Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Postur Kerja dan Keluhan Musculoskeletal Disorders Pada Pemanen Sawit di PT. Inti Energi Kaltim Kabupaten Berau Sultan, Muhammad; Isnaniah Saputri, Annisa; Ramdan, Iwan Muhamad
TROPHICO: Tropical Public Health J. Vol. 2 No. 2 (2022): TROPHICO: Tropical Public Health Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/trophico.v2i2.9208

Abstract

Proses panen kelapa sawit masih dilakukan secara manual dengan mengandalkan tenaga manusia dan dilakukan secara berulang-ulang berpotensi menimbulkan keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs). Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan keluhan MSDs yang dirasakan pemanen sawit karena postur kerja yang tidak ergonomis. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Juni-Juli 2021 di PT. Inti Energi Kaltim dengan jumlah sampel 35 pemanen sawit. Instrumen yang dipergunakan dalam pengumpulan data keluhan pemanen sawit adalah kuesioner Nordic Body Map (NBM) dan penilaian postur kerja dengan metode Rappid Entire Body Assestment (REBA). Data selanjutnya dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi disertai narasi. Hasil penelitian diketahui bahwa postur kerja pemanen sawit yang berisiko rendah mengalami MSDs sebanyak 5,7%, berisiko sedang 65,7%, dan berisiko tinggi sebanyak 28,6%. Praktik postur kerja yang berisiko mengakibatkan 35 orang pemanen (100%) mengalami keluhan MSDs terbanyak pada bahu kanan 22,9% dan keluhan sangat sakit pada bagian kaki kiri dan kanan 11,4%. Oleh karena itu, disarankan kepada pemanen sawit sebaiknya memperhatikan posisi postur tubuh saat bekerja hingga menemukan postur kerja yang ergonomis agar tidak menimbulkan keluhan yang berkepanjangan.
UPAYA PENINGKATAN LITERASI DIGITAL DAN KESEHATAN: PROGRAM “EDITEKES” UNTUK POKMAS SEKUMPUL Astuti, Indah Fitri; Rohmah, Nur; Ramdan, Iwan Muhamad; Cahyadi, Dedy; Khoirunnita, Aulia
Sebatik Vol. 28 No. 1 (2024): June 2024
Publisher : STMIK Widya Cipta Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46984/sebatik.v28i1.2455

Abstract

Kesenjangan digital dan rendahnya kualitas kesehatan merupakan tantangan yang dihadapi oleh Kelompok Masyarakat (Pokmas) Pengajian Sekumpul Sempaja Selatan. Dampak banjir adalah masalah kesehatan yang sering dialami Pokmas ini. Program Edukasi Teknologi Informasi dan Kesehatan (Editekes) dirancang untuk mengatasi masalah ini dengan memberikan edukasi tentang penggunaan teknologi digital dan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kepada Pokmas rentan terdampak masalah kesehatan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengevaluasi efektivitas program Editekes dalam meningkatkan literasi digital khususnya dalam PHBS, dan kualitas hidup masyarakat. Program Editekes dikembangkan di teknik pengembangan multimedia mulai dari tahap, konsep, desain, sampai distribusi. Program Editekes mengajarkan tentang 10 keterampilan PHBS bagi rumah tangga, mulai dari, persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan, memberi bayi asi eksklusif, menimbang bayi dan balita, menggunakan air bersih, mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, menggunakan jamban sehat, memberantas jentik di rumah, makan buah dan sayur setiap hari, melakukan aktivitas fisik setiap hari, dan tidak merokok di dalam rumah. Data dikumpulkan melalui alpha testing dan UAT, hasil kegiatan pengabdian masyarakat menunjukkan bahwa program Editekes efektif dalam meningkatkan literasi digital dalam membentuk PHBS. Hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan program multimedia edukasi kesehatan serta memberikan kontribusi dalam meningkatkan pemahaman tentang keterkaitan antara literasi digital, kesehatan masyarakat, dan teknologi informasi dalam konteks kualitas kesehatan rumah tangga.
Hubungan Masa Kerja, Pengetahuan, dan Sikap dengan Kepatuhan Penggunaan APD di PT. Asta Rekayasa Unggul Kabupaten Kutai Kartanegara: Relationship between Work Period, Knowledge and Attitudes with Compliance with the Use of Personal Protective Equipment at PT. Asta Superior Engineering, Kutai Kartanegara Regency Wahyudi, Ayu Huwaidah; Sultan, Muhammad; Lestari, Ida Ayu Indira Dwika; Ramdan, Iwan Muhamad; Hardianti, Dewi Novita
Jurnal Kesmas Untika Luwuk : Public Health Journal Vol. 15 No. 1 (2024): Jurnal Kesmas Untika Luwuk: Public Health Journal
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/phj.v15i1.242

