Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Peran Program Linear dalam Pengambilan Keputusan di Tengah Keterbatasan Amin harahap; Nuraisya Nuraisya; Yenni Aryani; Muthia Yusuf Rambe
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.7377

Abstract

Linear programming (LP) plays a significant role as an analytical tool in environments where decision-making must be conducted under resource constraints. As an optimization method, LP models problems by defining decision variables, objective functions, and constraints to identify the most efficient solutions within given limits. In managerial and operational contexts, LP assists in allocating scarce resources effectively to maximize outcomes such as profit or operational efficiency, enabling stakeholders to make objective, data-driven choices. Recent applications of LP span from business planning to decision support systems that optimize promotional strategies, demonstrating how structured mathematical models can guide complex decision processes. Moreover, LP is integrated into educational contexts to strengthen analytical reasoning, helping learners link theoretical formulations with practical economic choices. This article synthesizes findings from recent literature to illustrate how LP fosters systematic decision-making, enhances clarity in trade-offs between alternatives, and supports rational choices in constrained environments. The reviewed studies confirm that LP not only serves as a computational optimization technique but also reinforces structured thinking essential for decision quality when resources are limited. Hence, LP remains a valuable method for both practitioners and scholars in decision sciences.
Optimalisasi Produk Tahu Menggunakan Program Linear Metode Simpleks Amin harahap; Anisa riyani; Andini febry hijriyati; Junida andrrea sapitr; Mayliawati Mayliawati
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The tofu industry is a type off small and medium enterprise that requires optimal production management to maximize profits generated with limited resources.This study aims to optimize tofu production volume using a linear programming approach with the simplex method.The matematichal model developed in this study is in the form of an objective funcition ti maximize profits with limitations such as limited raw materials raw materials,labor,andlimited production capacity.The data used is tofu production data analyzed quantitatively. The model is solved using the simplex method to obtain an optimal solution.
ANALYSIS OF MATEMATICAL REPRESENTATION ABILITIES OF STUDENTS IN SOLVING STORY SOURCES ON THE MATTER OF TWO VARIABLE LINEAR EQUATION SYSTEMS (SPLDV) IN CLASS VIII MTs. SWASTA AL-ITTIHAD AEK-NABARA Widya Hatary; Lily Rohanita Hasibuan; Amin Harahap
EduMatSains : Jurnal Pendidikan, Matematika dan Sains Vol 9 No 2 (2025): January
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/edumatsains.v9i2.6405

Abstract

This study aims to determine the mathematical reprentation ability of students in class VIII MTs. Swasta Al-Ittihas Aek-Nabara. The research subjects were students of MTs. Swasta Al-Ittihas Aek-Nabara and the sample used amounted to 25 students. The method applied in this research is descriptive qualitative with tests and interviews as a research data collection technique. Data analysis techniques used in the study consisted of data reduction, data presentation and conclusion drawing. The results showed that the mathematical representation ability of class VIII students in the school on the material of the system of linear equations of two variables was in the low category
Analisis Interpolasi Polinom Newton Untuk Prediksi Tren Live Shopping Dan Optimasi Stok Barang Bagi Umkm Digital Amin Harahap; Dinda Adetiya Ritonga; Sherlly Arisa Nanda; Siti Khoiriyah Nasution; Suci Ramadani
Cermat : Jurnal Cendekiawan dan Riset Multidisiplin Akademik Terintegrasi Vol. 2 No. 1 (2026): Januari-April
Publisher : SMA Negeri 1 Bangkinang Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cermat.v2i1.128

Abstract

ABSTRAK Perkembangan live shopping sebagai strategi pemasaran digital memberikan peluang besar bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk meningkatkan penjualan secara signifikan. Namun, fluktuasi permintaan yang tinggi selama sesi live shopping sering menimbulkan permasalahan dalam pengelolaan stok barang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan metode Interpolasi Polinom Newton dalam memprediksi tren penjualan live shopping serta mengoptimalkan perencanaan stok barang bagi UMKM digital. Data penjualan diambil dari studi kasus UMKM yang memanfaatkan platform live shopping selama beberapa periode waktu. Metode interpolasi Polinom Newton digunakan untuk membentuk model prediksi berdasarkan data historis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode ini mampu memberikan estimasi tren penjualan yang cukup akurat dengan galat yang relatif kecil, sehingga dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan dalam pengelolaan stok. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi penerapan metode numerik dalam bidang ekonomi digital, khususnya bagi UMKM.
KESALAHAN INTUITIF MAHASISWA DALAM MEMILIH METODE NUMERIK Ananda Gita Sabila; Isnita Aulya; Mayliawati Mayliawati; Nurfitri Fadillah; Siti Aisyah; Amin Harahap
Cermat : Jurnal Cendekiawan dan Riset Multidisiplin Akademik Terintegrasi Vol. 2 No. 1 (2026): Januari-April
Publisher : SMA Negeri 1 Bangkinang Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cermat.v2i1.197

