Ketty Suketi
Departemen Agronomi Dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Program Studi Agronomi Dan Hortikultura, Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Jl. Meranti Kampus IPB Dramaga, Bogor 16680, Indonesia.

Published : 52 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Pengaruh Komposisi Media Tanam dan Plant Growth Promoting Rhizobacteria terhadap Pertumbuhan Benih Pepaya di Pembibitan dan di Lapangan Septy Yurihastuti; Winarso Drajad Widodo; Ketty Suketi
Buletin Agrohorti Vol. 6 No. 2 (2018): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1067.622 KB) | DOI: 10.29244/agrob.v6i2.18941

Abstract

Pepaya (Carica papaya L.) merupakan salah satu buah tropika yang telah dibudidayakan secara intensif di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh komposisi media tanam dan konsentrasi PGPR yang tepat untuk pertumbuhan bibit pepaya di pembibitan dan di lapangan. Percobaan di laksanakan pada bulan Juli hingga Desember 2016 di Kebun Mekarsari, Kecamatan Rancabungur, Kabupaten Bogor, dengan rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) 2 faktor dan 3 ulangan. Perlakuan terdiri atas suspensi PGPR dengan konsentrasi 0, 5, 10 dan 15 dan komposisi media tanam yang terdiri atas kontrol tanah: pupuk kandang (M0), tanah: pupuk kandang: sekam (M1), dan tanah: pupuk kandang: cocopeat (M2) sehingga terdapat 12 kombinasi perlakuan. Hasil percobaan di pembibitan menunjukkan bahwa konsentrasi suspensi PGPR mempengaruhi tinggi tanaman, diameter batang dan panjang daun, sedangkan di lapangan menunjukkan bahwa konsentrasi suspensi PGPR mempengaruhi tinggi tanaman, jumlah daun, panjang daun dan lebar daun, tetapi tidak mempengaruhi terhadap diameter batang tanaman pepaya. Komposisi media tanam selama di pembibitan tidak mempengaruhi semua parameter. Sedangkan selama pengamatan di lapangan, komposisi media tanah dan pupuk kandang (M0) dan tanah, pupuk kandang dan sekam (M1) mampu mempengaruhi tinggi tanaman dan jumlah daun.
Pengelolaan Perkebunan Pisang Cavendish Komersial di Lampung Tengah, Lampung Moh Agus Jamaluddin; Winarso D. Widodo; Ketty Suketi
Buletin Agrohorti Vol. 7 No. 1 (2019): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.691 KB) | DOI: 10.29244/agrob.v7i1.24650

Abstract

Penelitian dilaksanakan untuk menambah wawasan, pengalaman teknis, keterampilan kerja, manajerial, dan secara khusus mempelajari serta menganalisis pengelolaan perawatan tanaman dan buah pisang cavendish. Penelitian dilaksanakan di Lampung pada bulan Februari hingga Juni 2017. Metode yang digunakan untuk mendapat data primer dengan cara mengikuti dan mengamati kegiatan teknis di lapang dan wawancara. Data sekunder diperoleh dari laporan dan arsip kebun. Hasil penelitian menunjukkan kualitas buah pisang dipengaruhi pemangkasan daun, penyuntikan jantung, pembrongsongan, pembuangan bunga, pembuangan buah, pembuangan penghalang buah, dan pemasangan sekat buah. Penyakit pisang yang menjadi kendala di lokasi penelitian adalah Black Leaf Streak (BLS) yang disebabkan oleh Mycosphaerella fijiensis dan banana freckle yang disebabkan oleh Guignardia musae. Kehilangan buah ekspor terbesar karena kondisi No Functional Leaf (NFL) karena Banana Freckle. Blok dengan kondisi NFL terbesar adalah blok 27A dengan jumlah 7420 tanaman. Indeks tenaga kerja sebesar 2.08.
Evaluasi Kematangan Pascapanen Pisang Barangan untuk Menentukan Waktu Panen Terbaik Berdasarkan Akumulasi Satuan Panas Winarso Drajad Widodo; Ketty Suketi; Rizky Rahardjo
Buletin Agrohorti Vol. 7 No. 2 (2019): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (778.763 KB) | DOI: 10.29244/agrob.7.2.162-171

