Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Peningkatan Nilai Tambah Cabai Merah (Capsicum annum L.) Melalui Berbagai Proses Pengolahan Setiavani, Gusti; Devita, Liza; Suarti, Budi
Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 3 No. 6 (2023): November 2023 - Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Indonesian Scientific Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59395/altifani.v3i6.499

Abstract

Seiring pengembangan luas tanam cabai merah melalui program pengembangan Kawasan Pertanian Terpadu di Kabupaten Dairi, diperlukan peningkatan kapasitas petani dalam hilirisasi cabai merah. Hal ini untuk mengantisipasi fluktuasi harga cabai dan kerusakan pada cabai yang berdampak terhadap pendapatan dan kesejahteraan petani. Kegiatan Pengabdian Masyarakat dilaksanakan di Desa Parbuluan V yang merupakan lokasi KPT di Kabupaten Dairi. Pelaksanaan kegiatan diawali dengan melakukan observasi lokasi dan kelompok tani dilanjutkan pelatihan mengenai pengolahan cabai merah sebanyak 3 kali. Metode pelatihan meliputi ceramah, diskusi, dan praktek langsung. Hasil kegiatan menunjukkan Efektifitas Pelatihan cukup efektif khususnya pelatihan pembuatan saos cabai. Efektifitas Perubahan Perilaku tergolong efektif pada pelatihan pembuatan saos cabai dan cukup efektif pada panen, pembuatan cabai kering dan pengemasan dan labelling. Secara keseluruhan kegiatan pelatihan cukup efektif merubah perliku/sikap peserta selama pelatihan mengenai panen, pembuatan produk olahan cabai merah kering dan saos cabai untuk meningkatkan pengetahuan, nilai tambah dan pendapatan keluarga.
Sifat Fisikokimia Beras Pecah Kulit dan Beras Sosoh pada Beberapa Varietas suarti, Budi
JURNAL PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v33i1.756

Abstract

  Penelitian bertujuan untuk menentukan sifat fisik dan kimia beras pecah kulit (BPK) dan sosoh varietas Ciherang, Mekongga, dan INPARI 32. Analisis terdiri dari warna, proksimat, dan aktivitas antioksidan. Hasil penelitian menunjukkan warna L* dari BPK dan beras sosoh pada varietas INPARI 32 (59,48; 71,84) memiliki tingkat kecerahan tertinggi dibandingkan Ciherang (58,58; 64,91) dan Mekongga (58,41; 61,36). BPK dan beras sosoh pada varietas Ciherang memiliki protein dan lemak yang tertinggi dibandingkan Mekongga dan INPARI 32. BPK Mekongga memiliki antioksidan (0,799 mg/g) lebih tinggi dibandingkan Ciherang (0,713 mg/g) dan INPARI 32 (0,670 mg/g), sedangkan beras setelah penyosohan pada INPARI 32 (0,858 mg/g) memiliki aktivitas antioksidan tertinggi dibandingkan Mekongga (0,622 mg/g) dan Ciherang (0,393 mg/g). Penelitian ini menunjukkan bahwa dari tiga varietas beras, sifat fisik INPARI 32 lebih baik daripada Ciherang dan Mekongga, tetapi dari kandungan zat gizi pada var. Ciherang dan aktivitas antioksidan tertinggi pada var. Mekongga. 
Pembuatan The Hijau Dari Kulit Lidah Buaya (Aloe vera) Dengan Variasi Suhu Dan Lama Pengeringan habib, Habib; suarti, Budi
Agrintech: Jurnal Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Vol 6, No 2 (2023): Jurnal Teknologi Pangan Dan Hasil Pertanian
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/agrintech.v4i1.9159

Abstract

One of the popular and very popular drinks is the tea. In addition to refreshing, tea has long been believed to provide many health benefits. Aloe vera plants have been widely cultivated and developed in Indonesia, in West Kalimantan Province, in Pontianak City on peatlands suitable for planting aloe vera. This study aims to determine the temperature and drying time of the study of the process of making tea from aloe vera skin. This study used a completely randomized design (CRD) consisting of two factors, namely the first factor is drying temperature (S), S1 : 50oC, S2: 60oC, S3: 70oC, S4: 80oC, and the second factor is drying time (L), L1: 2 hours, L2: 3 hours, L3: 4 hours, L4: 5 hours. Based on the results of the study, the best treatment was the water content of S4L4: 2.90%, and the yield of S1L1: 6.24%.
Pemanfaatan Jamur Tiram sebagai Produk Olahan Jamur Krispy di Kota Medan, Sumatera Utara Suarti, Budi; Apriyanti, Ira; Al Qomari, Muhammad; Darmawan, Farhan; Syahputra, Gilang Dwi; Fandewa, M Arkan
IHSAN : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol 7, No 1 (2025): Ihsan: Jurnal Pengabdian Masyarakat (April)
Publisher : University of Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/ihsan.v7i1.23135

