Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search
Journal : Matriks Teknik Sipil

Prioritas Perbaikan Saluran Drainase Dengan Metode Analytic Network Process (ANP) Di Kelurahan Kadipiro Bagian Barat Suprapto, Mamok; Suyanto, Suyanto; Prasetya, Edwin
Matriks Teknik Sipil Vol 4, No 3 (2016): September 2016
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.616 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v4i3.37090

Abstract

Genangan menyebabkan kerugian ekonomi maupun sosial. Namun akibat terbatasnya dana dari pemerintah daerah maka perbaikan sistem drainase secara menyeluruh tidak dapat dilaksanakan, maka diperlukannya prioritas perbaikan saluran drainase yang efektif untuk mencegah terjadinya genangan di Kelurahan Kadipiro Bagian Barat Dalam penelitian ini dibagi dalam empat tahap penelitian. Tahap pertama yaitu melakukan anlisis debit rencana menggunakan metode rasional pada setiap segmen saluran. Tahap kedua yaitu melakukan analisis kapasitas saluran pada pada setiap segmen saluran yang tergenang di Kelurahan Kadipiro bagian barat. Pada tahap ketiga yaitu menentukan daerah prioritas perbaikan saluran drainase di Kelurahan Kadipiro bagian barat. Berdasarkan analisis menggunakan software ANP diperoleh daerah genangan A3 menjadi daerah prioritas genangan di Kelurahan Kadipiro bagian barat. Tahap ke empat yaitu menentukan konsep perbaikan saluran pada daerah prioritas genangan. Pada daerah genangan A3 terdapat segmen saluran S3, S4, S5 dan S6. Konsep perbaikan yang disarankan pada segmen saluran S3, S4, S5 dan S6 desain ulang pada dimensi saluran drainase.
ANALISIS KERUNTUHAN BENDUNGAN PACAL Wijayanti, Paska; Suprapto, Mamok; Saido, Agus P.
Matriks Teknik Sipil Vol 1, No 4 (2013): Desember 2013
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (739.177 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v1i4.37505

Abstract

Bendungan disamping memiliki manfaat yang besar, juga menyimpan potensi bahaya yang besar. Bendungan yang runtuh dapat menimbulkan banjir dahsyat yang akan mengakibatkan banyak korban. Tujuan dari studi ini adalah mengetahui luasan genangan yang mungkin terjadi akibat dari runtuhnya bendungan dan mengetahui sensitivitas debit puncak banjir yang dihasilkan oleh keruntuhan bendungan terhadap parameter keruntuhan. Simulasi pemodelan banjir dilakukan menggunakan software HEC-RAS 4.1.0. Analisis hujan maksimum harian rerata daerah dilakukan dengan metode Polygon Thiessen. Hasil uji agihan frekuensi yang memenuhi syarat yaitu Metode Log Pearson Type III. PMP DAS Pacal sebesar 518,179 mm. Debit banjir rancangan yang memenuhi kriteria pada grafik Creager adalah metode Hidrograf Satuan Sintetik (HSS) Nakayasu dengan PMF sebesar 2047,71 m3/dt. Selanjutnya, dilakukan pemetaan banjir akibat keruntuhan overtopping dengan menggunakan software HEC-GeoRAS 4.3.93 yang diintregrasi dalam software ArcGIS versi 9.3. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa debit puncak banjir (Qoutflow) yang dihasilkan oleh keruntuhan bendungan sensitive terhadap perubahan parameter keruntuhan (b dan z) dan variasi koefisien n manning. Hasil analisis pemetaan genangan menunjukkan daerah yang terkena resiko banjir paling tinggi adalah desa Sukosewu, kecamatan Kapas.
POLA ALIRAN BANJIR BERDASARKAN KARAKTERISTIK DAS LENGAYANG PROVINSI SUMATERA BARAT Susanti, Tri; Suprapto, Mamok; Muttaqien, Adi Yusuf
Matriks Teknik Sipil Vol 2, No 3 (2014): September 2014
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v2i3.37425

