Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Upaya Cepizi (Cegah Picky Eater Melalui Peningkatan Pengetahuan Ibu Tentang Gizi Seimbang) pada Anak Prasekolah Fiki Wijayanti Wijayanti; Umi Setyoningrum; Puji Afiatna
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 4 No. 2 (2022): Indonesian Journal of Community Empowerment November 2022
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.125 KB) | DOI: 10.35473/ijce.v4i2.1905

Abstract

Picky eaters in children have strong food preferences, have limited intake (especially vegetables), and are unwilling to try new foods. The eating behavior of parents cannot be separated from their daily habits. Parents have a big role in providing and regulating the child's diet. Parents should first pay attention to how to eat themselves before applying to their children. The purpose of the service is to prevent picky eater behavior in preschool children at Attoyibah PAUD. The place for service at PAUD Attoyibah Gedang Anak is carried out in August 2022. The target of this activity is mothers who have preschool age children who attend PAUD Attoyibah. The results obtained are increased knowledge of mothers about preventing picky eater behavior by fulfilling balanced nutrition in children. Suggestions for parents to make food variations to prevent picky eater behavior in childrenABSTRAKPicky eater pada anak adalah perilaku memilih - milih makan, memiliki preferensi makanan yang kuat, memiliki asupan terbatas (terutama sayuran), dan yang tidak mau mencoba makanan baru. Perilaku makan orang tua tidak terlepas dari kebiasaan yang dilakukan sehari-hari. Orang tua mempunyai peran besar dalam memberikan dan mengatur pola makan anak. Sebaiknya terlebih dahulu orangtua memperhatikan cara makan sendiri sebelum mengaplikasikan kepada anaknya. Tujuan pengabdian yang dilakukan adalah untuk mencegah perilaku picky eater pada anak prasekolah di PAUD Attoyibah. Tempat dilakukan pengabdian di PAUD Attoyibah gedang anak dilakukan pada bulan agutus 2022. Sasaran pada kegiatan ini adalah ibu yang mempunyai anak usia prasekolah yang bersekolah di PAUD attoyibah. Hasil yang didapatkan adalah bertambhanya pengetahuan ibu tentang pencegahan perilaku picky eater dengan pemenuhan gizi seimbang pada anak. Saran bagi orang tua untuk melakukan variasi makanan untuk mencegah perilaku picky eater pada anak.
Gambaran Harga Diri Remaja yang Mengalami Body Shaming Liyanovitasari; Umi Setyoningrum
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2022): Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan, July 2022
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.641 KB) | DOI: 10.35473/proheallth.v4i2.1758

Abstract

Self-esteem is an individual's attitude based on the perception of how he appreciates and evaluates himself as a whole, which is a positive or negative attitude towards himself. Self-esteem is divided into six components, namely overall self-esteem, social competence, problem-solving abilities, intellectual abilities, selfefficacy and a sense of worth in the eyes of others. Self-esteem is part of one's self-concept that must be improved so that one's quality becomes better. Body shaming can reduce adolescent self-esteem which is influenced by one factor such as weight gain. The purpose of this study is to describe the self-esteem of adolescents who experience Body Shaming. This research is a quantitative research with a descriptive survey approach. The population of this study was 2,453 students at Ngudi Waluyo University Ungaran. The sample in this study were 96 students with proportionate random sampling technique. Measuring self-esteem using Coopersmith self-esteem questionnaire. The results showed that 53 students (55.2%) had low self-esteem, 27 students (28.1%) moderate self-esteem, and 16 students (16.7%) had high self-esteem. Most of the students' self-esteem who experienced body shaming was in the low self-esteem category of 53 students (55.2%). Students are expected to increase their selfesteem when responding to body shaming by thinking positively, realizing their strengths and abilities, and carrying out good interpersonal relationships. ABSTRAK Harga diri merupakan sikap individu berdasarkan persepsi tentang bagaimana ia menghargai dan menilai dirinya sendiri secara keseluruhan, yang berupa sikap positif atau negatif terhadap dirinya. Harga diri terbagi atas enam komponen yaitu harga diri keseluruhan, kompetensi sosial, kemampuan memecahkan masalah, kemampuan intelektual, kemampuan diri dan rasa berharga di mata orang lain. Harga diri menjadian bagian dari konsep diri seseorang yang harus ditingkatkan agar kualitas seseorang menajdi lebih baik. Body shaming dapat menurunkan harga diri remaja yang dipengaruhi oleh salah satu faktor seperti kenaikan berat badan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran harga diri remaja yang mengalami Body Shaming. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan survey deskriptif. Populasi penelitian ini adalah 2.453 mahasiswa di Universitas Ngudi Waluyo Ungaran. Sampel dalam penelitian ini yaitu sebanyak 96 mahasiswa dengan teknik pengambilan sampel proportionate random sampling. Alat ukur harga diri menggunakan kuesioner selfesteem coopersmith. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang mengalami harga diri rendah sebanyak 53 mahasiswa (55,2%), harga diri sedang 27 mahasiswa (28,1%), dan mahasiswa dengan harga diri tinggi sejumlah 16 mahasiswa (16,7%). Sebagian besar harga diri mahasiswa yang mengalami body shaming adalah kategori harga diri rendah sebesar 53 mahasiswa (55,2%). Mahasiswa diharapkan dapat meningkatkan harga diri saat menyikapi body shaming dengan cara berpikir positif, menyadari kelebihan dan kemampuan yang dimiliki, serta menjalankan hubungan interpersonal dengan baik.
Edukasi Pemenuhan Gizi Seimbang pada Anak Sekolah Natalia Devi Oktarina; Fiki Wijayanti; Umi Setyoningrum
Jurnal Pengabdian Perawat Vol. 2 No. 2 (2023): November 2023
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32584/jpp.v2i2.2401

