Claim Missing Document
Check
Articles

Overview of gadget use by 8th grade students Septia Rachman Prasasti; Ita Apriliyani; Arni Nur Rahmawati
THE JOURNAL OF Mother and Child Health  Concerns Vol. 4 No. 12 (2026): March Edition
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mchc.v4i12.2840

Abstract

Background: The rapid development of digital technology has increased gadget use among adolescents, particularly junior high school (SMP) students. While gadget use can be beneficial as a learning medium and source of information, it also has the potential to negatively impact physical, emotional, and social health if not used wisely. Purpose: This study aims to examine gadget use among eighth-grade students. Method: The study employed a quantitative descriptive design with a survey method and a cross-sectional approach. The sample was determined using the Slovin formula and drawn using a non-probability purposive sampling technique, resulting in 60 respondents from a total population of 150 eighth-grade students. Data collection was conducted using a questionnaire structured based on gadget use indicators. Univariate analysis was conducted using frequency distributions and cross-tabulations. Results: The results showed that the majority of respondents were male (60.0%) and 13 years old (61.7%). Gadget use was dominated by the moderate category (60.0%), followed by the high category (23.3%) and the low category (16.7%). Cross-tabulations show that both male and female students are mostly in the moderate gadget use category, with the highest prevalence occurring at age 13. Conclusion: Gadget use among eighth-grade students was mostly in the moderate category. Suggestion: Based on these research findings, it is recommended that schools and parents supervise and educate students so that gadget use can be more judicious and balanced.
Penerapan Terapi Psikoreligius Zikir Pada Pasien Halusinasi Pendengaran Sofia Putri Romadhoni; Arni Nur Rahmawati; Ita Apriliyani
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.267

Abstract

Halusinasi pendengaran pada pasien skizofrenia merupakan gangguan persepsi sensori yang dapat mengancam keselamatan diri atau orang lain. Penatalaksanaan non-farmakologi yang dapat membantu pasien mengelola gejala dan meningkatkan kualitas hidup yaitu terapi spiritual atau psikoreligius (zikir). Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan terapi psikoreligius zikir pada pasien skizofrenia dengan halusinasi pendengaran. Metode penelitian berbentuk studi kasus deskriptif dengan sasaran pasien skizofrenia beragama Islam dengan halusinasi pendengaran. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi perilaku, pemeriksaan fisik, dan dokumentasi rekam medis. Hasil penelitian selama tiga hari menunjukkan pasien Sdr. A mampu mengenali dan mengontrol halusinasi melalui manajemen halusinasi dan terapi zikir dengan hasil pada fase halusinasi membaik, skor AHRS turun 26 (berat) menjadi 10 (ringan), disertai penurunan gejala (bisikan, menarik diri, melamun) dan peningkatan konsentrasi. Oleh karena itu, terapi zikir dapat memanfaatkan sumber daya spiritual pasien, meningkatkan penerimaan, kepatuhan, serta membantu pasien mengurangi gangguan halusinasi, sehingga asuhan keperawatan menjadi lebih efektif.
Penerapan Terapi Musik Klasik Pada Sdr. F Dengan Halusinasi Pendengaran Selma Subekti; Ita Apriliyani; Arni Nur Rahmawati
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.268

Abstract

Halusinasi pendengaran merupakan salah satu gejala umum skizofrenia yang dapat berdampak buruk bagi pasien. Studi kasus ini bertujuan mendeskripsikan penerapan terapi musik klasik untuk mengatasi halusinasi pendengaran. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus deskriptif yang berfokus pada subjek tunggal, yaitu Sdr. F, seorang pasien skizofrenia dengan masalah persepsi sensori berupa halusinasi pendengaran di Soerojo Hospital Magelang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan terapi musik klasik terbukti efektif dalam menurunkan tanda dan gejala halusinasi, yang ditunjukkan oleh berkurangnya verbalisasi mendengar bisikan, perilaku menarik diri, dan kecurigaan, serta membaiknya konsentrasi pasien. Oleh karena itu, terapi musik klasik dapat menjadi intervensi keperawatan yang efektif sebagai bagian dari asuhan keperawatan untuk pasien dengan halusinasi pendengaran.
Hubungan Posisi Pasien Dengan Keberhasilan Spinal Anestesi Pada Pasien Bedah Urologi Di RSUD Dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga Ita Oktaviana; Tophan Heri Wibowo; Ita Apriliyani
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.291

