNAL KIMIA SAINTEK DAN PENDIDIKAN Vol 5 No 2 (2021): JURNAL KIMIA SAINTEK DAN PENDIDIKAN
Publisher : Program Studi Kimia - Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.289 KB)

Abstract

One of the cheap and widely available sources of anthocyanins in Indonesia is purple sweet potatoes because purple sweet potatoes contain anthocyanins that are greater than sweet potatoes with other varieties. This research conducted anthocyanin extract from purple sweet potato using technical extract tables using solvent methanol. The coloring process is carried out from pre-mordant without mordant. The compound used is alum. In the process of dyeing the cloth in the anthocyanin extract, the soaking time was varied, namely 12, 18, 24 and 30 hours. Furthermore, it was tested for color fastness against washing, staining, wet rubbing and dry rubbing.From the results of the study, the average anthocyanin content of purple sweet potato was 174.085 mg/100 g of dry matter.The results of the application of dye from sweet potato extract showed thatthe immersion time, pre-mordanting treatment and without mordant had no effect on the results of the color fastness test against washing, staining and dry rubbing. The results of the color fastness test to washing at 40°C gave a value of 1-2 or "not good", the results of the fastness test to staining and dry rubbing gave a value of 4-5 or "good".Pre-mordanting and without mordant affect the color produced, namely for pre-mordanting purple fabrics and pink fabrics without mordant.
Pemberdayaan Petani Ikan Lele di Desa Sruwen Kabupaten Semarang Melalui Pelatihan Dan Pendampingan Pembuatan Pelet Ikan Mandiri Retno Ambarwati Sigit Lestari; Ery Fatarina Purwaningtyas; Enny Purwati Nurlaili
Jurnal Suara Pengabdian 45 Vol. 1 No. 3 (2022): September: Jurnal Suara Pengabdian 45
Publisher : LPPM Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (609.764 KB) | DOI: 10.56444/pengabdian45.v1i3.110

Abstract

Permasalahan yang dihadapi oleh petani lele di Desa Sruwen Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang adalah harga pakan lele yang mahal sehingga keuntungan yang diperoleh sangat tipis. Petani lele tersebut pernah mencoba membuat pelet  ikan secara mandiri namun hasilnya belum sesuai yang diharapkan, pelet yang dihasilkan tenggelam sehingga kurang efektif. Tujuan dari pengabdian ini untuk memberikan penyuluhan, pelatihan dan pendampingan pembuatan pelet ikan dan pemberian alat  pembuat pelet ikan (extruder) pada mitra. Dengan adanya alat extruder serta pelatihan dan pendampingan diharapkan petani lele dapat memenuhi kebutuhan pelet ikan secara mandiri. Metode pelaksanaan diawali dengan mengajak perwakilan mitra ke tempat produksi pakan ikan mandiri “Jali Lele”  sekaligus pembuat alat extruder di Desa Tlogowaru, Kabupaten Demak untuk melihat proses produksi pellet ikan sesuai standar. Setelah alat extruder yang dipesan jadi, selanjutnya dilakukan penyuluhan, pelatihan dan pendampingan dalam pembuatan pelet ikan secara mandiri. Di dalam pelaksanaan kegiatan ini melibatkan 6 orang mahasiswa untuk kegiatan pelatihan dan pendampingan sebagai implementasi MBKM. Hasil dari kegiatan ini dapat meningkatkan penghasilan petani ikan lele setiap bulannya serta dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga, dengan peningkatan penghasilan  sebesar Rp 15.000.000 untuk 4 bulan atau Rp 3.750.000 perbulang atau kenaikan sebesar 19,24%.
Yoghurt making training to build women’s resilience in developing local economy and healthy lifestyle Eko Nursanty; Honorata Ratnawati Dwi Putranti; Ery Fatarina Purwaningtyas
Journal of Community Service and Empowerment Vol. 3 No. 2 (2022): August
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/jcse.v3i2.21034

Abstract

Lifestyle modifications are becoming increasingly important, especially following the epidemic era. Healthy living is a continual lifestyle that aids the attempt to transform a healthy culture and the production of healthy cells. A healthy lifestyle is one that consider all facets of a person's health. Not only about food but also about exercise and lifestyle practices. Health is vital to all our actions. One of the important things in supporting health can be done with healthy food intake. Making homemade yogurt, changing other foods, and changing one's lifestyle are all part of this activity.  Thus, this activity aims to train partners in yogurt making to build women's resilience in developing local economies and healthy lifestyles. Activities are hybrid, with some participants and resource personnel working online and others offline at the activity site. The method of activities is carried out using lectures, discussions and hands-on practice which is carried out in a hybrid between online and offline.  Some participants and resource persons carry out activities online and partly offline at the activity location. This activity is women's independence to build a home industry producing yogurt and other nutritious foods has increased, as has the production of processed yogurt. It is anticipated that the independence of these women will encourage the self-assurance necessary to construct a healthy family and environment, making their residence a place of business and a healthy gastronomic destination at home.