Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

PENGARUH PENAMBAHAN SUMBER KARBON ORGANIK BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN RASIO KONVERSI PAKAN BENIH LELE “(Clarias sp.)” DALAM MEDIA BIOFLOK Aji, Sigit Bayu; Sudaryono, Agung; Harwanto, Dicky
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.521 KB)

Abstract

Intensifikasi budidaya lele dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan lingkungan. Teknologi bioflok merupakan salah satu pemecah masalah lingkungan dan dapat meningkatkan produksi budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan sumber karbon berbeda terhadap pertumbuhan dan rasio konversi pakan lele. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diujikan adalah penambahan sumber karbon berbeda dalam media bioflok A (molase), B (tapioka), dan C (gandum). Hewan uji menggunakan benih lele dengan bobot rata-rata individu sebesar 7,16±0,36 g. Lele dipelihara pada ember berdiameter 60 cm dengan volume 10 liter selama 42 hari dan pemberian pakan 4% dari berat biomassa. Hasil penelitian  menunjukan bahwa  penambahan sumber karbon organik dalam media bioflok tidak berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap pertumbuhan mutlak, laju pertumbuhan spesifik, kelulushidupan, rasio konversi pakan dan total konsumsi pakan  lele. Nilai pertumbuhan mutlak yang dicapai pada perlakuan A, B, dan C berturut-turut adalah 10,09±0,06 g; 10,85±0,76 g dan 10,31±0,19 g.  Nilai laju pertumbuhan spesifik yang dicapai adalah (A) 2,21±0,02 %/hari; (B) 2,31±0,16 %/hari; dan (C) 2,23±0,16 %/hari. Nilai kelulushidupan lele (A) 96,67±5,77 %; (B) 96,67±5,77 % dan (C) 86,67±5,77 %. Nilai FCR (A) 1,16±0,03; (B) 1,07±0,10; dan (C) 1,12±0,05 g. Dan total konsumsi pakan sebesar (A) 11,72±0,24 g; (B) 11,57±0,50 g dan (C)  11,51±0,24 g. Penelitian ini membuktikan Penambahan sumber karbon organik berbeda tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) terhadap laju pertumbuhan spesifik harian, kelulushidupan, rasio konversi pakan dan tingkat konsumsi pakan dalam media bioflok. Ketiga sumber karbon organik yang berbeda (molase, tapioka dan gandum) semua memberikan hasil yang sama. Intensification of catfish farming can adversely affect the health of the environment. Bioflok technology is one environmental problem solvers and can improve aquaculture production. This study aims to determine the effect of different carbon sources on catfish feed efficiency and growth.This study used a completely randomized design (CRD) with 3 treatments and 3 replications. The treatment being tested is the addition of different carbon sources in the media bioflok A (molasses), B (tapioca), and C (wheat). Animal trials using seed catfish with an average individual weight of 7.16 ± 0.36 g. Catfish maintained at 60 cm diameter bucket with a volume of 10 liters for 42 days and feeding 4% of the weight of the biomass. The results showed that the addition of an organic carbon source in the medium bioflok no significant effect (P < 0.05) to the absolute growth , specific growth rate , survival rate , feed conversion ratio and total feed consumption of catfish . Absolute value of the growth achieved in treatment A , B , and C , respectively, 10.09 ± 0.06 g ; 10.85 ± 0.76 g and 10.31 ± 0.19 g . Value of the specific growth rate achieved was ( A ) 2.21 ± 0.02 % / day ; ( B ) 2.31 ± 0.16 % / day ; and ( C ) 2.23 ± 0.16 % / day . Catfish survival value ( A ) 96.67 ± 5.77 % ; (B) 96.67 ± 5.77 % , and (C) 86.67 ± 5.77 %  Food Conversion Ratio Value (A) 1,16±0,03; (B) 1,07±0,10; dan (C) 1,12±0,05 g. And total feed consumption of (A) 11.72 ± 0.24 g; ( B ) 11.57 ± 0.50 g and ( C ) 11.51 ± 0.24 g . This study proves The addition of organic carbon sources did not differ significant effect ( P > 0.05) on daily specific growth rate , survival rate , feed conversion ratio and feed intake level in bioflok media . These three different sources of organic carbon (molasses ,tapioca and wheat) all gave similar results.
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG ALGA COKLAT (Sargassum sp.) DALAM PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN BENIH LELE (Clarias sp.) Sahara, Riyand; Herawati, Vivi Endar; Sudaryono, Agung
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.392 KB)

