Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search
Journal : eProceedings of Engineering

Analisis Hidden Station Pada Jaringan Wireless Fidelity (wi-fi) Di Telkom University Winana Aperta Libar; Erna Sri Sugesti; Doan Perdana
eProceedings of Engineering Vol 4, No 3 (2017): Desember, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Standar IEEE yang berkembang saat ini adalah 802.11n memiliki mekanisme akses RTS/CTS yang bekerja pada frekuensi 2,4 GHz dan 5 GHz. Mekanisme RTS/CTS berfungsi untuk menghindari akibat tabrakan atau collision pada station dalam satu cakupan access point yang disebabkan oleh Hidden Station. Di Universitas Telkom 802.11n telah diterapkan, namun belum terdeteksinya user yang menggunakan frekuensi 5 GHz. Dibutuhkan penelitian implementasi pengaruh hidden station pada frekuensi 5 GHz di Universitas Telkom menggunakan simulasi. Pada tugas akhir ini menggunakan perangkat lunak yaitu Network Simulator 3.25 (NS3.25). untuk mendeteksi pengaruh hidden station digunakan tiga parameter yang terdiri dari throughput, delay, dan packet delivery ratio (PDR).. Simulasi yang dirancang menggunakan tiga skenario berdasarkan tiga metode yang telah di tentukan yaitu Metode A, Metode B dan Metode C perbedaan dari masing-masing metode tersebut adalah posisi lokasi station dan hidden station dan komposisi jumlah station dalam rentang 10 hingga 30 station, setiap komposisi dilakukan penambahan jumlah station dengan interval kelipatan lima. Hal ini dilakukan untuk membandingkan ketiga metode tersebut dalam penggunaan mekanisme akses RTS/CTS. Berdasarkan tiga metode yaitu Metode A, Metode B dan Metode C. Pada ketiga metode ini dapat disimpulkan throughput, PDR yang dihasilkan berbanding lurus dengan peningkatan jumlah station dan hidden station, dan terjadi peningkatan delay yang disebabkan oleh collision. Namun berdasarkan perancangan simulasi penggunaan RTS/CTS dapat digunakan ketika jumlah station lebih dari 20 station pada Metode A dan Metode B sedangkan Metode C tidak dapat digunakan. karena terdapat data frame RTS/CTS yang menyebabkan proses akses transmisi menjadi lambat sehingga berkurangnya nilai throughput dan PDR akibat packet loss.Kata kunci : Hidden node, RTS/CTS, throughput, delay, PDR
Perancangan Dan Simulasi Filter Parallel Cascade Microring Resonator Sebagai Optical Interleaver Ariq Naufal; Erna Sri Sugesti; Dadin Mahmudin
eProceedings of Engineering Vol 3, No 3 (2016): Desember, 2016
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertumbuhan transfer data yang semakin tinggi menuntut perkembangan sistem telekomunikasi dengan jaringan yang mempunyai kecepatan transfer data yang tinggi dan dapat menampung banyak traffic. Sistem komunikasi serat optik yang mempunyai dua kemampuan tersebut dapat menjadi solusi untuk itu. Untuk mendukung perkembangan jumlah traffic pada sistem komunikasi serat optik, dibuat suatu sistem yang dapat menggabungkan beberapa sinyal informasi yaitu wavelength division multiplexing (WDM). Salah satu komponen pendukung pada WDM adalah optical interleaver, yang memiliki fungsi sebagai multiplexer demultiplexer. Jurnal ini membahas mengenai simulasi dan analisis microring resonator yang digunakan untuk aplikasi optical interleaver pada frekuensi kerja coarse wavelength division multiplexing (CWDM). Simulasi diawali dengan menentukan dimensi objek simulasi yang terdiri dari ukuran jari-jari, gap, material waveguide, tebal dan lebar waveguide simulasi dilakukan dengan menggunakan software CST microwave studio 2014. Selanjutnya dilakukan análisis terhadap hasil optimasi, analisis meliputi parameter kinerja yang terdiri dari free spectral range (FSR), bandwidth (FWHM), finesse dan Q factor. Hasil simulasi yang sesuai mampu menghasilkan nilai FSR yang sesuai dengan karakteristik optical interleaver pada jaringan CWDM, bandwidth yang sempit, nilai finesse dan Q factor yang tinggi serta bekerja pada daerah frekuensi kerja. Kata kunci: Optical interleaver, Microring resonator, CWDM
