Claim Missing Document
Check
Articles

TEKNIK PEMBIUSAN MENGGUNAKAN SUHU RENDAH PADA SISTEM KERING TERHADAP IKAN TENGADAK (Barbonemus schwanenfeldii) Victorius Bagus Hermawan; Eka Indah Raharjo; Hastiadi Hasan
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 2, No 2 (2013): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.156 KB) | DOI: 10.29406/rya.v2i2.266

Abstract

Transportasi ikan hidup merupakan suatu metode pengangkutan ikan dalam kondisi hidup dengan kemasan dan cara tertentu. transportasi ikan hidup sistem kering merupakan hal yang baru, Pada transportasi ikan hidup sistem kering perlu dilakukan proses pemingsanan terlebih dahulu. Pengunaan suhu rendah dapat mengurangi stress, mengurangi kecepatan metabolisme dan konsumsi oksigen.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui suhu pembiusan optimum secara langsung terhadap tingkat kelulusan hidup ikan tengadak (Barbonymus schwanenfeldii) dalam transportasi tanpa media air (sistem kering). Rancangan penelitian menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL), yang terdiri dari 4 perlakuan, yaitu suhu 7oC–8oC, 9oC–10oC, 11oC–12oC, 13oC–14oC dengan 3 ulangan. Sebagai unit percobaan calon induk tengadak  selama proses penelitian berlangsung. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada masa induksi suhu tercepat untuk memingsankan ikan tengadak adalah 7oC–8oC dengan waktu 119 detik. untuk kelangsungan hidup yang paling lama pada suhu 13oC–14oC selama 6 jam. Suhu yang optimum untuk pengangkutan ikan tengadak calon induk adalah suhu 13oC–14oC.Kata kunci : pembiusan, suhu rendah, sistem kering, tengadak
SISTEM RESIRKULASI MENGGUNAKAN KOMBINASI FILTER YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN BENIH IKAN JELAWAT (Leptobarbus Hoeveni) Darma Yanti; eka indah raharjo; . farida
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 6, No 02 (2018): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (729.574 KB) | DOI: 10.29406/rya.v6i02.1016

Abstract

Ikan Jelawat (Leptobarbus hoeveni) merupakan salah satu ikan asli Indonesia yang terdapat di beberapa sungai di Kalimantan dan Sumatera. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan kombinasi filter yang terbaik pada sistem resirkulasi dalam meningkatkan pertumbuhan ikan jelawat. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Susunan perlakuan A, filter batu dan kerikil B, filter batu, kerikil dan ijuk C, filter batu, kerikil dan spons D, filter arang, batu dan kerikil. Variabel pengamatan meliputi pertumbuhan panjang mutlak, pertumbuhan bobot mutlak, tingkat kelangsungan hidup, konversi pakan. Rata-rata pertumbuhan panjang dan bobot  mutlak adalah perlakuan B (3,157±0,08) dan (1,647±0,01). Tingkat kelangsungan hidup yang terbaik adalah perlakuan B (95,56±3,85).  Rasio konversi pakan yang terbaik adalah perlakuan B (1,92±0,11).
PENGARUH PEMBERIAN JAGUNG KUNING FERMENTASI YANG BERBEDA DALAM PAKAN TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN DAN TINGKAT KELANGSUNGAN HIDUP IKAN JELAWAT (Leptobarbus hoevenii Blkr) Yogo Tri Saloko; Rachimi .; Eka Indah Raharjo; Hendri Yanto
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 5, No 1 (2015): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.487 KB) | DOI: 10.29406/rya.v5i1.499

