Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Interpretasi Sikap “Datuk Maringgih” dalam Novel “Kasih Tak Sampai” pada Karya Tari "Sasau" Windy Avrilia Harlen; Dony Osmond; Wardi Metro; Idun Ariastuti
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 4 (2026): JUNI-JULI
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/zexsgp20

Abstract

The dance work "Sasau" is inspired by the character of Datuk Maringgih in Marah Rusli's novel "Siti Nurbaya: Kasih Tak Sampai," which represents a toxic leader. This leadership trait was chosen because it is still highly relevant to contemporary social phenomena. The artist focused on interpreting the leader's arbitrary behavior, which negatively impacts the surrounding environment, and then translated it into a group choreography divided into three moods. The methods used in the creation process included data collection, exploration, improvisation, forming, and evaluation. The performance was performed by seven dancers—four female dancers and three male dancers—with a dramatic style centered on social themes. The musical accompaniment was developed through a combination of traditional Minangkabau instruments and the latest digital audio technology to support the dramatic flow, in line with the artist's concept.
Nan Tak Putuih: Transforming the Meaning of Kapan Salampih Custom into Contemporary Dramatic Dance Inda Fatika Sari; Susas Rita Loravianti; Wardi Metro; Ariefin Alham Jaya Putra
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 28, No 1 (2026): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
Publisher : LPPM Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ekspresi.v28i1.4988

Abstract

Kapan salampih merupakan praktik adat kematian di Nagari Koto Laweh yang menegaskan tanggung jawab moral pihak bako terhadap anak pisang. Artikel ini bertujuan menjelaskan transformasi makna kebersamaan, kepedulian, dan kesinambungan hubungan kekerabatan tersebut ke dalam karya tari Nan Tak Putuih. Metode penciptaan memadukan riset lapangan dan kerja studio. Data diperoleh melalui observasi di Jorong Kandang Diguguak, wawancara dengan tiga informan adat, studi pustaka, dan dokumentasi; sedangkan kerja studio meliputi eksplorasi, improvisasi, pembentukan, serta evaluasi. Hasil penciptaan menunjukkan bahwa makna kapan salampih diterjemahkan melalui struktur dramatik tiga bagian: duka, tanggung jawab adat, dan keikhlasan. Kualitas gerak berat, tertahan, dan stakato pada bagian awal berkembang menjadi tarikan antartubuh pada bagian konflik, lalu berubah menjadi gerak mengalir dan terbuka pada bagian akhir. Kain putih sepanjang sembilan meter menjadi simbol utama tanggung jawab, beban emosional, dan ikatan yang tidak terputus; maknanya diperkuat oleh komposisi kelompok, musik langsung bernuansa Minangkabau, tata ruang berlevel, busana bernada gelap, dan perubahan tata cahaya. Karya ini tidak merekonstruksi prosesi adat secara literal, tetapi melakukan pemadatan simbolik agar nilai sosialnya dapat dialami melalui tubuh dan suasana pertunjukan. Nan Tak Putuih dengan demikian menawarkan model penciptaan tari kontemporer yang berakar pada pengetahuan lokal sekaligus reflektif terhadap keberlanjutan kekerabatan Minangkabau