Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Pemeriksaan Kecepatan Enap Darah (Ked) pada Posisi Tegak Dibanding Kemiringan 30° Rosita, Linda
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4, No 1 (2004)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v4i1.1711

Abstract

Erytrocyt sedimentation rate (ESR) is one blood test which always to do help diagnosis. There is for to find out different value ESR position straight is compared ESR position 30°. Helply this position will give faster time all at least last than one hour. The amount total of vena blood 62 taking from 62 respondent, at RSUD Wirosaban and clinical pathology laboratory Indonesia of Islamic Univercity . The method of collect to do with result ESR position straight one hour, also position 30°. The collected data is process with analysis paired sample test. The result is different between the position of staight one hour and the position 30° in 5 menit, 15 menit, and 30 menit, (p-0,00). To need the next research on the position 30° with time varition, than try the hook position not more than 30°.Kecepatan Enap darah (KED merupakan salah satu pemeriksaan yang selalu dilakukan untuk membantu menegakan diagnosis. Adapun tujuan penelitian adalah membandingkan nilai KED pada posisi tegak dengan posisi kemiringan 30°, dengan harapan posisi kemiringan dapat memberikan waktu yang lebih singkat atau kurang dari 1 jam untuk mendapatkan nilai yang sama pada posisi tegak. Jumlah sampel darah vena 62, diambil dari 62 responden, dari pasien RSUD Wirosaban dan Laboratorium Patologi Klinik FK UII. Metode pengumpulan mencatat nilai pengamatan KED pada posisi tegak waktu 1 jam, posisi miring 30 derajat pada waktu 5’, 15’ dan 30’ kemudian diolah dengan analisis statistik uji selisih 2 rata-rata. Terdapat perbedaan antara nilai pengamatan posisi tegak 1 jam dengan posisi miring arah 5’, 15’ dan 30’ (p = 0,00). Diperlukan penelitian lebih lanjut pada posisi miring 30’ dengan waktu yang bervariasi, serta mencoba posisi kemiringan tegak hanya 30°.
Hubungan Asma dan Alergi dengan “Westernisasi” Rosita, Linda
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3, No 1 (2003)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v3i1.1549

Abstract

Penelitian ini didisain untuk mengetahui resiko Asma dan Alergi yang disebabkan oleh tingkat “westernisasi”. Apakah ada hubungan Asma dan Alergi di Albania lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain di Eropa. Subjek penelitian 2653 penduduk Albania yang berumur 20-44 tahun. Penelitian dilakukan dari tahun 1995-1996. Pada awal penelitian dibagikan kuisioner yang berisi simptom gangguan pemapasan yang diambil dari item-item ECRHS (European Community Respiratory Heath Survey) protokol. Simptom yang paling banyak ditemukan Alergi Nasal pada kelopok laki-laki (n=1260, 14,2%) dan kelompok perempuan (n=1393,12,4%). Dari 2653 yang telah mengisi kuisioner diambil sub sampel untuk menguji hasil tes kulit (skin prick test) 564 orang. Alergian untuk tes kulit ini: tungau debu rumah, kucing, rumput polen, kucing, anjing dan burung. Dominan orang mengalami Alergi pada tungau (18,4%), sedangkn untuk Alergian kurang dari 5%. Tes kulit ini juga dipantau dengan ECRHS (European Community Respi¬ratory Heath Survey). Pengujian juga dilakukan terhadap kadar serum Ig E spesifik. Alergen yang dipakai adalah tungau, rumput timote. Tungai adalah Alergen yang paling sering memacu antibodi Ig E spesifik. Penelitian ini dapat menerangkan penyakit alergi jarang muncul di Albania, karena beberapa faktor yaitu: tingginya konsumsi buah-buahan, yang mengandung antioksida, tingginya konsumsi minyak zaitun, gaya hidup yang berbeda dengan “Westernisasi” mencakup rendahnya tingkat kepemilikan binatang peliharaan, keragaman makanan yang berbeda dengan negara-negara Eropa.Disarikan: Allergy Volume 54 Issue 10 Page 1042 - Oktober 1999 oleh A.Priftanji, E.Qirko, J.C.M. Layzell, M.L. Burr, R. Fifield.
Pemrosesan Citra Digital dalam Klasifikasi Hasil Urinalisis Menggunakan Kamera Smartphone Khairul Hafidh; Izzati Muhimmah; Linda Rosita
Jurnal Informatika dan Rekayasa Elektronik Vol. 2 No. 1 (2019): JIRE April 2019
Publisher : LPPM STMIK Lombok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36595/jire.v2i1.70

