Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Pelatihan Kader dengan Metode Ceramah, Demonstrasi dan Simulasi terhadap Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Kader Posyandu Lansia di Wilayah RW V Kelurahan Pudakpayung, Banyumanik Semarang Afiatna, Puji; Sugeng Maryanto; Umi Setyoningrum
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 5 No. 2 (2023): Indonesian Journal of Community Empowerment November 2023
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v5i2.2693

Abstract

As humans age, they experience an aging process that is characterized by an increasing number of metabolic and structural disorders, often referred to as “degenerative diseases”. Two of them are hypertension and diabetes mellitus (DM). The elderly need special attention in the form of good health services. Health services can be in the form of health education, namely education on nutritional management of DM and hypertension, followed by elderly gymnastics. Elderly Posyandu cadres are an extension of Puskesmas officers in providing health information to the elderly. Based on observations, the cadres of Ngudi Waras Elderly Posyandu RW V Pudakpayung Village, Banyumanik Semarang still lack knowledge and skills in providing education on the management of DM and hypertension to the elderly. Training activities with lecture methods on the management of DM and hypertension, demonstrations and simulations of providing education in the form of nutrition counseling and exercise were conducted to overcome these problems. The activity was conducted on 6 cadres. The Wilcoxon t-test showed that the cadres’ knowledge increased after the training with a p value of <0.05. The skills of cadres can be seen by their enthusiasm in participating in activities and practicing the given material. Lecture, demonstration, and simulation methods were proven to improve cadres’ knowledge and skills in the management of DM and hypertension   ABSTRAK                 Seiring bertambahnya usia, manusia mengalami proses penuaan yang ditandai dengan semakin banyaknya kelainan metabolisme dan struktur yang sering disebut dengan “penyakit degeneratif”. Dua di antaranya adalah hipertensi dan diabetes melitus (DM). Lansia memerlukan perhatian khusus berupa pelayanan kesehatan yang baik. Pelayanan kesehatan dapat berupa pendidikan kesehatan yaitu pendidikan penatalaksanaan gizi pada DM dan hipertensi yang dilanjutkan dengan senam lansia. Kader Posyandu Lanjut Usia merupakan perpanjangan tangan petugas Puskesmas dalam memberikan informasi kesehatan kepada lansia. Berdasarkan observasi, kader Posyandu Lansia Ngudi Waras RW V Desa Pudakpayung Banyumanik Semarang masih kurang memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan edukasi pengelolaan DM dan hipertensi pada lansia. Kegiatan pelatihan dengan metode ceramah tentang penatalaksanaan DM dan hipertensi, demonstrasi dan simulasi pemberian edukasi berupa penyuluhan gizi dan senam dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Kegiatan tersebut dilakukan terhadap 6 orang kader. Uji t Wilcoxon menunjukkan pengetahuan kader meningkat setelah diberikan pelatihan dengan nilai p<0,05. Keterampilan kader terlihat dari antusiasmenya dalam mengikuti kegiatan dan mempraktikkan materi yang diberikan. Metode ceramah, demonstrasi, dan simulasi terbukti meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam penatalaksanaan DM dan hipertensi
Screening dan Manajemen Stres sebagai Upaya Peningkatan Kesehatan Mental Remaja Liyanovitasari; Puji Lestari; Umi Setyoningrum
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 6 No. 1 (2024): Indonesian Journal of Community Empowerment Mei 2024
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v6i1.3137

