Sem Samuel Surja
Departemen Parasitologi, Fakultas Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Published : 16 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

PENGENALAN PROGRAM STUDI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA MELALUI WORKSHOP PEMBUATAN APUSAN TINJA DAN DEMO PREPARAT PARASITOLOGI Surja, Sem Samuel; Olivia, Vera; Margareta, Revi; Yolanda, Hanna; Joprang, Freggy Spicano; Kaisar, Maria Mardalena Martini; Wijaya, Meiliyana
Mitramas: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/mitramas.v3i2.6505

Abstract

Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (FKIK UAJ) menyelenggarakan kegiatan edukasi berupa workshop pembuatan apusan tinja dengan pewarnaan lugol dan demo preparat parasitologi. Kegiatan dirancang untuk memberikan gambaran mengenai pembelajaran dalam program studi kedokteran terutama saat berada di tahap preklinik. Ilmu parasitologi merupakan salah satu ilmu yang wajib dikuasai oleh lulusan kedokteran. Hal tersebut relevan karena sebagai salah satu negara beriklim tropis, penyebaran penyakit infeksi akibat parasit masih banyak ditemukan di Indonesia. Kegiatan edukasi dilakukan di laboratorium FKIK UAJ diikuti oleh siswa/i SMA Pahoa Gading Serpong. Evaluasi keberhasilan kegiatan dilakukan dengan membandingkan nilai pre-test dan post-test menggunakan aplikasi Quizizz. Hasil perbandingan nilai pre-test dan post-test terdapat kenaikan sebesar 27,7%. Hal tersebut menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan umum siswa/i di bidang parasitologi. Kegiatan yang telah dilakukan memberikan dampak yang baik terhadap program pengenalan kampus FKIK UAJ dan meningkatkan pengetahuan siswa/i terhadap bidang ilmu kedokteran khususnya parasitologi. Sehingga kegiatan serupa dapat dilakukan secara berkesinambungan.
Screening and Education of Intestinal Protozoa Infection in Elementary School-Age Children, Penjaringan District, North Jakarta: Skrining dan Edukasi Tentang Infeksi Protozoa Usus pada Anak Usia Sekolah Dasar, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara Kaisar, Maria Mardalena Martini; Muhyidin, Muhammad Fadli; Anggraini, Felicia; Wijaya, Meiliyana; Yolanda, Hanna; Surja, Sem Samuel; Kristin, Helen; Hengestu, Anastasia; Joprang, Freggy Spicano
Dinamisia : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 8 No. 5 (2024): Dinamisia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/dinamisia.v8i5.21596

Abstract

Urbanization in Jakarta has led to the development of slum settlements characterized by poor sanitation and limited access to clean water. This environment significantly increases the risk of intestinal protozoan parasitic infections (IPPIs), which are known to cause diarrhea and adversely affect the growth and development of children—key factors in the success of Indonesia's Emas 2045 initiative. To address this, the community service team from FKIK UNIKA Atma Jaya conducted a free fecal examination program for students at a public school in the Penjaringan District, a slum area in North Jakarta. The program included several phases: preparation, education, microscopic examination, and evaluation, involving both the school and the students' parents or guardians. Diagnostic methods utilized were direct examination and a modified Ziehl-Neelsen (ZN) staining technique. Out of 223 participants, 16.6% were found to be infected with IPPIs. The analysis revealed no significant correlation between infection rates and grade levels (p=0.106). This initiative is expected to enhance awareness among parents and students about IPPIs, leading to improved personal hygiene and sanitation practices. It also provides valuable data to authorities for assessing and formulating preventive policies against IPPIs
Antifungal activity of peppermint leaf essential oil (Mentha x piperita l.) against Microsporum gypseum and Microsporum canis Setiawan, Glory Laura; Wijaya, Lorettha; Arieselia, Zita; Surja, Sem Samuel; Dewi, Rita
Pharmaciana Vol. 15 No. 3 (2025): Pharmaciana
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/pharmaciana.v15i3.30481

Abstract

Dermatophyte infections caused by Microsporum gypseum and Microsporum canis are common health issues affecting humans and animals. Peppermint leaves (Mentha x piperita L.) contain active constituents such as menthol and menthone, known for their antifungal potency. Authentication of Mentha piperita (peppermint) leaf in this study was performed through chemical profiling. The major constituents identified in peppermint essential oil include menthol, pulegone, isopulegol, limonene, and methylene. The purpose of this study was to examine the potency of peppermint leaf distillation essential oil in inhibiting the growth of M. gypseum and M. canis at concentrations of 25%, 12.5%, 6.25%, 3.125%, 1.562%, 0.781%, 0.390%, and 0.195%. Microdilution standard method was used to examine the Minimum Inhibitory Concentration (MIC). Antifungal potency was assessed based on medium turbidity, compared to itraconazole as a positive control. Results showed that peppermint essential oil at a concentration of 6.25% and 1.562% inhibited the growth of M. gypseum and M. canis, respectively. Therefore, peppermint leaf essential oil can be recommended as a natural antifungal agent against M. gypseum and M. canis.
Tracing COVID-19 cluster during offline learning in the new era of pandemic Maria Mardalena Martini Kaisar; Helen Kristin; Tria Asri Widowati; Clarissa Rachel; Anastasia Hengestu; Sem Samuel Surja; Soegianto Ali
Journal of Community Service and Empowerment Vol. 5 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/jcse.v5i1.27945

