Claim Missing Document
Check
Articles

KIAT SUKSES MENJADI ENTREPRENEUR BAGI ORANG BIASA (11) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.826 KB)

Abstract

Pemasaran sederhana dilakukan dengan memasang spanduk, yang khas yang bertuliskan nama bimbingan belajar kami dan program yang kita tawarkan. Kita juga membuat logo dengan sedikit meniru Perguruan Tinggi Besar di Yogyakarta, tetapi sedikit berbeda. Logo kita merupakan simbol dari Mahkota Sultan Agung, yang berkeinginan di kemudian hari seperti Sultan Agung yang merupakan Raja terbesar di Jawa. Kita juga berkeinginan suatu saat bimbingan belajar kita juga terbesar di Jawa, karena terbesar di Jawa juga bermakna terbesar di Indonesia. Selain spanduk, kita juga membuat brosur yang sederhana. Brosur tersebut kita bagi ke sekolah-sekolah yang ada di  kota Yogyakarta secara tebatas, karena brosurnya juga terbatas. Usaha yang cukup keras dengan membagi brosur ke sekolah-sekolah tersebut, ternyata yang mendaftar hanya ada 2 siswa. Itulah perjalanan yang harus kita lewati dengan susah payah, tetapi memberi pelajaran yang sangat berharga. Kesulitan itu akan memunculkan kratifitas dan inovasi yang sangat luar biasa. Hal ini tidak akan kita peroleh kalau kita tidak pernah mencoba memulai bisnis. Akhirnya memunculkan ide agar bimbingan belajar tersebut dapat menggelinding, maka kami menggratiskan 3 tetangga dengan persyaratan tertentu. ?Kamu ikut saja? kita mengajak. ?Nggak ada biaya Mas? kata mereka. ?Gratis..tapi syaratnya bawa speda motor? kita memberikan persyaratan. ?Dekat kok. Jalan saja bisa Mas? jawab mereka. ?Pokoknya kamu harus bawa sepeda motor? kami berharap. ?Oh..ya..Mas? mereka bersedia. Setelah mereka masuk bimbingan, terlihat di depan kantor sejumlah 6 sepeda motor yang terdiri dari 2 sepeda motor siswa kita yang sesungguhnya, 3 sepeda motor siswa gratis dan 1 sepeda motor pengajar (tentor). Dengan menggratiskan 3 siswa yang merupakan sedekah bagi kami dan merupakan senjata pemasaran yang sangat ampuh. Bimbingan belajar yang kecil itu sudah ada aktivitasnya. Adanya aktivitas merupakan bagian pemasaran yang sangat penting, meskipun aktivitas itu masih sederhana. Hal ini juga membuat kita lebih percaya diri, sehingga saya sendiri sudah berani keluar ruangan dan nampang di depan kantor, karena sudah ada aktivitas. Dalam hati saya berkata ?Lho.. ada siswanya kan..Ada yang ikut bimbingan tes kita kan?. Kemudian kawan saya mengajak untuk buka pada hari minggu. Luar biasa, ada 14 anak sebagian besar berasal dari Kudus mendaftar bimbingan belajar kami. Kepercayaan diri semakin meningkat. Langkah ketiga yang tersulit telah kita lewati. Siswa yang sedikit itu memaksa kita berpikir lebih keras, akhir terbersit ide untuk melayani siswa kita ke rumahnya masing-masing. Saya dan kawan-kawan datang bergantian setiap malam mengajari mereka atau kadangkala kami berdua atau bertiga. Kami menanyakan mata pelajaran apa yang merasa masih kesulitan. Tentor (pembimbing) mata pelajaran yang siswa merasa kesulitan tersebut yang bekerja. Kami hanya ingin mereka kelak dapat lulus dalam menempuh ujian masuk perguruan tinggi negeri. Sebagai ukuran keberhasilan kita adalah banyaknya siswa yang diterima di perguruan tinggi negeri. Pelayanan yang prima membuahkan hasil, karena orang tua dari siswa kita sangat senang. Seringkali kita memandang keuntungan itu hanya semata-mata finansial, tetapi sesungguhnya ada keuntungan yang jauh lebih penting dan berdampak jangka panjang, yang paling sering kita lupakan, yaitu keuntungan bertambah keluarga, keuntungan bertambah ilmu, keuntungan bertambah ketenangan jiwa dan keuntungan bertambah pahala yang mengalir tanpa henti sampai kita meninggalkan dunia ini.
