Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

PREDIKTOR KETIDAKHADIRAN IBU PADA KUNJUNGAN NIFAS SELAMA PANDEMI COVID-19 Sinaga, Evi Susanti; Luthfi Aziz; Pierre Christoper H; Zulfa Febri Sofyani; Kartika Putri Pertiwi; Rina K. Kusumaratna
JURNAL PENELITIAN DAN KARYA ILMIAH LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS TRISAKTI Volume 8, Nomor 2, Juli 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/pdk.v8i2.15228

Abstract

Kematian ibu merupakan ukuran yang digunakan salah satunya dalam menilai tingkat kesehatan dan keberhasilan pembangunan kesehatan. Kematian ibu, berdasarkan Organisasi Kesehatan Dunia, merupakan kematian yang terjadi selama masa kehamilan, persalinan, dan nifas disebabkan karena kehamilan, persalinan, dan nifas ataupun pengelolaannya tetapi bukan disebabkan hal lain seperti kecelakaan. Salah satu upaya pencegahan kematian ibu adalah melalui pelayanan masa nifas. Cakupan kunjungan nifas di Kelurahan Bukit Duri belum mencapai target (80,26%) selama pandemi Covid-19. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor yang berhubungan dengan kepatuhan kunjungan ibu nifas di Puskesmas Bukit Duri pada saat pandemi Covid-19. Desain penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan total population sampling yaitu seluruh ibu nifas di kelurahan Bukit Duri yang tercatat pada bulan November 2021 menjadi sampel yaitu sebanyak 49 orang.  Analisis data dilakukan secara bivariat dengan menggunakan uji statistik chi square. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan kunjungan nifas adalah dukungan keluarga (p-value= 0,000), kepercayaan terhadap mitos (p-value= 0,003), dan pandemi Covid-19 (p-value= 0,006).  Sedangkan tingkat pendidikan, usia, status ibu bekerja, dan jumlah paritas tidak berhubungan secara statistik dengan kepatuhan kunjungan nifas (p-value > 0,05).
Optimalisasi Pemberdayaan Masyarakat Untuk Meningkatkan Cakupan Indeks Keluarga Sehat Mengikuti Program Keluarga Berencana Pasca Pandemi Covid-19 Sinaga, Evi Susanti; Anggriani, Dini; Afrizon, Dini; Putri, Kartika
Jurnal Pengabdian Kesehatan Vol 6, No 2 (2023): Jurnal Pengabdian Kesehatan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jpk.v6i2.292

Abstract

Pada tahun 2017, berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) diketahui bahwa angka kehamilan yang tidak diinginkan sebanyak 13% dan terdapat 8% merupakan kehamilan tidak tepat waktu. Survei Penduduk tahun 2020 menunjukkan jumlah penduduk Indonesia bertambah dari sebelumnya menjadi 270,20 juta jiwa pada September 2020. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menekan pertumbuhan jumlah penduduk adalah dengan program Keluarga Berencana. Berdasarkan data di puskesmas, persentase Indeks Keluarga Sehat (IKS) terkait indikator keluarga yang mengikuti KB belum mencapai target. Kegiatan pengabdian masyarakat dibagi atas dua kegiatan yaitu kegiatan penyuluhan kepada masyarakat dan focus grup discussion (FGD) yang mengundang perwakilan dari masyarakat dan staf puskemas. Untuk menilai ada tidaknya peningkatan pengetahuan masyarakat setelah diberikan penyuluhan maka hasil nilai pre test dan post test dianalisis menggunakan uji statistik Wilcoxon signed ranks test. Hasil analisis menunjukkan terdapat peningkatan pengetahuan pada masyarakat khususnya pasangan usia subur dan bermakna secara statistik. Kegiatan focus grup discussion mampu meningkatkan kerjasama lintas sektoral dengan memberdayakan peran kader dasawisma dan penyuluh kb dalam membantu kegiatan puskesmas dalam memberikan penyuluhan mengenai KB. Selain itu, kerja sama ini diharapkan mampu meningkatkan indikator keluarga sehat dalam mengikuti program keluarga berencana.
Penyuluhan dan Monitoring Penerapan Kawasan Tanpa Rokok di Sekolah Sinaga, Evi Susanti; Bellatrix, Anastasia; Fathurrahman, Muhammad Rian; Qalbiyah, Sakinah
Jurnal Pengabdian Kesehatan Vol 6, No 4 (2023): Jurnal Pengabdian Kesehatan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jpk.v6i4.384

