Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

NURSES’ COMPLIANCE IN APPLYING INDEPENDENT DOUBLE CHECK IN DRUG ADMINISTRATION Selvi Kadang; Putri Natalia Sitanggang; Rachel Pratylia Sanjun; Yenni Ferawati Sitanggang; Erivita Sakti
Nursing Current: Jurnal Keperawatan Vol 8, No 2 (2020): December
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/nc.v8i2.3096

Abstract

Independent Double Check (IDC) is a strategy that plays a key role in medication safety. Studies have shown that its use can detect up to 95% of medication errors reducing incidents related to drug administration. Despite this benefit, not all nurses have implemented it. This study aims to describe nurses’ compliance in applying IDC at a private hospital in West Indonesia. The study used the descriptive quantitative method and purposive sampling was utilized in choosing 52 respondents. Data were collected from the respondents working in two inpatient wards where the highest number of medication errors occurred. A checklist was used to observe the nurses administer medications to patients in three occasions. The analysis of data employed univariate analysis method. The results showed that 35 (67.3%) of the respondents implemented IDC before medication administration, while 17 (32.7%) did not implement it. However, those who implemented IDC did not contribute to the reduction of medication errors in these wards. The authors recommend that further studies be conducted to investigate the factors associated with nurses’ compliance and non-compliance in applying IDC, and the relationship between nurses’ compliance to IDC and incidents of medication errors.
Faktor Risiko Ketidakpatuhan Perawat dalam Melaksanakan Prinsip Lima Benar Pemberian Obat di Ruang Rawat Inao Satu Rumah Sakit Swasta Indonesia Bagian Barat [The Risk Factors Of Nurses' Non-Compliance To The Principles Of Five Rights in Drug Administration in Patient Wards in One Of The Private Hospitals in West Indonesia] Deborah Siregar; Erivita Sakti; Alfrida Siringoringo
Nursing Current: Jurnal Keperawatan Vol 6, No 1 (2018): June
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/nc.v6i1.1284

Abstract

Medication administration errors (MAEs) are one of the risks in nursing practice and occur because the drugs received by patients with prescription drugs are not appropriate. Nurses play an important role in patient safety, especially in drug delivery. The principle of five correct is needed to prevent the incidence of MAE. The causes of MAE are interruptions, workload, knowledge, and communication. The purpose of this study was to analyze the most influential factors on the incidence of MAE in a hospital West Indonesia. The research design used cross sectional. The sampling technique is simple random sampling and 99 people are taken as sample. The research instrument used is questionnaire. Data analysis used multivariate with logistic regression method. The results showed that the knowledge variable is the most dominant variable associated with medication error with OR = 7.262 means that the risk of knowledge raises medication error 7.262 larger than the workload after controlled by interrupt and communication variables. Recommendations for future researchers to make the results of this study as a baseline for doing a research about MEA and patient. BAHASA INDONESIA Medication administration errors (MAE) adalah salah satu resiko pada area praktik keperawatan yang terjadi karena ketidaksesuaian obat yang diterima pasien dengan terapi obat yang diresepkan dokter. Perawat memegang peran penting dalam keamanan pasien, terutama dalam hal pemberian obat. Penerapan prinsip lima benar pemberian obat yang dilakukan perawat sangat dibutuhkan untuk mencegah kejadian MAE. Penyebab dari MAE adalah interupsi, beban kerja, pengetahuan, dan komunikasi perawat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian MAE di ruang rawat inap satu Rumah Sakit Swasta Indonesia Bagian Barat. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Teknik pengambilan sampel penelitian adalah simple random sampling dengan jumlah sampel 99 perawat. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner. Analisis data dengan menggunakan analisis multivariat dengan metode regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel pengetahuan merupakan variabel yang paling dominan berhubungan dengan kejadian MAE dengan OR = 7.262 artinya pengetahuan berisiko menimbulkan medication error 7.262 lebih besar dibandingkan dengan beban kerja setelah dikontrol oleh variabel interupsi dan komunikasi. Rekomendasi bagi peneliti selanjutnya agar menjadikan hasil penelitian ini sebagai data dasar untuk melakukan penelitian mengenai MEA dan pasien. 
DESCRIPTION OF FAMILY’S KNOWLEDGE ABOUT PALLIATIVE CARE IN A PRIVATE HOSPITAL IN WEST INDONESIA [GAMBARAN PENGETAHUAN KELUARGA TENTANG PERAWATAN PALIATIF DI SATU RUMAH SAKIT SWASTA DI INDONESIA BARAT] Liberty Oktoriati Zendrato; Lidya Rheina Theresya Waruwu; Yuliana Susana Nar; Yenni Sitanggang; Erivita Sakti
Nursing Current: Jurnal Keperawatan Vol 7, No 2 (2019): December
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/nc.v7i2.2311