Abstract

Penelitian ini mengusulkan salah satu pendekatan pengolahan citra dan klasifikasi dalam analisis urin (urinalisis) dengan metode carik celup menggunakan dipstik urin sepuluh parameter (dipstik 10P). Adapun yang diurinalisis dalam pemeriksaan urin meliputi leukosit, nitrit, urobilinogen, protein, keasaman, darah, berat jenis, keton, bilirubin dan glukosa pada urine. Penggunaan kamera yang disematkan pada smartphone dapat menjadi solusi dalam akuisisi citra untuk data reference dan data uji dipstik. Setelah akuisi citra dilanjutkan dengan skema pemrosesan citra dipstik. Citra hasil tangkapan kamera smartphone menempati ruang warna RGB yang selanjutnya digunakan sebagai nilai ekstraksi fitur. Hasil dari ekstraksi fitur warna RGB digunakan sebagai nilai untuk mengukur jarak kedekatan antara reference dan data uji. Metode yang digunakan adalah Jarak Manhattan. Nilai jarak terdekat menjadi solusi dalam masalah klasifikasi hasil urinalisis ini. Perancangan sistem menggunakan bahasa pemrograman Python dengan package OpenCV. Hasil dari perancangan ini menunjukkan sistem dapat melakukan klasifikasi.
PENDUKUNG KEPUTUSAN PENENTUAN RESIKO KEMUNGKINAN TERJADI REAKSI DARAH Abd. Halim; Sri Kusumadewi; Linda Rosita
Jurnal Informatika dan Rekayasa Elektronik Vol. 3 No. 1 (2020): JIRE April 2020
Publisher : LPPM STMIK Lombok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36595/jire.v3i1.249

Abstract

Saat proses tranfusi darah ada resiko bagi pasien yang menerima, resiko yang ditimbulkan bisa lambat atau cepat yang disebut dengan reaksi darah. Dalam layanan darah dikenal istilah hemovigilance yang berupaya mengumpulkan data reaksi transfusi, melakukan analisis data dan kemudian menggunakannya sebagai dasar peningkatan keamanan layanan transfusi darah [1]. Dalam studi ini akan dibahas lebih lanjut tentang hemovigilance untuk menentukan risiko reaksi terhadap darah bank darah dari penyakit rumah. Tahapan yang diimplementasikan mulai dari studi literatur, kemudian pengumpulan data, potensi dilakukan untuk memastikan kepatuhan dengan studi literatur, dilanjutkan dan sesuai dengan pendapat para ahli, melakukan analisis data diikuti dengan pembuatan desain SPK, diimplementasikan dan dilanjutkan dengan berkonsultasi lagi dengan para ahli, memeriksa penyesuaian, diikuti dengan diskusi kemudian mendapatkan kesimpulan. Hasil perhitungan Naive Bayes Classification (NBC) menunjukkan tingkat akurasi 75%. Kesimpulan kemungkinan terjadi suatu reaksi darah dapat dideteksi sejak dini, dapat dilakukan dengan penentuan reaksi darah SPK.
FUZZY EXPERT SYSTEM UNTUK MEMBANTU DIAGNOSIS AWAL SINDROMA METABOLIK Supardianto Supadianto; Sri Kusumadewi; Linda Rosita
Jurnal Informatika dan Rekayasa Elektronik Vol. 4 No. 1 (2021): JIRE April 2021
Publisher : LPPM STMIK Lombok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36595/jire.v4i1.313

Abstract

Metabolic syndrome is a condition that occurs in a person simultaneously, such as an increase in blood pressure, high blood sugar levels, excess fat around the waist, and an unusual increase in cholesterol levels. This condition makes the risk for sufferers experiencing heart disease, stroke, and diabetes mellitus very high. Metabolic syndrome is a non-contagious disease. A person who has metabolic syndrome is usually difficult to detect, because experts are needed to analyze it. Fuzzy Expert System (Fuzzy Expert System) is part of artificial intelligence using fuzzy logic. where the system tries to adopt human knowledge to computers so that computers can solve problems as usually done by experts. Where later the results of the system developed in the study can at least help experts (doctors) in providing conclusions on the risk of disease suffered by patients through the analysis of metabolic syndrome. This system will involve experts such as doctors and patients, where the doctor makes a diagnosis of the patient's metabolic syndrome analysis results, and the patient is used to seeing the diagnosis of the risk of the disease being suffered.
Pengaruh Ekstrak Etanol Bawang Merah (Allium cepa L) terhadap Kadar Kolestrol Total Tikus (Rattus norvegicus) Cita Auli Nisa; Linda Rosita
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i1.1555