Abstract

Pedoman gizi seimbang perlu diperkenalkan kepada anak-anak. Salah satu cara yang dapat dilakukan ialah dengan pendidikan gizi. Hasil penelitian Februhartanthy membuktikan bahwa pendidikan gizi yang dilakukan pada anak usia sekolah efektif untuk mengubah pengetahuan dan sikap terhadap makanan. Anak usia sekolah lebih mudah untuk mengubah perilaku dibandingkan dengan orang dewasa. Tim pengabdian masyarakat dari Universitas Ngudi Waluyo memberikan edukasi tentang gizi seimbang yang diberikan kepada anak usia sekolah. Tujuan program pengadian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan anak usia sekolah dasar mengenai pedoman gizi seimbang. Pengetahuan akan memengaruhi sikap dan praktik gizi seimbang dalam keseharian. Praktik gizi seimbang diharapkan dapat mengurangi masalah gizi di kalangan anak.
HUBUNGAN DUKUNGAN EMOSIONAL TEMAN SEBAYA DENGAN KONSEP DIRI REMAJA liyanovitasari liyanovitasari; Umi Setyoningrum
Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat Cendekia Utama Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat Cendekia Utama
Publisher : STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jcu.v12i3.1356

Abstract

ABSTRAKKonsep diri merupakan konsep dasar mengenai diri sendiri, termasuk pikiran dan opini pribadi, kesadaran akan siapa dirinya, dan bagaimana perbandingan dirinya dengan orang lain, serta idealisme yang telah dikembangkannya. Dukungan emosional teman sebaya dapat mempengaruhi konsep diri remaja. Dukungan yang diterima remaja dari lingkungan teman sebayanya baik berupa dorongan semangat, perhatian, dan kasih sayang, maka individu tersebut cenderung mengembangkan sikap positif terhadap dirinya sendiri lebih menerima dan menghargai dirinya sendiri yang menyebabkan konsep diri remaja menjadi positif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan emosional teman sebaya dengan konsep diri remaja SMK Negeri 1 Pringapus. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional . Populasi penelitian ini adalah 856 Siswa SMK Negeri 1 Pringapus. Sampel dalam penelitian ini yaitu sebanyak 273 siswa dengan teknik pengambilan sampel proportional random sampling. Alat ukur penelitian ini menggunakan kuesioner yakni kuesioner dukungan emosional teman sebaya dan kuesioner skala Tennessee Self Concept Scale (TSTCS). Uji analisis ini menggunakan uji Kendall tau. Penelitian menunjukkan bahwa dukungan emosional teman sebaya baik (61.95%) dan dukungan emosional teman sebaya sedang (38.1%). Adapun siswa yang memiliki konsep diri positif (89%), sedangkan yang memiliki konsep diri negatif (11%). Hasil uji Kendall tau diperoleh nilai p value 0,000 (?=0,05), yang berarti bahwa ada hubungan dukungan emosional teman sebaya dengan konsep diri remaja. Adapun koefisien korelasi 0.424 menunjukan adanya korelasi yang positif dengan tingkat kekuatan hubungan yang cukup.  Kata kunci      : dukungan emosional teman sebaya, konsep diri, remaja  ABSTRACTSelf-concept is the basic concept of oneself, including personal thoughts and opinions, awareness of who one is, and how one compares to others, and the idealism one has developed. Peer emotional support can affect adolescent self-concept. The support that adolescents receive from their peer environment in the form of encouragement, attention, and affection, the individual tends to develop a positive attitude towards himself, is more accepting and appreciative of himself, which causes the adolescent's self-concept to be positive. This