Abstract

Keberhasilan spinal anestesi penting untuk mengurangi risiko penyuntikan berulang dan komplikasi. Hal ini dipengaruhi oleh kemampuan menentukan titik acuan, pengalaman penyedia layanan, serta posisi punggung pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara keberhasilan spinal anestesi dengan posisi pasien. Penelitian menggunakan desain observasional potong lintang dengan 41 responden melalui total sampling. Data dianalisis secara deskriptif dan menggunakan koefisien kontigensi. Hasil menunjukkan 51% pasien berada pada Hamstring Stretch Position (HSP) dan 49% pada Crossed Leg Sitting Position (CLSP), dengan sebagian besar memerlukan satu kali penyuntikan. Tidak terdapat perbedaan signifikan antara posisi HSP dan CLSP terkait keberhasilan spinal anestesi. Keberhasilan dipengaruhi kemampuan pasien melakukan fleksi tulang belakang sehingga mempermudah palpasi prosesus spinosus dan penetrasi jarum ke ruang subaraknoid.
The Relationship Between the Intensity of Social Media Use and Self-esteem in Adolescents at SMK Kesehatan Kesatrian 2 Purwokerto Carwati Carwati; Ita Apriliyani; Siti Haniyah
PROMOTOR Vol. 7 No. 1 (2024): FEBRUARI
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/pro.v7i1.475

Abstract

Adolescence is a time of searching for identity and identity. Many adolescents experience mentally-related problems related to the maturation process such as self-esteem, where self-esteem is very important for adolescents in their development. Self-esteem is influenced by several factors, one of which is the use of social media. This study aimed to see if there was a relationship between the intensity of social media use and self-esteem in adolescents. This research method is descriptive correlational with a cross-sectional design. Samples of 91 students of SMK Kesehatan Kesatrian 2 Purwokerto class X and XI were taken using proportionated random sampling techniques. Data collection was carried out by distributing Social Network Time Usage Scale (SONTUS) and Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) questionnaires. The results of the Spearman test of social media use intensity and self-esteem obtained a p-value <0.05 with a correlation coefficient value of r = -0.267. The results of this study show a negative correlation between the intensity of social media use and self-esteem, meaning that the higher the use of social media, the lower self-esteem. Teenagers should use social media wisely to avoid its negative impact on self-esteem problems
Hubungan Durasi Pembedahan dengan Nyeri Tenggorokan pada Pasien Post General Anestesi Teknik Intubasi Endotracheal Tube di RSI Purwokerto Ghaihab Dzikir Mufiid Alkatiri; Tophan Heri Wibowo; Ita Apriliyani
Jurnal Kesehatan Amanah Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Kesehatan Amanah
Publisher : Universitas Muhammadiyah Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57214/jka.v9i2.971

Abstract

Surgery is one of the medical procedures divided into three periods of pre operative, intra operative, and post operative. At least 11% of the global disease burden comes from conditions that can actually be addressed through surgery. Surgical procedures will certainly require anesthesia, one of which is general anesthesia with the Endotracheal Tube (ETT) intubation technique. Endotracheal Tube (ETT) intubation can cause various complications, the most common being postoperative sore throat. One of the risk factors for sore throat after Endotracheal Tube (ETT) intubation is the duration of surgery. This research is a quantitative study with a descriptive correlational design and a cross-sectional approach. The sample in this study consisted of 30 patients undergoing surgery with general anesthesia using the Endotracheal Tube (ETT) intubation technique, determined by quota sampling. The research instruments used were a clock to measure the duration of surgery and an observation sheet containing the measurement of sore throat level using the Numeric Rating Scale (NRS). Data analysis in this study included univariate and bivariate analyses, with the latter tested using the Spearman rank test. The results of the Spearman rank test between the variables of surgical duration and postoperative sore throat in general anesthesia with the Endotracheal Tube (ETT) intubation technique showed a p = 0.000 and an r = 0.912, which means that the two variables have a significant and positive relationship in line with a very strong correlation strength. This indicates that the longer the duration of surgery, the higher the postoperative sore throat scale in general anesthesia with the Endotracheal Tube (ETT) intubation technique.
PENERAPAN TERAPI HIPNOSIS 5 JARI PADA LANSIA DENGAN DIABETES MELLITUS YANG MENGALAMI KECEMASAN Nova Amelia Romadhon; Ita Apriliyani; Arni Nur Rahmawati
Multidisciplinary Indonesian Center Journal (MICJO) Vol. 1 No. 4 (2024): Vol. 1 No. 4 Edisi Oktober 2024
Publisher : PT. Jurnal Center Indonesia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/micjo.v1i4.292

