Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

ANALYSIS OF CAROTENOID CONTENT IN SEA GRAPE (CAULERPA LENTILIFERA) CULTIVATED WITH LOW PLANT STANDING DIFFERE Neny Arisqia; Sadikin Amir; Ibadur Rahman
Jurnal Media Akuakultur Indonesia Vol 3 No 1 (2023): Jurnal Media Akuakultur Indonesia
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/mediaakuakultur.v3i1.2357

Abstract

Seaweed is one type of fishery commodity that is widely used both as a raw material for food, industry, medicine, and cosmetics. This causes the economic value of seaweed to help the community's economy and can increase the country's foreign exchange. Seaweed is one of the largest carotenoid producers because green seaweed generally contains chlorophyll a and b compounds and carotene compounds which can function as antioxidants. Factors that affect the content of carotenoids is the spacing of seaweed seeds. The purpose of this study was to determine the effect of spacing in the basic stake system on the carotenoid content of Caulerpa lentilifera and to determine the ideal spacing that gives optimal effect on the carotenoid content of Caulerpa lentilifera. This study used an experimental method with a completely randomized design (CRD) pattern with 6 treatments and 3 replications with treatments namely Control (25 cm spacing), P1 (20 cm spacing), P2 (30 cm spacing), P3 (20 cm spacing). plant 35 cm), P4 (planting distance 40 cm), P5 (planting distance 45 cm). The data obtained was then analyzed using variance (ANOVA) with a 95% confidence level and to find out the best growth a further test was carried out using the BNT test. The results showed that the spacing applied to the basic stake system had no effect on the carotenoid content of Caulerpa lentilifera, but had an effect on the absolute growth and specific growth rates. Spacing of 30 cm is the best distance for the growth of Caulerpa lentilifera with an absolute growth of 128.917 g and a specific growth rate of 4.965%, but the difference in spacing has no effect on the carotenoid content. The conclusion of this study was that the difference in plant spacing of the basic stake system had no effect on the carotenoid content of C. lentilifera, but had an effect on the absolute growth and specific growth rate. There was no ideal spacing to increase carotenoid content in C. lentilifera, because each treatment tended to have relatively the same carotenoid content.
PENGARUH LAMA WAKTU PERENDAMAN LARVA IKAN CUPANG DALAM MADU TERHADAP PERSENTASE JENIS KELAMIN Iryanto; Sadikin Amir; Bagus Dwi Hari Setyono
Jurnal Perikanan Unram Vol 11 No 1 (2021): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v11i1.150

Abstract

Sex reversal merupakan salah satu cara untuk memproduksi populasi ikan monoseks jantan, yakni suatu teknologi yang diterapkan pada saat gonad ikan belum terdiferensiasi sehingga mengarahkan kelamin menjadi jantan. Madu merupakan salah satu bahan yang digunakan untuk sex reversal yang mengandung chrysin yang berfunsi sebagai aromatase inhibitor sehingga mengarahkan kelamin ikan menjadi jantan. Penelitian ini dilaksanakan mulai tanggal 30 mei sampai 13 juli 2019, tempat penelitian yaitu Laboratorium Basah Program Studi Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Mataram. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan 3 kali ulangan, yaitu P1 konsentrasi madu 5 ml.l-1 + 8 jam perendaman, P2 konsentrasi madu 5 ml.l-1 + 10 jam perendaman, P3 konsentrasi madu 5 ml.l-1 + 12 jam perendaman, P1 konsentrasi madu 5 ml.l-1 + 14 jam perendaman. Data yang diperoleh di analisis menggunakan ANOVA pada taraf kepercayaan 95% melalui program SPSS dan uji lanjut menggunakan Duncan untuk mengetahui perlakuan terbaik. Parameter yang diamati adalah persentase jumlah jantan dan tingkat kelangsungan hidup. Hasil penelitian menujukkan pengaruh perbedaan lama waktu memberikan hasil yang berbeda nyata terhadap persen jantan yang dihasilkan tetapi tidak berpengaruh terhadap tingkat kelangsungan hidup ikan cupang yang dipelihara. Lama waktu perendaman terbaik didapatkan dari perlakuan P2 dengan persentase jumlah jantan sebanyak 77,18%. Kata kunci: maskulinisasi, kelansungan hidup, sex reversal, Betta sp., madu.
PENGARUH KONSENTRASI PUPUK UREA TERHADAP PERTUMBUHAN POPULASI ROTIFER (Brachiounus plicatilis) lindabp nur nurlinda; Saptono Waspodo; Sadikin Amir
Jurnal Perikanan Unram Vol 9 No 2 (2019): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v9i2.156

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kosentrasi pupuk urea terbaik terhadap pertumbuhan populasi rofiter (Brachionus plicatilis). Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 4 perlakuan yaitu pemberian KW21 1ml/L sebagai kontrol, urea 50 mg/L, urea 100 mg/L, 150 mg/L yang di ulang sebanyak 3 kali. Pengamatan kepadatan dilakukan selama 24 jam. Parameter yang diamati meliputi laju pertumbuhan populasi, pertumbuhan relatif, pertumbuhan spesifik dan waktu penggandaan diri. Hasil penelitian menunjukan bahwa laju pertumbuhan populasi rotiter tertinggi 4.34 ind/mL yang di capai pada hari ke-6 (fase eksponensial), pertumbuhan relatif tertinggi 76.33%, pertumbuhan spesifik tertinggi 1.88%, serta waktu penggandaan diri tersingkat 1.31 per jam. Berdasarkan penelitian ini, untuk pertumbuhan dianjurkan menggunakan kosentrasi pupuk urea dengan dosis 150 mg/L.
PENGARUH PENGGUNAAN FILTER YANG BERBEDA PADA BUDIDAYA UDANG VANAME (Litopenaeus vaname) DENGAN SISTEM RESIRKULASI Wahbi Wahbi; Sadikin Amir; Bagus Dwi Hari Setyono
Jurnal Perikanan Unram Vol 12 No 4 (2022): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v12i4.348

