Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search
Journal : VALENSI

Penggunaan Biokompos dalam Bioremediasi Lahan Tercemar Limbah Minyak Bumi Barokah Aliyanta; La Ode Sumarlin; Ahmad Saepul Mujab
Jurnal Kimia Valensi JURNAL Valensi Volume 2, No. 3, November 2011
Publisher : Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.654 KB) | DOI: 10.15408/jkv.v2i3.114

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektifitas biokompos, rumput gajah dan kelompok mikroba yang efektif dalam bioremediasi lahan tercemar minyak bumi yang dilakukan dalam skala laboratorium, dan bahan tambahan yang digunakan urea sebagai sumber nitrogen. Pada penelitian ini dilakukan berdasarkan rasio C/N yaitu 15, 10, dan 5. Parameter uji yang dilakukan untuk mengetahui kondisi optimal yang dicapai pada remediasi terdiri atas pH, kadar air, kadar abu, dan kemampuan ikat air/water holding capacity (WHC). Hasilnya menunjukan degradasi TPH (Total Petroleum Hidrokarbon) sebesar 91,15% dengan komposisi medium (100 g berat kering lumpur minyak bumi, 100 g berat kering biokompos, 9 g urea, rasio C/N = 5) menggunakan perlakuan dari kombinasi rumput gajah, mikroorganisme, urea dan biokompos selama 35 hari. Faktor lingkungan yang menghasilkan kondisi optimal ini dicapai pada remediasi diperoleh melalui kondisi awal pH 8,25; kadar air 49,97%; WHC 101,64%; dan kadar abu 63,76% dan kondisi akhir pH 6,25; kadar air 55,04%; kadar abu 73,39%; dan WHC 124,11%. Penambahan kompos dan urea dapat meningkatkan efisiensi degradasi TPH dan diperoleh hubungan positif antara jumlah penambahan kompos dan urea terhadap tingkat degradasi TPH. Kata kunci : biokompos, bioremediasi, degradasi, WHC, TPH
Uji Aktivitas Antidiabetes Fraksi Etil Asetat Daun Pandan Wangi (P. amaryllifolius Roxb.) dengan Metode α-Glukosidase Dede Sukandar; La Ode Sumarlin; Hilyatuz Zahroh; Eka Rizki Amelia
Jurnal Kimia Valensi Jurnal Valensi Volume 2, No.5, November 2012
Publisher : Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.967 KB) | DOI: 10.15408/jkv.v2i5.294

Abstract

Telah dilaporkan hasil penelitian untuk mengetahui aktivitas antidiabetes setiap fraksi dalam ekstrak etil asetat daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) secara in vitro menggunakan metode α-glukosidase. Ekstrak dibuat dengan cara maserasi menggunakan pelarut etil asetat dan pemisahan komponen kimia dengan kromatografi lapis tipis (KLT). Hasil KLT dengan fase gerak n-heksan:etil asetat (3:1) dan penambahan 3 tetes asam asetat glasial menghasilkan lima fraksi dengan Rf masing-masing sebesar 0,20; 0,30; 0,55; 0,60; dan 0,70. Fraksi 2 memiliki aktivitas antidiabetes tertinggi dengan nilai IC50 relatif 77,57 ppm.
Evaluasi In Vitro Kemampuan Penyerapan Glukosa oleh Ekstrak Daun Namnam (Cynometra cauliflora) pada Otot Diafragma Tikus La Ode Sumarlin; Agik Suprayogi; Min Rahminiwati; Aryani Satyaningtijas
Jurnal Kimia Valensi Jurnal Kimia VALENSI Volume 4, No. 1, Mei 2018
Publisher : Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.795 KB) | DOI: 10.15408/jkv.v4i1.7345

