Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Integrasi Komponen Nonmanusia Dalam Meningkatkan Brandawarness PT. Jinan Nusantarafood Group Pada Media Baru ( Analisis Teori Jaringan Aktor Bruno Latour ) Agung Putra Mulyana; Muhammad Irfan
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 3 No. 1 (2023): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v3i1.2507

Abstract

Perkembangan teknologi saat ini terjadi beberapa proses, seperti halnya komunikasi yang mulai dari komunikasi tradisional sampai menjadi teknologi digital . Seperti halnya menyampaikan pesan pada saat ini memiliki kecenderungan ke arah digitalisasi dengan berbagai platform yang tersedia. Karena kemudahan internet yang diakses cukup mudah dan luas, bahkan pihak korporasi juga memiliki peran besar dalam menggerakan produk perusahaannya dengan memanfaatkan media digital dengan membentuk sebuah jaringan. Penelitian yang digunakan yaitu deskrptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan teori jaringan aktor Bruno Latour sebagai analisa hasil temuan. Dalam proses terbentuknya citra perusahaan ditemukan integrasi antara aktan, aktor dan sub aktor didalamnya. Admin sebagai aktan tidak akan mampu menaikan citra perusahaan tanpa melibatkan unsur elemen entitas non manusia. Aktor non manusia ini memberikan akses berintegrasi dalam menyebarkan citra PT. Jinan Nuasantarafood Group meskipun dalam kategori sub aktor. Karena beberapa unsur tersebut selalu berevolusi membentuk sistem yang saling berintegrasi.
Fenomena Bullying Dalam Mendorong Kebijakan Literasi Berbasis AI (Artificial Intelligence ) Pada Teknologi Media Baru Muhammad Irfan Djamzuri; Agung Putra Mulyana
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 3 No. 6 (2023): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v3i6.6389

Abstract

Berdasarkan data UNICEF 2020, 41% pelajar berusia 15 tahun pernah mengalami perundungan setidaknya beberapa kali dalam satu bulan, Adanya Kasus Pembakaran Sekolah oleh Siswa SMP di Temanggung dipicu oleh bullying yang dialami oleh pelaku pembakaran. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendorong sekolah beserta Dinas Pendidikan untuk antisipasi maupun literasi penguatan anti-bullying, serta berharap kepolisian bisa professional dan menerapkan Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) terhadap anak yang berkonflik dengan hukum. Pemahaman literasi bullying pada Pendidikan dirasakan kurang memadai, dengan pemahaman bullying dari Coloroso, kita dapat menyoroti pengalaman orang-orang yang ditindas, menekankan dampak emosional dan psikologis serta mendorong para saksi perundungan untuk mengambil Tindakan/intervensi dalam menumbuhkan budaya empati dan inklusi. Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) juga mengkritisi tindakan yang dilakukan oleh kepolisian dengan meng-ekspos pelaku yang masih dibawah umur. Adanya Kekerasan Antar Pribadi di Institusi Sekolah yang seharusnya sebagai tempat untuk sarana pendidikan, tetapi tidak lepas dari praktek bullying/perundungan di sekolah. Perlu adanya sebuah literasi anti-bullying yang bisa diterapkan di dunia Pendidikan. Mengatasi perundungan perlu melibatkan pendekatan yang komprehensif, termasuk pendidikan tentang etika, empati, dan menghormati perbedaan, serta penerapan kebijakan sekolah yang tegas terhadap perundungan. Peran pemerintah memiliki kekuatan besar terhadap teknologi - teknologi baru yang telah masuk dan mempengaruhi pola berfikir anak - anak. Pemerintah dapat berdiskusi langsung oleh para pemegang teknologi media baru untuk menanamkan pertahanan proses terjadinya tindakan bullying didalam system yang dirancang yang biasa kita sebut teknologi AI
The Construction of Tangerang City’s Positive Image Through Instagram as New Media at the Peh Cun Dragon Boat Festival 2025 Agung Putra Mulyana; Muhammad Irfan; Septyana Cahyadi
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.6892

