Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Polimorfisasi dan Solvatomorfi Amoksisilina Trihidrat setelah Proses beku Kering Nugrahani, Ilma; Asyarie, Sukmadjaja; Soewandhi, Sundani Nurono; Ibrahim, Slamet
Majalah Ilmu Kefarmasian Vol. 7, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The polymorphismof amoxicillin has been identified after freeze drying process. The freeze dried amoxicillin have some specific physical properties different from their raw material, that was proved by DSC, XRD, and polarize microscope. Exothermal curve from DSC thermogram changes to endothermal curve, diffractogram XRD changes to different profile, and the crystal shows different habit. All of data showed that freeze drying process improve amoxicillin to different crystal form which has higher melting oxidation point and lower hydrate. The improvement of the crystal structure might be impact to change physical-pharmaceutical properties like dissolution, absorption, and change it antibiotic potency.
Optimasi Formula Emulgel Vitamin C dengan Pendekatan Simplex Lattice Design Irfan Imam Taufik; Sundani Nurono Soewandhi; Yuda Prasetya Nugraha
Jurnal Sains Farmasi & Klinis Vol 10, No 1 (2023): J Sains Farm Klin 10(1), April 2023
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jsfk.10.1.145-154.2023

Abstract

Vitamin C dalam bidang kosmetik memiliki banyak manfaat termasuk sebagai antioksidan. Akan tetapi sediaan vitamin C mudah teroksidasi dan mengalami perubahan warna sehingga perlu ditambahkan penstabil yang mampu menjaga kestabilan vitamin C selama pemakaian dan penyimpanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh hydroxyethyl acrylate/sodium acryloyldimethyl taurate copolymer  dan natrium metabisulfit  terhadap karaktiristik emulgel vitamin C serta menentukan formula emulgel yang optimum melalui pendekatan Design of Experiment (DOE) dengan metode  Simplex Lattice Design. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel konsentrasi hydroxyethyl acrylate/sodium acryloyldimethyl taurate copolymer  dan natrium metabisulfit  memberikan pengaruh yang signifikan terhadap viskositas (P<0,05), pengujian kesukaan aroma (P<0,05), pengujian tekstur (P<0,05) dan kestabilan formula (P<0,05). Akan kedua bahan tersebut tetapi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap nilai pH (P>0,05). Formulasi optimum dihasilkan dengan penambahan adalah 2,305% hydroxyethyl acrylate/sodium acryloyldimethyl taurate copolymer  dan 0,194 % natrium metabisulfit  dengan nilai desirability 0,633. Formula ini  memenuhi kriteria sediaan yang cukup baik, namun perlu dilakukan perbaikan aroma untuk meningkatkan penilaian kesukaan.
Identification of Candesartan Cilexetil-L-Arginine Co-amorphous Formation and Its Solubility Test Fikri Alatas; Erina Sifa Mutmainah; Hestiary Ratih; Titta Hartyana Sutarna; Sundani Nurono Soewandhi
Borneo Journal of Pharmacy Vol. 5 No. 1 (2022): Borneo Journal of Pharmacy
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjop.v5i1.2942

Abstract

The formation of co-amorphous is one alternative that can be attempted to enhance the solubility of drugs. The study aimed to identify the co-amorphous formation between candesartan cilexetil (CAN) and l-arginine (ARG) and to know its effect on the solubility and dissolution rate of candesartan cilexetil. Initial prediction of co-crystal formation was undertaken by observing differences in crystal morphology between the candesartan cilexetil-l-arginine (CAN-ARG) mixture and each of its initial components due to crystallization in ethanol. The CAN-ARG co-amorphous was produced by the liquid-assisted grinding (LAG) method with the same molar ratio of the CAN and ARG mixture using ethanol as solvent. The co-amorphous formation of CAN-ARG was identified by powder X-ray diffraction (PXRD) and differential scanning calorimetry (DSC) methods. The solubility and dissolution test was performed to know the impact of the co-amorphous CAN-ARG formation. The PXRD pattern of CAN-ARG of LAG result showed a very low peak intensity compared to pure CAN and ARG. The DSC thermogram of the CAN-ARG LAG result does not show any sharp endothermic peaks. The PXRD and DSC results reveal that CAN and ARG can form co-amorphous. The solubility and dissolution rate of candesartan cilexetil in co-amorphous CAN-ARG was better than that of pure CAN. It can be concluded, liquid-assisted grinding of CAN-ARG mixture is identified to form co-amorphous which has an impact on increasing the solubility and dissolution rate of candesartan cilexetil.
Preparasi dan Karakterisasi Interaksi Antarmolekular Glimepirid dan Metformin HCl dengan Metode Solvent Drop Grinding Sitti Raodah Nurul Jannah; Sundani Nurono Soewandhi; Rachmat Mauludin; Handoyo Sahumena, Muhamad
Lansau: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol. 2 No. 1 (2024): Lansau: Edisi April 2024
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lansau.v2i1.21