STRATEGI EKONOMI BUNG HATTA Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Bung Hatta dalam mengembangkan perekonomian Indonesia sesuai dengan amanat Pasal 33 UUD 1945. Kerangka berpikir ekonomi Bung Hatta pada dasarnya dibangun berdasarkan tiga kategori berikut: teori ekonomi, politik ekonomi, dan politik perekonomian. Mengenai teori ekonomi, Bung Hatta secara tegas menyatakan bahwa penjelasan teori ekonomi hanya mengandung kebenaran sejauh diterapkan pada dirinya sendiri, tetapi menjadi sangat relatif bila dihadapkan pada realitas ekonomi. Artinya, sejauh diuji berdasarkan asumsi-asumsinya, kebenaran teori ekonomi dapat dikatakan bersifat mutlak. Tetapi karena asumsi-asumsi yang menjadi dasar teori ekonomi itu tidak ditemukan dalam realitas ekonomi, penjelasan teori ekonomi itu harus dilihat hanya sebagai salah satu alat bantu dalam memahami realitas ekonomi. Agar pemakaian teori ekonomi sebagai alat bantu untuk memahami  realitas ekonomi itu tidak menggiring pemakainya pada suatu kesimpulan yang keliru, diperlukan apa yang oleh Bung Hatta disebut sebagai politik ekonomi. Sebagaimana dijelaskannya, ?politik ekonomi adalah siasat untuk melaksanakan teori-teori ekonomi secara rasional dalam alam yang lahir,?. Sebagai suatu siasat untuk melaksanakan teori ekonomi, yang ditujukan untuk mencapai hasil sebesar-besarnya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya, politik ekonomi harus memperhatikan keberadaan faktor-faktor non ekonomi. Bahkan, karena tiap-tiap cabang produksi memiliki realitasnya masing-masing, karakterisitik masing-masing cabang produksi merupakan faktor yang perlu diperhatikan dalam rangka politik ekonomi. Akhirnya, ketika dihadapkan pada keinginan untuk meningkatkan kemakmuran masyarakat, politik ekonomi harus ditransformasikan lebih lanjut menjadi politik perekonomian. Berbeda dari politik ekonomi yang merupakan siasat penerapan teori ekonomi, politik perekonomian adalah keputusan politik yang didasarkan atas pertimbangan ideologi tertentu. Sebagaimana dikemukakan Bung Hatta, ?Politik perekonomian mengemukakan tujuan normatif. Coraknya ditentukan oleh ideologi, politik negara dan paham kemasyarakatan. (Setelah itu) barulah ilmu datang dalam ?jabatan mengabdi?. Dalam menentukan tujuan kemakmuran, manusia menentukan sikap, pikiran yang menganalisa mengikuti di belakang,?. Berdasarkan kerangka berpikir ekonomi seperti itu, dapat disaksikan betapa Bung Hatta memberi tempat kedudukan yang sangat tinggi kepada ideologi sebagai acuan peningkatan kemakmuran masyarakat. Di bawah ideologi terletak realitas ekonomi. Sedangkan teori ekonomi terletak di urutan terbawah. Artinya, dalam rangka meningkatkan kemakmuran masyarakat, acuan utama bagi Bung Hatta bukanlah teori ekonomi yang sarat asumsi, melainkan kemauan yang hidup dalam hati dan pikiran masyarakat sebagaimana terungkap dalam ideologi yang diyakininya. Pandangan Bung Hatta mengenai ekonomi berencana pada dasarnya adalah sebuah kebijakan untuk ?mengadakan suatu perekonomian nasional yang diatur, yang direncanakan tujaunnya dan jalannya,?. Dasar ekonomi berencana terletak pada dua hal: pertama, pada tujuan yang hendak dicapai; dan kedua, pada penetapan susunan peraturan untuk mencapai tujuan itu. Secara lebih terinci, mengenai tujuan perencanaan ekonomi, Bung Hatta merumuskannnya sebagai berikut,? tujuan rencana ekonomi ialah melaksanakan, supaya produksi disesuaikan dengan keperluan sosial, supaya kemiskinan rakyat dilenyapkan atau kemakmuran rakyat ditimbulkan. Untuk melaksanakan ekonomi berencana tersebut, ?mesti ada suatu biro perencanaan sebagai alat pemerintah, yang memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang dituju dan dilaksanakan pada tiap-tiap jangka waktu tertentu, memikirkan pembelanjaannya, menyusun perimbangan yang tepat antara produksi dan konsumsi, antara impor dan ekspor, sehingga rencana itu merupakan suatu kesatuan yang bulat,?. Mengutip Angelopoulos, dalam rangka ekonomi berencana, pelaksanaan pembangunan pada dasarnya harus dilakukan melalui dua jurusan: sektor negara dan  sektor swasta. ?Negara melaksanakan usaha yang besar-besar yang mengenai kepentingan umum. Di mana perlu diadakan nasionalisasi perusahaan-perusahaan besar yang banyak sedikitnya mempunyai kedudukan monopoli..... Di antaranya terdapat bank-bank, terutama bank sirkulasi, tambang-tambang, perusahaan transpor, listrik, perusahaan mengolah besi, industri berat, yang berpengaruh langsung atau tidak