Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Neurogenic Bladder Management in Spinal Medula Trauma: A Literature Review Rahman, Aditya Nur; Setiawan, Iwan; Nursanto, Dodik; Sulistyani, S
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 15th University Research Colloquium 2022: Mahasiswa (Student Paper Presentation) A
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Neurogenic bladder is a condition in which the urinary sphincter is unable to increase or decrease its pressure in response to pressure on the bladder. This occurs due to damage to the central, peripheral, or autonomic nervous systems. Neurogenic bladder in spinal cord trauma patients is a condition that can pose a significant risk to the patient. Many medical and intervention approaches are available today. The goals of treatment for neurogenic bladder are to stop urine leakage due to overactivity of the detrusor muscle during bladder filling, to reduce intravesical pressure and vesicoureteral reflux, and to treat and prevent complications such as urinary tract infections. Purpose : Knowing the various neurogenic bladder management in spinal cord trauma patients. Method : This research is a literature review type. Literature review data was collected by browsing published articles on Pub Med, Science Direct, and Google Scholar databases. Outcome : There were 3 articles discussing the use of Clean Intermitten Catheterization (CIC), 4 articles discussing electrical stimulation, and 2 articles discussing Botox. Electrical stimulation can increase bladder capacity and suppress detrusor activity. The use of CIC makes it easier for the patient to submit urine. Botox will inhibit involuntary detrusor contractions. Conclusion : There are various treatments for neurogenic bladder in spinal cord trauma patients, such as the use of intermitten catheters, Botox injections, and electrical stimulation.
HUBUNGAN KUALITAS TIDUR DAN TINGKAT STRES DENGAN PRESTASI BELAJAR PADA SANTRIWATI SMA PESANTREN BINA MADANI PUTRI MAGELANG Zulfa, Inas; Fauziyah, Nida; Nursanto, Dodik; Herawati, Erna
Jurnal Wiyata Penelitian Sains dan Kesehatan Vol 12 No 2 (2025)
Publisher : LP2M IIK (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Ilmu Kesehatan) Bhakti Wiy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56710/wiyata.v12i2.966

Abstract

Abstrak Sejarah Artikel : Submitted:2025-02-07 Accepted: Publish Online: Latar Belakang: Prestasi belajar merupakan indikator penting dalam menilai pengetahuan siswa. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 mengungkapkan bahwa prestasi belajar siswa Indonesia berada di bawah rata-rata dunia. Prestasi belajar dapat dipengaruhi oleh kualitas tidur serta tingkat stres, terutama di lingkungan pesantren, dengan rutinitas yang padat dan peraturan yang ketat. Penelitian terdahulu mengungkapkan hasil yang berbeda-beda terkait kaitan antara kualitas tidur, tingkat stres, dan prestasi belajar. Tujuan: Mengkaji hubungan kualitas tidur dan tingkat stres terhadap prestasi belajar pada Santriwati SMA Pesantren Bina Madani Putri Magelang. Metode: Desain penelitian ini adalah kuantitatif dengan metode cross-sectional. Sampel berjumlah 75 santriwati yang ditentukan melalui stratified random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner PSQI, K10, dan nilai rapor, lalu dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil: Tidak ada hubungan antara kualitas tidur dan prestasi belajar (p=0,727), tetapi hubungan signifikan ditemukan antara tingkat stres dan prestasi belajar (p=0,028). Simpulan: Kualitas tidur tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan prestasi belajar, sedangkan tingkat stres terbukti memiliki hubungan yang signifikan.
Analisis Tatalaksana Furunkel Pada Vestibular Nasal Sheli Nurhaliza; Dodik Nursanto; Maretta Nuraini Amanda Putri; Ajeng Nurlingga Dewi Sukirnowati; Cheni Nur Fajri
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 4 No. 10 (2024): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v4i10.2046

