Rachmansyah Rachmansyah
Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau, Maros

Published : 23 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

KARAKTERISTIK TANAH DI BAWAH TEGAKAN JENIS VEGETASI MANGROVE DAN KEDALAMAN TANAH BERBEDA SEBAGAI INDIKATOR BIOLOGIS UNTUK TANAH TAMBAK DI KABUPATEN MAMUJU PROVINSI SULAWESI BARAT Akhmad Mustafa; Rachmansyah Rachmansyah; Kamariah Kamariah
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 1 (2011): (April 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.07 KB) | DOI: 10.15578/jra.6.1.2011.139-156

Abstract

Kondisi lahan mangrove sangat ekstrem, sehingga vegetasi yang tumbuh merupakan vegetasi yang telah beradaptasi dan berevolusi dengan kondisi tersebut. Oleh karena itu, dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui karakteristik tanah di bawah tegakan vegetasi mangrove dan kedalaman tanah berbeda yang dapat dijadikan indikator biologis untuk memprediksi karakteristik tanah untuk budidaya tambak. Pengukuran dan pengambilan contoh tanah dilakukan di bawah tegakan paku laut (Acrostichum aureum), bakau (Rhizophora apiculata), api-api (Avicennia alba), dan nipah (Nypa fruticans) masing-masing pada kedalaman tanah 0-0,25 m dan 0,50-0,75 m di hutan mangrove Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat. Kualitas tanah yang diukur langsung di lapangan adalah pHF, pHFOX, dan potensial redoks, sedangkan yang dianalisis di laboratorium adalah kandungan air, pHKCl, pHOX, SP, SKCl, SPOS, TPA, TAA, TSA, pirit, karbon organik, N-total, PO4, Fe, Al, tekstur, dan nilai n. Analisis ragam dilakukan untuk mengetahui perbedaan kualitas tanah antar vegetasi mangrove pada kedalaman yang sama, sedangkan Uji T dilakukan untuk mengetahui perbedaan kualitas tanah antar kedalaman pada vegetasi mangrove yang sama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tegakan bakau, api-api, nipah, dan paku laut yang tumbuh pada tanah sulfat masam Kabupaten Mamuju diklasifikasikan sebagai Sulfaquent dan Sulfihemits untuk kategori Kelompok Besar. pHF tanah pada vegetasi dan kedalaman tanah yang berbeda relatif sama, tetapi peubah kemasaman tanah lainnya menunjukkan bahwa tanah vegetasi paku laut memiliki potensi kemasaman yang lebih rendah dibandingkan dengan vegetasi lainnya. Kesuburan dan sifat fisik tanah vegetasi paku laut lebih mendukung untuk lahan budidaya tambak daripada vegetasi lainnya (bakau, api-api, nipah). Kualitas tanah pada setiap vegetasi relatif sama pada kedua kedalaman, kecuali tanah vegetasi paku laut dan api-api yang memiliki pH dan kandungan PO4 yang lebih tinggi pada kedalaman 0-0,25 m daripada kedalaman 0,50-0,75 m. Keempat vegetasi yang dikaji dapat dijadikan indikator biologis keberadaan tanah sulfat masam, tetapi vegetasi paku laut memiliki kualitas tanah yang lebih baik untuk lahan budidaya tambak. Disarankan bahwa pengambilan contoh tanah untuk analisis di laboratorium pada tanah vegetasi bakau dan nipah yang belum terganggu tidak perlu dilakukan pada kedalaman 0,50-0,75 m, kecuali untuk tujuan tertentu.
PEUBAH KUALITAS AIR YANG MEMPENGARUHI PERTUMBUHAN RUMPUT LAUT (Gracilaria verrucosa) DI TAMBAK TANAH SULFAT MASAM KECAMATAN ANGKONA KABUPATEN LUWU TIMUR PROVINSI SULAWESI SELATAN Akhmad Mustafa; Rachmansyah Rachmansyah; Dody Dharmawan Trijuno; Ruslaini Ruslaini
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 1 (2009): (April 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.251 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.1.2009.125-138

