Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Profil Klinikopatologi Pasien Tumor Trofoblas Gestasional yang Dilakukan Operasi di RSUP DR. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2017-2020 Aviscena Fahmi Ali; Dodi Suardi; Hermin Aminah Usman; Gatot Nyarumenteng Adhipurnawan Winarno; Andi Kurniadi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 5 Nomor 2 September 2022
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v5n2.381

Abstract

Tujuan: Mengetahui proporsi klinis dan histopatologi pasien tumor trofoblas gestasional yang dilakukan operasiMetode: Penelitian ini menggunakan desain studi deskriptif, dengan pengambilan data menggunakan total sampling. Kriteria inklusi adalah Pasien tumor trofoblas gestasional yang dilakukan operasi dengan data lengkap.Hasil: Total 27 kasus, didapatkan bahwa pasien tumor trofoblas gestasional yang dilakukan operasi sebagian besar memiliki kategori usia ≥40 tahun (59,26%), paritas multipara (66,67%), kehamilan sebelumnya mola (66,67%), interval dengan kehamilan sebelumnya >12 bulan (55,56%), kadar β-hCG sebelum operasi 103 -<104 mIU/ml (40,74%), ukuran tumor terbesar ≥5 cm (88,89%), lokasi metastasis tidak ada (74,07%), jumlah metastasis 0 (74,07%), kegagalan kemoterapi agen multipel (74,07%), jenis operasi histerektomi (96,30%), kadar β-hCG setelah operasi <103 mIU/ml (77,78%),  dan gambaran histopatologi koriokarsinoma (88,89%). Diskusi: Penelitian ini didapatkan bahwa seluruh pasien tumor trofoblas gestasional yang dilakukan operasi memiliki skor FIGO/WHO ≥7 yang berarti berisiko tinggi.Kesimpulan: Kasus-kasus tumor trofoblas gestasional yang dilakukan operasi pada penelitian ini sebagian besar memberikan profil klinis berupa multipara, jenis kehamilan sebelumnya mola, dan kegagalan kemoterapi agen multipel dengan jenis histopatologi koriokarsinoma.Profile Clicopathological of Gestational Trophoblastic Neoplasia Patients Who Underwent Surgery at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung in 2017–2020AbstractObjective: Knowing the clinical and histopathological proportion of gestational trophoblastic neoplasia patients who underwent surgery.Methods: This study uses a descriptive study design and the data collection using total sampling. The inclusion criteria gestational trophoblastic neoplasia patients who underwent surgery with complete data.Result: : A total of 27 cases, it was found that the most GTN patients who underwent surgery had an age category of 40 years (59.26%), multiparity (66.67%), previous molar pregnancies (66.67%), intervals with previous pregnancies >12 months (55.56%), β-hCG levels before surgery 103 -<104 mIU/ml (40.74%), the largest tumour size 5 cm (88.89%), no metastatic site (74.07 %), failure of multiple agent chemotherapy (74,07%), hysterectomy surgery (96.30%), β-hCG level after surgery <103 mIU/ml (77.78% ), and histopathological features of choriocarcinoma (88.89%).Discussion: In this study, it was found that all gestational trophoblastic neoplasia patients who underwent surgery had a FIGO/WHO score ≥7 which means high risk.Conclusion: The gestational trophoblastic neoplasia cases that underwent surgery in this study presented a clinical profile of multiparity, previous molar pregnancy, and failure of multiple agent chemotherapy with histopathological type of choriocarcinoma.Key words: Profile, gestational trophoblastic neoplasia, operation
Profil Penderita Kanker Endometrium di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Periode Tahun 2017-2020 Siti Salima; Andi Kurniadi; Gatot N.A. Winarno; Dodi Suardi; Hanifah Nurisa Putri
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 5 Nomor 2 September 2022
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v5n2.386