Abstract

Pakan merupakan salah satu faktor yang dapat menunjang perkembangan budidaya ikan. Pakan yang sesuai dengan tingkat kebutuhan nutrisi dan memiliki nilai kecernaan yang tinggi dapat mendukung pertumbuhan maksimal ikan. Alga coklat (Sargassum sp.) memiliki material imunostimulan yang dapat digunakan sebagai feed supplement untuk pakan ikan karena memiliki kandungan nutrisi seperti protein, vitamin, karbohidrat, serat kasar, lipid dan mineral. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan tepung alga coklat (Sargassum sp.) dalam pakan terhadap pertumbuhan dan efisiensi pemanfaatan pakan benih lele (Clarias sp.). Variabel yang dikaji meliputi nilai efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), protein efisiensi rasio (PER), pertumbuhan mutlak (G), laju pertumbuhan spesifik (SGR), dan kelulushidupan (SR). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan yaitu perlakuan A (tepung Sargassum sp. dosis 0%), B (tepung Sargassum sp. dosis 1%), C (tepung Sargassum sp. dosis 2%), D (tepung Sargassum sp. dosis 3%) dan E (tepung Sargassum sp. dosis 4%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung alga coklat (Sargassum sp.) dalam pakan berpengaruh (P<0,05) terhadap EPP, PER, G dan SGR, namun nilai SR untuk semua perlakuan menunjukkan hasil yang sama (P>0,05). Perlakuan D dan E memberikan nilai EPP, PER, G dan SGR tertinggi (P<0,05), yaitu masing-masing sebesar (78,83-81,04%), (2,00-2,04), (100,39-103,53 g) dan (2,66-2,70%/hari). Berdasarkan pada hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan tepung alga coklat (Sargassum sp.) dalam pakan mampu meningkatkan nilai EPP, PER, dan Pertumbuhan pada benih lele (Clarias sp.). The fish feed was one of the important factor required for the fish culture. Feed that matched with nutritional requirement and has high value of digestion values will be able to promote maximum growth of fish. Brown algae (Sargassum sp.) Have immunostimulatory material that can be used as a feed supplement for fish food because it contains nutrients such as protein, vitamins, carbohydrates, crude fiber, lipids and minerals This study aimed to examine the effect of adding flour brown algae (Sargassum sp.) in diets on growth and feed utilization efficiency of seed catfish (Clarias sp.). The variables examined include the efficiency of feed utilization (EPP), protein efficiency ratio (PER), Absolute Growth (G), specific growth rate (SGR), and survival rate (SR). This study used a completely randomized design (CRD) with 5 treatments and 3 replications that treatment A (Sargassum sp. flour doses of 0%), B (Sargassum sp. flour dose of 1%), C (Sargassum sp. flour dose of 2%), D (Sargassum sp. flour dose of 3%) and E (Sargassum sp. flour dose of 4%). The use of Sargassum sp. significantly affect FE, PER, G and SGR values (P<0.05), but did not show a significantly effect towards the value of SR (P>0.05). The treatment D and E showed highest FE, PER, G and SGR (P<0.05), with value of (78.83-81.04%), (2.00-2.04), (100.39-103.53 g) and (2.66-2.70%/days). It was suggested that the used of Sargassum sp. in practical diet was able to increase the FE, PER, G and SGR values for the catfish (Clarias sp.).
PENGARUH C/N RATIO BERBEDA TERHADAP EFESIENSI PEMANFAATAN PAKAN DAN PERTUMBUHAN UDANG WINDU(Penaeusmonodon) PADA MEDIA BIOFLOK Hidayat, Riyan; Sudaryono, Agung; Harwanto, Dicky
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.704 KB)