Abstract

Masalah yang sering muncul pada budidaya, salah satunya yaitu menurunya kualitas air yang berdampak pada penurunan hasil produksi. Selain itu, sisa pakan yang tidak dimakan akan membuat kualitas air selama pemeliharaan akan semakin buruk hal ini meningkatkan amonia bersifat toksik. Sehingga perlu dikembangkan sistem budidaya yang efektif untuk mengatasi permasalahan tersebut, yaitu dengan sistem resirkulasi dengan menggunakan filter. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan kombinasi filter yang tepat untuk menjaga kualitas air dengan menggunakan sistem resirkulasi. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan yakni dengan penggunaan sistem resirkulasi. Pada perlakuan P1 tanpa filter, P2 bioball, pasir, arang, P3 zeolit, pasir, arang dan P4 kerikil, pasir, arang. Hasil penelitian yang didapat yaitu tingkat kelangsungan hidup tertinggi pada perlakuan P2 mencapai 78,66% dan perlakuan P1 terendah yaitu 43,33%. Laju pertumbuhan P2 memberikan laju pertumbuhan harian terbaik dari perlakuan lainya yaitu 0,2117 g. Pada bobot mutlak P2 mendapatkan berat tertinggi yaitu 6,35 g dan memiliki kadar amonia terendah yaitu 0,10 mg/L.
Analisis Daya Dukung Ekosistem Dan Konservasi Mangrove Dalam Meningkatkan Potensi Ekowisata di Desa Cendi Manik, Sekotong Tengah, Lombok Barat Saptono Waspodo; Sadikin Amir; Sitti Hilyana; Soraya Gigentika; Rhojim Wahyudi
Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i3.41922

Abstract

Ekosistem mangrove berperan penting menjaga keseimbangan ekosistem serta berfungsi sebagai habitat dari berbagai biota. Ekowisata dapat menjadi strategi konservasi yang dapat membuka alternatif ekonomi bagi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya dukung dan kesesuaian ekosistem mangrove sebagai ekowisata, serta mengetahui persepsi masyarakat dan pengunjung tentang kondisi mangrove dan jasa ekosistem mangrove. Metode penelitian dilakukan secara purposive sampling dengan mengambil data primer dan sekunder. Hasil menunjukkan ditemukan 15 jenis mangrove, 15 jenis makrozoobenthos, dan 12 jenis burung yang hidup berasosiasi pada ekosistem mangrove tersebut. Rata-rata kerapatan ekosistem mangrove Bagek Kembar sebesar 183 ind/ha (kategori jarang) dengan indeks nilai penting (INP) jenis mangrove tertinggi yaitu Rhizophora mucronata (127%). Indeks Kesesuaian Wisata dalam ekosistem mangrove di Desa Cendi Manik, Kecamatan Sekotong Tengah, Kabupaten Lombok Barat adalah 87.33% sehingga termasuk kedalam katagori sangat sesuai (S1). Perhitungan daya dukung kawasan (DDK) untuk kawasan ekosistem mangrove wisata jelajah track dengan jembatan kayu didapatkan 135 orang/hari, sedangkan untuk wisata jelajah mangrove dengan berperahu 92 orang/hari. Analisis persepsi masyarakat dan pengunjung Dusun Madaq Beleq menunjukkan bahwa masyarakat sudah cukup paham peran dan manfaat mangrove, serta ekowisata. Masyarakat juga menyadari perlunya keterlibatan mereka dalam pengelolaan ekowisata. Oleh karena itu, partisipasi langsung dari masyarakat dalam pengembangan ekowisata sangat diperlukan. The mangrove ecosystem plays an important role in maintaining ecosystem balance and functions as a habitat for various biota. Ecotourism can be a conservation strategy that can open up economic alternatives for the community. This research aims to determine the carrying capacity and suitability of the mangrove ecosystem for ecotourism, as well as determine the perceptions of the community and visitors regarding the condition of mangroves and mangrove ecosystem services. The research method was carried out using purposive sampling by taking primary and secondary data. The results showed that 15 types of mangroves, 15 types of macrozoobenthos and 12 types of birds were found that lived in association with the mangrove ecosystem. The average density of the Bagek Kembar mangrove ecosystem is 183 ind/ha (rare category) with the highest importance value index (INP) for the mangrove type, namely Rhizophora mucronata (127%). 4. The Tourism Suitability Index in the mangrove ecosystem in Cendi Manik Village, Sekotong Tengah District, West Lombok Regency is 87.33% so it is included in the very suitable category (S1). 5. Calculation of the area carrying capacity (DDK) for the mangrove ecosystem area for track cruising tourism with wooden bridges was found to be 135 people/day, while for mangrove exploring tourism by boat it was 92 people/day. Analysis of the perceptions of the community and visitors to Madaq Beleq Hamlet shows that the community has had enough understand the role and benefits of mangroves, as well as ecotourism. The community also realizes the need for their involvement in ecotourism management. Therefore, direct participation from the community in ecotourism development is very necessary.