Abstract

Metode numerik adalah instrumen penting untuk memecahkan masalah matematika yang tidak dapat dipecahkan dalam analitik biasa, seperti persamaan nonlinier, dan integrasi kompleks, tetapi mahasiswa sering menemukan diri mereka formasi kesalahan intuitif ketika memutuskan metode yang paling sesuai. Ini kekeliruan datang dari pemahaman yang dangkal dari karakteristikindividualitas, kewajiban sederhana kepada metode “tercepat”atau “hal yang diperoleh” metode heuristik, dan kekurangan banding, perlu.dengan konvergensi, stabilitas, dan biaya faktor komputasi. Melalui kajian yang bersifat subyektif dalam bentuk studi kasus dari kelas metode numerik, artikel ini melihat Kesalahan yang termasuk: memilih metode pencarian akar yang tidak tepat untuk fungsi multimodal, mengabaikan urutan konvergensi, menerapkan metode diferensiasi numerik secara salah pada data berisik, dan kesalahan dalam interpolasi dan integrasi yang muncul dari asumsi yang terlalu linier. Hasil menunjukkan bahwa 70% siswa tidak dapat mencapai ambang akurasi ( 10^{-4} ) karena masalah intuitif ini. Ini mendorong kebutuhan akan simulasi interaktif dan latihan konseptual untuk meningkatkan pengambilan keputusan. Ini penting bagi dosen dalam merancang kurikulum yang fokus pada pemikiran kritis daripada memori prosedural yang dihafal.
Menuntun Kodrat Anak: Refleksi Filosofis Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dalam Membangun Karakter Siswa Fanny Puspasari Sianipar; Syarifa Aini; Ema Linda Lumban Gaol; Amin Harahap
Pancasila and Civics Education Journal Vol 5, No 1 (2026): PANCASILA AND CIVICS EDUCATION JOURNAL
Publisher : Pancasila and Civics Education Journal (PCEJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Education in the era of digital transformation faces significant challenges in the form of the risk of cultural identity erosion and moral degradation among the younger generation. This study aims to re-explore the relevance of Ki Hadjar Dewantara's (KHD) philosophical thoughts in strengthening students' character, particularly through the Trisakti Jiwa concept and the Tringa method, and its implementation in the school environment. The method used in this study is a literature study with a qualitative descriptive approach contextualized within the educational ecosystem at SMA Negeri 1 Rantau Utara. The results show that effective character development rests on the harmonization of human internal potential, which includes the aspects of Cipta (intellectual), Rasa (emotional), and Karsa (determination). The process of internalizing these noble values is optimally achieved through the Tringa stages, namely Ngerti (cognitive understanding), Ngrasa (conscience appreciation), and Nglakoni (behavioral actualization). The conclusion of this study emphasizes that schools as "educations" must apply the paradigm of "guiding" children's nature instead of demanding uniformity, in order to create a liberating educational ecosystem. Synergy between schools, families, and communities is the key to successfully developing the character of students who are academically intelligent and deeply rooted in the nation's noble values.Keywords: Ki Hadjar Dewantara, Character Education, Trisakti Jiwa, Tringa, GuidingAbstrak: Pendidikan di era transformasi digital menghadapi tantangan signifikan berupa risiko erosi identitas budaya dan degradasi moral di kalangan generasi muda. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi kembali relevansi pemikiran filosofis Ki Hadjar Dewantara (KHD) dalam memperkuat karakter siswa, khususnya melalui konsep Trisakti Jiwa dan metode Tringa, serta implementasinya di lingkungan sekolah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur dengan pendekatan deskriptif kualitatif yang dikontekstualisasikan dalam ekosistem pendidikan di SMA Negeri 1 Rantau Utara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan karakter yang efektif bertumpu pada harmonisasi potensi internal manusia, yang meliputi aspek Cipta (intelektual), Rasa (emosional), dan Karsa (tekad). Proses internalisasi nilai-nilai luhur ini secara optimal dicapai melalui tahapan Tringa, yaitu Ngerti (pemahaman kognitif), Ngrasa (apresiasi hati nurani), dan Nglakoni (aktualisasi perilaku). Kesimpulan penelitian ini menekankan bahwa sekolah sebagai "lembaga pendidikan" harus menerapkan paradigma "membimbing" fitrah anak alih-alih menuntut keseragaman, untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang membebaskan. Sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat adalah kunci keberhasilan dalam mengembangkan karakter siswa yang cerdas secara akademis dan berakar kuat pada nilai-nilai luhur bangsa.Kata Kunci: Ki Hadjar Dewantara, Pendidikan Karakter, Trisakti Jiwa, Tringa, Pembimbing
Peran dan Strategi Guru dalam Pendidikan Nilai untuk Generasi Alpha Ahmad Arif; Cici Syaidatun Amalya; Rahmadani Indah Nasution; Amin Harahap
Pancasila and Civics Education Journal Vol 5, No 1 (2026): PANCASILA AND CIVICS EDUCATION JOURNAL