Abstract

Buah pisang termasuk buah klimakterik dengan umur simpan pendek. Penanganan pascapanen buah pisang bertujuan untuk mempertahankan kualitas dan umur simpan buah. Tingkat kematangan buah ketika dipanen dapat mempengaruhi kualitas buah. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh perbedaan umur petik terhadap kriteria kematangan pascapanen dan menentukan umur petik terbaik pisang Barangan berdasarkan akumulasi satuan panas. Percobaan dilaksanakan di PT. Perkebunan Nusantara VIII Kebun Parakan Salak, Sukabumi, Jawa Barat dan Laboratorium Pascapanen, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Percobaan menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak dengan 5 perlakuan umur petik: 68, 73, 78, 83, dan 88 hari setelah antesis (HSA). Setiap perlakuan diterapkan pada 5 tandan sebagai ulangan. Buah pisang Barangan dapat dipanen pada umur petik 78 HSA dengan akumulasi satuan panas sebesar 1 200-1 250 °C hari dan umur simpan mencapai 13-14 hari setelah panen (HSP). Buah pisang Barangan dengan umur petik lebih tua lebih cepat mencapai kematangan pascapanen dibandingkan buah dengan umur petik muda. Perlakuan umur petik 68-88 HSA mempengaruhi bobot buah, susut bobot, kekerasan kulit buah, kandungan vitamin C, padatan terlarut total (PTT), asam terlarut total (ATT), dan rasio PTT/ATT, namun tidak mempengaruhi kekerasan daging buah dan edible part.
Panen dan Pascapanen Kelor (Moringa oleifera Lam.) Organik di Kebun Organik Kelorina, Blora, Jawa Tengah Chandi Tri Akbar; Ketty Suketi; Juang Gema Kartika
Buletin Agrohorti Vol. 7 No. 3 (2019): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.792 KB) | DOI: 10.29244/agrob.v7i3.30171

Abstract

Penelitian kelor di Blora ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh perbedaan teknik panen terhadap produksi daun dan mempelajari metode pascapanen dan pengolahan kelor yang tepat untuk menghasilkan kelor berkualitas. Pengawasan dan sosialisasi yang berkelanjutan terkait standar operasional prosedur penting dilakukan kepada petani mitra untuk menjamin kualitas bahan baku yang tetap. Kriteria daun kelor yang dapat dipanen yaitu tangkai daun sudah memiliki sudut tangkai daun antara 45o-90o, sudah muncul sedikit bakal daun di ketiak daunnya dan daun berwarna hijau tua. Panen kelor dengan teknik pangkas cabang lebih cocok digunakan untuk produksi pakan ternak. Kelor yang dipanen dengan teknik petik daun lebih cocok digunakan untuk tujuan produksi pangan. Pengeringan merupakan kunci terpenting dalam produksi kelor. Suhu ruang pengering dipertahankan 30-35 oC dengan kelembapan dibuat hingga 46% RH selama dua hari. Perlakuan pra pengeringan dan tanpa pra pengeringan tidak mempengaruhi persentase rendemen daun kelor.
Pengaruh Beberapa Khamir Antagonis terhadap Penyakit Antraknosa dan Umur Simpan pada Buah Mangga Riana Jumawati; Roedhy Poerwanto; Suryo Wiyono; Ketty Suketi
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 14 No 5 (2018)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.717 KB) | DOI: 10.14692/jfi.14.5.153

Abstract

Effect of Various Yeasts Antagonists on Anthracnose Disease and the Shelf Life of MangoPostharvest decay on mango may occur due to physiological damage and/or postharvest disease especially anthracnose. This postharvest decay may decrease the quality of mango fruit. The use of antagonists yeast as biocontrol agent is an alternative control measure for postharvest diseases of fruits. This study aimed to screen yeast species as biological control agents and in the same time delaying the maturity of fruits to extend its shelf life.  Six isolates of yeasts were evaluated, namely Cryptococcus albidus, Cryptococcus terreus, Aureobasidium pullulans, Rhodotorula minuta, Candida tropicalis, Pseoudozyma hubeiensis); fungicides treatment using azoksistrobin was applied for comparative treatment. The study was conducted at two temperature conditions, namely room temperature and 15 ° C. It was evidenced that C. albidus, A. pullulans, and C. tropicalis were effective to control anthracnose disease on mango under both temperatures.  Furthermore, C. tropicalis and A. pullulans were able to extend manggo shelf life for 21 days at room temperature and for 54 days at 15 °C, respectively.
Pengaruh Aplikasi GA3 dan Pemupukan NPK Terhadap Keragaan Tanaman Cabai sebagai Tanaman Hias Pot Yusnita Sari; Ketty Suketi
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 4 No. 3 (2013): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.36 KB) | DOI: 10.29244/jhi.4.3.157-166