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui dosis pencampuran jagung kuning fermentasi yang terbaik dalam pakan buatan dengan dosis yang berbeda. Rancangan percobaan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang dilakukan terdiri dari lima perlakuan jagung kuning fermentasi yaitu A (0%), B (10%), C (20%), D (30%) dan E (40%) dengan tiga kali ulangan. Analisis statistik menggunakan ANAVA (Analysis of Varians) dan untuk mengetahui perbedaan antara perlakuan satu dengan perlakuan yang lainnya dilakukan Uji Lanjutan yaitu Uji Beda Nyata jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan jagung kuning fermentasi yang berbeda memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan berat dan panjang serta efesiensi pakan ikan jelawat yang berbeda sangat nyata. Dari hasil penelitian diperoleh data kadar protein jagung yang difermentasi dengan menggunakan kapang (Rhizopus  oligosporus) meningkat dari 6,25% menjadi 13,85%. Hasil uji coba pada ikan jelawat menunjukkan bahwa pakan yang mengandung jagung kuning fermentasi (dalam perlakuan) memberikan laju pertumbuhan harian berat, laju pertumbuhan panjang dan efisiensi pakan yang berbeda antar perlakuan. Laju pertumbuhan harian berat tertinggi (3,108%), laju pertumbuhan harian panjang tertinggi (1,239%), dan efesiensi pakan tertinggi (59,427%) terdapat pada perlakuan E (40%). Kata kunci : jagung kuning, fermentasi, laju pertumbuhan, efesiensi pakan, ikan jelawat
PERENDAMAN TELUR IKAN GURAME (Osphronemus gouramy) DENGAN EKSTRAK MENIRAN (Phyllanthus niruri L) SEBAGAI ANTI JAMUR Hijrah Andika; Eko Dewantoro; Eka Indah Raharjo
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.328 KB) | DOI: 10.29406/rya.v1i1.231

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi terbaik yang diperlukan untuk pencegahan serangan jamur terhadap telur ikan gurame pada proses penetasan. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan di Balai Benih Ikan Sentral (BBIS) Anjongan Pontianak. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan konsentrasi ekstrak meniran antara lain adalah, perlakuan A (control), B (75 ppm), C (150 ppm), D (225 ppm). Parameter pengamatan adalah Uji daya Hambat jamur, Prevalensi jamur, Daya tetas telur, dan Kualitas air. Hasil pengamatan penelitian perendaman telur ikan gurame dengan ekstrak meniran sebagai anti jamur menunjukkan bahwa perlakuan D (225 ppm) menghasilkan prevalensi terendah dan drajat penetasan tertinggi.Kata Kunci : Telur ikan gurami, Ekstrak meniran, Anti jamur.
PEMANFAATAN LIMBAH ORGANIK SAWI SEBAGAI SUMBER BAHAN PENYUSUN PAKAN BENIH IKAN BIAWAN (Helostoma temmincki) Hastiadi Hasan; Eka Indah Raharjo; Andriani Zulmi
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 4, No 2 (2014): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.77 KB) | DOI: 10.29406/rya.v4i2.483

Abstract

Mengkonsumsi sawi dapat mencegah arthritis, osteoporosis, anemia defesiensi zat besi dan diyakini melindungi dari berbagai penyakit.Daun sawi juga merupakan sumber yang sangat baik dari asam folat.Penelitian ini bertujuan untuk menentukan persentase yang optimal dari limbah organik sawi dalam pembuatan ransum pakan untuk menghasilkan pertumbuhan dan kelansungan hidup benih ikan biawan yang baik. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 22 Maret sampai dengan 21 Mei  di laboratorium basah Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Muhammadiyah Pontianak dengan  pelaksanaan 60 hari. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan Perlakuan A, pakan tanpa  limbah organic, Perlakuan B 20% Perlakuan C 30%, Perlakuan D 40% dari berat total pakan. Parameter pengatan  yang dilakukan adalah, retensi protein dan lemak, pertumbuhan harian, efesiensi pakan dan kelangsungan hidup ikan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa penambahan limbah sawi pada pembuatan pakan buatan yang optimal terdapat pada penambahan limbah sawi sebanyak 20% dari total pakan. Retensi protein dan lemak 11,57% dn 378,98%.  Kata kunci : sawi, pellet, ikan biawan.
PENGARUH PADAT TEBAR YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP BENIH IKAN BIAWAN (Helostoma temmincki) Eka Indah Raharjo; Rachimi .; Ahmad Riduan
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 4, No 1 (2016): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.617 KB) | DOI: 10.29406/rya.v4i1.693