Abstract

Adolescence is a transition phase from childhood to adulthood. This transition process causes stress both physically and mentally for teenagers. Long-term stress can also affect adolescents' adaptation, giving rise to behavior such as attempting suicide (8.5%), sadness and despair (29%), drinking alcohol (45%), and using marijuana/drugs (22%). Progressive muscle relaxation is a technique for dealing with stress by tensing and relaxing the muscles to relax the muscles, relieve pain, anxiety, anxiety, increase comfort and concentration. This activity aims to increase teenagers' knowledge and skills in carrying out progressive muscle relaxation. Community service activities were carried out on Tuesday 5 March 2024. The target of this service program was students at the Sudirman Islamic Vocational School, Ungaran, attended by 40 students. The methods used in this activity are discussion, lecture, question and answer, demonstration and re-demonstration. Educational media are powerpoints, leaflets and videos of progressive muscle relaxation exercises. This activity was carried out in three stages, including the first stage of preparation by obtaining permission to go to the school, preparing media, conducting a pre-test, and conducting stress screening on students. The second stage of implementation is the delivery of educational material on the concept of stress and a demonstration of progressive muscle relaxation. The third stage is evaluation by conducting a post test on students. The measurement results showed that students' knowledge before being given stress management education increased from 2.6 to 5.8. In addition, students' ability in progressive muscle relaxation increased from 3.2 to 6.2. It is hoped that students can carry out progressive muscle relaxation independently so that stress can be overcome and can improve students' mental health.   ABSTRAK                 Remaja merupakan fase transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Proses transisi ini menyebabkan stres baik secara fisik maupun mental remaja. Stres jangka panjang juga dapat mempengaruhi adaptasi remaja sehingga menimbulkan perilaku seperti percobaan bunuh diri (8,5%), sedih dan putus asa (29%), minum alkohol (45%), dan menggunakan ganja/narkoba (22%). Relaksasi otot progresif sebagai teknik mengatasi stres dengan menegangkan dan melemaskan otot untuk membuat otot menjadi rileks, meredakan nyeri, kecemasan, ansietas, meningkatkan kenyamanan dan konsentrasi. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan remaja melakukan relaksasi otot progresif. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan pada hari Selasa 5 Maret 2024. Sasaran program pengabdian ini yaitu siswa SMK Islam Sudirman Ungaran diikuti oleh 40 siswa. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini yaitu diskusi, ceramah, tanya jawab, demonstrasi, dan re-demonstrasi. Media edukasi adalah powerpoint, leaflet, dan video latihan relaksasi otot progresif. Kegiatan ini dilakukan dalam tiga tahap mencakup tahap pertama persiapan dengan melakukan perijinan ke sekolah, menyiapkan media, melakukan pre test, dan melakukan screening stres pada siswa. Tahap kedua pelaksanaan yaitu penyampaian materi edukasi konsep stres dan demonstrasi relaksasi otot progresif. Tahap ketiga adalah evaluasi dengan melakukan post test pada siswa. Hasil pengukuran bahwa pengetahuan siswa sebelum diberikan edukasi manajemen stres meningkat dari 2,6 menjadi 5,8. Selain itu kemampuan siswa dalam relaksasi otot progresif meningkat dari 3,2 menjadi 6,2. Diharapkan bagi siswa untuk dapat melakukan relaksasi otot progresif dengan mandiri agar stres dapat teratasi dan dapat meningkatkan kesehatan mental siswa.
Gambaran Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan di IGD Rumah Sakit Ken Saras Mei Melani; Setyoningrum, Umi
Indonesian Journal of Nursing Research (IJNR) Vol. 7 No. 2 (2024)
Publisher : Program Studi S1 Keperawatan Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijnr.v7i2.3515

Abstract

The Emergency Room (IGD) is one of the busiest installations in hospitals. The Emergency Room (IGD) must have high quality services so that it can meet good service quality. The quality of hospital services, one of which can be seen from patient satisfaction. Find out the description of patient satisfaction with services at the emergency room at Ken Saras Hospital .The research method was a total sampling quantitative study with a descriptive analytical design. The population used was all emergency room patients, with a sample size of 100 patients. The data collection tool uses a service satisfaction questionnaire in the emergency room. Data analysis uses simple univariate analysis.  Patient satisfaction with the services at the emergency room at Ken Saras Hospital, most of them were satisfied with the services at the emergency room, 98 respondents (98%) and 2% of respondents felt dissatisfied, where in the empathy dimension, the majority felt satisfied, 57 respondents (57%). the tangibles dimension was mostly satisfied with 70 respondents (70%), the responsiveness dimension was mostly satisfied with 54 respondents (54%), the reliability dimension was mostly satisfied with 62 respondents (62%), the assurance dimension was mostly satisfied with 58 respondents (58%). It is hoped that nurses will provide maximum service to all patients without distinguishing between race, ethnicity, economics and social status.   Abstrak Instalasi gawat darurat (IGD) menjadi salah satu instalasi di rumah sakit yang paling sibuk. Instalasi Gawat Darurat (IGD) harus mempunyai pelayanan dengan berkualitas tinggi sehingga dapat memenuhi mutu pelayanan yang baik. Kualitas pelayanan rumah sakit, salah satunya dapat dilihat dari kepuasan pasien. Mengetahui gambaran kepuasan pasien terhadap pelayanan di IGD Rumah Sakit Ken Saras. Metode penelitian studi kuantitatif dengan desain deskriptif analitik.Tehnik sampling total sampling, dengan jumlah sampel 100 pasien. Alat pengumpulan data menggunakan keusioner kepuasan pelayanan di IGD. Analisa data menggunakan analisa univariat sederhana. Kepuasan pasien terhadap pelayanan di IGD RS Ken Saras sebagian besar merasa puas dalam pelayanan di IGD sebanyak 100 responden (100%) ,dimana pada dimensi empati sebagian besar merasa puas sebanyak 100 responden (100%). dimensi tangibles sebagian besar merasa puas sebanyak 100 responden (100%), dimensi responsiveness sebagian besar merasa puas sebanyak 100 responden (100%), dimensi reliability sebagian besar merasa puas sebanyak 84 responden (84%), dimensi assurance sebagian besar merasa puas sebanyak 75 responden (75%). Diharapkan perawat memberikan pelayanan secara maksimal pada seluruh pasien tanpa membedakan ras, suku, ekonomi dan sosial.
Implementasi Pengelolaan Sampah Dengan 3R (Reduse, Reuse, Recycle) sebagai Upaya Pencegahan Penularan Penyakit Akibat Sampah di Dusun Sigade Desa Nyatnyono Puji Lestari; Umi Setyoningrum; Liyanovitasari; Fatikha Rima Syifa; Fathiyatul Hikmah; Berliana Fatha
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 6 No. 2 (2024): Indonesian Journal of Community Empowerment November 2024
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v6i2.3426