langsung atas aktivitas ekonomi lainnya. Aktivitas ekonomi seterusnya ...... diserahkan kepada swasta,? Yang menarik adalah komentar Bung Hatta mengenai pelaksanaan Repelita I. Menurut Bung Hatta, sebenarnya saat itu belum tepat waktunya untuk memulai ekonomi berencana. Syarat-syarat yang terpenting yang harus dipenuhi belum tersedia. Pertama, administrasi negara yang kacau dan berlebih-lebihan pegawainya belum disempurnakan. Kedua, gaji pegawai negeri yang hanya cukup untuk seminggu dan paling lama 10 hari, belum diperbaiki. Dan ketiga, syarat yang paling penting, data dan informasi yang cukup untuk keseluruhan ekonomi Indonesia belum tersedia. Khusus mengenai gaji pegawai negeri yang jauh dari mencukupi serta kaitannya dengan wabah korupsi yang melanda Indonesia, Bung Hatta berkomentar sebagai berikut, ?Sampai sekarang setelah Repelita berjalan dua tahun, korupsi semangkin merajalela, yang tidak salah kalau dikatakan lambat laun sudah menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia. Tunjukkanlah, dimana tempat orang bertukar jasa yang tidak dihinggapi korupsi! ?Bagaimanakah Repelita dapat berjalan baik, selama kanker ini masih ada dalam tubuh pemerintahan. Sebab itu pula negeri-negeri lain, yang mau melaksanakan ekonomi berencana, bermula dengan membayar gaji yang cukup untuk hidup bagi pegawai-pegawainya. Itu dapat dipahamkan karena untuk melaksanakan ekonomi berencana secara rasional, perlu ada kegembiraan bekerja,?
BELAJAR DARI STRATEGI PENJAHIT (1) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Ketika saya mengisi seminar bersama Pak Jeremy Thomas tentang kewirausahaan di STMIK AMIKOM Yogyakarta. Acara tersebut untuk membekali calon wisudawan agar setelah lulus tidak mencari pekerjaan, tetapi dapat menciptakan pekerjaan, meskipun barangkali hanya untuk dirinya sendiri. Pada sesi pertama yang menyampaikan pembekalan adalah Pak Jeremy Thomas, pemain sinetron yang terkenal, tetapi saat ini menjadi seorang Pengusaha. Ia telah mendirikan perusahaan bernama VMT.  ?Kalau dahulu sebagai pemain sinetron saya menjual fisik saya, tetapi sebagai Pengusaha seperti sekarang ini saya menjual otak saya? kata Pak Jeremy. Materi yang sangat menyentuh hati saya dari Pak Jeremy adalah materi tentang strategi seorang penjahit yang cerdas. Pak Jeremy bercerita tentang seorang penjahit yang hanya lulus SD yang otaknya cerdas dalam menangkap peluang. Penjahit tersebut bernama Pak Jon. Pada suatu waktu penjahit tersebut datang ke tempat Pak Jeremy untuk menawarkan jasa pembuatan jas. Setelah memperkenalkan diri, kemudian Pak Jon berkata ?Pak Jeremy adalah orang yang penting bagi saya. Pak Jeremy kan selebritis, kalau boleh saya buatkan jas dulu, nanti kalau cocok baru dibayar, tetapi kalau tidak cocok jangan dibayar? kata Pak Jon. ?Kalau tidak cocok nanti kasihan sama Bapak, kalau nanti rugi?? tanya Pak Jeremy. ?Tidap apa-apa Pak? jawab Pak Jon. Kemudian, Pak Jon menunjukkan gambar dalam beberapa majalah luar negeri, para selebritis luar negeri yang sedang memakai jas. Meskipun majalah yang dibawa hanyalah majalah bekas yang dapat dibeli di toko majalah bekas dengan harga yang sangat murah. Pak Jon meminta Pak Jeremy untuk memilih salah satu jas yang dipakai selebritis luar negeri. ?Modelnya pilih yang mana Pak?? tanya Pak Jon. Setelah Pak Jeremy memilih salah satu model jas, selanjutnya Pak Jeremy diukur badannya oleh Pak Jon dan semua ukuran telah dicatat. ?Satu bulan lagi mudah-mudahan sudah jadi Pak? kata Pak Jon sambil berpamitan pulang. Pelajaran pertama yang kita peroleh dari Penjahit yang hanya lulusan SD tersebut adalah sesuatu yang luar biasa. Ia tidak hanya sekedar menawarkan produk yang hebat dan nyaman dipakai, tetapi ia mencoba untuk memahami apa yang dinginkan pelanggannya, karena pelanggan menginginkan lebih dari apapun untuk dihargai dan dipedulikan dengan sungguh-sungguh. Pak Jon juga tidak sekedar memperhatikan hal-hal yang kelihatan, tetapi jauh lebih penting memahami hal-hal yang tidak kelihatan yang berupa perlakuan terhadap pelanggan dan menganggap bahwa pelanggannya adalah seorang yang sangat penting baginya, sehingga  menghasilkan pondasi hubungan pelanggan yang sejati. Sebaliknya, seringkali justru kita hanya berkutat pada produk dan harga saja, tetapi melupakan bagaimana kita memperlakukan kepada pelanggan kita dan menganggap pelanggan kita termasuk orang yang biasa saja atau orang yang tidak penting, sehingga mereka kecewa dan meninggalkan kita selamanya.  
