Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Analisis Potensi Pariwisata Air Terjun di Kabupaten Tasikmalaya Hendriawan, Nandang; Mulyanie, Erni
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 15, No 1 (2018): January 2018
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v15i1.15274

Abstract

Kabupaten Tasikmalaya mempunyai banyak wisata air terjun yang dapat dijadikan potensi khusus bagi Kabupaten Tasikmalaya. Wisata air terjun di Kabupaten Tasikmalaya memiliki ciri khas yang unik dan berbeda dengan air terjun yang lainnya. Di satu sisi wisata air terjun ini menjadi wisata yang diunggulkan namun disisi lain, pengelolaannya yang masih kurang optimal dan tidak ada progam jangka panjang untuk mengembangkan wisata air terjun ataupun potensi yang dimiliki oleh lokasi air terjun tersebut. Perlu ada upaya yang dilakukan untuk mendukung kebijakan pengembangan pariwisata Kabupaten Tasikmalaya tersebut salahsatunya dengan mengkaji potensi yang dimiliki oleh objek wisata air terjun yang nantinya dapat mengembangkan pariwisata Kabupaten Tasikmalaya dan dapat memberikan peningkatan pendapatan dan penyerapan tenaga lokal, baik langsung maupun tidak langsung. Berdasarkan analisis SWOT yang dilakukan, objek wisata air terjun pada penelitian ini belum dapat memenuhi kriteria sebagai objek wisata. Namun fasilitas yang dasar untuk menunjang menjadi objek wisata sudah mulai dijalankan. Selanjutnya dapat ditentukan prioritas usaha pengembangan obyek wisata air terjun dan Langkah-langkah dalam menentukan usaha pengembangan ini didasarkan pada kelemahan dan ancaman yang dapat menghambat pengembangan. Usaha pengembangan dalam penelitian ini masih berupa gambaran secara umum, artinya perlu penelitian lebih lanjut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif Kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah: Survey Lapangan (Field Study), Wawancara (Interview), Studi Dokumentasi, Studi Literatur. Teknik analisis untuk memperoleh analisis kajian geografis potensi wisata air terjun di kabupaten Tasikmalaya adalah dengan analisis SWOT.
POHON AREN SEBAGAI TANAMAN FUNGSI KONSERVASI Mulyanie, Erni; Romdani, Andhy
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 14, No 2 (2017): July 2017
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v14i2.11514

Abstract

Cimanggu is the largest villages in Kecamatan Langkaplancar and still has many palm trees. These potentials need to be conserved to ensure environmental sustainability and the welfare of surrounding communities. Efforts to maintain its sustainability is to sharing knowledge and understanding of the importance of palm trees existence as a erosion or landslide conservation plant to be developed or cultivated in earnest by various parties. The purpose of this research is to know the benefits factors of sugar palm tree (Arenga Pinnata) as a conservation plant function in the Cimanggu Village Langkaplancar Pangandaran District. The research method is quantitative descriptive research. In addition, the authors also use the data survey because to generate quantitative data, also illustrates the sample studied. The results showed that the palm trees (arenga pinnata) have benefits as a plant conservation in the Cimanggu Village Langkaplancar Pangandaran District. Cimanggu village is eligible to grow palm trees that able to prevent floods and landslides. Besides, palm trees that can grow well on the cliffs will be very good as erosion prevention or landslides.
The Use of Local Landscape as a Field Laboratory for Geography of Education Ruli As'ari; Erni Mulyanie
SPATIAL: Wahana Komunikasi dan Informasi Geografi Vol 19 No 2 (2019): Spatial : Wahana Komunikasi dan Informasi Geografi
Publisher : Department Geography Education Faculty of Social Science - Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.599 KB) | DOI: 10.21009/spatial.192.1

Abstract

Geographical skills that need to be shared by each geographer in general are map skills, field skills, and satellite image interpretation skills. To achieve field skills competency, a location is needed to be used as material for practicum studies for each subject. The Geography Education Field Laboratory can be studied in depth based on an analysis of the level of learning needs. The basis of the lab location requirements as a laboratory is seen from the laboratory function as an area to carry out careful and accurate testing and measurement of the phenomenon under study. The study was carried out through the identification of local landscapes by delineating the area through the utilization of satellite citera, and identifying potential from each area that was chosen descriptively. In this study, the Gunung Galunggung area can be used as a Physical Field Laboratory for Geography and Kampung Naga Education can be used as a Field Laboratory for Social and Cultural Geography.
Zonasi Pemanfaatan Lahan Pasca Penambangan Pasir di pesisir Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat Ruli As'ari; Erni Mulyanie; Dede Rohmat
JURNAL GEOGRAFI Vol 11, No 2 (2019): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v11i2.10712

