Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

The Relationship Between Primary Dysmenorrhea And Sleep Quality In Students Of The Faculty Of Medicine, University Of Nusa Cendana Kelore, Imelda Martha Somi; Sihotang, Jojor; Folamauk, Conrad Liab H.; Manafe, Derri Tallo
Cendana Medical Journal Vol 13 No 2 (2025): Cendana Medical Journal
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/cmj.v13i2.17400

Abstract

When experiencing menstruation, it is often accompanied by pain which is commonly called dysmenorrhea. Primary dysmenorrhea experienced can cause discomfort both during activities and at rest so that it can affect sleep quality. The sleep quality of medical students is bad, apart from the lecture burden, it is suspected that it can also be influenced by the intensity of pain, such as when experiencing primary dysmenorrhea. To determine the relationship between primary dysmenorrhea and sleep quality in students of the Faculty of Medicine, University of Nusa Cendana. This research is an observational analytic study with a cross sectional design in students of the Faculty of Medicine, University of Nusa Cendana. Data was conducted by filling out the primary dysmenorrhea questionnaire and Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) questionnaire by 106 respondents who met the inclusion criteria. Sampling was done by using stratified random sampling technique. The result was analyzed univariate and bivariate using Phi Correlation test. Data from 106 respondents showed that 63.2% of respondents experienced primary dysmenorrhea and as many as 36.8 respondents did not experience primary dysmenorrhea. For sleep quality, 80.2% of respondents had poor sleep quality and 19.8% of respondents had good sleep quality. In this study, it was found that more respondents had primary dysmenorrhea with poor sleep quality than good sleep quality. The results of the bivariate analysis with the Phi Correlation test showed the results of p value=0.520 (p> 0.05). There is no significant relationship between primary dysmenorrhea and sleep quality in students of the Faculty of Medicine, University of Nusa Cendana.
Faktor risiko kejadian unplanned extubation pada pasien anak di pediatric intensive care unit: Sebuah tinjauan sistematis Sihotang, Jojor; Huda, Mega Hasanul; Nurhaeni, Nani; Wanda, Dessie; Nugroho, Alfin
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1939

Abstract

Background: Introduction: Unplanned extubation (UE) is a common adverse event in the Pediatric Intensive Care Unit (PICU) and can lead to clinical deterioration, increased morbidity, and decreased quality of care. Despite various preventative measures, UE remains a challenge in pediatric intensive care. Purpose: To synthesize current evidence on risk factors associated with unplanned extubation in pediatric patients to support the development of effective, evidence-based prevention strategies. Method: A systematic literature search was conducted in Scopus, ProQuest, and PubMed databases for observational studies published in the past 15 years following PRISMA guidelines. The methodological quality of included studies was assessed using the Newcastle–Ottawa Scale (NOS). Narrative synthesis was used to summarize and integrate the study findings. Results: Eleven observational studies met the inclusion criteria, with eight studies demonstrating a low risk of bias. The most consistent risk factors associated with UE were inadequate sedation and patient agitation. Other important risk factors include suboptimal endotracheal tube (ETT) fixation, high nurse-to-patient ratios, night shift care, and limited nursing experience. The relationship between patient age and UE risk has shown varying results across studies. Conclusion: The incidence of unplanned extubation in pediatric patients in the PICU is multifactorial and influenced by patient factors, clinical conditions, the care environment, and equipment and procedures. Modifiable factors, such as sedation management, standardization of ETT fixation, and optimization of nursing resources, are the most potential targets for intervention. UE significantly impacts the quality of care, particularly the quality of nursing care, due to variations in the preventive interventions implemented. Therefore, implementing a best-practice-based prevention bundle is crucial to reducing UE rates in the PICU.   Keywords: Pediatric Intensive Care Unit; Pediatric Patients; Risk Factors; Unplanned Extubation.   Pendahuluan: Unplanned extubation (UE) merupakan kejadian tidak diinginkan yang sering terjadi di Pediatric Intensive Care Unit (PICU) dan dapat menyebabkan penurunan kondisi klinis pasien, peningkatan morbiditas, serta penurunan mutu pelayanan. Meskipun berbagai upaya pencegahan telah dilakukan, kejadian UE masih menjadi tantangan dalam perawatan intensif anak.Tujuan: Untuk mensintesis bukti terkini mengenai faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian unplanned extubation pada pasien anak guna mendukung pengembangan strategi pencegahan yang efektif dan berbasis bukti.Metode: Pencarian literatur sistematis dilakukan pada basis data Scopus, ProQuest, dan PubMed terhadap studi observasional yang dipublikasikan dalam 15 tahun terakhir dengan mengikuti pedoman PRISMA. Kualitas metodologis studi yang diinklusi dinilai menggunakan Newcastle–Ottawa Scale (NOS). Sintesis naratif digunakan untuk merangkum dan mengintegrasikan temuan penelitian.Hasil: Sebanyak 11 studi observasional memenuhi kriteria inklusi, dengan 8 studi menunjukkan risiko bias yang rendah. Faktor risiko yang paling konsisten terkait dengan kejadian UE adalah sedasi yang tidak adekuat dan agitasi pasien. Faktor risiko penting lainnya meliputi fiksasi endotracheal tube (ETT) yang tidak optimal, rasio perawat–pasien yang tinggi, perawatan pada shift malam, serta pengalaman perawat yang terbatas. Hubungan antara usia pasien dan risiko UE menunjukkan hasil yang bervariasi antar penelitian.Simpulan: Kejadian unplanned extubation pada pasien anak di PICU bersifat multifaktorial dan dipengaruhi oleh faktor pasien, kondisi klinis, lingkungan perawatan, serta aspek alat dan prosedur. Faktor-faktor yang dapat dimodifikasi, seperti manajemen sedasi, standarisasi fiksasi ETT, dan optimalisasi sumber daya keperawatan, merupakan target intervensi yang paling potensial. Kejadian UE berdampak signifikan terhadap mutu pelayanan, khususnya mutu asuhan keperawatan, akibat variasi intervensi pencegahan yang diterapkan. Oleh karena itu, implementasi bundle pencegahan berbasis praktik terbaik sangat penting untuk menurunkan angka kejadian UE di PICU.   Kata Kunci: Faktor Risiko; Pasien Anak; Pediatric Intensive Care Unit; Unplanned Extubation.
Analisis Faktor Risiko Prolaps Organ Panggul Pada Pasien Ginekologi di RSUD Arifin Achmad: Studi Retrospektif 2022–2025 Sihotang, Jojor; Fakhrizal, Edy; Maryuni, Sri Wahyu; Hutagaol, Imelda E.B; Bagariang, Agnes Regina; Sitangang, Clarentia; Butarbutar, Artia Martha Vania
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 12, No 3 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.114434