Abstract

Palliative care is an approach to increase quality of life of patients and their families facing terminal illness. Indonesia is one of the countries which has a high prevalence of illness. Based on interviews in January 2019 with nine family members of a sick patient, the result is the family members do not know about the patients’ condition and palliative care. Besides, the writer realized that the family’s knowledge affecting to the caring given to the sick patients. The purpose of this study is to know the description of family member’s knowledge about palliative care in the hospital in West Indonesia. This study used quantitative descriptive methodology with cross sectional design. Sample techniques used was purposive sampling with 217 sample that suit the inclusion criteria. Questionnaire was used as the instrument taken from Kahveci & Gokcinar (2014). Analysis data used univariate analysis. This study were done in July 2019. Result: the study showed that there were a high level of knowledge on high education level background of bachelors and masters about 42.9%, female 59%, and generally level of knowledge of respondents mostly in the middle level (59.9%) and good (31.8%). The respondents who had health education about palliative care showed good level (63.8%) and middle (83.8%) from 170 respondents. Recommendation for next research is suggested that for further study to find the relationship between knowledge and the attitude of family member in palliative careBAHASA INDONESIA ABSTRAK: Perawatan paliatif merupakan pendekatan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarganya yang mengalami penyakit terminal. Indonesia salah satu negara dengan prevalensi penyakit paliatifnya termasuk tinggi. Berdasarkan wawancara bulan Januari 2019 kepada sembilan anggota keluarga pasien paliatif, didapatkan bahwa keluarga pasien masih belum memahami tentang kondisi dan perawatan paliatif. Namun, peneliti menyadari pengetahuan keluarga berpengaruh terhadap perawatan yang diberikan untuk anggota keluarga yang sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan keluarga tentang perawatan paliatif di rumah sakit swasta di Indonesia Barat. Penelitian ini menggunakan metodologi deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Teknik sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah sampel 217 orang yang sesuai kriteria inklusi. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner yang diambil dari penelitian Kaveci & Gokcinar (2014). Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis univariat. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2019. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden adalah perempuan (59%) dan secara general tingkat pengetahuan responden terbanyak pada level cukup (59.9%) dan baik sebanyak 31.8%. Responden yang mendapatkan edukasi kesehatan tentang paliatif menunjukkan level pengetahuan baik 63.8% dan pengetahuan cukup 83.8% dari total 170 responden. Rekomendasi untuk penelitian selanjutnya adalah disarankan untuk mencari hubungan pengetahuan terhadap sikap anggota keluarga pasien dalam pelaksanaan perawatan paliatif.
Edukasi Dan Pelatihan Pertolongan Pertama Pada Siswa Pingsan Di SMP Binong Permai, Tangerang Erivita Sakti; Dora Samaria; Riama M. Sihombing; Yakobus Siswadi; Peggy Sara T; Prisca Adipertiwi
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 1 (2018): Prosiding PKM-CSR Konferensi Nasional Pengabdian kepada Masyarakat dan Corporate Socia
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.859 KB)

