Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

KADAR VITAMIN C PADA MANGGA ARUM MANIS YANG DISIMPAN PADA SUHU YANG BERBEDA Hapsari, Anisa Prima Vera; Hasdar, Muhamad; Daryono, Daryono; Purwanti, Yunika
Journal of Food Technology and Agroindustry Vol 6 No 2 (2024): Journal of Food Technology and Agroindustry
Publisher : Journal of Food Technology and Agroindustry dipublikasikan oleh Universitas Wiraraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24929/jfta.v6i2.4010

Abstract

Mango fruit that is consumed daily has several benefits such as increasing the body’s immunity, facilitating digestion, supporting eye health, helping hair and skin health, helping reduce cancerrisk, emphasizing cholesterol levels, and nourishing the heart. Mango post-harvest handling is a critical activity that needs attention before mango fruit reaches consumers. Mango fruit storageis closely related to distribution and marketing activities. This study aims to determine how to store at different temperatures for seven days. This study used the storage temperature treatment of arum manis mango. The treatments used were 5-10oC, 15-20oC, 27-32oC, and 35-40oC. The main parameters were vitamin C levels in each treatment and a decrease in vitamin C levelsduring storage. Storage at a temperature of 5-10oC produces an average vitamin C content of 6.84 ± 0.28 mg/ 100 g. Storage at room temperature (27-32oC) resulted in an average vitamin Ccontent of 3.91 ± 0.44 mg/ 100 g. The vitamin C content of the freshly harvested sweet arum mango fruit was 7.53 ± 0.40 mg/ 100 g. Storage at low temperatures is the best choice tomaintain the quality of vitamin C of arum manis mango.
FORMULASI SEDIAAN NUTRASETIKAL POWDER DRINK KULIT BAWANG MERAH BREBES (Allium cepa L. var. aggregatum) Febriani, Alik Kandhita; Balfas, Rifqi Ferry; Purwanti, Yunika; Maesarah, Ifani
Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 13, No 3 (2024): Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30591/pjif.v13i3.7861

Abstract

Indonesia, known for its rich biodiversity, boasts many medicinal plants with significant development potential. One such plant is shallots (Allium cepa L.), a valuable vegetable commodity that plays an important role in society due to its economic and nutritional value. Shallots are rich in various secondary metabolites, including flavonoids, tannins, saponins, essential oils, kaempferol, flavonglycosides, phloroglucin, dihydroaliin, cycloaliin, metiallin, quercetin, and polyphenols, with sulfur also present in the tubers. This research aims to formulate shallot skin into a nutraceutical powder drink. Using experimental laboratory methods, we formulated the shallot skin powder drink and conducted physical tests on the preparation. The results indicated that while the formulations met the criteria for ash content, pH, dissolution time, flow time, and compressibility, not all formulas satisfied the requirements. Specifically, the shallot skin powder drink did not meet the standards for water content and angle of repose.
PENINGKATAN PENGETAHUAN KADER POSYANDU MENGENAI PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN (PMT) BALITA DI DESA KUPU, KECAMATAN WANASARI KABUPATEN BREBES JAWA TENGAH Wahyani, Anggray Duvita; Purwanti, Yunika; Ratnasari, Diah
MINDA BAHARU Vol 8, No 2 (2024): Minda Baharu
Publisher : Universitas Riau Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33373/jmb.v8i2.6986

Abstract

Stunting merupakan salah satu permasalahan gizi kronis yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia, khususnya di daerah pedesaan seperti Desa Kupu, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes. Posyandu sebagai layanan kesehatan berbasis komunitas memegang peran strategis dalam mengedukasi masyarakat, terutama melalui kader-kadernya. Namun, keterbatasan pengetahuan kader Posyandu tentang pentingnya pemberian makanan tambahan (PMT) yang bergizi seimbang sering kali menjadi kendala dalam memberikan pelayanan yang optimal. Oleh karena itu, diperlukan intervensi berupa pelatihan dan pendampingan yang fokus pada peningkatan kapasitas kader posyandu agar dapat meningkatkan pelayanan untuk masyarakat. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader Posyandu di Desa Kupu Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes Jawa Tengah mengenai PMT balita yang bergizi seimbang. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi penyuluhan dan praktik pengolahan makanan. Kegiatan dilaksanakan selama empat minggu dengan melibatkan 25 kader Posyandu. Hasil pengabdian enunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang signifikan setelah pelatihan, dimana sebelum pelatihan hanya 20% peserta yang memiliki pengetahuan cukup, dan meningkat menjadi 84% setelah pelatihan. Selain itu, para kader berhasil mempraktikkan penyusunan dan pengolahan menu PMT berbasis bahan pangan lokal. Program ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Desa Kupu Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes Jawa Tengah serta menurunkan prevalensi stunting di daerah tersebut.
Kadar Vitamin C pada Mangga Arum Manis yang disimpan pada Suhu yang Berbeda Hapsari, Anisa Prima Vera; Hasdar, Muhamad; Daryono, Daryono; Purwanti, Yunika
Jurnal Kewarganegaraan Vol 6 No 3 (2022): October 2022
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.674 KB) | DOI: 10.31316/jk.v6i3.3958