Abstract

Inovasi pengolahan jamur tiram dilaksanakan di Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan dengan mitra kelompok Jamur Meutuah. Metode pelaksanaan PKM dengan memberi inovasi dalam pengolahan jamur tiram dengan bahan jamur tiram, tepung terigu, tepung beras, tepung tapioka, penyedap makanan, lada, ketumbar, bawang putih, kunyit bubuk, baking powder, telur, garam dan air. Permasalahan mitra belum mengetahui cara pengolahan jamur tiram agar tetap crispy dalam waktu yang lama. Tujuan Kegiatan PKM ini adalah meningkatkan pengetahuan mitra dalam mengelola jamur tiram agar memiliki tekstur crispy dalam waktu yang lama. Hasil Kegiatan menggunakan  penilaian skala hedonic dengan skor 1 = Sangat tidak suka, 2 = tidak suka, 3 = suka, 4 = sangat suka , 5 = sangat-sangat suka. Peserta memberi penilaian jamur krispy dengan skor lebih dari 4 menunjukkan peserta menyukai jamur krispy.
Sifat Fisikokimia Beras Pecah Kulit dan Beras Sosoh pada Beberapa Varietas suarti, Budi
JURNAL PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v33i1.756

Abstract

  Penelitian bertujuan untuk menentukan sifat fisik dan kimia beras pecah kulit (BPK) dan sosoh varietas Ciherang, Mekongga, dan INPARI 32. Analisis terdiri dari warna, proksimat, dan aktivitas antioksidan. Hasil penelitian menunjukkan warna L* dari BPK dan beras sosoh pada varietas INPARI 32 (59,48; 71,84) memiliki tingkat kecerahan tertinggi dibandingkan Ciherang (58,58; 64,91) dan Mekongga (58,41; 61,36). BPK dan beras sosoh pada varietas Ciherang memiliki protein dan lemak yang tertinggi dibandingkan Mekongga dan INPARI 32. BPK Mekongga memiliki antioksidan (0,799 mg/g) lebih tinggi dibandingkan Ciherang (0,713 mg/g) dan INPARI 32 (0,670 mg/g), sedangkan beras setelah penyosohan pada INPARI 32 (0,858 mg/g) memiliki aktivitas antioksidan tertinggi dibandingkan Mekongga (0,622 mg/g) dan Ciherang (0,393 mg/g). Penelitian ini menunjukkan bahwa dari tiga varietas beras, sifat fisik INPARI 32 lebih baik daripada Ciherang dan Mekongga, tetapi dari kandungan zat gizi pada var. Ciherang dan aktivitas antioksidan tertinggi pada var. Mekongga. 
Performance of a Moringa Leaf Dehumidification Drying System Using Peltier Effect Thermoelectric Cooling Nusa, Mhd Iqbal; Suarti, Budi; Siregar, Muhammad Said
Jurnal Teknik Pertanian Lampung (Journal of Agricultural Engineering) Vol. 14 No. 3 (2025): June 2025
Publisher : The University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jtep-l.v14i3.1061-1072

Abstract

The study focuses on a drying system that integrates a rack-type convective dryer with a Peltier effect thermoelectric cooler to optimize the drying process of moringa leaves. This system is designed to achieve lower drying temperatures, which is essential for preserving the quality of the leaves. To evaluate the performance of this dryer, researchers use temperature and relative humidity data to construct a programmed psychrometric diagram. This diagram helps in calculating crucial parameters such as the absolute humidity and the specific volume of the drying air. These calculations are essential in determining the drying rate of moringa leaves. The results indicated that moringa leaves dried on drying rack-1 exhibited a higher drying rate compared to those on drying rack-2. Additionally, a drying air speed of 2.1 m/sec yielded a superior drying rate compared to a lower air speed of 1.5 m/sec. After 5.0 hours of drying, the Moringa leaves achieved a moisture content of 8.6% (wb) with a drying air speed of 2.1 m/sec, 9.3% (wb) with a speed of 2.6 m/sec, and 13.9% (wb) with a drying air speed of 1.5 m/sec. The drying process maintains a maximum temperature 59.3°C, placing it within the low-temperature drying category, which helps preserve the physicochemical quality of the dried Moringa leaves. Keywords: Dehumidification drying, Peltier effect thermoelectric cooling, Moringa leaves, Programmed Psychrometric Calculations.
Karakteristik Tepung dari Beras Pecah Kulit dengan Metode Pregelatinisasi Suarti, Budi; Wannawa, Alhabi
Jurnal Warta Dharmawangsa Vol 19, No 4 (2025)
Publisher : Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/wdw.v19i4.7862

Abstract