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menentukan padat penebaran benih ikan biawansehingga dapat menghasilkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan biawan yang baik.Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) menurut Hanafiah (2012), yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 ulangan. Susunan perlakuan adalah Perlakuan A pada tebar benih biawan 2 ekor/l, Perlakuan B pada tebar benih biawan 4 ekor/l, Perlakuan C pada tebar benih biawan 6 ekor/l dan Perlakuan D pada tebar benih biawan 8 ekor/l. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan A Pertumbuhan berat harian yang terbaik terdapat pada perlakuan A yaitu 2 ekor/liter yang rata-rata berat harianya (3,25±0.03 g) danPertumbuhan panjang (1,33±0.15 cm).Sedangkan nilai Konversi pakan terbaik (3.1 ± 0.1) dan kelangsungan hidup pada perlakuan A meberikan hasil terbaik adalah 84.17 %.Kata Kunci: padat tebar, benih biawan, pertumbuhan, kelangsungan hidup ABSTRACT This research aims to determine the fish seed biawan promised solid so that it can generate growth and survival of fish seed biawan. Research using Rancangan Acak Lengkap  (RAL) according to Hanafiah (2012), which consists of 4 treatments and 3 replicates. The composition of treatment is Treatment A on seeding biawan 2 tail/l, Treatment B in seeding biawan 4 tails/l, Treatment C at seeding biawan 6 tail/l and Treatment D on seeding biawan 8 tail/l. Result showed treatment A daily weight growth is best, there is on A treatment that is 2 tail/liter average daily weight (3.25 ± 0.03 g) and growth in length (1.33 ± 0.15 cm). While the value of the best feed conversion (3.1 ± 0.1) and survival in the treatment of A gave the best result was 84.17%.Keywords : stocking density, biawan seed, growth, survival rate
ADDITION EFFECT OF MARIGOLD (Tagetas erecta) FLOWER FLOUR IN FEED FOR COLOUR QUALITY OF FRY BOTIA FISH (Chromobotia macracanthus) Rini Rifatul Jannah; Eka Indah Raharjo; Rachimi .
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 6, No 2 (2015): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.67 KB) | DOI: 10.29406/jr.v6i2.2238

Abstract

Ikan Botia merupakan salah satu ikan hias air tawar yang memiliki warna tubuh yang menarik, sehingga kecarahan warnanya perlu diperhatikan. Bunga marigold memiliki kandungan karotenoid dari golongan xantofil, yakni lutein yang dapat menjadikan kualitas warna ikan botia lebih cerah. Penelitian ini dilakukan selama 5 minggu dengan formulasi pakan yang berbeda sebanyak 5 perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung bunga marigold berpengaruh sangat nyata terhadap kecerahan warna ikan botia dan formulasi penambahan TBM sebanyak 2 % merupakan formulasi perlakuan yang terbaik. Penambahan tepung bunga marigold tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan bobot tubuh relatif dan kelangsungan hidup ikan botia.
PENGARUH PERSENTASE PERGANTIAN AIR YANG BERBEDA TERHADAP KELANGSUNGAN HIDUP DAN PERTUMBUHAN BENIH IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) Eka Indah Raharjo; Sunarto .; Mordik Erdiansyah
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 3, No 1 (2014): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.096 KB) | DOI: 10.29406/rya.v3i1.283