Abstract

Tujuan: Mengetahui profil penderita kanker endometrium.Metode: Penelitian metode deskriptif dengan menggunakan data sekunder. Kriteria inklusi penelitian yaitu pasien dengan diagnosis kanker endometrium dilihat berdasarkan hasil histopatologi.Hasil: Distribusi pasien mayoritas berusia >50 tahun (62,0%), berasal dari Kota/Kabupaten Bandung (32,5%), memiliki indeks massa tubuh 18,5-22,9 kg/m2 (27,0%), multipara (36,5%), status postmenopause (59,0%), memiliki usia menarche ≥12 tahun (88,0%), tidak memiliki riwayat diabetes mellitus (66,0%) dan hipertensi (27,0%), terdiagnosis ketika stadium I (47,5%), dengan derajat diferensiasi baik/grade I (31,0%) dan tipe I endometrioid adenocarcinoma (82,5%). Terapi yang paling sering adalah tindakan operasi (50,0%) dengan tipe pembedahan histerektomi total dan salfingooforektomi bilateral (44,21%).Kesimpulan: Pasien kanker endometrium di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode tahun 2017-2020 ditemukan paling banyak berusia >50 tahun, dari Kota/Kabupaten Bandung, indeks massa tubuh normal, multipara, postmenopause, usia menarche ≥12 tahun, tidak ada riwayat DM dan hipertensi, terdiagnosis pada stadium I dengan tipe I endometrioid adenocarcinoma dan derajat diferensiasi baik (grade I), serta dilakukan tindakan operasi dengan tipe pembedahan histerektomi total dan salfingooforektomi bilateral.Profile of Endometrial Cancer Patients in Dr. Hasan Sadikin Central General Hospital Bandung in 2017–2020AbstractObjective: Identifying the profile of endometrial cancer patientsMethods: This research used descriptive method by collecting secondary data. The inclusion criteria was patients with endometrial cancer diagnosis based on the histopathological results.Results: In this research, the majority of patients were aged >50 years (62,0%), came from Bandung City/Regency (32,5%), with body mass index of 18,5-22,9 kg/m2 (27,0%), multiparous (36,5%), postmenopause (59,0%), menarcge age of  ≥12 years (88,0%), no history of diabetes mellitus (66,0%) and hypertension (27,0%), diagnosed at stage I (47,5%), with histopathological results well differentiated/grade I (31,0%) and type I endometrioid adenocarcinoma (82,5%). Surgery (50,0%) with the type of total hysterectomy and bilateral salpingoophorectomy (44,21%) was the most common treatment.Conclusion: In 2017-2020, endometrial cancer patient in Dr. Hasan Sadikin Central General Hospital Bandung were mostly found in the aged of >50 years, came from Bandung City/Regency, normal body mass index, multiparous, postmenopause, menarche age of ≥12 years, no history of diabetes mellitus and hypertension, diagnosed at stage I with histopathological result type I endometrioid adenocarcinoma and well differentiated (grade I), and the treatment was surgery with the type of total hysterectomy and bilateral salpingoophorectomy.Key words: Endometrial cancer, profile, risk factor
The Analysis of Premature Rupture of Membrane Outcomes: Comparison Between 34-36 Weeks and Term Gestation Yordian, Kendry Savira; Pribadi, Adhi; Syam, Hanom Husni; Nugrahani, Annisa Dewi; Handono, Budi; Susiarno, Hadi; Suardi, Dodi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 2 Juli 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i2.710

