Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

TINGKAT PENGETAHUAN MAKANAN SEHAT PADA MAHASISWA UNIVERSITAS MUHADI SETIABUDI Purwanti, Yunika; Rizqiyah, Jazirotur; Rizki Utami, A’Allya; Fera, Melly; Nurwati, Nurwati
Journal of Technology and Food Processing (JTFP) Vol. 5 No. 02 (2025): Juli
Publisher : Program Studi Ilmu Teknologi Pangan Universitas Muhadi Setiabudi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46772/jtfp.v5i02.1784

Abstract

Penelitian ini mengkaji tingkat pengetahuan mahasiswa Universitas Muhadi Setiabudi (UMUS) tentang makanan sehat, mengingat pentingnya pola makan sehat untuk kesehatan tubuh dan pencegahan penyakit. Permasalahan yang dihadapi adalah kurangnya pemahaman mahasiswa terhadap konsep dan penerapan makanan sehat. Tujuan penelitian adalah untuk mengevaluasi pengetahuan mahasiswa agar dapat digunakan sebagai dasar pengembangan program pendidikan kesehatan di kampus. Metode penelitian menggunakan survei dengan kuesioner, yang dibagikan kepada 30 mahasiswa UMUS pada 20 Mei 2025. Analisis data dilakukan dengan SPSS versi 26 dan Microsoft Excel 2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 96.7% mahasiswa menganggap penting mengonsumsi makanan bergizi seimbang. Namun, terdapat kekurangan dalam pemahaman tentang metode memasak yang optimal dan sumber protein tinggi, dengan 70% responden memilih metode memasak yang kurang tepat dan 80% tidak mengetahui bahwa ikan laut mengandung protein tinggi. Kesimpulannya, meskipun sebagian besar mahasiswa memiliki pemahaman dasar yang baik tentang pentingnya makanan sehat, masih ada area yang memerlukan peningkatan pengetahuan. Penelitian ini memberikan wawasan penting untuk mengembangkan program pendidikan kesehatan yang lebih efektif di lingkungan kampus.
Gerakan Gemar Makan Ikan Sebagai Upaya Pencegahan Stunting Masrikhiyah, Rifatul; Fera, Melly; Rahmawati, Yuniarti Dewi; Wahyani, Anggray Duvita; Purwanti, Yunika
JAMU : Jurnal Abdi Masyarakat UMUS Vol. 6 No. 01 (2025): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Muhadi Setiabudi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46772/jamu.v6i01.1789

Abstract

Abstrak Masalah stunting masih menjadi tantangan serius di Desa Kupu, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, yang merupakan wilayah dekat pesisir. Minimnya pengetahuan masyarakat, khususnya kader Posyandu, tentang manfaat konsumsi ikan sebagai sumber protein hewani menjadi salah satu penyebab rendahnya asupan gizi anak. Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk meningkatkan kapasitas kader Posyandu dalam edukasi pencegahan stunting melalui Gerakan Gemar Makan Ikan (Gemarikan) yang berbasis potensi lokal. Metode yang digunakan dalam pengabdian ini meliputi penyuluhan gizi, demonstrasi memasak olahan ikan lokal, dan pendampingan intensif kepada kader Posyandu selama satu bulan. Kegiatan dilaksanakan secara partisipatif dengan pendekatan edukatif dan praktik langsung. Teknik analisis yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan observasi dan evaluasi sebelum dan sesudah kegiatan. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada pengetahuan dan keterampilan kader Posyandu dalam menyampaikan informasi gizi serta mengolah makanan berbasis ikan lokal. Kegiatan ini juga membangun kesadaran akan pentingnya pemanfaatan sumber daya lokal dalam intervensi gizi. Gerakan Gemarikan terbukti menjadi model edukasi yang relevan, aplikatif, dan kontekstual untuk wilayah pesisir dengan permasalahan stunting. Abstract Stunting remains a serious public health challenge in Kupu Village, Wanasari Subdistrict, Brebes Regency, a coastal area in Central Java, Indonesia. One contributing factor is the limited knowledge among the community—particularly Posyandu (integrated health post) cadres—regarding the nutritional benefits of fish consumption as a source of animal protein, which leads to inadequate dietary intake among children. This community service project aimed to strengthen the capacity of Posyandu cadres in delivering stunting prevention education through the Fish-Eating Movement (Gemarikan), leveraging local resources and potentials. The methods employed included nutrition education sessions, cooking demonstrations using locally sourced fish, and intensive mentoring of Posyandu cadres over the course of one month. Activities were carried out using a participatory approach combining educational strategies and hands-on practice. A qualitative descriptive analysis was used, involving pre- and post-activity observations and evaluations. The results showed a significant improvement in the knowledge and skills of Posyandu cadres in communicating nutritional information and preparing fish-based meals. Furthermore, the program fostered increased awareness of the importance of utilizing local food resources in nutrition interventions. The Gemarikan initiative proved to be a relevant, practical, and contextually appropriate educational model for coastal communities facing stunting issues.
Pemanfaatan Bubuk Bawang Merah Brebes untuk Meningkatkan Durabilitas Mi Basah Rahmawati, Yuniarti; Purwanti, Yunika; Masrikhiyah, Rifatu
Jurnal Mutu Pangan : Indonesian Journal of Food Quality Vol. 12 No. 2 (2025): Jurnal Mutu Pangan
Publisher : Department of Food Science and Technology (ITP), Faculty of Agricultural Technology, Bogor Agricultural University (IPB) in collaboration with the Indonesian Food and Beverage Association (GAPMMI), the National Agency of Drug and Food Control, and th