Abstract

Interaksi antar molekular dari campuran glimepirid (GMP) dan metformin HCl (MET) dapat menyebabkan perubahan pada sifat fisikokimia komponen penyusunnya. Telah dilakukan penelitian tentang karakterisasi interaksi antar molekular menggunakan metode solvent drop grinding (SDG). Metode SDG digunakan sebagai identifikasi awal pembentukan interaksi antar kedua komponen dengan rasio perbandingan molar GMP: MET yaitu 1:1. Karakterisasi interaksi antar molekular GMP-MET meliputi pengamatan habit Kristal menggunakan mikroskop polarisasi, sifat termal menggunakan instrument TG/DTA, spektroskopi infra merah (FTIR), difraksi sinar-X serbuk (PXRD), scanning electron microcope (SEM), uji kelarutan dan uji disolusi. Hasil pengamatan habit Kristal menunjukkan. Diagram fase campuran GMP-MET menunjukkan terbentuknya dua puncak endotermik yang mengindikasikan adanya interaksi antarmolekular dengan titik lebur senyawa peritektikum yaitu 197,02 dan 216,64 °C. Analisis mikrofoto SEM menunjukkan perubahan habit dan morfologi kristal berupa tabular yang memanjang. Difraktogram sinar-X menunjukkan terjadi penurunan intensitas derajat kristalin dari kedua komponen, sedangkan spektra IR menunjukkan tidak adanya puncak khas baru atau pergeseran bilangan gelombang baik campuran fisik maupun hasil SDG. Profil disolusi GMP dalam medium dapar fosfat pH 7,4 meningkat dibandingkan dengan bentuk murni glimepirid. Hasil disolusi GMP tertinggi yaitu pada campuran GMP-MET hasil perlakuan metode SDG sebesar 57,33%.
Studi Disolusi Terbanding dari Tablet Febuxostat dengan Variasi Perbandingan Konsentrasi Hidroksipropil Selulosa dan Natrium Kroskarmelos Hambali, Luthfi Fathiinah; Soewandhi, Sundani Nurono; Satrialdi, Satrialdi
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 11, No 2 (2024)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ijpst.v11i2.47328