Perencanaan Terrestrial Trunked Radio (tetra) Digital Pada Kereta Bandara Soekarno Hatta – Halim Perdana Kusuma Anastasia Clara; Rina Pudji Astuti; Erna Sri Sugesti
eProceedings of Engineering Vol 3, No 3 (2016): Desember, 2016
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem komunikasi Kereta Api saat ini menggunakan satu kanal analog frekuensi 167-171 MHz, kondisi trafik wilayah Jakarta membutuhkan lebih dari satu kanal. Kebutuhan ini dapat disolusikan oleh Terresterial Trunked Radio (TETRA) yang memiliki empat kanal dengan frekuensi kerja 410-430 MHz, satu transmitter TETRA menyediakan empat buah kanal dengan satu kanal dipakai untuk kontrol. Perencanaan TETRA dilakukan pada Stasiun Soeta-Halim dengan jarak 43,9 km. Perencanaan ini menggunakan metode planning coverage, dengan mencari nilai parameter link power budget untuk menentukan MAPL dan didapat nilai radius untuk menentukan jumlah site. Metode planning capacity, menentukan demand TETRA dan jumlah kanal dengan bantuan tabel erlang B. Dari metode tersebut dilakukan pengujian dengan simulasi dan validasi perhitungan. Hasil perencanaan membutuhkan 2 buah site, hasil simulasi level sinyal rata-rata adalah -54,45 dBm, dengan validasi perhitungan RSL sebesar -103 dBm dimana nilai level sinyal pada simulasi lebih baik dibandingkan dengan perhitungan. Hasil simulasi C/I sebesar ≥18 dB dimana mendekati hasil perhitungan 75,71%. Mean number of server pada overlapping zone sebesar 1,12, BER sebesar 3x10-5 dan pada backhaul link yang direncanakan memenuhi batas clearance dan tidak mengalami pelemahan sinyal terima. Kata kunci : TETRA, ETSI, planning based on capacity, planning based on coverage, backhaul.
Analisis Packet Loss Pada Wlan 802.11n Qos Mode Basic Service Set Berbasis Adith Priyo Pratama; Erna Sri Sugesti; Ratna Mayasari
eProceedings of Engineering Vol 4, No 3 (2017): Desember, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

WLAN merupakan sebuah perangkat pengiriman data pada jaringan komputer tanpa menggunakan media transmisi kabel (wireless) dimana mobilitas dan fleksibilitas dari perangkat ini sangat baik. WLAN telah distandarisasi oleh IEEE 802.11 dan sudah terdapat beberapa perubahan. Eksperimen ini QoS dari perangkat WLAN 802.11n dengan parameter packet loss yang ingin diketahui menggunakan aplikasi Wireshark. Eksperimen ini ingin membuktikan kinerja perangkat access point Cisco WAP321 Wireless-N. Pengerjaan dilakukan pada daerah tertutup (indoor). Metode yang dilakukan berupa jumlah user yang disebar dengan jarak antara access point kepada user yang berbeda serta pengaturan konfigurasi pada access point tersebut. Parameter uji yang akan dikonfigurasi meliputi transmit power, beacon interval, fragmentation threshold, RTS threshold, AIFS, contention window, dan TXOP limit. Hasil eksperimen ini menunjukan jangkauan AP terbaik berada pada konfigurasi transmit power 100%. Untuk nilai packet loss, konfigurasi beacon interval 100 ms, fragmentation threshold 728 bytes, dan RTS threshold 1024 bytes memeperoleh nilai packet loss yang lebih baik. Sementara pengaruh QoS terhadap performansi, parameter AIFS skema AIFS3, contention window skema CW1, dan TXOP limit skema TL3, memberikan nilai rata-rata terbaik untuk packet loss, throughput, dan RTT delay.Kata Kunci : WLAN, IEEE 802.11n, QoS, Packet Loss, Cisco WAP321 Wireless-N Access Point.
