Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

POTENSI SALEP DARI FRAKSI AKTIF BAWANG MERAH BIMA (ALLIUM SP) SEBAGAI PENGHAMBAT INFEKSI SEKUNDER JAMUR PATOGEN PENYEBAB LUKA DIABETES Mustariani, Baiq Ayu Aprilia; Rahmawati, Sri Aprilia; Aulia, Nur Hikmatul
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi Vol 21, No 2 (2021)
Publisher : STIKes Bakti Tunas Husada Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jkbth.v21i2.752

Abstract

POTENSI SALEP DARI FRAKSI AKTIF BAWANG MERAH BIMA (ALLIUM SP) SEBAGAI PENGHAMBAT INFEKSI SEKUNDER JAMUR PATOGEN PENYEBAB LUKA DIABETES Mustariani, Baiq Ayu Aprilia; Rahmawati, Sri; Aulia, Nur Hikmatul
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi Vol 21, No 2 (2021)
Publisher : STIKes Bakti Tunas Husada Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jkbth.v21i2.785

Abstract

PEMERIKSAAN GOLONGAN DARAH SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PEMAHAMAN SISWA TENTANG KEBUTUHAN DAN KEBERMANFAATAN DARAH Hardani Hardani; Baiq Ayu Aprilia Mustariani; Adriyan Suhada; Aini Aini
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol. 2, No. 1: Juni 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.999 KB) | DOI: 10.31764/jmm.v2i1.1330

Abstract

Abstrak: Darah merupakan salah satu komponen paling penting yang ada dalam tubuh, mengingat fungsinya  sebagai alat transportasi. Kekurangan darah di dalam tubuh dapat memacu sejumlah penyakit  dimulai dari anemia, hipotensi, serangan jantung, dan beberapa penyakit lainnya. Beberapa kasus lain seperti kecelakaan, luka bakar dan proses persalinan juga memerlukan tranfusi darah akibat tingginya kemungkinan pendarahan. Terdapat dua jenis penggolongan darah yang paling penting adalah penggolongan A-B-O dan Rhesus (faktor Rh). Transfusi darah dari golongan yang tidak kompatibel dapat menyebabkan reaksi transfusi imunologis yang berakibat anemia hemolisis, gagal ginjal, syok, dan kematian. Banyak diantara kita belum mengetahui jenis golongan darah yang kita miliki. Kasus ini menjadi sangat krusial ketika individu tersebut mengalami musibah, seperti kecelakaan yang mengakibatkan darah banyak keluar. Tindakan penanganan pasien menjadi terlambat, karena individu ini belum mengetahui jenis golongan darah yang ia miliki. Berdasarkan hasil observasi dengan siswa, Kepala Sekolah dan guru-guru Madrasah Aliyah NW Bagik Polak, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa di sekolah ini belum mengetahui golongan darah yang ia miliki. Kejadian ini  menjadi dasar kami untuk melakukan pengabdian kepada masyarakaat dalam hal ini siswa untuk mengecek golongan darah yang mereka miliki.Abstract:  Blood is one of the most important components in the body, given its function as a means of transportation. Blood deficiency in the body can spur some diseases starting from anemia, hypotension, heart attack, and some other diseases. Some other cases such as accidents, burns, and childbirth also require blood transfusions due to the high likelihood of bleeding. There are two most important types of blood type which are the A-B-O and Rhesus (RH) classification. Incompatible blood transfusions can cause immunological transfusion reactions that result in hemolysis anemia, renal failure, shock, and death. Many of us do not know the type of blood group we have. This case became very crucial when the individual suffered a calamity, such as accidents that caused many types of blood to come out. The patient's treatment was delayed, as the individual did not know what type of blood he had. Based on the results of the observation with the students, the principal, and teachers of Madrasah Aliyah NW Bagik Polak, it can be concluded that most students in this school do not know the blood type he has. This incident is the basis for our devotion to the community in this case students to check the blood group they have.
UJI KARAKTERISTIK SEDIAAN MASKER GEL PEEL-OFF BERBAHAN DASAR EKSTRAK DAUN KELOR (Moringa oleifera ) DAN MADU HUTAN TERHADAP KULIT WAJAH: THE CHARACTERISTICS TEST OF THE PEEL-OFF GEL MASK PREPARATION BASED ON MORINGA LEAF EXTRACT AND FOREST HONEY ON THE QUALITY OF FACIAL SKIN Seri Wahyuni; Lukman Taufik; Baiq Ayu Aprilia Mustariani
SPIN JURNAL KIMIA & PENDIDIKAN KIMIA Vol. 3 No. 2 (2021): Juli - Desember 2021
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/spin.v3i2.3909