Abstract

Furunkel vestibular nasal merupakan peradangan akut yang terjadi di folikel rambut vestibular nasi akibat infeksi bakteri, yang sering kali disebabkan oleh Staphylococcus aureus. Infeksi ini rentan terjadi di daerah dengan kebersihan rendah, kondisi iklim lembab, dan area kulit yang sering mengalami gesekan. Furunkel sering disalahartikan sebagai jerawat biasa, sehingga keterlambatan penanganan dapat menyebabkan komplikasi serius seperti trombosis sinus kavernosus dan meningitis. Studi literatur ini mengulas faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya furunkel, termasuk riwayat diabetes, obesitas, serta penggunaan antibiotik jangka panjang, yang dapat meningkatkan insidensi furunkel rekuren. Terapi yang direkomendasikan meliputi penggunaan antibiotik topikal mupirosin, insisi, dan drainase pada lesi yang lebih besar, serta pencegahan kekambuhan dengan kebersihan yang baik dan penggunaan krim mupirosin intranasal. Penelitian ini menekankan pentingnya diagnosis dini dan pengobatan yang tepat untuk mengurangi risiko komplikasi serius serta meningkatkan kualitas hidup pasien.
EDUKASI TERPADU PERSONAL HIGIENE UNTUK MENINGKATKAN DERAJAT KESEHATAN MURID SEKOLAH DASAR MUHAMMADIYAH SAMBON KECAMATAN BANYUDONO, BOYOLALI Riandini Aisyah; Siti Soekiswati; Sa'idatul Fithriyah; Asri Alfajri; Dodik Nursanto; Restu Triwulandani Tolibin; Nur Ariska Nugrahani; Ardiva Fatimatul Khofifah; Aurora Revi Samantha; Balqis Dhiya Nafisa; Devina Maydiona Maharani; Fawwaz Mahardika Pranata; Faza Ovita Balqis; Handika Muhammad Bimantoro; Rengganis Sungsang Kosala; Revalina Azlia Bilbina Balqis; Salma Zakiyatusholihat; Sri Dewi Astutik; Jauza'naia Kusmawan
Jurnal Pengabdian Masyarakat Medika Vol 6. No. 1, Maret 2026
Publisher : Universitas Muhamamdiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jpmmedika.v6i1.16119

