Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

UJI KETAHANAN LUNTUR WARNA PADA KAIN DENGAN PEWARNA DARI EKSTRAK UBI UNGU Ery Fatarina Purwaningtyas; Ahmad Shobib; Noormi Handayani
JURNAL KIMIA SAINTEK DAN PENDIDIKAN Vol. 5 No. 2 (2021): JURNAL KIMIA SAINTEK DAN PENDIDIKAN
Publisher : Program Studi Kimia - Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One of the cheap and widely available sources of anthocyanins in Indonesia is purple sweet potatoes because purple sweet potatoes contain anthocyanins that are greater than sweet potatoes with other varieties. This research conducted anthocyanin extract from purple sweet potato using technical extract tables using solvent methanol. The coloring process is carried out from pre-mordant without mordant. The compound used is alum. In the process of dyeing the cloth in the anthocyanin extract, the soaking time was varied, namely 12, 18, 24 and 30 hours. Furthermore, it was tested for color fastness against washing, staining, wet rubbing and dry rubbing.From the results of the study, the average anthocyanin content of purple sweet potato was 174.085 mg/100 g of dry matter.The results of the application of dye from sweet potato extract showed thatthe immersion time, pre-mordanting treatment and without mordant had no effect on the results of the color fastness test against washing, staining and dry rubbing. The results of the color fastness test to washing at 40°C gave a value of 1-2 or "not good", the results of the fastness test to staining and dry rubbing gave a value of 4-5 or "good".Pre-mordanting and without mordant affect the color produced, namely for pre-mordanting purple fabrics and pink fabrics without mordant.
Reduction Of Dissolved Ammonia with the Stripper Method in pH and Temperature Variations Ery Fatarina; Priyono Kusumo; Teodora Maria Fernandes Brito Da silva; Much Yusuf Firdaus
Advance Sustainable Science Engineering and Technology Vol 5, No 1 (2023): November-April
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/asset.v5i1.15111

Abstract

Condensate Polishing System (CPS) regeneration waste from PT. Bhimasena Power Indonesia has an ammonia level of 932 mg N/L. Therefore, research on reducing dissolved ammonia waste is very important. Research gaps in reducing dissolved ammonia waste include the effects of time variations and dissolved ammonia concentrations, the effect of water quality, and the impact of using methods on the environment. The purpose of this study was to determine the effect of variations in pH and temperature on the effectiveness of separating ammonia waste and to obtain optimum pH and temperature values for the separation of dissolved ammonia waste. The method used in this experiment is the stripper method. The results showed that the process of reducing dissolved ammonia using the stripper method reached an optimum value at a temperature of 45 °C and pH 12. Under these conditions, a reduction value of 0.75 mg N/L was obtained. So it can be concluded that the stripper method can reduce dissolved ammonia waste properly. The impact of this research can develop a more effective and environmentally friendly waste treatment method
SOSIALISASI PENGEMBANGAN UMKM UNTUK MENUMBUHKAN POTENSI KEWIRAUSAHAAN DI KELURAHAN WONOPLUMBON KEC MIJEN KOTA SEMARANG Eko Nursanty; Teodora M.F.B. Dasilva; Retno Ambarwati; Ery Fatarina; Fadhila Inez Zhafira
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2023): Volume 4 Nomor 2 Tahun 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan potensi kewirausahaan di kelurahan Wonoplumbon, Kecamatan Mijen, Kota Semarang melalui sosialisasi pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kepada masyarakat setempat. Kegiatan sosialisasi ini dilakukan melalui berbagai metode, seperti seminar, workshop, dan pelatihan. Selain itu, juga dilakukan pendampingan dan pembinaan kepada para pelaku UMKM yang sudah ada, agar dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi mereka. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan bahwa sosialisasi pengembangan UMKM dapat membantu meningkatkan potensi kewirausahaan di kelurahan Wonoplumbon. Hal ini terlihat dari bertambahnya jumlah UMKM yang berdiri dan berkembang di wilayah tersebut, serta peningkatan kualitas produk dan pemasaran yang dilakukan oleh para pelaku UMKM. Secara keseluruhan, kegiatan sosialisasi pengembangan UMKM dapat dijadikan sebagai contoh bagi wilayah lain dalam meningkatkan potensi kewirausahaan di masyarakat. Selain itu, perlu dilakukan upaya lanjutan dalam membina dan mengembangkan UMKM agar dapat terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat.
PEMBUATAN SABUN PADAT MENGGUNAKAN MINYAK KELAPA MURNI (VIRGIN COCONUT OIL) DENGAN PENAMBAHAN MINYAK JAGUNG (CORN OIL) Ahmad Shobib; Ery Fatarina; Mei Shita Damayanti
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v9i2.9839