Abstract

Diabetes Melitus (DM) adalah kelompok gangguan metabolisme yang ditandai oleh hiperglikemia akibat kerusakan pada sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya.  Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) mencapai 90-95% dari keseluruhan populasi penderita diabetes tersebut. Salah satu tanaman yang potensial sebagai alternatif obat antidiabetes adalah tanaman namnam (Cynometra cauliflora).  Pada penelitian ini kemampuan penyerapan glukosa oleh otot diafragma yang diisolasi dari tikus non diabetes Sprague Dawley oleh ekstrak metanol daun namnam (C. cauliflora) pada berbagai konsentrasi ditentukan.  Gugus fungsi senyawa dominan pada ekstrak  menggunakan FTIR (Fourier Transform Infrared). Hasilnya menunjukkan bahwa terjadinya peningkatan penyerapan glukosa oleh diafragma ketika konsentrasi ekstrak daun namnam (C. cauliflora) meningkat dan tertinggi pada konsentrasi 450 mg/mL dengan serapan 0.4254 ± 3.23 mg/mL/30 menit dengan peningkatan sebesar 373.72% dibandingkan kontrol air.  Diduga kemampuan ekstrak tanaman C. Cauliflora menyerap glukosa disebabkan keberadaan golongan flavonoid. Oleh karena itu daun tanaman namnam (C. cauliflora) memiliki potensi sebagai obat antidiabetes DMT2 melalui mekanisme peningkatan penyerapan glukosa ke dalam sel.DOI:http://dx.doi.org/10.15408/jkv.v4i1.7345
Pemerangkapan Ammonium (NH4 +) dari Urine Dengan Zeolit Pada Berbagai Variasi Konsentrasi Urine La Ode Sumarlin; Salih Muharam; Andhi Vitaria
Jurnal Kimia Valensi Jurnal Valensi Volume 1, No.3, November 2008
Publisher : Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2619.651 KB) | DOI: 10.15408/jkv.v1i3.220

Abstract

Urine sebagai limbah yang mengandung nitrogen dapat dimanfaatkan sebagai sumber pupuk.Akan tetapi, pada kondisi tertentu dalam air, urea mempunyai ion ammonium yang dapatberubah menjadi nitrit yang bersifat racun atau berubah menjadi ammoniak yang dapatmencemari udara. Untuk mencegah masalah lingkungan tersebut dan efisiensi pupuk makadigunakan zeolit untuk memperlambat dan mencegah perubahan ion ammonium menjadi ionyang bersifat racun. Salah satu sifat zeolit adalah mampu menyerap (adsorpsi) zat organikmaupun zat anorganik dan penukar kation ( ion exchanger) (Dixon, 1989). Ion ammoniummemiliki peluang terbesar untuk terserap dalam zeolit dengan cara penukaran kation. Salah satumetode analisis terhadap daya adsorpsi zeolit adalah metode impregnasi basah, dimana zeolitdirendam dalam berbagai konsentrasi urine 0%(Zo), 5%(Z1), 10%(Z2), 15%(Z3), 20%(Z4) dan25%(Z5). Analisis NH4+dalam filtrate hasil impregnasi zeolit menggunakan spektrofotometerUV/Vis adalah Zo (urine awal) berkisar 72,513 mg/L, Z1 (60,951 mg/L), Z2 (62,191 mg/L), Z3 (69,072 mg/L), Z4 (51,243 mg/L) dan Z5 (58,750 mg/L). Maka didapat kapasitas adsorpsiterbesar adalah pada konsentrasi Z4 yaitu berkisar 21,270 mg/L. Karakterisasi zeolit hasilimpregnasi menggunakan spektrofotometer FTIR terhadap zeolit Zo dan Z4, nampakpuncak/spektra baru pada 1427 cm-1 merupakan ammonium (NH4+) yang terperangkap olehzeolit dalam bentuk garam ammonium.
Analisis Mutu Minyak Jelantah Hasil Peremajaan Menggunakan Tanah Diatomit Alami dan Terkalsinasi La Ode Sumarlin; Lela Mukmillah; Ratna Istianah
Jurnal Kimia Valensi Jurnal Valensi Volume 1, No.4, Mei 2009
Publisher : Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1971.066 KB) | DOI: 10.15408/jkv.v1i4.246

