Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Karakterisasi Biodegradable Foam dari Pati Sagu Termodifikasi dengan Kitosan Sebagai Aditif Nanik Hendrawati; Ernia Novika Dewi; Sandra Santosa
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol. 3 No. 1 (2019): April 2019
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (837.704 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v3i1.100

Abstract

Biodegradable foam merupakan kemasan alternatif pengganti styrofoam yang menggunakan bahan baku utama berupa pati sehingga kemasan tersebut dapat terurai secara alami. Namun, produk biodegradable foam yang dihasilkan masih memiliki karakteristik sifat yang rendah. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan konsentrasi kitosan terhadap karakteristik sifat biodegradable foam yang dihasilkan dari pati sagu alami dan termodifikasi menggunakan metode hidrolisis asam – alkohol. Jenis asam yang digunakan pada hidrolisis asam adalah HCl. Konsentrasi kitosan yang ditambahkan pada penelitian ini divariasikan mulai dari 0, 5, 10, 15, 20, 25, 30 % w/w dari pati. Pembuatan biodegradable foam dilakukan menggunakan metode baking process yang dimulai dengan percampuran bahan selain pati sagu termodifikasi, dilakukannya pengadukan hingga campuran menjadi homogen dan mengembang, dan dipanggang didalam oven dengan suhu 125ºC. Analisa pada biodegradable foam adalah analisa daya serap air, analisa kemampuan daya urai dan uji tarik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modifikasi asam – alkohol pada pati sagu tidak mempengaruhi gugus fungsi. Sifat mekanis biodegradable foam yang terbaik pada penelitian ini diperoleh menggunakan pati sagu termodifikasi HCl dan penambahan kitosan sebesar 20% w/w yang memiliki daya serap 4,95 %, densitas sebesar 1.2 g/m3 kemampuan degradasi sebesar 25.12 % dan kekuatan tarik sebesar 1,27 Mpa Biodegradable foam is an alternative packaging for styrofoam which uses the main raw material in the form of starch so that the packaging can be decomposed naturally. However, the biodegradable foam products produced still have low characteristics. This research is conducted to determine the effect of the addition of chitosan concentration on the characteristics of biodegradable foam properties produced from natural sago and modified sago starch using acid-alcohol hydrolysis method. The type of acid used in acid hydrolysis is HCl. The concentrations of chitosan added in this study are varied from 0, 5, 10, 15, 20, 25, 30% w / w of starch. Biodegradable foam production is carried out by using the baking process method which begins with the mixing of ingredients other than modified sago starch, stirring until the mixture becomes homogeneous and expands, and baked in an oven at 125ºC. The caracterisation of biodegradable foam are water absorption analysis, biodegradability analysis, and tensile test. The results show that modification of acid-alcohol on sago starch do not affect the functional group. The best mechanical properties of biodegradable foam in this research are obtained by using HCl-modified sago starch and addition of chitosan by 20% w / w which have an absorption capacity of 4.95%, density of 0.6 g / m3, degradation ability of 25.12% and tensile strength of 1.27 MPa.
Study Pembuatan Durable Cement dengan Penambahan Pozzolan Silica Fume Nanik Hendrawati; Endah Dwi Rahmayanti; Evi Dyah Priapnasar
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2018): April 2018
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (996.072 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v2i1.68