Abstract

Kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang jelas tidak dikehendaki dan sering kali tidak terduga yang dapat menimbulkan kerugian baik waktu, harta benda atau properti maupun korban jiwa. Proyek kontruksi merupakan salah satu industri yang memiliki tingkat risiko tinggi terjadinya kecelakaan kerja. menurut Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) mencatat, bahwa sektor kontruksi menyumbang kecelakaan sebesar 63,6% di indonesia. APD adalah suatu alat yang mempunyai kemampuan untuk melindungi seseorang yang fungsinya mengisolasi sebagian atau seluruh tubuh dari potensi bahaya di tempat kerja. PT. Asta Rekayasa Unggul merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa kontruksi, khususnya pada sektor minyak dan gas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara masa kerja, pengetahuan dan sikap terhadap kepatuhan pengguanaan APD di PT. Asta Rekayasa Unggul.  Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional dan dilakukan pada bulan November-Desember 2023 subjek penelitian ini adalah pekerja bagian Scaffolder dan Riger dengan jumlah sampel sebanyak 40 responden (total sampling). Alat ukur menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan uji korelasi chi square dengan tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara sikap (p = 0,000) dan pengetahuan (p = 0,003) terhadap kepatuhan penggunaan APD. Hal ini berarti jika pengetahuan dan sikap pekerja kurang baik maka akan berpengaruh terhadap kepatuhan penggunaan APD pada pekerja dan tidak ada hubungan antara masa kerja terhadap kepatuhan penggunaan APD (p = 0,744). Disarankan kepada pihak manajemen perusahaan untuk meningkatkan dan mempertahankan skil pengetahuan pekerja dan lebih tergas lagi dalam mengambil keputusan terkait peraturan-peraturan yang ada. A work accident is an event that is clearly undesirable and often unexpected which can cause loss of time, property or property as well as loss of life. Construction projects are an industry that has a high risk of work accidents. According to the Social Security Administering Agency (BPJS), the construction sector contributes to 63.6% of accidents in Indonesia. PPE is a tool that has the ability to protect a person whose function is to isolate part or all of the body from potential dangers in the workplace. PT. Asta Rekayasa Unggul is a company operating in the construction services sector, especially in the oil and gas sector. The aim of this research is to determine the relationship between length of service, knowledge and attitudes towards compliance with the use of PPE at PT. Asta Superior Engineering. This research used a cross sectional approach and was conducted in November-December 2023. The subjects of this research were Scaffolder and Riger workers with a sample size of 40 respondents (total sampling). The measuring tool uses a questionnaire. Data analysis used the chi square test with a confidence level of 95% (α = 0.05). The results showed that there was a significant relationship between attitudes (p = 0.000) and knowledge (p = 0.003) on compliance with the use of PPE. This means that if workers' knowledge and attitudes are not good, it will affect workers' compliance with PPE use and there is no relationship between length of service and compliance with PPE use (p = 0.744). It is recommended that company management improve and maintain workers' knowledge skills and be more assertive in making decisions regarding existing regulations.
Hubungan Lingkungan Kerja, Keterlibatan Kerja, Dan Beban Kerja Dengan Stres Kerja Pada Unit Office Pt X Kota Balikpapan: The Relationship of Work Environment, Work Engagement, and Work Load With Job Stress in the Office Unit of Pt X Balikpapan City Salsabil, Tarissa Zahrina; Ramdan, Iwan Muhamad; Lestari, Ida Ayu Indira Dwika; Sultan, Muhammad; Hardianti, Dewi Novita
Jurnal Kesmas Untika Luwuk : Public Health Journal Vol. 15 No. 2 (2024): Jurnal Kesmas Untika Luwuk: Public Health Journal
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/phj.v15i2.256

