Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Bingkai Hukum Negara Indonesia Dalam Perlindungan Hak Ulayat Dan Kesejahteraan Masyarakat Adat Di Daerah Perbatasan Azis, Yuldiana Zesa; Rahail, Emiliana B.; Alputila, Marlyn Jane
Jurnal Restorative Justice Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Restorative Justice
Publisher : Universitas Musamus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35724/jrj.v8i2.6458

Abstract

This article explores the significance of safeguarding customary rights of indigenous peoples in Indonesia, especially in border regions, with a specific focus on Sota District, Merauke Regency, South Papua. Customary rights, representing the supreme right to land inherited intergenerationally, hold profound social, cultural, and economic value for indigenous communities. Nevertheless, their protection is frequently impeded by agrarian conflicts, deficiencies in the legal system, and the repercussions of climate change. In border areas, customary rights become even more susceptible due to economic interests and the incongruence between government policies and local wisdom. This research employs a qualitative approach, utilizing literature reviews, interviews, field observations, and document analysis, to assess the effectiveness of the legal framework in safeguarding customary rights. Findings indicate that despite a solid legal foundation, the implementation of customary rights protection encounters numerous challenges, necessitating collaborative endeavors from various stakeholders to bolster protection and the well-being of indigenous peoples in border regions.
Kebijakan Perubahan Iklim Di Papua: Kolaborasi Antara Pemerintah Dan Masyarakat Adat Wijaya, Nasri; Rahail, Emiliana B.; Jaya, Andi Ervin Novara
Jurnal Restorative Justice Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Restorative Justice
Publisher : Universitas Musamus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35724/jrj.v9i1.6977

Abstract

Papua, with Indonesia's richest biodiversity, faces significant climate change challenges. Sustainable policies require synergy among stakeholders, including indigenous communities with their local knowledge and traditional practices. The forest, seen as "Mama" by Papuans, is crucial for their livelihood and customs. Despite their efforts to protect it, indigenous communities remain vulnerable to climate impacts. Their limited participation in planning and decision-making often leads to ineffective climate solutions. This research explores policies by regional and central governments and the active role of indigenous communities, focusing on climate change due to the conversion of customary forests into oil palm plantations and the marginalization of indigenous communities from losing their ancestral forest rights and access. The qualitative study shows that collaboration between the government and indigenous communities can enhance climate policy effectiveness. Indigenous participation enriches local knowledge and strengthens environmental commitments. The article highlights partnership challenges, such as differing perspectives and the need for flexible policy adaptation. The main recommendations are to strengthen communication and build capacity at both government and indigenous community levels for effective climate change mitigation in Papua. This collaboration could serve as a model for other regions facing similar challenges.
Kearifan Lokal Dalam Adaptasi Penyelesaian Sengketa Tanah Akibat Ekspansi Investasi: Studi Kasus Pada Masyarakat Adat Di Merauke Azis, Yuldiana Zesa; Rahail, Emiliana B.
Jurnal Restorative Justice Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Restorative Justice
Publisher : Universitas Musamus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35724/jrj.v9i2.7321

Abstract

Large-scale investment expansion in plantation development, food estates, and strategic infrastructure has intensified land conflicts between indigenous communities and investment actors in Merauke Regency. This article examines how the local wisdom of the Malind indigenous community functions as an adaptive strategy for resolving land disputes within an asymmetrical legal pluralism regime. Employing a qualitative socio-legal approach, this study is based on case studies conducted in Wasur, Rawa Biru, Sota, Erambu, and Yanggandur villages through in-depth interviews, participant observation, and document analysis. The findings reveal that land conflicts primarily stem from overlapping claims between customary land (ulayat) and investment concessions legitimized by state law. In the absence of meaningful access to formal legal mechanisms, the Malind community relies on customary deliberation, symbolic rituals, and clan origin narratives as mechanisms of conflict resolution and forms of counter-hegemonic legality. Drawing on legal pluralism, critical agrarian studies, and political ecology, this article argues that local wisdom should be understood not merely as cultural practice but as a form of non-state legality with political significance in defending indigenous living spaces. The study highlights the need for substantive recognition of customary law and indigenous territories as integral components of equitable agrarian governance and investment policy.
LEGITIME PORTIE SEBAGAI MEKANISME PERLINDUNGAN HAK AHLI WARIS: STUDI KOMPARATIF ANTARA HUKUM PERDATA DAN HUKUM ADAT PAPUA Zesa, Yuldiana; Azis, Yuldiana Zesa; Rahail, Emiliana B.; Wijaya, Nasri; Muddin, Ahmad Ali
Animha Law Journal Vol 2 No 2 (2025): Animha Law Journal
Publisher : Astha Grafika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65675/alj.v2i2.191