Abstract

Selama ini silica fume dikenal sebagai bahan campuran pembuatan beton karena dapat meningkatkan kuat tekan beton, menurunkan permeabilitas beton dan memiliki ketahanan sulfat yang tinggi. Dalam penelitian ini mencoba mengaplikasikan silica fume pada pembuatan durable cement. Silica fume dijadikan sebagai bahan pozzolan karena didalamnya mengandung silica tinggi yang bersifat reaktif agar dapat meningkatkan ketahanan terhadap sulfat. Bahan pozzolan ini dapat bereaksi dengan Ca(OH)2 pada suhu biasa untuk membentuk senyawa bersifat semen. Pada penelitian ini silica fume divariasikan mulai dari 0; 7,5; 15; 22,5; 30; 37,5%. Durable cement ini akan diuji ketahanan sulfatnya dengan menggunakan metode pengujian kuat tekan. Hasil percobaan menunjukkan terjadinya penururan nilai kuat tekan sampel pada umur 7 dan 28 hari jika dibandingkan dengan blanko. Hal ini disebabkan lambatnya reaksi pozzolan (silica fume). Namun proses peningkatan kuat tekannya akan terus berlanjut hingga setelah umur 360 hari. Jika dibandingkan dengan Standar Nasional Indonesia (15-0302-2004) semen PPC tipe IP-K, hasil sampel durable cement masih memenuhi standar untuk variabel dengan penambahan silica fume antara 7,5% sampai 22,5%. Silica fume is known as a mixture of concrete manufacturing since it can increase the compressive strength of concrete, decrease the permeability of concrete and have a high resistance to sulfates. In this research, try applying silica fume to make durable cement. Silica fume is converted to pozzolan because it contains highly reactive silica to increase sulfate resistance. This pozzolan material can react with Ca (OH)2 at a room temperature to form a cement compound. In this study, silica fume was varied from 0; 7.5; 15; 22.5; 30; 37.5%. The durable cement will be tested for its resistance to sulfates by using a compression resistance test method. The results showed that the compressive strength of the sample was decreased at 7 and 28 days compared to the blanks. This is due to the slow reaction of pozzolan (silica fume). But the process of increasing the resistance to compression will continue until after 360 days. Compared with Indonesia cement national standard (15-0302-2004) of PPC type IP-K, the durable cement sample still meets the standard for variables with the addition of silica fume between 7.5% and 22.5%.
Biodegradable Foam dari Pati Sagu Terasitilasi dengan Penambahan Blowing Agent NaHCO3 Nanik Hendrawati; Agung Ari Wibowo; Rosita Dwi Chrisnandari
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol. 4 No. 2 (2020): October 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1349.995 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v4i2.168

Abstract

Biodegradable foam berbahan dasar pati merupakan kemasan alternatif pengganti Styrofoam. Namun foam berbahan pati mempunyai sifat rapuh, sensitive terhadap air dan membutuhkan tambahan perlakuan untuk meningkatan kekuatan, fleksibilitas dan ketahanan terhadap air untuk bisa diaplikasikan secara komersial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan NaHCO3 dan asam sitrat pada pembuatan biodegradable foam dari pati sagu alami dan terasetilasi. Proses modifikasi dilakukan dengan cara asetilasi yang bertujuan meningkatkan kemampuan termoplastis dan sifat hidrofobik. Proses pembuatan biodegradable foam menggunakan metode baking process. Variabel yang digunakan yaitu konsentrasi blowing agent dengan perbandingan NaHCO3 dan asam sitrat (1,3:1). Variabel yang digunakan mulai 0; 10; 12; 15; s/d 18 % w/w dari pati sagu. Hasil pengujian biodegradable foam dari pati sagu terasetilasi didapatkan nilai water absorbtion, kuat tarik, dan densitas lebih rendah dan sebaliknya pada uji biodegradability mempunyai nilai yang lebih tinggi dari pati sagu alami. Analisa SEM dilakukan pada biodegradable foam dengan penambahan blowing agent sebesar 12%, didapatkan bentuk morfologi closed cell dengan rata-rata ukuran partikel sebesar 32,02 μm pada biodegradable foam dari pati sagu alami dan 39,34 μm pada biodegradable foam dari pati sagu terasetilasi. Analisa FT-IR pada pati terasetilasi menghasilkan gugus C=O karbonil dengan bilangan gelombang sebesar 1650 cm-1. Biodegradable foam based on starch is an alternative packaging for styrofoam. However foams made from starch are brittle, sensitive to water and require further treatments to improve their strength, flexibility, and water resistance for commercial applications. The objective of this research to determine the effect of NaHCO3 and citric acid addition to produce biodegradable foam from natural and acetylated sago starch. The modification process is carried out by acetylation, the aim of modification to improve thermoplastic capabilities and hydrophobic properties. Biodegradable foam production is carried out by using the baking process method. The variables used were the concentration of blowing agent with a ratio of NaHCO3 and citric acid (1.3: 1). The various concentration were used 0; 10; 12; 15; 18% w / w of sago starch. The results showed that biodegradable foam based acetylated sago starch have lower of water absorption , tensile strength, density , however have higher biodegradability value than natural sago starch. SEM analysis was carried out on biodegradable foam with the addition of blowing agent by 12%, obtained closed cell morphology with an average particle size of 32.02 μm on biodegradable foam from native sago starch and 39.34 μm in biodegradable foam from acetylated sago starch. The FT-IR analysis of the acetylated starch produced a group C = O carbonyl with a wave number of 1650 cm-1.
PELATIHAN PEMBUATAN BRIKET BIOMASSA DI DESA SUKONOLO, KEC. BULULAWANG, KAB. MALANG Asalil Mustain; Nanik Hendrawati; M. Agung Indra Iswara; Khalimatus Sa’diyah; Sri Rulianah
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 11 (2023): Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v%vi%i.%p