Abstract

Waste can have a bad impact on human health conditions. If waste is disposed of carelessly or piled up without proper management, it will cause various serious health impacts. Waste that is not treated will have a bad impact on human health. One of them improves good behavior in disposing of garbage by removing garbage cans made from materials that are easy to get around, namely bamboo. The purpose of making waste from bamboo is to reduce scattered waste. This community service activity will be carried out on July 26, 2024. The target of this activity is the people of Sigade Hamlet, Nyatnyono Village. The methods used in this activity are discussions, questions and answers, demonstration lectures, and direct practice by residents. The media used are powerpoint, leaflets, and educational videos about 3R. This activity is carried out in three stages, namely the first stage of preparation for licensing, preparing media for pre-test, and conducting waste management with 3R. The second stage is implementation, namely the delivery of material on waste management with 3R and demonstrating the creation of waste cans by involving the surrounding community. Furthermore, the last stage is evaluation by conducting a test post on the community. The results of the measurement showed that the community's knowledge before being educated about 3R waste management with good results was 5.6%, for sufficient results as much as 72.2%, and results and results were less as much as 22.2%. In addition, for the results after being educated with good results of 44.4%, and for sufficient results of 55.6%,. It is hoped that the people of Sigade Hamlet can implement waste management in the 3R way, namely reduce reuce and recyle.   ABSTRAK Sampah dapat mengakibatkan dampak buruk bagi kondisi kesehatan manusia. Bila sampah dibuang secara sembarangan atau ditumpuk tanpa adanya pengelolaan yang baik, maka akan menimbulkan berbagai macam dampak kesehatan yang serius. Sampah yang tidak diolah akan mengakibatkan dampak buruk bagi kesehatan manusia. Salah satu meningkatkan perilaku yang baik dalam membuang sampah dengan pembautan tempat sampah yang terbuat dari bahan yang mudah didapatkan disekitar yaitu bambu. Tujuan pembuatan sampah dari bambu ini untuk mengurangi limbah sampah yang berserakan. kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini di laksanakan pada tanggal 26 Juli 2024. Untuk sasaran kegiatan ini adalah masyarakat Dusun Sigade, Desa Nyatnyono. Metode yang di gunakan dalam kegiatan ini adalah diskusi, tanya jawab, ceramah demonstrasi, dan praktik langsung oleh warga. Media yang di gunakan yaitu powerpoint, leaflet, dan video edukasi tentang 3R. Kegiatan ini dilakukan dengan tiga tahap yaitu tahap pertama persiapan melakukan perijinan, menyiapkan media melakukan pre test, dan melakukan pengelolaan sampah dengan 3R. Tahap kedua yaitu pelaksanaan yaitu penyampaian materi tentang pengelolaan sampah dengan 3R dan mendemostrasikan pembuatan tempat sampah dengan melibatkan masyarakat sekitar. Selanjutnya tahap terakhir yaitu evaluasi dengan melakukan pos tes pada masyrakat. Hasil dari pengukuran bahwa pengetahuan Masyarakat sebelum diberi edukasi mengenai pengelolaan sampah 3R dengan hasil baik sebanyak 5,6%, untuk hasil cukup sebanyak 72,2%, hasil dan hasil kurang sebanyak 22,2%. Selain itu untuk hasil setelah diberi edukasi dengan hasil baik sebanyak 44,4%, dan untuk hasil cukup sebanyak 55,6%,. Di harapkan masyarakat Dusun Sigade dapat menerapkan pengelolaan sampah dengan cara 3R yaitu reduce reuce dan recyle.
Pembuatan Gummy Jahe untuk Menurunkan Gula Darah pada Lansia dengan Diabetes Melitus di Desa Nyatnyono Dusun Branggah Kab Semarang Setyoningrum, Umi; Elvi Damayanti; Wulan Guritno; Sukarno; Puji Purwaningsih; Puji Lestari
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 6 No. 2 (2024): Indonesian Journal of Community Empowerment November 2024
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v6i2.3516

