Alex Sobur
Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Bandung

Published : 44 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Representasi Kepercayaan Diri pada Wanita Diana Putri Rahmadhani; Alex Sobur
Bandung Conference Series: Communication Management Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Communication Management
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v4i1.10940

Abstract

Abstract - This study is based on the background of many women who are faced with situations and conditions that make them feel worried and anxious about something. This can be triggered because there are demands by the closest person. Therefore, Yura Yunita released a song entitled "Tutur Batin" which tells about women who are struggling to accept themselves as they are. Indirectly, this song has also campaigned for self-confidence in women. The purpose of the research is to find out the denotation, connotation, and mythical meaning of the representation of self-confidence in women in the music video tutur batin by Yura Yunita using qualitative research with a Roland Barthes semiotic perspective. The data obtained was obtained through textual analysis, and literature study. The denotation meaning of the representation of self-confidence in women in Yura Yunita's music video tutur batin is the real meaning in which it is divided into three parts, namely the signifier, signifier, and sign. The connotation meaning of the representation of self-confidence in women in Yura Yunita's music video tutur batin is the real meaning in which it is divided into three parts, namely the signifier, the signifier, and the sign. Abstrak - Penelitian ini dilatar belakangi banyaknya wanita yang dihadapkan pada situasi dan kondisi yang membuat rasa kekhawatiran dan gelisah oleh suatu hal. Hal tersebut dapat dipicu karena terdapat tuntutan oleh orang terdekat. Oleh karena itu, Yura Yunita merilis lagu yang berjudul “Tutur Batin” yang menceritakan tetang para wanita yang sedang berjuang dalam menerima dirinya dengan apa adanya. Secara tidak langsung, lagu ini pun telah mengkampanyekan rasa kepercayaan diri pada wanita. Tujuan penelitian mengetahui makna denotasi, konotasi, dan mitos dari representasi kepercayaan diri pada wanita dalam video musik tutur batin karya Yura Yunita dengan menggunakan penelitian kualitatif dengan perspektif semiotika Roland Barthes. Data yang di peroleh didapatkan melalui analisis tekstual, dan studi kepustakaan. Makna denotasi dari representasi kepercayaan diri pada wanita dalam video musik tutur batin karya Yura Yunita yaitu makna sesungguhnya yang di dalamnya terbagi menjadi tiga bagian yaitu petanda, penanda, dan tanda. Makna konotasi dari representasi kepercayaan diri pada wanita dalam video musik tutur batin karya Yura Yunita sebagai bentuk idiologi dari perspektif subjektif yang mempunyai maksud dan tujuan dari objek yang di sampaikan berupa konsep dan penandaan di balik potongan gambar video musik berjudul tutur batin yang diciptakan. Makna mitos dari representasi kepercayaan diri pada wanita dalam video musik tutur batin karya Yura Yunita yaitu sebuah pertandaan nilai bahasa dari konteks komunikasi yang melahirkan sebuah pesan, sehingga mitos bisa dikatakan sebagai produk sosial yang dengan sendirinya mendominasi segala sesuatu yang dianggap benar dari persepsi masyarakat secara historis. Seperti makna mitos pada penciptaan potongan video musik berjudul tutur batin dengan menggambarkan sebuah fenomena nyata yang sering terjadi di lingkungan masyarakat mengenai kepercayaan diri wanita.
Makna Kesedihan dalam Lirik Lagu “Nala” Yuflih Dimah Kusumawati; Alex Sobur
Bandung Conference Series: Communication Management Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Communication Management
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v4i1.11250