STRATEGI ADALAH PERSEPSI Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menurut Jack Trout dalam bukunya Trout On Strategy, salah satu inti dari strategi adalah persepsi. Keunggulan bersaing perusahaan, sesungguhnya adalah keunggulan komunikasi. Sehingga masalah dalam bersaing adalah masalah dalam berkomunikasi. Strategi Positioning sesungguhnya adalah strategi komunikasi. Periklanan merupakan bentuk komunikasi yang, dari sudut pandang penerima, dibangun dalam penghargaan yang rendah. Jika Anda berhasil dalam dalam periklanan, kemungkinan Anda akan berhasil  dalam bidang bisnis, agama, politik atau aktivitas lainyang membutuhkan komunikasi massa. Positioning merupakan konsep yang mengubah keaslian iklan, konsep yang sederhana yang membuat orang menghadapi kesulitan dalam memahami kekuatannya. Positioning dimulai dengan sebuah produk, barang, jasa, perusahaan, atau orang. Tetapi positioning bukanlah sesuatu yang Anda lakukan terhadap produk. Positioning adalah sesuatu yang Anda lakukan terhadap pikiran calon konsumen, yaitu menempatkan produk itu pada pikiran calon konsumen. Maka merupakan kesalahan jika menyebut konsep ini sebagai ?positioning produk?. Seperti halnya Anda melakukan sesuatu hal terhadap fisik produk itu. Juga salah jika positioning tidak melibatkan perubahan. Tetapi perubahan tersebut adalah perubahan terhadap nama, harga dan kemasan bukan terhadap produk secara keseluruhan. Pada dasarnya ada perubahan penampilan yang akan dilakukan dengan tujuan menjamin suatu posisi yang lebih berharga dalam persepsi calon konsumen. Positioning juga merupakah tubuh pemikiran yang pertama yang dirancang untuk memegang permasalahan dalam mendengarkan masyarakat kita yang kebanjiran informasi. Satu-satunya pertahanan yang dimiliki seseorang dalam masyarakat adalah pemikiran yang sangat sederhana. Maka pendekatan terbaik yang akan diambil sesorang dalam masyarakat adalah pesan yang sederhana.  John Sculley, mantan Chairman Apple Computer mengatakan ?Segala hal yang telah kita pelajari dalam era industri cenderung menciptakan kerumitan yang semakin parah. Saya kira semakin banyak orang yang sadar bahwa Anda harus melakukan penyederhanaan, bukan sebaliknya. Ini ide yang sangat Asia, bahwa kesederhanaan adalah kecanggihan terhebat?. ProXL menggunakan kata ?Tak hanya bicara?, Polytron dengan ?Yang lainnya lewat? dan  RCTI ?Tambah Oke?. Siapa yang memenangkan persepsi terhadap benak konsumen adalah yang memenangkan persaingan, karena persepsi adalah salah satu inti dari strategi..