Abstract

Stres kerja merupakan bagian dari stres dalam kehidupan sehari-hari, dalam bekerja potensi untuk mengalami stres cukup tinggi, antara lain dapat disebabkan oleh ketegangan dalam berinteraksi dengan atasan, pekerjaan yang menuntut konsentrasi tinggi, beban kerja yang tidak sesuai dengan kemampuan, kondisi kerja yang tidak mendukung, persaingan yang berat dan tidak sehat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lingkungan kerja, keterlibatan kerja, dan beban kerja dengan stres kerja pada pekerja unit office PT X. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross-sectional, penentuan sampel pada penelitian ini menggunakan metode total sampling. Pengumpulan data menggunakan kueisioner secara langsung dengan jumlah sample sebanyak 35 responden. Data diananilis menggunakan uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pekerja berada pada tingkat stres kerja yang normal. Terdapat hubungan antara lingkungan kerja (r= 0.506) dan beban kerja (r= 0.413 ) dengan stres kerja. Tidak ada hubungan antara keterlibatan kerja (r= 0.180) dengan stres kerja. Kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya hubungan antara lingkungan kerja dan beban kerja terhadap stres kerja, serta tidak ada hubungan antara keterlibatan kerja terhadap stres kerja. Perusahaan diharapkan dapat mengevaluasi menyeluruh terhadap kondisi lingkungan kerja, mendorong keterlibatan kerja dengan memberikan otonomi yang lebih besar terhadap pekerja, dan mengevaluasi beban kerja untuk memastikan bahwa tugas-tugas didistribusikan secara adil. Work stress is part of the stress in everyday life, at work the potential for experiencing stress is quite high, among other things it can be caused by tension in interacting with superiors, work that requires high concentration, workload that is not in accordance with abilities, working conditions that are not support, tough and unhealthy competition. This research aims to determine the relationship between work environment, work involvement, and workload with work stress in PT X unit office workers. The type of research used is quantitative research with a cross-sectional research design, determining the sample in this research using the total sampling method. Data collection used a direct questionnaire with a sample size of 35 respondents. Data were analyzed using the Spearman Rank test. The research results show that the average worker is at a normal level of work stress. There is a relationship between work environment (r= 0.506) and workload (r= 0.413) with work stress. There is no relationship between work involvement (r= 0.180) and work stress. The conclusion of this research is that there is a relationship between work environment and workload on work stress, and there is no relationship between work involvement and work stress. Companies are expected to thoroughly evaluate working environment conditions, encourage work engagement by providing greater autonomy to workers, and evaluate workloads to ensure that tasks are distributed fairly.
Work accident reporting in coal mining, Indonesia: A systematic literature review Sultan, Muhammad; Setyadi, Djoko; Ramdan, Iwan Muhamad; Haviluddin, Haviluddin; Hidayati, Tetra
Periodicals of Occupational Safety and Health Vol. 2 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/posh.v2i1.7761

Abstract

Background: Work accidents and work-related diseases are still considered as nightmares in Indonesia, especially in the coal mining sector. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan (Social Security Agency for Employment) reported that there were as many as 234,370 cases of work accidents and work-related diseases in 2021, where the mining sector contributed as many as 6,565 cases. This study aims to present the analysis and synthesis of various research to provide solution recommendations in the management of accident reporting which are suitable to the characteristics of coal mining in Indonesia. Method: This study is a Systematic literature review of a number of studies sourced from Elsevier, Science Direct, Google Scholar, Pubmed, Proquest, DOAJ, Perpusnas RI, Garuda, and other sources. Results: Based on the literature analysis, it is found out that reporting management based on digitalization either in the form of website portal or application is a solution to optimize the effort to control work accidents and work-related disease in coal mining. Conclusion: This reporting system can be applied in coal mining in Indonesia.
Examining the impact of knowledge, supervision, and work fatigue on unsafe actions among warehouse workers Hasanah, Dewi Transmiatun; Ramdan, Iwan Muhamad; Hardianti, Dewi Novita; Lestari, Ida Ayu Indira Dwika
Jurnal Penelitian Vol. 21 No. 1 (2024): June 2024
Publisher : University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/jp.v21i1.13213

Abstract

Unsafe actions are dangerous behaviors that can cause work accidents, resulting in injury or death. Warehouses are high-risk areas for such incidents due to the presence of unsafe actions during work processes. This study aims to explore the relationship between knowledge, supervision, and work fatigue with unsafe actions among warehouse workers at PT Cipta Krida Bahari Samarinda. This quantitative study employs a cross-sectional design, with a sample size of 50 workers using the total sampling technique. The independent variables are knowledge, supervision, and work fatigue, while the dependent variable is unsafe action. Data analysis utilized univariate and bivariate (chi-square) methods. Results indicated that 54 percent of workers engaged in unsafe actions, 60 percent had good knowledge, 56 percent reported good workplace supervision, and 54 percent experienced fatigue. Bivariate analysis showed no significant relationship between knowledge (p=0.203) and work fatigue (p=0.168) with unsafe actions. However, a significant relationship was found between supervision (p=0.019) and unsafe actions. It is recommended that the company enhance supervision practices and enforce strict penalties for violations to minimize unsafe actions among workers.
What is the COVID-19 Risk Zone Colours Impact: Health Related-Quality of Life of Indonesian Healthcare Workers Handayani, Nur Septia; Putri, Berliana Devianti; Ramdan, Iwan Muhamad
The Indonesian Journal of Occupational Safety and Health Vol. 14 No. 2 (2025): The Indonesian Journal of Occupational Safety and Health
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/ijosh.v14i2.2025.230-241