Abstract

Febuxostat merupakan obat golongan anti asam urat, obat ini adalah turunan 2-arylthiazole yang bekerja dengan menurunkan kadar serum asam urat dengan penghambatan secara selektif pada xanthine oxidase (XO). Dalam beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan bahwa Febuxostat memiliki efikasi dan keamanan yang lebih baik dibandingkan Allopurinol. Febuxostat masih merupakan obat yang menjanjikan untuk dikembangkan di Indonesia dikarenakan berdasarkan data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) hingga saat ini hanya terdapat  1 kompetitor obat copy generic berlogo yang beredar. Uji disolusi terbanding merupakan pengujian secara in vitro untuk membuktikan  similaritas obat copy yang dibandingkan terhadap produk innovator, dimana similaritas tersebut merupakan salah satu syarat registrasi obat, suatu obat copy dinyatakan similar terhadap produk innovator bila hasil perhitungan F2 pada uji disolusi terbanding > 50%. Uji disolusi terbanding dilakukan pada 3 pH yaitu 1,2; 4,5; dan 6,8. Pada penelitian ini dilakukan pengembangan tablet Febuxostat dengan beberapa perbandingan konsentrasi hidroksipropil selulosa (HPS) dan natirum kroskarmelos (NKK). Desain percobaan dibuat dengan desain faktorial penuh menggunakan aplikasi Minitab 21. Konsentrasi hidroksipropil selulosa dioptimasi pada konsentrasi 3 dan 5% sedangkan natrium kroskarmelose dioptimasi pada konsentrasi 1 dan 4%.   HPSNKKTujuan dari penelitian ini adalah menemukan kombinasi HPS HPSdanNKK NKK yang tepat, untuk menghasilkan produk tablet yang memenuhi uji disolusi terbanding pada ketiga pH. Berdasarkan hasil penelitian, konsentrasi HPSNKK HPS : NKK (3:1) menghasilkan uji disolusi terbanding yang similar di ketiga pH, dimana nilai similaritas pada pH 1,2; 4,5; dan 6,8 berturut-turut sebesar 65,62; 74,72; dan 80,82. 
Optimasi Formula Emulgel Vitamin C dengan Pendekatan Simplex Lattice Design Taufik, Irfan Imam; Soewandhi, Sundani Nurono; Nugraha, Yuda Prasetya
JSFK (Jurnal Sains Farmasi & Klinis) Vol 10 No 1 (2023): J Sains Farm Klin 10(1), April 2023
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jsfk.10.1.145-154.2023

Abstract

Vitamin C dalam bidang kosmetik memiliki banyak manfaat termasuk sebagai antioksidan. Akan tetapi sediaan vitamin C mudah teroksidasi dan mengalami perubahan warna sehingga perlu ditambahkan penstabil yang mampu menjaga kestabilan vitamin C selama pemakaian dan penyimpanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh hydroxyethyl acrylate/sodium acryloyldimethyl taurate copolymer  dan natrium metabisulfit  terhadap karaktiristik emulgel vitamin C serta menentukan formula emulgel yang optimum melalui pendekatan Design of Experiment (DOE) dengan metode  Simplex Lattice Design. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel konsentrasi hydroxyethyl acrylate/sodium acryloyldimethyl taurate copolymer  dan natrium metabisulfit  memberikan pengaruh yang signifikan terhadap viskositas (P<0,05), pengujian kesukaan aroma (P<0,05), pengujian tekstur (P<0,05) dan kestabilan formula (P<0,05). Akan kedua bahan tersebut tetapi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap nilai pH (P>0,05). Formulasi optimum dihasilkan dengan penambahan adalah 2,305% hydroxyethyl acrylate/sodium acryloyldimethyl taurate copolymer  dan 0,194 % natrium metabisulfit  dengan nilai desirability 0,633. Formula ini  memenuhi kriteria sediaan yang cukup baik, namun perlu dilakukan perbaikan aroma untuk meningkatkan penilaian kesukaan.
Peningkatan Disolusi Etoricoxib dengan Pembentukan Dispersi Padat Menggunakan Kollidon® VA 64 Prawira, William Ratna; Soewandhi, Sundani Nurono; Simorangkir, Timbul Partogi Haposan; Nugraha, Yuda Prasetya
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i01.190