BELAJAR KECERDASAN SPIRITUAL DARI ORANG KECIL (1) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.424 KB)

Abstract

 Saya mendapat sepucuk surat dari seseorang yang diantar oleh sahabat saya, Pak Joko Mumpuni, Direktur Penerbitan Andi Yogyakarta. Setelah saya buka, surat tersebut ternyata dari Pemilik Penerbitan Andi, Pak Gondowijoyo. ?Pak Yanto, jangan bosan-bosan yah kalau saya memberi masukan lagi, sebab saya sangat tertarik tulisan dan pembahasan oleh Bapak di koran KR setiap hari Sabtu itu. Disamping itu saya sangat prihatin sekali akan keadaan mental, moral budaya dan integritas sebagian besar para pemuda, para pemimpin di Indonesia ini. Selama 36 tahun saya ikut sedikit terlibat dalam pendidikan, kok kemajuannya masih kurang bagus, apalagi jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga kita? demikian tulis Pak Gondo dalam membuka tulisan tersebut. Memang benar, pendidikan di negara-negara tetangga kita lebih maju, tetapi kita juga mulai menapak menuju kemajuan yang diharapkan negara maju. Kita harus belajar kerja keras dari negara maju. Globalisasi sarana negara maju untuk saling mempererat persaudaraan, saling membagi keahlian, saling mensinergikan pengetahuan dan saling memberdayakan sumberdaya alam. Pada kenyataannya negara maju tidak saling bersaudara, tetapi saling membunuh dalam dunia bisnis yang biasa disebut persaingan. Negara maju tidak saling membagi pengetahuan, tetapi negara berkembang harus membeli dengan harga yang sangat mahal dan negara maju melindunginya dengan hak paten sehingga negara berkembang tidak mampu membelinya. Globalisasi memandang dunia sebagai pasar yang dapat diperjualbelikan, bahkan dapat dibeli secara angsuran. Negara maju membeli secara angsuran, bahkan dapat dibayar 20 tahun kemudian terhadap sumberdaya alam yang dimiliki negara berkembang. Dibayar setelah sumberdaya alam di negara berkembang itu hampir habis. Jika tidak mau, maka negara berkembang ditekan dan kalau perlu diintervensi dengan menggerakkan militer besar-besaran, seperti kisah Afganistan dan Irak. Negara maju juga menularkan semangat individualisme yang membuat peningkatan keluarga. Perceraian lebih menonjol justru terjadi pada kelompok yang mempunyai penghasilan tinggi, para selebritis, bukan orang-orang kecil. Keretakan keluarga semakin menjadi-jadi. Dalam hal yang menyangkut keluarga, barangkali harus belajar kepada orang-orang kecil. Kemudian Pak Gondo melanjutkan tulisannya dengan mengisahkan tentang seorang Bapak yang mempunyai cinta,moral dan integritas yang dapat kita pakai sebagai salah satu dasar pendidikan di negeri kita. ?Di usianya yang senja, seorang Bapak yang berusia 58 tahun, mengisi hari-harinya dengan merawat istrinya yang sakit. Mereka sudah menikah 32 th dan dikaruniai 4 orang anak. Setelah melahirkan si bungsu, kaki istrinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan lagi. Memasuki tahun ketiga seluruh tubuhnya semakin lemah, bahkan lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi. Setiap hari Sang Bapak, memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat isterinya keatas tempat tidur. Biasanya sebelum berangkat kerja, dia membopong isterinya ke depan TV supaya bisa menikmati acara televisi. Walau tak dapat berbicara, tetapi isterinya selalu berusaha tersenyum. Pekerjaan Bapak berputra empat tersebut yang tak jauh dari rumahnya, memungkinkan dia pulang pada jam makan siang untuk menyuapi isterinya. Pada waktu sore, ia memandikan isterinya dan menghbiskan sisa waktu sampai menjelang tidur, sembari menceritakan apa saja yang dia alami sepanjang hari. Isterinya hanya bisa memandanginya tanpa bisa memberi komentar?. Itulah cinta sejati yang perlu kita tiru, cinta yang merupakan pengabdian kepada Tuhan yang Maha Cinta kepada makhluknya.
PENDAPATAN PRIMER KEUANGAN NEGARA PADA PERIODE AWAL ISLAM (5) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kontribusi terbesar dari Khalifah Umar bin Khattab adalah membentuk perangkat administrasi yang baik untuk menjalankan roda pemerintahan yang besar. Ia mendirikan institusi administratif yang hampir tidak mungkin dilakukan pada abad ke tujuh sesudah masehi. Pada tahun 16 hijriah, Abu Hurairah, Amil Bahrain, mengunjungi Madinah dan membawa 500.000 dirham kharaj. Itu adalah jumlah yang besar sehingga Khalifah mengadakan pertemuan dengan majelis Syura untuk menanyai pendapat mereka dan kemudian diputuskan bersama bahwa jumlah tersebut tidak untuk didistribusikan melainkan untuk disimpan sebagai cadangan darurat, membiayai angkatan perang dan kebutuhan lain untuk Ummah. Untuk menyimpan dana tersebut, baitul maal yang reguler dan permanen didirikan untuk pertama kalinya di ibukota dan kemudian dibangun cabang-cabangnya di ibukota propinsi. Abdullah bin Irqam (yang selama hidup Nabi menyimpan data mengenai suku-suku dan sumber airnya serta keluarga Anshar)  ditunjuk sebagai pengurus baitul maal (menteri keuangan) bersama dengan Abdurrahman bin Ubaid Al-Qari serta Muayqab sebagai asistennya. Setelah menaklukkan Syria, Sawad dan Mesir, penghasilan baitul maal meningkat (kharaj dari Sawad mencapai seratus juta dinar dan dari Mesir  dua juta dinar).  (Baladhuri, 1966). Khalifah Usman, pada enam tahun pertama kepemimpinannya, Balkh, Kabul, Ghazni, Kerman dan Sistan ditaklukkan. Untuk menata pendapatan baru, kebijakan Umar diikuti. Tidak lama setelah Negara-negara tersebut ditaklukkan, kemudian tindakan efektif diterapkan dalam rangka pengembangan sumber daya alam. Aliran air digali, jalan dibangun, pohon buah-buahan ditanam dan keamanan perdagangan diberikan dengan cara pembentukan organisasi kepolisian tetap (Baladhuri, 1966:420). Khalifah Ali memiliki konsep yang jelas tentang pemerintahan, administrasi umum dan masalah-masalah yang berkaitan dengannya. Konsep ini dijelaskan dalam suratnya yang terkenal yang ditujukan kepada Malik Ashter bin Harith. Surat itu antara lain mendeskripsikan tugas kewajiban dan tanggung jawab penguasa, menyusun prioritas dalam melakukan dispensasi terhadap keadilan, kontrol atas pejabat tinggi dan staf; menjelasakan kebaikan dan kekurangan jaksa, hakim, abdi hukum, menguraikan pendapatan pegawai administrasi dan pengadaan bendahara. Surat ini menjelaskan bagaimana berurusan dengan sipil, pengadilan dan angkatan perang. Ali menekankan Malik agar lebih memperhatikan kesejahteraan para prajurit dan keluarga mereka dan diharapkan berhubungan langsung dengan masyarakat melalui pertemuan yang terbuka, terutama dengan orang-orang miskin, orang yang teraniaya dan orang-orang cacat. Di surat itu juga ada instruksi untuk melawan korupsi dan penindasan, mengontrol pasar dan membrantas para tukang catut, penimbun barang dan pasar gelap. Singkatnya surat itu menggambarkan kebijakannya yang ternyata konsep-konsepnya ditiru secara luas dalam administrasi publik (Sabzwari, 1984).
KIAT SUKSES MENJADI ENTREPRENEUR BAGI ORANG BIASA (3) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (74.428 KB)

Abstract

Pengalaman lain menggunakan sikap mental positif tersebut pada saat perjalanan AMIKOM Yogyakarta. Setelah ijin keluar, perguruan tinggi kecil dengan fasilitas dan sumberdaya terbatas tersebut mulai berjalan. Pada saat awal hanya mendapatkan 32 mahasiswa. Tahun kedua mendapatkan 156 mahasiswa dan tahun ketiga memperoleh 256 mahasiswa. Pada tahun-tahun perjalanan awal AMIKOM Yogyakarta, yang berbentuk Akademi dan hanya membuka program Diploma Tiga. Universitas Gadjah Mada membuka program diploma tiga cukup banyak. Banyak di antara Pimpinan Perguruan Tinggi Swasta yan mengeluh, kalau mahasiswanya disedot oleh program diploma tiga Universitas Gadjah Mada. Seorang wartawan dari harian ini datang kepada saya, minta tanggapan terhadap maraknya program diploma tiga yang dibuka Universitas Gadjah Mada. ?Bagaimana pendapat Pak Yanto terhadap banyak dibukanya diploma tiga UGM?? Tanya wartawan tersebut. Saya mencoba menjawab dengan menggunakan sikap mental positif. ?Alhandulillah malah baik? jawab saya. ?Bagaimana baiknya Pak Yanto?? wartawan tersebut melanjutkan pertanyaannya. ?Baiknya, khususnya untuk AMIKOM, yang namanya program studi informatika atau sistem informasi itu kan belum begitu banyak dikenal. Kalau seperti kedokteran, ekonomi, psikologi, sosial politik, teknik elektro, teknik mesin, teknik arsitektur  dan sebagainya itu kan sudah dikenal. Kalau UGM, khususnya MIPA membuka program Tiploma Tiga sistem informasi, artinya program itu penting. Dengan pentingnya program diploma tiga sistem informasi atau informatika, saya yakin mahasiswa AMIKOM malah akan bertambah banyak. Wong penting? jawab saya. ?Oh begitu?? wartawan tersebut mengiyakan. Kemudian saya menambahkan bahwa dengan sikap mental positif peluang itu semakin terbuka, bukan memusuhi UGM, tetapi justru memanfaatkan UGM sebagai peluang sambil bertanya kepada wartawan tersebut ?Bisakah AMIKOM yang terbatas ini mengumpulkan calon mahasiswa yang berminat informatika sejumlah 2000 di suatu tempat ??   ?Sulit Pak Yanto ? jawab wartawan tersebut. ?Andaikan bisa, kira-kira biayanya besar atau kecil?? saya bertanya kepada wartawan tersebut. ?Besar sekali Pak Yanto? jawab wartawan. ?Mau Anda saya beri tahu untuk mengumpulkan calon mahasiswa sejumlah 2000 tanpa menggunakan biaya?? saya membuat penasaran wartawan. ?Mau Pak Yanto? jawab wartawan. Kemudian saya menjelaskan kepada wartawan tersebut ?Pertama yang kita lakukan adalah mencaritahu tanggal dan jam berapa MIPA Program Diploma Tiga sistem informasi melakukan tes. Setelah itu berapa jumlah yang ikut tes. Ternyata yang ikut tes masuk MIPA Program Diploma Tiga sistem informasi sekitar 2000 calon mahasiswa. Saya bersama kawan-kawan saya tinggal menunggu di depan pintu tes dengan sistem pagar betis untuk membagi brosur setelah selesai tes, sehingga hampir semua calon mahasiswa mendapat brosur. MIPA Program Diploma Sistem Informasi kan hanya menerima sekitar 200 orang, sehingga masih ada 1800 orang yang tidak dapat diterima.?. Wartawan tersebut terbengong dengan jawaban saya, sambil berkata ?Luar biasa, ya Pak Yanto?. ?Itulah kalau kita menggunakan sikap mental positif, memang pintu satu tertutup, tetapi Tuhan membuka pintu-pintu yang lain yang tidak dapat dipridiksi oleh manusia?  jawab saya kepada wartawan tersebut. ?Terima kasih Pak Yanto atas tanggapannya. Kalau saya masih butuh lagi saya akan ke sini lagi? kata wartawan sambil berpamitan. ?Saya juga terima kasih mau mendengarkan pendapat saya yang sederhana? kata saya, sambil saya antar sampai wartawan tersebut naik kedaraannya dan saya lambaikan tangan saya.
