Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Analisis Faktor Risiko Prolaps Organ Panggul Pada Pasien Ginekologi di RSUD Arifin Achmad: Studi Retrospektif 2022–2025 Sihotang, Jojor; Fakhrizal, Edy; Maryuni, Sri Wahyu; Hutagaol, Imelda E.B; Bagariang, Agnes Regina; Sitangang, Clarentia; Butarbutar, Artia Martha Vania
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 12, No 3 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.114434

Abstract

Latar Belakang: Prolaps organ panggul (POP) merupakan kondisi ginekologis yang signifikan menurunkan kualitas hidup perempuan, terutama pada populasi lanjut usia dan multipara. Prevalensi globalnya diperkirakan mencapai 30,9% (95% CI 24,4–38,2%). Di Indonesia, khususnya di rumah sakit rujukan regional seperti RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau, data epidemiologis komprehensif mengenai POP dan faktor risikonya masih sangat terbatas, sehingga menghambat pengembangan strategi pencegahan dan tata laksana klinis yang tepat sasaran.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor risiko demografis dan klinis utama yang berhubungan dengan POP serta menganalisis hubungan faktor risiko dengan pola diagnosis prolaps organ panggul (sistokel, rektokel, dan prolaps uteri) pada pasien ginekologi yang ditangani di RSUD Arifin Achmad periode 2022–2025.Metode: Studi analitik potong lintang retrospektif dilakukan dengan menggunakan rekam medis pasien ginekologi yang didiagnosis POP. Variabel yang diekstraksi meliputi usia, paritas, jenis persalinan, status menopause, indeks massa tubuh (IMT), dan riwayat penyakit kronis. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, analisis bivariat dengan uji chi-square, dan regresi logistik multivariat untuk menentukan faktor risiko independen.Hasil dan Pembahasan: Analisis terhadap 515 rekam medis pasien ginekologi menunjukkan bahwa diagnosis prolaps organ panggul yang paling banyak ditemukan adalah rektokel. Mayoritas pasien berada pada kelompok usia ≥50 tahun, telah memasuki masa menopause, dan memiliki status multiparitas. Temuan ini menunjukkan bahwa prolaps organ panggul bersifat multifaktorial dan lebih dipengaruhi oleh faktor obstetri.Kesimpulan: POP merupakan kondisi multifaktorial yang sangat berkaitan dengan usia, paritas, persalinan pervaginam, menopause, dan obesitas pada populasi kami. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya langkah pencegahan terstruktur seperti pelatihan otot dasar panggul, program pengelolaan berat badan, dan edukasi pasien yang ditargetkan untuk kelompok berisiko tinggi. Studi ini menyediakan dasar bukti penting bagi pengembangan pedoman klinis dan intervensi kesehatan masyarakat di bidang uroginekologi di tingkat lokal.
Recognizing Poland syndrome at birth: Chest wall and hand manifestations Kasminata, Laysa; Sihotang, Jojor
Malahayati International Journal of Nursing and Health Science Vol. 8 No. 12 (2026): Volume 8 Number 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/minh.v8i12.1943

Abstract

Background: Poland syndrome is a rare congenital anomaly defined by unilateral agenesis or hypoplasia of the sternocostal head of the pectoralis major, with possible involvement of the pectoralis minor and variable ipsilateral chest wall and upper-limb abnormalities, including syndactyly. The presentation is typically unilateral, more often affecting the right hemithorax, while bilateral involvement is uncommon. Purpose: To report a neonatal case of Poland syndrome and describe the clinical manifestations and early management to support timely intervention and appropriate care planning. Method: A case study was conducted at Dumai Hospital involving a preterm neonate delivered to a 27-year-old woman (G2P1A0) at 27 weeks of gestation who presented with uterine contractions and stable vital signs. Prenatal ultrasonography was performed prior to delivery. After birth, the neonate underwent a structured physical examination focusing on the chest wall and upper extremities to identify congenital anomalies, followed by initial stabilization and referral based on clinical findings. Results: The patient was a female preterm neonate with findings consistent with Poland syndrome, including unilateral absence of the pectoralis major and pectoralis minor on the affected side and ipsilateral hand syndactyly. The infant was referred to the perinatology unit for ongoing monitoring and multidisciplinary management, while the mother received routine postpartum care according to hospital protocol. Conclusion: Poland syndrome may be recognizable at birth through unilateral thoracic muscle absence with ipsilateral limb anomalies, requiring careful newborn examination and early coordinated care.