Abstract

Udang merupakan salah satu komoditas yang di andalkan dalam peningkatan devisa negara dari sektor non migas. Udang mampu berkembang dengan pesat bila dibudidayakan secara baik, terpenuhi segala kebutuhan hidupnya dan tidak ada gangguan lingkungan. Pakan merupakan komponen budidaya yang menyerap biaya paling besar sampai 80%. Teknologi bioflok merupakan salah satu alternatif penyediaan pakan tambahan berprotein untuk kultivan sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi pakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan sistem bioflok dengan sumber C/N yang berbeda terhadap efisiensi pakan dan pertumbuhan udang windu dan mengetahui ratio C/N yang menghasilkan efisiensi pakan dan pertumbuhan udang windu yang terbaik. Parameter variable bebas yang dikaji meliputi pertumbuhan mutlak, laju pertumbuhan spesifik (SGR), tingkat konsumsi pakan (TKP), efesiensi pemanfaatan pakan (EPP) dan kelulushidupan (SR). Rancangan percobaan penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan, yaitu perlakuan A (C/N ratio 12), perlakuan B (C/N ratio 18), dan perlakuan C (C/N ratio 24). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah karbon yang berbeda memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap laju pertumbuhan harian dan efesiensi pemanfaatan pakan dan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kelulushidupan (SR). Ratio C/N yang memberikan efisiensi pemanfaatan pakan dan pertumbuhan terbaik adalah 24, dengan nilai SGR 1,08±0,079%; EPP 72,32±6,17g; TKP 39,27±1,58; SR 90,00±10,00 dan kualitas air masih dalam kisaran layak untuk kehidupan udang windu (Penaeus monodon). Shrimp is one commodity in the count in an increase in national income of the non-oil sector. Shrimp able to thrive if cultivated properly, meet all the needs of life and no environmental interference. Feed an cultivating components that absorb the greatest costs up to 80%. Bioflok technology is an alternative to the provision of additional food protein kultivan so as to improve growth and feed effeciency. The purpose of this study was to determine the effect of the use of the system with the source bioflok C/N is different to the feed effeciency and growth of balck tiger shrimp and determine the ratio C/N which produces feed effeciency and growth of tiger shrimp are best. Free variabel parameters studied include the absolute growth, specific growth rate (SGR), the level of feed intake (TKP),  effeciency of feed utilization (EPP), survival rate (SR). Parameters of this study supports using a completely randomized design (RAL) with 3 treatments and 3 replications, namely treatment A (C/N ratio 12), treatment B (C/N ratio 18), and treatment C (C/N ratio 24). The results showed that the number of different carbon gives significant influence (P<0,01) the daily growth rate and  effeciency of feed utilization and not significant effect (P>0,05) to survival rate (SR). Ratio C/N which gives the best growth and feed effeciency was 24, with a value of  SGR 1,08±0,079%; EPP 72,32±6,17g; TKP 39,27±1,58; SR 90,00±10,00 and the water quality is still within the range for a decent life tiger shrimp (Penaeus monodon).
GAMBARAN PROFIL DARAH IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus) YANG DIBERI PAKAN DENGAN KOMBINASI PAKAN BUATAN DAN CACING TANAH (Lumbricus rubellus) Purwanti, Serly Cahyani; Suminto, -; Sudaryono, Agung
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 3. No 2 (2014): Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.172 KB)

Abstract

Pengembangan budidaya ikan lele dumbo sering terkendala karena mahalnya harga pakan dan terjadinya infeksi penyakit. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan memberikan kombinasi pakan buatan dan cacing tanah untuk menghasilkan pertumbuhan lebih baik dan dapat meningkatkan imunitas ikan lele dumbo (C. gariepinus). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil darah lele dumbo yang diberi pakan dengan kombinasi pakan buatan dan cacing tanah (Lumbricus rubellus). Metode eksperimen dikembangkan dalam penelitiaan ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) 5 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan itu adalah pemberian pakan dengan 100% pakan buatan (A), 75% pakan buatan dan 25% cacing  tanah (B), 50% pakan buatan dan 50% cacing tanah (C), 25% pakan buatan dan 75% cacing tanah (D), dan 100% cacing tanah (E). Pengukuran darah seperti eritrosit, leukosit dan hemoglobin menggunakan alat hematologi analizer dan glukosa darah dengan alat spektrofotometer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan lele dumbo yang diberi pakan buatan dan cacing tanah dengan dosis yang berbeda berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap jumlah eritrosit tetapi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap konsentrasi hemoglobin, leukosit dan glukosa darah. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ikan lele dumbo yang diberi pakan buatan dan cacing tanah (L. rubellus) dengan persentase yang berbeda mengalami jumlah eritrosit 1,22–2,52x 106 sel/mm3, leukosit 102,2-135,1x 103 sel/mm3, hemoglobin 8,2-10,5 g/dl dan glukosa darah 73,3-107,1 mg/L masih kisaran yang normal. African catfish aquaculture development is often hampered by the high cost of feed and desease infection. One of the problem solving is giving a combination of artificial and earthworms for the best growth and increasing imunity of the African catfish culture. The objective of research was  to determine the effect of a combination of artificial feed and of earthworms (L. rubelus) in the description of  erythrocytes , leukocytes , hemoglobin, and blood glucose of African catfish (C. gariepinus). The experimental method was employed in this research with used completely randomized design (CRD) 5 treatments and 3 replications, respectively.  Those treatments were feeding with 100% of artificial feed (A),75%  of artificial feed and 25% of earthworm (B), 50% of artificial feed and 50% of earthworm (C), 25% of artificial feed and 75% of earthworm (D), and 100% of earthworm (E). Blood requreiment of erythrocytes, leukocytes and hemoglobin where hused by hematology analyzer and blood glucose by a spectrophotometer.  The results showed that the African catfish feed combination of artificial feed and earthworms have given significant effect(P<0.05) in the erythrocytes number but not significant effect (P>0.05) on the concentration of hemoglobin , leukocytes and blood glucose. Based on the results of this study it can be concluded that African catfish feed with artificial feed and earthworms (L. rubellus) with different percentage will have the amount of erythrocytes 1,22–2,52x 106 sel/mm3, leukocytes 102,2-135,1x 103 sel/mm3, hemoglobin 8,2-10,5 g/dl, and blood glucose 73,3-107,1 mg/L  still in the normal range.
PENGARUH PEMBERIAN OMEGA-3 DAN KLOROFIL DALAM PAKAN TERHADAP FEKUNDITAS DAN DERAJAT PENETASAN BENIH IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Noviantoro, Adi; Sudaryono, Agung; Nugroho, Ristiawan Agung
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (573.065 KB)