Abstract

Rumput laut (Gracilaria verrucosa) telah dibudidayakan di tambak tanah sulfat masam dengan kualitas dan kuantitas produksi yang relatif tinggi. Oleh karena itu, dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui peubah kualitas air yang mempengaruhi laju pertumbuhan rumput laut di tambak tanah sulfat masam Kecamatan Angkona Kabupaten Luwu Timur Provinsi Sulawesi Selatan. Pemeliharaan rumput laut dilakukan di 30 petak tambak  terpilih selama 6 minggu. Bibit rumput laut dengan bobot 100 g basah ditebar dalam hapa berukuran 1,0 m x 1,0 m x 1,2 m. Peubah tidak bebas yang diamati adalah laju pertumbuhan relatif, sedangkan peubah bebas adalah peubah kualitas air yang meliputi: intensitas cahaya, salinitas, suhu, pH, karbondioksida, nitrat, amonium, fosfat, dan besi. Analisis regresi berganda digunakan untuk menentukan peubah bebas yang dapat digunakan untuk memprediksi peubah tidak bebas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pertumbuhan relatif rumput laut di tambak tanah sulfat masam berkisar antara 1,52% dan 3,63%/hari dengan rata-rata 2,88% ± 0,56%/hari. Di antara 9 peubah kualitas air yang diamati ternyata hanya 5 peubah kualitas air yaitu: nitrat, salinitas, amonium, besi, dan fosfat yang mempengaruhi pertumbuhan rumput laut secara nyata. Untuk meningkatkan pertumbuhan rumput laut di tambak tanah sulfat masam Kecamatan Angkona Kabupaten Luwu Timur dapat dilakukan dengan pemberian pupuk yang mengandung nitrogen untuk meningkatkan kandungan amonium dan nitrat serta pemberian pupuk yang mengandung fosfor untuk meningkatkan kandungan fosfat sampai pada nilai tertentu, melakukan remediasi untuk menurunkan kandungan besi serta memelihara rumput laut pada salinitas air yang lebih tinggi, tetapi tidak melebihi 30 ppt.Seaweed (Gracilaria verrucosa) has been cultivated in acid sulfate soil-affected ponds with relatively high quality and quantity of seaweed production. A research has been conducted to study water quality variables that influence the growth of seaweed in acid sulfate soil-affected ponds of Angkona Sub-district East Luwu Regency South Sulawesi Province. Cultivation of seaweed was done for six weeks in 30 selected brackishwater ponds. Seeds of seaweed with weight of 100 g were stocked in hapa sized 1.0 m x 1.0 m x 1.2 m. Dependent variable that was observed was specific growth rate, whereas independent variables were water quality variables including light intensity, salinity, temperature, pH, carbondioxide, nitrate, ammonium, phosphate, and iron. Analyses of multiple regressions were used to determine the independent variables which could be used to predict the dependent variable. Research result indicated that relative growth rate of seaweed in acid sulfate soils-affected brackishwater ponds ranged from 1.52% to 3.63%/day with 2.88% ± 0.56%/day in average. Among nine observed water quality variables, only five variables namely: nitrate, salinity, ammonium, phosphate and iron influence significantly on the growth of seaweed in acid sulfate soils-affected brackishwater ponds. The growth of seaweed in acid sulfate soils-affected brackishwater ponds of Angkona District East Luwu Regency, can be improved by using nitrogen-based fertilizers to increase ammonium and nitrate contents and also fertilizers which contain phosphorus to improve phosphate content to a certain level. Pond remediation to decrease iron content and also rearing seaweed at higher salinity (but less than 30 ppt) can also be alternatives to increase the growth of seaweed.
PENGARUH PENGURANGAN RANSUM PAKAN SECARA PERIODIK TERHADAP PERTUMBUHAN, SINTASAN, DAN PRODUKSI UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) POLA SEMI-INTENSIF DI TAMBAK Abdul Mansyur; Hidayat Suryanto Suwoyo; Rachmansyah Rachmansyah
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 1 (2011): (April 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.518 KB) | DOI: 10.15578/jra.6.1.2011.71-80

