Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Hubungan Antara Regulasi Diri Dengan Kesiapan Belajar Mandiri Pada Mahasiswa Tahun Kedua Progam Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Lampung Dian Puspita Larasati; Oktafany Oktafany; Waluyo Rudiyanto; Rika Lisiswanti
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 9 No. 2 (2022): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mahasiswa kedokteran adalah seseorang yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi yang mempelajari ilmu kedokteran dengan asumsi memiliki tujuan menjadi dokter. Dalam meraih tujuan, mahasiswa kedokteran didukung oleh kurikulum SPICES (Student centered, Problem based, Integrated, Community based, Electives, dan Systematic) sehinggamahasiswa dituntut untuk dapat aktif, mandiri, dan mampu memecahkan masalah. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara regulasi diri dengan kesiapan belajar mandiri pada mahasiswa tahun kedua Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Desain penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel yang digunakan adalah mahasiswa tahun kedua Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Lampung yang berjumlah 186 sampel terpilih dengan teknik total sampling. Data diperoleh melalui pengisian The Short Self Regulation Questionnaire (TSSRQ) dan Self Directed Learning Readiness Scale (SDLRS). Data dianalisis dengan uji Spearman Rank Correlation. Hasil penelitian ini terdapat 71,5% responden memilikiregulasi diri yang sedang, 28,5% responden memiliki regulasi diri yang tinggi, 75,8% responden memiliki kesiapan belajar mandiri yang tinggi, 24,2% responden memiliki kesiapan belajar mandiri yang sedang, dan tidak terdapat responden yang memiliki regulasi diri dan kesiapan belajar mandiri yang rendah. Hasil uji analisis Spearman Rank Correlation menunjukkan terdapat hubungan dengan arah positif yang kuat antara regulasi diri dengan kesiapan belajar mandiri yang dibuktikandengan P-value=0,0001 < 0,05 dan koefisien korelasi 0,622. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara regulasi diri dengan kesiapan belajar mandiri pada mahasiswa kedokteran.Kata Kunci : Kesiapan belajar mandiri, mahasiswa kedokteran, regulasi diri.
Persepsi Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lampung terhadap Early Clinical Exposure Putu Ika Widyasari; Oktafany Oktafany; Muhammad Fitra Wardhana; Rika Lisiswanti
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 9 No. 2 (2022): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: FK Unila menggunakan metode pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dengan kriteria SPICES. Early Clinical Exposure (ECE) sebagai bagian dari SPICES dapat menjadi jembatan antara pembelajaran preklinik dan klinik. Pendekatan belajar ECE memiliki berbagai manfaat khususnya bagi mahasiswa. Persepsi oleh mahasiswa terkait pelaksanaan ECE merupakan aspek penting dari peningkatan kualitas program pendidikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi mahasiswa PSPD FK Unila Periode 2022/2023 terhadap ECE dan untuk mengetahui perbedaan persepsi mahasiswa semester tiga dan mahasiswa semester tujuh terhadap ECE.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 314 mahasiswa. Pemilihan sampel menggunakan teknik total sampling. Data yang digunakan merupakan data primer berupa kuesioner dengan skala Likert 1-5. Analisis statistik dilakukan dengan analisis univariat dan analisis bivariat.Hasil: Hasil analisis menunjukkan nilai rata-rata persepsi mahasiswa semester tiga terhadap ECE sebesar 3,83 dan termasuk dalam kategori baik. Sedangkan nilai rata-rata persepsi mahasiswa semester tujuh terhadap ECE sebesar 3,93 dan termasuk dalam kategori baik. Tidak didapatkan perbedaan bermakna antara persepsi mahasiswa semester tiga dan mahasiswa semester tujuh terhadap ECE (p=0,90). Simpulan: Persepsi mahasiswa semester tiga dan mahasiswa semester tujuh PSPD FK Unila Periode 2022/2023 terhadap ECE adalah baik. Tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara persepsi mahasiswa semester tiga dan mahasiswa semester tujuh terhadap ECE.Kata Kunci: persepsi, mahasiswa kedokteran, Early Clinical Exposure  
Literature Review : Faktor Penyebab Kejadian Anemia pada Remaja Putri Syavira Elisa; Oktafany Oktafany; Rasmi Zakiah Oktarlina
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada remaja khususnya remaja putri  ialah anemia. Anemia merupakan  suatu kondisi dimana jumlah sel darah merah atau hemoglobin (Hb) seseorang kurang dari normal. Anemia adalah salah satu kelainan darah yang umum terjadi saat kadar sel darah (eritrosit) dalam darah terlalu rendah. Angka kejadian anemia pada remaja di Indonesia sebesar 32%, Provinsi Lampung menduduki peringkat pertama prevalensi a nemia tertinggi yaitusebesar 63%. Deteksi anemia dapat dilakukan dengan cara memeriksakan kadar hemoglobin (Hb) atau dengan Packed CellVolume (PCV). Dampak dari anemia dapat menimbulkan berbagai masalah serius pada remaja. Remaja yang menderita anemia akan mengalami kondisi lemah, letih, lesu, muka tampak pucat, pusing, hingga terjadinya penurunan konsentrasi, menghambat pertumbuhan fisik dan kercedasan otak, penurunan produktivitas kerja. Dalam review ini masalah terkait anemia dikumpulkan dan kemudian dianalisis untuk melihat faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya anemia pada remaja putri. Metode yang digunakan dalam studi pustaka ini menggunakan database elektronik. Fakto r-faktor penyebab anemia pada remaja putri meliputi pola menstruasi, pola makan yang kurang baik, infeksi cacingan, kebiasaan mengkonsumsi teh atau kopi setelah makan, durasi tidur, kurangnya asupan vitamin C dan faktor ekonomi. Kata Kunci: Anemia, Faktor Penyebab, Remaja Putri
Efektivitas Inhalasi Aromaterapi terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Dysmenorrhea Primer pada Remaja Nur Mawar Agustina; Ervina Damayanti; Femmy Andrifianie; Oktafany Oktafany
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v11i2.pp83-93

