Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

PENERAPAN TEKNOLOGI KOMPOS PUPUK TAKAKURA PLUS PADAT LIMBAH KOTORAN SAPI, VEGETASI SEKUNDER DAN LIMBAH ORGANIK RUMAH TANGGA DENGAN SISTEM INTERCROPPING DI DESA LAWOILA Hijria Lasaiyo Aufa; Eka Febrianti; Waode Nanang Trisna Dewi; Mirza Arsiaty Arsyad
Jurnal Pasopati : Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Pengembangan Teknologi Vol 2, No 4 (2020)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Lawoila, Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan merupakan desa yang sebagian besar penduduknya sebagian besar hidup sebagai petani yang mengandalkan perekonomian dari sektor pertanian. Namun pada pelaksanaan pertaniannya usaha taninya, petani masih mengolah lahan secara konvensional dan menggunakan input yang berlebihan dan mengolah lahan masih sistem monokultur. Desa ini juga belum memanfaatkan hasil alam, dalam hal ini kotoran sapi, vegetasi sekunder dan limbah oganik rumah tangga sebagai bahan dasar pupuk organik yang dipergunakan dalam budidaya tanaman sayuran. Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan perubahan pola pikir bagi masyarakat sadar lingkungan dalam memanfaatkan teknologi kompos Takakura plus sebagai salah satu cara untuk pemenuhan kebutuhan pupuk organik dalam budidaya tanaman sayuran untuk menambah penghasilan masyarakat. Metode pelaksanaan kegiatan adalah dilakukan dengan tiga tahapan yaitu persiapan dan sosialisasi, pelatihan dan aplikasi, monitoring dan  evaluasi. Tahap sosialisasi dilakukan dalam rapat warga dan sosialisasi khusus, serta pelatihan pembuatan kompos padat metode Takakura Plus dan aplikasi pupuk pada demplot percontohan. Tahap monitoring dan evaluasi dilakukan bersamaan dengan  pendampingan  program. Hasil yang diharapkan adalah petani sayuran mampu membuat pupuk kompos padat berbahan dasar kotoran sapi, vegetasi sekunder dan limbah organik rumah tangga yang dapat digunakan dalam pertanian, maupun dikomersilkan sehingga dapat meningkatkan perekonomian. Kata kunci :  intercropping, limbah,pupuk,takakura, dan organik.
PKM Pemanfaatan Limbah Hasil Pertanian dan Kotoran Ternak Sebagai Pupuk Organik Plus untuk Meningkatkan Produksi Tanaman Hortikultura di Desa Wakadia Kabupaten Muna Sitti Leomo; Waode Nuraida; Rian Arini; Andi Awaluddin; Eka Febrianti; Muhidin Muhidin; Tresjia C Rakian; Muhammad Safarrudin
Prima Abdika: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2023): Volume 3 Nomor 2 Tahun 2023
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Flores Ende

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/abdika.v3i2.2223

Abstract

This PKMI activity will apply POP technology (organic plus fertilizer) which is environmentally friendly in the community living in Wakadia Village, Muna Regency, both non-productive and productive communities in the agricultural sector. Wakadia village is an agricultural area with land conditions that continue to grow vegetables throughout the year using chemical fertilizers so that this will have an impact on decreasing the condition of soil nutrients and have an impact on the health of the people of Wakadia village. In this New Normal era, healthy and nutritious nutrition is urgently needed to increase the resistance or immunity of the local community, so that to fulfill this nutrition organic vegetables that are free of chemicals are needed. Therefore, POP technology is needed to improve the quality of soil nutrients, increase production and obtain organic vegetable crops. In the village of Wakadia there are also many agricultural wastes and livestock manure that are abundant but have not been optimally processed so that they do not provide added value to the village community, so PKMI activities must be carried out to improve environmental conditions that have been polluted due to the use of chemical fertilizers, and also can increase the income of the local community by utilizing existing waste to be used as organic fertilizer. Where organic fertilizer has a higher price than livestock manure that has not been processed. Thus, the solution offered in this PKMI activity is the application of technology in changing the use of chemical fertilizers with the use of POP technology so that farming land is even more productive. The forms of technology applied to the community in this service are (1) technology for making organic fertilizer plus (2) technology for packaging organic fertilizer plus (3) technology for marketing horticultural crops through online media (Facebook and Watshap).
ANALISIS TINGKAT PENGETAHUAN PETANI JAGUNG TENTANG PENGOLAHAN LIMBAH JAGUNG MENJADI PUPUK KOMPOS DI DESA KAMBAWUNA KECAMATAN KABAWO KABUPATEN MUNA Muhammad Aswar Limi; Muhammad Tufaila; Dedi Erawan; Eka Febrianti
JAS (Jurnal Agri Sains) Vol 9, No 2: Desember 2025
Publisher : Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/jas.v9i2.1920