PENETUAN POSISI BERDASARKAN KATEGORI (1) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Positioning (penentuan posisi) menurut kategori produk adalah memposisikan produk sebagai pemimpin dalam kategori produk. Kategori produk dapat kita kelompokkan dalam kategori minuman dan makanan, kategori, produk rumah tangga, kategori obat-obatan, kategori perawatan pribadi, kategori perlengkapan pribadi, kategori perlengkapan rumah, kategori komunikasi dan teknologi informasi, kategori otomotif, kategori perbankan dan keuangan, kategori transportasi dan sebagainya. Dalam kategori makanan dan minuman masih ada sub kategori, misalnya minyak goreng, biskuit, mie instan, kacang, kecap manis, tepung terigu, saus sambal, margarin, susu cair dalam kemasan, susu bubuk, teh dalam kemasan botol, teh dalam kemasan non botol, teh celup, teh hijau, kopi bubuk, minuman penambah tenaga, minuman sari buah, minuman isotonik, jelly drink dan sebagainya. Bimoli menggunakan positioning berdasarkan kategori produk, yaitu kategori minyak goreng dengan slogan ?Kesempurnaan Minyak Goreng?. Bimoli berusaha menyajikan kualitas minyak terbaik dengan melakukan proses pengolahan enam tahap, mulai dari penghilangan getah, penjernihan warna minyak, penghilangan asam lemak bebas, pemurnian aroma, pembentukan fraksi padat sampai pemisahan fraksi pada dan minyak. Termasuk juga mempunyai kandungan Omega 9 yang berfungsi menjaga kadar normal kolesterol. Strategi positioning ini menjadikan Bimoli sebagai Top Brand kategori minyak goreng di Indonesia. Teh celup Sariwangi juga positioning berdasarkan kategori produk, yaitu kategori teh celup dengan slogan ?Tea to be shared not to be served?.  Sariwangi tidak sekedar membuatkan teh untuk pasangannya sebagai rutinitas dan kewajiban, tetapi Sariwangi menginspirasi kaum perempuan untuk menggunakan ?momen minum teh? sebagai sarana untuk saling berbagi dan berkomunikasi dua arah. Strategi positioning yang dilakukan Sariwangi ini menyebabkan Sariwangi secara emosional dekat dengan pelanggannya, sehingga mampu menjadi Top Brand kategori teh celup di Indonesia. 