Abstract

Desa Sukonolo merupakan salah satu desa di Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang. Salah satu permasaahan di daerah tersebut adalah pengolahan limbah biomassa yang belum dilakukan secara baik. Sehingga, limbah tersebut menumpuk dalam jumlah yang cukup besar dan beresiko membawa dampak buruk bagi lingkungan sekitar. Sehingga, Tim Pengabdian Pada Masyarakat (PPM) Jurusan Teknik Kimia – Politeknik Negeri Malang mengadakan pelatihan pembuatan briket biomassa bagi warga Desa Sukonolo. Program pelatihan ini diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan dan keahlian warga dalam proses pembuatan briket dari limbah biomassa.
PENENTUAN KAPASITAS DAN SELEKSI PROSES PABRIK KIMIA PEMBUATAN KARBON AKTIF DARI AMPAS TEBU Rudiyanto, Bintang Ramadhan Putra Perdana; Hendrawati, Nanik; Sudarminto, Hadi Priya
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 2 (2024): June 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i2.5060

Abstract

Ketersediaan karbon aktif dalam industri secara intensif merupakan hal yang penting. Hal ini dikarenakan kegunaannya sebagai media pemurnian atau adsorben. Proses pembuatan karbon aktif melalui 3 tahap yaitu dehidrasi, karbonisasi, dan aktivasi. Studi literatur dan analisis perhitungan ini bertujuan untuk menyeleksi beberapa proses dan komposisi bahan pada pembuatan karbon aktif dan menentukan kapasitas produksi pabrik yang akan berdiri pada tahun 2024 di kabupaten Malang. Pada Perancangan Pabrik Kimia Karbon Aktif dari Ampas Tebu melakukan pemilihan proses atau seleksi proses dengan menggunakan metode grading yang sudah dinilai secara subjektif. Hasil dari penelitian ini diperoleh berdasarkan data prediksi perhitungan karbon aktif dari ampas tebu tahun 2024 pertumbuhan rata –rata ekspor karbon aktif sebesar 8,25 % dan impor karbon aktif sebesar 9,38 %. Berdasarkan perhitungan peluang kapasitas produksi pabrik karbon aktif pada tahun 2024 sebesar 64.890 ton/tahun. Karena di dalam negeri (Indonesia) sudah terdapat pabrik karbon aktif maka kapasitas produksi karbon aktif pada 2024 sebesar 40.000 ton/tahun. Dilihat dari data nilai/skor dan beberapa alasan yang sudah ditentukan dapat disimpulkan bahwa pabrik kimia karbon aktif dari ampas tebu dengan kapasitas 40.000 ton/tahun menggunakan proses batch dengan metode pirolisis dan aktivasi kimia. Namun, pemilihan bahan baku perlu diperhatikan agar mendapatkan produk dan keuntungan ekonomi yang lebih optimal.
Pemanfaatan Serbuk Gergaji Kayu sebagai Karbon Aktif melalui Proses Pirolisis dan Aktivasi Kimia Sa'diyah, Khalimatus; Suharti, Profiyanti Hermien; Hendrawati, Nanik; Pratamasari, Finda Agustin; Rahayu, One Mahardika
CHEESA: Chemical Engineering Research Articles Vol. 4 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/cheesa.v4i2.8589.91-99