Abstract

Proses menua merupakan proses alami kehidupan manusia serta penurunan kondisi fisik, psikologis, dan interaksi terhadap sesama. Masalah kesehatan pada lansia umumnya seperti hipertensi, stroke, penyakit jantung, diabetes mellitus, dan lain-lain. Lansia dengan Diabetes Mellitus lebih cenderung mengalami masalah psikologis seperti kecemasan. Dalam menangani masalah psikososial seperti kecemasan pada lansia dengan diabetes mellitus dapat diberikan intervensi teknik relaksasi dan distraksi yaitu terapi hipnosis 5 jari. Tujuan dari pengabdian ini untuk meningkatkan pengetahuan diabetes mellitus, serta melatih keterampilan untuk menurunkan kecemasan lansia. Kegiatan ini dilakukan selama 2 kali pertemuan dan diikuti oleh 24 lansia. Metode yang digunakan adalah pendidikan kesehatan dengan ceramah dan video demonstrasi. Evaluasi peningkatan pengetahuan dan tingkat kecemasan menggunakan kuesioner pre test dan post test, sedangkan evaluasi keterampilan hipnosis 5 jari dengan cara observasi demonstrasi gerakan. Hasil dari kegiatan ini terdapat peningkatan pengetahuan tinggi 20 lansia (83,3%) dan tingkat kecemasan berat 1 lansia (4,2 %). Kesimpulan kegiatan ini terdapat peningkatan pengetahuan dengan pendidikan kesehatan dan penurunan tingkat kecemasan dengan keterampilan terapi hipnosis 5 jari.
IMPLEMENTASI TERAPI MUROTTAL UNTUK MENGONTROL HALUSINASI PENDENGARAN PADA PASIEN SKIZOFRENIA Rizal faris Nur Zayyan; Arni Nur Rahmawati; Ita Apriliyani
Multidisciplinary Indonesian Center Journal (MICJO) Vol. 1 No. 4 (2024): Vol. 1 No. 4 Edisi Oktober 2024
Publisher : PT. Jurnal Center Indonesia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/micjo.v1i4.303

Abstract

Mental disorders are stressors that can cause changes in a person's thinking, perception, behavior, and feelings. Schizophrenia is a psychotic mental disorder that has positive, negative, and cognitive signs and symptoms. The World Health Organization in 2021 stated that the prevalence of schizophrenia in the world increased to 26 million people. Hallucinations are one of the symptoms of mental disorders where a person experiences changes or disturbances in sensory perception involving the five senses. The most common hallucination is auditory hallucination. One of the non-pharmacological treatments that can be done in patients with auditory hallucination is Murottal Therapy. Murottal therapy is a therapy by reading or listening to Al-Qur'an. The purpose of this study was to obtain an overview of the nursing process regarding the application of murottal therapy as an effort to control auditory hallucination. The research method used is a case study with the target of schizophrenia patients with auditory hallucinations at Banyumas Hospital. After Murottal Therapy for 6 days, the results showed that the patient could control his hallucinations as evidenced by the Auditory Hallucination Rating Scale score which decreased, score of 22 on the first day and a score of 10 on the sixth day. Therefore, it can be concluded that Murottal Therapy Surah Ar-Rahman verses 1-78 which is performed once a day for 6 days with a duration of 16 minutes, has proven effective for controlling auditory hallucinations in schizophrenic patients.
PENERAPAN TERAPI DZIKIR PADA SDR. S UNTUK MENGONTROL HALUSINASI PENDENGARAN Novi Nurianti; Ita Apriliyani; Arni Nur Rahmawati
Multidisciplinary Indonesian Center Journal (MICJO) Vol. 1 No. 4 (2024): Vol. 1 No. 4 Edisi Oktober 2024
Publisher : PT. Jurnal Center Indonesia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/micjo.v1i4.305