Abstract

Galodo merupakan peristiwa banjir dengan pergerakan massa material debris secara gravitasi. Aliran debris (debris flow) adalah aliran campuran antara air dengan sedimen konsentrasi tinggi, mengalir dengan membawa batu-batu besar dan batang-batang pohon. Banjir dapat disebabkan oleh alih fungsi lahan. Berkurangnya lahan hijau sebagai daerah tangkapan air hujan, menyebabkan infiltrasi air hujan yang berfungsi sebagai bentuk konservasi air tanah berkurang. Akibatnya, aliran limpasan permukaan meningkat dan puncak debit sungai juga meningkat. Peningkatan puncak debit sungai mengakibatkan limpasan ke beberapa ruas sungai yang relatif rendah. Limpasan tersebut dapat merusak lahan produktif dan pemukiman, bahkan seringkali timbul korban jiwa. Mengingat terdapat banyak karakter sungai dan pola banjir, diperkirakan ada suatu hubungan yang erat antara karakter DAS dan Pola Aliran. Hubungan ini sangat penting untuk diketahui khususnya untuk sungai-sungai yang berada di wilayah Sumatera Barat. Sehingga, bencana yang mungkin timbul dari tiap sungai yang memiliki karakter tertentu dapat diantisipasi. Kajian dilakukan di DAS Lengayang Provinsi Sumatera Barat, untuk mengetahui karakteristik DAS dan pola aliran banjir. Karakteristik DAS yang ditinjau meliputi: jenis tanah, tata guna lahan, luas, kemiringan, ketinggian, keliling, panjang, bentuk, ordo sungai, pola aliran, kerapatan pengaliran, bifurcation ratio, serta rasio frekuensi orde sungai. Pola aliran banjir didekati menggunakan rumus empiris yaitu hidrograf satuan. Untuk kalibrasi digunakan grafik Creager. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola aliran sungai termasuk pola aliran parallel dengan kerapatan pengaliran sebesar 0,09/km. Kondisi tersebut mengindikasikan DAS sering mengalami genangan. Untuk nilai bifurcation rationya kurang dari 3. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan muka air sungai DAS akan cepat sedangkan penurunannya berjalan lambat.
PENGENDALIAN BANJIR PADA SUNGAI BERJALIN (BRAIDED) STUDI KASUS SUNGAI RANSIKI MANOKWARI PAPUA BARAT Fajar Setiawan; Mamok Suprapto; Sulastoro R. I.
Matriks Teknik Sipil Vol 1, No 4 (2013): Desember 2013
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (602.159 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v1i4.37491

Abstract

Papua Barat merupakan daerah rawan bencana alam seperti banjir. Sungai Ransiki, Manokwari, Papua Barat adalah jenis sungai berjalin. Aliran sungai berjalin bisa dengan mudah berubah arah. Perubahan arah aliran dimungkinkan akan mencapai dan menggenangi wilayah kota. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab Sungai Ransiki terbentuk sebagai sungai berjalin dan merencanakan pengendalian banjir dengan menggunakan tanggul. Desain rencana pengendalian banjir didasarkan pada data geologi, data curah hujan, dan penampang Sungai Ransiki. Dari peta geologi menunjukkan bahwa Sungai Ransiki memiliki pola aliran dendritik. Pola aliran ini akan membuat sungai utama menerima semua aliran air dan material sedimen. DAS Ransiki dikelilingi oleh formasi batuan dengan ukuran dan dalam jumlah besar seperti 1) Formasi Befoor, 2) Formasi Wai; 3) Formasi Kemum: 4) Batuan Gunung Api Arfak. Formasi batuan ini menjadi sumber sedimen Sungai Ransiki. Pada debit normal, aliran air akan mengalir di sela-sela sedimen, sehingga membentuk garis aliran yang berjalin. Situasi ini akan membuat Sungai Ransiki membutuhkan tanggul di kedua sisi. Tanggul ini akan mengarahkan aliran dan melindungi wilayah kota di sekitar sungai. Perencanaan ini menggunakan debit banjir periode ulang 20 tahun sebesar 790 m3/s dan tinggi jagaan 1 m. Ketinggian tanggul desain bervariasi dari 2 m - 7 m.
KONSEP KRITERIA PENILAIAN FUNGSI DAN KONDISI SUNGAI BERDASARKAN KEADAAN ALUR SUNGAI (STUDI KASUS SUNGAI PEPE SURAKARTA) Agus Hari Wahyudi; Mamok Suprapto; Amri Irsyad Addina
Matriks Teknik Sipil Vol 5, No 4 (2017): Desember 2017
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v5i4.36897