Publisher : Pancasila and Civics Education Journal (PCEJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The moral crisis among young people, especially Generation Alpha (born 2010–2024), is exacerbated by digital disruption, technological dependence, and low empathy. Teachers play a central role in value education but need adaptive strategies. This study uses a descriptive qualitative literature review, analyzing twelve relevant sources on teacher roles, strategies, and competencies in value education for Generation Alpha.  Generation Alpha has unique characteristics: digital natives, visual learners, critical thinkers, but vulnerable to digital addiction and low interpersonal empathy. Teachers perform three main roles: as educators (linking materials with values), as teachers (selecting appropriate learning models), and as trainers (providing direct examples). The most effective strategy is consistent teacher role modeling. The combination of transmission approaches (direct value inculcation through habituation) and construction approaches (value development through reflection, moral dilemmas) is essential. Required teacher competencies include pedagogical, professional, personality, and social competencies, shaped through formal education, non‑formal training, and teaching experience. Successful value education for Generation Alpha requires synergy among three pillars (family, school, community) and continuous teacher professional development. This study contributes an integrative model of teacher roles and strategies for character building in the digital era.Keywords: Value Education; Generation Alpha; Teacher Roles; Teacher Strategies; Character EducationAbstrak: Krisis moral di kalangan anak muda, khususnya Generasi Alpha (lahir 2010–2024), diperparah oleh disrupsi digital, ketergantungan teknologi, dan rendahnya empati. Guru memainkan peran sentral dalam pendidikan nilai tetapi membutuhkan strategi adaptif. Studi ini menggunakan tinjauan literatur kualitatif deskriptif, menganalisis dua belas sumber relevan tentang peran, strategi, dan kompetensi guru dalam pendidikan nilai untuk Generasi Alpha. Generasi Alpha memiliki karakteristik unik: penduduk asli digital, pembelajar visual, pemikir kritis, tetapi rentan terhadap kecanduan digital dan rendahnya empati interpersonal. Guru menjalankan tiga peran utama: sebagai pendidik (menghubungkan materi dengan nilai-nilai), sebagai pengajar (memilih model pembelajaran yang tepat), dan sebagai pelatih (memberikan contoh langsung). Strategi yang paling efektif adalah pemodelan peran guru yang konsisten. Kombinasi pendekatan transmisi (penanaman nilai langsung melalui pembiasaan) dan pendekatan konstruksi (pengembangan nilai melalui refleksi, dilema moral) sangat penting. Kompetensi guru yang dibutuhkan meliputi kompetensi pedagogis, profesional, kepribadian, dan sosial, yang dibentuk melalui pendidikan formal, pelatihan non-formal, dan pengalaman mengajar. Pendidikan nilai yang sukses untuk Generasi Alpha membutuhkan sinergi antara tiga pilar (keluarga, sekolah, masyarakat) dan pengembangan profesional guru yang berkelanjutan. Studi ini memberikan kontribusi berupa model integratif peran dan strategi guru untuk pembentukan karakter di era digital.Kata Kunci: Pendidikan Nilai; Generasi Alpha; Peran Guru; Strategi Guru; Pendidikan Karakter
Implementasi Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dalam Pembelajaran PPKn untuk Penguatan Karakter Siswa Regina Pandia; Nova Purba; Amin Harahap
Pancasila and Civics Education Journal Vol 5, No 1 (2026): PANCASILA AND CIVICS EDUCATION JOURNAL
Publisher : Pancasila and Civics Education Journal (PCEJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This study aims to analyze the implementation of Ki Hadjar Dewantara's educational philosophy in Pancasila and Citizenship Education (PPKn) learning to strengthen students' character. The method used is descriptive qualitative with a library study approach through the analysis of various relevant literature such as books, journal articles, and educational documents. The results of the study indicate that Ki Hadjar Dewantara's philosophy has strong relevance in PPKn learning through the concept of ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani which repositions the role of teachers as role models, facilitators, and motivators of learning. In addition, the concept of Tri Pusat Pendidikan emphasizes the importance of synergy between families, schools, and communities in shaping students' character. PPKn learning based on this philosophy is able to create a more humanistic, contextual, and meaningful learning process. However, its implementation still faces challenges in the form of the dominance of cognitive learning and the negative influence of the digital era. In conclusion, the integration of Ki Hadjar Dewantara's philosophy in PPKn is very important to strengthen students' character holistically and sustainably.Keywords: Ki Hadjar Dewantara, PPKn, Character Education, Three Centers of Education, Humanistic LearningAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) untuk penguatan karakter siswa. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan melalui analisis berbagai literatur relevan seperti buku, artikel jurnal, dan dokumen pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa filosofi Ki Hadjar Dewantara memiliki relevansi kuat dalam pembelajaran PPKn melalui konsep ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani yang mereposisi peran guru sebagai teladan, fasilitator, dan motivator pembelajaran. Selain itu, konsep Tri Pusat Pendidikan menegaskan pentingnya sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam pembentukan karakter siswa. Pembelajaran PPKn berbasis filosofi ini mampu menciptakan proses pembelajaran yang lebih humanis, kontekstual, dan bermakna. Namun, implementasinya masih menghadapi tantangan berupa dominasi pembelajaran kognitif dan pengaruh negatif era digital. Kesimpulannya, integrasi filosofi Ki Hadjar Dewantara dalam PPKn sangat penting untuk memperkuat karakter siswa secara holistik dan berkelanjutan.Kata Kunci: Ki Hadjar Dewantara, PPKn, Pendidikan Karakter, Tri Pusat Pendidikan, Pembelajaran Humanis
Pengaruh Pemahaman Filosofi Pendidikan Pancasila Terhadap Karakter Kewarganegaraan Siswa di Era Digital Rahmad Santoso Nasution; Afranisha Afranisha; Salsabila Salsabila; Amin Harahap
Jurnal Teknik Mesin dan Pembelajaran Vol 9, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um054v9i1p31-38