Delay Protokol Anti-collision Pada Jaringan Rfid Di Gedung Tokong Nanas Universitas Telkom Siti Ghoniah Juniati; Erna Sri Sugesti; Sussi Sussi
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kejadian tabrakan (collision) dalam proses pembacaan data pada RFID dihasilkan dari pembacaan tumpukan RFID tag dalam waktu bersamaan, sehingga proses pembacaan data RFID mengakibatkan pembuangan bandwidth dan meningkatkan waktu tunda identifikasi (delay). Hal ini sangat mengganggu dalam proses pembacaan data. Fasilitas layanan RFID digunakan oleh Gedung Tokong Nanas Universitas Telkom. Gedung ini memiliki jumlah lantai dan kelas terbanyak dibandingkan gedung-gedung lainnya, sehingga memiliki kepadatan trafik yang lebih besar. Permasalahan saat ini adalah durasi waktu tunggu identifikasi dan collision saat melakukan tapping ketika trafik pada Gedung Tokong Nanas dalam kondisi padat. RFID reader dalam mengatasi collision harus menggunakan protokol anti-collision sehingga dapat mengatur pembacaan dan penulisan data pada RFID tag. Untuk menurunkan waktu tunda identifikasi dan mengurangi kemungkinan terjadinya collision, diperlukan analisis parameter delay pada jaringan RFID dengan menggunakan algoritma power of two. Berdasarkan analisis power of two 𝟐 𝟖 = 𝟐𝟓𝟔 sebagai titik acuan dari puncak collision yang terjadi pada KU3.02 sampai KU3.09 yang didapatkan hasil pengolahan data sebanyak 126 collision. Kemudian dengan uji perbaikan kinerja sistem dengan melakukan perbandingan delay pada skema Slotted ALOHA didapatkan sebesar 48 ms dan pada algoritma power of two delay yang didapatkan sebesar 0,1 ms. Dari hasil perbandingan delay tersebut dapat disimpulkan bahwa terjadi perbaikan delay sebesar 99,79% pada jaringan RFID di Gedung Tokong Nanas. Kata Kunci : Delay, Anti-Collision, power of two, tapping, RFID. Abstract Collision event during data reading process on RFID is caused by stacking RFID tag data reading at the same time, this situation creates wasting bandwidth and increases delay. This collision situation has negative distraction on data reading processes. RFID services is being implemented at Tokong Nanas building by Telkom University. This building has the most numbers of floors and classes compare to others buildings in Telkom University which creates the situation where the data traffic jam is even worse. Current problem in Tokong Nanas building is the long waiting time during identification data and collision event when tapping during data traffic jam. In order to avoid collision event, RFID reader has to use anti-collision protocol so that arrange the reading and writing data on RFID tag. Parameter delay analysis on RFID network using power of two method which refers to the power of two algorithm is necessary to reduce the waiting time during identification data and to avoid the possibility of collision event. Based on the analysis power of two as its starting point on the collision peak from KU3.02 to KU3.09, resulting 126 collision data processing. Based on test improvement on the system task using delay comparing on the Slotted ALOHA, resulting 48 ms while using power of two algorithm resulting delay is 0,1 ms. The conclusion from above schemes is that there is 99,70% improvement in term of delay on the RFID network in this building. Keywords : Delay, Anti-Collision, power of two, tapping, RFID.