Abstract

Pakan merupakan biaya produksi tertinggi dalam budidaya udang vaname di tambak, sehingga diperlukan informasi strategi manajemen pakan dalam budidaya. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh pengurangan ransum pakan secara periodik terhadap pertumbuhan, sintasan, produksi, rasio konversi pakan dan efesiensi pakan pada budidaya udang vaname pola semi-intensif. Penelitian dilakukan di tambak percobaan Punaga Takalar, menggunakan 6 petak pembesaran udang vaname masingmasing berukuran 4.000 m2. Hewan uji adalah pasca larva udang vaname dengan bobot awal rata-rata 0,017 g yang ditebar pada tambak dengan kepadatan 20 ekor/m2. Rancangan penelitian adalah rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan yang masing-masing perlakuan terdiri atas dua ulangan. Perlakuan yang diujicobakan adalah pengurangan ransum pakan (pemuasaan) secara periodik yaitu: A) pengurangan ransum pakan 30%, B) pengurangan ransum pakan 60%, dan C) kontrol (tanpa pengurangan ransum pakan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengurangan ransum pakan secara periodik berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap pertambahan bobot mutlak, laju pertumbuhan harian, sintasan, produksi, dan rasio konversi pakan bahkan mampu meningkatkan efisiensi pakan sekitar 7,71–22,39%. Penghematan penggunaan pakan untuk udang vaname dapat dilakukan dengan pengurangan ransum pakan hingga 60% bobot badan/hari/minggu
PERTUMBUHAN SPORA RUMPUT LAUT Gracilaria verrucosa SECARA IN VITRO DENGAN PENAMBAHAN HORMON PENGATUR PERTUMBUHAN PADA TANAMAN Emma Suryati; Rachmansyah Rachmansyah; Sri Redjeki Hesti Mulyaningrum
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.274 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.2.2009.307-312

Abstract

Perbaikan mutu genetik rumput laut Gracilaria verrucosa dapat dilakukan melalui perkawinan silang dari spora atau melalui fusi protoplas. Perkembangan spora rumput laut sangat tergantung pada media tumbuh dan kondisi lingkungan dimana spora tersebut berada. Untuk memacu perkembangan spora pada kondisi laboratorium, diperlukan perlakuan khusus agar spora dapat tumbuh dan bertahan hidup. Pemberian kinetin yang berfungsi sebagai hormon perangsang tumbuh pada tanaman dapat mempercepat pertumbuhan dari spora membentuk anakan baru. Konsentrasi kinetin yang digunakan berkisar antara 0,5–2 mg/L. Sintasan spora dan pertumbuhan yang optimum diperoleh pada pemberian kinetin 1 mg/L baik pada media padat maupun pada media cair. Pemeliharaan anakan rumput laut secara in vitro dipertahankan hingga mencapai ukuran 2 cm.Genetic improvement of seaweed, G. verrucosa can be done through spore cross breeding or protoplast fusion. Seaweed spore development is very dependent on the medium and environment where the spore grows. To stimulate the development of the spore in laboratory, special treatment is needed in order to foster spore growth and survival. Kinetin treatment as a plant growth regulator can stimulate the growth of seaweed from spore to bud. Applied kinetin range was 0.5–2 mg/L. Optimum survival rate and growth of spore achieved by the addition of 1 ppm kinetin concentration both in solid and liquid media. In vitro nursery of buds was continued until the buds reached 2–3 cm in size.
VALIDASI LUAS LAHAN TAMBAK DI KABUPATEN PINRANG, PROVINSI SULAWESI SELATAN DENGAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Mudian Paena; Akhmad Mustafa; Hasnawi Hasnawi; Rachmansyah Rachmansyah
Jurnal Riset Akuakultur Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.656 KB) | DOI: 10.15578/jra.2.3.2007.329-340