Abstract

Kualitas minyak goreng sangat ditentukan oleh sifat fisika dan kimianya. Semakin sering minyakgoreng dipanaskan maka kualitasnya akan semakin menurun. Pada Penelitian ini dilakukan prosesperemajaan minyak goreng bekas (minyak jelantah) dengan menggunakan dua adsorben, yaituadsorben tanah diatomit alami dan tanah diatomit yang dikalsinasi. Dalam proses peremajaan inidilakukan proses aktivasi terhadap adsorben untuk dapat meningkatkan daya serap adsorben terhadapminyak jelantah. Parameter uji yang dilakukan untuk mengetahui kualitas minyak jelantah hasilperemajaan oleh tanah diatomit terdiri atas kadar air, kadar kotoran, bilangan peroksida dan kadarasam dengan metode titrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak jelantah hasil peremajaanoleh tanah diatomit alami mengalami kenaikan kualitas. Hal ini ditunjukan oleh penurunan kadar airminyak jelantah yang semula 1,2412%, kadar kotoran 3,2779%, bilangan peroksida 0,0168 mgO2/100gr, dan bilangan asam sebesar 1,0037. Setelah diremajakan oleh tanah diatomit alamimengalami penurunan kadar air sebesar 0,6139%, kadar kotoran 1,8100%, bilangan peroksida0,0121mg O2/100gr dan bilangan asam sebesar 0,9751. Begitupun dengan minyak jelantah hasilperemajaan dengan adsorben tanah diatomit terkalsinasi dengan kadar air sebesar 0,2881% kadarkotoran 0,6429%, bilangan peroksida 0,0099mg O2/100gr dan bilangan asam sebesar 0,8038. Minyakjelantah hasil peremajaan oleh tanah diatomit terkalsinasi mengalami peningkatan kualitas ataupenurunan persentase kadar air sebesar 76,79%, kadar kotoran 80,39%, bilangan peroksida 41,07%dan bilangan asam sebesar 19,92%. Begitupun untuk minyak jelantah hasil peremajaan oleh tanahdiatomit alami. Namun kenaikan kualitasnya tidak sebesar hasil peremajaan oleh tanah diatomitterkalsinasi, persentase penurunan kadar air pada minyak hasil peremajaan tanah diatomit alamisebesar 50,54% , kadar kotoran 44,78%, bilangan peroksida 27,68% dan bilangan asam sebesar2,85%. Dari data hasil penelitian dapat diketahui bahwa tanah diatomit alami daya serapnya lebihrendah daripada dengan tanah diatomit terkalsinasi.
Aktivitas Protease Dari Bacillus circulans Pada Media Pertumbuhan Dengan pH Tidak Terkontrol La Ode Sumarlin
Jurnal Kimia Valensi Jurnal valensi Volume 1, No.2, Mei 2008
Publisher : Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1929.133 KB) | DOI: 10.15408/jkv.v1i2.215