Abstract

The emergence of new media in our lives has made communication possible anytime, anywhere, and through any communication technology. Instagram has become a key tool in supporting public communication to shape an image. The purpose of this study is to analyze how the 2025 Peh Cun Festival dragon boat race was framed positively by the Instagram account @AboutTNG. This study uses a qualitative approach with Robert N. Entman's framing analysis method. The results show that the media has framed the 2025 Peh Cun Festival, which plays a role in shaping a positive image by upholding local cultural identity. The media emphasizes community participation, the value of diversity, and the government's full support for the continuity of traditions. Thus, this festival has been represented as a positive cultural practice that needs to be supported continuously.
CULTURAL SYNTHESIS IN ISLAMIC PEDAGOGY: NURTURING IDENTITY THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL HERITAGE IN EDUCATIONAL PRACTICES Muhajir Musa; Miftah Ulya; Mulyoto; Agung Putra Mulyana; Muhammad Irfan
International Journal of Teaching and Learning Vol. 1 No. 5 (2024): International Journal of Teaching and Learning (INJOTEL)
Publisher : Adisam Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This literature review explores the dynamic relationship between local culture and Islamic pedagogy, focusing on nurturing identity by integrating local heritage into educational practices. Recognizing the pivotal role of cultural synthesis, the review spans historical perspectives, theoretical foundations, empirical studies, and pedagogical approaches. Key findings underscore the enriching impact of incorporating local cultural elements in Islamic education, fostering a more engaging and relevant learning environment. The synthesis reveals common themes, such as the adaptability of Islamic education to diverse cultural contexts and the symbiotic relationship between Islamic principles and local cultural elements. The discussion explores implications for practice and research, emphasizing the significance of cultural diversity in shaping effective Islamic education. Recommendations include promoting cultural competence among educators, integrating local culture into curriculum design, and fostering dynamic, inclusive pedagogical approaches.
APPROACH TO VALUES EDUCATION AS A LEARNING FRAMEWORK FOR ISLAMIC RELIGIOUS EDUCATION Cahaya; Agung Putra Mulyana; Muhammad Kharizmi; Muhammad Irfan
International Journal of Teaching and Learning Vol. 1 No. 8 (2024): International Journal of Teaching and Learning (INJOTEL)
Publisher : Adisam Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Values  education          is            essentially          humanizing       humans,              forming              a generation of people who are superior and have humanist, intellectual and spiritual personalities. In reality, now education cannot maximize its role in shaping students' values, the negative influence of the environment and the progress of globalization have also shifted the level of students' values from time after time so that moral degradation becomes increasingly unstoppable, a social disease that increasingly colors the world of education and the scope of society. Learning Islamic Religious Education can be interpreted as an effort to make students able to learn, encouraged to learn, willing to learn and interested in continuing to study Islam as a whole which results in several relatively permanent changes in a person's behavior both cognitively, effectively and psychomotorically. The approaches to values education as a learning framework are the values instillation approach, the cognitive moral development approach, the values analysis approach, the values classification approach, and the learning to do approach. This value education approach can be said to be a very appropriate approach in implementing education (PAI learning). One reason is related to the aim of education regarding instilling certain values in students.
Pengalaman Generasi Z dalam Menghadapi Fear of Missing Out (FOMO) di TikTok (Studi Fenomenologi pada Siswa SMK Negeri 9 Kota Tangerang) Priscillia Tiara Monica; Agung Putra Mulyana; Ali Imron Hamid
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

FOMO (Fear of Missing Out) merupakan fenomena kekhawatiran individu akan tertinggal dari pengalaman orang lain yang semakin relevan di kalangan Generasi Z seiring tingginya intensitas penggunaan TikTok. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan makna pengalaman FOMO, mengidentifikasi hal-hal yang memicu munculnya FOMO, serta menganalisis respons siswa SMK Negeri 9 Kota Tangerang dalam menghadapi FOMO saat menggunakan TikTok. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi Alfred Schutz yang didukung Teori Perbandingan Sosial, Teori Motivasi Diri, dan Teori Media Baru. Data diperoleh melalui wawancara mendalam semi terstruktur dan observasi pasif terhadap lima informan yang dipilih secara purposive. Hasil penelitian menunjukkan bahwa FOMO dimaknai secara beragam, mulai dari tekanan mempertahankan eksistensi relasional, kecemasan menjadi pihak yang tertinggal, upaya menjaga citra diri, perasaan tidak pernah merasa cukup akibat perbandingan sosial, hingga kekhawatiran kehilangan momen sosial yang tidak dapat diulang. Munculnya FOMO dipicu oleh lingkungan pertemanan, standar internal yang terbentuk melalui upward social comparison, kebutuhan akan keterhubungan sosial (relatedness), serta karakteristik TikTok, khususnya algoritma For You Page, yang berinteraksi dengan pengalaman negatif masa lalu sebagai because motives. Dalam meresponsnya, informan menunjukkan kecenderungan menyesuaikan diri dengan tren untuk mempertahankan keterhubungan sosial sekaligus membatasi penggunaan TikTok sebagai bentuk kontrol diri. Penelitian ini menyimpulkan bahwa FOMO merupakan pengalaman subjektif dan dinamis yang tidak hanya menimbulkan tekanan psikologis, tetapi juga dapat dimaknai sebagai dorongan untuk berkembang.