Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

KEKUATAN PEMBUKTIAN HASIL PEMERIKSAAN LABORATORIUM FORENSIK SEBAGAI ALAT BUKTI DALAM KASUS TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN Astrya Puspitasari; Diya Ul Akmal
Justitia et Pax Vol. 38 No. 2 (2022): Justitia et Pax Volume 38 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Penerbit Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Murder is a crime that both violates humanity and the law. Murders can be influenced by a variety of factors, including personal issues, economic hardships, and other concerns. The process of investigating murder cases necessitates the use of a Forensic Laboratory Examination to identify evidence and clues that will be used as legal evidence in court later. The aim of the research is to examine the role of evidence from Forensic Laboratory examination results in developing a judge's conviction in a murder case. This is a qualitative study that employs a normative legal method. The data used are secondary data gathered from literature studies and interviews at the National Police Headquarters Forensic Laboratory Center. In general, Forensic Laboratory examination results are utilized as evidence and instructions that can corroborate evidence. The Forensic Laboratory examination results can be utilized as documentary evidence (visum et repertum), expert testimonies, and evidence directives. The Forensic Laboratory investigation's findings are crucial in determining the judge's conviction, particularly in cases of murder. The judge's conviction must be founded on the fact that the defendant committed murder. As a result, the role of proving the Forensic Laboratory examination results is expected to guide the judge's conviction to get material truth. The expected implication is that the values of justice will be fulfilled in the Indonesian criminal justice system.
POLITIK REFORMASI HUKUM: PEMBENTUKAN SISTEM HUKUM NASIONAL YANG DIHARAPKAN DIYA UL AKMAL
Jurnal Ilmiah Hukum dan Keadilan Vol. 8 No. 1 (2021): Hukum Dan Keadilan
Publisher : STIH Painan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (700.414 KB) | DOI: 10.59635/jihk.v8i1.138

Abstract

Pembangunan hukum terus dilakukan untuk menyempurnakan sistem yang sudah ada. Dari masa prakemerdekaan hingga saat ini terus dilakukan pembangunan hukum tersebut. Namun disetiap masa selalu terdapat permasalahan yang harus diselesaikan. Selain itu, permasalahan yang timbul tersebut seringkali menyisakan karakter yang tidak baik dalam pembangunan hukum dimasa selanjutnya. Salah satu contohnya adalah hukum dibentuk hanya untuk melanggengkan kekuasaan politik dan untuk dapat memberikan keuntungan kepada individu/kelompok tertentu saja. Sejatinya masyarakat menginginkan hukum bersifat responsif dan melindungi diri pribadinya. Diperlukan penataan yang sungguh-sungguh demi menciptakan hal tersebut. Penataan dan perbaikan ini meliputi ketiga sub sistem hukum yang ada. Pembentukan hukum tidak hanya untuk beberapa individu atau golongan saja. Kemudian penegakkan hukum harus dilakukan dengan mengakui setiap orang memiliki kesamaan kedudukan dihadapan hukum. Dan menciptakan budaya hukum masyarakat yang baik. Sehingga pada akhirnya tertib hukum akan terlaksana dan akan memberikan keadilan serta kemanfaatan yang luas
Pencabutan Kewarganegaraan Indonesia Anggota the Islamic State of Iraq and Syria (ISIS): di antara Kedaulatan Negara dan Hak Asasi Warga Negara Diya Ul Akmal
Sultan Jurisprudence: Jurnal Riset Ilmu Hukum Vol. 3 No. 1 Juni 2023
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51825/sjp.v3i1.17301