Abstract

Introduction: This study analysed the maternal and neonatal outcomes in premature rupture of membrane at 34-36 weeks of gestation compared to term gestation to provide an overview of the current protocol’s efficacy which is currently widely varied. Method: This was a cross-sectional study using a simple random sampling technique. The subject of this study consisted of a total of 450 pregnant women diagnosed with PPROM at 34-36 weeks and term gestation during the period January 2019-December 2021. P<0.05 was considered statistically significant. Results: That women with premature rupture of membrane (PROM) at term gestation had a higher risk of 1.13 times (OR= 1.13, CI 95%) for neonatal asphyxia, 1.34 times for early neonatal death (OR= 1.34, CI 95%), and 4.03 times for developing clinical chorioamnionitis (OR= 4.03, CI 95%) compared to the 34-36 weeks of gestation group. There was no statistically significant difference between gestational age and the incidence of early neonatal death (P= 0.70). There were no maternal deaths in this study. Conclusion: the management protocol applied for both groups had the same efficacy. The incidence of clinical chorioamnionitis was higher in the term gestation group, which may be associated with risk factors such as COVID-19 and hepatitis B.Analisis Hasil Ketuban Pecah Dini: Perbandingan Antara Usia Kehamilan 34-36 Minggu dan Masa Kehamilan Cukup BulanAbstrakPendahuluan: Penelitian ini menganalisis hasil maternal dan neonatal pada ketuban pecah dini pada usia kehamilan 34 - 36 minggu dibandingkan dengan kehamilan jangka panjang untuk memberikan gambaran tentang kemanjuran protokol saat ini yang sangat bervariasi. Metode: Penelitian ini adalah studi cross-sectional menggunakan teknik simple random sampling. Subjek penelitian ini terdiri atas total 450 wanita hamil yang didiagnosis dengan PROM pada 34 - 36 minggu dan kehamilan jangka panjang selama periode Januari 2019 - Desember 2021. P<0,05 dianggap signifikan secara statistik. Hasil: hasil analisis menunjukan bahwa wanita dengan ketuban pecah dini pada usia kehamilan memiliki risiko lebih tinggi 1,13 kali (OR= 1,13, CI 95%) untuk asfiksia neonatal, 1,34 kali untuk kematian neonatal dini (OR= 1,34, CI 95%), dan 4,03 kali untuk mengembangkan chorioamnionitis klinis (OR= 4,03, CI 95%) dibandingkan dengan kelompok kehamilan 34 - 36 minggu. Tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik antara usia kehamilan dan kejadian kematian neonatal dini (P = 0,70). Tidak ada kematian ibu dalam penelitian ini. Kesimpulan: Protokol manajemen yang diterapkan untuk kedua kelompok memiliki kemanjuran yang sama. Insiden chorioamnionitis klinis lebih tinggi pada kelompok kehamilan, yang mungkin terkait dengan faktor risiko seperti COVID-19 dan hepatitis B.Kata kunci: Ketuban pecah dini, asfiksia, kematian neonatal
Deteksi Dini Kanker Payudara dan Lesi Prakanker Serviks pada Tenaga Kesehatan Pringgowibowo, Jaeni; Suardi, Dodi; Anwar, Ruswana
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 3 November 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v6i3.568