Abstract

Salah satu enzim yang telah banyak dipelajari adalah enzim protease. Jenis enzim ini merupakan enzim yang penting dari segi ekonomi karena menguasai 59% dari total penjualan enzim di dunia. Aplikasi protese telah meluas, baik pada industri pangan maupun nonpangan. Industri pangan memanfaatkan protease untuk memperbaiki tekstur, mempersingkat waktu pencampuran, dan meningkatkan volume adonan pada pembuatan roti, menjernihkan bir, mengempukkan daging, dan menggumpalkan susu. Enzim ini dapat dproduksi oleh mikroba dalam suatu media mengandung Air Rendaman Kedelai (ARK) dengan pH tidak terkontrol. Pengukuran aktivitas enzim menggunakan metode Bergmeyer dan Grassl sedangkan kadar protein ditentukan dengan metode Bradford. Hasil analisis menunjukkan bahwa Aktivitas Protease (AP) pada media Air Rendaman Kedelai dan media standar dengan pH tidak terkontrol masing-masing sebesar 0,1814 U/ml dan 0,0342 U/ml. Produksi protease pada media tersebut optimum pada pH 9,28, jam ke-56 pada fase akhir eksponensial dari fase pertumbuhan mikroba. Perkembangan ilmu bioteknologi telah menempatkan penggunaan enzim sebagai salah satu alternatif untuk berbagai keperluan misalnya di bidang industri, pengobatan, dan analisis. Keuntungan penggunaan enzim antara lain : (1) enzim merupakan bahan alami yang tidak beracun, (2) enzim dapat mempercepat reaksi tanpa menyebabkan terbentuknya hasil reaksi yang tidak diinginkan, (3) enzim aktif pada konsentrasi rendah, (4) kecepatan reaksi enzim dapat diatur dengan mengatur suhu, pH, dan jumlah enzim yang digunakan, (5) enzim dapat diinaktifkan jika reaksi yang diinginkan sudah diperoleh, (6) enzim merupakan senyawa alamiah yang ramah lingkungan (Suhartono, 1993). Enzim juga masih mempunyai kemampuan transformasi kimia meskipun telah terpisah dari sel (Bakhtiar, A 1991). Salah satu enzim yang telah banyak dipelajari adalah enzim protease. Jenis enzim ini merupakan enzim yang penting dari segi ekonomi karena menguasai 59% dari total penjualan enzim di dunia (Suhartono, 1993). Aplikasi protese telah meluas, baik pada industri pangan maupun nonpangan. Industri pangan memanfaatkan protease untuk memperbaiki tekstur, mempersingkat waktu pencamuran, dan meningkatkan volume adonan pada pembuatan roti, menjernihkan bir, mengempukkan daging, resep masakan indonesia dan menggumpalkan susu. Protease pada industri non pangan digunakan antara lain dalam bidang kesehatan, fotografi, industri detergen, dan industri kulit. Enzim ini dapat dihasilkan oleh tanaman, hewan, dan mikroba. Protease yang dihasilkan oleh mikroba sangat potensial untuk digunakan karena sumbernya yang berlimpah, produksi enzim yang cepat, biaya produksi relatif murah, dan mudah dikontrol. Enzim mempunyai aktivitas maksimum pada kisaran pH yang disebut pH optimum, yang umumnya antara pH 4,5 sampai 8.0. Suatu enzim tertentu mempunyai kisaran pH yang sempit. Disekitar pH optimum enzim mempunyai stabilitas yang tinggi. Stabilitas enzim terhadap panas berhubungan erat dengan stabilitasnya terhadap pH, sering stabilitas terhadap panas tidak pada pH isoelektrik dari enzim. Bila pH di bawah atau di atas pH optimum, semakin jauh dari pH optimum maka enzim semakin tidak stabil dan semakin tinggi suhu maka stabilitasnya semakin menurun. Pada penelitian ini telah diidentifikasi mikroba yang memproduksi protease dalam jumlah banyak, yaitu Bacillus circulans. Mikroba tersebut diisolasi dalam limbah padat kecap. Pemurnian dilakukan untuk memisahkan enzim tertentu dari ekstrak kasar yang masih mengandung sel mikroba dan komponen lainnya. Penelitian selanjutnya adalah mempelajari aktivitas protease Air Rendaman Kedelai pada pH yang tidak terkontrol dari Bacillus circulans. Melalui penelitian ini diharapkan akan memberikan informasi mengenai pH optimum enzim protease dari Bacillus circulans.
Identifikasi Pewarna Sintetis Pada Produk Pangan Yang Beredar di Jakarta dan Ciputat La Ode Sumarlin
Jurnal Kimia Valensi Jurnal Valensi Volume 1, No.6, Mei 2010
Publisher : Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jkv.v1i6.239

Abstract

Warna merupakan faktor yang dapat digunakan sebagai indikator kesegaran atau kematangan suatuproduk. Warna merupakan daya tarik terbesar untuk menikmati aroma makanan. Warna dalammakanan dapat meningkatkan penerimaan konsumen tentang sebuah produk. Namun, penggunaanpewarna sintetis harus dilakukan sesuai dengan peraturan yang berlaku karena dapat merugikankesehatan. Oleh karena itu perlu dilakukan monitoring pewarna sintetis berbagai produk makananyang dikonsumsi oleh masyarakat. Metode analisis kualitatif yang digunakan adalah kromatografikertas. Sementara analisis kuantitatif menggunakan spektrofotometer UV-VIS. Pewarna sintetis yangterkandung dalam sebagian besar sampel yang dianalisis adalah pewarna yang memungkinkanpenggunaannya untuk makanan oleh Peraturan Menteri Kesehatan RI seperti sunset yellow, ponceau4R, tartrazine, dan carmoisin. Namun sampel krupuk pati mengandung zat yag dilarang yaituRhodamin B dengan konsentrasi 2,1892 ppm. Sampel mengandung zat pewarna campuran dari duaatau tiga jenis warna tunggal seperti es limun botol/orange (Amaranth,Tartrazine dan KuningFCF/Sunset Yellow) dan sampel permen merah (Ponceau 4R, Kuning FCF). Namun sebagian besarberupa pewarna tunggal. Pewarna sintetik yang ada dalam sampel permen kuning sebesar 22,642ppm dan 9,0119 ppm pada mie basah.
Penghambatan Enzim Pemecah Protein (Enzim Papain) Oleh Ekstrak Rokok, Minuman Beralkohol Dan Kopi Secara In Vitro La Ode Sumarlin; Siti Nurbayti; Syifa Fauziah
Jurnal Kimia Valensi JURNAL Valensi Volume 2, No. 3, November 2011
Publisher : Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.888 KB) | DOI: 10.15408/jkv.v2i3.116