Abstract

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan persentasi penduduk Indonesia dengan usia lebih dari lima tahun yang merokok sebesar 23,25% pada tahun 2022. Sedangkan perokok dewasa selama sepuluh tahun terakhir dari tahun 2011 sampai dengan 2021 meningkat menjadi 69,1 juta dari 60,3 juta. Kesakitan dan kematian akibat merokok perlu diturunkan dengan menerapkan perilaku hidup sehat, menciptakan kualitas udara yang sehat dan bersih bebas asap rokok. Untuk mendukung hal tersebut, ditetapkan program yang disebut program Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Penerapan KTR salah satunya di lingkungan sekolah. Kegiatan pengabdian masyarakat dibagi atas dua kegiatan yaitu kegiatan survei implementasi program KTR di sekolah dan penyuluhan mengenai bahaya merokok. Sasaran kegiatan survei adalah 13 sekolah yang berada di wilayah Kelurahan Manggarai. Pada kegiatan penyuluhan mengundang perwakilan dari staf sekolah dan siswa melalui zoom meeting. Hasil yang diperoleh adalah program KTR di sekolah sudah dijalani oleh beberapa sekolah, namun belum memenuhi indikator kriteria KTR. Adanya peningkatan pengetahuan pada siswa setelah diberikan penyuluhan. Diharapkan adanya follow up progress implementasi kawasan tanpa rokok sehingga sepuluh indikator KTR dapat tercapai di lingkungan sekolah.
Pencegahan Kebiasaan Merokok di Dalam Rumah Melalui Upaya “GERAK MASBRO” Utami, Dian; Adzkia, Qonita; Maulana, Ucha; Susanti Sinaga, Evi
AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 6 : Juli (2024): AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : CV. Multi Kreasi Media

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Smoking behavior in Indonesia is a major concern because of its impact on public health, especially with the increase in the number of adult smokers from 60,3 million in 2011 to 70,2 million in 2021 and the prevalence of smoking in adolescents aged 10-18 years from 7,2% to 9,1% in 2018. Men dominate adult smokers with a prevalence of 64,7%, while women are 2,3%. Smoking at home has a significant impact on the health of family members, especially women and children who are more vulnerable to exposure to passive cigarette smoke. Data shows that 56,8% of households are exposed to cigarette smoke, which increases the risk of heart disease, COPD, asthma, cancer, pneumonia, bronchitis, and SIDS. Therefore, education about the dangers of smoking at home is needed. This community service activity aims to increase public knowledge about the dangerous impacts of cigarette smoke and efforts to stop smoking at home through "GERAK MASBRO", namely the smoke-free community movement. Increasing knowledge through counseling, educational media, and the establishment of smoking huts can raise public awareness so that they can prevent smoking habits at home.
Hubungan Pengetahuan, Sikap Dan Komorbid Terhadap Perilaku Vaksinasi Covid-19 Sinaga, Evi Susanti; Fitria
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal Vol. 5 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37148/comphijournal.v5i2.240

Abstract

Corona Virus Disease-2019 (Covid-19) merujuk kepada penyakit menular yang diakibatkan karena virus corona baru yang dikenal sebagai Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Vaksinasi Covid-19 ialah satu di antara cara guna mengatasi penyebaran Covid-19. Cakupan vaksinasi covid- 19 di DKI Jakarta didapatkan 4.683 orang yang mana belum memenuhi target vaksinasi di DKI Jakarta. Perilaku vaksinasi Covid-19 dapat dipengaruh berbagai faktor seperti faktor umur, pendidikan, pengetahuan, sikap dan komorbid. Penelitian ini memanfaatkan penggunaan pendekatan observasional analitik desain studi Cross-sectional. Pengumpulan subjek yang dibutuhkan sebanyak 195 orang serta dipilih dengan cara Simple random sampling. Data primer dikumpulkan melalui penggunaan kuesioner dan diisi melalui wawancara. Kemudian analisis data univariat dan bivariat diolah dengan SPSS memanfaatkan penggunaan uji Chi-square.  Variabel tingkat pengetahuan yang baik sebanyak 110 orang (56,4%), sikap positif sebanyak 161 orang (82,6%), tidak memiliki penyakit komorbid sebanyak 162 orang (83,1%), dan perilaku sudah melakukan vaksinasi Covid–19 sejumlah 153 orang (78,5%) dan hasil uji statistik, memperlihatkan hasil bahwasanya tidak didapati hubungan signifikan pengetahuan dengan perilaku vaksin covid -19 (p – value = 0,808), adanya hubungan signifikan di antara sikap dan perilaku vaksinasi Covid – 19 (p – value = 0,001), adanya hubungan signifikan di antara komorbid dengan perilaku vaksin – 19 (p – value = 0,001). Sehingga diperlukan penyuluhan yang lebih lanjut ke masyarakat mengenai implementasi vaksinasi Covid-19.
Website “Timbang Yu Bu” Sebagai Upaya Meningkatkan Pengetahuan Ibu dan Kunjungan Posyandu Balita Fransisco, Argo; Aisha, Elsie Elvina; Lianto, Andriani; Sinaga, Evi Susanti
Jurnal Pengabdian Kesehatan Vol 8, No 1 (2025): Jurnal Pengabdian Kesehatan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jpk.v8i1.494