Abstract

Tujuan: Kegiatan ini untuk menganalisis pengetahuan kanker payudara dan serviks tenaga kesehatan di faskes pertama kabupaten Bogor.Metode: Pelatihan deteksi dini kanker serviks dan payudara tenaga kesehatan di faskes pertama kabupaten Bogor dilakukan 6 hari melalui kuliah, dry lab, dan praktik lapangan. Dilakukan pre-test dan post-test untuk menilai pengetahuan tenaga kesehatan faskes pertama kabupaten Bogor.Hasil: Dari 75 responden perwakilan dari Puskesmas di kabupaten Bogor, 6,67% melakukan pelayanan deteksi dini kanker payudara dan 4,00% melakukan pelayanan deteksi dini kanker serviks. Pengetahuan responden setelah diklat, 100% responden menjawab benar tanda klinis IVA test negatif, pembacaan hasil IVA test setelah 1 menit, anjuran setelah krioterapi, tidak berhubungan selama 4 minggu setelah krioterapi, langkah pemeriksaan payudara, hal yang dilakukan bila menemukan kelainan pada payudara dan setelah digunakan, spekulum didekontaminasi 10 menit direndam dalam larutan klorin 0,5%. Pengetahuan meningkat signifikan mengenai perubahan leher rahim yang abnormal hampir selalu terjadi pada sambungan skuamo-kolumnar, yaitu naik 42,67% (56,00%pada menjadi 98,67% pada post-test).Kesimpulan: Terdapat peningkatan pengetahuan dan keterampilan setelah pelatihan kanker payudara dan serviks, terutama deteksi dini lesi prakanker serviks dan payudara, sehingga dapat disimpulkan upaya pelatihan penting untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan deteksi dini kanker payudara dan serviks.Knowledge of Healthcare Providers on Early Detection of Breast Cancer and Precancerous Cervical LesionsAbstractObjective: This community service program aims to analyze the level of knowledge of breast cancer and cervical cancer by providing solutions through training for healthcare providers at primary health facilities in Bogor Regency.Method: Training on early detection of cervical cancer and breast cancer for doctors and midwives at primary health facilities at the Bogor Regency health office. The training was carried out for 6 days and was divided into lecture delivery, dry lab, and fieldwork practice at Padasuka Health Center and Puter Health Center. Pre-tests and post-tests were carried out to assess the level of knowledge of healthcare providers at primary health facilities in Bogor Regency.Results: Out of 75 representative respondents from each health center in Bogor Regency, 6.67% provided early detection of breast cancer, and 4.00% provided early detection of cervical cancer. As for respondents’ knowledge after being given training, as many as 100% of respondents answered correctly about the clinical signs of a negative VIA test reading the VIA test results after 1 minute, recommendations after cryotherapy, not to have sexual intercourse for 4 weeks after cryotherapy, steps for breast examination, what to do if they find abnormalities in the breast and after use, and the speculum that should be decontaminated for 10 minutes by immersion in 0.5% chlorine solution. Respondents’ knowledge significantly increased regarding abnormal cervical changes-dysplasia almost always occurred in the squamous columnar junction, which went up 42.67% (from 56.00% on the pre-test to 98.67% on the post-test).Conclusion: There was an increase in knowledge and skills after being given training on breast cancer and cervical cancer, especially knowledge about early detection of precancerous cervical lesions and breast cancer, so it can be concluded that training efforts are very important to increase knowledge and skills for early detection of breast cancer and cervical cancer.Key words: cervical cancer, breast cancer, VIA test
Karakteristik Tumor Trofoblas Gestasional Risiko Tinggi di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2019 – 2021 Hidayat, Yudi Mulyana; Megantari, Salsa Bila; Harsono, Ali Budi; Suardi, Dodi; Mantilidewi, Kemala Isnainiasih
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 3 November 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v6i3.493

Abstract

Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik demografi dan klinis pasien TTG risiko tinggi di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2019 – 2021.Metode: Penelitian ini menggunakan analisis secara deskriptif yang didapatkan melalui rekam medis pasien TTG risiko tinggi di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2019 – 2021 dengan metode total sampling. Hasil: Terdapat 69 rekam medis pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil tersebut menunjukkan banyaknya pasien yang memiliki pendidikan terakhir pada jenjang SMA (49%), tidak memiliki pekerjaan (84%) yang didominasi oleh ibu rumah tangga, beretnis Sunda (93%), berasal dari daerah wilayah IV Priangan (54%), berusia lebih dari 40 tahun (57%), multipara (61%), memiliki riwayat mola (71%), interval dengan kehamilan sebelumnya 7 hingga 12 bulan (54%), kadar β-hCG yang diukur sebelum terapi sebanyak 10.000 - <100.000 mIU/mL (42%), tidak terjadi metastasis (68%)  diikuti hasil terjadinya metastasis pada paru-paru (26%), tidak memiliki hasil pemeriksaan tipe histopatologi (61%) diikuti hasil tipe histopatologi koriokarsinoma (33%), dan memiliki stadium I  (59%).Kesimpulan: Kasus TTG risiko tinggi di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2019 – 2021 lebih umum terjadi pada pasien yang memiliki pendidikan terakhir pada jenjang SMA, tidak memiliki pekerjaan yang didominasi oleh ibu rumah tangga, beretnis Sunda, berasal dari daerah wilayah IV Priangan, berusia lebih dari 40 tahun, riwayat multipara, riwayat mola, interval dengan kehamilan sebelumnya 7 hingga 12 bulan, kadar β-hCG yang diukur sebelum terapi sebanyak 10.000 - < 100.000 mIU/mL, tidak terjadi metastasis, dan memiliki stadium I.Characteristics of High Risk Gestational Trophoblast Neoplasia at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung in 2019 – 2021AbstractObjective: This research aims to identify the demographic and clinical characteristics of patients with high-risk GTN at Dr. Hasan Sadikin Bandung in 2019–2021.Method: This research used descriptive analysis, which was obtained from the medical records of patients with high-risk GTN at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung in 2019–2021 using the total sampling method.Results: 69 patient medical records met the inclusion and exclusion criteria. These results show that the number of patients who have had their last education at the high school level (49%), do not have a job (84%), are dominated by housewives, are of Sundanese ethnicity (93%), and come from region IV Priangan (54%), aged over 40 years (57%), multiparous (61%), had a history of molar (71%), an interval with a previous pregnancy of 7 to 12 months (54%), β-hCG level measured before therapy of 10,000– 100,000 mIU/mL (42%), no metastases (68%) followed by lung metastases (26%), no histopathological type (61%) followed by choriocarcinoma histopathological type (33%), and staging I (59%).Conclusion: High-risk GTN cases at Dr. Hasan Sadikin Bandung in 2019 – 2021 are more common in patients who have the last education at the high school level, do not have a job dominated by housewives, are of Sundanese ethnicity, come from the IV Priangan region, are over 40 years old, have a history of multiparas, a history of moles, an interval with a previous pregnancy of 7 to 12 months, β-hCG level measured before therapy was 10,000– 100,000 mIU/mL, no metastases occurred, and had stage I.Key words: Characteristics, Demographic, Gestational Trophoblastic Neoplasia, High Risk
Surgical Approach for Uterine Perforation due to Gestational Trophoblastic Neoplasia: A Case Report Susilo, Sulaeman Andrianto; Homenta, Christian; Mawardinata, Phindo; Sinaga, Ferry Iskandar Kharisma; Suardi, Dodi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.776