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jmpi.2025.12.2.161

Abstract

Wet noodles are a highly perishable food product due to their high water content (32–35%). The use of synthetic preservatives can negatively impact health. One potential alternative to synthetic pre-servatives is Brebes shallots (Allium cepa L.), which are rich in phenolic compounds. This study aimed to evaluate the effectiveness of Brebes shallot powder as a natural preservative for wet noodles. The research used an experimental method with a completely randomized design (CRD), where wet noodles were enriched with varying proportions of shallot powder (0, 5, 10, 15, 20, and 25%). Analyses were performed on shelf life, physical parameters (elasticity and water absorption), chemical properties (proximate and phenolic content), and sensory attributes. The results showed that the 25% shallot powder treatment achieved the longest shelf life, lasting 67.33 hours—five times longer than the control group (without preservatives), which lasted only 15.33 hours. The measured total phenolic content increased from 0.51 to 2.08%. In terms of sensory attributes, the use of shallot powder significantly affected the taste, aroma, color, and texture of the wet noodles, although elasticity decreased as the proportion of shallot powder increased.
The Effect of Fermentation Time on Weight Loss, Protein Content, Organoleptic Tests on Winged Bean Tempeh (Psophocarpus tetragonolubus) Tulloh, David; Purwanti, Yunika; Randi, Mohammad Jusuf; Nurwati
Journal of Food and Agricultural Product Vol. 5 No. 2 (2025): JFAP
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/jfap.v5i2.6994

Abstract

Tempeh is known as a typical Indonesian fermented food that usually uses soybeans as the main ingredient. However, the high dependence on soybean imports has encouraged efforts to find local raw material sources, one of which is winged bean seeds (Psophocarpus tetragonolobus) which have high protein content. This study aims to evaluate the impact of variations in fermentation time on weight loss, protein content, and sensory (organoleptic) quality of tempeh made from winged bean seeds. The study was conducted using a non-factorial Completely Randomized Design (CRD), consisting of four fermentation time treatments, namely 36, 48, 60, and 72 hours. The parameters observed included the level of weight loss, protein content, and organoleptic test results in two stages, namely before and after frying, involving panelists as assessors. The results of observations showed that the longer the fermentation lasted, the weight loss tended to decrease, but was also accompanied by a decrease in protein content. Fermentation for 36 hours produced the highest protein content, which was almost equivalent to the protein content of soybean tempeh. In addition to being an alternative source of vegetable protein, winged bean plants are also known to be rich in antioxidant compounds and essential nutrients that provide health benefits, such as maintaining heart function, preventing diabetes, strengthening the immune system, and supporting digestive function. Based on the results of organoleptic tests, fermentation for 60 to 72 hours provided the best sensory quality in tempeh before frying, while after frying there was no significant difference between treatments. Therefore, it can be concluded that fermentation time has a significant effect on the quality of winged bean seed tempeh, and shows that winged bean seeds have great potential as an alternative to soybeans in the development of tempeh products. Keywords: tempeh, winged bean seeds, weight loss, protein content, organoleptic test
Aktivitas antioksidan produk nutrasetikal powder drink dari sari kulit bawang merah brebes (Allium cepa L. var. aggregatum): Antioxidant activity of nutraceutical powder drink products from brebes red onion peel juice (Allium cepa L. var. aggregatum) Febriani, Alik Kandhita; Purwanti, Yunika; Balfas, Rifqi Ferry; Maesarah, Ifani
TEKNOLOGI PANGAN : Media Informasi dan Komunikasi Ilmiah Teknologi Pertanian Vol 16 No 1 (2025)
Publisher : Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan, Universitas Yudharta, Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35891/tp.v16i1.5801