Abstract

Ketersediaan limbah serbuk gergaji kayu sangat potensial diolah menjadi karbon aktif karena mengandung selulosa dan lignin yang menyebabkan serbuk gergaji kayu dapat mengikat ion logam berat. Pemanfaatan karbon aktif banyak digunakan di berbagai industri, diantaranya sebagai penyerap zat pencemar dan logam berat. Penelitian ini membahas tentang pembuatan dan pemanfaatan serbuk gergaji kayu sebagai karbon aktif (adsorben) melalui pirolisis dan aktivasi kimia. Tujuannya adalah untuk mengetahui pengaruh suhu pirolisis terhadap kualitas karbon aktif yang dihasilkan. Karbon aktif dibuat menggunakan serbuk gergaji kayu yang didehidrasi di bawah sinar matahari. Proses karbonisasi dilakukan dengan metode pirolisis pada suhu 200 °C, 225 °C, 250 °C, 275 °C dan 300 °C selama 1 jam. Hasil proses pirolisis selanjutnya diaktivasi menggunakan aktivator basa kuat (NaOH) dengan konsentrasi 1 N dan waktu aktivasi 3 jam. Berdasarkan hasil penelitian, suhu pirolisis yang menghasilkan kualitas karbon aktif mendekati Standar Industri Indonesia (SII) 0258-88 adalah pada suhu 275 °C. Kualitas karbon aktif yang dihasilkan memiliki kadar air 3 %, kadar abu 10,2 %, kadar volatile matter 23 %, dan kadar fixed carbon 63,7 %.
Pengaruh Penambahan Kitosan dalam Pembuatan Biodegradable Foam Berbahan Baku Pati Hendrawati, Nanik; Lestari, Yulia Irna; Wulansari, Putri Anggraini
Jurnal Rekayasa Kimia & Lingkungan Vol 12, No 1 (2017): Jurnal Rekayasa Kimia & Lingkungan
Publisher : Chemical Engineering Department, Syiah Kuala University, Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23955/rkl.v12i1.5002

Abstract

Biodegradable foam is an alternative packaging to replace the expanded polystyrene foam packaging currently in use. Starch has been used to produce foam because of its low cost, low density, low toxicity, and biodegradability. Chitosan has been added to improve mechanical properties of product . The effect of variation on chitosan amount and starch types was investigated in this study. The amount of chitosan was varied as 0; 5; 10; 15; 20; 25; and 30 % w/w and starch types were used in this research were cassava, Corn and sago starch. Biodegradable foam was produced by using baking process method, all of material (Starch, Chitosan solution, Magnesium Stearate, Carrageenan, Glyserol, Protein Isolates dan polyvinil alcohol (PVOH) were mixed with kitchen aid mixer. The mixture was poured into mold and heated in an oven at 125 oC for 1 hour. Then, foam was tested for its mechanical properties, water absorption and biodegradability and morphology (SEM). The results show that foam made from sago starch had lower water absortion than those made from cassava and corn starch. While, foam made from cassava starch was more biodegradable than the other foam. Biodegradable foam based sago starch and 30 % w/w of Chitosan adition gave the best performence in tensile stress that is 20 Mpa
EVALUASI KINERJA LAPISAN LANDFILL PADA AREA ASH DISPOSAL PT PAITON OPERATION AND MAINTENANCE INDONESIA (PT POMI) Emeraldi, Muhammad; Hendrawati, Nanik; Sulistyawan, Heru
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 6 No. 2 (2020): August 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v6i2.107