Abstract

Sungai merupakan salah satu sumber air yang memiliki peranan yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia. Pembangunan struktur sungai dilakukan untuk memaksimalkan pemanfaatan air sungai. Kurang terawatnya sungai serta infrastruktur dapat menurunkan fungsi dan kondisi sungai dan dapat menjadi bencana. Saat ini sudah terdapat surat edaran untuk penilaian kinerja bangunan sungai, namun surat edaran tersebut belum dijadikan standar penilaian untuk umum. Sehingga, penelitian ini menjadi tindakan lebih lanjut sebagai bentuk penerapan surat edaran tersebut. Penelitian dilakukan di Sungai Pepe, Kota Surakarta. Tahapan penelitian ini antara lain (1) Menentukan komponen-komponen sungai sebagai pengendali banjir. (2) Menyusun indikator komponen sungai. (3) Menyusun kriteria komponen sungai berdasarkan fungsi dan kondisi fisiknya. (4) Membuat teknik penilaian fungsi dan kondisi. (5) Menghitung distribusi bobot antar komponen sungai. (6) Menerapkan konsep penilaian pada Sungai Pepe. Komponen penyusun sungai berdasarkan hasil penelitian terdiri dari bangunan konservasi, bangunan pengendalian daya rusak air dan bangunan pendayagunaan. Hasil distribusi bobot yang dihitung dengan metode Analytic Hierarchy Process untuk tiap komponen adalah 15.6% untuk bangunan konservasi, 65,9% untuk bangunan pengendalian daya rusak air, 18,5% untuk bangunan pendayagunaan. Konsep kemudian diterapkan pada Sungai Pepe, dan menghasilkan nilai keseluruhan 78,76% yang termasuk kategori BAIK, dengan nilai fungsi dan kondisi untuk bangunan konservasi 49,55% termasuk kategori BAIK, bangunan pengendalian daya rusak air 88,17% dengan kategori BAIK, bangunan pendayagunaan 54,27% dengan kategori baik.
POLA ALIRAN BANJIR BERDASARKAN KARAKTERISTIK DAS BULUH DI SUMATERA BARAT Imam Nugroho Hadi Saputro; Mamok Suprapto; Siti Qomariyah
Matriks Teknik Sipil Vol 2, No 3 (2014): September 2014
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v2i3.37423