Abstract

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan dan mengoptimalkan kualitas benih ikan nila yaitu dengan meningkatkan kualitas nutrisi pakan induk. Unsur nutrien yang harus ada dalam pakan induk ikan antara lain asam lemak esensial dan vitamin E yang dibutuhkan untuk meningkatkan produksi benih yang berkualitas. Penelitian ini menambahkan suplemen pakan yaitu omega-3 dan klorofil dengan menambahkannya pada pakan induk ikan nila. Kombinasi bahan tersebut diharapkan meningkatkan fekunditas dan derajat penetasan ikan nila. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian omega-3 dan klorofil ke dalam pakan induk terhadap fekunditas dan derajat penetasan ikan nila. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 taraf perlakuan dan masing-masing terdiri dari 3 ulangan. Perlakuan uji adalah A (tanpa kombinasi omega-3 dan klorofil ke dalam pakan), B (Kombinasi 2,5 mL omega-3 dan 2,5 mL klorofil/kg pakan), C (kombinasi 1,7 mL omega-3 dan 3,3 mL klorofil/kg pakan) dan D (kombinasi 3,3 mL omega-3 dan 1,7 mL klorofil/kg pakan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian omega-3 dan klorofil tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap fekunditas dan derajat penetasan. Nilai fekunditas  pada perlakuan A, B, C, dan D masing-masing adalah 4878; 5168; 6248; dan 6910 butir/kg. Nilai derajat penetasan pada perlakuan A, B, C, dan D masing-masing adalah 81,38; 81,59; 82,18; dan 86,39%. Berdasarkan hasil penelitian pemberian omega-3 dan klorofil dalam pakan belum dapat meningkatkan nilai fekunditas dan derajat penetasan benih ikan nila. One of the efforts to improve and optimize the larvae quality of tilapia was by increasing the feed nutrition quality for the broodstock. The nutrients such as vitamin E and essential fatty acids are required to increase the quality of fish reproduction. The research was designed to add omega-3 and chlorophyll as feed suplements in diets for tilapia broodstock. This combination was expected to improve fecundity and hatching rate tilapia larvae. The research was aimed to know influence of omega-3 and chlorophyll addition in diets on fecundity and hatching rate of tilapia larvae. A completely randomized design was applied to the research with 4 treatments  and 3 replicates. Those treatment were A (without combination of omega-3 and chlorophyll), B (combination of 2.5 mL omega-3 and 2.5 mL chlorophill/kg feed diets), C (combination of 1.7 mL omega-3 and 3.3 mL chlorophill/kg feed diets) and D (combination of 3.3 mL omega-3 and 1.7 mL chlorophyll/kg feed diets). The result revealed that addition of omega-3 and chlorophyll did not affect significantly (P>0,05) on the fecundity and hatching rate. The fecundity values of the treatments A, B, C, and D were 4878; 5168; 6248; and 6910 grain/kg. The hatching rate values of the treatments A, B, C, and D were 81.38; 81.59; 82.18; dan 86.39%. it was concluded that  addition  of omega-3 and chlorophyll in diets could increase fecundity and hatching rate of tilapia larvae.
PENGARUH PENAMBAHAN KOMBINASI OMEGASQUA DAN KLOROFIL TERHADAP FEKUNDITAS, DAYA TETAS DAN KELULUSHIDUPAN LARVA IKAN LELE SANGKURIANG (Clarias sp.) Azizati, Very Luftia; Sudaryono, Agung; Yuniarti, Tristiana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.187 KB)