Abstract

Penelitian tentang pembuatan sabun padat menggunakan minyak kelapa murni (VCO) dengan penambahan minyak jagung bertujuan menghasilkan nilai kadar air, pH, stabilitas busa, dan kadar alkali pada sabun padat sesuai dengan Standar Nasional Indonesia, menghasilkan variabel yang paling berpengaruh, dan kondisi optimum dari variabel yang paling berpengaruh. Metode yang digunakan yaitu experimental design dua level. Variabel tetap adalah cocamid-DEA 10 gram, Natrium Hidroksida 18 gram, berat total minyak 100 gram, dan total berat formulasi 200 gram. Variabel berubah adalah perbandingan VCO dan minyak jagung 60% : 40% dan 80% : 20%, kecepatan pengadukan 600 rpm dan 1000 rpm, dan suhu 300C dan 700C. Hasil penelitian menunjukkan pembuatan sabun padat dengan perbandingan VCO dan minyak jagung 80 : 20, kecepatan pengadukan 600 rpm, dan suhu 600C dihasilkan nilai kadar air sebesar 14,5%, alkali bebas 0,060%, stabilitas busa 66,67%, dan pH 10,36, telah mencapai baku mutu SNI, dan variabel yang berpengaruh adalah suhu. Hasil optimasi menunjukkan bahwa nilai yield sabun padat cenderung naik dengan penambahan suhu pemanasan sampai pada keadaan optimum, tetapi nilai yield menurun jika melebihi suhu optimumnya.
Pelatihan Keterampilan Dari Limbah Kemasan Air Mineral di Desa Sambongsari,Weleri Kabupaten Kendal Fatarina Purwaningtyas, Ery; Mega Kasmiyatun; Ahmad Shobib; Sri Mulyaningsih, MF
Perigel: Jurnal Penyuluhan Masyarakat Indonesia Vol. 3 No. 2 (2024): Juni: Perigel: Jurnal Penyuluhan Masyarakat Indonesia
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/perigel.v3i2.1686

Abstract

Mineral water packaging waste which is not managed properly, causing environmental pollution. The focus of this service is to provide skills training to the community to process this waste into economically valuable products. The aim of this activity is to increase community awareness and skills in recycling mineral water packaging waste into handicraft items, to reduce environmental pollution and increase community income. Using a participatory approach, with direct training methods involving demonstrations and practice. The strategies used are: 1) Socialization regarding the impact of plastic waste, 2) Technical training on making craft products from mineral water packaging waste. The results of this activity are expected to make people more aware of the importance of managing plastic waste and have new skills in making craft products. The result is products such as bags, wallets and home decorations made from mineral water packaging waste, which can be sold to increase income. Apart from that, there is a reduction in plastic waste in the surrounding environment.
OPTIMASI EVAPORASI DAN MASERASI PEMBUATAN SABUN CAIR LIDAH BUAYA dabutar, afif handika; Purwaningtyas, Ery Fatarina; Mulyaningsih, Sri
CHEMTAG Journal of Chemical Engineering Vol 4, No 1 (2023): CHEMTAG Journal of Chemical Engineering
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/cjce.v4i1.3186