Abstract

Red onion peel (Allium cepa L. var. aggregatum) is waste from red onion processing products whose utilization has not been maximized. It is known that red onion peel contains bioactive compounds such as flavonoids, anthocyanins and phenolic acids, which have antioxidant potential. Even onion peels have higher antioxidant activity than the bulb. The aim of this research is to make powder drink from Brebes red onion peels with a red onion peel concentration of 20% (SKB20), 40% (SKB40) and 60% (SKB60). Apart from that, this research also aims to evaluate the antioxidant activity of powder drink compared to onion peel juice. Red onion peel extraction uses a filtering process with water. This powder drink was made using the foam mate drying method. The antioxidant activity was measured using the DPPH method. In phytochemical testing, red onion peel contains flavonoids, saponins, terpenoids and polyphenols. The antioxidant activity test results for the red onion peel juice, powder drink with SKB20, SKB40, SKB60 formulas were 151,70 ± 0,10 ppm, 726,77 ± 0,22 ppm, 647,14 ± 0,25 ppm, 192,3 ± 0,25 ppm respectively. The highest IC50 value was SKB60 formula, which is an active antioxidant in the weak antioxidant category. At concentrations of 20% (SKB20) and 40% (SKB40), the IC50 showed non-active antioxidants. These results showed that red onion peel made into powder drink decreases antioxidant activity compared to the antioxidant activity of onion peel juice (151,7 ppm).
Subtitusi Tepung Ampas Kelapa Termodifikasi dan Pati Jagung dengan Penambahan VCO untuk Meningkatkan Karakteristik Cookies Yunika Purwanti; Dina Putri Pratami
JURNAL ILMIAH ULTRAS BREBES Vol 4 No 2 (2021): Jurnal Ilmiah Ultras Brebes
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah Kabupaten Brebes

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Kondisi masyarakat Indonesia yang tergantung pada bahan pangan yang berbahan baku terigu dapat melemahkan ketahanan pangan nasional. Guna mengatasi hal tersebut, maka perlu peningkatan swasembada pangan dengan memanfaatkan berbagai jenis komoditi lokal yang banyak dihasilkan di Indonesia.Pemanfaatan potensi bahan pangan lokal yang memiliki kandungan gizi tinggi dan tersebar luas di seluruh wilayah Indonesia, melalui diversifikasi pangan akan mendukung program ketahanan pangan nasional serta mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap terigu. Tepung ampas kelapa dapat digunakan sebagai pengganti tepung terigu. Metode penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK), dengan 2 faktor yaitu pertama, proporsi tepung ampas kelapa:pati jagung:tepung terigu (A1 = 60% : 20% : 20%, A2 = 55% : 15% : 30%, A3 = 50% : 10% : 40%) dan kedua, penambahan VCO dan margarin (K1 = 70 % margarin dari berat bahan , K2 = 80% Margarin dari berat bahan, K3 = 70 % VCO dari berat bahan, K4 = 80% VCO dari berat bahan). Analisis yang dilakukan yaitu karakteristik organoleptik meliputi Kadar air, kadar abu, dan kadar serat kasar. Hasil penelitian semakin menurunnya kandungan tepung ampas kelapa maka akan mempengaruhi kadar air, kadar abu, kadar abu, dan kadar serat kasar. Semakin meningkatnya kandungan VCO yang diberikan maka akan menurunkan kadar air, kadar abu, kadar abu, dan kadar serat kasar. 
Edukasi Susu Kambing Sebagai Minuman Bergizi untuk Anak-Anak Desa Dermasandi Purwanti, Yunika; Rizqiyah, Jazirotur
JAMU : Jurnal Abdi Masyarakat UMUS Vol. 6 No. 02 (2026): Februari
Publisher : LPPM Universitas Muhadi Setiabudi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46772/jamu.v6i02.1868

Abstract

Susu kambing merupakan sumber pangan bergizi dengan kandungan protein, kalsium, fosfor, vitamin A, serta mineral penting yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan kesehatan anak. Namun, konsumsi susu kambing di masyarakat, khususnya pada anak usia sekolah dasar, masih rendah karena minimnya pengetahuan dan adanya persepsi negatif terhadap rasa maupun aroma. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman serta minat anak-anak terhadap konsumsi susu kambing melalui edukasi gizi. Metode pelaksanaan meliputi penyampaian materi menggunakan media PowerPoint, diskusi interaktif, sesi tanya jawab, praktik mencicipi susu kambing, serta pembagian poster edukatif. Peserta kegiatan berjumlah 12 anak dengan rentang usia 7–11 tahun di Desa Dermasandi, Kabupaten Tegal. Hasil kegiatan menunjukkan partisipasi aktif seluruh peserta, ditandai dengan antusiasme pada sesi diskusi serta keberanian semua anak untuk mencoba susu kambing. Sebanyak 41,7% anak mengonsumsi susu kambing untuk pertama kalinya dan mampu menyebutkan minimal dua manfaatnya. Dengan demikian, kegiatan edukasi ini berhasil meningkatkan pengetahuan sekaligus mengubah sikap anak terhadap susu kambing, sehingga diharapkan dapat mendorong kebiasaan memilih minuman bergizi sejak dini.