Abstract

Remaja merupakan masa dimana terjadinya pertumbuhan dan perkembangan yang pesat baik secara fisik, psikologis maupun intelektual. Remaja merupakan salah satu kelompok vulnerable dalam tatanan masyarakat. Mereka memiliki aktivitas yang dinamis, namun kadang tidak diimbangi dengan istirahat serta pola makan yang teratur. Upacara bendera merupakan kegiatan wajib dilaksanakan guna meningkatkan rasa nasionalisme sejak dini dan di mulai di lingkungan sekolah. Akan tetapi masalah yang cukup sering terjadi saat upacara bendera di sekolah adalah ada siswa/i yang jatuh pingsan. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan upaya pencegahan dan penanganan awal pada siswa/i yang pingsan kepada guru pembina UKS, OSIS, Pramuka dan para siswa/i. Permasalahan mitra kegiatan ini adalah adanya siswa/i yang pingsan saat upacara bendera. Solusi untuk mengatasi masalah tersebut dengan melakukan edukasi dan pelatihan mengenai pertolongan pertama pada siswa/i pingsan di sekolah tersebut. Kegiatan PKM ini dilaksanakan di SMP Binong Permai, Tangerang pada tanggal 15 November 2017 dalam bentuk pemberian edukasi kesehatan bagi siswa/i dengan metode ceramah dan pelatihan pertolongan pertama bagi guru, siswa pengurus OSIS dan Pramuka dengan jumlah peserta sebanyak 161 partisipan yang terdiri dari guru 2,48%, siswa kelas VII 45,34%, siswa kelas VIII 29,81%,siswa kelas IX 22,36%. Hasil kegiatan ini didapatkan nilai rata-rata (mean) pretest pengetahuan mengenai pertolongan pertama pada kondisi pingsan sebelum pelatihan adalah 66,77 dan rata-rata posttest adalah 80,87. Maka dapat disimpulkan, secara statistik ada perbedaan yang bermakna antara rata-rata pengetahuan para peserta sebelum dan sesudah pelatihan (p value 0,001). Data hasil pretest dan posttest terevaluasi adanya peningkatan nilai rata-rata namun dari perhitungan selisih nilai posttest dan pretest, terdapat 9 orang yang nilai posttest lebih rendah daripada pretest.
WEBINAR “CEGAH KECANDUAN DENGAN BIJAK BERINTERNET” Diannita, Catharina Guinda; Ayu Florensa, Maria Veronika; Paula, Veronica; Watania, Lani Natalia; Fangidae, Erniyati; Susilawati Barus, Novita; Sakti, Erivita; Hapsari, Kristina
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 6 (2023): INOVASI PERGURUAN TINGGI & PERAN DUNIA INDUSTRI DALAM PENGUATAN EKOSISTEM DIGITAL & EK
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37695/pkmcsr.v6i0.1967

Abstract

Media sosial dan internet of things (IoT) saat ini merupakan komponen yang lekat dengan kebutuhan sehari-hari. Teknologi terus mengalami perkembangan, sehingga teknologi banyak digunakan dalam berbagai bidang, karena memberikan begitu banyak kemudahan dan keuntungan. Digitalisasi global memberikan peluang yang lebih baik untuk pendidikan, komunikasi, perbankan, bisnis, industri, kesehatan dan interaksi socsal. Dibalik keuntungan yang diberikan internet, internet dapat menyebabkan kecanduan apabila tidak digunakan dengan bijak. Penurunan kualitas tidur, ADHD (attention deficit hyperactivity disorder), depresi, kecemasan, perundungan baik secara langsung maupun secara online/ cyberbullying, merupakan beberapa contoh dampak dari kecanduan internet. Pendampingan dan arahan tentang penggunaan internet dengan bijak perlu diberikan, agar manfaat lebih banyak didapatkan oleh pengguna dibandingkan dampak negatifnya. Maka tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya melakukan pencegahan kecanduan dengan bijak berinternet. Kegiatan dilakukan secara daring, agar dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas. Peserta kegiatan berasal dari pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan New York. Hasil evaluasi kegiatan menunjukkan terjadinya peningkatan rerata nilai pretest dan post test pada kedua sesi. Evaluasi pada sesi 1 mengenai “Gadget, I’m in love” mengalami rerata peningkatan sebesar 2,13 poin, dan pada sesi 2 mengenai “Etika berinternet” mengalami rerata peningkatan sebesar 4,89 poin. Kegiatan edukasi perlu dilaksanakan secara berkesinambungan, agar makin banyak masyarakat yang memiliki kesadaran mengenai masalah kecanduan internet dan pentingnya membangun relasi sosial yang sehat di platform digital.
Implementation of Discharge Planning Patients‘ Chronic Kidney Disease in Ward of a Private Hospital in West Indonesia Betty Rinanti; Sri Kartininingsih; Adventina Delima Hutapea; Erivita Sakti
Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 6 (2021): Special Issue GINC
Publisher : Universitas Aisyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1349.806 KB) | DOI: 10.30604/jika.v6iS1.775