Abstract

Lidah buaya (Aloe Barbadensis Miller) memiliki kandungan saponin yang mempunyai kemampuan untuk membersihkan dan bersifat antiseptik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan optimasi waktu maserasi dan evaporasi proses pembuatan sabun cair lidah buaya dan menentukan karakteristik sabun cair lidah buaya dengan parameter pH, tinggi busa, uji organoleptik, dan bobot jenis.Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah beaker glass 500 ml dan 250 ml, evaporator, erlenmeyer 250 ml, thermometer 150˚C, neraca analitik, pipet tetes, cawan porselin, desikator, gelas ukur 100 ml dan 10 ml, corong kaca. Bahan yang digunakan adalah lidah buaya, etanol, aquadest, minyak jarak, minyak zaitun, minyak kelapa, kalium hidroksida, asam stearat, dan gliserin. Selanjutnya ekstrak tersebut di formulasikan menjadi sediaan sabun cair.Metode penelitian ini membuat ekstrak lidah buaya dengan maserasi yang kemudian dievaporasi lalu dicampurkan ke dalam bahan pembuatan sabun, selanjutnya juga menambahkan asam stearat dan KOH, setelah itu menguji sabun cair yang dihasilkan dengan beberapa uji yang telah ditentukan.Dari hasil penelitian dengan perbandingan maserasi hari ke 1, 3, 5, dan 7 pada waktu evaporasi 30, 45, 60, dan 75 menit, belum diperoleh nilai optimum hanya diperoleh kondisi maksimum pada hari ke – 7 dengan bobot jenis 1,070 g/ml, tinggi busa 0,66% dan pada hari ke – 3 dengan pH 9, sabun yang dihasilkan berbentuk kental, berwarna putih kekuningan, berbau khas lidah buaya.Kata Kunci :lidah buaya, optimasi, evaporasi, maserasi.
PELATIHAN PEMBUATAN PAKAN IKAN LELE BERBASIS BAHAN LOKAL DI DESA BOJONGGEDE KENDAL Ery Fatarina Purwaningtyas; M F. Sri Mulyaningsih; Dhiya Ayu Ramadhani
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i2.11766

Abstract

Feed costs are the largest component in catfish farming and become the main obstacle for fish farmers in Bojonggede Village, Ngampel District, Kendal Regency. Dependence on commercial feed increases operational costs, therefore alternative feed made from local materials that are inexpensive, easily available, and nutritionally adequate is needed. This community service activity aimed to improve community knowledge and skills in producing catfish feed based on local materials through counseling and direct practice methods. This activity was attended by 30 people consisting of mothers from the PKK group and fathers from the catfish farming group. The implementation stages included community needs identification, presentation of fish feed nutritional content, demonstration of feed production processes, and hands-on practice of mixing materials, grinding, pellet molding, and drying. The materials used included rice bran, tofu waste, trash fish, tapioca flour, and EM-4. All participants attended the program until its completion, achieving a 100% attendance rate. Throughout the hands-on training session, participants showed strong enthusiasm, which was reflected in their active participation in raw material preparation, mixing, grinding, pellet production, and group discussions. Observations conducted by the project team indicated that most participants were able to describe the fish feed production process and identify locally available raw materials that could be utilized as alternative nutrient sources for fish feed production. ABSTRAK Biaya pakan merupakan komponen terbesar dalam budidaya ikan lele dan menjadi kendala utama bagi masyarakat pembudidaya ikan di Desa Bojonggede, Kecamatan Ngampel, Kabupaten Kendal. Ketergantungan terhadap pakan komersial menyebabkan biaya operasional meningkat sehingga diperlukan alternatif pakan berbahan lokal yang murah, mudah diperoleh, dan bernilai gizi cukup tinggi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam pembuatan pakan ikan lele berbasis bahan lokal melalui metode penyuluhan dan praktik langsung. Kegiatan ini diikuti oleh 30 orang yang terdiri dari ibu-ibu kelompok PKK dan bapak-bapak anggota kelompok peternak ikan lele. Tahapan kegiatan meliputi identifikasi kebutuhan masyarakat, penyampaian materi tentang kandungan nutrisi pakan ikan, demonstrasi proses pembuatan pakan, praktik pencampuran bahan, penggilingan, pencetakan, dan pengeringan pelet. Bahan yang digunakan antara lain bekatul, ampas tahu, ikan rucah, tepung tapioka, dan EM-4. Seluruh peserta mengikuti kegiatan hingga selesai sehingga tingkat kehadiran mencapai 100%. Selama sesi praktik, peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi yang ditunjukkan melalui keterlibatan aktif dalam proses pencampuran bahan baku, penggilingan, pencetakan pelet, dan sesi diskusi. Berdasarkan hasil observasi tim pelaksana, sebagian besar peserta mampu menjelaskan kembali tahapan pembuatan pakan ikan serta mengidentifikasi bahan baku lokal yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi pakan.
Hidrolisis Minyak Jarak Pagar Menjadi Asam Lemak Bebas Menggunakan Katalis HCL Teodora Dasilva; Ahmad Shobib; Ery Fatarina; Fadhila Inas Zhafira; Benneth Laurent; Iie Teriojanah; Inna Fajrotul Bahiroh
Jurnal Informasi, Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 02 (2022): Desember: Jurnal Informasi Sains dan Teknologi
Publisher : Politeknik Negeri FakFak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/isaintek.v5i02.55