Abstract

The purpose of this study was to determine the optimal dosage of 70% ethanol extract of red onion bulbs that effectively lower total cholesterol rats given high fat diet. This study is an experimental laboratory. Thirty male Wistar rats with 170-250gr weight divided five groups, group I: control, group II: 30mg/200g bw dose of garlic extract, group III: 60mg/200g bw dose of garlic extract, group IV: 120mg/200g bb dose of garlic extract, and group V: positive control, were given doses of 0.72 mg/200g bw simvastatin suspension. All groups were given high fat diet alone for 7 days to increase total cholesterol. Measurement of serum total cholesterol by CHOD-PAP method performed before treatment on day 0, on the 8th day after administration of high-fat diet for 7 days, and on the 16th day after administration of high-fat diet and ethanol extract of red onion over 7 days from the 9th until the 15th day. The results were tested statistically by paired t test. Concluded that 70% ethanol extract of red onion (Allium cepa L.) with a dose of600 mg / kg or 120 mg/200 GBB equivalent statistically significant lower serum total cholesterol levels of rats (Rattus norvegicus) Wistar male.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dosis ekstrak etanol 70% umbi bawang merah yang efektif menurunkan kadar kolesterol total tikus diberi diet lemak tinggi. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratorium. Tigapuluh tikus Wistar jantan dengan 170- 250gr berat badan dibagi lima kelompok, kelompok I: kontrol, kelompok II: 30mg/200g bb dosis ekstrak bawang, kelompok III: 60mg/200g bb dosis ekstrak bawang, kelompok IV : 120mg/200g bb dosis ekstrak bawang, dan kelompok V: kontrol positif, diberi dosis 0,72 mg/200g bb suspensi simvastatin. Semua kelompok diberi diet lemak tinggi saja selama 7 hari untuk meningkatkan kadar kolesterol total. Pengukuran kadar kolesterol total serum dengan metode CHOD-PAP dilakukan sebelum perlakuan pada hari ke-0, pada hari ke-8 setelah pemberian diet lemak tinggi selama 7 hari, dan pada hari ke-16 setelah pemberian diet lemak tinggi dan ekstrak etanol bawang merah selama 7 hari dari hari ke-9 sampai hari ke-15. Hasil penelitian diuji statistik dengan uji t berpasangan. Disimpulkan bahwa ekstrak etanol 70% bawang merah (Allium cepa L.) dengan dosis sebesar 600 mg/kg BB atau setara 120 mg/200 gBB secara statistik bermakna menurunkan kadar kolesterol total serum tikus (Rattus norvegicus) galur Wistar jantan.
Surveilans Penderita Talasemia di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2004 Linda Rosita
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 2 (2007)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v7i2.1676