Abstract

Background: The quality of hospital services is measured through the provision of nursing care, especially by providing discharge planning to patients. Nurse’s role as an educator can be applied through providing discharge planning. Based on data obtained at a Private Hospital in Western Indonesia, CKD is ranked fifth as the biggest killer diseases, and it was found that 8 out of 10 discharge planning forms of CKD patients were not filled in completely. Objective: This study aims to describe the implementation of discharge planning in CKD patients in ward of a Private Hospital in West Indonesia. Methods: This research is quantitative descriptive method, with the documentation studies. Data collection used observation checklist and total sampling technique. The source of data in this research is 286 medical record of CKD patients in March–August 2019. The data analyzed using by univariate analysis. Result: discharge planning was not implemented (66.1%), while implemented (33.9%). Based on result, that discharge planning to CKD patients has not been done properly. Recommendation: Further research can focus on factors that influence the implementation of discharge planning. The results can be a reference for making standard and discharge planning forms specifically for CKD patients.Abstrak: Latar Belakang: Kualitas pelayanan Rumah Sakit diukur melalui pemberian asuhan keperawatan dengan memberikan discharge planning pada pasien. Peran Perawat sebagai edukator bagi pasien dapat dilakukan melalui pemberian discharge planning. Berdasarkan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), dari segi pembiayaan perawatan, penyakit CKD merupakan urutan kedua terbesar di Indonesia. Berdasarkan data yang diperoleh di satu Rumah Sakit Swasta Indonesia Barat, CKD menduduki peringkat lima besar penyakit terbesar. Berdasarkan data rekam medik di satu Rumah Sakit Swasta Indonesia Barat, ditemukan 8 dari 10 discharge planning tidak lengkappengisiannya. Tujuan: Penelitian bertujuan untuk mengetahui gambaran pelaksanaan discharge planning pada pasien CKD di unit rawat inap Rumah Sakit Swasta Indonesia Barat. Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan studi dokumentasi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan lembar observasi checklist. Teknik pengambilan sampel dengan total sampling yaitu status medical record pasien CKD pada bulan Maret - Agustus 2019 sebanyak 286 medical record dan analisa data yang digunakan adalah univariat. Hasil: discharge planning tidak dilaksanakan sebanyak 189 dokumen (66.1%), sedangkan yang dilaksanakan hanya 97 dokumen (33.9%). Berdasarkan data tersebut, pelaksanaan discharge planning pada pasien CKD tersebut belum dilakukan dengan baik. Rekomendasi: Penelitian selanjutnya dapat fokus pada faktor – faktor yang mempengaruhi pelaksanaan discharge planning, membuat formulir discharge planning dan juga dapat menjadi referensi membuat formulir discharge planning yang baku khusus untuk pasien CKD. 
EFEK ORAL CRYOTHERAPY TERHADAP MUKOSITIS ORAL PADA PASIEN KANKER Sitanggang, Yenni Ferawati; Wulandari, Poppy; Riana; Setiawan, Velia Putri; Sakti, Erivita
Klabat Journal of Nursing Vol. 8 No. 1 (2026): Nursing and Well-being Dynamics
Publisher : Fakultas Keperawatan, Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/kjn.v8i1.1525