Abstract

Aktivitas tambang pasir besi di Pantai Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya memberikan dampak negatif bagi lingkungan. Beberapa permasalahan pasca penambangan pasir besi yaitu; rusaknya ekosistem, kondisi lahan yang rusak, pemukiman penduduk terganggu polusi, rusaknya prasarana transportasi dan terjadi konflik di masyarakat. Kondisi pantai pasca penambangan pasir besi saat ini sudah mengalami perubahan, beberapa kawasan telah di manfaatkan untuk budidaya udang vannamei. Diperlukan zonifikasi kawasan pemanfaatan lahan pantai pasca penambangan pasir besi untuk meminimalisir dampak negatif yang timbul akibat aktivitas penambangan pasir besi. Metode penelitian ini adalah Deskriptif Survey, teknik pengumpulan data melaui survey lapangan, wawancara, studi dokumentasi dan studi literatur. Analisis data dilakukan melalui Pemetaan Kawasan Pantai Cipatujah dengan mengklasifikasikan kawasan menjadi tiga zona utama berdasarkan karakteristik aktivitas masayarakat dan potensi setiap kawasan pantai pasca penambangan pasir besi. Lokasi Penelitian di Kawasan Pantai Selatan yang berada di Kecamatan Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya. Hasil Penelitian menunjukkan zonasi kawasan reklamasi lahan pasca penambangan pair besi di Kecamatan Cipatujah dibagi menjadi 3 Zona diantaranya: Zona I: merupakann zona kawasan budidaya udang vannamei, Zona II: Zona Kawasan Pariwisata, Zona III: zona kawasan konservasi.Kata Kunci: Zonasi, Reklamasi lahan, Pasir BesiIron sand mining activities at Cipatujah Beach Tasikmalaya District have a negative impact on the environment. Some problems post iron sand mining are; damage to the ecosystem, damaged land conditions, pollution of the population, damage to transportation infrastructure and conflict in the community. The condition of the coast after iron sand mining has changed, some areas have been utilized for Vannamei shrimp cultivation. Zonification of coastal land use areas is needed after iron sand mining to minimise the negative impacts arising from iron sand mining activities. The method used in this study is a descriptive survey method with data collection techniques used in field surveys, interviews, documentation studies and literature studies. Data analysis was carried out through Mapping the Cipatujah Coast Area by classifying the area into three main zones based on the characteristics of community activities and the potential of each coastal area after iron sand mining. Research Sites on the South Coast in the Cipatujah District of Tasikmalaya Regency. The results showed zoning of the land reclamation area after iron pair mining in Cipatujah subdistrict was divided into 3 zones including Zone I: zone of Vannamei shrimp cultivation area, Zone II: Tourism Zone, and Zone III: zone of ecological conservation.Keywords: Zoning, land reclamation, Sand, Mining, Coastal
Pengaruh Online Friendship Zone terhadap Capaian Akademis Mahasiswa Universitas Siliwangi pada Masa Pandemi Covid-19 Muhamad Fauzi Efendi; Resi Rismawati; Erni Mulyanie
ASANKA : Journal of Social Science and Education Vol 3, No 1 (2022)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/asanka.v3i1.3797

Abstract

Perkembangan akademik para mahasiswa dapat dipicu oleh beberapa faktor seperti minat dan bakat, motivasi, pengetahuan, pertemanan, institusi pendidikan, dan keadaan sosial. Dalam hal ini, lingkungan pertemanan menjadi salah satu faktor perkembangan akademik mahasiswa. Namun, lingkungan pertemanan yang biasanya dibangun secara langsung, kini terhalang oleh pandemi Covid-19. Maka dari itu, penulis tertarik melakukan analisis pengaruh pertemanan online terhadap capaian akademik mahasiswa Universitas Siliwangi pada masa pandemi Covid-19. Tujuannya adalah untuk mengatahui pengaruh pertemanan secara online pada capaian akademik selama masa pandemi Covid-19. Metode yang digunakan adalah menggunakan teknik survei melalui kuisioner dengan sistem skala Likert. Alat analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linear setelah melalui tahapan pengujian validitas, reliabelitas, normalitas, dan lineritas. Jumlah sampel yang diteliti adalah 100 responden yang tersebar dari seluruh fakultas yang ada di Universitas Siliwangi. Hasil penelitian menunjukan adanya pengaruh yang signifikan dari pertemanan online terhadap capaian akademik mahasiswa pada masa pandemi Covid-19.
PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM KEGIATAN BINA KAMPUNG TANGGUH PANDEMI COVID-19 UNTUK MENINGKATKAN KETAHANAN PANGAN DALAM MEMANFAATKAN PEKARANGAN RUMAH Elgar Balasa Singkawijaya; Erni Mulyani; Iman Hilman; Tineu Indrianeu
Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 1 (2020): PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT - SNPPM2020
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (311.589 KB)