study aims to determine the relationship between peer emotional support and self-concept of adolescents at SMK Negeri 1 Pringapus. This research is a quantitative research with a cross sectional approach. The population of this research is 856 students of Pringapus 1 Public Vocational School. The sample in this study were 273 students using the proportional random sampling technique. The measuring tool for this study used a questionnaire, namely a peer emotional support questionnaire and a Tennessee Self Concept Scale (TSTCS) questionnaire. Test this analysis using the Kendall tau test. Research shows that peer emotional support is good (61.95%) and peer emotional support is moderate (38.1%). As for students who have a positive self-concept (89%), while those who have a negative self-concept (11%). The Kendall tau test results obtained a p value of 0.000 (?=0.05), which means that there is a relationship between peer emotional support and adolescent self-concept. The correlation coefficient of 0.424 indicates a positive correlation with a sufficient level of relationship strength. Keywords  : peer emotional support, self-concept, adolescent
Edukasi Asertif Dan Berpikir Positif Dalam Mengatasi Trauma Akibat Bullying Liyanovitasari Liyanovitasari; Suwanti Suwanti; Umi Setyoningrum
SALUTA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/sjpkm.v3i2.13400

Abstract

ABSTRAKIndonesia merupakan negara dengan kasus bullying di sekolah yang paling banyak pelaporan masyarakat kekomisi perlindungan anak. KPAI mencatat 369 pelaporan terkait masalah tersebut 25 % dari jumlah tersebut merupakan pelaporan di bidang pendidikan yaitu sebanyak 1.480 kasus. Dampak yang terjadi akibat perilaku bullying ialah menyendiri, menangis, minta pindah sekolah, konsentrasi anak berkurang, prestasi belajar menurun, tidak mau bersosialisasi. Oleh sebab itu, untuk menghindari dampak psikologis akibat bullying adalah edukasi asertif dan berpikir positif. Semakin tinggi perilaku asertif siswa maka semakin rendah kecenderungan menjadi berperilaku bullying, demikian juga korban bullying, semakin rendah perilaku asertif maka semakin tinggi kecenderungan menjadi korban bullying. Peserta kegiatan pengabdian ini adalah siswa SMK Islam Sudirman Ungaran berjumlah 30 siswa. Kegiatan pengabdian ini terdiri dari empat tahap. Tahap pertama, tentang penyampaian materi konsep remaja yang mencakup definisi, perubahan fisik dan psikologis pada tahap remaja. Materi ini akan disampaikan 10 menit. Tahap kedua, penyampaian materi konsep bullying yang mencakup definisi, tanda gejala, penyebab, dampak, dan penanganan bullying selama 10 menit. Tahap ketiga, penyampaian materi cara pencegahan trauma bullying dengan teknik asertif dan berpikir positif selama 20 menit. Tahap keempat, siswa mendemonstrasikan teknik asertif dan berpikir positif secara bergantian. Hasil yang didapatkan bahwa pengetahuan siswa meningkat setelah diberikan edukasi asertif dan berpikir positif yaitu 5,84 menjadi 8,63. Diharapkan setiap siswa membiasakan berpikir positif dan berperilaku asertif dalam menghadapi suatu masalah sehingga kesehatan mental remaja tetap terjaga.
Penerapan Relaksasi BENSON Dalam Mengatasi Kecemasan Lansia Hipertensi Liyanovitasari; Umi Setyoningrum; Wulansari Wulansari
Jurnal Pengabdian Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 3 (2023): November: Jurnal Pengabdian Ilmu Kesehatan
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jpikes.v3i3.2775