Abstract

Abstract. Music is one of the audio-formed communication media that can be a place to deliver messages that do through a song. Nala is a song by Tulus singer who tells the story of a woman named Nala who is feeling grief. This research uses qualitative methods with Michael Riffaterre's semiotic approach. There are four things to bear in mind in literary reproduction, namely heuristic and hermeneutic readings, inconsistencies of expression, matrices; models; variants, and hyphograms. The paradigm used in this research is an interpretative paradigm. The data collection technique in this research is the study of libraries and documentation. The results of the study were heuristic readings of Nala's lyrics, which depict a woman showing sadness. The hermeneutic reading of this song shows that everything that Nala goes through is a reflection of the people of this age. The incoherence of expression in Nala's lyrics is the substitution of meaning, deviation of meaning and creation of significance. The matrix in Nala lyrics is the mood and emotional feelings of a woman (Nala). The actual hypogram is the personal life of the True and the social life of audiences listening and reading the lyrics of the song. Abstrak. Musik merupakan salah satu media komunikasi berbentuk audio yang dapat menjadi tempat untuk melakukan penyampaian pesan yang lakukan melalui lagu. Lagu Nala merupakan karya penyanyi Tulus yang menceritakan sosok wanita bernama Nala yang sedang merasakan kesedihan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan semiotika Michael Riffaterre. Terdapat empat hal yang harus diperhatikan dalam pemaknaan sastra, yaitu pembacaan heuristik dan hermeneutik, ketidaklangsungan ekspresi, matriks; model; varian, dan hipogram. Paradigma yang digunakan pada penelitian ini yaitu paradigma interpretif. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini yaitu studi kepustakaan dan dokumentasi. Hasil Penelitian yang diperoleh yaitu pembacaan heuristik pada lirik lagu Nala yang menggambarkan tentang seorang wanita yang sedang menunjukkan kesedihan. Pembacaan hermeneutik dalam lagu ini menunjukkan bahwa segala hal yang dilalui oleh Nala merupakan cerminan orang-orang pada zaman ini. Ketidaklangsungan ekspresi dalam lirik lagu Nala terdapat penggantian arti, penyimpangan arti dan penciptaan arti. Matriks pada lirik lagu Nala ialah suasana hati dan perasaan emosional dari seorang wanita (Nala). Hipogram potensial dalam lirik lagu Nala yaitu suasana hati atau perasaan yang sedang dirasakan seseorang. Hipogram aktual yaitu kehidupan pribadi dari Tulus dan kehidupan sosial dari khalayak yang mendengarkan dan membaca lirik lagu tersebut.
Kritik Objektifikasi Perempuan pada Lirik Lagu Nxde karya (G)-IDLE Nabila Hamidah Ath Thahirah; Alex Sobur
Bandung Conference Series: Communication Management Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Communication Management
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v4i1.12097

Abstract

Abstract. The research entitled “Criticism of the Objectification of Women in the Song Lyrics Riffaterre's Semiotic (Analysis of the Lyrics of the Song Nxde by (G)-IDLE) was motivated by the public's interest in this song so that it went viral on various social media because the message contained social criticism, especially the objectification of women in the lyrics. Song lyrics can be used as a forum for sharing knowledge and views about social issues that affect a community or nation, as well as entertainment. This research aims to find out how the meaning is contained, especially regarding criticism of the objectification of women in the lyrics of the song Nxde through Riffaterre's semiotic theory approach in terms of four stages, namely, heuristics and hermeneutics, matrix, model and variant, and hypogram. The research method used is qualitative descriptive research. Data collection techniques in this research are observation and documentation. The research results show that heuristic and hermeneutic reading does not only mean criticism of objectification and stereotypes of women, but also how they rise up and accept themselves as they are. The matrix of the lyrics of this song is a stereotype of women and is objectified by other people. The model for the lyrics of this song is the character "I" who is a woman and the character "you". The hypogram of the lyrics of this song is for potential according to the matrix and for actual it is inspired by the story of Marilyn Monroe and Kurt Cobain's words Abstrak. Penelitian yang berjudul “Kritik Objektifikasi Perempuan pada Lirik Lagu (Analisis Semiotika Riffaterre pada Lirik Lagu Nxde karya (G)-IDLE)” ini dilatar belakangi oleh minatnya khalayak akan lagu ini sehingga viral di berbagai sosial media karena pesan yang mengandung kritik sosial terutama objektifikasi perempuan dalam liriknya. Lirik lagu dapat digunakan sebagai wadah untuk berbagi pengetahuan dan pandangan tentang masalah sosial yang mempengaruhi komunitas atau bangsa, selain sebagai hiburan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana makna yang terkandung terutama tentang kritik objektifikasi perempuann dalam lirik lagu Nxde melalui pendekatan teori semiotika Riffaterre ditinjau dari empat tahapan yaitu, heuristik dan hermeneutik, matriks, model dan varian, dan hipogram. Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan pembacaan heuristic dan hermeneutic tidak hanya mengartikan kritik objektifikasi dan streotip Perempuan, namun bagaimana mereka bangkit dan menerima dirinya apa adanya. Matriks dari lirik lagu ini adalah streotip Perempuan dan dijadikan objektifikasi oleh orang lain. Model dari lirik lagu ini adalah tokoh “aku” yang merupakan wanita dan tokoh “kamu”. Hipogram dari lirik lagu ini adalah untuk potensial sesuai dengan matriks dan untuk actual terinspirasi dari kisah Marilyn Monroe dan Perkataan Kurt Cobain.
Praktik Wacana Warganet dalam Melakukan Kontrol Sosial melalui Konten Video di Media Sosial Yuki Jauza Hasna Afyadi; Alex Sobur
Bandung Conference Series: Public Relations Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Public Relations
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v4i1.12359