Abstract

Etoricoxib merupakan salah satu golongan anti inflamasi selektif COX-2 yang diklasifikasikan dalam BSC kelas II. Pada penelitian ini dilakukan usaha peningkatan kelarutan etoricoxib melalui metode dispersi padat dengan menggunakan Kollidon® VA 64. Percobaan ini diawali dengan uji pendahuluan untuk mencari optimasi perbandingan antara etoricoxib dengan Kollidon® VA 64. Setelah dilakukan uji didapatkan perbandingan ETO-KOL-3 (1:3) adalah yang optimal. Kemudian dilakukan pembuatan dispersi padat dengan menggunakan metode penguapan pelarut yang terbagi tiga yaitu pengeringan pelarut pada suhu ruang, pengeringan pelarut dengan laju pemanasan dan pengeringan pelarut dengan Spray Drying. Hasil dispersi padat kemudian dikarakterisasi dengan Powder X-Ray Diffractometry (PXRD), Differensial Scanning Calorimetry (DSC) dan Scanning Electron Microscope(SEM). Hasil PXRD dari ETO-KOL-3-SR, ETO-KOL-3-SE dan ETO-KOL-3-SD memiliki derajat kristalinitas sebesar 37,62, 36,72 dan 35,55. Hasil DSC ETO-KOL-3-SR, ETO-KOL-3-SE dan ETO-KOL-3-SD memiliki Tg sebesar 72,78, 80,87 dan 88,48°C. Hasil SEM ETO-KOL-3-SR dan ETO-KOL-3-SE memiliki bentuk lempeng irregular tetapi ETO-KOL-3-SD memiliki bentuk spherical. Hasil disolusi ETO-KOL-3-SR, ETO-KOL-3-SE dan ETO-KOL-3-SD pada media dapar fosfat pH 6,8 memiliki persen disolusi 53,39±0,34 %, 63,05±0,24% dan 72,60±0,19%. Pada penelitian ini dapat dibuktikan bahwa pembentukan dispersi padat etoricoxib dengan Kollidon® VA 64 dengan metode Spray Drying merupakan salah satu pendekatan yang potensial untuk meningkatkan laju disolusi etoricoxib.
Perbaikan Kelarutan Albendazol Melalui Pembentukan Kristal Multikomponen dengan Asam Malat: Improvement of Albendazole Solubility Through Multicomponent Crystal Formation with Malic Acid Alatas, Fikri; Abdul Azizsidiq, Fahmi; Hartyana Sutarna, Titta; Ratih, Hestyari; Nurono Soewandhi, Sundani
Jurnal Farmasi Galenika (Galenika Journal of Pharmacy) (e-Journal) Vol. 6 No. 1 (2020): (March 2020)
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (492.571 KB) | DOI: 10.22487/j24428744.2020.v6.i1.14998

Abstract

An effort to improve the solubility of albendazole (ABZ), an anthelmintic drug has been successfully carried out through the formation of multicomponent crystal with dl-malic acid (MAL). Construction of phase solubility curve of ABZ in MAL solution and crystal morphological observations after recrystallization in the acetone-ethanol (9:1) mixture were performed for initial prediction of multicomponent crystal formation. ABZ-MAL multicomponent crystal was prepared by wet grinding or also known as solvent-drop grinding (SDG) with acetone-ethanol (9:1) mixture as a solvent followed by characterization of the multicomponent crystal formation by powder X-ray diffraction and Fourier transform infrared (FTIR) methods. The solubility of ABZ-MAL multicomponent crystal was tested in water at ambient temperature and in pH 1.2, 4.5 and 6.8 of buffered solutions at 37°C. The phase solubility curve of the ABZ in the MAL solution showed type Bs. The ABZ-MAL mixture has a different crystalline morphology than pure ABZ and MAL after recrystallization in the acetone-ethanol mixture (9:1). The powder X-ray diffraction pattern and the FTIR spectrum of ABZ-MAL from SDG different from intact ABZ and MAL powder X-ray diffraction patterns and these results can indicate the ABZ-MAL multicomponent crystal formation. The ABZ-MAL multicomponent crystal has better solubility than pure ABZ in all media used. These results can be concluded that ABZ-MAL multicomponent crystal can be prepared by solvent-drop grinding method with acetone-ethanol (9:1) mixture as a solvent and can increase the solubility of albendazole.
Peningkatan Disolusi Etoricoxib dengan Pembentukan Dispersi Padat Menggunakan Kollidon® VA 64 Prawira, William Ratna; Soewandhi, Sundani Nurono; Simorangkir, Timbul Partogi Haposan; Nugraha, Yuda Prasetya
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i01.190