Abstract

Landfill pada area Ash Disposal yang berada di PT POMI mempunyai fungsi sebagai tempat penyimpanan limbah B3 berupa fly ash dan bottom ash. Landfill tersebut memiliki 7 sumur pantau (MW) yang terdiri dari 3 sumur pantau di area upstream dan 4 sumur pantau di area downstream. Sumur pantau memiliki fungsi sebagai alat pemantau kualitas air tanah di sekitar landfill dan untuk mengetahui kondisi / kinerja lining system landfill. Salah satu sumur pantau yaitu MW 5 memiliki karakteristik yang berbeda daripada sumur pantau yang lain. Perbedaan karakteristik sumur pantau bisa menandakan bahwa kinerja lapisan landfill bermasalah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui penyebab yang terjadi pada MW 5 karena memiliki karakteristik yang berbeda daripada MW lain dan mengetahui kinerja lapisan landfill yang berada pada PT POMI. Karakteristik yang berbeda pada MW 5 dikarenakan keadaan hidrologi (sumber air) yang berada pada MW tersebut dan dipastikan bahwa lining landfill pada area Ash Disposal bekerja dengan baik dan tidak mengalami kebocoran.
EVALUASI PERFORMA SPIRAL HEAT EXCHANGER HE-201 PADA UNIT DEMONOMERISASI Urbaningtyas, Herda; Hendrawati, Nanik; Choirudin, Fanny
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 7 No. 1 (2021): February 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v7i1.185

Abstract

Heat exchanger adalah proses perpindahan panas fluida dengan fluida lain tanpa terjadi perpindahan massa didalamnya dan dapat dipergunakan sebagai pemanas. Salah satu tipe alat heat exchanger yang dipakai pada unit demonomerisasi adalah Spiral heat exchanger. Pada Demonomerisasi di PT Ashahimas Chemical, Spiral heat exchanger HE – 201 digunakan untuk memanaskan atau meningkatkan suhu slurry demonomer. Spiral heat exchanger HE-201 tersebut terdapat di unit demonomerisasi pada proses PVC (Polyvinyl Chloride). Hal ini dilakukan karena slurry yang terproduksi mengalami penurunanan yang disebabkan terbentuknya kerak. Hal tersebut menyebabkan koefiesien perpindahan panas (Ud) menurun dan mencapai jenuh, oleh karena itu perlu dilakukan evaluasi untuk mengetahui nilai perpindahan panas dan efisiensi performa alat. Berdasarkan hasil evaluasi dari perhitungan nilai flouling factor (Rd) pada HE-201 diperoleh Rd actual yang jauh lebih kecil dari Rd desain dan nilai ΔP aktual sebesar 1,6 Kg/cm2G. Nilai tersebut berada dibawah nilai pressure drop yang diizinkan yaitu sebesar 2,6 Kg/cm2G. Hal ini menunjukkan bahwa HE-201 pada unit demonomerisasi memiliki kondisi yang sangat baik, masih dapat beroperasi dan tidak perlu diperbarui.
KAJIAN LITERATUR KARAKTERISTIK BIODEGRADABLE POLYMER BERBAHAN BAKU PATI DENGAN PENAMBAHAN FILLER DAN BEESWAX Wardani, Lutfi Kusuma; Hendrawati, Nanik
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 7 No. 2 (2021): August 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v7i2.246

Abstract

Biodegradable polymer berbahan dasar pati merupakan alternatif polymer ramah lingkungan yang dikembangkan untuk mengatasi permasalahan yang ditimbulkan oleh bahan – bahan polymer sekali pakai berbahan dasar minyak bumi. Biodegradable polymer dengan bahan dasar pati memiliki kelemahan antara lain nilai water vapor permeability dan water absorption nya yang besar serta nilai kuat tarik nya yang kecil. Kajian literatur ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh filler dan coating beeswax terhadap karakteristik biodegradable polymer berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan. Berdasarkan jurnal yang didapat pengaplikasian coating beeswax dapat menurunkan nilai water absorption lebih baik dari biodegradable polymer tanpa coating. Penelitian dengan menggunakan filler tanpa coating beeswax menghasilkan nilai water absorption sebesar 15,77% dengan bahan baku pati singkong. Penelitian menggunakan coating beeswax menghasilkan nilai water absorption sebesar 0,8%. Penelitian dengan coating beeswax menghasilkan nilai water vapor permeability sebesar 4,4042 x 10-9g mm/s m2Pa. Pada pengujian kuat tarik dengan menggunakan filler tanpa coating beeswax menghasilkan nilai kuat tarik sebesar 20 MPa. Penelitian menggunakan coating beeswax menghasilkan nilai kuat tarik terbaik yaitu 14 MPa.