Abstract

Abstract. The era of 5.0 is entering where technology has a big role in helping people carry out various social activities, including communication. One of these communication technologies is social media. In 2023, the public was surprised by a video created by a TikTok influencer named Bima Yudho Saputro who criticized the city of Lampung as an undeveloped city. Researchers were interested in this phenomenon and conducted research using qualitative methods and Fairclough's critical discourse approach. This research aims to find out how the discourse practices carried out by netizens in implementing social control through the content of the criticism video "The Reason Why Lampung is Not Advanced" in Bima Yudho Saputro's TikTok social media account. Data collection techniques were carried out using interviews and literature studies. Thus, this research has an urgency to find out the truth, considering that social media is an aspect that is inherent in people's daily lives. The results of this research, the text dimension presents social control, shows the existence of relations between netizens, and explains the identity that is intertwined through the text. In addition, the discourse practice of netizens, namely Bima in his critical video on the TikTok platform, proves to be an effective social control and the critical discourse carried out by Bima in his video content contains the socio-cultural practices of Indonesian society, the analysis of socio-cultural changes in this text discourse presents a different mindset and behavior. Abstrak. Memasuki era 5.0 dimana teknologi memiliki peran yang besar dalam membantu masyarakat melakukan berbagai aktivitas sosialnya, termasuk berkomunikasi. Salah satu teknologi komunikasi tersebut adalah media sosial. Pada tahun 2023, publik dihebohkan dengan sebuah konten video yang dibuat oleh seorang influencer TikTok bernama Bima Yudho Saputro yang mengkritik kota Lampung sebagai kota yang tidak maju. Peneliti tertarik dengan peristiwa ini dan melakukan penelitian dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan wacana kritis dari Fairclough. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana praktik wacana yang dilakukan oleh warganet dalam melakukan kontrol sosial melalui konten video kritik “Alasan Kenapa Lampung Gak Maju-Maju” dalam akun media sosial TikTok Bima Yudho Saputro. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara dan studi literatur. Dengan demikian, penelitian ini memiliki urgensi untuk dicari tahu kebenarannya, mengingat media sosial menjadi aspek yang melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Hasil dari penelitian ini, dimensi teks memperpresentasikan kontrol sosial, memperlihatkan adanya relasi antar warganet, dan menjelaskan identitas yang terjalin melalui teks. Selain itu, praktik wacana warganet, yaitu Bima dalam video kritiknya di platform TikTok membuktikan sebagai kontrol sosial yang efektif dan wacana kritis yang dilakukan bima dalam konten videonya mengandung praktik sosial-budaya masyarakat Indonesia, analisis perubahan sosial-budaya dalam wacana teks ini menghadirkan pola pikir dan perilaku yang berbeda.