Abstract

Ikan lele sangkuriang (Clarias sp.) merupakan salah satu jenis ikan ekonomis yang dimanfaatkan sebagai ikan konsumsi air tawar dengan produksi cukup tinggi dan digemari masyarakat. Permasalahan yang ada dalam budidaya ikan lele adalah Induk-induk lele sulit untuk cepat matang gonad, fekunditas, daya tetas, dan kelulushidupan menjadi rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan kombinasi omegasqua dan klorofil terhadap fekunditas, daya tetas, dan kelulushidupan larva ikan lele sangkuriang, serta untuk mengetahui rasio omegasqua dan klorofil yang paling tepat menghasilkan performansi reproduksi induk ikan lele. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode eksperimental menggunakan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan lele sangkuriang yang dipelihara dengan penambahan pakan yang dicampur dengan omegasqua dan klorofil berpengaruh sangat nyata terhadap daya tetas telur (P<0,01), namun tidak berpengaruh nyata terhadap fekunditas dan kelulushidupan. Nilai fekunditas berkisar antara 51.515–59.714 butir/Kg. Nilai tertinggi dari daya tetas telur pada perlakuan B (2,5 mL omegasqua/kg pakan dan 2,5 mL klorofil/kg pakan) dengan nilai rerata 50,00±1,76%. Nilai kelulushidupan berkisar antara 66,33–73,20%. Sangkuriang Cat Fish (Clarias sp.) is one of economic fish which as mackerel consumption which is high enough producted and greatly consumed by society. The problem we often find of Cat Fish cultivation is mothers of that sort ripe slowly and its low of gonad, fecundity, crack ability, survival ability. The purpose of this research is to know influence of inceeasing omegasqua and chlorophyll to fecundity, crack ability, and survival ability of Sangkuriang Cat Fish larvae, and to know Omegasqua ratio with the usefull chlorophyll to produce better performance of Cat Fish reproduction. This research adopts experimental method with model of Comprehensive Random Plan (CRP) with 4 treatments and 3 repetations.  The result of this research shows Sangkuriang Cat Fish which is raised with Omegasqua and chlorophyll mixed influences to crack ability (P<0,01) but not influence to fecundity and survival ability. The number of fecundity is between 51.515 -–59.714 eggs number. The highest number of crack abilitycis B treatment (2,5 mL Omegasqua/kg to feed and 2,5 mL chlorophyll/kg to feed) with average number 50,00±1,76%. Number of survival ability between 66,33%–73,20%.
PENGARUH RASIO C/N BERBEDA TERHADAP RASIO KONVERSI PAKAN DAN PERTUMBUHAN BENIH LELE (Clarias sp.) DALAM MEDIA BIOFLOK Imron, Ali; Sudaryono, Agung; Harwanto, Dicky
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.021 KB)

Abstract

Intensifikasi budidaya lele dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan lingkungan. Teknologi bioflok merupakan salah satu pemecah masalah lingkungan dan dapat meningkatkan produksi budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan sistem bioflok dengan rasio C/N berbeda terhadap rasio konversi pakan, pertumbuhan dan kelulushidupan lele, menentukan jenis rasio C/N yang menghasilkan rasio konversi pakan dan pertumbuhan lele terbaik.   Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diujikan adalah penambahan karbon tapioca dalam media bioflok dengan rasio A C/N 12 (tapioka), B C/N 18 (tapioka), dan C C/N 24 (tapioka). Hewan uji menggunakan benih lele dengan bobot rata-rata individu sebesar 7,16±0,36 g. Lele dipelihara pada ember berdiameter 60 cm dengan volume 10 L selama 42 hari dan pemberian pakan 5% dari berat biomassa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh rasio C/N berbeda terhadap rasio konversi pakan dan pertumbuhan benih lele (Clarias sp.) tidak berpengaruh  nyata (P>0,05) terhadap rasio konversi pakan (Clarias sp.) dalam  media bioflok. Penggunaan C/N ratio yang berbeda  berpengaruh  nyata (P<0,05) terhadap pertumbuhan dan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kelulushidupan lele (Clarias sp.) dalam media bioflok, rasio C/N yang terbaik menghasilkan pertumbuhan dan rasio konversi pakan yaitu C/N 24, dibandingkan dengan C/N 12 dan C/N 18. Laju pertumbuhan spesifik yang dicapai pada perlakuan A, B, dan C berturut-turut adalah 2,20; 2,38; dan 2,58%/hari.  Nilai FCR yang dicapai adalah 1,16; 1,12; dan 1,06. Nilai kelulushidupan lele berkisar antara 83-86,7%. Dan total konsumsi pakan sebesar 11,60;11,62; dan 11,18 g. Penelitian ini membuktikan bahwa pengaruh rasio C/N berbeda terhadap penambahan karbon tapioka  dalam media bioflok dapat meningkatkan biomassa sel bakteri yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan tambahan bernutrisi. Penelitian ini membuktikan bahwa rasio C/N yang berbeda tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) terhadap rasio konversi pakan dan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap pertumbuhan lele dalam media bioflok. Intensification of catfish cultivation can give negative effects to the health of environment. Biofloc technology is one of the way to solve the environment problems and can increase cultivation production. This research aim to evaluate the of biofloc system with ratio C/N different with the ratio of catfish food convertion, different with growth and catfish survival; determine the ratio type C/N that resulting in food ratio convertion and growth of the best catfish. This research uses Complete Random Desaign (CRD) with 3 treatment and 3 repetition. The treatment that is tested is by adding carbon tapioca in the biofloc medium with ratio A C/N 12 (tapioca), B C/N 18 (tapioca). And C C/N 24 (tapioca). Animals trial uses catfish seeds with weight aproximately per individu 7.16 ± 0.36. Catfish cultivates in buckets with diameter 60 cm and volume 10 liter for 42 days and feeding with 5 % from their biomass. The result of this research shows that the effect of ratio C/N is different with feed convertion ratio and the growth of catfish seeds (Clarias sp.) doesn’t any effects (P > 0.05) on food convertion ratio (Clarias sp.) in biofloc medium. The ussing C/N ratio that is different gives the real effects (P < 0.05) towards the catfish survival (Clarias sp.) in the biofloc medium, C/N ratio that gives the best resulting on the growth and food convertion ratio is C/N 24, compared with C/N 12 and C/N 18. The specific growth rate that are achieved on A, B, and C treatments is 2.20 ; 2.38 ; and 2.58 % /day. The FCR value that is achieved 1.16 ; 1.12; and 1.06. The catfish survival value aproximately between 83-86,7 % and the total feeding consumtion is  11.60 ; 11.62 ; and 11.18 g. This reseacrh proves that adding the tapioca carbon in by biofloc medium can increase the biomass bacteria cells that can be used as nourishing additional food. This study proves that the C / N ratio was not different significant effect (P> 0.05) on feed conversion ratio and significantly (P <0.05) on the growth of catfish in biofloc medium.
PENGARUH KOMBINASI PAKAN BUATAN DAN CACING TANAH (Lumbricus rubellus) TERHADAP EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN, PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus) Trisnawati, Yeni; Suminto, -; Sudaryono, Agung
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 3. No 2 (2014): Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.306 KB)