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh pemahaman filosofi pendidikan Pancasila terhadap karakter kewarganegaraan siswa SMA di era digital. Melalui pendekatan kuantitatif deskriptif-korelasional, data dikumpulkan dari siswa SMA menggunakan kuesioner skala Likert. Berdasarkan pengujian regresi yang telah dilakukan, ditemukan bahwa tingkat pemahaman siswa terhadap filosofi Pancasila memberikan pengaruh yang positif sekaligus signifikan terhadap pembentukan karakter kewarganegaraan mereka, dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 yang berada jauh di bawah ambang batas 0,05. Adapun besaran kontribusi variabel tersebut tercermin dari nilai coefficient of determination (R²) = 0,425, yang berarti sekitar 42,5% variasi karakter kewarganegaraan siswa mampu dijelaskan oleh variabel pemahaman filosofi Pancasila. Selebihnya, sebesar 57,5% dipengaruhi oleh variabel lain di luar model, di antaranya digital literacy dan kondisi lingkungan sosial siswa. Temuan ini menegaskan bahwa internalisasi nilai Pancasila berfungsi sebagai kerangka kognitif yang mengarahkan perilaku etis dan bertanggung jawab di ruang publik maupun siber. Guru diharapkan menggeser metode pembelajaran dari hafalan normatif menuju pendekatan reflektif-kontekstual yang relevan dengan tantangan zaman. Kata Kunci: Era Digital, Karakter Kewarganegaraan, Pancasila, Pemahaman Filosofi, Pendidikan
Persepsi Guru Muda Terhadap Implementasi Nilai Filosofis Pendidikan Humanisme dalam Proses Pembelajaran di Sekolah Alda Anggraini; Mayang Sari Hasibuan; Wanda Fahira Putri; Irma Amalia; Amin Harahap
Jurnal Teknik Mesin dan Pembelajaran Vol 9, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um054v9i1p8-15

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan persepsi dan implementasi nilai pendidikan humanisme oleh guru muda (masa kerja 0-5 tahun). Menggunakan metode kualitatif deskriptif fenomenologis, data dihimpun melalui wawancara terhadap delapan guru SMA. Hasil penelitian menunjukkan guru muda memiliki persepsi positif terhadap paradigma “memanusiakan manusia”. Secara praktis, implementasi dilakukan melalui penciptaan keamanan psikologis dan pemberian otonomi belajar terbatas. Namun, ditemukan “kesenjangan implementasi” akibat hambatan struktural seperti tekanan kurikulum, keterbatasan waktu, dan minimnya praktik evaluasi diri siswa. Kesimpulannya, meskipun guru muda memiliki idealisme humanistik yang kuat, penerapannya masih sering terdistorsi oleh tuntutan sistemik sekolah. Temuan ini menegaskan perlunya dukungan kebijakan yang lebih inklusif agar nilai-nilai humanisme dapat terwujud secara konsisten dalam praktik pembelajaran. Kata Kunci: Guru Muda, Implementasi Pembelajaran, Keamanan Psikologis, Pendidikan Humanisme, Sekolah Menengah