Abstract

Background: Cancer is one of the deadliest chronic diseases in the world. Chemotherapy is often the main choice in cancer treatment. Chemotherapy has side effects, one of which is oral mucositis. Oral cryotherapy significantly contributes to protecting oral health and preventing mucositis. Objective: This study aimed to analyze the effect of oral cryotherapy on oral mucositis in cancer patients. Methods: This study uses the literature review method by including a critical appraisal. The inclusion criteria used were research journals published in the last ten years 2009-2019, articles in Indonesian and English with free-text and full-text search results and articles discussing cancer patients with oral mucositis. The study discussed the effect of oral cryotherapy on oral mucositis in cancer patients. The exclusion criteria were systematic review articles, literature reviews, and articles with a sample size of ≤ 20 respondents. Results: Based on six articles, it was concluded that oral cryotherapy is effective in reducing the severity of oral mucositis, reducing its incidence, alleviating pain, and providing comfort in the oral cavity. Suggestion: Oral cryotherapy intervention can be applied consistently in a hospital and evaluated regularly.  Kanker merupakan salah satu penyakit kronis yang mematikan di dunia. Kemoterapi seringkali menjadi pilihan utama dalam pengobatan kanker. Kemoterapi memiliki efek samping, salah satunya adalah mukositis oral. Oral cryotherapy memiliki kontribusi signifikan terhadap perlindungan kesehatan mulut guna untuk mencegah mukositis. Studi ini bertujuan untuk menganalisis efek oral cryotherapy terhadap mukositis oral pada pasien kanker. Penelitian ini menggunakan metode kajian literatur dengan mencantumkan critical appraisal. Kriteria inklusi yang digunakan adalah jurnal penelitian yang dipublikasikan dalam sepuluh tahun terakhir (2009–2019), artikel dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dengan hasil pencarian free-text dan full-text, serta artikel yang membahas pasien kanker dengan mukositis oral. Studi yang dibahas adalah tentang efek oral cryotherapy terhadap mukositis oral pada pasien kanker. Kriteria eksklusi yang digunakan adalah artikel systematic review dan literature review. Berdasarkan enam artikel, disimpulkan bahwa efek oral cryotherapy terhadap mukositis oral pada pasien kanker dapat mengurangi keparahan mukositis, mengurangi insiden mukositis oral, mengurangi rasa nyeri dan memberikan rasa nyaman pada rongga mulut. Saran: Intervensi oral cryotherapy dapat diterapkan di rumah sakit secara konsisten dan dievaluasi secara berkala.  
Integrated Education and Screening Program: Preventing Frailty Risk and Promoting Elderly Health Yakobus Siswandi; Eva Berthy Tallutondok; Martha Ocataria; Erivita Sakti; Shinta Marina J. P. Sihaloho
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 6 (2026): Volume 9 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i6.24609