KIAT SUKSES MENJADI ENTREPRENEUR BAGI ORANG BIASA (19) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.89 KB)

Abstract

Ketika Primagama masih pada tahap awal berdiri, dengan strategi sentuhan unik yang telah dilakukan, masih ada perasaan belum puas. Ketidakpuasan dengan strategi pertama, kemudian kita berpikir lebih keras lagi untuk menemukan strategi yang berbeda dengan yang lain atau biasa kita menamakan strategi sentuhan unik. Idenya berangkat dari pemikiran untuk meringankan beban orang tua siswa, jangan sampai orang tua membayar biaya bimbingan mahal, tetapi anaknya sebagai peserta bimbingan tersebut tidak diterima di Perguruan Tinggi Negeri. Kita berpikir bagaimana agar orang tua tersebut setelah diterima di Perguruan Tinggi Negeri, barulah mengeluarkan biaya bimbingan sesuai dengan kemampuan yang dijanjikan. Dengan demikian, antara peserta satu dengan peserta lain yang ikut bimbingan Primagama berbeda dalam membayar biaya bimbingan. Mereka membayar sesuai dengan yang dijanjikan. Berdasarkan pemikiran tersebut strategi sentuhan unik berikutnya adalah Program Jaminan Diterima.   Sebelum meluncurkan strategi ini, ketika itu kita mengkaji apa perbedaan kata Jaminan dan Dijamin. Makna dari dijamin diterima di Perguruan Tinggi Negeri adalah siswa peserta bimbingan pasti diterima di Perguruan Tinggi Negeri. Sedangkan, makna dari jaminan diterima di Perguruan Tinggi Negeri adalah siswa peserta bimbingan belum tentu atau belum pasti diterima di Perguruan Tinggi Negeri, tetapi ada jaminan diterima dengan ketentuan siswa tersebut harus mengikuti bimbingan secara teratur dan mengikuti apa yang disarankan oleh lembaga. Disamping itu maksud dari Jaminan diterima adalah jika siswa tidak diterima di Perguruan Tinggi Negeri, maka siswa tidak membayar, tetapi kalau diterima di Perguruan Tinggi Negeri, maka siswa membayar sesuai dengan yang dijanjikan oleh siswa itu sendiri. Satu-satunya biaya yang harus dibayarkan oleh siswa adalah hanya membayar uang pendaftaran Rp.10.000,-. Bahkan uang pendaftaran tersebut, kalau memang siswa tersebut tidak mampu, kalau tidak diterima di Perguruan Tinggi juga boleh diambil kembali, tetapi bagi siswa yang mampu kita meminta kesadaran siswa tersebut untuk tidak ditarik kembali, anggaplah sebagai ?kenangan indah? karena kita telah mendidik, telah menyediakan fasilitas bimbingan, telah menyediakan waktu untuk konsultasi dan memotivasi mereka agar dapat masuk Perguruan Tinggi Negeri. Memang itulah bagian dari resiko yang kita tanggung, karena meluncurkan Program Jaminan Diterima. Untuk menangani program yang spesial ini adalah orang tahu persis tentang program jaminan diterima dan tahu seluk beluk bimbingan tes, mulai dari teknik mengajar yang baik dan menyenangkan, teknik meramal soal serta tahu tentang bagaimana mengerjakan soal secara cepat. Kita tidak lanjuti di lapangan dengan memasang Customer Service yang istimewa di dua tempat. Tempat pertama di Jalan Kapten Tendean No. 7, customer service-nya bernama Purdi E. Chandara dan tempat kedua di Jalan Demangan Kidul No. 92, customer service-nya ditangani oleh yang namanya M. Suyanto. Kedua customer service tersebut tahu persis tentang Program Jaminan Diterima dan tahu segala seluk beluk Primagama. Strategi tersebut terbukti sangat ampuh. SMA Favorit, istilah kita ketika itu tidak mengenal bimbingan Tes Primagama, tetapi setelah muncul program tersebut mulai mengenal dan akhirnya kedua gedung yang telah kita sewa tidak mampu menampungnya, sehingga harus menyewa gedung yang baru. Strategi sentuhan unik yang kedua ini jauh lebih ampuh dari strategi yang pertama. Memanglah agar kita dapat dikenal, kita harus menciptakan strategi yang berbeda, yang dirasa unik oleh pelanggan kita.
DAMPAK PENUTUPAN 209 PROGRAM PADA PTN Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1988: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.649 KB)

Abstract

       Pada tahun 1987 Depdikbud mengeluarkan kebijakan akademik yang menarik dan argumentatif, ialah mengadakan penutupan berbagai program studi kependidikan pada Perguruan Tinggi Negeri (PTN).        Kebijakan akademik tersebut tentu cukup menarik karena kebijakan penutupan program studi pada PTN hampir tidak pernah dilakukan sebelumnya. Di samping itu "keberanian" pengambilan kebijakan tersebut juga bersifat argumentatif karena didasarkan pada pertimbangan rasional di dalam hubungannya dengan kesem-patan kerja bagi calon lulusannya.       Jumlah program studi yang ditutup ternyata sangat "meyakinkan", yakni sebanyak 209 program studi untuk seluruh PTN di negara kita. Jumlah tersebut belum termasuk 74 program studi kependidikan yang "dipadatkan" menjadi 34 program studi saja.       Adapun jenis program studi yang mengalami penutupan ada 10 program studi  (1) Fondasi Pendidikan, (2) Bimbingan dan Konseling,  (3) Administrasi Pendidikan, (4) Pendidikan Luar Sekolah,  (5) Filsafat dan Sosiologi Pendidikan,  (6) Psikologi Pendidikan, (7) Pengembangan Kurikulum, (8) Teknologi Pendidik-an, (9) Pendidikan Pra Sekolah dan Pendidikan Dasar, serta (10) Pendidikan Dasar.