Abstract

Nyatnyono Village, particularly in Dusun Branggah RW 08, faces significant health challenges among the pre-elderly group, especially concerning the risk of degenerative diseases such as Diabetes Mellitus (DM). With low awareness of the importance of regular health check-ups and unhealthy lifestyles, such as high sugar consumption and lack of physical activity, effective interventions are urgently needed. This program aims to raise health awareness and provide practical solutions through the production of Ginger Gummies as a supplement to lower blood sugar levels. The implementation methods include education about DM and the benefits of ginger, training on how to make Ginger Gummies, and surveys to measure knowledge and health behavior. The results of the program indicate an increase in pre-elderly participation in posyandu activities and blood sugar testing, as well as an increase in Ginger Gummies consumption. This program successfully built awareness of the importance of healthy living and diabetes management among the elderly and strengthened community involvement in health efforts. ABSTRAK Desa Nyatnyono, khususnya Dusun Branggah RW 08, menghadapi tantangan kesehatan yang signifikan pada kelompok pra-lansia, terutama terkait risiko penyakit degeneratif seperti Diabetes Melitus (DM). Dengan rendahnya kesadaran akan pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin dan gaya hidup tidak sehat, seperti konsumsi makanan tinggi gula dan kurangnya aktivitas fisik, intervensi yang efektif sangat diperlukan. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran kesehatan dan memberikan solusi praktis melalui pembuatan Gummy Jahe sebagai suplemen untuk menurunkan kadar gula darah. Metode pelaksanaan mencakup edukasi tentang DM dan manfaat jahe, pelatihan pembuatan Gummy Jahe, serta survei untuk mengukur pengetahuan dan perilaku kesehatan. Hasil program menunjukkan peningkatan partisipasi pra-lansia dalam kegiatan posyandu dan pemeriksaan gula darah, serta peningkatan konsumsi Gummy Jahe. Program ini berhasil membangun kesadaran akan pentingnya pola hidup sehat dan pengelolaan diabetes di kalangan lansia, serta memperkuat keterlibatan komunitas dalam upaya kesehatan.
Gambaran Kesejahteraan Psikologis Lansia di Panti Wredha Merbabu Salib Putih Kota Salatiga: Description of the Psychological Well-being of the Elderly in Nursing Homes White Cross Merbabu, Salatiga City Liyanovitasari; Umi Setyoningrum
Journal of Holistics and Health Sciences Vol. 7 No. 1 (2025): Journal of Holistics and Health Sciences (JHHS), Maret
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jhhs.v7i1.564