Abstract

Dysmenorrhea primer merupakan masalah kesehatan umum saat menstruasi yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Pengelolaan nyeri dysmenorrhea primer dapat dilakukan melalui pemberian terapi farmakologi dan non farmakologi. Obat-obatan dalam terapi farmakologi dinilai efektif dalam mengatasi nyeri dysmenorrhea primer, namun efek samping pengobatan yang tidak diinginkan dapat muncul akibat penggunaan obat dalam waktu yang lama, sehingga mendorong pencarian alternatif terapi yang dinilai lebih aman dan efektif. Aromaterapi, sebagai terapi komplementer telah banyak diteliti sebagai terapi non farmakologi pengelolaan nyeri. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas inhalasi aromaterapi dalam mengurangi intensitas nyeri pada remaja dengan dysmenorrhea primer melalui pemanfaatan minyak esensial berbagai tanaman. Penelitian ini berupa tinjauan pustaka (literature review) terhadap 10 studi terkait dengan rentang waktu publikasi 2019-2024 pada database elektronik Google Scholar dan PubMed yang diseleksi melalui proses skrining. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inhalasi aromaterapi dengan menggunakan berbagai jenis minyak esensial secara signifikan dapat mengurangi intensitas nyeri dysmenorrhea primer. Mekanisme kerja aromaterapi diduga terkait dengan efek anti-inflamasi dan analgesik dari komponen-komponen aktif dalam minyak esensial. Oleh karena itu, aromaterapi dapat menjadi pilihan terapi non farmakologi yang dinilai efektif, aman, dan potensial untuk dikembangkan sebagai pengobatan dalam mengurangi nyeri dysmenorrhea primer pada remaja.
Faktor Kecemasan Terhadap Ujian pada Mahasiswa Azzahra Fadhilla Amelia; Oktafany Oktafany; Shinta Nareswari; Oktadoni Saputra
Medula Vol 16 No 2 (2026): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v16i2.1798

Abstract

Test anxiety is a common psychological condition experienced by university students and can negatively affect academic performance and psychological well-being. This study aimed to examine the causes, manifestations, and impacts of test anxiety among students through a literature review approach. Relevant literature was obtained from Google Scholar and national and international scientific databases using the keywords “test anxiety,” “exam anxiety,” “students,” and “academic performance.” A total of 23 articles published between 2010 and 2025 met the inclusion criteria and were analyzed narratively. The findings revealed that test anxiety is influenced by various factors, including academic demands, social pressures, individual characteristics, and learning environment conditions. One of the reviewed studies by Bhuwana (2025) reported that 98.5% of students (197 of 200 respondents) experienced anxiety during the Objective Structured Clinical Examination (OSCE), with the primary causes being limited examination time (21%), the large amount of material to be studied (20.5%), and difficulties maintaining concentration or experiencing forgetfulness during examinations (19.5%). Manifestations of test anxiety include physical, cognitive, and behavioral symptoms such as increased heart rate, excessive worry, negative thoughts, impaired concentration, and procrastination. These symptoms may contribute to lower academic achievement, reduced learning motivation, increased stress levels, and emotional exhaustion. Therefore, effective stress management strategies and institutional support are essential to help students cope with examination-related stress, improve academic performance, and maintain psychological well-being through supportive learning environments and accessible counseling services.