Abstract

ABSTRACTThe objected of this experiment was to know the dose of NPK fertilizer and most appropriate application of GA3  to increase ornamental pepper quality. The experiment has been done from May until August 2009 at Leuwikopo greenhouse, IPB. The experiment was arranged in Split Plot Design within Randomized Complete Block Design. Main Plot factors was application of GA3 (0 ppm, 100 ppm, and 200ppm) and sub plot was dosage of NPK fertilizer (0 g polybag-1, 1.5  g polybag-1, 3 g polybag-1, and 6 g  polybag-1). The results showed that GA3  100 and 200 ppm increased the plant height, number of nodes of plant, and elongated the  internode of stem, but the generative growth of plant become pursued. NPK fertilizer 6 g polybag-1gave the lowest of plant height and have yielded a  few  of  flower  and  fruit.  Based  on  test  of consumer  preferences,  the  best  appearance  was combination without treatment of GA3 and fertilization NPK 3 g polybag-1.Key words : Ornamental pepper, GA3, NPK ABSTRAKTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dosis pupuk NPK dan konsentrasi  yang paling tepat dari aplikasi GA3 untuk meningkatkan kualitas tanaman Lada hias. Percobaan penelitian dilakukan dari bulan Mei sampai dengan Agustus 2009 di rumah kaca kebun percobaan Leuwikopo, IPB. Percobaan menggunakan rancangan Split plot acak lengkap. Plot utama adalah aplikasi GA3 (0, ppm  100  ppm,  dan  200  ppm)  dan  anak  petak  adalah dosis  pupuk  NPK  (0  g  polybag-1,  1.5  g polybag-1, dan 6 g polybag-1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan GA3 100 dan 200 ppm dapat meningkatkan  tinggi  tanaman,  jumlah  node  dan  internode  pada  caban. Pupuk  NPK  dengan taraf aplikasi 6 g polybag-1 menunjukkan hasil yang terendah pada tinggi tanaman, dan jumlah bunga serta  buah  yang  lebih sedikit.  Berdasarkan  uji  preferensi  konsumen,   yang  paling  disukai adalah Lada dari perlakuan tanpa GA3 dan dengan penambahan pupuk NPK 3 g polybag-1.Kata kunci: GA3, NPK, Tanaman Lada NPK
Penentuan Waktu Panen Pisang Raja Bulu Berdasarkan Evaluasi Buah Beberapa Umur Petik Mustika Dwi Rahayu; Winarso Drajad Widodo; Ketty Suketi
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 5 No. 2 (2014): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.678 KB) | DOI: 10.29244/jhi.5.2.65-72