Abstract

Keberhasilan budi daya tambak udang windu pada awal tahun 1990-an menyebabkan terjadinya pertambahan luas tambak yang cukup besar di Sulawesi Selatan termasuk di Kabupaten Pinrang. Untuk mendapatkan data perubahan luas dan luas tambak terkini di kabupaten tersebut maka dilakukan validasi luas tambak melalui pemanfaatan citra satelit. Citra satelit yang digunakan adalah Landsat-7 ETM+ akuisisi 2002 dan 2005 yang selanjutnya dilakukan klasifikasi. Sedangkan untuk data sebelumnya yaitu tahun 1991 digunakan peta rupabumi Indonesia yang didigitasi dan dilakukan analisis spasial dengan menggunakan SIG. Hasil analisis menunjukkan bahwa luas tambak di Kabupaten Pinrang pada tahun 1991 adalah 7.490,805 ha dan meningkat pada tahun 2002 dan 2005 menjadi berturut-turut 13.366,086 ha dan 14.569,180 ha. Penambahan luas tambak di Kabupaten Pinrang sebagian besar berasal dari konversi sawah dan sebagian lagi berasal dari konversi penggunaan lahan lainnya yang ada di kawasan pesisir.The successful of tiger prawn culture in the brackish water pond in the early of 1990s to cause expansion of brackish water pond area in fairly large in South Sulawesi including Pinrang Regency. To find data of area changing and updating data of brackish water pond area in this regency, was conducted the validation brackish water pond area with satellite image. Satellite image which used was Landsat-7 ETM+ acquisition 2002 and 2005. Satellite image was classified, while the early data, in 1991, was used maps of rupabumi Indonesia that was digitized and conducted spatial analysis with GIS. The results of analysis show that brackish water pond area in Pinrang regency in 1991 was 7,490.805 ha and increased up to 13,366.086 ha and 14,569.180 ha in 2002—2005, respectively. The addition of brackish water ponds area in Pinrang Regency was mainly came from conversion of paddy field and it remaining was from the other land uses type of coastal zone.
FAKTOR STATUS PEMBUDIDAYA, KONDISI, DAN PENGELOLAAN TAMBAK YANG BERPENGARUH TERHADAP PRODUKSI RUMPUT LAUT (Gracilaria verrucosa) DI TAMBAK TANAH SULFAT MASAM KABUPATEN LUWU UTARA PROVINSI SULAWESI SELATAN Erna Ratnawati; Akhmad Mustafa; Rachmansyah Rachmansyah
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1080.303 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.2.2008.275-287