Abstract

 Pemanfaatan cacing tanah (L. rubellus) sebagai pakan lele dumbo (C. gariepinus) dalam budidaya lele dumbo diharapkan dapat meningkatkan konsumsi pakan, efisiensi pemanfaatan pakan, dan pertumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh kombinasi pakan buatan dan cacing tanah (L. rubellus) terhadap efisiensi pemanfaatan pakan, pertumbuhan dan kelulushidupan lele dumbo (C. gariepinus). Variabel yang diamati meliputi nilai efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), laju pertumbuhan spesifik (SGR), dan kelulushidupan (SR). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan  5 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan itu adalah kombinasi pakan buatan 0% dan cacing tanah 100% (A), kombinasi pakan buatan 25% dan cacing tanah 75% (B), kombinasi pakan buatan 50% dan cacing tanah 50% (C), kombinasi pakan buatan 75% dan cacing tanah 25% (D) dan kombinasi pakan buatan 100% dan cacing tanah 0% (E). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi pakan buatan 25% dan cacing tanah 75% memberikan nilai EPP yaitu sebesar 89,5±0,5% dan pertumbuhan terbaik (P<0,05) sebesar 2,04±0,2%BW/hari tetapi tidak berpengaruh (P>0,05) pada SR lele dumbo. Berdasarkan pada hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kombinasi 25% pakan buatan dan 75% cacing tanah mampu meningkatkan nilai EPP dan SGR dalam budidaya lele dumbo. The utilization of earthworm as feed in the culture is to increase the feeding consumption, feeding efficiency  and the growth of catfish. The research aimed to examine the effect of combination the artificial feed and earthworm on feeding efficiency, growth and survival rate of african catfish. The variables measured were feed efficiency (FE), specific growth rate (SGR), and survival rate (SR). This research apllied a completely randomized design (CRD) with 5 treatments and 3 replicates, respectively. The treatments were combination of 0% artificial feed and 100% earthworm (A), combination of 25% artificial feed and 75% earthworm (B), combination of 50% artificial feeds and 50% earthworm (C), combination of 75% artificial feeds and 25% earthworm (D) and combination of 100% artificial feed and 0% earthworm (E). The results showed that the combination of 25% artificial feed and 75% earthworm have resulted in the feeding efficiency utilization value of 89,5±0,05% and the best growth of 2,04±0,2%/day, but no significantly effect (P>0,05) on the survival rate of catfish. It was suggested to use the combination of 25% artificial feed and 75% earthworm to increase FE and SGR value for the culture of catfish.
PENGARUH KOMBINASI PENAMBAHAN ENZIM PAPAIN PADA PAKAN BUATAN DAN PROBIOTIK PADA MEDIA PEMELIHARAAN TERHADAP EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN, PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN IKAN MAS (Cyprinus carpio) Yulyanah, - -; Rachmawati, Diana; Sudaryono, Agung
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.486 KB)