Abstract

Tanaman jarak pagar merupakan tanaman yang digunakan sebagai pembatas atau pagar dan tanaman obat oleh masyarakat Indonesia. Biji jarak mengandung 40 -55% minyak lebih banyak dari kedelai, bunga matahari, dan kelapa sawit. Minyak jarak merupakan trigliserida dari lemak, yang apabila dihidrolisis oleh air akan menghasilkan asam lemak bebas dan gliserol. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui variabel perbandingan mol pereaktan terhadap konversi hidrolisa minyak jarak, nilai konstatan kecepatan reaksi pada hidrolisa minyak jarak dan nilai konstanta kesetimbangan reaksi pada hirdolisa minyak jarak. Pada percobaan ini hidrolisa dilakukan hidrolia minyak jarak dalam labu leher tiga pada suhu 60oC dan setiap 4 menit sampel diambil untuk dianalisis kadar asam lemak bebas. Kemudian hasil analisis kadar asam lemak bebas untuk menentukan konstantan kecepatan reaksi pada hidrolisa minyak jarak dan arah kesetimbangan reaksi pada hirdolisa minyak jarak. Bahan yang digunakan saat hidrolisa antara lain minyak jarak, aquadest, HCl, NaOH, PP, methanol dan sabun cair (sebagai surfaktan). Pengaruh rasio mol minyak jarak dan air terhadap konversi minyak jarak adalah semakin besar mol reaktan air maka konversi yang dihasilkan semakin besar, untuk nilai konstanta kecepatan reaksi adalah dengan adanya air yang ditambahkan dan semakin lama waktu hidrolisa maka konstanta kecepatan reaksi juga semakin besar. Sedangkan pada konstanta kesetimbangan reaksi hidrolisa minyak jarak adalah semakin cepat waktu pengambilan produk pada reaksi hidrolisis, konversi minyak menjadi asam lemak juga semakin besar.
KAJIAN TINJAUAN KRITIS PENGGUNAAN PEWARNA SINTETIS DALAM INDUSTRI BATIK DAN PENGARUHNYA TERHADAP KUALITAS LINGKUNGAN Ni Komang Ayu Artiningsih; Ery Fatarina; Sri Subekti; Nurtekto
JUTSU : Jurnal Teknik Sipil Unpand Vol. 3 No. 1 (2026): JUTSU : Jurnal Teknik Sipil Unpand
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69796/7nbxjq69