Abstract

Since January 2022, offline learning in the COVID-19 pandemic era has been going on for nearly a year. The government is attempting to revive the education sector, including universities. Nonetheless, this policy may result in the formation of a new SARS-CoV-2 infection cluster on campuses. One of the prevention measurements is conducting COVID-19 examinations. To support this effort, the infectious disease research team at Atma Jaya Catholic University of Indonesia (AJCUI) examined COVID-19 infection by saliva specimens using RT-qPCR method, along with the completion of related questionnaire and epidemiology investigation form. Throughout the first week of December 2022, community service was conducted at the Pluit campus of AJCUI with 749 participants (98.9% students). According to RT-qPCR results, only 12 participants (1.6%) were infected with SARS-CoV-2 virus. Most participants demonstrated positive compliance with health protocols, particularly, PeduliLindungi application scanning, hand washing, and mask usage. The implementation of health protocol resulted in a low positive rate compared to North Jakarta's statistics for the same week, preventing the formation of new COVID-19 clusters. The activity effectively controlled the spread of SARS-CoV-2 in AJCUI environment, continuing the postponed 2030 agenda of the third Sustainable Development Goal to ensure good health and well-being.
KECACINGAN MASIH MENGINTAI: EDUKASI MASYARAKAT DAN TUTORIAL PEMERIKSAAN TINJA MELALUI VIDEO YOUTUBE Meiliyana Wijaya; Vanessa; Olivia Belinda; Maria Mardalena Martini Kaisar; Sem Samuel Surja; Hanna Yolanda; Freggy Spicano Joprang
Mitramas: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. 4 No. 02 (2026): Mitramas, Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/mitramas.v4i02.7416

Abstract

Infeksi cacing yang ditularkan melalui tanah atau Soil Transmitted Helminths (STH) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat global, khususnya di negara tropis dan berkembang seperti Indonesia. Secara global, diperkirakan sekitar 1,5 miliar orang atau hampir 24% populasi dunia terinfeksi STH memerlukan pengobatan serta upaya pencegahan secara berkala. Infeksi STH berdampak signifikan terhadap morbiditas, terutama pada anak usia sekolah. Lingkungan yang tidak bersih, terutama tanah yang lembap dan terkontaminasi feses, dapat menjadi tempat berkembangnya telur dan larva cacing serta meningkatkan risiko penularan. Infeksi yang berulang dapat menyebabkan gangguan gizi, anemia, dan stunting. Deteksi melalui pemeriksaan tinja penting untuk menegakkan diagnosis serta memantau keberhasilan pengobatan dan pencegahan reinfeksi. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tenaga kesehatan melalui pembuatan video edukasi mengenai infeksi kecacingan dan metode pemeriksaan apusan langsung, Kato-Katz, serta Harada-Mori. Video edukasi diunggah melalui platform YouTube sebagai sarana pembelajaran yang mudah diakses. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pencegahan kecacingan serta membantu tenaga kesehatan dalam melakukan pemeriksaan tinja secara tepat.  
KECACINGAN MASIH MENGINTAI: EDUKASI MASYARAKAT DAN TUTORIAL PEMERIKSAAN TINJA MELALUI VIDEO YOUTUBE Meiliyana Wijaya; Vanessa; Olivia Belinda; Maria Mardalena Martini Kaisar; Sem Samuel Surja; Hanna Yolanda; Freggy Spicano Joprang
Mitramas: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. 4 No. 02 (2026): Mitramas, Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/mitramas.v4i02.7416

Abstract

Infeksi cacing yang ditularkan melalui tanah atau Soil Transmitted Helminths (STH) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat global, khususnya di negara tropis dan berkembang seperti Indonesia. Secara global, diperkirakan sekitar 1,5 miliar orang atau hampir 24% populasi dunia terinfeksi STH memerlukan pengobatan serta upaya pencegahan secara berkala. Infeksi STH berdampak signifikan terhadap morbiditas, terutama pada anak usia sekolah. Lingkungan yang tidak bersih, terutama tanah yang lembap dan terkontaminasi feses, dapat menjadi tempat berkembangnya telur dan larva cacing serta meningkatkan risiko penularan. Infeksi yang berulang dapat menyebabkan gangguan gizi, anemia, dan stunting. Deteksi melalui pemeriksaan tinja penting untuk menegakkan diagnosis serta memantau keberhasilan pengobatan dan pencegahan reinfeksi. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tenaga kesehatan melalui pembuatan video edukasi mengenai infeksi kecacingan dan metode pemeriksaan apusan langsung, Kato-Katz, serta Harada-Mori. Video edukasi diunggah melalui platform YouTube sebagai sarana pembelajaran yang mudah diakses. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pencegahan kecacingan serta membantu tenaga kesehatan dalam melakukan pemeriksaan tinja secara tepat.