Abstract

Kegiatan posyandu balita memegang peranan penting dalam pemantauan kesehatan dan tumbuh kembang anak. Namun, rendahnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan posyandu di beberapa wilayah menjadi tantangan tersendiri dalam upaya peningkatan kualitas kesehatan anak. Pengabdian kepada masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ibu balita serta meningkatkan angka kunjungan posyandu melalui pengembangan dan penerapan website “Timbang Yu Bu”. Website ini menyediakan berbagai informasi penting terkait gizi seimbang, jadwal posyandu, dan fitur pemantauan tumbuh kembang balita yang dapat diakses oleh ibu balita dan kader posyandu. Kegiatan ini dilaksanakan di Kelurahan Bukit Duri selama tiga hari. PKM  ini mencakup tiga tahapan utama yaitu pembuatan dan pengenalan website “Timbang Yu Bu”, penyuluhan kepada ibu balita, serta pelatihan kepada kader posyandu. Penyuluhan kepada ibu balita bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mereka mengenai pentingnya posyandu dan pemanfaatan website sebagai alat pemantauan kesehatan anak. Pelatihan kepada kader difokuskan pada penguasaan penggunaan alat antropometri, pengisian Kartu Menuju Sehat (KMS), serta penggunaan website untuk mencatat perkembangan anak. Hasil menunjukkan bahwa program pengabdian ini telah berjalan dengan baik, di mana ibu balita dan kader posyandu mengalami peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam pemantauan tumbuh kembang anak. Website “Timbang Yu Bu” diharapkan dapat menjadi alat bantu yang efektif dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan posyandu.
Posyandu dalam era transformasi integrasi layanan primer dan intervensinya Kusrini, Agatha Ratri Rini; Natalio, Rahmat; Sinaga, Evi Susanti
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i5.1310

