Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : GANESHA MEDICINA

LAPORAN KASUS: KATARAK SENILIS MATUR DENGAN RIWAYAT DIABETES MELITUS DAN HIPERTENSI Mahaswari, Ni Putu Radha Kharisma Mahaswari; Ni Nyoman Sekarsari; Ni Kadek Sri Emi Lyana; Komang Hendra Setiawan
Ganesha Medicina Vol. 3 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/gm.v3i2.67704

Abstract

Abstrak Katarak adalah pengaburan lensa kristal intraokular alami yang memfokuskan cahaya yang masuk ke mata ke retina. Katarak adalah penyakit yang progresif secara bertahap dan merupakan penyebab utama kebutaan di seluruh dunia. Pada tahun 2014-2016, menunjukkan bahwa prevalensi kebutaan di lndonesia mencapai 30%, dengan penyebab utama gangguan penglihatan dan kebutaan adalah katarak. Faktor risiko meningkatkan kejadian katarak berupa diabetes melitus dan hipertensi. Kedua hal tersebut menyebabkan perubahan struktur konformasi protein pada kapsul lensa. Pada pemeriksaan fisik didapatkan status oftalmologi pasien pada okuli dekstra dengan visus hand movement, lensa keruh, iris shadow (-), dan reflex fundus (-), dengan tekanan intaokular 17.3 mmHg. Okuli sinistra dengan visus 2/60, iris shadow (+), dan reflex fundus (+). Pemeriksaan gula darah acak didapatkan 125 mg/dl. Tatalaksana yang dapat dilakukan berupa fakoemulsifikasi dan SICS (small incision cataract surgery) dengan memberikan hasil yang baik dengan biaya yang murah dan singkat. Kata Kunci: Katarak senilis matur, diabetes, hipertensi Abstract A cataract is a clouding of the natural intraocular crystalline lens that focuses the light entering the eye onto the retina. Cataract is a gradually progressive disease and is the leading cause of blindness worldwide. In 2014-2016, In 2014-2016, the prevalence of blindness in Indonesia reached 30%, with the main cause of visual impairment and blindness being cataracts. Risk factors for increasing cataract incidence include diabetes mellitus and hypertension. Both cause changes in the protein conformational structure of the lens capsule. On physical examination, the patient's ophthalmological status was found to be in the right eye with hand movement vision, cloudy lens, iris shadow (-), and fundus reflex (-), with an intraocular pressure of 17.3 mmHg. Left oculi with visual acuity 2/60, iris shadow (+), and fundus reflex (+). A random blood sugar check showed 125 mg/dl. Management can be done in the form of phacoemulsification and SICS (small incision cataract surgery) with good results at a low cost and short time. Keywords: Mature senile cataract, diabetes, hypertension
STUNTING: FAKTOR RISIKO, DIAGNOSIS, TATALAKSANA, DAN PROGNOSIS Apriastini, Ni Komang Tri; Adnyani, Ni Putu Tia; Selvyani, Putu Onik; Setiawan, Komang Hendra
Ganesha Medicina Vol. 4 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/gm.v4i1.77137

Abstract

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang ditandai dengan adanya deviasi pada indeks tinggi badan per umur atau TB/U anak berada di bawah -2 standar deviasi (SD) dari median WHO untuk populasi referensi yang sama dan jenis kelamin yang sama. Stunting masih menjadi permasalahan kesehatan di Indonesia dengan prevalensi mencapai 24,4% pada tahun 2021. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya stunting, faktor-faktor tersebut, yaitu praktik pemberian ASI eksklusif, pola pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI), riwayat Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), riwayat penyakit infeksi kronis, keadaan sanitasi, kondisi sosial dan ekonomi keluarga, serta tingkat pendidikan ibu. Diagnosis stunting ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Anak dengan hasil TB/U <-2 SD dapat dinyatakan stunted perlu dievaluasi lebih lanjut mengenai status gizi anak dengan pemeriksaan berat badan, lingkar kepala, kecepatan tumbuh, dan potensi tinggi genetik. Tatalaksana stunting dimulai dengan tindakan pencegahan dan melakukan tindakan kuratif pada anak stunting. Prognosis stunting adalah baik apabila terdeteksi dan mendapat intervensi gizi lebih dini.
ASTHENOPIA: DIAGNOSIS, TATALAKSANA, TERAPI Pratama, Pande Putu Arista Indra; Setiawan, Komang Hendra; Purnomo, Ketut Indra
Ganesha Medicina Vol. 1 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.315 KB) | DOI: 10.23887/gm.v1i2.39551