Abstract

Introduction: The most common life-threatening complication of gestational trophoblastic neoplasia (GTN) is uterine perforation. In several cases, a surgical approach becomes inevitable. However, there are numerous considerations regarding the technique of hysterectomy.Case Presentation: A 37-year-old (P1A2) woman came to the ER with severe abdominal pain 12 h before admission. The patient had been previously diagnosed with GTN and was scheduled to undergo methotrexate chemotherapy. However, due to the development of an acute abdomen, accompanied by low hemoglobin levels and free fluid showing signs of uterine perforation, an emergency total abdominal hysterectomy was performed. The intra-operative findings revealed intra-abdominal bleeding and uterine perforation at the right fundal side of the uterus. The patient underwent postoperative chemotherapy and showed significant improvement. Conclusion: Regardless of the efficacy of chemotherapy in GTN, abdominal hysterectomy proved to be beneficial for treating uterine perforation in an emergency setting.Pendekatan Pembedahan pada Perforasi Uterus Akibat Tumor Trofoblastik Gestasional : Sebuah Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Komplikasi paling umum yang mengancam jiwa dari Tumor Trofoblastik Gestasional (TTG) adalah perforasi uterus. Pendekatan pembedahan tidak dapat dihindari dalam beberapa kasus. Namun, ada banyak pertimbangan mengenai teknik pembedahan dalam setiap kasus.Laporan Kasus: Seorang wanita berusia 37 tahun (P1A2) datang ke UGD dengan nyeri perut hebat 12 jam sebelum masuk rumah sakit. Pasien didiagnosis dengan neoplasia trofoblastik gestasional dan dijadwalkan untuk kemoterapi metotreksat. Abdomen akut, kadar hemoglobin rendah, cairan bebas menunjukkan tanda perforasi uterus. Temuan intraoperatif adalah perdarahan intra-abdomen dan perforasi uterus di sisi fundus kanan uterus. Histerektomi abdomen total darurat dilakukan. Pasien menjalani kemoterapi pasca-operasi dengan kondisi yang membaik.Kesimpulan:Terlepas dari efektivitas kemoterapi pada TTG, histerektomi abdominal bermanfaat untuk mengobati perforasi uterus dalam keadaan darurat.Kata kunci: Histerektomi, perforasi uterus, trofoblastik neoplasia 
Management of Ovarian Cancer in the Second Trimester of Pregnancy: A Case Report and Literature Review Syarief, Sri Dewi Rahmawati; Ritonga, Mulyanusa Amarullah; Anwar, Ruswana; Suardi, Dodi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.778