Abstract

Gangguan jiwa merupakan sindrom yang secara klinis dapat terjadi pada seseorang dan ditambah dengan beragam stres disertai peningkatan risiko kematian, nyeri, dan disabilitas. Menurut WHO (World Health Organization) pada 2019 terdapat 264 kasus depresi dimana sebanyak 20 juta kasus merupakan kasus skizofrenia diseluruh dunia. Di Indonesia pada tahun 2018 sebanyak 31,5% penduduknya mengalami gangguan psikosis. Di Jawa Tengah khususnya RSUD Banyumas pada tahun 2021 sebanyak 2.130 pasien mengalami skizofrenia dimana sebanyak 1.477 pasien mengalami halusinasi. Halusinasi merupakan gejala yang dialami oleh setiap individu yang mengalami gangguan pada persepsi sensorik dimana seseorang mendengar, mencium, mengecap dan melihat hal-hal yang sebenarnya tidak ada yang hanya dirasakan oleh orang tersebut dalam waktu satu bulan atau lebih. Cara meminimalkan gejala halusinasi memerlukan penatalaksanaan salah satunya yaitu terapi dzikir.       Tujuan dari studi kasus ini yaitu menggambarkan penerapan terapi dzikir pada pasien untuk mengontrol halusinasi pendengaran di Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas. Metode penelitian yang digunakan oleh penulis menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kepada 1 pasien yang mengalami halusinasi pendengaran dan pasien yang dapat membina hubungan saling percaya serta kooperatif. Proses pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara, studi dokumentasi dan demonstrasi. Hasil dari penelitian menunjukan adanya pengaruh terapi dzikir dalam mengontrol halusinasi pendengaran yang dibuktikan dengan adanya penurunan skor tingkat halusinasi dari 19 menjadi 10 dan pasien mampu mengontrol halusinasinya dengan berdzikir. Hasil penelitian ini dapat dijadikan terapi tambahan dalam mengontrol halusinasi pada pasien dengan halusinasi pendengaran.  
Penerapan Teknik Menghardik Dalam Mengontrol Halusinasi Pendengaran Pada Pasien Skizofrenia Di Ruang Anggrek RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Eliana Nuraeni; Ita Apriliyani
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.827

Abstract

Halusinasi pendengaran merupakan salah satu gangguan persepsi sensori yang paling sering dialami pasien skizofrenia dan dapat memengaruhi proses berpikir, emosi, perilaku, serta kemampuan pasien dalam mengontrol diri. Kondisi tersebut dapat menimbulkan dampak negatif seperti perilaku agresif, ketakutan berlebihan, hingga risiko mencederai diri sendiri maupun orang lain sehingga diperlukan intervensi yang tepat untuk membantu pasien mengontrol halusinasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas teknik menghardik dalam membantu mengontrol halusinasi pendengaran pada pasien skizofrenia. Penelitian menggunakan desain studi kasus deskriptif dengan pendekatan asuhan keperawatan jiwa pada satu pasien skizofrenia yang mengalami gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, pemeriksaan status mental, pemeriksaan fisik, dan studi dokumentasi selama tiga hari pada tanggal 09–12 Maret 2026. Intervensi yang diberikan meliputi teknik menghardik, komunikasi terapeutik, dan terapi spiritual berupa zikir. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan pasien dalam mengontrol halusinasi yang ditandai dengan menurunnya respons terhadap stimulus internal, berkurangnya perilaku berbicara sendiri, meningkatnya orientasi realita, serta kondisi pasien yang lebih tenang dan kooperatif. Teknik menghardik efektif digunakan sebagai intervensi keperawatan jiwa dalam membantu pasien mengontrol halusinasi pendengaran terutama apabila didukung dengan pendekatan spiritual dan hubungan terapeutik yang baik.