Abstract

Background: Lifecycle-based health services are a strategic approach to primary care transformation in Indonesia, positioning the Integrated Health Post (Posyandu) as a crucial community-based service. However, the implementation of Posyandu still faces various obstacles, such as a lack of trained cadres, suboptimal health education, and limited educational facilities and media, particularly in reaching target groups. Purpose: To evaluate the implementation of integrated Posyandu and to increase the capacity of cadres through outreach and the development of educational media. Method: This community service activity was conducted in Kebon Baru Village in January 2025. Eight participants participated. The first stage involved identifying Posyandus based on the lifecycle, encompassing a systems approach, evaluating input, process, and output aspects, and observing the service process directly at the Posyandu. The second stage involved providing education and developing educational media to enhance cadre knowledge and facilitate knowledge transformation. Results: Data obtained showed that the level of knowledge of cadres before the outreach activity was categorized as good (4%, 50%) and poor (4%, 50%). Meanwhile, the level of knowledge after being given extension activities was in the good category as many as 7 (87.5%) and in the less category as many as 1 (12.5%). Conclusion: Integrated health post (Posyandu) activities have implemented life cycle or integrated services, which, based on the identification results, are actively running and have been awarded the "Purnama Posyandu" status. Community service activities, including providing counseling and creating educational media, have helped improve cadre knowledge and optimize their role in providing education to the community at the Posyandu and during home visits. Suggestion: Training is recommended for each cadre to ensure equitable knowledge and skills, so that life cycle-based Posyandus will provide increasingly optimal services, particularly health services, to the community. Keywords: Counseling; Health cadres; Integration of primary services; Integrated Service Post Pendahuluan: Pelayanan kesehatan berbasis siklus hidup merupakan pendekatan strategis dalam transformasi layanan primer di Indonesia, yang menempatkan Posyandu sebagai layanan berbasis masyarakat yang penting. Namun, pelaksanaan Posyandu masih menghadapi berbagai kendala, seperti kurangnya kader terlatih, belum optimalnya edukasi kesehatan, serta keterbatasan sarana dan media edukasi, terutama dalam menjangkau kelompok sasaran. Tujuan: Untuk mengevaluasi pelaksanaan posyandu terintegrasi dan meningkatkan kapasitas kader melalui penyuluhan serta pengembangan media edukasi. Metode: Pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Kelurahan Kebon Baru pada bulan Januari 2025. Kegiatan ini diikuti oleh 8 peserta. Pada tahapan pertama melakukan identifikasi posyandu berdasarkan siklus hidup meliputi pendekatan sistem yakni mengevaluasi dari aspek input, proses, dan output serta kegiatan observasi dengan memantau secara langsung proses pelayanan di Posyandu. Selanjutnya untuk tahapan kedua adalah memberikan edukasi dan pembuatan media edukasi untuk meningkatkan pengetahuan kader dalam melakukan transformasi pengetahuan. Hasil: Mendapatkan data bahwa tingkat pengetahuan kader sebelum diberikan kegiatan penyuluhan yang dalam kategori baik sebanyak 4 (50.0%) dan kategori kurang sebanyak 4 (50.0%). Sedangkan tingkat pengetahuan setelah diberikan kegiatan penyuluhan yang dalam kategori baik sebanyak 7 (87.5%) dan dalam kategori kurang 1 (12.5%). Simpulan: Kegiatan posyandu sudah menjalankan layanan siklus hidup atau terintegrasi yang berdasarkan hasil identifikasi sudah berjalan aktif dan telah mendapat strata posyandu purnama. Kegiatan pengabdian masyarakat melalui pemberian penyuluhan dan pembuatan media edukasi telah membantu meningkatkan pengetahuan kader dan mengoptimalkan peran kader dalam memberikan edukasi kepada masyarakat di posyandu maupun saat kunjungan rumah. Saran: Diharapkan untuk memberikan pelatihan kepada setiap kader sebagai upaya kesetaraan pengetahuan dan ketrampilan sehingga posyandu berbasis siklus hidup akan memberikan pelayanan yang semakin optimal khususnya pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Urban-rural disparities and determinants of stunting among children under five in Indonesia Merita Yumna Nisrina; Evi Susanti Sinaga
Malahayati International Journal of Nursing and Health Science Vol. 8 No. 6 (2025): Volume 8 Number 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/minh.v8i6.867

Abstract

Background: Stunting remains a significant public health issue in Indonesia, particularly among children under five. Various risk factors across rural and urban settings influence it. Understanding these factors is critical to designing effective interventions that support optimal child growth and development. Purpose: To analyze the urban-rural gap and determinants of stunting in toddlers in Indonesia Method: A cross-sectional study used secondary data from the 2021 Indonesian Nutritional Status Survey. A total of 11,715 children aged 0–59 months were included through total sampling. Independent variables examined included food insecurity, breastfeeding, maternal class participation, family planning, sanitation, drinking water access, dietary diversity, mother’s education, and place of residence. Chi-square tests were used for bivariate analysis, and statistical significance was determined at p < 0.05. Results: Stunting prevalence was 28.6%. Bivariate analysis revealed that food insecurity, lack of breastfeeding, low maternal education, poor sanitation, absence of family planning, non-participation in mother’s classes, and rural residence were significantly associated with stunting (p < 0.05). Access to drinking water and dietary diversity were not significantly associated with stunting. Stunting was higher in rural areas (74.4%) than in urban areas (25.6%). Conclusion: Socioeconomic, behavioral, and environmental factors influence stunting in children under five. Effective stunting prevention strategies should improve maternal education, access to health services, nutrition awareness, sanitation infrastructure, and rural health equity. A multisectoral, community-based approach is essential to reducing stunting and supporting healthy child development in Indonesia.
Analysis of Risk Factors for Acute Respiratory Infection in Terms of The Physical Environment in Jatimulya Village Shihran, Laviany Putri; Sinaga, Evi Susanti
Journal of Health Sciences and Epidemiology Vol. 1 No. 1 (2023): April 2023
Publisher : RRZ Scientific Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62404/jhse.v1i1.8