Abstract

The growth of the Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) has created complex issues for countries around the world. Radicalism awareness and propaganda's ability to spread are the issues. The downfall of ISIS was triggered with the death of its leader. ISIS militants from various nations, including Indonesia, were also impacted by this. Regarding the repatriation of Indonesian citizens and their citizenship status, there are both proponents and critics in the society. The aim of this research was to ascertain the citizenship status of Indonesian nationals who left their country and joined ISIS and to determine the legal standing of someone without a nationality. This is a qualitative study that employs the Normative Legal Method in conjunction with the Legislative Approach. The data was gathered from a literature review that included primary legal materials (statutory regulations), secondary legal materials (books and journals), and tertiary legal materials (Internet). The gathered data is analyzed and described in terms with scientific logic. The study revealed that many Indonesian nationals who joined ISIS desired to go back to their own country. Even yet, the Indonesian government has adopted a policy of revoking citizenship and refusing to repatriate Indonesian people who joined ISIS. The former Indonesian citizen is therefore stateless. The Indonesian government's policy is an assertion of state sovereignty and does not violate the human rights of former Indonesian citizen because the decision to leave Indonesia and join ISIS is totally personal to each former Indonesian citizen. The government needs to take more preventive actions through promoting Pancasila education and national values. This attempts to strengthen nationalism and prevent extremist ideas from spreading in Indonesia. In order to emphasize State Sovereignty more strongly in the development of the Indonesian state of law, security assurances and protection for the entire Indonesian population must also be improved.
DINAMIKA KONSEP OMNIBUS LAW: MENEGASKAN TUJUAN HUKUM DALAM KONSTRUKSI LEGISLASI NASIONAL Diya Ul Akmal
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol 7, No 1 (2021): Published 30 Juni 2021
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jhmj.v7i1.1176

Abstract

AbstrakIndonesia sebagai negara hukum terus melakukan penyempurnaan dalam sistem hukum yang telah ada. Dalam sistem hukum yang berlaku, aspek substansi hukum yang sering dilakukan pembaharuan. Pembaharuan ini dapat berupa penambahan, pengurangan, maupun penggabungan aturan hukum yang berlaku. Salah satu hal yang dilakukan adalah menerapkan konsep Omnibus Law dalam pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Sejatinya konsep ini tidak dikenal dalam sistem hukum Indonesia namun saat ini konsep Omnibus Law telah digunakan dalam pembentukan Undang-Undang Cipta Kerja. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan data sekunder yang didapatkan melalui studi kepustakaan. Terdapat dua kubu yang mengutarakan pro-kontra terhadap penerapannya. Pemerintah menganggap konsep ini akan merampingkan aturan hukum yang ada. Disisi lain masyarakat menganggap konsep ini tidak menyelesaikan masalah secara keseluruhan tetapi menimbulkan permasalahan-permasalahan baru kedepannya. Pembuat kebijakan harus segera mengkaji dampak ataupun hasil dari Undang-Undang yang telah disahkan menggunakan konsep ini. Selain itu, permasalahan yang ada harus diselesaikan dengan meminimalisir permasalahan baru yang mungkin akan terjadi. Pembentukan aturan hukum juga harus mengakomodir setiap aspirasi yang diberikan oleh masyarakat agar nantinya aturan yang dibuat dapat memberikan keadilan dan kemanfaat yang luas bagi masyarakat. Kata Kunci: Hukum, Pembentukan Hukum, Omnibus LawAbstractIndonesia as a state of law continues to make improvements in the existing legal system. In the legal system, the aspect of renewing the substance of the law is carried out continuously. The renewal can be in the form of adding, subtracting, or merging applicable legal rules. One thing that is done is to apply the concept of Omnibus Law in the formation of the aplicable Laws. In fact, this concept does not exist in the Indonesian legal system. However the Omnibus Law has been used in the Job Creation Law. This research uses a normative legal method with secondary data obtained through literature study. There are pros and cons to its application. The government considers this concept to streamline existing legal regulations. on the other hand, people think this concept does not solve the problem as a whole but creates new problems in the future. Policy makers must immediately assess the impact or outcome of laws that have been passed using this concept. existing problems must be resolved by minimizing new problems that may occur. The formation of the rule of law must also accommodate every aspiration given by the community so that later the rules made can provide justice and broad benefits for the community.Key Words: Law, Legal Formation, Omnibus Law
THE PANDEGLANG REGENCY GOVERNMENT’S ROLE IN THE DEVELOPMENT OF CISOLONG HOT SPRING TOURISM Pratiwi, Eka; Akmal, Diya Ul
Jurnal Res Justitia: Jurnal Ilmu Hukum Vol. 4 No. 1 (2024): Jurnal Res Justitia : Jurnal Ilmu Hukum
Publisher : LPPM Universitas Bina Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46306/rj.v4i1.94

