Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Determinant Associated with Anemia in Adolescent Girls: A School-Based Cross-Sectional Study Merita Yumna Nisrina; Sinaga, Evi Susanti
Journal of Health Sciences and Epidemiology Vol. 3 No. 3 (2025): December 2025
Publisher : RRZ Scientific Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62404/nnawge92

Abstract

In Indonesia, anemia remains a pressing public health problem among adolescent girls, with a prevalence rate of 32% based on the Basic Health Research (Riskesdas) 2018. This highlights anemia as an ongoing issue that requires continuous attention. Adolescent girls are particularly vulnerable because iron needs increase during growth, and blood loss occurs regularly through menstruation. Inadequate intake of nutritious foods, poor adherence to iron supplementation (TTD), limited knowledge, and economic barriers may further contribute to this problem. This cross-sectional study investigated the determinants of anemia among adolescent girls attending a public vocational high school in Tebet, Jakarta, Indonesia. A total of 221 Grade 11 students were included through total sampling. Anemia status (Hb < 12 g/dL) was obtained from puskesmas screening, while data on knowledge, nutritional status, menstrual pattern, maternal education, socioeconomic status, and iron supplement (TTD) intake were collected via a structured questionnaire. Chi-square analysis revealed significant associations between anemia and knowledge level, menstrual pattern, nutritional status, adherence to TTD, maternal education level, and socioeconomic status (p < 0.05). The findings emphasize the need for strengthened school-based anemia prevention through nutrition education, routine Hb screening, and parent-involved adherence monitoring, particularly among low-income students. The findings indicate the need for schools and primary health centers (puskesmas) to strengthen education on anemia and adolescent nutrition, implement routine screening (nutritional status and menstrual pattern), and improve adherence to TTD through regular mentoring that involves parents, particularly mothers, and targeted support for students from low-income households.
Website “Timbang Yu Bu” Sebagai Upaya Meningkatkan Pengetahuan Ibu dan Kunjungan Posyandu Balita Argo Fransisco; Elsie Elvina Aisha; Andriani Lianto; Evi Susanti Sinaga
Jurnal Pengabdian Kesehatan Vol 8, No 1 (2025): Jurnal Pengabdian Kesehatan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jpk.v8i1.494

Abstract

Kegiatan posyandu balita memegang peranan penting dalam pemantauan kesehatan dan tumbuh kembang anak. Namun, rendahnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan posyandu di beberapa wilayah menjadi tantangan tersendiri dalam upaya peningkatan kualitas kesehatan anak. Pengabdian kepada masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ibu balita serta meningkatkan angka kunjungan posyandu melalui pengembangan dan penerapan website “Timbang Yu Bu”. Website ini menyediakan berbagai informasi penting terkait gizi seimbang, jadwal posyandu, dan fitur pemantauan tumbuh kembang balita yang dapat diakses oleh ibu balita dan kader posyandu. Kegiatan ini dilaksanakan di Kelurahan Bukit Duri selama tiga hari. PKM  ini mencakup tiga tahapan utama yaitu pembuatan dan pengenalan website “Timbang Yu Bu”, penyuluhan kepada ibu balita, serta pelatihan kepada kader posyandu. Penyuluhan kepada ibu balita bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mereka mengenai pentingnya posyandu dan pemanfaatan website sebagai alat pemantauan kesehatan anak. Pelatihan kepada kader difokuskan pada penguasaan penggunaan alat antropometri, pengisian Kartu Menuju Sehat (KMS), serta penggunaan website untuk mencatat perkembangan anak. Hasil menunjukkan bahwa program pengabdian ini telah berjalan dengan baik, di mana ibu balita dan kader posyandu mengalami peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam pemantauan tumbuh kembang anak. Website “Timbang Yu Bu” diharapkan dapat menjadi alat bantu yang efektif dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan posyandu.
Optimalisasi Penemuan Kasus Tuberkulosis melalui Skrining, Analisis Faktor Penghambat dan Penyuluhan Kesehatan Sinta Rahmah Agustin; Shafira Pramesya Sulianto; Evi Susanti Sinaga; Kartika Putri Pertiwi
Jurnal Pengabdian Kesehatan Vol 9, No 2 (2026): Jurnal Pengabdian Kesehatan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jpk.v9i2.593

Abstract

Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan hingga saat ini masih menjadi tantangan serius dalam kesehatan masyarakat. Salah satu indikator utama keberhasilan program pengendalian TBC adalah Persentase Cakupan Penemuan dan Pengobatan TBC (treatment coverage), yang menggambarkan kemampuan sistem kesehatan dalam menemukan dan mengobati kasus TBC secara tepat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan melalui tiga tahapan, yaitu skrining TBC, analisis faktor risiko yang menghambat penemuan kasus, serta penyuluhan kesehatan mengenai tuberkulosis. Sasaran kegiatan adalah 55 orang masyarakat yang berdomisili di Kelurahan Manggarai Selatan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa terdapat 1 kasus positif tuberkulosis yang berhasil ditemukan melalui skrining. Selain itu, stigma terhadap TBC teridentifikasi sebagai salah satu faktor utama yang menghambat penemuan kasus di masyarakat. Setelah dilakukan penyuluhan, terdapat peningkatan pengetahuan masyarakat terkait TBC. Diharapkan kegiatan skrining dan penyuluhan TBC dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan kader kesehatan dan tokoh masyarakat guna mengurangi stigma serta meningkatkan penemuan kasus secara lebih optimal.  
Sociodemographic determinants and mosquito nest eradication practices of dengue hemorrhagic fever in indonesia: Findings from the Indonesian Health Survey 2023 Ikrimah Diyan Lestari; Evi Susanti Sinaga
Malahayati International Journal of Nursing and Health Science Vol. 9 No. 2 (2026): Volume 9 Number 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/minh.v9i2.2494

Abstract

Background: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is widely distributed in tropical regions and remains a public health concern in Indonesia In 2023, Indonesia reported 114,720 DHF cases with 894 deaths. The occurrence of DHF is influenced by multiple factors, including environmental conditions and community behavior that can be modified through prevention efforts. Puspose: To analyze the association between sociodemographic factors and mosquito nest eradication behavior with the prevalence of DHF in Indonesia. Method: This study employed a cross-sectional design using secondary data from the Indonesian Health Survey 2023, involving 877,531 respondents. Statistical analysis was performed using the Pearson Chi-Square test. Results: There is a significant association between age, place of residence, covering water storage containers, destroying used items, applying larvicide powder to water storage containers, installing mosquito nets on house ventilation, and using mosquito repellents with the prevalence of DHF (p <0.05). Meanwhile, gender, education, and draining bathtubs/large buckets/drums were not significantly associated with the prevalence of DHF (p >0.05). Conclusion: Sociodemographic factors, including age and place of residence, as well as mosquito nest eradication behaviors covering water storage containers, destroying used items, applying larvicide powder to water storage containers, installing mosquito nets on house ventilation, and using mosquito repellents were significantly associated with DHF prevalence. Based on these results, strengthening targeted mosquito nest eradication interventions and public health programs that consider age and residential characteristics is recommended to support DHF prevention efforts in Indonesia.