Abstract

The elderly period is marked by various changes, both in physical, psychological, and social aspects, which directly affect their physical and mental conditions. Physical changes that occur in the elderly often have an impact on their psychological condition. Psychological well-being can increase if the elderly get good support from family, friends, and the surrounding environment. The psychological well-being of the elderly is good if the aspects of self-acceptance, positive relationships with others, autonomy, mastery of the environment, having a purpose in life that provides direction and meaning in life, and self-growth are fulfilled. The purpose of this study was to determine the description of psychological well-being in the elderly at the Nursing Home. Method: The design of this study is descriptive quantitative. The population in this study were 105 elderly elderly who lived at the Salib Putih Nursing Home of Salatiga, 83 samples were selected using a purposive sampling technique. The measuring instrument used was the Ryff's Psychological Well Being questionnaire for psychological well-being. The data analysis used was univariate analysis. Results: Most respondents are in the elderly category, 63 respondents (75.9%), the gender of the respondents is mostly female, 53 respondents (63.9%), the education of the respondents is mostly high school, 51 respondents (61.4%), the length of stay in the nursing home, most respondents are more than 1 year, 72 respondents (86.7%). Most of the elderly have moderate psychological well-being, 45 respondents (54.2%). Suggestion: In order for the psychological well-being of the elderly to be fulfilled, the elderly must improve positive relationships with others and be able to accept their shortcomings. ABSTRAK Masa lansia ditandai oleh berbagai perubahan, baik dalam aspek fisik, psikologis, maupun sosial, yang secara langsung memengaruhi kondisi tubuh dan mental mereka. Perubahan fisik yang terjadi pada lansia seringkali berdampak pada kondisi psikologis mereka. Kesejahteraan psikologis dapat meningkat apabila lansia mendapatkan dukungan baik dari keluarga, teman, dan lingkungan sekitarnya. Kesejahteraan psikologis lansia baik apabila terpenuhi aspek penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain, otonomi, penguasaan lingkungan, memiliki tujuan hidup yang memberikan arah dan makna dalam kehidupan, dan pertumbuhan diri. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran kesejahteraan psikologis pada lansia di Panti Wredha. Desain penelitian ini yaitu deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini lansia yang bertempat tinggal di Panti Wredha Merbabu Salib Putih Salatiga sejumlah 105 lansia, dipilih sejumlah 83 sampel dengan teknik purposive sampling. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner Ryff’s Psychological Well Being untuk kesejahteraan psikologis. Analisis data yang digunakan yaitu analisis univariat. Hasil : Sebagian besar responden memiliki usia kategori lanjut usia tua sebanyak 63 responden (75,9%), jenis kelamin responden sebagian besar perempuan sebanyak 53 responden (63,9%), pendidikan responden sebagian besar SMA sejumlah 51 responden (61.4%), lama tinggal di panti sebagian besar responden lebih dari 1 tahun sebanyak 72 responden (86.7%). Lansia sebagian besar memiliki kesejahteraan psikologis kategori sedang sebanyak 45 responden (54.2%). Lansia memiliki kategori kesejahteraan psikologis sedang. Kesejahteraan psikologis lansia agar terpenuhi maka lansia harus meningkatkan hubungan positif dengan orang lain, dan dapat menerima kekurangan dirinya.
Peningkatan Peranan Kader Kesehatan dalam Pelaksanaan Posyandu Integrasi Layana Primer (ILP) di Dusun Tegalrejo Desa Lerep Kabupaten Semarang Setyoningrum, Umi; Liyanovitasari; Neency Aryanti3
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 7 No. 1 (2025): Indonesian Journal of Community Empowerment Mei 2025
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v7i1.4062