Abstract

This study aims to determine the effect of the characteristics of peel-off gel mask preparation based on Moringa leaf extract and forest honey to the quality of facial skin. This research was type of experiment conducted in laboratory using quantitative approach. The peel-off gel mask preparation was made by 4 volume variations such as, 0 mL, 3 mL, 5 mL and 7 mL and used 4 type of tests such as, organoleptic tests in color, aroma, and texture which had the highest average value in formulation 3 with successive scores row (4.80, 4.45, 4.75). pH test, with the highest value was found in formulation 1 with value a 6.67. Irritation test, the results obtained from the variation of the peel-off gel mask formulation did not cause irritation. The last one was Antibacterial test with the highest value found in formulation 3 with inhibitory power of 26.40 mm showed a very strong inhibitory power. It can be concluded that variations in the formulations of Moringa leaf extract and forest honey affect the quality characteristics of the peel-off gel mask preparation the best quality formulation variant found in formulation 3. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh karakteristik sediaan masker gel peel-off berbahan dasar ekstrak daun kelor dan madu hutan terhadap kualitas kulit wajah. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen yang dilakukan di laboratorium dengan menggunakan pendeketan kuantitatif. Sediaan masker gel peel-off dibuat dengan 4 variasi volume ekstrak daun kelor dan madu hutan yaitu dari 0 mL, 3 mL, 5 mL dan 7 mL dan menggunakan 4 uji yaitu uji organoleptik berupa warna, aroma, dan tekstur memiliki nilai rata-rata tertinggi terdapat pada formulasi 3 dengan skor berturut-turut (4,80, 4,45, 4,75). Pada uji pH, nilai tertinggi terdapat pada formulasi 1 dengan nilai 6,67. Pada uji iritasi, didapatkan hasil variasi formulasi masker gel peel-off tidak terjadi iritasi. Pada uji daya antibakteri nilai tertinggi terdapat pada formulasi 3 dengan daya hambat 26,40 mm yang menunjukan daya hambat yang sangat kuat. Dapat disimpulkan bahwa variasi formulasi ekstrak daun kelor dan madu hutan berpengaruh terhadap kualitas karakteristik sediaan masker gel peel-off dengan varian formulasi yang paling bagus kualitasnya adalah terdapat pada formulasi 3.
SKRINING FITOKIMIA EKSTRAK ETANOL DAUN RENGGAK (Amomum dealbatum) DAN POTENSINYA SEBAGAI ANTIOKSIDAN: PHYTOCHEMICAL SCREENING OF ETHANOLIC EXTRACT OF RENGGAK (Amomum dealbatum) LEAVES AND ITS POTENTIAL ANTIOXIDANT Baiq Ayu Aprilia Mustariani; Baiq Rauhil Hidayanti
SPIN JURNAL KIMIA & PENDIDIKAN KIMIA Vol. 3 No. 2 (2021): Juli - Desember 2021
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/spin.v3i2.4029