Perancangan Jaringan Komunikasi Lte Penumpang Kereta Cepat 160 Km/jam Jakarta-surabaya Jalur Cepu-surabaya Tomy Irawan; Erna Sri Sugesti; Rina Pudji Astuti
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kecepatan kereta menimbulkan fluktuasi level daya terima penumpang kereta dalam sistem komunikasi. Salah satu penyebab utama adalah terdapat area cakupan yang buruk. Efek dari hal tersebut menimbulkan kualitas jaringan komunikasi menurun. Tugas akhir ini merancang jaringan LTE untuk penumpang pada kecepatan 160 km/jam dari stasiun Cepu ke stasiun Pasar Turi Surabaya dengan frekuensi 900 MHz. Perancangan jaringan LTE dengan overlapping coverage merupakan solusi dari masalah jaringan pada kereta cepat. Penggunaan Remote Radio Unit (RRU) dengan ketinggian penempatan sel berfokus untuk mendukung jaringan rel kereta. Site Existing sekitar rel kereta digunakan untuk penempatan RRU. Rancangan yang dibuat memperhatikan kecepatan user, delay trafik, serta overlapping coverage untuk handover (HO). Hasil simulasi LTE-Sim dan perhitungan diperoleh delay pada kecepatan 160 km/jam sebesar 0,01850966 detik. Overlapping coverage setiap RRU sebesar 1,7 km untuk HO dengan dua sel mencakup rata-rata 8,5 km panjang rel kereta. Dibutuhkan tujuh RRU diletakkan di site existing dan 12 RRU tambahan untuk rel kereta sejauh 141 km. Simulasi dari perancangan diperoleh RSRP yakni -63,92 dBm dengan 97,1 % area berhasil tercakup dan nilai rata-rata SINR sebesar 10,77 dB. Kata Kunci : LTE, RRU, delay, handover, macro cell, overlapping coverage Abstract Train speed mobility affect to fluctuations in the train passenger receiving power level signal in the communication system. One of the main causes is there is a poor coverage area. The effect of this causes made bad network quality for communication. This final project designed an LTE network for passengers at a speed of 160 km/h from Cepu station to Pasar Turi Surabaya station with a frequency of 900 MHz. The design of the LTE network with overlapping coverage is a solution to network problems on fast trains. The use of the Remote Radio Unit (RRU) with cell placement height focuses on supporting the railroad network. Existing sites around the railroad tracks are used for RRU’s cell placements. The design considered about user speed, traffic delay, and overlapping coverage for handovers (HO). The simulation results of LTE-Sim and calculations obtained delay at a speed of 160 km/h at 0,01850966 seconds. Each RRU's overlapping coverage of 1,7 km for HO with two cells covers an average of 8,5 km of railroad length. It took seven RRUs to be placed on the existing site and 12 RRUs to add 141 km of railroads. The simulation of the design obtained RSRP value is -63,92 dBm with 97,1% of the area successfully covered and the SINR average value of 10,77 dB. Keywords: LTE, RRU, delay, handover, macro cell, overlapping coverage
Simulasi Qos Layanan Komunikasi Penumpang Menggunakan Wlan 802.11n Pada Kereta Cepat Jakarta-surabaya Lisnawati S. Bangun; Erna Sri Sugesti; Doan Perdana
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kereta Cepat merupakan sarana transportasi yang memiliki dampak positif dibandingkan Pesawat Terbang. Hal ini disebabkan efesiensi waktu diperjalanan dapat digunakan secara produktif, khususnya bagi yang membutuhkan layanan internet. Kereta Cepat Jakarta-Surabaya mengimplementasikan penggunaan Wi-Fi standar IEEE 802.11n karena fleksibilitasnya dalam mengakses layanan internet. Pengukuran ini menggunakan simulasi Network Simulator 3.26 (NS 3.26). Penelitian ini mengevaluasi komposisi trafik yang memiliki QoS terbaik pada Wi-Fi 802.11n. Parameter yang digunakan adalah delay, jitter, throughput, dan packet loss. Simulasi dirancang menggunakan lima skenario yang terdiri dari metode A, metode B, metode C, metode D dan metode E. Perbedaan dalam setiap skenario terletak pada data rate dan packet size yang digunakan. Berdasarkan lima metode tersebut, dapat disimpulkan delay dan throughput pada setiap layanan berbanding terbalik. Hal ini disebabkan delay yang besar menyebabkan throughput yang kecil. Berdasarkan metode A, metode B, metode C, layanan terbaik yang dapat digunakan adalah layanan VoIP dengan nilai sebesar 2,617 ms dan throughput sebesar 0,0075 Mbps. Hal ini disebabkan layanan VoIP memiliki