Abstract

The aims of this study is to ascertain how the Pandeglang Regency Government manages the touristy destination of Cisolong hot springs. Cisolong hot spring is one of the tourist destination that can boost the local economy and enhance local revenue. However, the ownership of the Cisolong hot spring business license remains unclear, resulting in less-than-optimal levies collection and the presence of persons who collect fees illegally. Tourists will eventually suffer from this issue, which will also affect the destination's main draw. This study used the legal-empirical method and is bolstered by normative data analysis. The data used are primary data (Interviews and Observations) and secondary data (Legislation, Books, Journals, and relevant materials sourced from the Internet) which are then processed and narrated using words with scientific logic. The result showed that the Pandeglang Regency Government's tourism development strategy was quite good. However, the development strategy is still unable to address the issues that arise. The management and implementation of the Cisolong hot spring tourism destination must be closely monitored by the Pandeglang Regency Government. In order to attract more tourists, promotional events such as a Pandeglang culinary and cultural festival must be held. This will affect how the community's economy develops, how much money is generated locally, and how Pandeglang's cultural values are sustained
KEADILAN DALAM SISTEM HUKUM NASIONAL BERDASARKAN PERSPEKTIF GENDER Akmal, Diya Ul; Pratiwi, Eka; Sulistiani, Anisa
Lex Librum : Jurnal Ilmu Hukum 2021: Volume 8 Nomor 1 Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Sumpah Pemuda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46839/lljih.v0i0.273

Abstract

Indonesia sebagai negara hukum mengatur segala lini kehidupan dengan peraturan dari yang terhierarkis sampai dengan yang tidak namun tetap diakui kekuatan mengikatnya. Tujuan dari pengaturan ini adalah untuk memberikan perlindungan terhadap hak-hak yang dimiliki oleh setiap individu agar tidak dilanggar oleh individu lainnya. Namun pada kenyataanya hukum yang ada saat ini belumlah melindungi secara penuh dari adanya diskriminisi gender. Utamanya perempuan masih belum terlindungi secara penuh hak-haknya. Banyaknya korban pelecehan yang terdiskriminasi dalam pendidikan, berbagai permasalahan dalam perkawinan, kekerasan dalam rumah tangga, tidak terpenuhinya hak-hak sebagai perempuan dalam bidang pekerjaan, dan masih banyak lagi permasalahan lainnya yang belum dapat dijawab dengan hukum yang sudah ada. Perlu adanya penguatan dan pembaharuan dalam hukum nasional agar menjaga kedudukan, peran, serta hak yang dimiliki oleh perempuan. Hukum yang dibuat harus mengedepankan pengarusutamaan gender. Hal ini sebagai upaya untuk memberikan kesetaraan gender dan keadilan gender di Indonesia.
Reformasi Hukum Pertanahan: Perlindungan Hukum Hak Atas Tanah Terhadap Pengalihan Hak Secara Melawan Hukum (Land Law Reform: Legal Protection of Land Rights against Unlawful Transfer of Right) Akmal, Diya Ul; Fitriansyah, Hanif; Ramadhan, Fauzziyyah Azhar
Jurnal Negara Hukum: Membangun Hukum Untuk Keadilan Vol 14, No 2 (2023): JNH VOL 14 NO 2 NOVEMBER 2023
Publisher : Pusat Penelitian Badan Keahlian Setjen DPR RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22212/jnh.v14i2.3964