Abstract

Etoricoxib merupakan salah satu golongan anti inflamasi selektif COX-2 yang diklasifikasikan dalam BSC kelas II. Pada penelitian ini dilakukan usaha peningkatan kelarutan etoricoxib melalui metode dispersi padat dengan menggunakan Kollidon® VA 64. Percobaan ini diawali dengan uji pendahuluan untuk mencari optimasi perbandingan antara etoricoxib dengan Kollidon® VA 64. Setelah dilakukan uji didapatkan perbandingan ETO-KOL-3 (1:3) adalah yang optimal. Kemudian dilakukan pembuatan dispersi padat dengan menggunakan metode penguapan pelarut yang terbagi tiga yaitu pengeringan pelarut pada suhu ruang, pengeringan pelarut dengan laju pemanasan dan pengeringan pelarut dengan Spray Drying. Hasil dispersi padat kemudian dikarakterisasi dengan Powder X-Ray Diffractometry (PXRD), Differensial Scanning Calorimetry (DSC) dan Scanning Electron Microscope(SEM). Hasil PXRD dari ETO-KOL-3-SR, ETO-KOL-3-SE dan ETO-KOL-3-SD memiliki derajat kristalinitas sebesar 37,62, 36,72 dan 35,55. Hasil DSC ETO-KOL-3-SR, ETO-KOL-3-SE dan ETO-KOL-3-SD memiliki Tg sebesar 72,78, 80,87 dan 88,48°C. Hasil SEM ETO-KOL-3-SR dan ETO-KOL-3-SE memiliki bentuk lempeng irregular tetapi ETO-KOL-3-SD memiliki bentuk spherical. Hasil disolusi ETO-KOL-3-SR, ETO-KOL-3-SE dan ETO-KOL-3-SD pada media dapar fosfat pH 6,8 memiliki persen disolusi 53,39±0,34 %, 63,05±0,24% dan 72,60±0,19%. Pada penelitian ini dapat dibuktikan bahwa pembentukan dispersi padat etoricoxib dengan Kollidon® VA 64 dengan metode Spray Drying merupakan salah satu pendekatan yang potensial untuk meningkatkan laju disolusi etoricoxib.
Physical Interaction between Curcumin and Paracetamol in the Binary Mixture and Its Impact on the Solubility of Curcumin Fikri Alatas; Susi Sunarty Sigalingging; Citra Permata Sari; Fahrauk Faramayuda; Sundani Nurono Soewandhi
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 21 No. 01 Juli 2024
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pharmacy.v0i0.15170

Abstract

Curcumin, found in turmeric (Curcuma longa L.), is a pharmacologically active component with hepatoprotective properties. In addition to alleviating pain, the synergistic effects of paracetamol protect the liver from harm. Oral solid dose formulations of curcumin have low bioavailability due to its low solubility. This study aims to characterize the physical interactions that occur in the binary mixture of curcumin and paracetamol and to determine its impact on the solubility of curcumin. The curcumin-paracetamol binary mixture with a 1:1 stoichiometric ratio was prepared by a wet grinding method with the addition of a small amount of ethanol. The characterization of the physical interactions in the wet milling result was carried out using a powder X-ray diffractometer (PXRD) and a differential scanning calorimeter (DSC). Evaluation of physicochemical properties was carried out by testing its solubility in water and its dissolution rate in 40% v/v ethanol. The PXRD pattern of the curcumin-paracetamol milling result did not show any new peaks that were different from the typical peaks of the two components (curcumin form I and paracetamol form 1). The thermogram DSC of the binary mixture curcumin-paracetamol (1:1) only showed one wide endothermic transition at 151.2°C which is below the melting point of curcumin and paracetamol which is thought to be the melting point of the eutectic mixture of curcumin-paracetamol (1:1). The solubility of curcumin from the curcumin-paracetamol (1:1) milled binary mixture was 8.3-folds higher than that of pure curcumin. The dissolution rate of curcumin from the wet milling of the curcumin-paracetamol binary mixture (1:1) was also faster than that of pure curcumin. The research results can be concluded that wet milling of the binary mixture of curcumin-paracetamol (1:1) with a little ethanol shows a physical interaction with the formation of a simple eutectic mixture between the two substances which has an impact on increasing the solubility and dissolution rate of curcumin.