Abstract

Peningkatan produksi ikan mas (Cyprinus carpio) akan berbanding lurus dengan kebutuhan pakan. Masalah yang sering dihadapi pembudidaya ikan mas adalah efisiensi pemanfaatan pakan yang belum maksimal dari pakan komersil dan hampir menghabiskan sekitar 60% dari total biaya produksi untuk pakan. Oleh karena itu, pakan yang diberikan harus efektif dan efisien agar dapat dimanfaatkan dengan baik oleh tubuh ikan mas untuk pertumbuhan. Efisiensi pemanfaatan pakan ikan mas dapat ditingkatkan dengan penambahan enzim eksogenus diantaranya enzim papain. Disisi lain, pemberian pakan dalam jumlah berlebih pada budidaya ikan mas dapat menyebabkan penurunan kualitas air yang berakibat terjadinya peningkatan kematian. Hal tersebut dapat diatasi dengan penambahan probiotik pada media pemeliharaan budidaya ikan mas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi penambahan enzim papain pada pakan buatan dan probiotik pada media pemeliharaan terhadap efisiensi pemanfaatan pakan, pertumbuhan dan kelulushidupan ikan mas (C. carpio). Ikan uji yang digunakan adalah benih ikan mas dengan bobot rata-rata 3,21±0,23 g/ekor. Pemberian pakan yaitu pada pukul 08.00 dan 16.00 secara at satiation. Ikan uji dipelihara dengan padat tebar 1 ekor/l dengan lama pemeliharaan 42 hari.  Penelitian ini menggunakan metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial dengan 2 faktor dan 3 kali ulangan.  Perlakuan dalam penelitian ini adalah kombinasi penambahan enzim papain pada pakan dan probiotik media pemeliharaan dengan dosis yang berbeda yaitu: perlakuan A1B1 (enzim papain 0,25 g/kg pakan dan probiotik 1 mL/L); A1B2 (enzim papain 0,25 g/kg pakan dan probiotik 2 mL/L); A2B1 (enzim papain 0,5 g/kg pakan dan probiotik 1 mL/L); A2B2 (enzim papain 0,5 g/kg pakan dan probiotik 2 mL/L); A3B1 (enzim papain 0,75 g/kg pakan dan probiotik 1 mL/L) dan A3B2 (enzim papain 0,75 g/kg pakan dan probiotik 2 mL/L). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan enzim papain pada pakan buatan dan probiotik pada media pemeliharaan ada interaksi (P<0,05) terhadap efisiensi pemanfaatan pakan (EPP) dan laju pertumbuhan spesifik (SGR), tetapi tidak ada interaksi (P>0,05) terhadap kelulushidupan (SR). Perlakuan A3B1 (enzim papain 0,75 g/kg dan probiotik 1 mL/L) memberikan nilai tertinggi pada EPP dan SGR yaitu masing-masing sebesar 75,44±2,19% dan 2,19±0,03%/hari. Kualitas air pada media pemeliharaan terdapat pada kisaran yang layak untuk pemeliharaan ikan uji.  Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah kombinasi penambahan dosis enzim papain sebesar 0,75 g/kg pakan dan probiotik pada media pemeliharaan sebesar 1 mL/L merupakan dosis terbaik terhadap efisiensi pemanfaatan pakan dan pertumbuhan ikan mas (C. carpio). Increasing production of common carp (Cyprinus carpio) will be directly proportional to the feed needs. The problem which often faced by common carp farmer is the efficiency utilization of commercial feed that has not yet been maximum and nearly spent about 60% of the total production costs for feed. Therefore, the given feed must be effective and efficient in order to be utilized properly by the body of the common carp for growth. The efficient utilization of feed common carp can be improved by the addition of exsogenus enzyme which contain of papain enzymes. On the other hand, excess amounts of feeding on common carp cause a decreasing in water quality that can increase fish mortality. This can be overcome by the addition of probiotics on media of common carp. This present study was aimed to determine the effect combination of papain enzyme on artificial feed and probiotics in media on feed utilization efficiency, growth and survival rate of common carp (C. carpio). The experimental fish was common carp with the average body weight was 3,21 ±0,23g/fish.  The feeding frequency was twice a day, that was at 08.00 and 16.00, by applying at satiation method.  The fish was cultured with stocking density of 1 fish/l for 42 days.  This research was used an experimental method of completely randomize design complete randomized design factorial with 2 factors and 3 replicates.  The treatment in this study: treatment A1B1 (0,25 g/kg of papain enzyme in feed and 1 mL/L of probiotic), A1B2 (0,25 g/kg of papain enzyme in feed and 2 mL/L of probiotic), A2B1 (0,5 g/kg of papain enzyme in feed and 1 mL/L of probiotic), A2B2 (0,5 g/kg of papain enzyme in feed and 2 mL/L of probiotic), A3B1 (0,75 g/kg of papain enzyme in feed and 1 mL/L of probiotic), A3B2 (0,75 g/kg of papain enzyme in feed and 2 mL/L of probiotic). Data showed that the addition of papain enzyme in artificial feed and probiotics in the media make an interaction (P<0,05) on the feed utilization efficiency (FUE) and specific growth rate (SGR), but did not make an interaction (P>0,05) on the survival rate (SR). Treatment A3B1 (papain enzyme 0,75 g/kg feed and probiotic 1 mL/L) produced the high value for FUE and SGR that were 75.44±2.19% and 2,19±0,03%/day. Water quality parameters during the rearing period were suitable for the trial fish. The results showed that the optimum dosage for common carp (C. carpio) is 0,75 g/kg of papain enzyme in feed and 1 ml/l of probiotic in the media.
PENGGANTIAN TEPUNG IKAN DENGAN TEPUNG KEPALA LELE DALAM PAKAN TERHADAP EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN DAN PERTUMBUHAN JUVENIL UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) Prawira, Mohammad Aditya; Sudaryono, Agung; Rachmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.488 KB)