Abstract

Introduction: Ovarian carcinoma during pregnancy is a rare but clinically significant condition that requires swift and precise management to optimize maternal and fetal outcomes. This case report highlights the successful conservative surgical management of malignant mucinous ovarian cancer diagnosed in the second trimester. It provides insights into the feasibility and safety of surgical intervention during pregnancy, contributing valuable evidence to the existing literature on oncologic care during pregnancy.Case Illustration: A 21-year-old woman, G1P0A0, presented at 17-18 weeks of gestation with no complaints related to her pregnancy but reported abdominal enlargement over the past three months. At 6 weeks gestation, the patient was diagnosed with an ovarian cyst, later confirmed as a large cystic mass on the right ovary with papillary components through ultrasound. The IOTA simple rules indicate that the mass was suspected to be malignant. The provisional diagnosis was suspected ovarian malignancy with a differential diagnosis of multilocular ovarian cyst. The patient underwent a planned right oophorectomy at 18 weeks gestation. Histopathology revealed a mucinous malignant tumor of the right ovary that had not invaded the right fallopian tube. The pregnancy was continued, and the patient was closely monitored, with plans for further evaluation postpartum.Conclusion: This case highlights the feasibility and safety of conservative surgical management of ovarian cancer in the second trimester, demonstrating that timely intervention can optimize both maternal and fetal outcomes. The successful continuation of pregnancy after surgery reinforces the importance of individualized, multidisciplinary approaches to oncologic care during pregnancy.Penatalaksanaan Kanker Ovarium pada Kehamilan Trimester Kedua: Sebuah Laporan Kasus dan Tinjauan PustakaAbstrakPendahuluan: Karsinoma ovarium pada kehamilan merupakan kondisi yang jarang terjadi tetapi, memiliki implikasi klinis yang signifikan. Penatalaksanaannya memerlukan keputusan yang cepat dan tepat untuk mengoptimalkan hasil bagi ibu dan janin. Laporan kasus ini menyoroti keberhasilan manajemen bedah konservatif pada kanker ovarium mucinous ganas yang terdiagnosis pada trimester kedua kehamilan. Kasus ini memberikan wawasan mengenai kelayakan dan keamanan tindakan bedah selama kehamilan, serta berkontribusi terhadap literatur ilmiah terkait onkologi kehamilan.Ilustrasi Kasus: Seorang wanita berusia 21 tahun, G1P0A0, datang pada usia kehamilan 17 – 18 minggu tanpa keluhan, namun melaporkan pembesaran perut selama tiga bulan terakhir. Pada usia kehamilan 6 minggu, pasien didiagnosis dengan kista ovarium yang kemudian dikonfirmasi sebagai massa kistik besar pada ovarium kanan dengan komponen papiler melalui pemeriksaan ultrasonografi. Berdasarkan IOTA simple rules, massa tersebut dicurigai ganas. Diagnosis sementara adalah dugaan keganasan ovarium dengan diagnosis banding kista ovarium multilokular. Pasien menjalani operasi ooforektomi kanan yang terencana pada usia kehamilan 18 minggu. Hasil histopatologi menunjukkan tumor mukinosa ganas pada ovarium kanan yang tidak menyerang tuba falopi kanan. Kehamilan dilanjutkan, dan pasien dipantau secara ketat dengan rencana evaluasi lebih lanjut setelah persalinan.Kesimpulan: Kasus ini menyoroti kelayakan dan keamanan manajemen bedah konservatif pada kanker ovarium trimester kedua. Intervensi yang tepat dapat mengoptimalkan hasil bagi ibu dan janin. Keberhasilan kelanjutan kehamilan setelah tindakan bedah ini menegaskan pentingnya pendekatan multidisiplin yang disesuaikan dengan kondisi pasien dalam penatalaksanaan kanker pada kehamilan.Kata kunci: kanker ovarium, kehamilan, kanker ovarium musinosum
Improving English Teacher Competence in Implementing Differentiated Instruction Online Learning Model to Accommodate Various Student Learning Styles Nurjamin, Lucky Rahayu; Hermawan, Toto; Anila, Aan; Yuliana, Lina; Kencanawati, Kania Dewi; Fitryani, Enung; Suardi, Dodi; Lisyanti, Dedeh; Gustina, Nida Nur; Herlina, Herlina; Nurlaila, Hera; Erniyati, Erniyati; Purwanti, Yani; Sholihah, Kiah Nur
Indonesian Journal of Community Empowerment (IJCE) Vol 5 No 01 (2024): Indonesian Journal of Community Empowerment (February)
Publisher : Fakultas Kewirausahaan Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35899/ijce.v5i1.1002