Abstract

Tambak di Kabupaten Luwu Utara umumnya tergolong tanah sulfat masam dan banyak digunakan untuk budidaya rumput laut (Gracilaria verrucosa) dengan produksi yang tinggi. Oleh karena itu, dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui faktor status pembudidaya, kondisi, dan pengelolaan tambak yang mempengaruhi produksi rumput laut. Metode penelitian yang diaplikasikan adalah metode survai untuk mendapatkan data primer dari produksi, status pembudidaya, dan pengelolaan tambak yang dilakukan melalui pengajuan kuisioner kepada responden secara terstruktur, sedangkan kondisi tambak ditentukan melalui pengamatan dan pengukuran langsung di lapangan. Sebagai peubah tidak bebas adalah produksi dan peubah bebas adalah faktor status pembudidaya yang terdiri atas 10 peubah, kondisi tambak yang terdiri atas 12 peubah, dan pengelolaan tambak yang terdiri atas 26 peubah. Analisis regresi berganda dengan peubah boneka digunakan untuk memprediksi produksi rumput laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi aktual rata-rata rumput laut di tambak tanah sulfat masam sebesar 7.821 kg/ha/tahun dengan prediksi produksi sebesar 23.563 kg kering/ha/tahun. Produksi rumput laut dapat ditingkatkan melalui: peningkatan pengalaman pembudidaya tambak, penambahan jumlah pintu air, tambak dibuat dengan bentuk bujur sangkar atau empat persegi panjang dengan luasan tambak tidak terlalu luas serta peningkatan lama pengeringan tanah dasar tambak, padat penebaran ikan bandeng, dosis kapur dan dosis pupuk Urea, SP-36, KCl, dan Za sebagai pupuk dasar.Brackishwater pond in North Luwu Regency, generally as classified as acid sulfate soils and most of them was used for culturing seaweed (Gracilaria verrucosa) with high productivity. Hence, it was conduct research that aim to know the effect of farmer status, condition, and management of pond on the seaweed production. Survey method was applied to find primary data of seaweed production, farmer status and pond management, while pond condition was determined through observation or measurement in the field. As a dependent variable in this research is seaweed production. Independent variable was grouped into: (a) farmer status factor, consist of 10 variables; (b) pond condition factor, consist of 12 variables; and (c) pond management factor, consist of 26 variables. Multiple regression with dummy variable was used to analyse the data in prediction dependent variable. Results show that average of seaweed actual production in ASS-affected pond of Luwu Utara Regency is 7,821 kg dry/ha/year with prediction product is 23,563 kg dry/ha/year. Seaweed production can be increased through: (a) increasing the experience of farmers pond, (b) increasing number of water gate and pond was make in rectangle or rectangular shape with it is not large of area, (c) increasing duration of bottom drying and stocking density of milkfish, and (d) increasing dosage of lime and Urea, SP-36, KCl and ZA as initiating fertilizer.
VALIDASI DATA LUAS LAHAN BUDIDAYA TAMBAK DI KABUPATEN MAROS DAN PANGKEP PROVINSI SULAWESI SELATAN DENGAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Akhmad Mustafa; Utojo Utojo; Hasnawi Hasnawi; Rachmansyah Rachmansyah
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1910.577 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.3.2006.419-430

Abstract

keberhasilan budidaya tambak udang windu di awal tahun 1990-an menyebabkan terjadinya pertambahan luas tambak yang cukup besar di Sulawesi Selatan termasuk Kabupaten Maros dan Pangkep
PENGARUH KADAR PROTEIN DAN LEMAK PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KOMPOSISI BADAN IKAN KERAPU MACAN, Epinephelus fuscoguttatus Usman Usman; Neltje Nobertine Palinggi; Kamaruddin Kamaruddin; Makmur Makmur; Rachmansyah Rachmansyah
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.845 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.2.2010.277-286