Abstract

Artikel ini menganalisis konsep legitime portie dalam hukum perdata (BW) sebagai perlindungan hak ahli waris, membandingkannya dengan prinsip pewarisan dalam hukum adat Papua, khususnya masyarakat Marind. Legitime portie adalah bagian mutlak warisan yang tak bisa dikesampingkan pewasiat, berlandaskan keadilan distributif dan moralitas hukum. Sebaliknya, pewarisan adat Papua didasarkan pada kolektivitas, kekerabatan, dan nilai spiritual, di mana harta dipandang komunal. Penelitian ini menggunakan pendekatan normatif-komparatif, didukung wawancara tokoh adat. Hasilnya, legitime portie menawarkan perlindungan legal formal hak individu, sementara hukum adat Papua memberikan perlindungan sosial-komunal yang berakar pada nilai kekerabatan, sejalan dengan teori hukum responsif. Ketegangan antara individualisme hukum perdata dan kolektivitas hukum adat menyoroti dualisme hukum di Indonesia. Integrasi nilai lokal penting untuk mencapai keadilan substantif dalam konteks multikultural Indonesia.
Penyuluhan Kesadaran Hukum Masyarakat Kampung Kurik Melalui Program Edukasi dan Sosialisasi Terhadap Aspek Legal Dalam Pengelolaan Tanah mote, herry; Mote, Herry Hendri Fernando; Ngilawane, Cavin George; Alputila, Marlyn Jane; Silubun, Yosman Leonard; Sinaga, Jaya Setiawan; Pelu, Handika Dwi Ardiansyah; Rahail, Emiliana B.; Epin, Maria Natalia Wainip
Sagu: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 2 No 2 (2025): SAGU - JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT
Publisher : Astha Grafika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65675/sjp.v2i2.113

Abstract

Fungsi tanah merupakan objek penting bagi kehidupan manusia, tidak terkecuali bagi masyarakat di Kampung Suka Maju Distrik Kurik Kabupaten Kurik Kabupaten Merauke sebagai mitra pengabdian ini. Selain memiliki aspek ruang, tanah juga mengandung hukum sehingga selain tempat bermukum tanah juga akan berkaitan dengan hak seseorangwarga negara untuk memiliki dan mengelola tanah tersebut. Perlu adanya pemahaman akan arti pentingnya melakukan legalitas formal terkait dengan kepemilikan tanah. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mensosialisasikan pentingnya legalitas formal dalam kepemilikan tanah. Metode pelaksanaan pengabdian yang digunakan adalah metode ceramah, diskusi, dan tanya jawab mengenai legalitas hak atas tanah. Hasil kegiatan pengabdian, adanya peningkatan pengetahuan, pemahaman, dan merubah pola pikir beserta sikap masyarakat kampung Suka Majuakan pentingnya melakukan kegiatan kegiatan legalitas formal terhadap hak atas tanah yang dimilikinya. Kegiatan pengabdian ini sebagai upayah untuk menyadarkan masyarakat mengenai arti penting objek tanah dan urgensi tanah tersebut didaftarkan. Kegiatan pengabdian ini dilakukan dalam dua bentuk, yakni penyuluhan hukum dan konsultasi hukum, terhadap masyayarakat mitra    
Penguatan Kesadaran Hukum Masyarakat Kampung Wasur tentang Sistem Peradilan Pidana Anak melalui Program Edukasi dan Pelatihan rahail, emiliana; B. Rahail, Emiliana; Kamariah
Sagu: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 2 No 2 (2025): SAGU - JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT
Publisher : Astha Grafika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65675/sjp.v2i2.193

Abstract

Abstract This community service program aims to enhance the legal awareness of Wasur Village residents regarding the implementation of the Juvenile Criminal Justice System (SPPA) based on restorative justice principles. The community’s limited understanding of children’s rights within legal processes often results in the violation of those rights, both for child offenders and victims. The program was carried out through participatory legal education and training involving village officials, community leaders, teachers, and youth groups. The activities included legal seminars, interactive discussions, legal case simulations, and dissemination of educational media such as posters and videos. The results indicated a significant improvement in participants’ legal knowledge and a positive shift in community attitudes toward the concept of diversion in child case resolution. This program also strengthened collaboration between academics, village officials, and customary leaders in promoting a more humanistic and inclusive legal culture.
Penguatan Kesadaran Hukum Masyarakat Kampung Wasur tentang Sistem Peradilan Pidana Anak melalui Program Edukasi dan Pelatihan rahail, emiliana; B. Rahail, Emiliana; Kamariah
Sagu: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 2 No 2 (2025): SAGU - JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT
Publisher : Astha Grafika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65675/sjp.v2i2.193

Abstract

Abstract This community service program aims to enhance the legal awareness of Wasur Village residents regarding the implementation of the Juvenile Criminal Justice System (SPPA) based on restorative justice principles. The community’s limited understanding of children’s rights within legal processes often results in the violation of those rights, both for child offenders and victims. The program was carried out through participatory legal education and training involving village officials, community leaders, teachers, and youth groups. The activities included legal seminars, interactive discussions, legal case simulations, and dissemination of educational media such as posters and videos. The results indicated a significant improvement in participants’ legal knowledge and a positive shift in community attitudes toward the concept of diversion in child case resolution. This program also strengthened collaboration between academics, village officials, and customary leaders in promoting a more humanistic and inclusive legal culture.
Model Kemitraan Pemberdayaan Masyarakat Adat Marind dalam Pengembangan Ekonomi Pesisir Berkelanjutan di Papua Selatan Zesa Azis, Yuldiana; Rahail, Emiliana B.; Wijaya, Nasri
Lebah Vol. 19 No. 3 (2026): January: Pengabdian
Publisher : IHSA Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/lebah.v19i3.507