Abstract

Renggak (Amomum dealbatum) is a kind of aromatic plant of the ginger tribe that grows in Indonesia, including on the island of Lombok. The existence of renggak fruit in Lombok was mostly known only as one of the plants that can be eaten fresh and as a medicine for dizziness. This research was conducted with the aim of identifying and identifying secondary metabolites contained in renggak leaf extract (Amomum dealbatum) which have potential as antioxidants. This research is an experimental study with extract using maceration. Samples of dried Renggang leaves were macerated with 96% ethanol and evaporated until the extract was obtained. The macerated extract was screened for phytochemicals. Testing of antioxidant activity using the DPPH method and measurement of antioxidant activity using a UV-Vis Spectrophotometer with various concentrations of 20, 40, 60, and 80 ppm. The screening results showed the presence of flavonoid compounds, alkaloids, triterpenoids, saponins, and phenolics. It was found that the antioxidant activity increased with increasing concentration. The IC50 value is 149.59 ppm. The ethanol extract of renggak leaves has potential as an antioxidant. Renggak (Amomum dealbatum) merupakan jenis tumbuhan aromatis suku jahe-jahean yang tumbuh di Indonesia termasuk di pulau Lombok. Keberadaan buah renggak di Lombok sebagaian besar diketahui hanya sebagai salah satu tanaman yang dapat dimakan buahnya secara segar dan sebagai obat pusing. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui dan mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder yang terdapat dalam ekstrak daun renggak (Amomum dealbatum) dan potensinya sebagai antioksidan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan pengambilan ekstrak menggunakan maserasi. Sampel daun renggak kering dimaserasi dengan etanol 96% dan dievaporasi sampai diperoleh ekstrak. Ekstrak hasil maserasi dilakukan skrining fitokimia. Pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH dan pengukuran aktivitas antioksidan menggunakan Spektrofotometer Uv-Vis dengan variasi konsentrasi 20, 40, 60, dan 80 ppm. Hasil skrining menunjukkan adanya kandungan senyawa flavonoid, alkaloid, triterpenoid, saponin, dan fenolik. Diperoleh aktivitas antioksidan ekstrak daun renggak bertambah besar seiring bertambahnya konsentrasi. Didapatkan Nilai IC50 ekstrak sebesar 149.59 ppm dan disimpulkan memiliki potensi sebagai antioksidan.Renggak (Amomum dealbatum) merupakan jenis tumbuhan aromatis suku jahe-jahean yang tumbuh di Indonesia termasuk di pulau Lombok. Keberadaan buah renggak di Lombok sebagaian besar diketahui hanya sebagai salah satu tanaman yang dapat dimakan buahnya secara segar dan sebagai obat pusing. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui dan mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder yang terdapat dalam ekstrak daun renggak (Amomum dealbatum) dan potensinya sebagai antioksidan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan pengambilan ekstrak menggunakan maserasi. Sampel daun renggak kering dimaserasi dengan etanol 96% dan dievaporasi sampai diperoleh ekstrak. Ekstrak hasil maserasi dilakukan skrining fitokimia. Pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH dan pengukuran aktivitas antioksidan menggunakan Spektrofotometer Uv-Vis dengan variasi konsentrasi 20, 40, 60, dan 80 ppm. Hasil skrining menunjukkan adanya kandungan senyawa flavonoid, alkaloid, triterpenoid, saponin, dan fenolik. Diperoleh aktivitas antioksidan ekstrak daun renggak bertambah besar seiring bertambahnya konsentrasi. Didapatkan Nilai IC50 ekstrak sebesar 149.59 ppm dan disimpulkan memiliki potensi sebagai antioksidan.
SKRINING FITOKIMIA DAN UJI ANTIBAKTERI EKSTRAK KOMBINASI DAUN JERUK PURUT (Citrus hystrix) DAN KELOR (Moringa oleifera L.) SEBAGAI ZAT AKTIF PADA SABUN ANTIBAKTERI: PHYTOCHEMICAL SCREENING AND ANTIBACTERIAL TEST COMBINATION OF KAFFIR LIME LEAVES (Citrus hystrix) AND MORINGA LEAVES (Moringa oliefera L.) EXTRACTS AS ACTIVE SUBSTANCES IN ANTIBACTERIAL SOAP Iin Nurjannah; Baiq Ayu Aprilia Mustariani; Novia Suryani
SPIN JURNAL KIMIA & PENDIDIKAN KIMIA Vol. 4 No. 1 (2022): Januari - Juni 2022
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/spin.v4i1.4801