Abstract

Asthenopia (kelelahan mata) merupakan sekumpulan gejala berupa permasalahan pada penglihatan (visual), mata (okular), dan muskuloskeletal yang umumnya terjadi hilang timbul. Keluhan ini sering muncul akibat pengaruh penggunaan perangkat digital dalam waktu yang lama terutama lebih dari 6 jam perhari. Penderita asthenopia secara global mencapai 60 juta orang yang didominasi usia muda. Gejala asthenopia yang paling sering dirasakan adalah keluhan mata kering, kesulitan dalam memfokuskan objek, mata tegang, mata lelah, dan sakit kepala. Diagnosis asthenopia dapat dilakukan secara subjektif dengan menggunakan kuesioner standar ataupun secara objektif dengan pemeriksaan lanjutan. Pemeriksaan yang dapat dilakukan berupa pengukuran Critical Flicker-fusion Frequency (CFF), pengukuran frekuensi berkedip, kemampuan akomodasi, serta refleks cahaya dan ukuran pupil yang dapat memberikan gambaran lebih jelas ke arah asthenopia. Tatalaksana dan terapi pada asthenopia diberikan untuk meredakan gejala dan mengatasi penyebabnya seperti terapi untuk mengatasi mata kering, koreksi gangguan refraksi, terapi gangguan akomodasi dan vergensi, dan penggunaan kacamata filter cahaya biru. Walaupun asthenopia terjadi secara hilang timbul, penyakit ini dapat menjadi menetap dan berkembang menimbulkan keluhan permanen. Artikel ini ditulis berdasarkan hasil literature review dari penelitian terkait diagnosis, tatalaksana, dan terapi asthenopia yang sudah dipublikasi. Penulisan artikel ini diharapkan dapat dijadikan acuan dalam menindaklanjuti kasus asthenopia sehingga prevalensi dan insidensinya dapat ditekan.
Tingkat Kesiapan Interprofessional Education Mahasiswa Kedokteran Dalam Pembelajaran Field Lab Travel Medicine Ni Luh Putu Pranena Sastri; Made Kurnia Widiastuti Giri; Komang Hendra Setiawan; Made Bayu Permasutha
Ganesha Medicina Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/gm.v5i1.94526

Abstract

Interprofessional education (IPE) menjadi suatu hal yang penting dalam pembelajaran kedokteran dan kesehatan, dengan tujuan untuk meningkatkan kerjasama dalam tim dan pemahaman mahasiswa mengenai peran profesinya dalam perawatan pasien IPE sebagai persiapan dari mahasiswa profesi kesehatan untuk dapat berkolaborasi dan kerjasama tim dalam perawatan pasien sejak dini. Mahasiswa Kedokteran di FK Undiksha mempelajari materi IPE pada mahasiswa semester 7. Beberapa penugasan kuliah IPE terkait dengan pelaksanaan field lab travel medicine yang dilaksanakan di beberapa puskesmas di Kabupaten Buleleng. Field lab ini dilaksanakan pada semester 7 serta berkaitan dengan kesehatan masyarakat dan kedokteran pariwisata. Penelitian ini dilakukan untuk untuk mengetahui tingkat kesiapan pembelajaran IPE mahasiswa dalam pembelajaran field lab. Penelitian ini dilakukan kepada mahasiswa semester 7 Program Studi Kedokteran FK Undiksha yang dipilih secara secara total sampling. Instrumen yang digunakan adalah RIPLS yang telah diuji validitas dan reliabilitas. Hasil akan dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui tingkat kesiapan pembelajaran IPE dari mahasiswa pada masing-masing item instrumen. Pada penelitian ini mahasiswa menunjukkan telah memiliki pemahaman yang baik mengenai kerjasama dan kolaborasi antar profesi, identitas professional positif dan identitas professional negative. Kata Kunci : interprofessional education (IPE), field lab travel medicine, kesiapan mahasiswa.   Abstract Interprofessional education (IPE) is important in medical and health education, to improving students’ teamwork and  understanding their profession role in patient care. IPE as a preparation for health profession students to be able to collaborate and teamwork in patient care. Medical students in FK Undiksha are learned IPE on 7th semester. Several IPE assignments are related to the implementation of the travel medicine field lab which is carried out in several health centers in Buleleng Regency. This field lab is carried out in 7th semester and is related to public health and travel medicine. This study was conducted to determine the level of readiness of students' IPE learning on field lab learning. This study was conducted on 7th semester Medical Student in FK Undiksha who were selected by total sampling. The instrument used was RIPLS which has been tested for validity and reliability. The results will be analyzed descriptively to determine the level of readiness of students' IPE learning on each instrument item. In this study, students showed that they had good understanding of cooperation and collaboration between professions, positive professional identity and negative professional identity. Keywords : interprofessional education (IPE), field lab travel medicine, student readiness