Abstract

Artikel ini menganalisis model kemitraan pemberdayaan masyarakat adat Marind dalam pengembangan ekonomi pesisir berkelanjutan di Papua Selatan melalui kegiatan Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM). Permasalahan utama yang dihadapi masyarakat pesisir adalah lemahnya kapasitas digital, keterbatasan kelembagaan ekonomi, serta pendekatan pembangunan yang belum sepenuhnya menempatkan masyarakat adat sebagai subjek utama. Penelitian ini menggunakan pendekatan partisipatif kolaboratif dengan mitra Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pantai Tubatub Tak di Kampung Matara, Kabupaten Merauke. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kapasitas digital masyarakat sebesar 72%, peningkatan pemahaman hukum kelembagaan sebesar 65%, serta penguatan partisipasi komunitas dalam pengelolaan ekonomi pesisir. Luaran utama berupa website komunitas dan pembentukan badan usaha berbasis komunitas memperkuat posisi tawar masyarakat adat. Artikel ini merumuskan model kemitraan kolaboratif berbasis kearifan lokal sebagai kerangka konseptual pembangunan ekonomi pesisir yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan
Analisis Sosiolegal Distribusi Bahan Bakar Minyak Bersubsidi (Studi Di Kabupaten Merauke) Samderubun, Fransiskus; Waas, Ruloff Fabian Yohanis; Rahail, Emiliana B.
Jurnal Restorative Justice Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Restorative Justice
Publisher : Universitas Musamus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35724/jrj.v8i1.6046

Abstract

Penelitian ini bertolak dari fakta bahwa dalam pendistribusian BBM yang terjadi di lapangan masih di temukannya distribusi minyak secara illegal tanpa adanya rekomendasi dari dinas perikanan kepada nelayan illegal yang tidak mempunyai izin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pendistribusian bahan bakar minyak bersubdi kepada nelayan kecil oleh Dinas Perikanan Kabupaten Merauke berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016 Tentang Perlindungan Dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudi Daya Ikan Dan Petambak Garam. Metode penelitian merupakan jenis penelitian menggunakan kajian sosiolegal. Secara yuridis mengkaji Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016 Tentang Perlindungan Dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudi Daya Ikan Dan Petambak Garam. Secara empiris melihat kenyataan pada Pendistribusian Bahan Bakar Minyak Bersubsidi. Hasil yang didapat ialah Pada tahap pemberian rekomendasi pembelian bahan bakar minyak bersubsidi telah sesuai dengan kewenangan dari dinas perikanan akan tetapi secara das sein menunjukan bahwa ketersediaan BBM masih kurang dan terdapat beberapa masalah terkait dengan pembaharuan data kapal dan masalah teknis pendistribusian BBM bersubsidi sehingga dibutuhkan penambahan kuota terhadap subsidi BBM dan mengakomodir penambahan armada kapal nelayan yang semakin bertambah.
Efektivitas Peran Pembimbing Kemasyarakatan Dalam Penanganan Anak Yang Berhadapan Dengan Hukum Pada Balai Pemasyarakatan Kelas II Merauke Alputila, Marlyn Jane; Pramukti, Lilis; Rahail, Emiliana B.; Azis, Yuldiana Zesa
Jurnal Restorative Justice Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Restorative Justice
Publisher : Universitas Musamus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35724/jrj.v8i1.6085

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas peran pembimbing kemasyarakatan dalam penanganan anak yang berhadapan dengan hukum pada Balai Pemasyarakatan Kelas II Merauke, maupun untuk mengetahui faktor-faktor yang menghambat. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian yuridis empiris yang dilakukan pada Balai Pemasyarakatan Kelas II Merauke dengan populasi pembimbing kemasyarakatan. data yang digunakan adalah data yang bersifat primer dan sekunder dengan menggunakan tiga teknik pengumpulan data berupa penelitian kepustakaan, penelitian lapangan dan dokumentasi yang kemudian di analisis secara deskriptif kualitatif. Hasil yang diperoleh penulis dalam penelitian ini menunjukkan bahwa peran pembimbing kemasyarakatan dalam penanganan anak yang berhadapan dengan hukum pada Balai Pemasyarakatan Kelas II Merauke masih kurang dapat berjalan secara efektif, disebabkan masih terdapat kendala internal maupun eksternal sehingga perlu dilakukan peningkatan kualitas dalam penanganan anak yang berhadapan dengan hukum. adapun faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas peran pembimbing kemasyarakatan dalam penanganan anak yang berhadapan dengan hukum pada Balai Pemasyarakatan Kelas II Merauke adalah kurangnya sumber daya manusia pembimbing kemasyarakatan, jangkuan wilayah kerja Bapas, kurangnya sarana prasarana, kurangnya partisipasi orang tua dan pelaku, dan lambatnya koordinasi antar lembaga yang menangani anak yang berhadapan dengan hukum.