Abstract

ABSTRAK Estimasi jumlah kasus hipertensi di Indonesia sebesar 63.309.620 orang, sedangkan angka kematian di Indonesia akibat hipertensi sebesar 427.218 kematian. Penyakit hipertensi ini menyebabkan dampak pada perubahan psikologis lansia seperti kecemasan yang dikarenakan penyakit fisik yang tidak kunjung sembuh. Salah satu penatalaksanaan kecemasan yaitu dengan terapi relaksasi benson. Terapi Relaksasi Benson merupakan teknik relaksasi dengan melibatkan unsur keyakinan dalam bentuk kata-kata keyakinan yang dianut oleh pasien. Pada masa lansia ini cenderung untuk lebih meningkatkan spiritualnya dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sasaran program pengabdian kepada masyarakat ini yaitu lansia sejumlah 35 orang di Desa Gogik Ungaran Barat. Pengabdian ini dilakukan melalui tiga tahap, tahap pertama adalah pengukuran tekanan darah dan kecemasan menggunakan alat ukur HARS (Hamilton anxiety rating scale), tahap kedua penyampaian materi berupa pemberian edukasi konsep hipertensi lansia, konsep kecemasan, dan mengajarkan terapi relaksasi benson. Setelah pengabdian ini, lansia diminta untuk mempraktikkan secara mandiri di rumah dengan cara melakukan terapi benson dua kali dalam sehari selama sepuluh hari. Tahap ketiga adalah evaluasi dengan memberikan beberapa pertanyaan mengenai terapi relaksasi benson yang bertujuan untuk mengukur pengetahuan lansia mengenai terapi ini. Hasil skrining kecemasan didapatkan 25 dari 35 lansia (71,4%) mengalami kecemasan. Hasil pengabdian ini terdapat peningkatan pengetahuan lansia setelah diberikan relaksasi benson,yaitu dari rata-rata 6,00 meningkat menjadi 9,56. Lansia disarankan untuk dapat mengelola kecemasan dengan cara melakukan relaksasi benson. Selain dapat membuat tekanan darah menjadi normal, juga dapat meningkatkan kesehatan mental lansia. Kata kunci : Lansia, kecemasan, relaksasi benson
Hubungan Pengetahuan tentang Scabies dengan Kejadian Scabies pada Remaja Santri di Pondok Pesantren Darussalam Desa Gebugan Kecamatan Bergas Kabupaten Semarang M Nur Dhuha; setyoningrum, umi
Indonesian Journal of Nursing Research (IJNR) Vol. 6 No. 1 (2023)
Publisher : Program Studi S1 Keperawatan Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijnr.v6i1.2031