Abstract

The current circumstances surrounding land problems are of great concern. The existing land law norms need to be revised to resolve the problems that arise. Land and forest degradation resulting from development policies, a significant number of land mafias, and overlapping implementing regulations are problems that have yet to be addressed. It is believed that the implementation of the UUPA as a land law norm needs to be revised to keep up with current developments. This research aims to comprehend the significance of protecting land rights owned by the community and the urgency of land law reform in Indonesia. It is a qualitative study that employs the normative legal method. The data used is secondary data gathered through library research. The research findings reveal that land problems are caused by legal vacuums and gaps in Indonesia’s land law system. These are then exploited by individuals seeking personal benefits at the expense of other people’s rights. The implementing legal regulations of the UUPA are incapable of resolving the many problems that arise. Community rights to land cannot be protected with the current land law regulations in place. Therefore, land law reform is required to provide legal protection for community rights and adjust development policies according to environmentalconditions.AbstrakDinamika permasalahan pertanahan yang ada saat ini sangat mengkhawatirkan. Aturan hukum pertanahan yang berlaku seakan tidak mampu untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Degradasi lahan dan hutan sebagai akibat dari arah kebijakan pembangunan, banyaknya mafia tanah, serta tumpang tindih aturan hukum pelaksana menjadi permasalahan yang belum dapat diselesaikan. Pemberlakuan UUPA sebagai norma hukum pertanahan dirasa sudah tidak mampu untuk mengikuti perkembangan zaman. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pentingnya perlindungan hak atas tanah yang dimiliki oleh masyarakat serta untuk memahami urgensi reformasi hukum pertanahan di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode yuridis normatif. Data yang digunakan berupa data sekunder yang didapatkan melalui studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan permasalahan pertanahan yang terjadi disebabkan oleh adanya kekosongan hukum serta celah hukum dalam sistem hukum pertanahan di Indonesia. Hal ini yang kemudian dimanfaatkan olehorang-orang yang berusaha untuk mendapatkan keuntungannya pribadi dan berakibat terlanggarnya hak yang dimiliki orang lain. Aturan hukum pelaksana dari UUPA tidak mampu untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang terjadi. Hak masyarakat atas tanah tidak dapat dilindungi dengan keberadaan aturan hukum pertanahan saat ini. Oleh karena itu, diperlukan reformasi hukum pertanahan agar perlindungan hukum hak masyarakat dapat terwujud serta arah kebijakan pembangunan dapat menyesuaikan dengan kondisi lingkungan.
PENAMBAHAN KEWENANGAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH SEBAGAI UPAYA MEMPERKUAT EKSISTENSINYA Ul Akmal, Diya
Jurnal Ilmiah Hukum dan Keadilan Vol. 10 No. 1 (2023): Hukum dan Keadilan
Publisher : STIH Painan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59635/jihk.v10i1.169

Abstract

DPD hadir sebagai bagian dari reformasi konstitusi dan diharapkan dapat menjawab persoalan yang ada dalam penyerapan aspirasi di daerah. Setelah kurang lebih 17 tahun terbentuk, DPD masih dirasakan kurang kehadirannya sebagai lembaga negara. Ini dikarenakan Indonesia menerapkan sistem soft bicameral dalam kamar legislatif. DPR memiliki kewenangan yang lebih kuat dalam proses legislasi dibandingkan dengan DPD. Hal ini dapat terlihat dari lemahnya kewenangan yang diberikan oleh Konstitusi dan peraturan lainnya. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan data sekunder yang didapatkan melalui studi kepustakaan. Data yang didapatkan akan diolah dan dinarasikan menggunakan kata-kata dengan logika ilmiah. Penguatan kewenangan DPD sebagai lembaga negara yang kedudukannya setara dengan DPR sangat diperlukan. Sejatinya dalam konsep bikameral terdapat double check terhadap Rancangan Undang-Undang diantara kedua kamar legislatif. Tujuannya demi mewujudkan pembentukan hukum yang baik. Selain itu, melihat kondisi sosial masyarakat pada saat ini maka diperlukan pengawasan terhadap perlindungan masyarakat adat. DPD harus menjadi garda terdepan yang mengawal sendi-sendi kehidupan didaerah termasuk masyarakat adat didalamnya.
SISTEM KETATANEGARAAN INDONESIA DAN BELANDA: ANALISIS PERBANDINGAN Akmal, Diya Ul
Jurnal Ilmiah Hukum dan Keadilan Vol. 10 No. 2 (2023): Hukum dan Keadilan
Publisher : STIH Painan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59635/jihk.v10i2.278