Abstract

Introduction: In Indonesia, over 1000 healthcare workers have died due to COVID-19. Healthcare workers face increased workloads and negative perceptions, including discrimination and verbal or physical violence, which may impact their quality of life. Health-related quality of life encompasses both physical (PCS) and mental (MCS) health components. This study aims to analyze the health-related quality of life of healthcare workers who are obliged to service during the COVID-19 pandemic in Indonesia and occupational health and safety factors based on the workplace location risk zone. Methods: A cross-sectional online survey was conducted involving 149 healthcare workers from several areas of Indonesia as representatives from the red and orange risk zones. Health-related quality of life was measured using the SF-36 questionnaire. Differences in health-related quality of life scores were analyzed using Mann-Whitney test base on COVID-19 risk Zone and PPE availability. Results: Healthcare workers in the lower-risk (orange zone) exhibited better mental health scores (MCS 75±15.5) compared to those in the high-risk zone (red zone) (MCS 66.2±15.2). Additionally, those who received a complete set of PPE from their workplace had better health-related quality of life scores workplace (MCS 76.9±14.2, PCS 77±16) than those who lacked such provision (MCS 73±17.6, PCS 82±13.4). Furthermore, healthcare workers with access to PCR testing at their workplace tended to have higher quality of life scores than those who only had access to rapid testing. Conclusion: These findings highlight how the Health System addresses the pandemic, particularly regarding the health and safety of healthcare workers
Efikasi Diri, Pusat Kendali, dan Persepsi Tenaga Kerja sebagai Prediktor Pencapaian Prestasi Kesehatan dan Keselamatan Kerja Ramdan, Iwan Muhamad
Kesmas Vol. 5, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah efikasi diri, pusat kendali, dan persepsi tenaga kerja dapat dijadikan prediktor yang akurat untuk memprediksi pencapaian prestasi kesehatan dan keselamatan kerja (K3), serta untuk menguji apakah model pencapaian prestasi K3 yang disusun dengan melibatkan interaksi tenaga kerja dengan lingkungannya cukup tepat. Dengan pendekatan cross sectional, penelitian dilakukan terhadap 200 orang responden pada perusahaan kayu di Kalimantan Timur. Variabel bebas terdiri dari efikasi diri, pusat kendali, dan persepsi tenaga kerja. Variabel tergantung yaitu prestasi K3, sedangkan variabel moderator adalah lingkungan fisik dan kimia kerja. Analisis data menggunakan structural equation model (SEM). Hasil penelitian menunjukan efikasi diri dan persepsi tenaga kerja berhubungan positif signifikan dengan prestasi K3, merupakan prediktor yang paling akurat untuk memprediksi pencapaian prestasi K3 (p=0,007 dan p=0,012). Kedua variabel ini memberi sumbangan efektif terhadap prestasi K3 yaitu sebesar 20,2 % dan 17,3 %. This research was focused on the relationship between worker’s behavior with Occupational Health Safety (OHS) achievement.The purposes of the research is to identify whether worker’s self-efficacy, locus of control and perception can predict OHS achievement, and to examine whether the OHS model engaging workers and work environment interaction are fit. This research was cross sectionally conducted towards 200 respondents in one of plywood plant in West Kalimantan. The independent variable were the worker’s self efficacy, locus of control and perception, while the dependent variable was OHS performance. The moderator variables were physical and chemical work environment. Data analysis used structural equation model. Research findings showed that self efficacy and worker perception have significantly positive relationship with worker’s OHS performance, and could be an accurate predictor to predict OHS performance achievement (p=0.007 and p=0.012), and provided effective contribution to OHS performance as big as 20,2 % and 17,3 % as well.
Determinan Insomnia pada Lanjut Usia Ramdan, Iwan Muhamad; Laksmono, Tiyanpri Bayu