Abstract

Latar Belakang: Prolaps organ panggul (POP) merupakan kondisi ginekologis yang signifikan menurunkan kualitas hidup perempuan, terutama pada populasi lanjut usia dan multipara. Prevalensi globalnya diperkirakan mencapai 30,9% (95% CI 24,4–38,2%). Di Indonesia, khususnya di rumah sakit rujukan regional seperti RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau, data epidemiologis komprehensif mengenai POP dan faktor risikonya masih sangat terbatas, sehingga menghambat pengembangan strategi pencegahan dan tata laksana klinis yang tepat sasaran.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor risiko demografis dan klinis utama yang berhubungan dengan POP serta menganalisis hubungan faktor risiko dengan pola diagnosis prolaps organ panggul (sistokel, rektokel, dan prolaps uteri) pada pasien ginekologi yang ditangani di RSUD Arifin Achmad periode 2022–2025.Metode: Studi analitik potong lintang retrospektif dilakukan dengan menggunakan rekam medis pasien ginekologi yang didiagnosis POP. Variabel yang diekstraksi meliputi usia, paritas, jenis persalinan, status menopause, indeks massa tubuh (IMT), dan riwayat penyakit kronis. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, analisis bivariat dengan uji chi-square, dan regresi logistik multivariat untuk menentukan faktor risiko independen.Hasil dan Pembahasan: Analisis terhadap 515 rekam medis pasien ginekologi menunjukkan bahwa diagnosis prolaps organ panggul yang paling banyak ditemukan adalah rektokel. Mayoritas pasien berada pada kelompok usia ≥50 tahun, telah memasuki masa menopause, dan memiliki status multiparitas. Temuan ini menunjukkan bahwa prolaps organ panggul bersifat multifaktorial dan lebih dipengaruhi oleh faktor obstetri.Kesimpulan: POP merupakan kondisi multifaktorial yang sangat berkaitan dengan usia, paritas, persalinan pervaginam, menopause, dan obesitas pada populasi kami. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya langkah pencegahan terstruktur seperti pelatihan otot dasar panggul, program pengelolaan berat badan, dan edukasi pasien yang ditargetkan untuk kelompok berisiko tinggi. Studi ini menyediakan dasar bukti penting bagi pengembangan pedoman klinis dan intervensi kesehatan masyarakat di bidang uroginekologi di tingkat lokal.