Abstract

This community service activity aims (1) to determine the form of community participation; and (2) measuring the level of community participation in activities of the COVID-19 pandemic resilient village as an effort to increase food security in utilizing the home yard. The implementation of this service was carried out in Sindanggalih Village RW 03 Gununggede Village, Kawalu District, Tasikmalaya City. The form of this service is counseling, training, interviews and evaluations conducted to members of the Sinar Berseka Waste Bank. The results of the activity show that community participation in the form of direct participation in the form of community participation in cultivating food crops in the form of vegetables (kale, mustard greens, spinach, eggplant and chilies) and empon-empon (turmeric, ginger and galangal) and indirect participation in conducting discussions while providing support between residents. Meanwhile, the level of community participation is classified as high, this is due to the desire of residents to be able to take advantage of the house yard and increase the family economy. Abstrak Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan (1) untuk mengetahui bentuk peran serta masyarakat; dan (2) mengukur tingkat partisipasi masyarakat pada kegiatan kampung tangguh pandemi COVID-19 sebagai upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan dalam memanfaatkan pekarangan rumah. Pelaksanaan pengabdian ini dilakukan di Kampung Sindanggalih RW 03 Kelurahan Gununggede Kecamatan Kawalu Kota Tasikmalaya. Bentuk kegiatan pengabdian ini adalah penyuluhan, pelatihan, wawancara dan evaluasi yang dilakukan kepada anggota Bank Sampah Sinar Berseka. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peran serta masyarakat dalam bentuk langsung berupa keikutsertaan warga untuk membudidayakan tanaman pangan berupa sayuran (kangkung, sawi, bayam, terong dan cabai) serta empon-empon (kunyit, jahe dan lengkuas) dan partisipasi tidak langsung melakukan diskusi sambil memberi dukungan antar warga. Sedangkan dari tingkat peran serta masyarakat tergolong tinggi hal ini dikarenakan keinginan warga untuk dapat memanfaatkan pekarangan rumah dan menambah ekonomi keluarga.
DINAMIKA TERITORIAL DAN NALURI LIAR MONYET EKOR PANJANG (Macaca Fascicularis) DI CAGAR ALAM PANGANDARAN: IMPLIKASI PADA REKREASI WISATAWAN Muhamad Fauzi Efendi; Aprilia Aprilia; Erni Mulyanie; Nisa Nuranisa; Nenti Rofiah Hasanah
Citizen : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol. 2 No. 4 (2022): CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia
Publisher : DAS Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53866/jimi.v2i4.148

Abstract

Berbagai upaya dilakukan oleh masyarakat dan lembaga tertentu untuk mengkonservasi flora dan fauna terkhusus satwa endemik ataupun satwa yang terancam punah di Indonesia. Salah satu cara untuk mengkonservasi satwa tersebut adalah melalui langkah pemberdayaan cagar alam. Kegiatan cagar alam merupakan suatu daerah konservasi hutan yang memiliki ciri khas yang relatif sama antara sumber daya alam hayati dan ekosistemnya serta berada dalam perlindungan dan perkembangan secara alami tanpa ada pengaruh dari manusia (Paranata., 2019). Cagar alam memiliki berbagai fungsi yang dimana secara spesifik bertujuan untuk menjaga habitat suatu makhluk hidup agar sesuai dengan karakteristik dan nalurinya di alam liar. Namun seiring berkembangnya fungsi cagar alam, kini memiliki fungsi lain yaitu sebagai tempat ekologi wisata Dari kegiatan ekologi wisata tersebut akhirnya berdampak pada perubahan sifat alamiah cagar alam menjadi tempat rekreasi yang terjamah oleh khalayak umum. Oleh karena itu, penelitian ini memfokuskan kajian pada permasalahan dinamika teritorial dan perubahan naluri liar satwa terkhusus pada satwa monyet ekor panjang (Macaca Fascicularis) di cagar alam pangandaran, Jawa Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan metode deskriptif melalui pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah melalui kegiatan observasi langsung ke lapangan, wawancara pada pengelola cagar alam, studi literatur, dan studi dokumentasi. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan keterkaitan antara perubahan teritorial tempat hidup dan perubahan naluri liar monyet ekor panjang (Macaca Fascicularis) dengan kegiatan rekreasi para wisatawan di Cagar Alam Pangandaran. Hasil penelitian menunjukan jika terdapat dinamika teritorial koloni monyet ekor panjang (Macaca Fascicularis) dan perubahan naluri liar di cagar alam Pangandaran tersebut akibat dari kegiatan pariwisata.
Preservation of Environmental Ethics Based on Local Wisdom Through Traditional Agriculture Kampung Naga Community Erni Mulyanie; Muhamad Fauzi Efendi
West Science Interdisciplinary Studies Vol. 1 No. 09 (2023): West Science Interdisciplinary Studies
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/wsis.v1i09.202