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa metabolit sekunder dan pengaruh konsentrasi terhadap diameter zona hambat antibakteri ekstrak kombinasi daun jeruk purut (Citrus hystrix) dan daun kelor (Moringa oleifera L.). Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Ekstrak kombinasi daun jeruk purut (Citrus hystrix) dan daun kelor (Moringa oleifera L.) diperoleh dari metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Skrining fitokimia yang dilakukan yaitu uji alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, steroid, dan terpenoid. Sedangkan uji antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dilakukan menggunakan metode sumuran dengan variasi konsentrasi ekstrak kombinasi daun jeruk purut dan daun kelor 20%, 40%, 60% 80% dan 100%. Hasil penelitian skrining fitokimia menunjukkan hasil positif untuk alkaloid, flavonoid, tanin, dan steroid. Adapun hasil pengujian zona hambat bakteri masing-masing secara berturut-turut yaitu 7,20 mm; 8,45 mm; 8,70 mm; 9,20 mm dan 10,68 mm. Berdasarkan hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa adanya kenaikan konsentrasi ekstrak kombinasi daun jeruk purut dan daun kelor berpengaruh pada semakin bertambahnya diameter zona hambat terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.   ABSTRACT This study aims to determine the content of secondary metabolites and the effect of concentration on the diameter of the antibacterial inhibition zone of the combination extracts of kaffir lime leaves (Citrus hystrix) and Moringa leaves (Moringa oleifera L.). This study use experimental methods with qualitative and quantitative approaches. Combination extracts of kaffir lime leaves (Citrus hystrix) and Moringa leaves (Moringa oleifera L.) were obtained by maceration method using 96% ethanol as solvent. Phytochemical screenings were carried out by testing for alkaloids, flavonoids, saponins, tannins, steroids, and terpenoids. While the antibacterial test against Staphylococcus aureus was carried out using the well method with various concentrations combination extracts of kaffir lime leaves and moringa leaves 20%, 40%, 60% 80% and 100%. The results of the phytochemical screening study showed positive results for alkaloids, flavonoids, tannins, and steroids. The results of the bacterial inhibition zone testing were respectively 7.20 mm; 8.45 mm; 8.70 mm; 9.20 mm and 10.68 mm. Based on the results obtained indicate that an increase in concentration combination extracts of kaffir lime leaves and moringa leaves affects the increasing diameter of the inhibition zone on the growth of Staphylococcus aureus bacteria.
SKRINING FITOKIMIA DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI KOMBINASI EKSTRAK ETANOL DAUN SELEDRI (Apium graveolens L.) DAN KELOR (Moringa oleifera L.) SEBAGAI ZAT AKTIF MASKER WAJAH: PHOTOCHEMICAL SCREENING AND ANTIBACTERIAL ACTIVITY TEST FROM COMBINATION OF CELERY (Apium graveolens L.) AND MORINGA (Moringa oleifera L.) LEAF ETHANOL EXTRACT AS FACIAL MASK ACTIVE INGREDIENTS Serli Gustiana; Baiq Ayu Aprilia Mustariani; Novia Suryani
SPIN JURNAL KIMIA & PENDIDIKAN KIMIA Vol. 4 No. 1 (2022): Januari - Juni 2022
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/spin.v4i1.5150

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder yang terdapat dalam kombinasi ekstrak etanol daun seledri (Apium graveolens L.) dan daun kelor (Moringa oleifera L.) serta mengetahui pengaruh konsentrasi kombinasi ekstrak etanol daun seledri (Apium graveolens L.) dan daun kelor (Moringa oleifera L.) terhadap daya hambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Daun seledri (Apium graveolens L.) dan daun kelor (Moringa oleifera L.) diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa kombinasi ekstrak etanol daun seledri (Apium graveolens L.) dan daun kelor (Moringa oleifera L.) mengandung senyawa metabolit sekunder berupa flavonoid, steroid, terpenoid, alkaloid, dan tanin. Aktivitas antibakteri terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus menunjukkan adanya diameter zona hambat. Nilai rerata diameter zona hambat yang didapatkan pada konsentrasi 20%, 40%, 60%, 80%, dan 100% secara berturut-turut yaitu 7,16 mm; 8,33 mm; 8,36 mm; 9,4 mm; dan 10,4 mm. Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui, bahwa semakin tinggi konsentrasi yang digunakan maka semakin besar pula diameter zona hambat yang didapatkan.   ABSTRACT This study aims to determine the content of secondary metabolites contained in the combination of ethanol extract of celery leaves (Apium graveolens L.) and Moringa leaf (Moringa oleifera L.) and to determine the effect of the concentration of the combined ethanol extract of celery leaves (Apium graveolens L.) and Moringa leaves (Apium graveolens L.) Moringa oleifera L.) on the growth inhibition of Staphylococcus aureus bacteria. Celery (Apium graveolens L.) and Moringa (Moringa oleifera L.) leaves was extracted by the maceration method using 96% ethanol as solvent. The results of phytochemical screening showed that the combination of ethanol extract of celery (Apium graveolens L.) and Moringa (Moringa oleifera L.) leaves contained secondary metabolites in the form of flavonoids, steroids, terpenoids, alkaloids, and tannins. Antibacterial activity on the growth of Staphylococcus aureus bacteria indicated the diameter of the inhibition zone. The mean value of the inhibition zone diameter obtained at concentrations of 20%, 40%, 60%, 80%, and 100%, respectively, was 7.16 mm; 8.33 mm; 8.36 mm; 9.4 mm; and 10.4 mm. Based on these results, it can be seen that the higher the concentration used, the larger the diameter of the inhibition zone obtained.
POTENSI FRAKSI AKTIF DAUN PECUT KUDA (Stachytarpheta jamaicensis (L) Vahl) SEBAGAI PENGHAMBAT BAKTERI PENYEBAB PNEUMONIA Baiq Ayu Aprilia Mustariani; Ajeng Dian Pertiwi
Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmiah Kesehatan Politeknik Medica Farma Husada Mataram Vol. 4 No. 2 (2018): JURNAL PENELITIAN DAN KAJIAN ILMIAH KESEHATAN POLITEKNIK MEDICA FARMA HUSADA MA
Publisher : Politeknik Medica Farma Husada Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (862.12 KB) | DOI: 10.33651/jpkik.v4i2.37