tingkat priority layanan tertinggi dibandingkan layanan lainnya. Pada mix layanan metode D, layanan terbaik yang dapat digunakan adalah layanan VoIP vs Data (web browsing) dengan delay sebesar 2,644 ms dan throughput sebesar 0,0098 Mbps. Mix layanan tersebut memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan layanan lainnya. Pada metode E, delay yang dihasilkan saat menggunakan kanal sebesar 6,933 ms dan throughput sebesar 0,0412 Mbps. Hal ini disebabkan terdapat pantulan sinyal yang dihasilkan dari AP ke user yang menyebabkan delay yang besar. Kata kunci : WLAN, Access Point, Delay, Jitter, Throughput, Packet Loss Abstract Highspeed train is a means of transportation that has a positive impact compared to airplane. This is due to the efficiency of travel time that can be used productively, especially for workers who need internet service. Jakarta-Surabaya highspeed train implements the use of the IEEE 802.11n Wi-Fi standard because of its flexibility in accessing internet services. This measurement uses a Network Simulator 3.26 simulation (NS 3.26). This study evaluates the composition of traffic that has the best QoS on Wi-Fi 802.11n. The parameters used are delay, jitter, throughput, and packet loss. The simulation is designed using five scenarios consisting of method A, method B, method C, method D and method E. The difference in each scenario lies in the size of the data rate and packet size used. Based on the five methods produced, it can be concluded that the delay and throughput for each service are inversely proportional. This is because a large delay causes a small throughput. Based on method A, method B, method C, the best service that can be used is VoIP service with a value of 2,617 ms and throughput of 0,0075 Mbps. This is because VoIP services have the highest priority service level compared to other services. In the D mix service method, the best service that can be used is VoIP vs Data (web browsing) services with a delay of 2,644 ms and throughput of 0,0098 Mbps. Mix of services has a better performance than other services. In method E, the delay generated when using a channel is 6,933 ms and throughput is 0,0412 Mbps. This is because there is a reflection of the signal generated from the AP to the user which causes a large delay. Keywords: WLAN, Access Point, Delay, Jitter, Throughput, Packet Loss
Desain Coverage Komunikasi Lte Untuk Layanan Data Penumpang Kereta Cepat Jkt-sub 160 Km/jam Track Jakarta-cirebon Rizky Lazardy Sina; Erna Sri Sugesti; Rina Pudji Astuti
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Jurnal ini mendiskusikan analisis coverage dan handover jaringan LTE untuk kereta cepat Jakarta-Surabaya. Penelitian dilakukan dengan mengadopsi teknologi LTE yang dibangun koridor rel kereta untuk mendukung kecepatan 160 km/jam pada daerah tinjauan track Jakarta-Cirebon. Perhitungan radius cover dan jarak antar site menggunakan frekuensi 900 MHz dengan model propagasi Okumura-Hatta. Langkah sebelumnya adalah melakukan kalkukasi path loss uplink dan downlink dengan nilai link budget. Besar radius adalah 1,86 km berdasarkan model propagasi yang digunakan. Dengan wide area 219 km2 diperoleh jumlah site uniform sebanyak 39. Kondisi rel yang berbeda-beda mempengaruhi jarak antara rel dengan site existing yang digunakan. Pada kasus tersebut perlu dilakukan validasi dengan menggunakan radius site existing sesungguhnya. Perhitungan validasi membutuhkan jarak overlapped saat kereta melakukan handover. Hasil simulasi X2 handover menggunakan NS3 diperoleh nilai rata-rata delay transmission data sebesar 15,14 ms. Dari nilai tersebut diperoleh jarak overlapped sebesar 600m. Dengan menggunakan teori Pythagoras diperoleh jumlah site sebanyak 47. Setelah melakukan simulasi menggunakan software Atoll, analisis coverage by signal level atau RSRP dan SINR telah memenuhi standar yang digunakan. Kata kunci : Kereta Cepat 160 km/jam, LTE, Coverage, Handover. Abstract This journal discusses the analysis of the coverage and submission of the LTE network for the JakartaSurabaya high speed train. The research was carried out by adopting LTE technology that was built on the railway corridor to support speeds of 160 km / h in the Jakarta-Cirebon track review area.. The radius calculation includes and the distance between