Abstract

Industri pengolahan ikan lele dapat menghasilkan produk hasil samping  (kepala lele) yang dapat dibuat tepung sebagai pengganti bahan baku protein utama dalam pakan.  Tepung kepala lele digunakan untuk menggantikan tepungikan dalam pembuatan pakan buatan untuk juvenil udang vaname  (Litopenaeus vannamei).  Penelitian ini dirancang untuk mengetahui pengaruh penggantian tepung ikan dengan tepung kepala lele dalam pakan terhadap efisiensi pemanfaatan pakan dan pertumbuhan juvenil udang vaname dalam skala laboratorium. Perlakuan yang diujikan adalah penggantian tepung ikan dengan tepung kepala lele sebesar 0% (A), 25% (B), 50% (C), 75% (D) dan 100% (E). Juvenil udang vaname  (2,47±0,07g) dipelihara dengan kepadatan 10 ekor perwadah (10 L) dan diberi pakan buatan tiga kali sehari pada pagi (07.00), siang (12.00) dan sore hari (17.00) secara ad libitum mengikuti kebutuhan jumlah pakannya. Juvenil udang vaname dipelihara selama 42 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung kepala lele mampu menggantikan tepung ikan hingga 50% dan tidak berpengaruh (P>0,05) terhadap efisiensi pemanfaatan pakan (25,59-29,64), protein efisiensi rasio (0,89-0,98) dan laju pertumbuhan spesifik (1,69-1,85%bobot/hari) juvenil udang vaname. Penggantian tepung ikan hingga 100% dengan tepung kepala lele tidak berpengaruh (P>0,05) terhadap kelulushidupan juvenil udang vaname. Penelitian ini membuktikan bahwa tepung kepala lele dapat menggantikan tepung ikan dalam ransum pakan buatan, sampai dengan penggantian 50% tanpa mempengaruhi efisiensi pemanfaatan pakan dan pertumbuhan juvenil udang vaname. Catfish processing industry can produce byproducts (catfish) which can be made of flour as a substitute for primary raw materials in feed protein. Flour catfish heads used to replace fish meal in the manufacture of artificial diets for juvenil shrimp vaname (Litopenaeus vannamei). This study was designed to determine the effect of flour replacement of fish meal with catfish heads in the feed efficiency of feed utilization and growth of juvenil shrimp vaname on a laboratory scale. The treatment being tested is the replacement of fish meal with catfish heads flour at 0% (A), 25% (B), 50% (C), 75% (D) and 100% (E). Vaname juvenil shrimp (2.47 ± 0.07 g) maintained at densities of 10 individuals per container (10 L) and artificial fed three times daily in the morning (07:00), lunch (12:00) and afternoon (17:00) ad libitum follow amount of feed needs. Vaname juvenil shrimp maintained for 42 days. The results showed that the flour could replace the head catfish up to 50% fish meal had no effect (P> 0.05) on feed utilization efficiency (25.59 to 29.64), protein efficiency ratio (0.89 to 0.98) and specific growth rate (1.69 to 1.85% / day) of juvenil shrimp vaname. Replacement of fish meal up to 100% with flour head catfish no effect (P> 0.05) on the survival of juvenil shrimp vaname. This study proves that the flour can replace the head catfish fish meal made in feed rations, up to the replacement of 50% without affecting the efficiency of feed utilization and growth of juvenile shrimp vaname.