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh ekstrak rokok, kopi dan minuman beralkohol terhadap aktivitas enzim papain.  Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh ekstrak rokok, kopi dan minuman beralkohol terhadap aktivitas enzim pencernaan terutama enzim protease dimana papain digunakan sebagai model.  Enzim papain menghidrolisis substrat dihambat dengan mencegah interaksi antara gugus –SH dari Sis25 dengan atom N imidazol dari His159 dari papain untuk membuat sisi aktif.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak rokok, ekstrak kopi dan minuman beralkohol masing-masing menunjukkan penghambatan terhadap aktivitas enzim papain sebesar 27,3%, 35%, dan 22,3%. Kata Kunci: Rokok, kopi, alkohol, inhibitor, papain
Characteristics and Antibacterial Activity of Apis and Trigona Honey Types against Escherichia coli and Staphylococcus Aureus on Various Heating La Ode Sumarlin; Nurul Amilia; Anna Muawanah; Nadya Uswatun Hasanah; Hajar Hajar
Jurnal Kimia Valensi Jurnal Kimia VALENSI Volume 8, No. 2, November 2022
Publisher : Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jkv.v8i2.27241

Abstract

Heating in honey processing can inhibit fermentation, crystallization, and the growth of microorganisms, such as bacteria. However, the effect of the honey heating process on the properties of honey and its antibacterial activity has not been further studied. Therefore, in this study, the properties of honey of both Apis and Trigona species from Bogor, Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, and Lombok, were tested. The properties of honey, including water content, acidity, reducing sugar, 5-hydroxymethylfurfural (HMF), and diastase enzyme activity, were tested at heating temperatures 50, 70, and 90 °C. The antibacterial activity was determined using the disc method against Escherichia coli and Staphylococcus aureus. The results showed that the average water content and acidity values decreased after heating. However, the values met the SNI quality requirements with a water content value of < 22% and the acidity value not exceeding 50 mL NaOH 0.1 N/kg in the Apis and Trigona types of honey. The reduced sugar content fluctuated after heating all samples, and the average HMF level of honey increased after heating. However, the activity of the diastase enzyme decreased, although the value was still within the SNI standard value. The selected honey samples of the Apis and Trigona types were active in inhibiting the growth of Staphylococcus aureus but were not active against Escherichia coli.
In Silico Analysis of Tea Leaf Compounds Targeting Inflammatory Pathways and Acne-Related Genes Sumarlin, La Ode; Nurbaya, Siti; Wulandari, Meyliana; Sulaiman, Syed Azhar Syed
Jurnal Kimia Valensi Jurnal Kimia VALENSI, Volume 11, No. 2, November 2025
Publisher : Department of Chemistry, Faculty of Science and Technology Syarif Hidayatullah Jakarta State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jkv.v11i2.46468

Abstract

Acne (Acne vulgaris) is a chronic skin disease affected by Cutibacterium acnes infection and inflammatory pathways that trigger innate immune responses, such as inflammasome activation. The expression of inflammation-related genes plays a critical role in acne pathogenesis and immune modulation. This study aims to identify compounds from tea leaves (Camellia sinensis var. assamica) that can treat acne by influencing the expression of inflammatory-related genes through in silico analysis. The GSE6475 dataset was utilized to identify differentially expressed genes (DEGs) between acne-affected and normal skin samples (each group n=6). A total of 573 DEGs were identified and mapped to the KEGG inflammatory pathway. The hub gene analysis results showed six genes, including CXCL1, STAT1, and PIK3 (adj. P-value < 0.05). These key genes were then used to cross-validate skin grouping with acne lesions and normal skin. The structure of compounds (natural products) in tea leaves (C. sinensis var. assamica) was obtained from the PubChem database, and their activity against target proteins associated with the identified key genes was predicted using the SkelSpheres descriptor and Support Vector Regression method. This quantitative structure–activity relationship (QSAR)-based machine learning approach was selected because it enables high-throughput prediction of inhibitory potential using chemical descriptors and experimentally derived bioactivity data, providing broader predictive power than conventional molecular docking or molecular dynamics, which rely mainly on structural and energetic estimations. The in-silico prediction results showed that compounds such as theobromine, assamsaponin, procyanidin, and caffeine have exhibited good predicted activity (IC₅₀ ranging from 1.125 to 1.320 μM) as potential inhibitors of the PI3K/Akt pathway, which is known to play a role in the pathogenesis of acne.