Abstract

supporting promotive and preventive efforts, particularly in realizing the Integrated Primary Service (ILP). However, the implementation of ILP at the Posyandu level still faces various challenges, especially related to the role of health cadres. Based on a preliminary study conducted in February 2025 in Tegalrejo Hamlet, Lerep Village, Semarang Regency, it was found that out of 15 active cadres, only 6 people (40%) fully understood the ILP concept, and only 4 people (26.7%) routinely carried out recording and reporting according to ILP standards. The survey results also showed that only 33% of Posyandu activities had integrated maternal and child health services, immunization, nutrition, and non-communicable diseases comprehensively. This activity aims to improve the capacity and role of health cadres in implementing ILP-based Posyandu through structured training and mentoring. Method: The method used was health education through counseling, participatory training, hands-on practice, and evaluation with pre-test and post-test. This activity was carried out over three weeks and involved all active cadres in Tegalrejo Hamlet.The activity showed an increase in the average cadre knowledge score from 59.3 (pre-test) to 85.7 (post-test). In addition, 80% of cadres showed improved skills in conducting simple screenings, service recording, and public education. Participatory-based training and intensive mentoring can effectively improve the capacity of cadres in implementing ILP-based Posyandu. Recommendation: This activity recommends continuous support from the Community Health Center (Puskesmas), village government, and strengthening the monitoring and evaluation system for cadres to ensure optimal and sustainable ILP implementation.   ABSTRAK Pelaksanaan Posyandu sebagai bagian dari pelayanan kesehatan tingkat dasar memiliki peran vital dalam mendukung upaya promotif dan preventif, terutama dalam mewujudkan Integrasi Layanan Primer (ILP). Namun, implementasi ILP di tingkat posyandu masih menghadapi berbagai kendala, khususnya terkait peran kader kesehatan. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan pada Februari 2025 di Dusun Tegalrejo, Desa Lerep, Kabupaten Semarang, diketahui bahwa dari 15 kader aktif, hanya 6 orang (40%) yang memahami secara menyeluruh konsep ILP, dan hanya 4 orang (26,7%) yang rutin melakukan pencatatan dan pelaporan sesuai standar ILP. Hasil survei juga menunjukkan bahwa hanya 33% dari kegiatan posyandu telah mengintegrasikan layanan kesehatan ibu dan anak, imunisasi, gizi, serta penyakit tidak menular secara menyeluruh. kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kapasitas dan peran kader kesehatan dalam pelaksanaan Posyandu ILP melalui pelatihan dan pendampingan yang terstruktur. yang digunakan adalah pendidikan kesehatan melalui penyuluhan, pelatihan partisipatif, praktik langsung, dan evaluasi dengan pre-test dan post-test. Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga minggu dan melibatkan seluruh kader aktif di Dusun Tegalrejo. kegiatan menunjukkan adanya peningkatan skor pengetahuan kader dari nilai rata-rata 59,3 (pre-test) menjadi 85,7 (post-test). Selain itu, 80% kader menunjukkan peningkatan keterampilan dalam melakukan skrining sederhana, pencatatan pelayanan, dan edukasi kepada masyarakat. dari kegiatan ini adalah bahwa pelatihan berbasis partisipatif dan pendampingan intensif dapat meningkatkan kapasitas kader dalam menjalankan peran pada pelaksanaan Posyandu ILP secara efektif. Rekomendasi kegiatan ini adalah perlunya dukungan berkelanjutan dari Puskesmas, pemerintah desa, serta penguatan sistem monitoring dan evaluasi kader agar implementasi ILP dapat berjalan optimal dan berkelanjutan.
Pendampingan Guru dalam Pencegahan Sindrom Metabolik di SMA N 1 Bergas, Kabupaten Semarang Afiatna, Puji; Sugeng Maryanto; Umi Setyoningrum; Untari; Anisa Puspitasari
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 7 No. 1 (2025): Indonesian Journal of Community Empowerment Mei 2025
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v7i1.4080