Abstract

Sistem ketatanegaraan merupakan perwujudan kehidupan bernegara yang sangat kompleks dan menekankan kesinambungan antara setiap organ didalamnya. Diantara negara-negara di dunia tidak ada satupun yang sistem ketatanegaraannya persis sama. Begitupun halnya dengan Indonesia dan Belanda yang memiliki sistem ketatanegaraannya masing-masing. Artikel ini bertujuan untuk membahas mengenai perbandingan sistem ketatanegaraan Indonesia dan Belanda. Selain itu, artikel ini juga bertujuan untuk menemukan konstruksi ketatanegaraan yang berkemungkinan untuk menyempurnakan sistem ketatanegaraan di Indonesia. Penulisan artikel ini menggunakan metode Yuridis Normatif dengan pendekatan perbandingan. Data yang digunakan adalah data sekunder yang didapatkan melalui studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukan, diantara ketiga cabang kekuasan pada sistem ketatanegaraan Indonesia dan Belanda memiliki karakteristiknya masing-masing. Persamaan dapat dilihat pada cabang kekuasaan Legislatif yang menerapkan sistem Bikameral dan pada cabang kekuasaan Yudikatif yang terdapat Supreme Court. Perbedaan terdapat pada cabang kekuasaan Eksekutif karena Indonesia menerapkan sistem Presidensiil sementara Belanda menerapkan sistem Demokrasi Parlementer. Perbedaan lainnya, Belanda melarang pengujian konstitusional dilakukan oleh lembaga peradilan sementara Indonesia memiliki lembaga negara khusus yang diberikan kewenangan tersebut yaitu Mahkamah Konstitusi.
Perlindungan Hukum dari Kesewenang-wenangan Pemerintah dalam Pengalihan Hak atas Tanah untuk Kepentingan Umum Akmal, Diya Ul; Pratiwi, Eka
WICARANA Vol 3 No 2 (2024): September
Publisher : Kantor Wilayah Kementerian Hukum Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57123/wicarana.v3i2.65

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perlindungan hukum bagi masyarakat dalam pengalihan hak atas tanah untuk kepentingan umum, serta batas kewenangan pemerintah dalam pelaksanaan pembangunan tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif, dengan pendekatan studi kepustakaan yang memanfaatkan data sekunder berupa literatur dan dokumen hukum yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aturan hukum yang ada sebenarnya telah memberikan jaminan perlindungan hukum terhadap kepemilikan tanah masyarakat, sebagaimana diatur dalam perundang-undangan yang berlaku. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa pemerintah sering kali mengabaikan aturan hukum tersebut, terutama dalam kasus pembebasan tanah di Bukit Duri, Jakarta. Pada kasus ini, pemerintah tidak hanya mengabaikan aturan hukum dan putusan pengadilan yang sudah ada, tetapi juga bertindak melebihi batas kewenangan yang seharusnya mereka miliki berdasarkan hukum yang berlaku. Tindakan pemerintah tersebut telah menciptakan ketidakpastian hukum, serta mengakibatkan pelanggaran hak-hak masyarakat, khususnya terkait hak atas kepemilikan tanah. Dengan demikian, diperlukan adanya komitmen yang lebih kuat dari pihak pemerintah untuk menjadikan hukum sebagai landasan utama dalam setiap kebijakan yang diambil. Pemerintah perlu memperhatikan dan menghormati hak-hak masyarakat secara lebih serius guna memastikan bahwa tidak ada pelanggaran atau pengabaian hak-hak tersebut dalam proses pengalihan tanah untuk kepentingan umum. Kepastian hukum bagi masyarakat harus menjadi prioritas dalam setiap langkah pemerintah.