Abstract

Penelusuran banjir di DAS Buluh dapat ditafsirkan sebagai suatu prosedur untuk menentukan atau memperkirakan besaran banjir di titik outlet berdasarkan data yang diketahui dengan menggunakan software Watershed Modeling System (WMS). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan besaran debit banjir dengan menggunakan WMS serta mengetahui karakteristik DAS Buluh dan mendapatkan gambaran pola aliran banjir. Perhitungan debit banjir dilakukan pada kala ulang 2, 5, 10, 25, 50,100, 500 dan 1000 tahun dengan model TR-55, TR-20, HEC-1 dan HEC-HMS. Kemudian hasil debit banjir kala ulang 1000 tahun dibandingkan dengan grafik creager Indonesia. Dari hasil penelitian karakteristik DAS Buluh diperoleh luas DAS 17.36 km2, panjang sungai utama 5.198 km, keliling 20.07 km, DAS berbentuk radial, kemiringan lereng 0.1798 m/m, pola aliran sungai dendritik, kerapatan pengaliran 1,74 km/km2 termasuk kategori sedang, bifurcation ratio 2.0, rasio frekuensi orde sungai 2.24, jenis tanah DAS adalah 90.15% andosol dan 9.85% aluvial, tata guna lahan adalah 88.42% hutan, 1.27% pemukiman dan 10.31% tegalan dan Curve Number 82. Debit banjir rancangan yang mendekati grafik creager adalah model HEC-HMS. Dengan debit banjir kala ulang berturut-turut 2, 5, 10, 25, 50, 100, 500 dan 1000 tahun adalah 111.1 m3/s, 159.6 m3/s, 195.7 m3/s, 245.7 m3/s, 285.9 m3/s, 328.8 m3/s, 374.7 m3/s, dan 500.1 m3/s. Pola Aliran yang digunakan adalah kala ulang 5 tahun diperoleh Tp sebesar 630 menit dengan Qp=159.6 m3/s, pada waktu T0.3 sebesar 79.22 menit dengan 0.3Qp=47.88 m3/s, pada waktu 1.5T0.3 sebesar 118.83 menit dengan 0.32Qp=14.36 m3/s. Pada saat debit mencapai 50% diperoleh Q50=79.8 m3/s dengan W50=88.3 menit, pada debit mencapai 75% diperoleh Q75=119.7 m3/s dengan W75=47.5 menit.
PREDIKSI PASOK DAN KEBUTUHAN AIR SUNGAI CILIWUNG RUAS BENDUNG KATULAMPA-JEMBATAN PANUS DEPOK Slamet Rahman Raharjo; Mamok Suprapto; Adi Yusuf Muttaqien
Matriks Teknik Sipil Vol 4, No 2 (2016): Juni 2016
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v4i2.36993

Abstract

Jakarta merupakan wilayah dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi. Kondisi ini menyebabkan kebutuhan air juga semakin besar. Sungai Ciliwung menjadi salah satu sumber air yang dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan air di wilayah ini. Penelitian bertujuan untuk mengetahui debit yang bisa diandalkan di Sungai Ciliwung ruas Bendung Katulampa-Jembatan Panus Depok dan mengetahui kondisi water balance nya. Analisis prediksi kebutuhan air hanya mengacu pada kebutuhan domestik saja. Data hujan yang digunakan dalam penelitian ini adalah data hujan dari stasiun penakar hujan Gunungmas, Gadok, Katulampa, dan Cibinong. Data hujan selanjutnya diuji keabsahan/kepanggahannya menggunakan RAPS (Rescaled Adjusted Partial Sums) dan menghasilkan data yang panggah. Kebutuhan air domestik diperhitungkan berdasarkan kebutuhan bulanan dikalikan jumlah penduduk dengan besar kebutuhan per individu 100lt/hari. Debit andalan dalam penelitian ini dihitung berdasarkan data hujan yang ditransformasikan menjadi debit menggunakan bantuan software HEC-HMS. Parameter yang digunakan adalah standar lag sebesar 0,6 dan peaking koefisien sebesar 0,2. Debit andalan yang digunakan adalah 80% yang diperoleh dengan metode Weibull. Hasil analisis menunjukkan bahwa debit andalan rerata pada ruas Bendung Katulampa-Jembatan Panus Depok adalah berkisar antara 0.012-13.31 m3/dtk. Perkiraan besar debit tahun 2022 menggunakan model Thomas Fiering menghasilkan debit antara 0.26-23.01 m3/dtk. Dengan besar debit andalan tersebut menunjukkan kondisi neraca air mengalami kekurangan air terutama pada saat musim kemarau.
POLA ALIRAN BANJIR DAS TABO DI SUMATERA BARAT Sapratisto Daim Fakhriyanto; Mamok Suprapto; Agus Prijadi Saido
Matriks Teknik Sipil Vol 2, No 4 (2014): Desember 2014
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v2i4.37359