sites using the 900 MHz frequency with the Okumura-Hatta propagation model. The previous step is calculate the path loss uplink and downlink with the value of the link budget. Value of radius cover is 1.86 km based on the propagation model used. With wide area of 219 km2, there were 39 uniform sites. Different rail conditions differ between rails and existing sites used. In this case, validation is needed by using the existing site radius. Validation calculations require overlapping distances when delivering trains. The X2 handover simulation results using NS3 obtained an average value of data transmission delay of 15.14 ms. From this value overlapping distance of 600m is obtained. By using Pythagoras theory, there are 47 sites. After calculating using software Atoll, analysis of coverage with signal level or RSRP and SINR has obtained the standard used. Keywords: High Speed Railway 160 km/jam, LTE, Coverage, Handover
Desain Jaringan Komunikasi Lte Untuk Penumpang Kereta Cepat 140 Km/jam Jakarta-surabaya Jalur Pekalongan-cepu Nina Karlina; Erna Sri Sugesti; Rina Pudji Astuti
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kereta Api adalah salah satu moda transportasi yang digemari oleh masyarakat agar terhindar dari kemacetan. Kualitas sinyal yang kurang baik pada jaringan Long Term Evolution (LTE) menjadi salah satu kendala bagi pengguna internet di Kereta Api. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya, yaitu blankspot area yang terjadi pada jalur kereta Pekalongan-Cepu. Untuk mengatasi masalah tersebut, penelitian ini melakukan perancangan jaringan microcell dengan mempertimbangkan coverage, capaciy, kecepatan, dan throughput sehingga overlapping coverage agar handover dapat berjalan dengan baik dan mampu mendukung komunikasi LTE dengan kecepatan kereta 140 km/jam.Tugas Akhir ini menggunakan software perancangan jaringan dan simulator delay. Usulan perancangan jaringan LTE ini adalah menambahkan Remote Radio Unit (RRU) di sepanjang jalur kereta cepat Pekalongan-Cepu dengan memperhatikan jaringan site existing operator Telkomsel. Tugas Akhir ini menemukan jumlah RRU baru sebanyak 35 site harus ditambahkan. Hasil kelayakan signal didapat dari parameter sesuai standar Key Performance Indicator (KPI) operator Telkomsel, dengan nilai rata-rata Reference Signal Received Power (RSRP) -60,87 dBm ≥ −85 dBm, Signal to Interference Noise Ratio (SINR) 10,02 dB ≤ SINR < 10 dB, dan nilai Throughput 26.929,01 kbps ≥ 12.000 kbps. Hasil simulasi menggunakan simulator delay menghasilkan delay trafik di saat kecepatan 140 km/jam sebesar 19,17 ms dan delay handover sebesar 20 ms. Dengan delay tersebut menghasilkan nilai overlapping coverage sebesar 41% dari radius sel. Kata kunci: Delay handover, LTE, RRU, Delay trafik, Overlapping Abstract Train is one of the type of public transportation to avoid traffic jam. By using trains, the poor quality of Long Term Evolution (LTE) network becomes one of the problems for internet user in trains. This caused by several factors, one of them is blankspot area in Pekalongan-Cepu train line. To resolve this problem, this research is designs a microcell network by considering coverage, capacity, speed, and throughput for overlapping coverage. So that, the submission run well and is able to support LTE communication with a train speed of 140 km/hour. This Final Project uses network design software and delay simulators. The design of the LTE network added the Remote Radio Unit (RRU) along the Pekalongan-Cepu high speed railway with due regard to the existing Telkomsel operator network sites. This Final Project finds that the number of new RRUs of 35 sites must be added. The results of signal feasibility are obtained from parameters according to the standard of the Main Performance Indicator (KPI) of Telkomsel, with an average value of -60.87 dBm Reference Signal Received Power (RSRP) ≥ -85 dBm, Signal to Interference Noise Ratio (SINR) 10.02 dB ≤ SINR <10 dB, and Throughput value 26.929,01 kbps ≥12,000 kbps. The simulation results using the delay simulator generate traffic at a speed of 140 km / h at 19.17 ms and the delay in handover is 20 ms. Delay results in an overlapping coverage value of 41% of the cell radius. Keyword: Delay handover, LTE, RRU, Traffic delay, Overlapping