Abstract

This Community Service activity aimed to enhance the competency of 37 English teachers in Garut Regency in applying the Differentiated Instruction (DI) model in online learning to accommodate diverse student learning styles, aligned with the Merdeka Belajar Curriculum. The activity was conducted on Sunday, April 14, 2024, at Aula Gedung G, IPI Garut, through interactive workshops and practical simulations. The results showed a significant increase in teachers' conceptual understanding and practical skills in designing differentiated learning. The strong positive response from teachers indicated that DI is not just an option but an urgent necessity for creating an inclusive and effective learning environment amidst student diversity. This activity recommends the need for continuous mentoring, further module development, and the establishment of professional learning communities to ensure sustained and optimal DI implementation.
HALP and SII: Innovative Biomarkers for Diagnosing Ovarian Cancer in Both Epithelial and Non-Epithelial Subtypes Ridwan, Steven; Mantilidewi, Kemala Isnainiasih; A.W., Gatot Nyarumenteng; Kurniadi, Andi; Suardi, Dodi; Salima, Siti; Rauf, Syahrul; Hidayat, Yudi Mulyana
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 2 July 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i2.882

Abstract

Objective: To evaluate the diagnostic utility of PHAL (Platelet, Hemoglobin, Albumin, and Lymphocyte), SII (Systemic Immune Inflammation Index), and SIRI (Systemic Inflammatory Response Index) for both epithelial and non-epithelial ovarian cancer.Methods: A cross-sectional study of 156 patients with ovarian masses was conducted using preoperative laboratory data to calculate PHAL, SII, and SIRI scores. Histopathology confirmed diagnoses. Population I included all ovarian cancer types and benign tumors, while Population II included only non-epithelial ovarian cancer and benign tumors. Statistical analysis using SPSS 25.0, involved ROC curve and validity testing to assess diagnostic performance.Result: SII showed the best performance in the overall population (AUC 0.738; sensitivity 71.25%; specificity 72.37%; accuracy 71.79%; LR+ 2.58; LR– 0.40). In the subgroup of non-epithelial ovarian cancer versus benign tumors, PHAL had the highest diagnostic accuracy (AUC 0.819; sensitivity 81.81%; specificity 73.68%; accuracy 75.51%; LR+ 3.11; LR– 0.25).Conclusion: PHAL and SII are effective, accessible, and low-cost biomarkers that can support ovarian cancer diagnosis through routine blood tests.PHAL dan SII: Biomarker Inovatif untuk Diagnosis Kanker Ovarium Subtipe Epitel dan Non-Epitel Abstrak Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi nilai diagnostik dari PHAL (Platelet, Haemoglobin, Albumin, dan Limfosit), SII (Systemic Immune Inflammation Index), dan SIRI (Systemic Inflammatory Response Index) pada kanker ovarium epitelial dan non-epitelial. Metode: Penelitian dengan metode potong lintang ini melibatkan 156 pasien dengan massa ovarium. Data laboratorium pra-operatif digunakan untuk menghitung skor PHAL, SII, dan SIRI. Diagnosis ditegakkan melalui pemeriksaan histopatologi. Populasi I mencakup semua jenis kanker ovarium dan tumor jinak, sedangkan Populasi II hanya mencakup kanker ovarium non-epitelial dan tumor jinak. Analisis statistik dilakukan menggunakan SPSS 25.0, termasuk analisis kurva ROC dan uji validitas untuk menilai kinerja diagnostik. Hasil: Hasil penelitian menyimpulkan bahwa SII memiliki performa terbaik pada seluruh populasi (AUC 0,738; sensitivitas 71,25%; spesifisitas 72,37%; akurasi 71,79%; LR+ 2,58; LR– 0,40). Pada subkelompok kanker ovarium non-epitelial dibandingkan dengan tumor jinak, PHAL menunjukkan akurasi diagnostik tertinggi (AUC 0,819; sensitivitas 81,81%; spesifisitas 73,68%; akurasi 75,51%; LR+ 3,11; LR– 0,25). Kesimpulan: PHAL dan SII merupakan biomarker yang efektif, mudah diakses, dan berbiaya rendah yang dapat mendukung diagnosis kanker ovarium melalui pemeriksaan darah rutin. Kata kunci: Kanker ovarium, Skor PHAL (Platelet-Hemoglobin-Albumin-Limfosit), Systemic Immune-Inflammation Index, Systemic Inflammatory Response Index
Comparison of Chondroitin Sulfate-E Expression in Benign and Malignant Epithelial Type Ovarian Tumors Mantilidewi, Kemala Isnainiasih; A.W., Gatot Nyarumenteng; Kurniadi, Andi; Suardi, Dodi; Harsono, Ali Budi; Salima, Siti; A, Aditiyono; Hapsari, Kartika; Yantisetiasti, Anglita
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 2 July 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i2.861