Abstract

Acute respiratory infection (ARI) is currently a global primary health problem. WHO 2016 data shows that the incidence of ARI and the under-5 mortality rate are estimated at >40/1000 live births, or 15%-20% per year in the under-five group. ARI is an inflammatory reaction in the upper or lower respiratory tract. The risk of ARI occurring depends on three factors: the individual, behaviour, and environmental conditions. Environmental factors include lighting, humidity, area of ventilation or windows, types of walls, floors, roofs, and the distance from the house to the main road. Environmental factors, especially the house’s physical condition, are closely related to the magnitude of the community's risk of ARI. This study used a cross-sectional design. It was carried out in October 2022 and involved 148 mothers with toddlers in Jatimulya Village, Bekasi Regency. The instruments used were a rolling meter, a hygrometer, and a questionnaire with univariate and bivariate analysis. A chi-square test was used to determine whether there was a relationship. From the analysis results, it was found that the window width (p = 0.000) and humidity (p = 0.000) were related to the incidence of ARI, and the results were not related to the type of house wall (p = 0.069), the type of floor of the house (p = 0.196), and the distance between the house and the main road (p = 0.144) with the incidence of ARI. There is a significant relationship between window width and humidity and the incidence of ARI in toddlers, but there is no significant relationship between the type of wall, the type of floor, or the distance from the house to the main road.
Edukasi pencegahan anemia dan pemberdayaan konselor sebaya berbasis sekolah pada remaja putri Luturmas, Hermanus Jonathan; Kogoya, Alvionita; Sinaga, Evi Susanti; Kartika Putri Pertiwi
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i11.2250