Abstract

DAS Tabo terletak di sumatera barat sangat rawan terhadap bencana banjir galodo. Untuk memperkecil resiko akibat bencana galodo dan ketepatan dalam upaya mengantisipasi bencana tersebut perlu diketahui hubungan antara karakter DAS dan pola aliran banjir.Analisis debit banjir rancangan dengan menggunakan model HEC-1, HEC-HMS, TR-55, TR-20.Hasil analisis karakteristik DAS Tabo meliputi:a) indeks bentuk DAS 2,478; b) faktor bentuk DAS 0,330; c) nisbah kebulatan 0,379; d) nisbah memanjang 1,364; e) kemiringan 0,120 m/m; f) bentuk DAS memanjang; g) pola aliran sungai parallel; h) kerapatan aliran 0,732 km/km2; i) bifurcation ratio 3; j) ratio frekuensi orde sungai 0,7; k) tata guna lahan yang mendominasi tegalan; l) curve number 78.Analisis hujan wilayah didapat dari hujan maksimum tahunan. Hasil uji agihan frekuensi yang memenuhi syarat yaitu Metode E.J. Gumbel. Debit banjir rancangan yang memenuhi rumuscreager yaitu model HEC-1 dengan debit PMF sebesar 293,08 m3/s. Menggunakan bentuk hidrograf hasil model untuk mendapatkan pola aliran banjir.Sesuai hasil hidrograf model HEC-1 didapatkan waktu dasar 26 jam, waktu mencapai puncak 12,5 jam.Hubungan karakteristik DAS dengan pola aliran banjir DAS Tabo berdasarkan bentuk DAS memanjang sehingga waktu konsentrasi singkat.
Prioritas Penanganan Genangan Dengan Metode Analytic Network Process (ANP) Di Kelurahan Kadipiro Bagian Timur Mamok Suprapto; Solichin Solichin; Vikry Aditya
Matriks Teknik Sipil Vol 4, No 2 (2016): Juni 2016
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v4i2.37019

Abstract

Permasalahan sistem drainase yang berdampak pada timbulnya genangan yang merugikan sering terjadi di Kota Surakarta terutama di Kelurahan Kadipiro bagian Timur. Oleh karena itu penanganan daerah genangan perlu dilakukan untuk meminimalkan kerugian yang terjadi. Agar dapat optimal dari segi dana maupun manfaatnya, perlu dilakukan penentuan prioritas penangan daerah genangan. Dalam penelitian ini daerah genangan dipetakan dan dilakukan analisis spasial menggunakan ArcGis. Untuk menentukan daerah prioritas penanganan genangan digunakan metode Analytic Network Process (ANP). Metode ANP merupakan metode penentuan prioritas dengan bentuk model masalah berupa network dan memungkinkan terjadinya feedback hubungan antara kriteria, subkriteria dan alternif. Dari hasil analisis penelitian ini diperoleh daerah prioritas pertama genangan berada di wilayah RW 18 sampai RW 9 Kelurahan Kadipiro.
PEMANFAATAN REUSED WATER DARI TURBIN UNTUK PENINGKATAN DAYA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO Farida Ayu Dewayanti; Mamok Suprapto; Agus Hari Wahyudi
Matriks Teknik Sipil Vol 5, No 3 (2017): September 2017
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (624.929 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v5i3.36723