Abstract

Metabolic syndrome is a condition that can lead to the development of cardiovascular disease (CVD), coronary heart disease (CHD), and type 2 diabetes mellitus (T2DM). These diseases are frequently referred to as "noncommunicable diseases," and they account for the highest global mortality rates. The occupation of school teachers has been identified as a profession with a high risk of obesity. This is due to the fact that teachers engage in relatively sedentary daily activities, exhibit excessive eating patterns, frequently engage in snacking, and consume foods that are high in calories and carbohydrates. This condition places school teachers at high risk of developing metabolic syndrome and may adversely impact their performance. It is imperative to enhance our understanding and competencies regarding metabolic syndrome and its prevention. A series of educational initiatives have been implemented to promote the prevention of metabolic syndrome among teaching professionals. These initiatives employ a multifaceted approach, incorporating lecture-style presentations, interactive discussions, and hands-on demonstrations. The content of these sessions encompasses an in-depth examination of metabolic syndrome, its underlying causes, the ramifications it can have on individuals, and effective strategies for its prevention. Prior to the commencement of the activity, a series of anthropometric measurements and health assessments were conducted. Additionally, the presentation encompassed material on the role of functional foods in the prevention of metabolic syndrome, along with the processing of healthy foods. Demonstrations of food portioning according to nutritional needs and metabolic syndrome prevention exercises were carried out. The results obtained after the material was administered revealed a 26.55-point increase in the average score of teacher knowledge. A substantial majority of teachers exhibit a commendable degree of pedagogical expertise, with a notable 93.1% demonstrating a high level of proficiency. Teachers' curiosity about the prevention of metabolic syndrome has been shown to encourage active participation in activities. The subject displays a high level of motivation.   ABSTRAK Sindrom metabolik merupakan kondisi yang dapat berkembang menjadi penyakit  gagal jantung (CVD), jantung coroner (CHD) dan diabetes melitus tipe 2 (T2DM). Penyakit tersebut yang sering disebut ”noncommunicable diseases” dan penyebab utama kematian di dunia. Guru sekolah merupakan kelompok dengan risiko obesitas tinggi karena memiliki aktivitas harian tergolong ringan, pola makan yang berlebih, sering ngemil, makan makanan tinggi kalori dan karbohidrat. Kondisi ini menyebabkan guru sekolah berisiko tinggi mengalami sindrom metabolik dan akan berdampak pada performa guru. Diperlukan peningkatan pengetahuan dan keterampilan menganai sindrom metabolik dan pencegahannya. Kegiatan pendampingan pencegahan sindrom metabolik pada guru dilakukan dengan metode ceramah, diskusi dan demonstrasi mengenai sindrom metabolik, faktor penyebab, dampak dan pencegahannya. Kegiatan didahului dengan pengukuran antropometri dan pemeriksaan kesehatan. Selanjutnya disampaikan materi mengenai pangan fungsional untuk pencegahan sindrom metabolik dan pengolahan makanan yang sehat. Dilakukan demonstrasi pemorsian makanan sesuai kebutuhan gizi dan senam pencegahan sindrom metabolik. Hasil yang didapat setelah diberikan materi adalah meningkatnya rerata skor pengetahuan guru  sebesar 26,55 poin. Hampir seluruh guru memiliki tingkat pengetahuan guru menjadi baik (93,1%). Keingintahuan guru yang mengenai pencegahan sindrom metabolik menjadi penyemangat guru untuk aktif mengikuti kegiatan. Motivasi yang tinggi untuk memiliki pola makan dan pola hidup yang lebih sehat merupakan dasar perubahan perilaku menjadi perilaku yang lebih sehat.
Pelatihan Penanganan Cedera Ringan dengan Teknik Pembalutan dan Pembidaian Metode Drill and Practice pada Remaja di Dusun Sendang Putri Desa Nyatnyono Puji Lestari; Umi Setyoningrum; Liyanovitasari; Muhamad Sandi Rizki; Aditya Putra
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 7 No. 2 (2025): Indonesian Journal of Community Empowerment November 2025
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v7i2.4440

Abstract

Minor injuries caused by physical activities are a common health issue faced by young people. Often, incorrect initial management traditionally can worsen the injury condition. This community service program is designed to enhance the understanding and skills of adolescents in handling minor injuries through counseling and training on bandaging and immobilization techniques using the drill and practice method. The training takes place in Dusun Sendang Putri RW 06, Desa Nyatnyono, and involves 20 adolescents aged 15 to 20 years. The methods used include interactive lectures, demonstrations, repetitive practice, discussions, and evaluations. The results of this activity show an increase in the knowledge and skills of the participants, evident from their ability to explain procedures as well as to independently apply bandaging and suturing techniques. The drill and practice approach has proven successful in enhancing the participants' confidence and accuracy in practice. This training is expected to contribute to the formation of responsive and skilled adolescents in providing first aid for minor injuries in their surroundings.   ABSTRAK Cedera ringan yang disebabkan oleh aktivitas fisik merupakan masalah kesehatan yang sering dihadapi oleh anak muda. Seringkali, penanganan awal yang dilakukan secara tidak benar secara tradisional dapat memperburuk kondisi cedera tersebut. Program pengabdian masyarakat ini dirancang untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan remaja dalam menangani cedera ringan melalui penyuluhan serta pelatihan mengenai teknik pembalutan dan pembidaian dengan metode drill and practice. Pelatihan ini berlangsung di lingkungan Dusun Sendang Putri RW 06 Desa Nyatnyono dan melibatkan peserta remaja berusia 15 hingga 20 tahun yang berjumlah 20 orang remaja. Metode yang digunakan mencakup ceramah interaktif, demonstrasi, praktik berulang, diskusi, dan evaluasi. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan dalam pengetahuan dan keterampilan peserta, terlihat dari kemampuan mereka untuk menjelaskan prosedur serta mengaplikasikan teknik pembalutan dan pembidaian secara mandiri. Pendekatan drill and practice terbukti berhasil dalam meningkatkan kepercayaan diri dan akurasi praktik peserta. Pelatihan ini diharapkan bisa berkontribusi pada pembentukan remaja yang responsif dan terampil dalam memberikan pertolongan pertama untuk cedera ringan di lingkungan sekitar.