Abstract

Industri batik merupakan warisan budaya yang memiliki kontribusi ekonomi signifikan, terutama di Indonesia. Namun, penggunaan pewarna sintetis dalam proses produksinya menghasilkan limbah cair yang mengandung bahan kimia berbahaya bagi lingkungan. Kajian ini didasarkan pada konsep Sustainable Consumption and Production (SCP) yang dikembangkan oleh United Nations Environment Programme (UNEP, 2023), yang menekankan pentingnya efisiensi penggunaan sumber daya, pengurangan limbah, dan pencegahan pencemaran dalam kegiatan produksi industri. Selain itu, penelitian ini mengacu pada kajian Lin et al. (2023) yang menjelaskan bahwa limbah zat warna sintetis berpotensi menimbulkan dampak toksik terhadap ekosistem perairan, kesehatan manusia, serta kualitas lingkungan apabila tidak diolah secara memadai. Artikel ini mengkaji dampak limbah cair pewarna batik berbasis kimia terhadap lingkungan serta alternatif pengelolaannya melalui metode studi literatur terhadap berbagai penelitian yang diterbitkan dalam kurun waktu 2020–2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa limbah batik mengandung logam berat, zat warna toksik, senyawa organik persisten, serta parameter pencemar seperti Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biological Oxygen Demand (BOD) yang dapat menurunkan kualitas perairan. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa pembuangan limbah tanpa pengolahan dapat mengganggu keseimbangan ekosistem akuatik dan meningkatkan risiko kesehatan masyarakat.  Solusi yang ditawarkan meliputi penerapan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), pemanfaatan teknologi adsorpsi dan bioremediasi, penggunaan pewarna alami, serta peningkatan kesadaran lingkungan bagi pelaku industri batik. Kajian ini diharapkan menjadi dasar pengembangan kebijakan dan teknologi tepat guna untuk mendukung keberlanjutan industri batik yang ramah lingkungan.
KAJIAN TINJAUAN KRITIS PENGGUNAAN PEWARNA SINTETIS DALAM INDUSTRI BATIK DAN PENGARUHNYA TERHADAP KUALITAS LINGKUNGAN Ni Komang Ayu Artiningsih; Ery Fatarina; Nurtekto; Sri Subekti
JUTSU : Jurnal Teknik Sipil Unpand Vol. 3 No. 1 (2026): JUTSU : Jurnal Teknik Sipil Unpand, Vol. 3, No. 1, Mei 2026
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69796/2wfx7v09

Abstract

The batik industry is a cultural heritage sector that makes a significant economic contribution, particularly in Indonesia. However, the use of synthetic dyes in the production process generates liquid waste containing chemicals that are hazardous to the environment. This study is grounded in the Sustainable Consumption and Production (SCP) concept developed by the United Nations Environment Programme (UNEP, 2023), which emphasizes the importance of resource efficiency, waste reduction, and pollution prevention in industrial production activities. Furthermore, this research draws upon the study by Lin et al. (2023), which highlights that synthetic dye waste can have toxic effects on aquatic ecosystems, human health, and environmental quality if not adequately treated. This article examines the environmental impact of chemical-based batik dye wastewater and explores management alternatives through a literature review of studies published between 2020 and 2025. The findings indicate that batik wastewater contains heavy metals, toxic dyes, persistent organic compounds, and pollutants—such as Chemical Oxygen Demand (COD) and Biological Oxygen Demand (BOD)—that degrade water quality. Research also demonstrates that untreated wastewater discharge disrupts aquatic ecosystem balance and poses risks to public health. Proposed solutions include the implementation of Wastewater Treatment Plants (WWTPs), the use of adsorption and bioremediation technologies, the adoption of natural dyes, and the promotion of environmental awareness among batik industry stakeholders. This study is intended to serve as a foundation for developing policies and appropriate technologies to support the sustainability of an environmentally friendly batik industry.