Abstract

Produksi jagung di Desa Kambawuna menghasilkan volume limbah pertanian yang cukup besar, namun pemanfaatannya sebagai pupuk kompos belum optimal akibat rendahnya pengetahuan sebagian petani mengenai teknik pengolahan limbah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat pengetahuan petani jagung tentang pengolahan limbah jagung menjadi pupuk kompos di Desa Kambawuna, Kecamatan Kabawo, Kabupaten Muna. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan melibatkan 23 responden yang dipilih melalui teknik sampling jenuh. Data dikumpulkan melalui kuesioner berisi 15 pertanyaan benar–salah terkait pengetahuan pengomposan dan dianalisis menggunakan skoring serta pengelompokan kategori pengetahuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 47,83% petani memiliki tingkat pengetahuan tinggi, 30,43% berada pada kategori sedang, dan 21,74% berada pada kategori rendah. Temuan ini mengindikasikan bahwa sebagian besar petani telah memahami dasar-dasar pengomposan, meskipun masih terdapat kelompok yang memerlukan peningkatan pemahaman. Penelitian ini menegaskan pentingnya penyuluhan berkelanjutan dan pelatihan praktis untuk memperkuat kemampuan petani dalam memanfaatkan limbah jagung secara optimal sebagai pupuk kompos guna mendukung pertanian berkelanjutan.
STRATEGI PEMANFAATAN LIMBAH JAGUNG UNTUK MITIGASI IKLIM DAN PENGUATAN AGRIBISNIS LOKAL Muhammad Aswar Limi; M. Tufaila Hemon; Dedi Erawan; Eka Febrianti
GANESHA: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 6 No 2 (2026): Juli 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tunas Pembangunan Surakarta (UTP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36728/ganesha.v6i2.6466

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Kambawuna, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, berfokus pada pemanfaatan limbah jagung pasca panen yang selama ini cenderung dibakar sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan, kerusakan tanah, serta meningkatkan emisi gas rumah kaca. Melalui program ini, masyarakat dan petani diberikan pemahaman mengenai dampak negatif pembakaran limbah serta dibimbing secara teknis untuk mengolah limbah jagung menjadi pupuk bokashi yang ramah lingkungan. Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari sosialisasi, penyuluhan, pelatihan, hingga pendampingan praktik langsung pembuatan pupuk bokashi berbahan limbah jagung, pupuk kandang, dedak, dan larutan EM4. Masyarakat terlibat aktif dengan partisipasi mencapai 95% yang menunjukkan antusiasme tinggi baik dalam diskusi, praktek lapangan, maupun penerapan hasil. Pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengelola limbah meningkat signifikan, serta muncul kesadaran baru akan pentingnya praktik pertanian berkelanjutan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa limbah jagung dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai pupuk bokashi yang tidak hanya meningkatkan kesuburan tanah dan produktivitas tanaman, tetapi juga membuka peluang pengembangan usaha lokal berbasis produk ramah lingkungan. Luaran program mencakup publikasi di media online dan YouTube, penyusunan draft publikasi ilmiah, serta inovasi teknologi tepat guna berupa penerapan bokashi berbasis limbah jagung. Secara umum, program ini telah berhasil memberikan dampak nyata bagi masyarakat dengan meningkatkan kesadaran lingkungan, memperkuat kemandirian petani, serta memperkenalkan teknologi sederhana namun bermanfaat untuk mitigasi perubahan iklim. Ke depan, model pengelolaan ini diharapkan dapat diperluas tidak hanya untuk peningkatan kesuburan tanah, tetapi juga integrasi dengan sistem budidaya, pengendalian hama dan penyakit, serta evaluasi kesesuaian lahan guna mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan di wilayah pedesaan.
PKM OPTIMALISASI LIMBAH RUMAH TANGGA DAN VEGETASI SEKUNDER MENJADI PUPUK ORGANIK CAIR UNTUK WISATA HIJAU TORONIPA Laode Sabaruddin; Robiatul Adawiyah; Waode Anima Hisein; L. M. Harjoni Kilowasid; Norma Air; Eka febrianti; Waode Nuraida
GANESHA: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 6 No 2 (2026): Juli 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tunas Pembangunan Surakarta (UTP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36728/ganesha.v6i2.6521

Abstract

Permasalahan pengelolaan limbah organik rumah tangga dan wisatawan serta pemanfaatan vegetasi sekunder di Kawasan wisata Pantai Toronipa belum mendapat perhatian secara optimal sehingga memiliki potensi besar akan mencemari lingungan. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengolah limbah organik dan vegetasi sekunder menjadi pupuk organik cair (POC) sebagai upaya mendukung konsep wisata hijau dan berkelanjutan. Metode yang digunakan meliputi tahap persiapan, sosialisasi, dan demonstrasi/pelatihan pembuatan POC. Kegiatan melibatkan masyarakat dan pengelola wisata secara aktif melalui pendekatan partisipatif. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman masyarakat dalam mengidentifikasi bahan baku POC, serta peningkatan keterampilan dalam proses pembuatan dan aplikasi POC pada media tanam. Tingkat kehadiran dan partisipasi masyarakat tergolong tinggi (±85%), ditunjukkan dalam forum diskusi dan praktik langsung. POC yang dihasilkan berpotensi memperbaiki kesuburan tanah di kawasan pantai serta menjadi alternatif pengurangan penggunaan pupuk anorganik. Selain itu, kegiatan ini membuka peluang pengembangan produk bernilai ekonomis berbasis limbah lokal. Secara keseluruhan, program ini memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kesadaran lingkungan, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan konsep wisata ramah lingkungan di Pantai Toronipa
Kemampuan Induksi Resistensi Campuran Bakteri Endofit Asal Tumbuhan Liar Terhadap Penyakit Layu Fusarium Pada Tanaman Cabai Nur Isnaini Ulfa; Andi Khaeruni; Vit Neru Satrah; Gusnawaty HS; Nuriadi Nuriadi; Muhammad Botek; Muhamad Azwar Syah; Eka Febrianti; Rian Arini; La Ode Hikmal Abid; Tri Endrawati
Jurnal Sains Agro Vol 11, No 1 (2026): Jurnal Sains Agro
Publisher : Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/jsa.v11i1.2037

