Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP VAKSINASI COVID-19 (Studi Kasus Pada Lansia Desa Kole Kecamatan Ambalawi Kabupaten Bima) Hijratunnisa Hijratunnisa; Irfan Irfan; Nurnazmi Nurnazmi
Edu Sociata : Jurnal Pendidikan Sosiologi Vol 5 No 2 (2022): Edusociata: Jurnal Pendidikan Sosiologi
Publisher : Edu Sociata : Jurnal Pendidikan Sosiologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33627/es.v5i2.1004

Abstract

Pernyataan yang menggambarkan vaksinasi untuk warga lanjut usia kecamatan ambalawi kabupaten bima NTB masih rendah. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Sumbar hingga Juni 2022, realisasi vaksinasi lansia baru mencapai sebayak 1905 Orang. Dan yang melakukan vaksin dengan beberapa tahap yaitu: 498 orang (vaksin 1=209, Vaksin 2.=183, Vaksin 3=106) dan dari banyaknya yang divaksin masyarakat (Kelompok Lansia) hanya mencapai 23 Orang dengan jumlah lansia yang ada didesa kole yaitu 76 orang. Persepsi yang salah, pengetahuan yang kurang, serta informasi yang kurang menjadi penyebab kurangnya kepatuhan lansia dalam mengikuti program vaksinasi Covid-19. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan persepsi lansia di Desa Kole Kecamatan Ambalawi Kabupaten Bima NTB terhadap vaksinasi Covid-19. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi fenomenologi dengan metode wawancara mendalam. Pemilihan Informan yang digunakan yaitu metode purposive sampling. Jumlah informan dalam penelitian ini sebanyak 6 orang lansia di Desa Kole Kecamatan Ambalawi Kabupaten Bima NTB. Hasil penelitiannya didapatkan 3 temuan yaitu keterbatasan pengetahuan lansia tentang vaksinasi Covid-19, ketidaksiapan lansia dalam mengikuti program vaksinasi, dan kurangnya dukungan keluarga. Diharapkan dengan adanya penelitian ini, pelayanan yang diberikan oleh puskesmas wilayah setempat lebih baik lagi terutama dalam memberikan edukasi atau pendidikan kesehatan kepada masyarakat terutama lansia terkait vaksinasi Covid-19
MAKNA SIMBOLIK TRADISI COMPO SAMPARI DAN COMPO BAJU DALAM KAJIAN TEORI INTERAKSIONISME SIMBOLIK TEORI HERBERT BLUMER (Studi Desa Simpasai Kecamatan Lambu Kabupaten Bima) Nurhasanah Nurhasanah; Bunyamin Bunyamin; Nurnazmi Nurnazmi
Edu Sociata : Jurnal Pendidikan Sosiologi Vol 5 No 2 (2022): Edusociata: Jurnal Pendidikan Sosiologi
Publisher : Edu Sociata : Jurnal Pendidikan Sosiologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33627/es.v5i2.1006

Abstract

Masyarakat Suku Bima (Mbojo) memiliki tradisi yang disebut upacara adat dan sampai sekarng masih dilestarikan oleh masyarakat Bima, lebih khususnya pada masyarakat Lambu Kabupaten Bima. istilah sunatan disebut Suna Ro Ndoso (Compo Sampari dan Compo Baju). Prosesi adat sudah mentradisi sejak Bima kuno terutama mewarisi tradisi Hindu di masa lampau. Ketika Islam menjadi agama Kerajaan Bima, prosesi adat menjadi alat pemersatu bagi orang-orang yang tergabung dalam tradisi. Tujuan penelitian ini Untuk mendeskripsikan Tata Cara Pelaksanaan Compo Sampari dan Compo Baju Dalam Kajian Interaksionisme Simbolik. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi model tinjauan sosial budaya, penelitian yang digunakan untuk meneliti pada tempat yang alamiah, dan penelitian tidak membuat perlakuan, katena peneliti dalam mengumpulkan data bersifat emic, yaitu berdasarkan pandangan dari sumber data, bukan pandangan peneliti (Sugiyono, 2011: 218). Informan penelitian adalah masyarakat pelaksana tradisi compo sampari dan compo kanefe, penentuan informan dengan cara purposive sampling yakni dengan kriteria tertentu krena tidak semua masyarakat melaksanakan tradisi ini. Teknik pengumpulan data yakni wawancara, observasi dan dokumentasi dan dilengkapi dengan instrumen penelitian, kemudian analisis data dengan display data, ferifikasi data, uji keabsahan data dan kesimpulan. Hasil penelitian yakni Compo Sampari dan Compo Baju sendiri merupakan hal yang tidak terpisahkan bagi seseorang untuk menuju kedewasaan dalam hal ini masyarakat Suku Bima yang berada di Desa Simpasai Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima karena menurut sebagian adat dan tradisi, hal tersebut menandakan seseorang akan menuju kedewasaan adalah harus dengan disunat. Gagasan makna tradisi compo sampari dan compo baju menjadi suatu nilai budaya yang berkaitan langsung dengan doktrin tauhid dan aqidah yang menjadi dasar bagi pemeluk agama Islam