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara penyimpanan pada suhu yang berbeda selama 7 hari. Penelitian ini menggunakan perlakuan suhu penyimpanan buah mangga arum manis. Perlakuan yang digunakan yaitu suhu 5-10oC, suhu 15-20oC, suhu 27-32oC, dan suhu 35-40oC. parameter utama yaitu kadar vitamin C masing-masing perlakuan dan penurunan kadar vitamin C selama penyimpanan. Penyimpanan pada suhu 5-10oC menghasilkan rata-rata kadar vitamin C sebesar 6.84 ± 0.28 mg/ 100 g. Penyimpanan pada suhu kamar (27-32oC) menghasilkan rata-rata kadar vitamin C sebesar 3.91 ± 0.44 mg/ 100 g. Kadar vitamin C buah manga arum manis yang baru dipanen sebesar 7.53 ± 0.40 mg/ 100 g. Peyimpanan pada suhu rendah adalah pilihan terbaik untuk menjaga kualitas vitamin C buah mangga arum manis.Kata Kunci: Mangga; Vitamin C; Penyimpanan; Suhu AbstractThis study aims to determine how to store at different temperatures for seven days. This study used the storage temperature treatment of arum manis mango. The treatments used were 5-10oC, 15-20oC, 27-32oC, and 35-40oC. The main parameters were vitamin C levels in each treatment and a decrease in vitamin C levels during storage. Storage at a temperature of 5-10oC produces an average vitamin C content of 6.84 ± 0.28 mg/ 100 g. Storage at room temperature (27-32oC) resulted in an average vitamin C content of 3.91 ± 0.44 mg/ 100 g. The vitamin C content of the freshly harvested sweet arum mango fruit was 7.53 ± 0.40 mg/ 100 g. Storage at low temperatures is the best choice to maintain the quality of vitamin C of arum manis mango.Keywords: Mango; Vitamin C;, Store; Tempetature
Pendampingan Pengolahan Kreatif Limbah Telur Asin dalam Meningkatkan Pendapatan Masyarakat di Desa Luwungragi Nisa, Elsara Khairun; Purwanti, Yunika
JAMU : Jurnal Abdi Masyarakat UMUS Vol. 5 No. 02 (2025): Februari
Publisher : LPPM Universitas Muhadi Setiabudi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46772/jamu.v5i02.1692

Abstract

Telur asin, makanan khas Brebes, sangat populer di Indonesia karena kandungan nutrisinya yang meliputi protein, lemak, karbohidrat, vitamin A, vitamin B kompleks, serta mineral seperti kalsium dan fosfor. Namun, limbah dari produksi telur asin sering terabaikan, padahal berpotensi besar untuk pengembangan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Pengolahan limbah telur asin menjadi produk bernilai ekonomis seperti pembuatan kerupuk telur asin dan membuka peluang usaha baru. Sasaran kegiatan adalah ibu-ibu PKK Desa Luwungragi, dengan tujuan memberikan pelatihan dan bimbingan teknis dalam mengolah limbah telur asin menjadi kerupuk telur asin. Metode yang digunakan meliputi ceramah dan praktik langsung. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa peserta pelatihan menunjukkan antusiasme tinggi, mampu mempraktikkan pembuatan kerupuk telur asin dengan baik, dan tertarik mengembangkan usaha ini sebagai sumber pendapatan tambahan. Kegiatan ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan limbah telur asin, serta memberikan kontribusi pada peningkatan ekonomi keluarga di desa tersebut.
Tingkat Kesukaan dan Fenol Serbuk Minuman Jagung Manis yang Diformulasi Ekstrak Jahe dan Jenis Gula Syahidah Mutmainah; Yunika Purwanti; Melly Fera
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 3 No. 4: Juni 2024
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v3i4.3895