Abstract

One of the indigenous peoples in Indonesia who still practices a traditional agricultural system that relies on crops to meet their daily needs is the residents of Kampung Naga Tasikmalaya. The people of Kampung Naga can take advantage of everything in their natural environment, but must still preserve and restore these natural products so that the natural conditions in Kampung Naga remain sustainable until now and until the future to ensure the lives of future generations. This study aims to examine community activities in preserving the environment and local wisdom that is still practiced by the people of Kampung Naga in agriculture. The method used in this study is a descriptive qualitative approach with data collection techniques used in the form of observation techniques, interviews, documentation techniques, and literature review. The results of the study show that the people of Kampung Naga in their daily lives hold strong local wisdom values so that they have a positive impact on environmental sustainability. The procedures for processing and breeding agricultural land in Kampung Naga are still traditional and based on tradition.
PEMANFAATAN PEKARANGAN RUMAH UNTUK MENINGKATKAN KETAHAN PANGAN PADA MASA PANDEMI COVID-19 Tineu Indrianeu; Iman Hilman; Elgar Balasa Singkawijaya; Erni Mulyanie
E-Amal: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 1 No 2: Mei 2021
Publisher : LP2M STP Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47492/eamal.v1i2.592

Abstract

Food security can indicate the availability of fulfillment in the form of access to food resources so that it can meet current basic needs. The service is carried out by optimizing the results of previous dedication, namely related to community participation in domestic waste management with a waste bank model, the use of house yards to improve food security is in Sindanggalih Village RW 03, Gununggede Village, Kawalu District, Tasikmalaya City, which is still lacking. The method used in this service is utilizing the land, among others, sketching the yard, making a stake as a measure and marking the yard that will be used for planting activities, conducting training in the form of yard land management activities and plant cultivation techniques, and monitoring and evaluation carried out to know the progress of the implementation of activities. Partners in this service activity partnered with a group of women managing waste banks, namely "Sinar Berseka". From the results of this dedication, the community was able to manage the availability of kararangan land by using it as plant land for efforts to increase food security during the Covid-19 pandemic
Implementasi Konsep Blue Economy di Indonesia sebagai Upaya Mewujudkan Sutainable Development Goals (SDgs) 14: Life Below Water Aprilia; Mulyanie, Erni
Jurnal Ilmiah Samudra Akuatika Vol 7 No 2 (2023): Jurnal Ilmiah Samudra Akuatika
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33059/jisa.v7i2.9116

Abstract

in the marine living sector, specifically in the capture and aquaculture sector, Indonesia is still experiencing difficulties in meeting sustainability standards. The sustainability value of Indonesian fisheries in the Ocean Health Index (OHI) is ranked 175th out of 220 countries in the food provision indicator which calculates food security from maritime resources with the ability to balance ecology and exploitation. The decline in ecological balance, such as the carrying capacity of the sea, is caused by conservation that is less oriented towards sustainable management. This research aims to describe the application of the blue economy concept in Indonesia in an effort to realize Sustainable Development Goals (SDGs) 14: life below water. The method used in this research is the literature study research method using descriptive analysis techniques. One of the uses of marine resources in Indonesia is in the fisheries and mining sectors. Capture fisheries production in Indonesia has increased every year, based on data from the Ministry of Maritime Affairs and Fisheries in 2019, the total production of captured fish in 2017 was 6,424,114 tonnes, in 2018 it was 6,701,834 tonnes, and in 2019 it was 7,164,302 tonnes. Meanwhile, the energy and mineral resources sectors still make a major contribution to national development. The oil and gas subsector has made the largest contribution to the energy and mineral resources sector over the last three years, with an average contribution of 30% to GDP. Through the blue economy concept, it is a concept that ensures the preservation of marine resources and the coastal environment and encourages the use of resources to improve the economy in the marine and fisheries industrial sector. The strategy for implementing the blue economy concept is certainly relevant to the Sustainable Development Goals (SDGs) point 14, namely life below water or marine ecosystems.