Abstract

Surveillance based on demography data and laboratory data of patient ’s Thalassemia needing routine blood transfusion give a contribution in managing the disease in society and increase the service to patient and its family. The aim of this study is to investigate the epidemiology clinical and laboratory aspect of the Thalassemia patient needing routine transfusion in RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. The study retrospectively, subject are the patient with routine transfusion and have complete laboratory data. Data are taken from patient’s Thalassemia needed routine transfusion or suspect Thalassemia and other variables needed rutinized from their medical records during of2004. There are 29 subject this study 18% is major Thalassemia, age 1-14 year, needing blood transfusion for a lifetime (48%), living outside DIY (52%) that is Central Java of part of south Pacitan. Family History knew (86%) at patient ’s, peripheral blood smear supporting diagnosed by Thalassemia (86%), existence of splenomegaly most of allpatient’s, test fragilities osmotic (71%) supporting diagnosed Thalassemia. Haemoglobin Rate gyrate 2,7-10g%, there are make-up of amount retikulosit till 4,9%,. pattern of Electrophoresis Hb there are improvement Hb S/D/G till 70mg%, improvement of Hb A2 till 86,7mg%, and also the existence of improvement of Hb F of father 2,84% and improvement of Hb F of mother 1,26%. Peripheral blood smear a step aside and usable osmotic fragility test as screening Thalassemia after existence of later clinic suspicion can be continued test of electrophoresis Hb and analyze the fi gene DNA. Test Electrophoresis Hb require to be socialized to doctor to make diagnosed by Thalassemia and suspicion to traits Thalassemia.Surveilans yang berbasis data demografi dan laboratorium pada pasien Talasemia yang memerlukan transfusi darah rutin dapat memberikan kontribusi terhadap penaggulangan penyakit di masyarakat dan meningkatkan mutu pelayanan kepada pasien dan keluarganya. Penelitian secara retrospektif observasional, subyek penelitian pasien Talasemia menjalani transfusi rutin atau pasien dicurigai klinis Talasemia, memiliki data demografi dan data laboratorium lengkap, dirawat di Instalasi Kesehatan Anak (InsKA) dan Unit Penyakit Dalam (UPD) RSUP Dr. Sardjito. Kriteria eksklusi jika sampai akhir perawatan diagnosis Talasemia belum dapat ditegakkaan Terdapat 29 subyek penelitian dengan Talasemia mayor (18%), kelompok umur terbanyak 1-14 tahun, memerlukan transfusi darah seumur hidup (48%), berdomisili di luar DIY (52%) yaitu Jawa tengah bagian selatan hingga Pacitan. Riwayat keluarga pada pasien diketahui (86%), morfologi darah tepi yang mendukung diagnosis Talasemia (86%), adanya splenomegali pada hampir semua pasien, tes fragilitas osmotik (71%) mendukung diagnosis Talasemia. Kadar hemoglobin berkisar 2,7-10g%, peningkatan jumlah retikulosit hingga 4,9%. Pola elektroforesis Hb terdapat peningkatan pada Hb S/D/G hingga 70mg%, peningkatan Hb A hingga 86,7mg%, adanya peningkatan Hb F ayah rata-rata 2,84% dan peningkatan Hb F ibu rata-rata 1,26%. Morfologi darah tepi dan tes fragilitas osmotik dapat dipakai sebagai skrining Talasemia setelah adanya kecurigaan klinis dilanjutkan pemeriksaan elektroforesis Hb dan analisis DNA gen B. Pemeriksaan elektroforesis Hb perlu disosialisasikan kepada klinisi untuk menegakkan diagnosis Talasemia dan kecurigaan terhadap traits Talasemia.
Aktivitas Leukosit Pro Inflamasi pada Kasus Penyakit Paru Obstruktif Kronis Eksaserbasi Akut Juwariyah Juwariyah; Adika Zhulhi Arjana; Ester Tri Rahayu; Linda Rosita; Rozan Muhammad Irfan
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 17, No 2 (2017): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mm.170202

Abstract

Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) memiliki karateristik adanya restriksi saluran nafas yang kurang reversibel. Pada PPOK terdapat inflamasi akibat aktifitas sel-sel inflamasi termasuk neutrofil dan eosinofil. Restriksi saluran nafas terjadi akibat remodelling dari proses inflamasi yang terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktifitas sel-sel inflamasi terutama neutrofil dan eosinofil pada PPOK eksaserbasi akut dengan membandingkan kadar eosinfil dan netrofil sebelum dan sesudah terapi. Penelitian bersifat observasional dengan desain cross sectional. Responden penelitian ini adalah pasien penderita PPOK yang rawat jalan dan rawat inap di RSUD Kebumen pada tahun 2016. Semua subyek masuk dalam penelitian dengan kriteria eksklusi adalah data tidak lengkap. Hasil menunjukkan terdapat 119 pasien yang memenuhi kriteria inklusi sebagai responden. Data dari rekam medis menunjukkan bahwa mayoritas penderita adalah laki-laki (84,03 %) dengan rata-rata umur 67 tahun. Penyakit penyerta yang ditemukan adalah hipertensi (54,62 %), tuberkulosis (22,69 %) dan congestive heart failure (CHF) (6,72 %). Pada tanda vital, terdapat kenaikan sistole dan laju nafas. Presentase netrofil pada kedua jenis kelamin meningkat dibandingkan normal namun tidak dengan eosinofil. Setelah dilakukan rawat inap, terjadi penurunan persentase eosinofil dan neutrofil dibanding sebelum perawatan namun tidak signifikan secara statistik (p= 0,603 vs 0,818). Kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya peningkatan aktivitas netrofil pada pasien PPOK. Penurunan aktivitas baik netrofil maupun eosinofil didapatkan ketika pasien rawat inap meskipun tidak bermakna secara statistik.
Imunitas Tubuh terhadap Cytomegalovirus (CMV) Farida Juliantina Rachmawaty; Linda Rosita
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 2 (2002)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v2i2.1508