Kesmas Vol. 7, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gangguan muskuloskeletal merupakan masalah kesehatan dan keselamatan kerja yang penting karena masih berkontribusi pada penurunan produktivitas kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan umur tenaga kerja, masa kerja, indeks massa tubuh, dan sikap kerja dengan keluhan gangguan muskuloskeletal pada tenaga kerja wanita di unit produksi bagian kupas di PT SSM Kalimantan Timur. Penelitian kuantitatif yang menggunakan desain penelitian cross sectional ini dilakukan pada tenaga kerja wanita bagian pengupasan yang berjumlah 46 orang (total sampling). Variabel bebas penelitian terdiri dari umur, masa kerja, indeks massa tubuh, dan posisi kerja, sementara variabel terikat adalah keluhan gangguan muskuloskeletal. Analisis data yang digunakan adalah uji chi-square dengan level signifikansi 0,05 (5%). Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan umur dengan keluhan gangguan muskuloskeletal (p = 0,066), terdapat hubungan yang signifikan antara masa kerja (p = 0,044), indeks massa tubuh (p = 0,025), dan sikap kerja (p = 0,001) dengan keluhan gangguan muskuloskeletal. Perusahaan disarankan untuk membuat kursi kerja yang ergonomis, melakukan rotasi kerja, dan melakukan pelatihan dengan materi tata cara kerja yang ergonomis. Musculoskeletal disorders are still a health and safety issue that needs to be examined in more depth, because it still contributes to the decline in labor productivity. The objective of this research was to know the relationship between age, working periode, body mass index and work posture with complaint of musculoskeletal disorders. Quantitative research with cross sectional approach has been done on 46 (total sampling) female labor in peeling sections. The independent variables consisted of age, year, body mass index, and work posture, while the dependent variable was the complaint of musculoskeletal disorders. The data analysis used was chi-square test with a significance level of 0.05 (5%). The results showed no association between age with symptoms of musculoskeletal disorders (p = 0,066), there is a significant association between working period (p = 0,044), body mass index (p = 0,025), and work posture (p = 0,001) with complaints of musculoskeletal disorders. Companies are advised to make an ergonomic office chair, job rotation, and training with ergonomic material working procedures.
Unsafe Behavior of Workers in Rotary Lathe Section in One of the Plywood Industries in East Kalimantan Ramdan, Iwan Muhamad; Wijayanti, Dyyka Indah
Kesmas Vol. 13, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja masih menjadi masalah kesehatan dunia, dua faktor utama penyebabnya adalah perilaku dan kondisi lingkungan kerja yang tidak aman. Penelitian sebelumnya membuktikan penyebab utamanya adalah faktor perilaku yang tidak aman. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku tidak aman dalam bekerja pada tenaga kerja di PT IAW dan menganalisis faktor yang paling berpengaruh. Penelitian potong lintang dilakukan pada bulan Juli sampai Agustus 2016 terhadap 104 sampel penelitian. Variabel bebas terdiri dari persepsi, komunikasi, pengawasan, ketersediaan alat pelindung diri (APD), pelatihan dan suhu lingkungan kerja. Variabel terikat adalah perilaku tidak aman. Analisis data menggunakan Pearson produk moment dan uji regresi linier berganda. Disimpulkan persepsi (nilai p=0,00, R=0,817), komunikasi (nilai p=0,000, R=0,810), pengawasan (nilai p=0,00, R=0,529), ketersediaan APD (nilai p=0,000, R=0,902) dan suhu lingkungan kerja berhubungan signifikan, sangat kuat, positif dan berbanding lurus dengan perilaku tidak aman, sedangkan pelatihan keselamatan kerja (nilai p=0,092, R=0,166) tidak berhubungan. Persepsi keselamatan kerja merupakan variabel yang paling dominan memengaruhi perilaku tidak aman dalam bekerja. Occupational accidents and diseases remain the global health problem, two main factors for this are unsafe behavior and conditions. Previous study proved that the main cause is unsafe behavior factor. This study aimed to analyze factors associated with occupational unsafe behavior in workers at PT IAW and analyze the most influential factor. A cross-sectional study was conducted from July to August 2016 with 104 samples. Independent variables consisted of perception, communication, supervision, the availability of personal protective equipment (PPE), training and workplace temperature. While the dependent variable was unsafe behavior. Data analysis used Pearson product moment and multiple linear regression. In conclusion, perception (p value=0.00, R=0.817), communication (p value=0.000, R=0.810), supervision (p value=0.00, R=0.529), availability of PPE (p=0.000, R=0.902) and workplace temperature are related significantly, very strong, positive and directly proportional to unsafe behavior, while training (p value=0.092, R=0.166) are not related. Perception is the most dominant variable influencing unsafe behavior.