Abstract

Alam menyediakan obat-obat alami yang murah, efektif, dan relatif aman. Hal tersebut mendorong semakin banyak dilakukan eksplorasi bahan alam sebagai sumber obat-obatan. Tujuan Penelitian adalah untuk menemukan fraksi aktif dari ekstrak daun pecut kuda (Stachytarpheta jamaicensis (L.)Vahl) dan mengetahui mengetahui kemampuan antibakteri terhadap beberapa bakteri penyebab pneumonia. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratories secara in vitro yang bersifat eksploratif analitik untuk menguji aktivitas antibakteri fraksi daun Pecut kuda terhadap bakteri penyebab Pneumonia dibandingkan ciprofloxacin sebagai control positif. Fraksi n-heksana dari daun pecut kuda memiliki daya hambat pada bakteri Staphylococcus aureus pada konsentrasi 10% dan 20% sebesar 9 mm dan 10 mm, sedangkan antibiotik ciprofloxacin (K+) sebesar 6 mm sedangkan fraksi etanol memiliki daya hambat pada konsentrasi 20% sebesar 6 mm sedangkan antibiotik ciprofloxacin (K+) sebesar 7 mm. Fraksi n-heksana dapat menghambat bakteri Streptococcus pneumonia memiliki daya hambat pada konsentrasi 1%, 5%, 10%, dan 20% sebesar 10 mm, 12 mm, 12 mm, dan 13 mm. Fraksi etanol menghambat bakteri Streptococcus pneumonia pada konsentrasi 10% dan 20% sebesar 9 mm dan 13 mm.
Testing the Effectiveness of Ethanol Extract of Horse Whip Leaves (Stachytarpheta Jamaicensis L.) towards Wounds in Mice (Mus musculus) Wulan Ratia Ratulangi; Zohroyani; En Purmafitriah; Baiq Ayu Aprilia Mustariani
Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmiah Kesehatan Politeknik Medica Farma Husada Mataram Vol. 9 No. 1 (2023): April
Publisher : Politeknik Medica Farma Husada Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.097 KB) | DOI: 10.33651/jpkik.v9i1.520

Abstract

The horse whip leaves plant (Stachytarpheta jamaincensis) is an annual herbaceous shrub. Cuts are wounds that occur due to cuts by instruments or sharps objects. This study aims to determine the effectiveness of the ethanol extract of horse whip leaves on the healing of cuts in mice (Mus musculus) and the most effective concentration for healing cuts in mice. Design This study uses laboratory experimental methods. The sample used for each experimental group was 5 mice with a total of 5 groups, so this study used 25 mice with 3 treatments, namely the treatment (positive control (+), negative control (-), 25%, 50%, 75%). All data is tabulated and statistically analyzed with ANOVA. The conclusion shows that the concentration of horsetail leaf extract at a concentration of 75% is the most effective in healing cuts in mice when compared to horsetail leaf extract at concentrations of 50% and 25% in terms of the average percentage of healing from day 1 to day 7.
POTENSI SALEP DARI FRAKSI AKTIF BAWANG MERAH BIMA (ALLIUM SP) SEBAGAI PENGHAMBAT INFEKSI SEKUNDER JAMUR PATOGEN PENYEBAB LUKA DIABETES Baiq Ayu Aprilia Mustariani; Sri Rahmawati; Nur Hikmatul Aulia
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi Vol 21, No 2 (2021)
Publisher : LPPM Universitas Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jkbth.v21i2.785

Abstract