Abstract

Cytomegalovirus (CMV) infection has been an important health prob-lem recently. The impact of the infection on the fetus i.e. physical disability and mental retardation will decrease the quality of life. Hence, this will influ¬ence the quality of the next generation, as well as becoming a burden of the family and the community. The expensive cost for its laboratorium examamination and therapy has caused some problems. It is therefore, it is important to understand the body immunity toward this viral infection. Cytomegalovirus (CMV) constitutes Herpesviridae family group. This virus has spread around the world, although its replication develops slowly. Cytomegalovirus (CMV) does not stand high temperature and its reservoar is only human. The transmission of this virus needs frequent contacts and inti¬mate relationship with the infected person. A healthy person with good immu¬nity condition is not easily infected by CMV. However, it needs special atten¬tion on susceptible groups i.e. pregnant women with the fetuses they are carrying; and children, as well as humans with bad immunity or who receive organ tranplantation. This infection rarely becomes mononucleosis syndrom. The diagnostic pro-cedure for adult patients are more frequently based on serologic examinations rather than the clinical conditions. The therapy for the CMV infection patient with intra venous Ganciclovir shows good result. Other recommended thera-pies are intra venous Foscarnet and Cidovir, however, they need caution due to their high side effects.Infeksi Cytomegalovirus (CMV) merupakan masalah penting akhir-akhir ini. Dampak yang ditimbulkan pada janin yang terinfeksi berupa kecacatan fisik dan retardasi mental akan menurunkan kualitas hidupnya. Hal ini akan berpengaruh pula terhadap generasi penerus, serta menjadi beban keluarga dan masyarakat. Mahalnya pemeriksaan laboratorium dan pengobatan menimbulkan masalah tersendiri. Dengan demikian perlu diketahui imunitas tubuh terhadap virus ini. Cytomegalovirus (CMV) merupakan kelompok virus dari famili Herpesviridae. Virus ini tersebar di seluruh dunia, namun replikasinya berkembang dengan lambat. CMV tidak tahan terhadap pemanasan dan satu-satunya reservoar adalah manusia. Perlu kontak yang berulang-ulang dan hubungan yang erat dengan penderita untuk dapat tertular virus ini. Pada orang sehat dengan kondisi imunitas yang bagus tidak mudah terinfeksi CMV. Diperlukan perhatian khusus pada kelompok-kelompok yang rentan, yaitu ibu hamil dengan janin yang dikandungnya dan anak-anak, demikian pula pada individu yang jelas-jelas diketahui terjadi penurunan imunitas atau mendapat tranplantasi organ. Infeksi CMV jarang menjadi sindrom mononukleosis. Diagnosis pada orang dewasa lebih banyak ditegakkan berdasar pemeriksaan serologis daripada gejala klinik. Terapi pada penderita dengan Ganciclovir intra vena menunjukkan hasil yang baik. Terapi lain yang dapat direkomendasi adalah Foscamet dan Cidovir intra vena, namun perlu hati-hati karena efek samping yang tinggi.
Islamic Bioethics: The Art of Decision Making Syaefudin Ali Akhmad; Linda Rosita
Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences (IJLFS) Vol 2 (2012): Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences
Publisher : Penerbit, sejak 2012 : Asosiasi Ilmu Forensik Indonesia dan UPT Lab. Forensik Sain dan Kriminilogi - Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In Islam, bioethical decision-making is carried out within a framework of values derived from the revelation andtradition. Islamic bioethics or Islamic medical ethics are referring to Islamic guidance on ethics and moral issuesrelated to medical and scientific fields, especially those dealing with human, based from the Quran and Hadith.In Islam, human is one of the most sacred creatures of God. Therefore, he/she must be appreciated, respected andwell protected. Apparently, Muslim doctors have always been facing dilemmas on bioethical decision makingduring their practices. There are so many conflicting issues coming from multiple points of views such asdiscipline, legal, ethical, sharia, social, cultural and financial aspects. Muslim doctors should answer thedilemmas on each diagnosis and treatment intervention by having a good decision making as their first step. Byimplementing Islamic framework on bioethical decision making, guided by sharia which includes Quran,Hadith, Ijma, and Qiyas, it is expected that this framework will be able to assist Moslem doctors to solve theirdilemmas in this world and in the hereafter. A triangulation framework known as islamic bioethics consisting oftriangle I and triangle II will ease Moslem doctors to have the final decision for their daily medical practices.These triangle framework will be powerfull in use if combined with Prima Facie approach and a five-digitapproach.