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan persentase pergantian air yang optimum terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan benih ikan Baung. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan di Laboratorium Balai Besar Pengembangan Budidaya Ikan Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Persentase pergantian air antara lain adalah, perlakuan A (control), B (25%), C (50%), dan D (75%). Parameter pengamatan yang dilakukan adalah laju pertumbuhan harian, Efisiensi pakan, kelangsungan hidup serta kualitas air. Hasil dari pengamatan menunjukan pergantian air pada kosentrasi 25% dapat meningkatkan nilai laju pertumbuhan harian dan memperkecil nilai konversi pakan serta meningkatkan nilai kelangsungan hidup pada benih ikan baung .                                                                                                                                             Kata kunci : Pergantian Air, Benih Ikan Baung (Hemibagrus nemurus)
PENGARUH PADAT TEBAR YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP BENIH IKAN TENGADAK(Barbonymus schwanenfeldii) Eka Indah Raharjo; Rachimi .; Dodi Abdul Halim
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 5, No 1 (2015): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.743 KB) | DOI: 10.29406/rya.v5i1.498

Abstract

Ikan tengadak (Barbonymus Schwanenfeldii) merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang populasinya dialam mulai merun. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya budidaya untuk memenuhi stok dan permintaan pasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui padat penebaran yang memberikan pertumbuhan dan kelangsungan hidup terbaik dalam sistem budidaya. Benih ikan tengadak yang berukuran 1-2 cm dan berat rata-rata 0,016 g ditebar dengan kepadatan 3, 5, 7, dan 9 ekor/liter dalam akuarium yang berukuran 60×30×40 cm3. Selama pemeliharaan, benih ikan ini diberi pakan komersil dua kali dalam satu hari yang di berikan pagi dan sore secara at satiation. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan padat penebaran yang berbeda memberikan pengaruh yang berbeda pada setiap perlakuan, tetapi tidak memberikan pengaruh pada kelangsungan hidup. Pertumbuhan terbaik adalah pada perlakun A kepadatan 3 ekor/liter.  Kata kunci: tengadak, Barbonymus schwanenfeldii, padat penebaran, pertumbuhan, kelangsungan hidup
PENGARUH PEMBERIAN LARUTAN TEMULAWAK (Curcuma xanthorriza Roxb) TERHADAP KELANGSUNGAN HIDUP IKAN BIAWAN (Helostoma teminchii) YANG DI INFEKSI BAKTERI Aeromonas hydrophila rika wati; eka indah raharjo; eko prasetio
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 6, No 02 (2018): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (552.59 KB) | DOI: 10.29406/rya.v6i02.1010

Abstract

Infeksi bakteri Aeromonas hydrophila merupakan salah satu penyebab Motile Aeromonad Septicemia (MAS). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian larutan temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb) terhadap kelangsungan hidup ikan biawan (Helostoma teminchii) yang di infeksi bakteri Aeromonas hydrophila. Metode penelitian ini adalah eksperimen dengan 5 perlakuan 3 ulangan yaitu perlakuan A (KN 0 g/l), B (KP 0g/l dan tanpa injeksi bakteri), C (0,2 g/l larutan temulawak), D (0,4 g/l larutan temulawak) dan E (0,6 g/l larutan temulawak). Ikan uji dilakukan perendaman selama 7 hari sebelum uji tantang dan di amati selama 14 hari setelah uji tantang. Uji tantang tantang dilakukan dengan menyuntikan suspensi bakteri Aeromonas hydrophila dengan dosis 108 sel/cfu sebanyak 0,1 ml secara intramuscular. Sedangkan variabel pengamatan meliputi patogenitas (gejala klinis), perubahan bobot, dan kelangsungan hidup.  Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa gejala klinis ikan pasca infeksi diantaranya radang, radang dan hemoragi, tukak, dan sembuh. Pemberian larutan temulawak melalui perendaman  memberikan pengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup ikan biawan pasca infeksi, yaitu  pada perlakuan (E) dengan dosis 0,6 g/l dengan nilai perubahan bobot 1,97 gram dan kelangsungan hidup 93,33 %.