Abstract

ABSTRACTBananas are commonly consumed because of their nutrition content and affordability. Banana fruits are  rapidly over riped. Therefore, harvest time is key point for long shelf life.  The aims of this study is to analyze the criteria of Raja Bulu Banana’s (Musa  paradisiaca) ripeness in post-harvest with  several picking  dates  and  to  determine  the  best  picking  date  for  favorable  post harvest handling. This study was  conducted  from January until June 2014. Tagging was held in January at farmer  located in Sumedang  (900 m  above sea level, West Java). The post-harverst  evaluation  was conducted  from  Mei until  June  at  the  Postharvest  Laboratory,  Departement  of  Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, Bogor Agricultural University. The experiment was  arrangedin a randomized complete block design using single factor with 5 replications  for 5 picking dates, i.e. 85, 90, 95, 100, 105 and 3 replications for 110 days after anthesis (DAA). This study showed that the best picking-time for Raja Bulu Banana was achieved in 85 DAA with 11 days of shelf-life and heat units 1305.5 0C day. The later the picking age was negatively correlated with the length of shelf life. The younger the picking age was  negatively correlated with respiration rate. Picking  date  did not affect the physical and chemical quality of post-harvest fruit at the same maturity level.Keywords: color scale, respiration rate, shelf lifeABSTRAKPisang  lebih  disukai  oleh  masyarakat  karena  harganya  yang  terjangkau dan  banyak mengandung  vitamin  dan  mineral.  Buah  pisang  memiliki permasalahan  pascapanen  buah  karena yang cepat  masak. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari kriteria kematangan pascapanen buah pisang Raja Bulu dari beberapa umur petik dan menentukan saat panen terbaik untuk penanganan pascapanen. Percobaan dilaksanakan pada bulan Januari sampai Juni 2014. Penandaan bunga pisang dilaksanakan  pada  bulan  Januari  di kebun  pisang  milik  warga  di  Sumedang  Jawa  Barat  pada ketinggian  900 m  dpl  dan  pengujian  pascapanen  dilaksanakan  pada  bulan  Mei  hingga Juni  di Laboratorium  Pascapanen,  Departemen  Agronomi  dan  Hortikultura, Fakultas  Pertanian,  Institut Pertanian  Bogor.  Percobaan  dilaksanakan dengan rancangan  kelompok  lengkap  teracak  (RKLT) faktor tunggal dengan 6 umur petik sebagai perlakuan, yaitu 85, 90, 95, 100, dan 105 hari setelah antesis (HSA) masing-masing dengan 5 ulangan dan 3 ulangan untuk 110 (HSA) sehingga terdapat 28  satuan  percobaan.  Hasil  percobaan  menunjukkan bahwa  umur  petik  terbaik  pisang  Raja  Bulu dicapai pada 85 HSA dengan umur simpan terlama (11 hari) serta satuan panas sebesar 1305.5 0C hari. Buah pisang  yang  dipetik  tua  lebih  cepat  mencapai  kematangan  pascapanen dibandingkan dengan  buah  pisang  yang  dipetik  muda.  Pisang  yang  dipetik muda  memiliki  laju  respirasi  yang rendah dibandingkan dengan buah pisang yang dipetik tua. Umur petik tidak mempengaruhi mutu fisik dan kimia buah pisang pada tingkat kematangan pascapanen yang sama.Kata kunci: laju respirasi, skala warna, umur simpan
Respon Perkecambahan Polen Pepaya IPB 6 dan IPB 9 terhadap Penyimpanan pada Suhu Rendah Fidianinta ,; Ketty Suketi; Winarso D. Widodo
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 1 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.163 KB) | DOI: 10.29244/jhi.6.1.29-36

Abstract

ABSTRACTAn experiment was conducted to study the germination and storability of papaya pollen IPB 6 and  IPB  9  stored for 4 weeks at 3  levels  of  low temperature. The experiment was conducted at the Laboratory of Microtechnic and Laboratory of Biophysics  and  Reproductive Biology, Bogor Agricultural University in the month of April to June 2014. Three  variables  were observed in this experiment:  the germination rate, pollen diameter, and length of pollen. The experimental results showed that storage temperature affected the three variables observed. The best germination for IPB 6 was indicated by pollen storage at 10 0C (23.1%) while for IPB 9 was indicated by pollen stored at 5 0C (30.7%). The longest pollen tube  of  IPB 6  after storage  for 4 weeks  was indicated by pollen stored at -20 0C  (63 µm) while for IPB 9, indicated by pollen stored at 10 0C (47.72 µm). The experimental results showed that there was  no corellation between pollen diameter and length of pollen tube with pollen germination in papaya pollen of IPB 6 dan IPB 9.Key words: diameter pollen, pollen tube, germination, storability ABSTRAKPercobaan  dilakukan untuk  mempelajari daya simpan dan daya berkecambah  polen  pepaya IPB 6 dan IPB 9 yang disimpan pada suhu 5 0C, 10 0C, dan -20 0C dengan waktu penyimpanan 0-4 minggu.  Percobaan  dilaksanakan  di Laboratorium Mikroteknik dan Laboratorium Biofisik dan Biologi Reproduksi, Institut Pertanian Bogor pada bulan April-Juni 2014. Tiga variabel yang diamati pada percobaan ini adalah daya berkecambah, diameter polen dan panjang polen. Hasil percobaan menunjukkan  bahwa  suhu  penyimpanan mempengaruhi  ketiga  variabel yang  diamati. Daya berkecambah terbaik untuk pepaya IPB 6 ditunjukkan oleh polen yang disimpan pada 10 0C (23.1%)sedangkan  untuk  IPB 9 ditunjukkan oleh  polen  yang  disimpan pada 5 0C  (30.7%).  Tabung Polen pepaya  terpanjang  setelah  disimpan  selama  4 minggu  pada  IPB 6 ditunjukkan  oleh  polen  yang disimpan pada -20 0C (63 µm)  sedangkan untuk IPB 9 ditunjukkan oleh polen yang disimpan pada 10 0C (47.72 µm). Hasil  percobaan  menunjukkan  bahwa  tidak  ada  hubungan antara  diameter  dan panjang tabung polen dengan daya berkecambah pada polen pepaya IPB 9 dan IPB 6.Kata kunci: daya berkecambah, daya simpan, diameter polen, tabung polen
Pertumbuhan Stek Batang Pohpohan (Pilea trinervia Wight.) pada Umur Tanaman, Bagian Batang, dan Media Tanam yang Berbeda Nicha Muslimawati; Ketty Suketi; Anas D. Susila
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 2 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.562 KB) | DOI: 10.29244/jhi.6.2.91-98