Abstract

ABSTRAK Rendahnya kebersihan diri dan keterbatasan fasilitas sanitasi di Sekolah Dasar (SD) meningkatkan risiko penyakit menular, termasuk infeksi cacing. Di SD Muhammadiyah Sambon, Boyolali, siswa masih kurang memahami thaharah, penyakit menular, dan infeksi kecacingan. Fasilitas kebersihan di sekolah juga belum sepenuhnya mendukung praktik hidup bersih. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan siswa tentang thaharah sebagai dasar kebersihan diri, mencegah penyakit menular dan infeksi cacing, serta membantu mengoptimalkan fasilitas kebersihan di sekolah. Metode yang digunakan meliputi pre-test, penyampaian materi interaktif dengan media visual, diskusi, simulasi perilaku, dan post-test untuk mengevaluasi perubahan pengetahuan. Kegiatan dilaksanakan pada bulan Januari 2026 dengan peserta kegiatan adalah siswa-siswi kelas V SD Muhammadiyah Sambon, Boyolali. Penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan signifikan pengetahuan siswa, terutama pada materi infeksi kecacingan. Penyediaan fasilitas kebersihan turut mempermudah praktik langsung di sekolah. Hal ini, menegaskan pentingnya edukasi thaharah dan optimalisasi fasilitas sanitasi untuk mendukung perilaku hidup bersih dan sehat. ABSTRACT Low personal hygiene and limited sanitation facilities in elementary schools increase the risk of communicable diseases, including helminth infections. Students’ understanding of thaharah, communicable diseases, and helminth infections Muhammadiyah Sambon Elementary School, Boyolali, remains limited. School hygiene facilities also do not yet fully support clean and healthy practices. This community service program aimed to improve students’ knowledge of thaharah as a foundation for personal hygiene, prevent communicable diseases and helminth infections, and optimize school hygiene facilities. The methods included a pre-test, interactive learning using visual media, discussions, behavioral simulations, and a post-test to evaluate changes in knowledge. The activity was conducted on January 2026, with level 5 Muhammadiyah Sambon, Boyolali elementary school students participating. The results demonstrated a significant increase in students’ knowledge, particularly regarding helminth infections. The provision of hygiene facilities also facilitated direct practice at school. These findings highlight the importance of thaharah education and the optimization of sanitation facilities in promoting clean and healthy behaviors.
PENGARUH PERUBAHAN KADAR pH KULIT TERHADAP NAPKIN ECZEMA Adi Topan Ramdani; S Sulistiyani; Devi Usdiyana Rosyidah; Dodik Nursanto
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2021: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Thalam
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Napkin eczema atau diaper dermatitis adalah reaksi inflamasi pada kulit daerah perineum dan perianal (daerah popok). Diketahui Napkin eczema ini mempengaruhi 7% sampai 35% dari populasi umum, dengan insiden terbesar antara usia 9 sampai 12 bulan. Penggunaan popok merupakan salah satu faktor penyababnya. Keberadaan feses dan urin yang menumpuk pada popok dalam waktu yang lama dapat meningkatkan pH kulit menjadi basa sehingga berpengaruh terhadap kerusakan barrier kulit. Apabila hal ini terjadi secara terus menerus dapat menyebabkkan gangguan kulit seperti eritem dan maserasi karena peningkatan pH kearah basa, dengan nilai (pH >7). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa apakah terdapat pengaruh perubahan kadar pH terhdap kejadian Napkin eczema. Desain penelitian menggunakan metode literature review. Sumber data sekunder yang diperoleh berupa artikel jurnal internasional. Pencarian literature dalam literature review ini menggunakan dua database yaitu Pubmed, Sciene Direct dan dilaporkan dengan mengunakan metode PRISMA dan metode narrative. kata kunci tingkat pH kulit or Napkin eczema or dermatitis popok or diaper rash. Penelitian dilakukan tanggal 20 Desember 2020 Hasil penelitian terdapat data gabungan dari 2 database sebanyak 298, didapatkan 24 artikel dari indexing PubMed dan 274 artikel dari indexing Science Direct. Setelah duplikat artikel dihilangkan, total tersisa 298. Kemudian setelah diidentifikasi judul dan abstrak dari masing-masing artikel tersebut, 291 artikel tidak memenuhi kriteria inklusi, tersisa 7 artikel yang sesuai. Dari ke 7 artikel tersebut semuanya dapat diakses oleh peneliti dan diinklusikan dalam penelitian ini. Simpulan ada pengaruhnya perubahan kadar pH kulit terhadap kejadian Napkin eczema serta kondisi pH basa (>7) paling banyak menyebabkan Napkin eczema. Jadi teori peneliti pada hipotesis dengan teori penelitian yang lainnya ini sama. Menjaga kadar pH kulit tetap stabil sangat penting untuk kesehatan kulit bayi. Kondisi kulit yang memiliki pH > 7,0 dan pH < 4,0 dapat merusak barrier kulit sehingga rentan terkena Napkin eczema.
Pengaruh Penggunaan Rokok Elektrik dalam Proses Patofisiologi Aterosklerosis: Sistematik Review Iqbal Maulana; Aprida Putri; Dodik Nursanto
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2023: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gaster
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan rokok elektrik akhir-akhir ini meningkat dengan cukup pesat. Kegiatan merokok dikenal memiliki pengaruh terhadap morbiditas dan mortalitas dari gangguan sistem kardiovaskular. Salah satu gangguan kardiovaskular dengan prevalensi yang tinggi adalah penyakit aterosklerosis Pada penelitian ini, penulis menjabarkan mengenai bukti-bukti yang menunjukkan dampak penggunaan rokok elektrik terhadap kejadian aterosklerosis serta membahas dengan pendekatan fisiologis dan patofisiologis dari pengaruh paparan langsung rokok elektrik yang memicu kejadian aterosklerosis tersebut. Penelitian ini adalah studi systematic review. Data yang diperoleh merupakan data sekunder berupa artikel jurnal internasional. Pencarian literature dalam systematic review ini menggunakan dua basis data yaitu Pubmed dan Science Direct. 9 artikel diinklusikan dalam penelitian ini, setelah dilakukan proses seleksi menggunakan metode PRISMA. 5 artikel merupakan penelitian RCT yang dilakukan pada manusia, sedangkan 4 artkel lainya berupa penelitan lab secara in vivo dan in vitro yang semuanya meneliti tentang dampak rokok elektrik terhadap kejadian aterosklerosis. Berdasarkan hasil review secara sistematis dari artikel tersebut, disimpulkan bahwa rokok elektrik memengaruhi kejadian aterosklerosis karena kandungannya berupa nikotin dan bahan lain, yang dapat memicu terjadinya berbagai mekanisme patofisiologis terhadap aterosklerosis yang dapat diukur dengan marker biologi tertentu.
Analysis of the Predictive Value of Procalcitonin and C-Reactive Protein for Coalescent Mastoiditis in Pediatric Patients: A Narrative Review Hanief Rifqi Falih; Hanimmatul Udmanurlaili; Muhammad Adnan; Raihan Daffa Al-Ghiffary; Mumtaz Al-Mukaffa; Dodik Nursanto
JURNAL IMPLEMENTA HUSADA Vol 7, No 1 (2026)
Publisher : UMSU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/jih.v7i1.26906

Abstract

Abstract: Coalescent mastoiditis (CM) is a severe complication of acute otitis media in children for which definitive diagnosis requires a CT scan, creating a clinical need for non-invasive biomarkers. This narrative review aims to evaluate the roles of C-reactive protein (CRP) and procalcitonin (PCT) as predictors of CM. The methodology involved a structured literature search of databases including PubMed and Scopus for publications within the last five years (2020-2025). The results indicate that CRP is a reliable biomarker, with a level of ≥98.7 mg/L predicting the need for surgical intervention with 100% sensitivity and 74.6% specificity. Conversely, evidence for PCT is significantly lacking; indirect data suggest its levels do not consistently increase in localized infections such as CM. In conclusion, CRP is a validated and clinically useful biomarker for the risk stratification of CM in children, whereas the role of PCT remains unproven and appears to be limited.