Abstract

Meningkatkan kesadaran masyarakat akan kesehatan ditandai dengan semakin banyaknya permintaan akan pangan fungsional. Banyaknya potensi jagung manis di Indonesia menjadikan Indonesia memiliki peluang sebagai pengembangan pangan fungsional. Jagung manis mengandung serat, vitamin, kalori, mineral, senyawa karotenoid dan fenol yang memiliki sifat antioksidan. Selain itu, untuk menambah sifat fungsionalitasnya, pada penelitian ini ditambahkan ekstrak jahe yang mengandung senyawa shagaol dan gingerol yang bersifat termostabil dan sebagai antioksidan. Penggunaan jenis gula berfungsi sebagai agen pengkristal dalam pembuatan serbuk minuman fungsional jagung manis. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh ekstrak jahe dan jenis gula terhadap kadar total fenol dan tingkat kesukaan serbuk minuman fungsional jagung manis. Metode yang digunakan yaitu eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) 2 faktor yaitu ekstrak jahe (0%, 15%, 30%, dan 45%) dan jenis gula (100% gula tebu dan 75% gula tebu + 25% gula kelapa). Berdasarkan hasil analisis, perlakuan penambahan ekstrak jahe dan jenis gula berpengaruh nyata terhadap total fenol dan rasa namun tidak berpengaruh nyata terhadap warna dan aroma. Hasil tertinggi fenol terdapat pada perlakuan J4G2 (37,921 mgGAE/g), warna pada J3G2 (3,9667), aroma pada J3G1 dan J3G2 (3,7333), serta rasa pada J3G1 (3,933).
Pengaruh Daya dan Waktu MAE terhadap Suhu Ekstraksi, Rendemen, dan Aktivitas Antioksidan Yunika Purwanti
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 3 No. 5: Agustus 2024
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v3i5.4050

Abstract

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang pangan mendorong produsen untuk memproduksi berbagai jenis makanan yang lebih bergizi, aman, dan menarik. Akan tetapi disisi lain, urgensi penggunaan food additive sintetik secara terus-menerus dapat mengganggu kesehatan. Alternatif yang dapat ditawarkan pemanfaatan bahan alami sebagai food additive salah satunya ekstrak beras hitam Sirampog. Beras hitam sirampog varietas lokal Kabupaten Brebes memiliki sejuta khasiat, salah satunya kandungan antioksidan yang baik bagi kesehatan. Pemanfaatan beras hitam sirampog sebagai pangan fungsional masih terbatas, agar pengaplikasian lebih mudah perlu dilakukan ekstraksi. Metode ekstraksi Microwave Assisted Extraction (MAE) cocok digunakan untuk ekstraksi komponen yang rentan terhadap panas, karena dapat dikontrol melalui daya dan waktu ekstraksi. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh daya dan lama waktu ekstraksi berbantu gelombang mikro (MAE) terhadap suhu ekstraksi, rendemen dan mengetahui kandungan fenol dan kapasitas penangkapan DPPH. Rancangan penelitian menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri dari 2 faktor yaitu variasi daya (100,175,250 watt) dan variasi waktu ekstraksi (3,6,9 menit). Hasil penelitian yaitu semakin tinggi daya dan lama waktu ekstraksi MAE maka suhu ekstraksi akan semakin tinggi, rendemen tertinggi (45,75%) dihasilkan pada perlakuan D2W1(175 watt dan 3 menit). Perlakuan terbaik D2W1 memiliki kandungan fenolik 96,28 mg/100g dan kapasitas penangkapan DPPH 68,07%.
Formulasi Tepung Tempe dan Tepung Terigu Terhadap Daya Kembang dan Karakteristik Organoleptik pada Fudgy Brownies Rizki Nur Hidayat; Nurwati Nurwati; Yunika Purwanti
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 3 No. 5: Agustus 2024
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v3i5.4462