Abstract

ABSTRACTPohpohan (Pilea trinervia Wight.) is one of indigenous vegetables that grows in the mountain areas of West Java. Propagule availability in large quantities and in a short time can be done with cuttings. However, propagation of Pohpohan by cutting  has  not  been  developed  presently.  The objective  of  the research was  to  obtain  the  best  plant  age,  stem  part,  and growing media  for the growth  of  pohpohan  stem  cuttings.  The  research  was conducted  at the Center  of  Tropical Horticulture Studies Experimental Field Tajur-Bogor, from January to July 2013. The cuttings were taken  from  mother plants  of  3,  4, 5,  and  6  months,  then the  cuttings  were  cut  to  stem tips  (B1), central stem  (B2),  and  stem  base  (B3).  The  were  five  cuttings  per experimental  unit. Experiment were replicated 3 times. Cuttings  were planted in polybag containing topsoil media (M0), rockwool (M1), husk  and  compost (M2),  and  vermicompost  (M3).  The  experiment  was  arranged in Randomized Completely Block Design.  Result of experiment  showed that pohpohan from 4 monthmother plant cut  at  stem  base  grow  in husk and compost  grow  best  (99.06% of living percentages, 100% percentage of rooted cutting  and 11-12 number of leaves).  The cutting of stem tips grown  in husk and compost showed the highest mean for the increase of stem length, 3.94 cm. There were no interaction between growing media of stem cuttings and part of stem in the growth of shoot height, number of branch, leaf width, and diameter of stem. Key words: growing media, indigenous, pohpohan, stem cuttings ABSTRAKPohpohan  (Pilea  trinervia  Wight.)  merupakan salah  satu sayuran  indigenous  yang  banyak tumbuh  di  daerah  pegunungan Jawa Barat. Pemenuhan  kebutuhan  bibit  pohpohan  dalam  jumlah yang  banyak dan dalam  waktu  yang  singkat  dapat  dilakukan  dengan  perbanyakan vegetatif stek. Namun  demikian  perbanyakan  stek  pada  pohpohan  belum  banyak dikembangkan  untuk  saat  ini. Tujuan penelitian ini ialah  memperoleh umur bahan tanaman, bagian batang, dan media tanam yang terbaik  untuk pertumbuhan  stek  batang  pohpohan.  Penelitian  dilaksanakan  di  Kebun Percobaan Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) Tajur-Bogor, dari Januari sampai Juli 2013. Pohpohan yang digunakan yaitu berumur 3, 4, 5, dan 6 bulan, kemudian dilakukan stek batang pada bagian pucuk (B1), tengah (B2), dan pangkal (B3).  Rancangan percobaan yang digunakan ialah rancangan kelompok lengkap teracak.  Setiap satuan percobaan  terdiri  atas lima  stek,  percobaan terdiri atas tiga ulangan.  Stek  dimasukkan  ke  dalam  polibag  dengan  media tanam  topsoil  (M0),  rockwool  (M1), arang  sekam  dan  kompos  (M2), serta kascing  (M3).  Hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa  stek pohpohan yang berasal dari tanaman 4 bulan,  bagian pangkal batang dan ditanam pada media arang sekam dan kompos memiliki pertumbuhan yang terbaik dengan rata-rata persentase hidup 99.06%, persentase berakar 100%, dan jumlah daun 11-12 helai. Stek pada pucuk batang yang ditanam pada media arang sekam dan kompos memiliki penambahan panjang batang stek 3.94 cm. Tidak terdapat interaksi antara perlakuan stek pada media tanam dengan bagian batang terhadap perumbuhan tinggi tunas, jumlah cabang, lebar daun, dan diameter batang.Kata kunci: indigenous, media tanam, pohpohan, stek batang
Studi Karakter Mutu Buah Pepaya IPB Ketty Suketi; Roedhy Poerwanto; Sriani Sujiprihati; , Sobir; Winarso D.Widodo
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 1 No. 1 (2010): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1675.89 KB) | DOI: 10.29244/jhi.1.1.17-26