Abstract

ABSTRACT Aging increases the risk of frailty and metabolic disorders among older adults, which may reduce physical, mental, and social functioning and accelerate disability. This Community Service Program (Pengabdian kepada Masyarakat/PkM) at the Toraja Church Congregation in Tangerang aimed to improve older adults’ awareness and knowledge regarding frailty prevention through health education and integrated health screening. In addition, this program also aimed to identify the health conditions of older adults, including anthropometric status, metabolic conditions, blood pressure, physical strength, and frailty levels as part of early detection and prevention of frailty progression. This activity is expected to support the improvement of quality of life and independence among older adults as a contribution to achieving the Sustainable Development Goals (SDGs), particularly SDG 3 on good health and well-being. The methods included screening for fasting blood glucose, cholesterol, uric acid, vital signs, body mass index (BMI), muscle mass, mid-upper arm circumference (MUAC), calf circumference, handgrip strength, and frailty assessment using the Clinical Frailty Scale, followed by education through modules, presentations, and learning videos. The results among 16 older adults showed that the majority were aged ≥60 years (62.5%), male (62.5%), and had higher education levels (62.5%). Anthropometric conditions showed that 31.3% were overweight and 68.8% were obese; 87.5% had normal muscle mass, while 12.5% experienced decreased muscle mass. Metabolic screening showed abnormal fasting blood glucose (56.3%), high uric acid levels (68.8%), and high cholesterol levels (56.3%). High systolic blood pressure was found in 56.3% of participants, while the majority had normal pulse rates (87.5%). Frailty assessment showed that 62.5% were categorized as pre-frail, 25% as frail, and 12.5% as robust. Educational evaluation results demonstrated an increase in the average knowledge score from 75.65 to 81.36. The conclusion of this Community Service Program at the Toraja Church Congregation in Tangerang showed that most older adults were in the pre-frailty and frailty categories, accompanied by a high prevalence of obesity and metabolic disorders such as hyperglycemia, hyperuricemia, hypercholesterolemia, and hypertension. The implementation of integrated health screening combined with health education was proven to improve older adults’ knowledge regarding frailty prevention and the importance of maintaining a healthy lifestyle. Therefore, continuous screening and education programs are needed as efforts for early detection, prevention of frailty progression, improvement of quality of life, and maintenance of independence among older adults. Older adults are also encouraged to adopt healthy lifestyles through balanced nutrition, physical activity according to their abilities, and regular monitoring of metabolic conditions with support from families, communities, and cross-sector collaboration. Churches are recommended to routinely organize community-based health screening and educational programs for older adults and collaborate with healthcare professionals in monitoring the health conditions of older adults. Furthermore, future Community Service Programs are expected to involve a larger number of participants and develop sustainable intervention programs to support frailty prevention and improve the quality of life of older adults. Keywords: Education, Screening, Frailty, Health, Older Adults.
Edukasi Caregiver untuk Merawat Orang yang Terinfeksi dengan HIV (ODHA) di Indonesia Elysabeth Sinulingga; Yakobus Siswadi; Lani Natalia Watania; Erivita Sakti; Regina Situmorang; Frida Lina Br Tarigan
Jurnal Medika: Medika in progres
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/81av6q14

Abstract

Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat berbentuk kegiatan edukasi tentang edukasi caregiver untuk merawat orang yang terinfeksi dengan HIV (ODHA). ODHA sering mengalami stigma dan diskriminasi di masyarakat sehingga ODHA sering merahasiakan status HIV dan mengalami penolakan baik itu oleh keluarga maupun masyarakat sekitar. Komisi HIV/AIDS dan NAPZA (KPA) Moderamen GBKP terbentuk atas kepedulian tentang masalah HIV/AIDS yang ada di Tanah Karo. Bentuk pelayanan KPA Moderamen GBKP antara lain pemberian sosialisasi mengenai HIV/AIDS, pendampingan ODHA dan keluarga, serta menyediakan rumah singgah untuk membantu ODHA dan keluarganya. Caregiver informal seringkali harus memberikan bantuan dan perawatan terhadap ODHA tanpa dibekali oleh pengetahuan dan keterampilan yang memadai sementara ODHA berisiko mengalami perubahan kesehatan terkait penurunan daya tahan tubuh dan komplikasi terkait dengan hal tersebut selain dari pengelolaan efek samping akibat pengobatan (ARV). Pelatihan caregiver diberikan berdasarkan peka budaya Karo dan spiritual Nasrani diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pengelolaan Kesehatan ODHA, personal hygine ODHA. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat terutama individu yang hidup dengan HIV/AIDS dan keluarga/orang yang mendampingi sehingga diharapkan individu dan keluarga/pendamping (caregiver informal) dapat melakukan tindakan yang tepat dan sesuai dalam memelihara kondisi kesehatan dan mencegah komplikasi akibat HIV yakni menurun menjadi AIDS. Evaluasi dilakukan sebelum dan sesudah materi diberikan dalam bentuk pre-post quiz. Target luaran PKM adalah diseminasi dalam bentuk artikel ilmiah pada jurnal PKM-CSR atau jurnal akreditasi sinta.