Abstract

Background: Adolescent girls are a group vulnerable to anemia, with a global prevalence rate reaching 29.9%. Low adherence to iron supplementation is a major contributing factor, despite targeted distribution. Anemia in adolescent girls can impair concentration and impact future reproductive health. Therefore, ongoing intervention and guidance efforts are needed to strengthen anemia prevention in this group. Purpose: To increase knowledge about anemia and empower peer counselors as an effort to prevent anemia in adolescent girls. Method: This community service activity was carried out in December 2025 at a high school in Tebet District, South Jakarta. Participants in this activity were 119 female students in grades X and XII. The implementing team consisted of lecturers and students of the Faculty of Medicine, Trisakti University, who collaborated with the school and received assistance from Community Health Center staff. The material on anemia was delivered directly and followed by discussions and questions and answers as an effort to increase knowledge in participants, which included assessing the analysis of risk factors for anemia, and empowering peer counselors as an effort to prevent anemia. Evaluation of the level of knowledge and understanding of participants was measured using a questionnaire given before the educational activity (pre-test) and after the educational activity (post-test). Data were analyzed using the Wilcoxon test and Chi-square test to see the relationship between risk factors and the incidence of anemia. Results: Obtaining data that the average age of participants is 16.87 years with a standard deviation of 1.02 years in the range of 14-18 years and most participants are at the age of 17 years as many as 49 people (41.2%). Most are grade XII students as many as 85 people (71.4%), the majority have normal nutritional status as many as 49 people (41.2%), and the educational status of the mothers of the participants is the majority of high school-college graduates as many as 96 people (80.7%). While most of the parents' monthly income is ˂Rp. 5,396,761 as many as 81 people (68.1%), most are not identified as anemia as many as 87 people (73.1%), and the majority do not routinely consume iron tablets once a week as many as 78 people (65.5%). There is an increase in the level of knowledge of respondents after the implementation of health counseling which gets pValue=0.001. Meanwhile, the average value of respondents' knowledge before the counseling (pre-test) was 6.30 points and increased to 9.37 points after the counseling (post-test). Conclusion: Health education activities contribute to increasing adolescents' knowledge about anemia and its prevention. Adherence to iron supplementation plays a significant role in reducing the risk of anemia in adolescent girls. Furthermore, the implementation of school-based peer counselors is an effective promotive and preventive strategy because it facilitates increased knowledge, attitudes, and behaviors related to anemia prevention through a participatory approach. Suggestion: Anemia prevention activities for adolescent girls are expected to be carried out sustainably through increasing IBT compliance, health education, and supporting the ongoing role of peer counselors as health promotion agents. Active collaboration programs are also expected between community health centers, adolescents, and schools. Keywords: Adolescent girls; Anemia prevention; Health education; Peer counselors Pendahuluan: Remaja putri termasuk kelompok yang rentan mengalami anemia, dengan angka prevalensi secara global mencapai 29.9%. Rendahnya kepatuhan konsumsi tablet tambah darah (TTD) menjadi faktor utama, meskipun distribusi telah berjalan sesuai target. Anemia pada remaja putri dapat mengganggu kemampuan konsentrasi belajar dan berdampak pada kesehatan reproduksi di masa mendatang, sehingga diperlukan upaya intervensi dan pembinaan yang berkesinambungan untuk memperkuat pencegahan anemia pada kelompok ini. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan tentang anemia dan pemberdayaan konselor sebaya sebagai upaya pencegahan kejadian anemia pada remaja putri. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada bulan Desember 2025 di salah satu Sekolah Menengah Atas di Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan. Responden dalam kegiatan ini adalah siswi kelas X dan XII yang berjumlah 119 orang. Tim pelaksana terdiri dari dosen dan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti yang berkolaborasi dengan pihak sekolah serta mendapat pendampingan dari staf Puskesmas. Materi tentang anemia disampaikan secara langsung dan dilanjutkan dengan diskusi serta tanya-jawab sebagai upaya peningkatan pengetahuan pada responden yang meliputi penilaian analisis faktor risiko kejadian anemia, dan pemberdayaan konselor sebaya sebagai upaya pencegahan anemia. Evaluasi tingkat pengetahuan dan pemahaman responden, diukur menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan sesudah kegiatan edukasi (post-test). Data dianalisa dengan uji Wilcoxon dan uji Chi-square untuk melihat hubungan antara faktor risiko dan kejadian anemia. Hasil: Mendapatkan data bahwa rata-rata usia responden adalah 16.87 tahun dengan standar deviasi 1.02 tahun dalam rentang 14-18 tahun dan sebagian besar responden berada di usia 17 tahun sebanyak 49 orang (41.2%). Sebagian besar merupakan siswi kelas XII sebanyak 85 orang (71.4%), mayoritas memiliki status gizi normal sebanyak 49 orang (41.2%), dan status pendidikan ibu dari responden adalah mayoritas lulusan SMA-Perguruan Tinggi sebanyak 96 orang (80.7%). Sedangkan sebagian besar penghasilan orang tua per bulan (UMR) adalah ˂Rp.5.396.761 yaitu sebanyak 81 orang (68.1%), sebagian besar tidak teridentifikasi anemia sebanyak 87 orang (73.1%), dan mayoritas tidak rutin konsumsi tablet tambah darah 1x seminggu yaitu sebanyak 78 orang (65.5%). Adanya peningkatan tingkat pengetahuan responden setelah pelaksanaan penyuluhan kesehatan yang mendapatkan pValue=0.001. Sedangkan nilai rata-rata pengetahuan responden sebelum penyuluhan (pre-test) sebesar 6.30 poin dan terjadi peningkatan menjadi 9.37 poin setelah penyuluhan (post-test). Simpulan: Kegiatan penyuluhan kesehatan berkontribusi terhadap peningkatan tingkat pengetahuan remaja mengenai anemia dan upaya pencegahannya. Kepatuhan konsumsi tablet tambah darah (TTD) memiliki peran signifikan dalam menurunkan risiko anemia pada remaja putri. Selain itu, implementasi konselor sebaya berbasis sekolah merupakan strategi promotif dan preventif yang efektif karena mampu memfasilitasi peningkatan pengetahuan, sikap, dan perilaku pencegahan anemia melalui pendekatan partisipatif. Saran: Diharapkan, kegiatan pencegahan anemia pada remaja putri untuk dilakukan secara berkelanjutan melalui peningkatan kepatuhan TTD, edukasi kesehatan, dan untuk mendukung keberlanjutan peran konselor sebaya sebagai agen promosi kesehatan serta diharapkan juga mengadakan program kolaborasi aktif dari puskesmas, remaja dan sekolah.