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang kebutuhan optimum kadar protein dan lemak pakan terhadap pertumbuhan dan komposisi badan ikan kerapu macan ukuran konsumsi. Sembilan pakan uji dibuat dalam bentuk moist pelet dengan tiga dosis protein (46%, 49%, dan 52%) dan tiga dosis lemak (9%, 11%, dan 13%). Ikan uji dipelihara dalam 27 keramba jaring apung ukuran 1 m x 1 m x 2 m selama 140 hari, diberi pakan uji secara satiasi dua kali sehari dan diset dalam rancangan acak kelompok pola faktorial berdasarkan kelompok ukuran bobot awal ikan yaitu (i) 122,0±4,2 g; (ii) 144,0±7,1 g; dan (iii) 172,9±10,5 g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pertumbuhan spesifik dan sintasan ikan relatif sama (>0,05) di antara perlakuan. Efisiensi pakan cenderung meningkat dengan meningkatnya kadar protein dan lemak pakan. Tingkat efisiensi pemanfaatan protein cenderung menurun dengan meningkatnya kadar protein pakan, tetapi meningkat dengan meningkatnya kadar lemak pakan. Hasil analisis proksimat badan ikan menunjukkan bahwa kadar bahan kering dan lemak ikan relatif tidak dipengaruhi (P>0,05) oleh peningkatan kadar protein pakan, namun kadar bahan kering dan lemak ikan tersebut sedikit naik dengan meningkatnya kadar lemak pakan. Kadar protein dan abu ikan relatif tidak dipengaruhi oleh perubahan kadar protein dan lemak pakan. Berdasarkan hasil penelitian ini tampak bahwa pakan dengan kadar protein 49% dan lemak sekitar 11% mampu memberikan pertumbuhan dan komposisi badan ikan kerapu macan yang baik.This experiment was conducted to investigate the optimum dietary protein and lipid level for growth and body composition of tiger grouper. Nine dietary experiments were formulated to moist pellet contain three levels of protein (46%, 49%, and 52%) and three levels of lipid (9%, 11%, and 13%). The fish were fed twice daily to satiation for 140 days in twenty seven net cages of 1 m x 1 m x 2 m, were set up factorial randomized block design based on fish size group i.e. (i) 122.0±4.2 g, (ii) 144.0±7.1 g, and (iii) 172.9±10.5 g. The results shown that specific growth rate and survival rate were not significant different (P>0.05) for all treatments. Feed efficiency increased when protein and lipid content increased. Protein efficiency decreased when protein diets increased and increased when lipid diets increased. No interaction occurred between protein and lipid content to all observable biological variables. Dry matter and lipid content of test fish were not affected by protein diets increase but by lipid diet content. Protein and ash of test fish were not affected by either protein or lipid contained in diet. To assure high growth rates and high quality of fish product, it is suggested to feed tiger grouper with diet containing 49% protein and 11% lipid. 
RUMPUT LAUT JENIS CAULERPA DAN PELUANG BUDI DAYANYA DI SULAWESI SELATAN Petrus Rani Pong-Masak; Abdul Mansyur; Rachmansyah Rachmansyah
Media Akuakultur Vol 2, No 2 (2007): (Desember 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9085.858 KB) | DOI: 10.15578/ma.2.2.2007.80-85

Abstract

Caulerpa merupakan salah satu komoditas rumput laut yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat secara langsung sebagai makanan dalam bentuk lalapan dan sayuran. Di Sulawesi Selatan, Caulerpa yang dipanen dari laut sangat digemari bahkan telah diproduksi melalui usaha budi daya pada tambak-tambak terlantar di pinggir pantai. Produksi Caulerpa telah menjadi komoditas yang bernilai ekonomi dan diperjualbelikan di pasarpasar lokal dan telah menjadi sajian menu khas di sejumlah restoran menengah. Studi awal telah dilakukan di wilayah pesisir Sulawesi Selatan, yaitu untuk pengamatan lahan budi daya serta analisis proksimat terhadap spesies Caulerpa lentillifera, Caulerpa recemosa var macrophysa, dan Caulerpa sp. di tambak dan pantai. Terlihat bahwa kandungan air 3,09±1,03; abu 60,67±2,62; lemak 0,39±0,33; protein 7,93±2,32; serat kasar 13,33±8,33; dan BETN 17,67±3,88. Tekstur tanah dengan debu berpasir atau pasir berdebu cocok untuk budi daya Caulerpa, di mana budi daya dengan penerapan metode long-line kurang produktif.
PEMIJAHAN DAN PEMELIHARAAN LARVA IKAN BERONANG (Siganus guttatus) Samuel Lante; Rachmansyah Rachmansyah
Media Akuakultur Vol 2, No 2 (2007): (Desember 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8193.177 KB) | DOI: 10.15578/ma.2.2.2007.57-61

Abstract

Untuk menghasilkan benih ikan beronang Siganus guttatus yang baik, maka penanganan induk yang meliputi: pemeliharaan, pematangan gonad dengan implan pelet hormon LHRH-a, dan penambahan vitamin C dalam pakan serta pemeriksaan siap pijah sangat penting. Pengamatan perkembangan embrio dalam telur dan larva pada tahap awal, penyediaan pakan alami serta pemeliharaan larva merupakan tahap lanjutan dari pemeliharaan larva yang baik, maka benih-benih ikan Siganus guttatus yang dihasilkan juga akan baik.