Abstract

Penyakit layu Fusarium yang disebabkan oleh F. oxysporum merupakan salah satu kendala utama produksi cabai merah (Capsicum annuum L.) di Sulawesi Tenggara, dengan potensi kerugian panen hingga 50%. Pengendalian kimiawi menggunakan fungisida sintetis menimbulkan dampak negatif berupa pencemaran lingkungan dan resistensi patogen, sehingga diperlukan alternatif pengendalian hayati yang ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan campuran bakteri endofit asal tumbuhan liar dalam menginduksi ketahanan tanaman cabai terhadap penyakit layu Fusarium. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Proteksi Tanaman Unit Fitopatologi dan di Rumah Kaca Lahan I Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo pada Bulan Juli sampai September 2025. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 8 perlakuan  yang diulang 3 kali sehingga terdapat total 24 unit percobaan, setiap unit terdiri dari 5 tanaman, sehingga populasi dalam penelitan ini adalah 120 tanaman. Penelitian menggunakan tiga isolat bakteri endofit asal tumbuhan liar, yaitu BK-3(2) dari batang kersen, BSR-7(1) dari batang suruhan, dan ASR-7(1) dari akar suruhan, yang diaplikasikan secara tunggal maupun kombinasi. Parameter yang diamati meliputi aktivitas enzim peroksidase, kadar asam salisilat, aktivitas enzim polifenol oksidase, dan keparahan penyakit layu Fusarium. Data dianalisis dengan sidik ragam dan apabila terdapat pengaruh nyata, maka dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (UJBD) pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh perlakuan bakteri endofit terbukti mampu menginduksi ketahanan tanaman cabai. Perlakuan kombinasi BK-3(2)+BSR-7(1) dan BK+ASR+BSR secara konsisten memberikan hasil terbaik dalam meningkatkan ketiga parameter enzim pertahanan tersebut. Tingkat keparahan penyakit pada perlakuan kombinasi BK-3(2)+BSR-7(1) dan BK+ASR+BSR tercatat paling rendah, yakni masing-masing 13,33%, dibandingkan kontrol sebesar 36,00%. Bakteri endofit menginduksi ketahanan tanaman melalui mekanisme Induced Systemic Resistance (ISR) dan Systemic Acquired Resistance (SAR). Disimpulkan bahwa konsorsium bakteri endofit asal tumbuhan liar efektif menginduksi resistensi tanaman cabai terhadap penyakit layu Fusarium.
The performance of agronomic traits, genetic variability, and correlation studies for yield and its components in some red rice (Oryza sativa) promising lines Gusti Ray Sadimantara; Dewi Nurhayati Yusuf; Eka Febrianti; Sitti Leomo; Muhidin MUHIDIN
Biodiversitas Journal of Biological Diversity Vol. 22 No. 9 (2021)
Publisher : Society for Indonesian Biodiversity

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13057/biodiv/d220947

Abstract

Abstract. Sadimantara GR, Yusuf DN, Febrianti E, Leomo S, Muhidin. 2021. The performance of agronomic traits, genetic variability, and correlation studies for yield and its components in some red rice (Oryza sativa) promising lines. Biodiversitas 22: 3994-4001. Improving a new variety commonly depends on the nature and magnitude of genetic variability and its utilization, followed by selection and evaluation before being released into new superior types. The present study aims to estimate the genetic variability and relation between yield and its related traits of the red rice promising lines. The experiment was arranged based on a randomized complete block design (RCBD) with three replications. Analysis of variance revealed significant differences among rice lines for 12 quantitative traits. The phenotypic coefficient of variation (PCV) value was higher than the genotypic coefficient of variation (GCV), indicating a negligible environmental influence in the phenotypic expression of traits. High heritability estimates coupled with high genetic advance were recorded for grain total per panicle and grain yield per hill. Grain yield observed a highly significant positive correlation with panicle length (0.63), percentage of filled grains (0.53), grain weight per panicle (0.54), and thousand-grain weight (0.52). It correlated negatively with days to 50% flowering (-0.61) and days to maturity (-0.48). The study indicated that panicle length, percentage of filled grains, grain weight per panicle, and thousand-grain weight are important yield-related traits and could be used for selection to improve the genetic potential of rice yield.