Abstract

Scabies is a skin disease that is often found in dense residential areas such as Islamic boarding schools. If this disease is not cured, it will disturb the rest and comfort of the students, which in turn hinders the achievement of learning outcomes. One of the factors that influence the incidence of scabies is the knowledge of students regarding the disease. This research to determine the relationship between knowledge and the incidence of scabies in adolescent students at the Darussalam Islamic Boarding School, Bergas , Semarang Regency. Design research is descriptive correlative with a cross sectional approach. The population of this research is students at the Darussalam Islamic Boarding School,  Bergas District, Semarang Regency with a sample of 78 people taken by random sampling technique. The data collection tool used was a questionnaire and the data were analyzed by using the chi square test which was processed by the SPSS data processing program. Most of the students who had knowledge about scabies were in the sufficient category, as many as 53 of 78 respondents (67.9%). Most students were not scabies, as many as 54 of 78 respondents (69.2%). There is a relationship of knowledge with the incidence of scabies in adolescent students at the Darussalam Islamic Boarding School, Bergas District, Semarang Regency, obtained p value of 0.001 < (0.05). It is better for students to improve their knowledge and personal hygiene and the Islamic boarding school should carry out periodic mass treatment and health education on an ongoing basis.   Abstrak Scabies merupakan penyakit kulit yang banyak ditemukan di lingkungan padat hunian seperti pondok pesantren. Penyakit ini jika tidak disembuhkna menganggu istirahat dan kenyamanan santri yang pada akhirnya menghambat pencapaian hasil belajar. Salah satu faktor yang mempengaruhi kejadian scabies adalah pengetahuan santri terkait penyakit tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan tentang scabies dengan kejadian scabies pada remaja santri di Pondok Pesantren Darussalam Desa Gebugan Kecamatan Bergas Kabupaten Semarang.  Desain penelitian ini deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini remaja Pondok Pesantren Darussalam Bergas Kabupaten Semarang dengan sampel 78 orang. Teknik random sampling. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner dan data dianalisis dengan uji chi square yang diolah dengan program pengolahan data SPSS. Remaja santri sebagian besar mempunyai pengetahuan tentang scabies kategori cukup yaitu sebanyak  53 dari 78 responden (67,9%). Remaja sebagian besar  tidak scabies yaitu sebanyak  54 dari 78 responden (69,2%). Ada hubungan pengetahuan tentang scabies dengan kejadian scabies pada remaja Pondok Pesantren Darussalam Bergas Kabupaten Semarang, didapatkan  p value sebesar 0,001 < α (0,05). Pengetahuan dan personal hygiene remaja pondok pesantren sebaiknya ditingkatkan dengan melakukan pengobatan masal berkala dan penyuluhan kesehatan secara berkesinambungan.
Perbedaan Tanda Neuropati Perifer Diabetik Sebelum dan Sesudah Dilakukan Senam Kaki Diabetik pada Penderita DM Tipe 2 di Desa Nglorog Setyoningrum, Umi; Dhani Setyani
Indonesian Journal of Nursing Research (IJNR) Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : Program Studi S1 Keperawatan Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijnr.v7i1.3141

Abstract

Diabetes Melitus (DM) is a group of metabolic disease characterized by hyperglicemia resulting from defects in insulin secretion, insulin action, or both.the most common type of diabetes is type 2 of Diabetes Melitus. Type 2 of Diabetes Melitus has several complications, one of which is microvascular complication, that called neuropathy which result in decreased foot sensitivity. The appropriate diabetes management, one of wich is physical exercise with diabetic foot exercise. Diabetic foot exercise is a physical exercise that can be done by DM sufferers and non-DM sufferers with the aim of helping improve blood circulation in the legs. The aim To analyze different symptom of diabetic peripheral neuropathy before and after foot diabetic exercise on pasient with type 2 of Diabetes Melitus in Nglorog Village, Pringsurat District, Temanggung Regency. Research design with pre-experimental with one group pretest-posttest design with sampling technique using purposive sampling obtained 30 samples. Data analysis used the Wilcoxon statistical test. The result After the intervention of diabetic foot exercise, as many as 27 type 2 of DM patients experienced negative diabetic peripheral neuropathy. Bivariate analysis showed that there was an different symptom of diabetic peripheral neuropathy before and after foot diabetic exercise on type 2 of DM patients in Nglorog Village, Pringsurat District, Temanggung Regency with a p-value of 0.000. The results of this study can be used as input for the community, especially the residents of Nglorog Village to practice it independently in their respective homes to improve blood flow so that diabetic peripheral neuropathy does not occur. Abstrak Diabetes Melitus (DM) adalah sekelompok penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia akibat gangguan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Diabetes yang paling sering terjadi adalah DM tipe 2. Diabetes Melitus tipe 2 memiliki beberapa komplikasi, salah satunya komplikasi mikrovaskuler yaitu neuropati yang mengakibatkan penurunan sensitivitas kaki. Manajemen diabetes yang baik, salah satunya adalah latihan fisik dengan senam kaki diabetik. Senam kaki diabetik adalah latihan fisik yang bisa dilakukan oleh penderita DM maupun bukan penderita DM dengan tujuan untuk membantu memperlancar peredaran darah bagian kaki. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis perbedaan tanda neuropati perifer diabetik sebelum dan sesudah dilakukan senam kaki diabetik pada penderita DM tipe 2 di Desa Nglorog, Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung. Desain penelitian dengan pre eksperimental dengan rancangan one group pretest-postest dengan kuesioner skor Diabetic Neuropathy Symptoms (DNS) dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling didapatkan 30 sampel. Analisis data menggunakan uji statistik Wilcoxon. Hasil setelah dilakukan intervensi senam kaki diabetik, sebanyak 27 penderita DM tipe 2 mengalami negatif neuropati perifer diabetik. Analisa bivariat menunjukkan ada perbedaan tanda neuropati perifer diabetik sebelum dan sesudah dilakukan senam kaki diabetik pada penderita DM tipe 2 di Desa Nglorog, Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung dengan p value 0,000. Saran dari hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan bagi mayarakat khususnya warga Desa Nglorog untuk mempraktikkanya secara mandiri di rumah masing-masing untuk memperlancar aliran darah sehingga tidak terjadi neuropati perifer.
Hubungan Dukungan Keluarga dengan Perilaku Lansia dalam Pengendalian Hipertensi Lavenia Tamu Ina, Nensy; Setyoningrum, Umi
Jurnal Keperawatan Berbudaya Sehat Vol. 1 No. 1 (2023): Januari 2023
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jkbs.v1i1.2148