Abstract

Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat mengakibatkan kebutuhan energi terus bertambah. Hal ini bertolak belakang dengan ketersediaan energi fosil yang selama ini menjadi bahan bakar utama. Pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) merupakan salah satu alternatif penghasil listrik yang murah dan ramah lingkungan. Pembangkit listrik tenaga air skala kecil dinilai ramah lingkungan karena energi primernya menggunakan aliran air yang dapat diperbaharui. Dengan memanfaatkan tinggi terjunan (head) dan debit air, potensi air diubah menjadi tenaga listrik dengan menggunakan turbin air dan generator. Penelitian ini menitikberatkan pada peningkatan daya yang dapat dihasilkan oleh PLTMH yaitu dengan cara merekayasa pengulangan jatuh air. Dalam hal ini diperlukan penambahan komponen yang meliputi pompa guna memompa kembali air menuju head awal. Energi yang dihasilkan oleh turbin-turbin dijumlahkan untuk mendapatkan energi total yang kemudian dihitung nilai benefit-nya dan dianalisis kelayakan secara ekonomi teknik. Besar potensi produksi listrik pada skenario 1 yang dihasilkan per tahun dengan menggunakan Q80 sebesar 291.128,5 kWh dengan nilai penjualan Rp 459.566.400,00. Nilai NPV > 0, yaitu sebesar Rp 2.403.924.100,00 BCR > 1 yaitu 4,5 dan IRR > 6,5 % yaitu 62,3 %, maka dapat disimpulkan secara investasi skenario 1 layak dari segi investasi. Besar potensi energi pada skenario 2 dihasilkan sebesar 291.219 kWh dengan nilai penjualan Rp 459.566.400,00. Nilai NPV > 0, yaitu sebesar Rp 2.141.877.500,00 BCR > 1 yaitu 3,4 dan IRR > 6,5 % yaitu 46,14 %, dapat disimpulkan secara ekonomi skenario 2 layak dari segi investasi. Namun didapatkan bahwa skenario 2 dianggap kurang efisien karena justru menurunkan nilai NPV, BCR, IRR pada analisis kelayakan ekonomi.
Co-Authors A.A. Ketut Agung Cahyawan W Addina, Amri Irsyad Adi Yusuf Mutaqin Adi Yusuf Muttaqien Aditya, Vikry Agelbilal Seretora Prilbista Agus Hari Wahyudi Agus Hari Wahyudi Agus P Saido Agus Prijadi Saido Aminuyati Amri Irsyad Addina Anak Agung Istri Sri Wiadnyani Ary Setyawan Burhan Budi Chitra Hermawan Dewayanti, Farida Ayu Djimris Amase Kambuaya Fajar Setiawan FAJAR SETIAWAN Fakhriyanto, Sapratisto Daim Faraj Muftah M Akash Farida Ayu Dewayanti Fauzia, Fitria Fitria Fauzia Hadi Saputro, Imam Nugroho Hadid Walidain Hamza Hassan Taher Hana Wardani Puruhita Hanna Wardani Puruhita, Hanna Wardani Heni Pujiastuti Heriyanto Heriyanto Heriyanto Heriyanto I., Sulastoro R. Imam Nugroho Hadi Saputro Insan Prasasti, Insan Iwan Joko Sulomo Koosdaryani Koosdaryani Koosdaryani Koosdaryani Mutaqin, Adi Yusuf Muttaqien, Adi Yusuf Muttaqien, Adi Yusuf Nidia Putri, Yohana Baptista Niken Silmi Surjandari Nur Hidayah Y.N Paska Wijayanti Pralambang Galih Wicaksono, Pralambang Galih Prasetya, Edwin Prasetyo, Uning Agus Prilbista, Agelbilal Seretora Raharjo, Slamet Rahman Ria Kurniawati Rifani, Agus Saido, Agus P Saido, Agus P. Saido, Agus Prijadi Sapratisto Daim Fakhriyanto Sholihin As’ad Siti Qomariyah Siti Qomariyah Slamet Rahman Raharjo Sobriyah Sobriyah Sofa Marwoto Solichin Solichin Solichin Solichin Sulastoro R. I. Suyanto Suyanto Syafi’i, Syafi’i TRI SUSANTI Vikry Aditya Walidain, Hadid Winny Astuti Y.N, Nur Hidayah Yohana Baptista Nidia Putri Yohannes Meluk