Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Diversity Of Weed Types in The Gunung Karang Coffee Plantation, Swadaya Village Wahyuni, Putri; Ritawati, Sri; Putri, Widia Eka; Saylendra, Andree
Jurnal Agroekoteknologi Terapan (Applied Agroecotechnology Journal) Vol. 6 No. 2 (2025): ISSUE JULY-DECEMBER 2025
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/jat.v6i2.65242

Abstract

This study aimed to determine the diversity and dominance of weeds in coffee plantations in Gunung Karang, Swadaya Village, Karang Tanjung District, Pandeglang Regency. The method used was a belt transect with a plot size of 1 × 1 m at three land elevations, namely 500, 600, and 700 masl. The results showed that the diversity of weed species is quite high with a total of 20 species from 14 families. The composition and dominance of weeds varied at each elevation. At an altitude of 500 masl, the dominant weed is Oplismenus compositus (Poaceae), while at 600 masl it is dominated by Synedrella nodiflora (Asteraceae) and Peperomia pellucida (Piperaceae). At 700 masl, Spermacoce latifolia (Rubiaceae) showed the highest Importance Value Index (IVI) value, indicating a high level of adaptation and competitiveness in the highlands. Environmental factors such as light intensity, humidity, and location altitude influence the diversity and structure of the weed community. The dominance of certain weeds can inhibit the growth of coffee plants, so an effective and sustainable weed control strategy is needed, for example by means of an integrated control approach that includes manual, mechanical, and technical cultural methods, such as routine weeding and the use of competitive ground cover plants. Keywords: Coffee, Diversity, Dominance, Gunung karang, Weeds. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman dan dominansi gulma pada lahan pertanaman kopi di Gunung Karang, Desa Swadaya, Kecamatan Karang Tanjung, Kabupaten Pandeglang. Metode yang digunakan adalah belt transect dengan ukuran plot 1 × 1 m pada tiga ketinggian lahan, yaitu 500, 600, dan 700 mdpl. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keanekaragaman jenis gulma tergolong cukup tinggi dengan total 20 jenis yang berasal dari 14 famili. Komposisi dan dominansi gulma bervariasi pada setiap ketinggian. Pada ketinggian 500 mdpl, gulma yang dominan adalah Oplismenus compositus (Poaceae), sedangkan pada 600 mdpl didominasi oleh Synedrella nodiflora (Asteraceae) dan Peperomia pellucida (Piperaceae). Pada 700 mdpl, Spermacoce latifolia (Rubiaceae) menunjukkan nilai Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi, menandakan tingkat adaptasi dan daya saing yang tinggi di dataran tinggi. Faktor lingkungan seperti intensitas cahaya, kelembapan, dan ketinggian lokasi berpengaruh terhadap keanekaragaman dan struktur komunitas gulma. Dominansi gulma tertentu dapat menghambat pertumbuhan tanaman kopi, sehingga diperlukan strategi pengendalian gulma yang efektif dan berkelanjutan, misalnya dengan cara pendekatan pengendalian terpadu yang mencakup cara manual, mekanis, dan kultur teknis, seperti penyiangan rutin serta pemanfaatan tanaman penutup tanah yang kompetitif. Kata-Kata Kunci: Dominansi, Gulma, Kopi, Gunung karang, Keanekaragaman
Pengaruh interval penyiraman irigasi tetes dan jenis media tanam terhadap pertumbuhan tanaman pepaya (Carica papaya L.) var. Calina IPB-9 Yuliyanti, Siti Siva; Ritawati, Sri; Hilal, Samsu; Laila, Alfu
Agrium Vol. 22 No. 4: December 2025
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/agrium.v22i4.25162

Abstract

Pepaya merupakan buah tropis unggulan yang sangat potensial untuk dibudidayakan. Salah satu jeni s pepaya yang termasuk komoditas unggulan yaitu pepaya varietas Calina IPB-9. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh interval penyiraman irigasi tetes dan jenis media tanam terhadap pertumbuhan tanaman pepaya (Carica papaya L.) var. Calina IPB-9. Penelitian ini dilakukan di Linkungan Ciwaktu Lor, Kecamatan Serang, Kota Serang, Provinsi Banten, dari Agustus 2025 hingga Oktober 2025. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok  dengan dua faktor. Faktor pertama adalah interval penyiraman (I), yang terdiri dari 3 tingkat: satu kali sehari (I1), dua kali sehari (I2), dan tiga kali sehari (I3). Faktor kedua adalah media tanam (M), yang terdiri dari 4 tingkat: tanah (M0), tanah+cocopeat (M1), tanah+arang sekam (M2), dan tanah+serasah daun bambu (M3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa interval penyiraman tiga kali sehari (I3) memberikan hasil terbaik terhadap parameter tinggi tanaman 69,66 cm pada umur 15 MST, dan jumlah daun 14,83 helai pada umur 15 MST. Jenis media tanam tanah+arang sekam (M2) memberikan hasil terbaik terhadap parameter jumlah daun 14,22 helai pada umur 15 MST, dan media tanam tanah + cocopeat (M1) memberikan hasil terbaik terhadap diameter batang 2,67 cm pada umur 15 MST.
Inventarisasi dan identifikasi penyakit pada perkebunan kopi robusta (Coffea canephora) di kawasan Gunung Karang, Provinsi Banten Nadila, Shafarotun; Ritawati, Sri; Yenny, Ratna Fitry; Saylendra, Andree
Agrium Vol. 22 No. 4: December 2025
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/agrium.v22i4.25188