Abstract

Fudgy brownies merupakan produk bakery yang didominasi cokelat dan memiliki tekstur yang padat. Pembeda utama brownies dari fugdy brownies lainnya adalah penggunaan cokelat yang banyak, tidak memiliki pengembangan yang signifikan, dan teksturnya yang unik. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan perbedaan daya kembang dan karakteristik organolaptik fudgy brownies yang berbeda dari berbagai formulasi tepung tempe dan tepung terigu, serta mendapatkan formulasi tepung tempe dan tepung terigu yang menghasilkan fudgy brownies dengan daya kembang dan organolaptik terbaik. Penelitian ini disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan empat perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan yang digunakan yaitu P0(100%:0%), P1 (90%:10%), P2 (85%:15%), P3 (80%:20%). Data yang diperoleh dari analisis daya kembang dan karakteristik organolaptik (hedonik) dianalisis menggunakan metode ANOVA (Analysis of Varians) dengan taraf signifikansi 5% dan apabila terdapat pengaruh dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT). Semua analisis data dihitung dengan bantuan komputer program SPSS 20.0 for Windows. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa formula terbaik yang diperoleh pada fudgy brownies tepung tempe dengan persentase 10% (P1) , nilai hasil penelitian mutu hedonik dan daya kembang fudgy brownies tepung tempe 10% (P1) menunjukkan daya kembang 19,5 -25,2(P0 dan P1)(nilai daya kembang terbaik), nilai mutu 4.07 (aroma coklat dan sedikit aroma tempe), nilai mutu tekstur 4.10 (agak lembut), nilai mutu warna 4.37 (agak cokelat kehitaman). Sifat hedonik rasa 4.30 (suka), sifat hedonik tekstur 4.10 (suka) dan sifat hedonik warna 4.37 (suka).
Pengaruh Variasi Jenis Kecap Manis Terhadap Kandungan Protein dan Sensori Chicken Teriyaki Safira Qintari Yadith Vitarani; M Jusuf Randi; Yunika Purwanti
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 3 No. 5: Agustus 2024
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v3i5.4956

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh variasi jenis kecap manis terhadap kandungan protein dan sensori chicken teriyaki. Hasil penelitian ini 1) Terdapat pengaruh yang signifikan dari variasi jenis kecap manis terhadap kandungan protein chicken teriyaki, protein tertinggi terletak pada perlakuan menggunakan kecap Bango (light) sebesar 24.235%. 2) Penggunaan variasi jenis kecap manis juga berpengaruh pada Sensorinya. Rata-rata tertinggi responden menyatakan rasanya manis, aroma manis, warna coklat kehitaman, namun tidak berpengaruh nyata terhadap tekstur chicken teriyaki yang sama-sama memiliki tekstur cukup lembut. 3) Berdasarkan indeks efektivitas, perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan 2 yakni penggunaan kecap manis merk Bango (light) terhadap chicken teriyaki.
Aktivitas antioksidan produk nutrasetikal powder drink dari sari kulit bawang merah brebes (Allium cepa L. var. aggregatum) Alik Kandhita Febriani; Yunika Purwanti; Rifqi Ferry Balfas; Ifani Maesarah

Publisher : Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan, Universitas Yudharta, Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35891/tp.v16i1.5801

Abstract

Red onion peel (Allium cepa L. var. aggregatum) is waste from red onion processing products whose utilization has not been maximized. It is known that red onion peel contains bioactive compounds such as flavonoids, anthocyanins and phenolic acids, which have antioxidant potential. Even onion peels have higher antioxidant activity than the bulb. The aim of this research is to make powder drink from Brebes red onion peels with a red onion peel concentration of 20% (SKB20), 40% (SKB40) and 60% (SKB60). Apart from that, this research also aims to evaluate the antioxidant activity of powder drink compared to onion peel juice. Red onion peel extraction uses a filtering process with water. This powder drink was made using the foam mate drying method. The antioxidant activity was measured using the DPPH method. In phytochemical testing, red onion peel contains flavonoids, saponins, terpenoids and polyphenols. The antioxidant activity test results for the red onion peel juice, powder drink with SKB20, SKB40, SKB60 formulas were 151,70 ± 0,10 ppm, 726,77 ± 0,22 ppm, 647,14 ± 0,25 ppm, 192,3 ± 0,25 ppm respectively. The highest IC50 value was SKB60 formula, which is an active antioxidant in the weak antioxidant category. At concentrations of 20% (SKB20) and 40% (SKB40), the IC50 showed non-active antioxidants. These results showed that red onion peel made into powder drink decreases antioxidant activity compared to the antioxidant activity of onion peel juice (151,7 ppm).