Abstract

Objective: Ovarian cancer is the fifth leading cause of cancer-related death in women, due to late diagnosis and limited screening methods. Chondroitin Sulfate-E (CS-E) has shown potential as biomarkers. This study aims to evaluate CS-E expression in epithelial-type benign and malignant ovarian tumors and its potential as a biomarker using QuPath software.Methods: This observational analytic study used a cross-sectional design. Samples were selected based on histopathology of patients with epithelial-type benign and malignant ovarian tumors from surgeries in 2023. Immunohistochemistry using the GD3G7 antibody was performed to detect CS-E expression in tumor tissues preserved in paraffin blocks at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. Expression was quantified using QuPath software. Statistical analysis used the Mann-Whitney and t-test. Result: No significant difference in CS-E expression was found between malignant and benign tumors (p = 0.492). Demographic factors (age, BMI, menopausal status, and parity) showed no significant differences between groups. Conclusion: CS-E expression has not yet demonstrated potential as a biomarker to distinguish between benign and malignant ovarian tumors.Perbandingan Ekspresi Chondroitin Sulfate-E pada Tumor Ovarium Jinak dan Ganas Tipe Epitel Abstrak Tujuan: Kanker ovarium merupakan penyebab kematian kelima terbanyak terkait kanker pada wanita yang disebabkan oleh keterlambatan diagnosis dan keterbatasan metode skrining. Chondroitin Sulfate-E (CS-E) menunjukkan potensi sebagai biomarker. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi ekspresi CS-E pada tumor ovarium jinak dan ganas tipe epitelial serta menilai potensinya sebagai biomarker menggunakan perangkat lunak QuPath. Metode: Penelitian analitik observasional ini menggunakan desain potong lintang. Sampel dipilih berdasarkan hasil histopatologi pasien dengan tumor ovarium jinak dan ganas tipe epitelial dari operasi tahun 2023. Pemeriksaan imunohistokimia dengan antibodi GD3G7 dilakukan untuk mendeteksi ekspresi CS-E pada jaringan tumor yang diawetkan dalam blok parafin di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Ekspresi dianalisis secara kuantitatif menggunakan perangkat lunak QuPath. Uji statistik yang digunakan adalah Mann-Whitney dan uji t. Hasil: Tidak ditemukan perbedaan bermakna dalam ekspresi CS-E antara tumor ganas dan jinak (p = 0,492). Faktor demografis (usia, indeks massa tubuh, status menopause, dan paritas) juga tidak menunjukkan perbedaan bermakna antar kelompok.Kesimpulan: Ekspresi CS-E belum menunjukkan potensi sebagai biomarker untuk membedakan antara tumor ovarium jinak dan ganas. Kata kunci: Biomarker, GD3G7, Glikosaminoglikan, Kanker Ovarium, Kondroitin sulfat