Analisis Pengaruh Hidden Node Terhadap Qos Ieee 802.11n Wlan Di Gerbong Kereta Cepat Sophie Dwivita Evans Anthen; Erna Sri Sugesti; Doan Perdana
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Transportasi kereta merupakan salah satu transportasi pilihan antar kota yang pengembangannya terus dilakukan. Perancangan jaringan wifi di kereta merupakan salah satu bagian dari pengembangan layanan kereta cepat. Namun, dalam sistem komuniaksi WLAN terdapat masalah yang dapat mengurangi kualitas performansi jaringan internet, salah satunya adalah masalah hidden node. Masalah hidden node menyebabkan terjadinya collision yang turut mempengaruhi performansi jaringan menjadi menurun. IEEE 802.11n memanfaatkan mekanisme RTS/CTS yang digunakan untuk meminimalisir collision pada jaringan akibat masalah hidden node. Pada Tugas Akhir ini dilakukan analisis pengaruh hidden node pada QoS layanan IEEE 802.11n WLAN di gerbong kereta cepat. Pengujian yang dilakukan berupa simulasi menggunakan simulator NS3.26. Pada proses simulasi digunakan 4 skenario yaitu hidden node pada saat penumpang melakukan layanan VoIP, data, video streaming, dan mixed layanan. Parameter-parameter yang dianalisis pada Tugas Akhir ini adalah throughput, delay danPDR dengan menggunakan mekanisme RTS/CTS. Pengujian hidden node yang dilakukan terhadap payload size layanan VoIP, data, dan video streaming dengan nilai minimum dari standar ITU-T berpengaruh pada hasil throughput. Berdasarkan hasil pengujian hidden node layanan VoIP, data (web browsing), video streaming, dan mixed layanan menunjukkan komposisi pengujian 1 (48N + 2HN) menghasilkan throughput, delay, dan PDR yang tergolong bagus karena throughput yang dihasilkan tinggi, delay yang diperoleh ≤ 150 ms dan PDR untuk kondisi RTS/CTS enable 100%. Sedangkan, untuk komposisi pengujian 2, 3, dan 4 menghasilkan performansi jaringan yang buruk karena tidak sesuai dengan standar ITU-T G.1010. Penggunaan mekanisme RTS/CTS enable untuk pengujian hidden node dapat meningkatkan performansi jaringan. Namun, penggunaan mekanisme RTS/CTS enable pada pengujian dengan jumlah 4, 8, dan 12 hidden node tidak efektif untuk meminimalisir collision yang terjadi karena permintaan transmisi pada jaringan menjadi semakin tinggi. Kata kunci : IEEE 802.11, Hidden Node, Access Point, RTS/CTS, NS3 Abstract Train transportation is one of the inter-city transportation options for which development continues. The design of a wifi network on a train is one part of developing a high speed train service. However, in the WLAN communication system there are problems that can reduce the quality of internet network performance, one of which is the hidden node problem. Hidden node problems cause collisions that also affect network performance to decrease. IEEE 802.11n utilizes the RTS/CTS mechanism used to minimize collisions on the network due to hidden node problems. In this final project, a hidden node analysis is performed on IEEE 802.11n WLAN in a fast train car. Tests carried out in the form of simulations using the NS3.26 simulator. In the simulation process, four scenarios are used, namely hidden nodes when passengers make VoIP services, data, video streaming, and mixed services. The parameters analyzed in this Final Project are throughput, delay and PDR using the RTS/CTS. Hidden node testing performed on the payload size of VoIP services, data, and video streaming with a minimum value of the ITU-T standard affects the results of throughput. Based on the hidden node test results of VoIP services, data (web browsing), video streaming, and mixed services show the composition of testing 1 (48N + 2HN) results in throughput, delay, and PDR that are relatively good because the resulting high throughput, the delay obtained is ≤ 150 ms and PDR for RTS/CTS conditions enable 100%. Meanwhile, the composition of tests 2, 3, and 4 results in poor network performance because it does not comply with ITU-T G.1010 standards. The use of the RTS/CTS mechanism enables hidden node testing to improve network performance. However, the use of the RTS/CTS mechanism allows the testing of the number of 4, 8, and 12 hidden nodes is not effective to minimize collisions that occur because of the higher transmission demand on the network Keywords : IEEE 802.11, Hidden Node, Access Point, RTS/CTS, NS3