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang sering disebut sebagai silent killer. Seiring terus meningkat angka kejadian yang akhirnya menambah jumlah angka kematiannya. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah dukungan keluarga. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan tindakan lansia dalam pengendalian hipertensi di Puskesmas Lerep Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang. Desain penelitian ini deskriptif korelasional dengan pendekatan cross sectional.Populasi dalam penelitian ini adalah lansia penderita hipertensi di Puskesmas Lerep Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang yaitu sebanyak 95 lansia dengan sampel sebanyak 49 orang yang diambil dengan teknik accidental sampling. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner. Data di analisis menggunakan uji kendall’s tau dihitung menggunakan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan keluarga pada lansia sebagian besar kategori baik (67,3%).Tindakan lansia dalam pengendalian hipertensi sebagian besar kategori baik (51,0%). Terdapat hubungan positif yang bermakna dukungan keluarga dengan tindakan lansia dalam pengendalian hipertensi, didapatkan nilai ι sebesar 0,543 (positif) dan pvalue sebesar 0,000 < 0,05 (α). Bagi penderita hipertensi dianjurkan memperbaiki perilaku diet yaitu memasak sendiri makanan yang dikonsumsi sehingga dapat mengendalikan asupa garam.
Gambaran Kualitas Hidup Orang dengan HIV/ AIDS Liyanovitasari; Setyoningrum, Umi
Jurnal Keperawatan Berbudaya Sehat Vol. 2 No. 2 (2024): Juli 2024
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jkbs.v2i2.3138

Abstract

HIV/AIDS selalu menjadi permasalahan kesehatan global diseluruh dunia, dengan prevalensi pada tahun 2022 mencapai sekitar 39 juta orang yang hidup dengan HIV. Kondisi fisik yang buruk ditambah adanya stigma buruk masyarakat menyebabkan ODHA mengalami masalah psikologis seperti stress, depresi hingga menyakiti diri sendiri yang berdampak signifikan terhadap kualitas hidup. Penelitian untuk mengetahui gambaran kualitas hidup penderita ODHA. Jenis pendekatan kuantitatif dengan rancangan deskriptif. Populasi adalah penderita ODHA di Puskesmas Bergas sejumlah 117 orang. Jumlah sampel 90 responden dengan teknik convenience sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner WHOQOL-HIVBREF sebanyak 31 butir pertanyaan. Hasil penelitian didapatkan kualitas hidup pasien ODHA dengan kualitas hidup buruk sebesar 51,1%, kualitas hidup sedang sebesar 27,8%, kualitas hidup baik sebesar 14,4%, dan kualitas hidup sangat buruk sebesar 6,7%. Simpulan kualitas hidup penderita ODHA sebagian besar adalah buruk. Diharapkan kepada ODHA agar memperhatikan kualitas hidup yang baik dengan cara menjaga pola hidup sehat dengan makanan yang bernutrisi, olahraga seimbang, berfikir positif, minum obat secara teratur serta mampu menerima diri sendiri dengan segala perubahan pada diri ODHA.