Abstract

ABSTRACTThe objective of the experiment was to investigate the physical and chemical characteristic of eight genotypes of papaya i.e. IPB1, IPB 2A, IPB 3, IPB 3A, IPB 4, IPB 7, IPB 8, and IPB 9 on two stages of ripening period based on percentage of the yellow area of fruit peel (75% yellow and 100% yellow). The fruits were picked at 25% yellow of fruit peel colour. The experiment was conducted in split plot wi th completely randomized block design. The main plot was ripening periods of 75% and 100% ripe, while the genotypes were taken at subplot. There was no significant different on physical and chemical characteristics between papaya at stadium 75% and 100% yellow. Flesh firmness of IPB 9 was better than IPB 1, IPB 4 and IPB 8. Ascorbic acid content of IPB 4 (107.36 mg/100 g) was higher than that of IPB 2A and IPB 3A. Carotenoid content of IPB 4 (29. 73 mg/100g) was higher than that of the other genotypes.Key words: Carica papaya, physical characteristic, chemical characteristic, ascorbic acid, carotenoid
Co-Authors , Mukhlas Abdullah Bin Arif Alveno, Vitho Anas Dinurrohman Susila Ani Kurniawati Arista, Mei Lianti Awang Maharijaya betty betty Betty Tjhia Cenra Intan Hartuti Tuharea Chandi Tri Akbar DADANG DADANG Deli, Syekh Zulfadli Arofah Dhika Prita Hapsari Dian Pratanda Rizki Didy Sopandie Efendi, Darda Elke Camelia Halim Faqih Udin Farah Maulida Febjislami, Shalati Fidianinta , Fitria Andini Fitriansyah, Aidil Hamdani, Kiki Kusyaeri Imanda, Nandya Jamaluddin, Moh Agus Jian Ayu Pratiwi Juang G. Kartika Juang Gema Kartika Krisantini Lestari, Mutiara Dwi Lia Rachmawati M. Luthfan Taris Mathias Pratama Mei Lianti Arista Moh Agus Jamaluddin Mohamad Rahmad Suhartanto Muhamad Noor Azizu, Muhamad Noor Muhamad Syukur Muhammad Syaifuddin Abdurrohim Mukdisari, Yurisqi Mustika Dwi Rahayu Muthi’ah Khairun Nisa Nadiyah Mawaddah Ayuningtyas Nandya Imanda Nasib, Samson Bin Natalia, Cristina Evi Neni Musyarofah Nian Rimayanti H. Nicha Muslimawati Nidya Putri Zulia Kusuma Wardani Nilam Mayasari Nur Asmah, Nur Nurkholis Nurkholis Purwono Purwono, Purwono Putra, Bagas Akmala Rahardjo, Rizky RAHMI YUNIANTI Rahmi Yunianti Rasmani, Rasmani Riana Jumawati Risna rusdan Rizki, Dian Pratanda Rizky Rahardjo Roedhy Poerwanto Samson Bin Nasib Sandra Arifin Aziz Septy Yurihastuti Setyadjit Shalati Febjislami Slamet Susanto Sobir Sobir SRIANI SUJIPRIHATI Sriani Sujiprihati Suryo Wiyono Susanti, Lea Susanto, Renaldy Tanari, Yulinda Turi Handayani Winarso D. Widodo Winarso Drajat Widodo Yurihastuti, Septy Yusnita Sari