Abstract

Kopi (Coffea sp.) merupakan komoditi perkebunan dengan nilai ekonomis dan tingkat ekspor tinggi bagi Indonesia. Tingkat konsumsi kopi terus bertambah. Salah satu jenis kopi yang ada di Banten yaitu kopi robusta (Coffea canephora). Serangan hama dan penyakit menyebabkan kerugian produktivitas dan kualitas. Penelitian bertujuan untuk menginventarisasi dan mengidentifikasi penyakit dan patogen yang menyerang tanaman kopi robusta pada 3 lokasi yang berbeda di kawasan Gunung Karang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2024 hingga Januari 2025. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan metode survei. Pengamatan dilakukan secara makroskopis dan mikroskopis terhadap bagian batang, daun, dan buah kopi yang terserang penyakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor biotik dan abiotik seperti patogen, tanaman inang, suhu, kelembapan, intensitas penyinaran, dan curah hujan dapat menyebabkan tanaman kopi rentan terserang penyakit. Penyakit utama yang menyerang tanaman kopi robusta di kawasan Gunung Karang adalah kapang jelaga (Capnodium coffeicola) dengan rata-rata kejadian penyakit sebesar 88,89%, karat daun (Hemileia vastatrix) sebesar 46,67%, dan bercak daun (Cercospora coffeicola) sebesar 42,23%.
KARAKTERISTIK SIFAT FISIK TANAH PADA LAHAN KOPI ROBUSTA (Coffea canephora) BERDASARKAN KETINGGIAN TEMPAT DI KAWASAN GUNUNG KARANG Vivin Safinah; Sri Ritawati; Nuniek Hermita; Endang Sulistyorini
Daun: Jurnal Ilmiah Pertanian dan Kehutanan Vol. 13 No. 1 (2026): Daun: Jurnal Ilmiah Pertanian dan Kehutanan
Publisher : ​Institute for Researches and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/daun.v13i1.12869

Abstract

Tanah merupakan koponen utama untuk mendukung pertumbuhan tanaman serta berfungsi sebagai media tumbuh sekaligus penyedia unsur hara, udara, dan udara bagi tanaman. Kualitas tanah sangat ditentukan oleh sifat fisiknya, seperti tekstur, struktur, dan bobot isi, yang berperan dalam mengatur ketersediaan udara, aerasi, serta pertumbuhan akar. Oleh karena itu diperlukan penelitian terkait sifat fisik tanah untuk menentukan lokasi yang sesui bagi pertumbuhan tanaman kopi Robusta berdasarkan ketinggian tempat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik sifat fisik tanah pada lahan kopi Robusta berdasarkan perbedaan ketinggian tempat di kawasan Gunung Karang. Metode yang digunakan adalah survei lapangan dengan pengambilan sampel tanah pada tiga ketinggian berbeda, yaitu dataran rendah di Desa Panyaungan jaya (±385 mdpl), dataran sedang di Desa Juhut (±551 mdpl), dan dataran tinggi di Desa Citaman (±742 mdpl). Sampel dianalisis di laboratorium untuk menentukan tekstur tanah (metode pipet), struktur tanah (observasi visual), dan bobot isi tanah (metode gravimetri). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi perubahan sifat fisik tanah seiring peningkatan ketinggian. Tekstur tanah berubah dari lempung di dataran rendah menjadi lempung berdebu di dataran sedang dan tinggi. Struktur tanah juga mengalami perubahan dari granular sedang-kasar menjadi granular halus, yang menunjukkan peningkatan stabilitas agregat. Selain itu, bobot isi tanah menurun dari kategori sedang menjadi ringan, menandakan peningkatan porositas dan kondisi aerasi yang lebih baik. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada dataran tinggi memiliki stabilitas agregat, porositas, dan kapasitas menahan udara yang lebih baik.
KEBUTUHAN AIR IRIGASI PADA BIBIT TANAMAN ALPUKAT VARIETAS KENDIL HASIL SAMBUNG PUCUK MENGGUNAKAN CROPWAT 8.0 Asti Fauziah; Yayu Romdhonah; Putra Utama; Sri Ritawati; Susiyanti Susiyanti
AGROVITAL : Jurnal Ilmu Pertanian Vol 8, No 2 (2023): AGROVITAL VOLUME 8, NOMOR 2, NOVEMBER 2023
Publisher : LPPM Universitas Al Asyariah Mandar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35329/agrovital.v8i2.4832

Abstract

Alpukat adalah tanaman hortikultura yang bermanfaat untuk meningkatkan dan mempertahankan kesehatan tubuh manusia. Salah satu cara untuk memperbanyak tanaman baik itu secara vegetatif ataupun generatif adalah dengan pembibitan. Sambung pucuk merupakan metode perbanyakan yang sering digunakan pada pembibitan alpukat secara vegetatif. Perbandingan antara jumlah air yang tersediapada lahan dan jumlah air yang diperlukan tanaman selama masa pertumbuhan sangat penting untuk keberhasilan kegiatan pertanian. Alternatif yang dapat digunakan untuk menduga jumlah  air yang diperlukan pada tanaman dapat dilakukan dengan bantuan dari software Cropwat 8.0. Adapun tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui jumlah air yang dibutuhkan pada bibit tanaman Alpukat varietas Kendil menggunakan Cropwat 8.0. Software Cropwat 8.0 memerlukan data iklim, data curah hujan, data tanah, serta data tanaman untuk mengetahui berapa banyak kebutuhan air irigasi pada tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan air irigasi untuk bibit Alpukat varietas Kendil adalah 142 ml per polybag serta total kebutuhan air irigasi pada  bibit tanaman Alpukat varietas Kendil selama satu tahun adalah 864,8 mm.